• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

AGROFORESTRI Pengertian Agroforestri

Agroforestri adalah suatu bentuk hutan kemasyarakatan yang memanfaatkan lahan secara optimal dalam hamparan yang menggunakan produksi berdaur panjang dan berdaur pendek, baik secara bersamaan maupun berurutan. Agroforestri secara ekonomi penting bagi penduduk pedesaan. di Sumatera, agroforestri menghasilkan 80% dari pendapatan penduduk desa dan meningkatkan standard hidup mayoritas rumah tangga. Agroforestri dapat menjadi contoh srategi “ pemulihan hutan” yang bisa mendukung perkembangan pedesaan dan membangun kembali jalur-jalur keanekaragaman hayati dalam bentang alam pertanian. Bentuk-bentuk agroforestri dapat dilaksanakan dalam beberapa model

yakni tumpang sari, silvopasture, silvofishery, dan farmforestry ( Puskap Fisip USU, 1997).

Fungsi Agroforestri

Fungsi agroforestri terhadap aspek sosial, budaya dan ekonomi antara lain:

a. Kaitannya dengan aspek tenurial, agroforestri memiliki potensi di masa kini dan masa yang akan datang sebagai solusi dalam memecahkan konflik menyangkut lahan negara yang dikuasai oleh para petani penggarap.

b. Upaya melestarikan identitas kultural masyarakat, pemahaman akan nilai-nilai kultural dari suatu aktivitas produksi hingga peran berbagai jenis pohon atau tanaman lainnya di lingkungan masyarakat lokal dalam rangka keberhasilan pemilihan desain dan kombinasi jenis pada bentuk-bentuk agroforestri modern yang akan diperkenalkan atau dikembangkan di suatu tempat.

c. Kaitannya dengan kelembagaan lokal, dengan praktik agroforestri lokal tidak hanya melestarikan fungsi dari kepala adat, tetapi juga norma, sanksi, nilai, dan kepercayaan (unsur-unsur dari kelembagaan) tradisional yang berlaku di lingkungan suatu komunitas.

d. Kaitannya dalam pelestarian pengetahuan tradisional, salah satu ciri dari agroforestri tradisional adalah diversitas komponen terutama hayati yang tinggi (polyculture).

Fungsi agroforestri ditinjau dari aspek biofisik dan lingkungan pada skala bentang lahan adalah kemampuannya untuk menjaga dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, khususnya terhadap kesesuaian lahan antara lain: (a) Memelihara sifat fisik dan kesuburan tanah; (b) Mempertahankan fungsi hidrologi kawasan; (c) Mempertahankan cadangan karbon; (d) Mengurangi emisi gas rumah kaca; dan (e) mempertahankan keanekaragaman hayati (Lahjie, 2004).

Klasifikasi sistem agroforestri

Berbagai tipe agroforestri telah banyak diinventarisir dan dikembangkan dengan bentuk yang beragam tergantung kondisi wilayah, lokasi dan tujuan agroforestri

itu sendiri. Namun demikian, keragaman agroforestri tersebut dapat

dikelompokkan ke dalam empat dasar utama (Sardjono dkk., 2003), yaitu:

1. Berdasarkan strukturnya / komponen-komponen penyusunnya :

a. Agrisilvikultur

Sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan

(tanaman berkayu) dengan komponen pertanian (tanaman non kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops).

b. Silvopastura

Sistem agroforestri yang meliputi komponen kehutanan (tanaman berkayu)

dengan komponen peternakan (ternak/pasture). Kedua komponen dalam

silvopastura seringkali tidak dijumpai pada ruang dan waktu yang sama (misal: penanaman rumput hijauan ternak di bawah tegakan pinus.

c. Agrosilvopastura

Merupakan pengkombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada unit manajemen lahan yang sama. Contoh: berbagai bentuk kebun pekarangan, kebun hutan, ataupun kebun desa.

