S
eorang pemuda Indonesia berusia 18 tahun telah menciptakan inovasi teknologi yang cukup mengagumkan. Pemuda bernama Muhammad Rizqy Fauzan itu berhasil menciptakan prototipe drone, alias pesawat tak berawak, tanpa baling-baling. Fauzan, demikian ia akrab disapa, mengikutsertakan karyanya yang mengundang decak kagum itu pada ajang Google Science Fair 2016 dan Habibie Festival 2016, pertengahan tahun 2016.Inovasi teknologi karya Fauzan memang luar biasa, karena selama ini drone memang terbang dengan digerakkan oleh tenaga propeler alias baling-baling. Bagaimana Fauzan bisa
73
pesawat tanpa awak itu? Muhammad Rizqy Fauzan belum mau memberikan penjelasan rinci. Sebab, karya inovasinya itu katanya masih sedang dalam proses pendaftaran untuk mendapatkan hak paten.
"Drone ini sedang dalam proses pendaftaran paten. Tapi prinsipnya, drone ini memanfaatkan teknik air pressure (tekanan udara) untuk memancing udara di atas drone supaya mengalir ke bawah melalui frame (rangka) yang dirancang secara khusus," tutur Fauzan, seperti dikutip situs The Daily Oktagon, Agustus 2016. Fauzan menuturkan bahwa ia menciptakan terobosan teknologi itu termotivasi ketika drone miliknya rusak pada komponen baling-balingnya. “Saya juga berpikir, baling-baling drone bisa menimbulkan bahaya,” katanya. Karena
♼
Muhammad Rizky Fauzan Alumni SMKN 26 Jakarta74
♼ SMK NEGERI 26
JAKARTA SELATAN
itulah ia mencoba merancang drone tanpa baling-baling namun mampu terbang secepat dan setinggi drone yang telah diciptakan saat ini.
Muhammad Rizqy Fauzan adalah pemuda yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 26 Jakarta. Fauzan mengakui bahwa kemampuannya membuat drone ia peroleh semasa bersekolah di SMKN 26 Jakarta. "Saya lulus dari SMK Negeri 26 Jakarta, Jurusan Listrik. Itulah latar belakang pengetahuan teknik saya dalam menciptakan drone," ujar Fauzan.
Sekolah Berorientasi Industri
Kecerdasan Muhammad Rizqy Fauzan menciptakan teknologi drone terbaru tentu saja membanggakan para guru SMKN 26 Jakarta. Kepala SMKN 26 Jakarta, Drs. Anas Rosich M.Pd., tak menyembunyikan perasaan bangganya. Menurut dia, Fauzan adalah salah satu siswa yang telah mengangkat nama baik almamaternya.
Semasa bersekolah di SMKN 26 Jakarta, Fauzan juga telah berhasil membuat sebuah aplikasi yang sangat efektif digunakan dalam perhitungan jumlah barang, dan berhasil meraih juara satu tingkat nasional dalam sebuah kompetisi. “Dia berhasil mengalahkan peserta lain di final, yang adalah seorang mahasiswa,” papar Anas Rosich.
75
mampu m e n g u a s a i teknologi terbaru yang terus berkembang,” katanya. Dalam menyelenggarakan pendidikannya, SMKN 26 Jakarta menjalin kerjasama dengan dunia industri, sehingga sekolah ini memang menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada industri, dengan segala perkembangan teknologinya.
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 26 Jakarta yang berlokasi di Jalan Balai Pustaka Baru I, Rawamangun, Jakarta Timur, adalah merupakan salah satu SMK tertua di Jakarta. Semula, sekolah yang menempati areal seluas 2,6 hektar ini, bernama Sekolah Teknologi Menengah (STM) Negeri Pembangunan Jakarta. Sekolah ini merupakan bagian dari delapan proyek Perintis Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan dengan lama belajar empat tahun, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Juli 1971.
Kini SMKN 26 Jakarta merupakan salah satu sekolah favorit di Jakarta. SMKN 26 hingga kini tetap menerapkan sistem pendidikan yang berlaku sejak awal dengan lama pendidikan 4 tahun. Tiga tahun ditempuh para siswa di sekolah, dan setahun sisanya ditempuh dalam bentuk praktek lapangan di industri. Dengan demikian, begitu lulus mereka sudah siap terjun ke dunia kerja.
