• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agus Rusmantoro, ST Ketua Jurusan Elektronika

Kebanggaan Guru dan Orang Tua

Para pengajar SMKN 26 Jakarta tentu saja merasa bangga menjadi pendidik sekolah ini. Apalagi jika anak-anak didik yang mereka bina dinilai mampu kebutuhan dunia kerja pada bidangnya masing-masing sesuai dengan harapannya. Tiap jurusan di SMKN 26 Jakarta

telah menjadi incaran dunia usaha yang memburu para lulusannya.

Lulusan Jurusan Elektonika Komunikasi misalnya, dicari oleh hampir semua perusahaan telekomunikasi. Ketua Jurusan Elektronika Komunikasi, Agus Rusmantoro, ST., mengatakan bahwa lulusan Jurusan Elektronika Komunikasi banyak diminta oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang elektronika bidang

komunikasi seperti Indosat, Lintas Arta, PSM, Lima Wira, Rumbung Riang, dan sebagainya. “Perusahaan-perusahaan itu selalu memesan lulusan kita. Kadang mereka harus antre, karena kami cuma punya dua kelas dengan jumlah siswa 360 orang,” kata Agus. Agus mengungkapkan bahwa untuk bidang elektronika, sekolahnya telah bermitra dengan sekitar 20 perusahaan.

Agus Rusmantoro menuturkan bahwa jurusan Elektronika sudah terbentuk sejak SMKN 26 berdiri tahun 1971. “Dulu namanya Jurusan Elektronikasi. Kemudian kami membuka Jurusan Telekomunikasi Komunikasi. Namun, waktu kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dibuat, jurusan Elektronika Komunikasi tidak tercantum. Karena itu, jurusan kami gabung ke Jurusan Elektronika Industri,” tutur Agus. Namun, Jurusan Elektronika Komunikasi kemudian dibentuk kembali sekitar 4 tahun lalu. Jurusan Elektronika Industri justru kemudian ditutup dan dijadikan Jurusan Teknik Komputer Jaringan.

♼ Agus Rusmantoro, ST

Ketua Jurusan Elektronika

84

♼ SMK NEGERI 26

86

♼ SMK NEGERI 26

JAKARTA SELATAN

Agus juga bangga dengan prestasi yang telah diraih para siswanya. Prestasi terakhir yang diraih adalah nilai ter-tinggi yang dicapai salah satu siswanya dalam ujian nasional tahun 2015 untuk Jurusan Elektronika, untuk tingkat DKI Jakarta. “Secara keseluruhan, kita di DKI ini memang salah satu bagian dari SMK yang memberikan kontribusi di kompetisi-kompetisi nasional. Tahun kemarin kita ikut kom-petisi di sepuluh mata lomba, sebelumnya ikut delapan mata lomba, dan tahun 2009 lalu kita

sam-pai dapat lima medali emas. Tidak ada sekolah lain yang melebihi rekor kita,” papar Agus.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 26 Jakarta, Nursiswanto, S.Pd, M.Pd., mengatakan semua prestasi yang diraih para siswanya antara lain berkat pendidikan karakter dan disiplin yang tinggi. “Para siswa digembleng supaya memiliki budi pekerti yang luhur. Di sini bisa dilihat, setiap ketemu guru-gurunya para siswa selalu cium tangan. Tak terlihat sama sekali wajah-wajah angker yang sering dikesankan para siswa SMK,” kata Nursiswanto. Selain itu, jiwa nasionalisme juga terus dipupuk. “Di sini kami mengajarkan, apa pun yang sedang dilakukan siswa, jika mendengar lagu Indonesia Raya mereka harus bersikap tegap. Dan kalau melihat bendera merah putih dinaikkan mereka

Kiri-kanan: Arnol Manutuh, M.MPd (WKS Humas dan DU/DI), Nursiswan-to, MPd (WKS Kesiswaan)

Eviati Agus, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia

87

akan melakukan hormat,” papar Nursiswanto.

Eviati Agus, S.Pd., guru Bahasa Indonesia SMKN 26 Jakarta, menambahkan bahwa pendidikan karakter pada anak-anaknya menekankan antara lain pada karakter jujur, disiplin, dan mandiri. “Kita semuanya ingin anak-anak menjadi anak-anak yang hebat. Yang punya prestasi dan masa depan yang baik. Karena itu, pendidikan pekerti ini sangat penting,” katanya. Menurut Eviati, semua siswa SMKN 26 Jakarta diperlakukan sama di sekolah, tanpa melihat asal usul keluarganya, tanpa memandang kelas sosial keluarganya.