2. Berdasarkan sistem produksi: a. Agroforestri berbasis hutan

Adalah bentuk agroforestri yang diawali dengan pembukaan sebagian areal hutan dan/atau belukar untuk aktivitas pertanian.

b. Agroforestri berbasis pada pertanian

Yaitu produk utama tanaman pertanian dan atau peternakan tergantung sistem produksi pertanian dominan di daerah tersebut. Komponen kehutanan merupakan elemen pendukung bagi peningkatan produktivitas dan/atau sustainabilitas.

c. Agroforestri berbasis pada keluarga adalah agroforestri yang dikembangkan di areal pekarangan rumah.

3. Berdasarkan masa perkembangannya : a. Agroforestri tradisional/klasik

Yaitu tiap sistem pertanian, dimana pohon-pohonan baik yang berasal dari penanaman atau pemeliharaan tegakan/tanaman yang telah ada menjadi bagian terpadu, sosial ekonomi dan ekologis dari keseluruhan sistem atau yang biasa disebut agroekosistem. Penerapan agroforestri ini memiliki banyak kelebihan diantaranya yaitu ditinjau dari kombinasi jenis, agroforestri ini Tersusun atas banyak jenis (polyculture), dan hampir keseluruhannya dipandang penting serta banyak dari jenis-jenis lokal (dan berasal dari permudaan alami) dan dari keterkaitan sosial budaya, Memiliki keterkaitan sangat erat dengan sosial-budaya lokal karena telah dipraktekkan secara turun temurun oleh masyarakat

Akan tetapi agroforestri ini tetap memiliki kelemahan yaitu ditinjau dari orientasi penggunaan lahan, dimana hasil yang didapat dari agroforestri ini hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sehingga tidak dapat diharapkan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Hal ini dapat disebabkan karena luasan lahan yang sempit, hasil produk biasanya tidak untuk dijual, serta sistem

penanaman yang tidak beraturan dan perawatan yang kurang intensif. Serta dari struktur tegakan, agroforestri ini sangat tidak beraturan dan rapat sehingga membuat persaingan dalam memperoleh hara lebih tinggi yang menyebabkan hasil produksi semakin menurun.

b. Agroforestri modernumumnya hanya melihat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Salah satu kelebihan dari sistem agroforestri modern saat ini yaitu tidak lagi hanya berfokus kepada masalah produksi dan produktivitas namun telah berkembang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perhatian masyarakat secara global, seperti kaitannya dengan global warming atau climate change, jasa-jasa lingkungan serta dengan upaya upaya pengentasan kemiskinan.

4. Berdasarkan orientasi ekonomi : a. agroforestri skala subsisten

merupakan pemanfaatan lahan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan ciri-ciri : lahan yang diusahakan terbatas, jenis yang diusahakan beragam dan non-komersial, serta penanaman tidak beraturan dan perawatan tidak intensif.

b. agroforestri skala semi-komersil

peningkatan produktivitas serta kualitas hasil yang dapat dipasarkan untuk memperoleh uang tunai. Meskipun dengan keterbatasan investasi yang dimiliki, jangkauan pemasaran produk yang belum meluas, serta ditambah dengan pola hidup yang masih subsisten, maka jaminan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari tetap menjadi dasar pertimbangan terpenting.

c. agroforestri skala komersil

pada orientasi skala komersial, produk utama biasanya hanya satu jenis dalam kombinasi tanaman yang dijumpai. Dengan ciri-ciri, komposisi hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis dimana hanya satu jenis kombinasi yang menjadi komoditi utama, dikembangkan pada skala yang cukup luas dan menggunakan teknologi yang memadai, serta menuntut manajemen yang profesional.