Kepala SMKN 26 Jakarta, Drs. Anas Rosich M.Pd., mengatakan bahwa
♼
Drs. Anas Rosich, M.Pd Kepala SMKN 26 Jakarta76
♼ SMK NEGERI 26
JAKARTA SELATAN
sistem pendidikan 4 tahun ini diterapkan sejak sekolah ini berdiri, 45 tahun silam. Namun dalam perkembangannya, SMKN 26 Jakarta tentu menerapkan sistem belajar yang terus mengikuti perkembangan kurikulum dan teknologi terbaru dengan mengintegrasikan antara teori, praktek dan praktek kerja di industri.
SMKN 26 Jakarta yang bermotto "Belajar, Bekerja, Membangun" ini juga sudah meraih banyak prestasi baik akademik maupun non akademik, di tingkat provinsi maupun nasional. Prestasi yang telah diperoleh antara lain: tiap tahun selalu meraih juara LKS SMS Tingkat Wilayah, Provinsi, dan Nasional, serta rutin meraih juara-juara kegiatan ekstra kurikuler tingkat wilayah dan tingkat provinsi. Pada Ujian Nasional tingkat SMK tahun 2009, SMKN 26 juga menduduki peringkat I se-DKI Jakarta. Sedangkan untuk memupuk jiwa entrepreneur, SMKN 26 tergabung dalam Student Company Bionic 26 bahkan selalu mendapat predikat terbaik dalam ajang yang diselenggarakan oleh "Prestasi Junior Indonesia" itu.
SMKN 26 Jakarta saat ini memiliki sekitar 1.300 pelajar, yang sebagian besar adalah laki-laki, dengan jumlah guru mencapai sekitar 70 orang. Visi sekolah ini adalah menjadi yang terbaik dengan keunggulan prestasi dan berakhlak mulia. Sedangkan misinya ada empat. Pertama, menerapkan sistem manajemen mutu dengan ISO 9001:2008. Kedua, meningkatkan profesionalisme SDM melalui pendidikan dan pelatihan. Ketiga, meningkatkan mutu pembelajaran berbasis kompetensi bekerjasama dengan dunia usaha dan industri. Keempat, menanamkan kemandirian dan profesionalisme kepada seluruh peserta didik melalui pembinaan yang optimal.
Lahir Pada Awal Repelita
Ketika program pembangunan lima tahunan atau yang belakangan dikenal sebagai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dirancang pada tahun 1969. Pemerintah berniat melakukan pembaharuan pada sistem pendidikan nasional, khususnya pada lembaga pendidikan yang diarahkan untuk siap mencetak tenaga kerja. Maka dibentuklah Sekolah Teknologi Menengah (STM) dengan jenjang pendidikan 3-4 tahun. Pada tahun 1970 dan 1971, Menteri Pendidikan mencanangkan pembentukan 12 instalasi Pendidikan Teknik secara bertahap. Lembaga-lembaga pendidikan itu didirikan di sejumlah kota.
Maka, STM Negeri Pembangunan Jakarta pun didirikan sebagai lembaga pendidikan kejuruan yang bertugas meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto di Jakarta pada 1 Juli 1971, disusul dengan peresmian sekolah yang sama di Semarang pada 7 Juni 1971, dan Yogyakarta pada 29 Juli 1972.
77
Pada tahun 1973 juga telah selesai dibangun 5 Proyek Perintis STM Pembangunan di Surabaya, Ujung Pandang, Bandung, Pekalongan, dan Temanggung (Jawa Tengah). Dengan demikian terbentuklah delapan Proyek Perintis STM Pembangunan di Indonesia. Kedelapannya adalah; STM Pembangunan Jakarta, STM Pembangunan Semarang, STM Pembangunan Yogyakarta, STM Pembangunan Surabaya, STM Pembangunan Ujung Pandang, STM Pembangunan Bandung, STM Pembangunan Pekalongan, dan STM Pembangunan Temanggung. Di luar itu, pada 1974 juga selesai dibangun 4 sekolah teknik lainnya di Jember (Jawa Timur), Boyolali (Jawa Tengah), dan Tanggerang (Banten), yang disebut dengan Sekolah Menengah Teknologi Pertanian dengan lama belajar 3 tahun.
Hingga tahun 1985, SMKN 26 Jakarta masih menggunakan nama Proyek Perintis Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan. Namun, pada tahun 1986 status Proyek tidak dipakai lagi dan diubah menjadi Sekolah Teknologi
78
♼ SMK NEGERI 26
80
♼ SMK NEGERI 26
JAKARTA SELATAN
Menengah Negeri Pembangunan (STMN Pembangunan) Jakarta. Selanjutnya, berdasarkan Surat Edaran Sekjen Depdikbud tanggal 3 April 1997, STM Negeri Pembangunan Jakarta berubah menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 26 Jakarta.
