• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KONSEP DAN DEFINISI

3.4. Agregat Produk Domestik Regional Bruto

a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Pasar

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Pasar adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai produksi (output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponen-komponen pendapatan faktor (upah/gaji, bunga, sewa tanah, dan keuntungan), penyusutan, dan pajak tak langsung neto. Jadi dalam menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing sektor dan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor tadi akan diperoleh PDRB atas dasar harga pasar.

b. Produk Domestik Regional Neto (PDRN) Atas Dasar Harga Pasar

Perbedaan antara konsep neto di sini dengan bruto di atas adalah adanya komponen penyusutan. Penyusutan yang dimaksud di sini adalah jumlah nilai susut (aus) barang-barang modal yang terjadi selama barang-barang modal tersebut ikut serta dalam proses produksi dari seluruh sektor ekonomi.

Pada konsep bruto di atas, komponen penyusutan masih termasuk di dalamnya; sedangkan pada konsep neto di sini, komponen penyusutan telah dikeluarkan. Jadi, PDRB atas dasar harga pasar dikurangi dengan penyusutan akan diperoleh PDRN atas dasar harga pasar.

c. Produk Domestik Regional Neto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor

Perbedaan antara konsep biaya faktor di sini dengan konsep harga pasar di atas adalah pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dan subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada unit-unit produksi.

Pajak tidak langsung ini meliputi pajak penjualan, bea ekspor dan impor, cukai, dan lain-lain pajak, kecuali pajak pendapatan dan pajak perorangan. Pajak tidak langsung dari unit-unit produksi dibebankan pada biaya produksi atau pada pembeli hingga langsung berakibat menaikkan harga barang. Sementara itu, subsidi yang diberikan pemerintah kepada unit-unit produksi bisa berakibat menurunkan harga barang. Jadi, pajak tidak langsung dan subsidi memberikan pengaruh berlawanan terhadap harga barang, sehingga jika pajak tidak langsung dikurangi dengan subsidi menghasilkan pajak tidak langsung neto.

Pada konsep PDRN atas dasar harga pasar di atas masih termasuk komponen pajak tidak langsung neto, sedangkan konsep PDRB atas dasar biaya faktor di sini sudah mengeluarkan pajak tidak langsung neto.

d. Pendapatan Regional

Dari konsep-konsep yang telah diterangkan di atas dapat diketahui bahwa PDRN atas dasar biaya faktor itu sebenarnya merupakan jumlah balas jasa

faktor-Bab 3. Konsep dan Definisi

faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah. PDRN atas dasar biaya faktor merupakan jumlah dari pendapatan upah/gaji, bunga, sewa tanah, dan keuntungan yang timbul atau merupakan pendapatan yang berasal dari daerah tersebut.

Akan tetapi, pendapatan yang dihasilkan tadi tidak seluruhnya menjadi pendapatan penduduk daerah tersebut, sebab ada sebagian pendapatan yang diterima oleh penduduk daerah lain. Misalnya, suatu perusahaan yang modalnya dimiliki oleh orang luar Kota Tebing Tinggi, tetapi perusahaan tadi beroperasi di Kota Tebing Tinggi, maka dengan sendirinya keuntungan perusahaan itu sebagian akan menjadi milik orang luar Kota Tebing Tinggi yaitu milik orang yang memiliki modal tadi. Sebaliknya, jika ada penduduk Kota Tebing Tinggi yang menanamkan modalnya di luar Kota Tebing Tinggi maka sebagian keuntungan perusahaan tadi akan mengalir ke Kota Tebing Tinggi, dan menjadi pendapatan dari pemilik modal tadi.

Dengan demikian, jika PDRN atas dasar biaya faktor dikurangi dengan pendapatan yang mengalir ke luar negeri dan ditambah dengan pendapatan yang mengalir ke dalam tadi, maka hasilnya akan merupakan Produk Regional Neto yaitu jumlah pendapatan yang benar-benar diterima oleh seluruh penduduk yang tinggal di daerah yang dimaksud. Produk Regional Neto inilah yang merupakan Pendapatan Regional.

d. Pendapatan Regional Per Kapita

Bila Pendapatan Regional tersebut dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun yang tinggal di daerah itu, maka akan dihasilkan suatu Pendapatan Per Kapita.