Nilai Ekonomi Agroforestri

Analisis nilai ekonomiadalah analisis yang mengacu pada keunggulan komparatif atau efisiensi dari penggunaan barang dan jasa dalam satu kegiatan produktif. Efisien di sini diartikan bahwa alokasi sumber-sumber ekonomi digunakan untuk kegiatan yang menghasilkan output dengan nilai ekonomi tertinggi. Sedangkan perbedaannya dengan analisis finansial yaitu dalam evaluasi manfaat – biaya mengacu kepada penerimaan dan pengeluaran yang mencerminkan harga pasar aktual yang benar-benar diterima atau yang dibayar oleh petani (Budidarsono, 2001)

Menurut hasil penelitian dari Simatupang (2011) bahwa besar kecilnya nilai ekonomi jenis- jenis agroforestri sangat tergantung pada jumlah barang yang diambil, frekuensi pengambilan, total pengambilan, harga tiap jenis produk agroforestri dan tiap satuannya. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa komponen agroforestri yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga adalah komponen kehutanan dengan nilai ekonomi sebesar Rp 491.740.000 dan yang terendah adalah komponen peternakan sebesar Rp 12.420.000

Beberapa ahli ekonomi telah mengembangkan dan mengaplikasikan beberapa metode penilaian manfaat hutan yang tidak memiliki harga pasar dalam satuan moneter. Beberapa metode mencoba untuk menggambarkan permintaan konsumen, sebagai contoh kesedian membayar konsumen terhadap manfaat hutan yang tidak memiliki harga pasar dalam satuan moneter atau kesediaan menerima konsumen terhadap kompensasi yang memberikan kepada konsumen untuk manfaat yang hilang dalam satuan moneter. Terdapat lima metode perhitungan ekonomi untuk manfaat yang diperoleh dari sumber daya alam dan lingkungan : 1. Penilaian berdasarkan harga pasar ditempat lain

2. Pendekatan harga pengganti, termasuk metode biaya perjalanan dan

pendekatan biaya pengganti

3. Pendekatan fungsi produksi, dengan focus pada hubungan biofisik antara fungsi hutan dan kegiatan pasar

4. Pendekatan dengan metode penilaian

5. Pendekatan biaya

(Gigona dan Lugina, 2007).

Penilaian manfaat agroforestri

Penilaian adalah penentuan nilai manfaat suatu barang ataupun jasa bagi manusia atau masyarakat. Adanya nilai yang dimiliki oleh suatu barang dan jasa (sumber daya lingkungan) pada gilirannya akan mengarahkan perilaku pengambilan keputusan yang dilakukan oleh individu, masyarakat, maupun organisasi. Jika nilai sumber daya hutan, ataupun lebih spesifik barang dan jasa hutan telah tersedia informasinya, seperti halnya harga berbagai produk yang ada dipasar, maka pengelolaan hutan dapat memanfaatkannya untuk berbagai

keperluan seperti pengambilan keputusan pengelolaan, perencanaan dan lain-lain (Bahruni, 1999).

Sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, manfaat hutan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : manfaat langsung (tangible)dan manfaat tidak langsung (intangible). Manfaat langsung hutan antara lain : kayu, hasil hutan ikutan, dan lain-lain. Sedangkan manfaat tidak langsungnya antara lain : pengaturan tata air, pendidikan, kenyamanan lingkungan, dan lain-lain (Affandi dan Patana, 2002).

Tidak tersedianya informasi nilai (harga) dari produk/jasa hutan maka diperlukan suatu usaha kreatif untuk menduga nilai sumber daya hutan. Belum tersedianya informasi nilai dari hutan disebabkan karena produk barang/jasa hutan tidak seragam, karena merupakan hasil alam, sehingga membuat standar yang berlaku umum. Oleh itu perlu dilakukan suatu usaha untuk menduga nilai dari sumber daya hutan (Bahruni, 1999).

Menilai Keberadaan dan Mengukur Efisiensi

Salah satu cara untuk menilai keberadaan agroforestri adalah mengevaluasi produktivitas agroforestri baik secara ekonomi. Produktivitas disini diartikan sebagai kemampuan untuk berproduksi secara ekonomi diukur dari seberapa besar agroforestri mampu memberikan keuntungan berupa pendapatan bersih atau sering disebut dengan profitabilitas. Pertanyaan pertama yang harus dikemukakan adalah siapa yang berkepentingan terhadap agroforestri dan apa kepentingannya (Kominta dkk, 2013).