Program Studi dan Fasilitasnya
SMK Negeri 26 Jakarta saat ini menyelenggarakan pendidikan dengan 6 program studi keahlian atau jurusan. Keenam jurusan itu adalah: Jurusan Teknik Gambar Bangunan, Elektronika Komunikasi, Komputer Jaringan, Otomasi Industri
81
(Listrik), Permesinan, dan Kendaraan Ringan (Otomotif). Kepala SMK Negeri 26 Jakarta, Drs. Anas Rosich M.Pd., mengatakan bahwa lembaga pendidikannya bertugas meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengacu pada kebutuhan Industri dan Masyarakat, sesuai dengan amanat yang diberikan pada awal pendiriannya.
Berbagai fasilitas juga telah dimiliki sekolah ini baik fasilitas akademika maupun fasilitas umum sekolah. Antara lain: pada Jurusan Gambar Bangunan terdapat bengkel mesin kayu, Bengkel Kerja Beton, Ruang Gambar, Lab Komputer CAD, Unit Pengukuran dan Pemetaan. Pada Jurusan Elektronika Komunikasi terdapat fasilitas komputer prakteik, ruang praktik elektronika, ruang audio video, lab LG Elektronik, dan lain-lain. Pada Juruan Komputer Jaringan terdapat Lab WAN dan Linux, komputer praktik, ruang praktek server, alat praktik jaringan, teaching factory advan SMK, dan sebagainya.
Pada Jurusan Listrik terdapat, lab komputer, bengkel mesin listrik, bengkel instalasi listrik, bengkel teknik kontrol dan lain-lain. Pada Jurusan Permesinan terdapat bengkel mesin bubut, mesin prais, mesin sekrap, gerinda dan bor. Ada juga bengkel las, bengkel kerja bangku dan plat, bengkel computer numerical control (CNC0, bengkel pengecoran logam, bengkel pengukuran/pengujian, dan lab komputer. Pada Jurusan Otomotif terdapat bengkel motor bensin dan diesel, bengkel casis dan body, bengkel kelistrikan otomotif, serta peralatan hitech bantuan dari PT Toyota Astra Motor. Sedangkan fasilitas umum yang dimiliki antara lain: jalur pedestrian (khusus untuk pejalan kaki di sekolah), Pendopo, jalur evakuasi, tempat pengolahan sampah, masjid besar, map denah SMKN26, hotspot, Wall Climbing, FingerPrint Absensi, Mobil Komite, Aula, Ruang Piket, Kantin, UKS, perangkat alat musik Gamelan dan Angklung, Lapangan Basket, Lapangan Futsal, Mushola akhwat, jogging track, dan taman Tanaman Hidroponik.
Praktek Industri
Kepala SMKN 26 Jakarta, Drs. Anas Rosich M.Pd., menuturkan bahwa SMKN 26 Jakarta lahir di tengah-tengah cita-cita pemerintah membangun bangsa pada awal tahun 1970-an. “Kala itu kan pemerintah kita mulai merancang pembangunan nasional. Nah saat itu, butuh tenaga terampil menengah. Tapi lulusan-lulusan SMK atau dulu namanya STM belum siap kerja. Maka kemudian didirikanlah STM baru, termasuk STM Pembangunan Jakarta, yang akhirnya menjadi SMKN 26 Jakarta,” papar Anas Rosich.
Menurut Anas, sistem pendidikan di STM Pembangunan lebih ketat daripada di STM lainnya. “Begitu masuk sekolah, anak-anak langsung
82
♼ SMK NEGERI 26
JAKARTA SELATAN
digembleng, disiapkan, dibekali keterampilan-keterampilan. Kemudian proses pematangannya dilakukan di industri selama setahun,” tutur Anas. “Dan saat itu kebijakannya, begitu lulus harus langsung siap kerja. Sistem ini kita terapkan sampai sekarang ini,” Anas menambahkan. Para siswa SMKN 26 Jakarta yang telah lulus pendidikan selama 3 tahun di sekolah kemudian diharuskan menyelesaikan praktek lapangan selama setahun, atau minimal 6 bulan, di industri.