Gambar 3.1.

Alur Pendapatan Regional

(-) Penyusutan

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Pasar

(-) Pajak Tidak Langsung Neto

(+) Pendapatan Neto yang mengalir dari dan ke daerah lain

(:) Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun

Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Harga Pasar

Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Biaya Faktor

Pendapatan Regional

Pendapatan Per Kapita

3.5. Klasifikasi Sektor

Dalam upaya memperoleh keterbandingan data yang dihasilkan oleh berbagai negara, PBB menerbitkan publikasi mengenai Klasifikasi Lapangan Usaha yang berjudul International Standard Industrial Classification of All Economics Activities (ISIC).

Untuk pengumpulan data secara nasional, biasanya terhadap klasifikasi yang diterbitkan oleh PBB ini dilakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi yang berlaku di tiap negara. Demikian juga halnya dengan di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI) yang menjadi pegangan bagi pengumpulan statistik di Indonesia.

Bab 3. Konsep dan Definisi

3.6. Susunan PDRB

Susunan PDRB dapat berbeda-beda tergantung dari sudut mana suatu perekonomian ditinjau. Susunan dapat menurut:

(1) Lapangan Usaha (2) Andil Faktor Produksi (3) Penggunaan

Dalam buku ini, PDRB yang disajikan dari sudut lapangan usaha. Penyajian PDRB menurut lapangan usaha akan memberikan gambaran mengenai peranan masing-masing sektor ekonomi dalam penciptaan nilai tambah di daerah tersebut.

PDRB menurut lapangan usaha dikelompokkan dalam 9 (sembilan) sektor, yaitu:

1. Pertanian (meliputi: Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan);

2. Pertambangan dan Penggalian; 3. Industri Pengolahan;

4. Listrik, Gas, dan Air Bersih; 5. Bangunan

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran; 7. Pengangkutan dan Komunikasi;

8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan; dan 9. Jasa-jasa

METODOLOGI

BAB

4.1. Metode Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

DRB Atas Dasar Harga Berlaku dapat dihitung melalui 2 (dua) metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Yang dimaksud dengan metode langsung adalah metode penghitungan dengan menggunakan data yang bersumber dari daerah dimana PDRB dihitung, sedangkan metode tidak langsung adalah metode penghitungan dengan cara alokasi yaitu mengalokasikan PDRB Provinsi menjadi PDRB Kabupaten/Kota dengan memakai berbagai indikator.

P

4.1.1. Metode Langsung

Pemakaian metode langsung dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu: pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran.

a. Pendekatan Produksi

Pendekatan dari segi produksi adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari masing-masing nilai produksi bruto tiap-tiap sektor atau sub sektor. Pendekatan ini juga disebut Pendekatan Nilai Tambah.

Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa faktor produksi atas ikut sertanya dalam proses produksi, seperti: upah/gaji, sewa tanah, bunga, keuntungan, penyusutan, dan pajak tidak langsung neto.

b. Pendekatan Pendapatan

Dalam pendekatan pendapatan, nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi dihitung dengan jalan menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi, yaitu: upah/gaji, sewa tanah, bunga, keuntungan, penyusutan, dan pajak tidak langsung neto. Untuk sektor pemerintah dan usaha-usaha yang sifatnya tidak mencari untung, surplus usaha (sewa tanah, bunga, keuntungan) tidak diperhitungkan.

c. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan dari segi pengeluaran bertitik tolak pada penggunaan akhir dari barang dan jasa di wilayah kabupaten/kota. Jadi, PDRB dihitung dengan cara menghitung berbagai komponen pengeluaran akhir, seperti: konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, dan perdagangan antar wilayah (ekspor/impor).

4.1.2. Metode Tidak Langsung

Yang dimaksud dengan menghitung PDRB dengan cara tidak langsung adalah mengalokasikan PDRB pada tingkat wilayah di atasnya (misalkan provinsi) untuk setiap wilayah di bawahnya (misalkan kabupaten/kota) dengan menggunakan alokator tertentu.

Alokator yang dapat dipergunakan dapat didasarkan atas: - Nilai produksi bruto atau neto,

- Jumlah produk fisik, - Tenaga kerja, - Penduduk, atau

Dokumen terkait