Evaluasi ekonomi agroforestri perlu dimulai dari pemahaman atas model atau bentuk agroforestri yang menjadi target analisis. Pemahaman tersebut menyangkut

proses dan tahapan pengembangannya, karakteristik lingkungannya, output yang dihasilkan termasuk jasa lingkungan, teknologi yang digunakan, kebutuhan modal, biaya sosial, serta manfaat ekologis yang sering kali tidak dengan sengaja dihasilkan oleh petaninya. Menyangkut apa yang dihasilkan oleh agroforestri, dengan bertolak dari pandangan nilai ekonomi total, penilaian ekonomi agroforestri tidak hanya terbatas pada hasil produksi yang memiliki nilai pasar/

marketable, akan tetapi juga terhadap jasa lingkungan yang secara empiris tidak memiliki nilai ekonomi/ non-marketeble (Kominta dkk, 2013).

Seperti halnya kegiatan pertanian, keberadaan wanatani tidak hanya menjadi kepentingan petani saja. Akan tetapi juga merupakan kepentingan pemerintah (pengambil keputusan). Para pengambil keputusan berkentingan terhadap produktivitas penggunaan lahan, kelestarian lingkungan, tersedianya lapangan pekerjaan di pedesaan, kecukupan pangan bagi masyarakat. Kepentingan petani dalam membudidayakan wanatani terutama terletak harapan untuk mendapatkan penerimaan dari hasil wanatani. Kedua kepentingan tersebut akan menentukan parameter produktivitas yang akan dipakai (Budidarsono, 2001).

Kontribusi Terhadap Pendapatan Rumah Tangga

Agroforestri sebagai suatu sistem produksi tentunya memberikan pendapatan terhadap pengelolanya baik langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible). Analisis ekonomi yang banyak dilakukan di Indonesia adalah melihat seberapa besar suatu sistem agroforestri memberikan kontribusi terhadap pendapatan total keluarga dan juga bagaimana kontribusi hasil dari suatu sistem agroforestri terhadap perekonomian daerah setempat (Suharjito.

Menurut hasil penelitian dari Azmy (2004) bahwa beberapa alasan utama masyarakat menanam berbagai jenis tanaman keras, palawija, dan mpon- mpon di dalam dan disekitar kebun karet. Kebanyakan masyarakat menanam tanaman lainnya dalam bentuk agroforestri bertujuan untuk menambah pendapatan (31,09 %), memenuhi kebutuhan rumah tangga (16,80 %), menjaga kelestarian hutan (26,05 %), menjaga kondisi tanah (12,62%), mengisi lahan kosong (7,56%), mengisi waktu luang (3,36%), dan tidak ada alasan khusus (2,52%). Ini menunjukkan bahwa keinginan masyarakat menerapkan sistem agroforestri dalam pengelolaan lahannya sangat tinggi terutama dalam hal menambah pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya masing-masing.

Aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Dengan kegiatan-kegiatan kehutanan yang baik, sumber-sumber daya hutan mampu memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Mata pencaharian masyarakat di pedesaan, mengandalkan pemanfaatan langsung hasil pertanian dan hutan serta berbagai sumber pendapatan lainnya yang dihasilkan dari penjualan hasil hutan atau dari upah pekerja (Wirakusumah, 2003).