Pentingnya pendidikan karakter ini juga disampaikan Drs. Arnol Manutuh, M.MPd., Wakil Kepala SMKN 26 Jakarta Bidang Hubungan Masyarakat dan Dunia Usaha/Dunia Industri. “Kami dari pihak sekolah sudah mengondisikan semuanya untuk bersinergi dalam menjalankan sistem di sekolah kita ini, terutama dalam membentuk karakter anak didik,” katanya. “SMKN 26 itu adalah suatu sekolah yang boleh dikatakan sebagai pilot project dari pemerintah yang dikondisikan untuk mempersiapkan peserta didik untuk siap bekerja. Dan, ternyata program sekolah empat tahun itu memang sangat cocok.”

Arnol telah menjalin hubungan dengan DU/DI sebagai tempat pendidikan terakhir para siswa sebelum lulus. “Jadi anak-anak yang telah selesai di bidang akademisnya selama dari kelas 10 sampai kelas 12, atau kelas 1 sampai kelas 3, nanti diberi pembekalan untuk persiapan pra kerja industri (prakerin) sampai mereka selesai melaksanakan tugas akhirnya itu,” papar Arnol.

Peran Komite Sekolah

Para orang tua pun senang menyekolahkan anak-anaknya di SMKN 26 Jakarta, yang menyelenggarakan sistem pendidikan 4 tahun. Hal itu dikatakan Ketua Komite Sekolah Drs. Nurman. “SMKN 26 Jakarta menjadi incaran para orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan yang mencetak lulusannya untuk siap bekerja. Soal lama pendidikan 4 tahun tidak menjadi soal,” kata Nurman yang menjabat sebagai Ketua Komite Sekolah sejak tahun 2007 itu. “Para orang tua siswa memahami dan menerima sistem pendidikan 4 tahun yang diterapkan di sekolah ini, malah mereka berpesan agar sistem ini tidak diubah,” Nurman menambahkan.

Drs. Nurman Ketua Komite Sekolah

88

♼ SMK NEGERI 26

JAKARTA SELATAN

Menurut Nurman, SMKN 26 Jakarta merupakan salah satu sekolah yang patut dicontoh oleh SMK lain. “Bukan kami mengecilkan teman-teman SMK lain yang pendidikannya tiga tahun. Tapi dengan sistem pendidikan 4 tahun yang dilaksanakan di SMK 26 ini telah berhasil mendidik anak kami dari sisi akademik dan perilaku juga,” katanya.

Menurut Nurman, SMKN 26 Jakarta adalah sekolah berprestasi. “Untuk masuk kemari saja itu sulitnya bukan main. Persaingannya ketat,” katanya. Pihak orang tua pun, kata Nurman, selalu menjalin komunikasi yang intens dengan pihak sekolah demi kemajuan sekolah. “Saya selaku Komite Sekolah adalah menjembatani antara orang tua dengan sekolah. Kita menyampaikan usulan atau masukan dari orang tua. Kemudian kita juga memberi masukan kepada orang tua tentang bagaimana pendidikan di SMKN 26,” katanya.

Bahkan katanya, komite sekolah juga ikut serta dalam mencari dana pemerintah untuk membangun fasilitas SMKN 26. “Contohnya seperti untuk renovasi sekolah, dulu komite sekolah pernah dilibatkan dan memang kami bisa membantu mendapatkan pendanaan,” kata Nurman. Komite Sekolah, lanjut Nurman, juga ikut memberi masukan dalam kegiatan praktek kerja industri dengan ikut memantau pelaksanaannya, agar lancar sesuai dengan harapan semua pihak.

Kebanggaan Para Siswa

Para siswa SMKN 26 Jakarta juga mengaku bangga bersekolah di sini. Wahyu Jati Wiguna, siswa Kelas 3 Jurusan Listrik mengatakan bahwa ia memilih SMKN 26 Jakarta karena sekolah ini jadi sekolah

yang paling diunggulkan. “Saya juga tahu dari teman-teman saya, dari orang tua saya bahwa sekolah ini bagus. Saya waktu SMP pernah ikut kompetisi di sini, dan saya melihat saat itu waktu olahraga itu dari cara barisnya saja sudah rapi. Nah dari situ saya mulai tertarik,” tutur siswa yang beralamat di Pondokkopi, Duren Sawit Jakarta Timur itu.

Selain itu ia memilih Jurusan Listrik, katanya karena didorong ayahnya yang dulu juga lulusan Jurusan Listrik dari SMK yang lain.

89

“Beliau bilang kalau listrik itu pasti dibutuhkan di mana pun. Tanpa ada listrik pasti aktivitas kita menjadi terhambat, untuk prospek kerja itu pasti dibutuhkan sekali, apalagi sekarang Indonesia lagi mau meluncurkan yang 35.000 kilowatt itu untuk pelosok. Jadi untuk ke depannya menurut saya, keahlian di listrik itu sangat dibutuhkan,” kata Wahyu Jati Wiguna.