“Pola kita, tiga tahun menempuh basis pengetahuan kompetensi di sekolah, dan kemudian pematangannya di industri selama satu tahun atau secepat-cepatnya enam bulan,” tutur Anas. Karena itu, menurut Anas, SMKN 26 telah menjalin kerja sama dengan industri untuk mengombinasikan kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah dengan kebutuhan di industri. “Jadi, setelah menyelesaikan kelas tiga di sekolah, para siswa mengikuti Ujian Nasional. Setelah itu mereka menyelesaikan praktik di industri,” katanya.
Para siswa kemudian diwajibkan membuat laporan praktek industri. Laporan itu dituangkan dalam sebuah buku, dan dipaparkan dalam sebuah presentasi di depan guru-guru dan teman-temannya, seperti sidang skripsi di perguruan tinggi. Penilaiannya dilakukan baik oleh pihak sekolah maupun industri. “Pola ini mungkin tidak di lakukan sekolah-sekolah yang lain, yang umumnya hanya melakukan praktik biasa,” kata Anas.
Di SMKN 26 Jakarta, kata Anas, para siswa ditempa supaya mereka memiliki jiwa membangun yang harus dikembangkan di manapun berada. Karena itu, di SMKN 26 Jakarta ada yel-yel yang berbunyi: “Kalau kau mau pintar lakukanlah, belajar. Kalau kau mau kaya lakukanlah, bekerja. Kalau kau mau hebat lakukanlah, membangun. Kalau kau mau pintar, kalau kau mau kaya, kalau kau mau hebat lakukanlah, belajar, bekerja, membangun”.
Anas Rosich menjabat Kepala Sekolah SMKN 26 Jakarta sejak 2008. Sebelumnya ia juga menjadi kepala sekolah di beberapa SMK di Jakarta. Anas selalu menekankan pentingnya disiplin dan pembentukan karakter di sekolah mana pun yang ia pimpin. Di SMKN 26 Jakarta ia pun melakukan hal yang sama. “Saya melihat karakter anak-anak di sini sungguh luar biasa,” katanya. Para siswa sudah datang di sekolah pada pukul 06:00, tak ada yang terlambat. Usai jam sekolah pada pukul 15:00, para siswa tidak langsung pulang. Tradisi akademik terlihat jelas di sini. Mereka melakukan kegiatan diskusi kelompok sambil bersantai. “Mereka mendiskusikan apa saja, seperti kegiatan OSIS, tugas pelajaran dari guru dan lain-lain. Mereka mencari tempat yang enak untuk berdiskusi,” tutur Anas. Ada juga para siswa yang memilih berolahraga di
83
lapangan, atau melakukan kegiatan keagamaan di masjid. “Pada pukul 17.00 barulah mereka pulang, dan sekolah ditutup,” kata Anas.
Kebanggaan Guru dan Orang Tua
Para pengajar SMKN 26 Jakarta tentu saja merasa bangga menjadi pendidik sekolah ini. Apalagi jika anak-anak didik yang mereka bina dinilai mampu kebutuhan dunia kerja pada bidangnya masing-masing sesuai dengan harapannya. Tiap jurusan di SMKN 26 Jakarta
telah menjadi incaran dunia usaha yang memburu para lulusannya.
Lulusan Jurusan Elektonika Komunikasi misalnya, dicari oleh hampir semua perusahaan telekomunikasi. Ketua Jurusan Elektronika Komunikasi, Agus Rusmantoro, ST., mengatakan bahwa lulusan Jurusan Elektronika Komunikasi banyak diminta oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang elektronika bidang
komunikasi seperti Indosat, Lintas Arta, PSM, Lima Wira, Rumbung Riang, dan sebagainya. “Perusahaan-perusahaan itu selalu memesan lulusan kita. Kadang mereka harus antre, karena kami cuma punya dua kelas dengan jumlah siswa 360 orang,” kata Agus. Agus mengungkapkan bahwa untuk bidang elektronika, sekolahnya telah bermitra dengan sekitar 20 perusahaan.
Agus Rusmantoro menuturkan bahwa jurusan Elektronika sudah terbentuk sejak SMKN 26 berdiri tahun 1971. “Dulu namanya Jurusan Elektronikasi. Kemudian kami membuka Jurusan Telekomunikasi Komunikasi. Namun, waktu kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dibuat, jurusan Elektronika Komunikasi tidak tercantum. Karena itu, jurusan kami gabung ke Jurusan Elektronika Industri,” tutur Agus. Namun, Jurusan Elektronika Komunikasi kemudian dibentuk kembali sekitar 4 tahun lalu. Jurusan Elektronika Industri justru kemudian ditutup dan dijadikan Jurusan Teknik Komputer Jaringan.