Sumber pendapatan utama rumah tangga dilokasi penelitian berasal dari pengelolaan agroforestri karet yaitu Rp. 485. 415.000,- (78, 47 %), dan sisanya Rp. 133.333.000,- (21,53%) berasal dari luar agroforestri. Dengan persentase pendapatan sebesar 78, 47% terhadap total pendapatan rumah tangga, maka pengelolaan agroforestri karet di Desa Lau Demak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan rumah tangga (Azmy, 2004).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki bentangan hutan yang cukup luas. Hutan Indonesia termasuk hutan tropika yang memiliki berbagai formasi atau bentuk berdasarkan habitatnya dan diklasifikasikan berdasarkan fungsinya. Sumber daya hutan yang bersifat renewable mempunyai peranan, fungsi, dan manfaat yang begitu penting bagi hidup dan kehidupan manusia. Fungsi hutan bersifat “multi benefit” artinya selain mempunyai fungsi ekologis dan hidrologis juga mempunyai fungsi lain seperti sosial ekonomi. Fungsi sosial ekonomi ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Agroforestri merupakan salah satu bentuk terpenting dari penerapan konsep perhutanan sosial. Nurrochmat (2005) mengatakan bahwa perhutanan sosial dapat dipahami sebagai ilmu dan seni menumbuhkan pepohonan dan tanaman lain didalam dan disekitar kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk mencapai tujuan ganda meliputi pengelolaan hutan lestari dan peningkatan taraf hidup (pendapatan) masyarakat.

Pengelolaan agroforestri berkaitan dengan optimalisasi penggunaan lahan untuk mencukupi kebutuhan hidup petani dan dalam rangka pelestarian sumber daya alam. Pengelolaan mencakup pengertian pengertian luas mulai dari bentuk sederhana yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada bentuk yang paling modern yaitu keuntungan. Produk yang dihasilkan sistem agroforestri dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni (a) yang langsung menambah penghasilan petani, misalnya makanan, pakan ternak, bahan bakar, aneka produk industry dan (b) yang tidak langsung menambah penghasilan petani tetapi

memberikan jasa lingkungan bagi masyarakat luas, misalnya konservasi tanah dan air, memelihara kesuburan tanah.

Pendapatan merupakan indikator ekonomi petani agroforestri karena besarnya pendapatan akan menetukan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Petani umumnya lebih tertarik melakukan kegiatan yang mampu memberikan pendapatan yang sesuai dan lebih menguntungkan. Pendapatan dari sistem agroforestri umumnya memberikan nilai yang beragam sesuai dengan luasan lahan yang dikelola dan kesesuaian lahan terhadap jenis komoditinya. Proporsi kontribusi pendapatan dari penerapan agroforestri terhadap total pendapatan masyarakat sangat bervariasi dari tempat yang satu dengan tempat yang lain. Pendapatan dari agroforestri tergantung pada beberapa faktor diantaranya adalah teknik bercocok tanam, kondisi iklim, luas dan kualitas lahan, curahan waktu kerja serta harga pasar dari produk yang dihasilkan.

Analisis ekonomi terhadap agroforestri antara lain diarahkan untuk menilai apakah sumberdaya yang digunakan dalam kegiatan agroforestri sudah cukup effisien; dalam hal ini dilakukan dengan membandingkan antara manfaat yang dihasilkan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Dalam analisis yang konvensional, penilaian atas hasil yang diperoleh (output) dan penilaian pengeluaran dalam kegiatan agroforestri hanya terbatas pada barang privat, yaitu barang dan jasa yang mempunyai nilai finansial (memiliki harga pasar). Padahal, di samping barang privat tersebut, agroforestri juga menghasilkan jasa lingkungan yang di dalam dirinya belum melekat harga pasar

Perumusan Masalah

Agroforestri mempunyai peluang yang baik untuk menunjang perekonomian rumah tangga masyarakat di daerah Sosor Dolok, Kecamatan Harian. Pemahaman masyarakat terhadap pola agroforestri masih sangat terbatas. Masyarakat (petani) masih sangat bergantung pada hasil pertanian (dalam sistem agroforestri), namun masyarakat belum mengetahui sejauh mana hasil produksi agroforestri memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis nilai ekonomi yang diarahkan untuk menilai apakah sumberdaya yang digunakan dalam kegiatan agroforestri sudah cukup effisien dengan membandingkan antara manfaat yang dihasilkan dengan biaya yang harus dikeluarkan serta besarnya kontribusi yang diberikan produk-produk agroforestri terhadap pendapatan rumah tangga didesa ini melalui perbandingan antara kebutuhan hidup yang diperoleh dari agroforestri dan sumber lainnya.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi jenis-jenis produk agroforestri yang terdapat di Desa Sosor Dolok

2. Menganalisis nilai ekonomi dari pengelolaaan lahan pertanian dengan

sistem agroforestri yang diterapkan petani Sosor Dolok.