Wahyu juga mengaku bangga karena sekolahnya benar-benar telah membentuk karakternya. “Saya merasa telah berubah drastis kalau dibandingkan dengan saat SD dan SMP. Saya dilatih tentang waktu, disiplin, kerapian, cara mengatur waktu juga. Jadi saya benar-benar tidak salah masuk sekolah ini,” katanya.

Siswa lainnya, Jabar Hady Wijaya, mengatakan bahwa ia memilih SMKN 26 Jakarta karena sekolah ini dianggapnya sebagai sekolah bergengsi. “Ini sudah berdasarkan pilihan-pilihan dari saudara-saudara saya. Saudara-saudara-saudara saya mengatakan kalau SMKN 26 adalah sekolah yang bagus, karena ada saudara saya juga yang pernah sekolah di sini dan sekarang sudah sukses,” tutur siswa kelas 3 Jurusan Teknik Gambar Bangunan itu. Hady Wijaya mengaku memilih Jurusan Teknik Gambar Bangunan atas rekomendasi dari kakaknya. “Kebutuhan manusia itu sandang, pangan, papan (perumahan). Yang namanya papan tidak akan pernah habis, tidak akan pernah mati dan mengikuti perkembangan terus,” kata siswa yang tinggal di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Muhammad Zaky Aonillah, siswa kelas 3 Jurusan Elektronika Komunikasi juga mengaku senang dan bangga masuk SMKN 26 Jakarta. “Masuk sekolah ini keinginan saya dari awal. Saya ingin masuk SMK karena ingin cepat bekerja supaya orang tua tidak harus membiayai saya terus,” katanya. “Saya didorong orang tua masuk SMK 26, karena biasanya orang-orang dari sekolah ini katanya sukses.

Searah jarum jam: Wahyu Jati Wiguna, Jabar Hady Wijaya, dan Muhammad Zaky Aonillah

90

♼ SMK NEGERI 26

JAKARTA SELATAN

Alhamdulillah sesuai dengan cita-cita saya dari SMP yang memang ingin masuk ke STM Pembangunan ini,” kata Zaky.

Para siswa mengaku senang dengan pendidikan disiplin yang ketat di sekolahnya. “Saya malu dengan diri saya sendiri kalau saya sampai telat datang ke sekolah,” kata Jabar Hadi Wijaya. “Dan di sini memang hampir tak pernah ada yang terlambat. Kami dibimbing terus mulai dari fisik, mental dan segala macam. Jadi, benar-benar mengerti dan terpacu serta tertanamkan dalam diri, ternyata inilah karakter SMK 26,” ia menambahkan.

Mengundang Perusahaan Mitra

SMKN 26 Jakarta melakukan terobosan dengan mengundang perusahaan-perusahaan mitranya dari dunia industri untuk memberikan masukan-masukan secara terus menerus kepada pihak sekolah mengenai kebutuhan industri. Salah satu yang diundang adalah PT Astra Internasional Toyota Sales Operation yang berkantor pusat di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Perusahaan ini pun mengutus seorang pegawainya, Isbaidillah.

Isbaidillah, karyawan Toyota yang membidangi technical skill itu, mengatakan bahwa ia ditugaskan perusahaannya untuk memberikan masukan atau ilmu

91

pengetahuan yang berkaitan dengan teknologi otomotif terbaru. “Teknologi otomotif itu berkembang sangat pesat. Pihak sekolah harus mengikuti perkembangan ini. Karena itu, bila tidak ada kerja sama antara SMK dengan kalangan industri, maka akan terjadi ketimpangan yang sangat jauh,” katanya. Sebab, menurut Isbaidillah, pihak industri pada prinsipnya mengharapkan lulusan SMK siap pakai.

Isbaidillah menyatakan setuju dengan langkah SMKN 26 Jakarta melakukan terobosan dengan mengundang pihak industri sebagai pemberi masukan. Ia bahkan menyarankan sekolah-sekolah lain mengikuti langkah SMKN 26 Jakarta. Selain itu, para siswa memang disarankan untuk rajin melakukan praktek kerja industri. “Sebab, di sekolah mereka dihadapkan pada alat peraga yang ada saja. Ketika di industri itulah mereka berhadapan dengan teknologinya sudah Hi Tech,” katanya.

SMK adalah sekolah yang memang didirikan dengan konsep yang berorientasi kerja, karena itu materi pendidikan yang diberikan senantiasa harus mengikuti perkembangan kebutuhan dunia kerja. Langkah SMKN 26 Jakarta yang selalu berhubungan dengan industri untuk mengikuti segala perkembangannya merupakan langkah tepat, dan layak diikuti sekolah-sekolah kejuruan lainnya.

♼ Isbaidillah

92

♼ SMK NEGERI 1

93

Dokumen terkait