3. Mengetahui perbandingan kontribusi dari penerapan sistem agroforestri

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai informasi bagi masyarakat terkhususnya di Desa Sosor Dolok,

agar dapat meningkatkan hasil produksi tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan dalam sistem agroforestriyang efisien dan efektif.

2. Sebagai bahan perbandingan pemanfaatan lahan secara agroforestri dengan non-agroforestri yang dilihat dari nilai ekonomis, ekologis, dan sosial budayanya.

3. Bahan masukan bagi pembuat kebijakan dalam melaksanakan kegiatan

pembangunan terutama yang berkaitan dengan hal pemanfaatan lahan pertanian dimasa yang akan datang.

ABSTRACT

IRVAN EFENDI NAIBAHO: Economic Value Analysis and Land Use System Agroforesri Contributions Village Sosor Dolok, Kecamaan Daily, Samosir

regency. Under the guidance of an academic by SITI LATIFAH and

TRI MARTIAL.

Agroforestry management with regard to optimizing the use of land to meet the needs of farmers and in order to conserve natural resources. Agroforestry has a good opportunity to support the household economy of the community. Analysis of the economic value is directed to assess whether the resources used in agroforestry activities efficiently enough and the amount of contributions made agroforestry products on household income.

The collection of data obtained from field observations through interviews and questionnaires were analyzed quantitatively. The research was conducted in the village of Sosor Dolok, District Daily, Samosir regency in June-July of 2014, the economic value of agroforestry products that provide the greatest contribution to public revenue is coffee with the economic value of Rp 391.5 million per year. Type agroforestry products that contribute to the income of the people is the smallest banana with the economic value of Rp 1,000,000, or approximately. Agroforestry products in total to contribute to the public revenue of Rp 479 074 000 per year, or about 52%. Meanwhile, revenue from outside of agroforestry to contribute Rp 437.498 million or about 48% of the total public revenue per year. Keywords: Agroforestry, economic value, Revenue

ABSTRAK

IRVAN EFENDI NAIBAHO : Analisis Nilai Ekonomi dan Kontribusi Penggunaan Lahan Sistem Agroforesri di Desa Sosor Dolok, Kecamaan Harian, Kabupaten Samosir. Di bawah bimbingan akademik oleh SITI LATIFAH dan TRI MARTIAL.

Pengelolaan agroforestri berkaitan dengan optimalisasi penggunaan lahan untuk mencukupi kebutuhan hidup petani dan dalam rangka pelestarian sumber daya alam. Agroforestri mempunyai peluang yang baik untuk menunjang perekonomian rumah tangga masyarakat. Analisis nilai ekonomi diarahkan untuk menilai apakah sumberdaya yang digunakan dalam kegiatan agroforestri sudah cukup effisien serta besarnya kontribusi yang diberikan produk-produk agroforestri terhadap pendapatan rumah tangga.

Pengumpulan data diperoleh dari hasil pengamatan dilapangan melalui wawancara dan kuisioner kemudian dianalisis secara kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir dari bulan juni- juli 2014. Nilai ekonomi produk agroforestri yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan masyarakat adalah kopi dengan nilai ekonomi sebesar Rp 391.500.000 per tahun. Jenis produk agroforestri yang memberikan kontribusi terkecil terhadap pendapatan masyarakat adalah petai dengan nilai ekonomi sebesar Rp 1.000.000. Produk agroforestri secara total mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat sebesar Rp 479.074.000 per tahun atau sekitar 52 %. Sementara itu pendapatan dari luar

agroforestri mampu memberikan kontribusi sebesar Rp 437.498.000 atau sekitar 48% dari total keseluruhan pendapatan masyarakat per tahun.

ANALISIS NILAI EKONOMI DAN KONTRIBUSI PENGGUNAAN

Dokumen terkait