huruf setelah keluar dari makhrajnya ketika
3. Ahkam al-huruf
Ahkamul Huruf adalah hubungan antar huruf-huruf Hijaiyah atau bisa di artikan hukum bacaan dalam Al-Qur‟an. Dalam hukum ini ada begitu banyak pembagiannya, namun penulis dalam hal ini membahas sebagian kecil tentang hukum tajwid yang berkenaan dengan bertemunya huruf hijaiyyah, diantaranya:
a. Nun Sukun dan Tanwin
Nun bersukun adalah huruf nun yang bertanda sukun.
Nun bersukun dikenal pula dengan sebutan nun mati, sedangkan tanwin menurut bahasa adalah suara seperti kicauan burung dan menurut istilah tanwin adalah sumber sukun yang bertemu dengan akhir Isim yang tampak dalam bentuk suara dan ketika washal, tidak dalam penulisan dan pada saat waqaf.
Adapun perbedaan pokok antara nun sukun dan tanwin ialah nun bersukun tetap nyata dalam penulisan maupun pengucapan baik ketika washal maupun waqaf, sedangkan tanwin tetap nyata atau terdengar dalam pengucapan dan
49 Tarqiq merupakan bentuk masdar dari raqqaqa yang berarti Menipiskan. Sedang yang dimaksud bacaan Tarqiq adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan yang tipis. Pada pengertian itu tampak, bahwa tarqiq menghendaki adanya bacaan yang tipis, dengan cara mengucapkan huruf dibibir (mulut) agar mundur sedikit dan tampak agak meringis. Bacaan Tarqiq terkadang disebut sebagai isim mafulnya yakni muraqqaqah.
50 Tafkhim merupakan masdar dari Fakhama yang berarti menebalkan. Sedang yang disebut dengan bacaan Tafkhim adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tebal. Pada pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bacaan tafkhim itu menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan, bacaan tafkhim terkadang disebut isim Maful Mufakhamah.
51 Sa‟id bin Sa‟d bin Nabhan al-Hadhrami, Terjemahan Hidayah ash-Shibyan, Jakarta: Munash Press, 2017, cet. 1, hal. 59.
52 Ahmad Fathoni, Petunjuk Tahsin Tartil Al-Qur‟an: Metode Maisura, Bogor: CV Duta Grafika, 2017, cet. 10, hal. 13. Lihat juga Otong Surasman, BBM Al-Qur‟an Metode As-Surasmaniyyah, Jakarta: Gema Insan, 2013, cet. 1, hal. 218.
ketika washal , tidak dalam penulisan maupun waqaf. Hukum nun mati dan tanwin ada 5 bagian yaitu:
1) Izhar Halqi (jelas dikerongkongan) yaitu dibaca jelas atau terang tanpa gunnah atau mendengung ketika bertemu huruf Idzhar.53 Huruf Idzhar Halqi ada 6, yaitu:
غ ح ع ه ء خ
contohnya di surah An-Nisa/4 ayat 118:ض
2) Idgham menurut bahasa adalah memasukkan atau masuk.
Menurut istilah adalah memasukkan huruf yang sukun pada huruf yang berharakat, dan keduanya menjadi satu huruf yang bertasydid seperti yang kedua. Huruf Idgham ada 6, terkumpul dalam kalimat54
menjadi 2, yaitu:
َ ار م ل ن او
Idgham terbagi a) Idgham bi ghunnah artinya apabila terdapat nun mati
atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf yang terkumpul dalam lafazh55
Taubah/9 ayat 51:
او م ان
contohnya di surah At-contohnya di surah Hud/11 ayat 68:
َ ك
mim disertai ghunnah ketika bertemu huruf:57ب
53 Sulaiman al-Jamzury, Syarah Tuhfathul Athfal: Pedoman Tajwid Untuk Pemula, Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟I, cet. 3, hal. 5.
54 Sulaiman al-Jamzury, Syarah Tuhfathul Athfal: Pedoman Tajwid Untuk Pemula,
…, hal. 6.
55 Ahmad Fathoni, Petunjuk Tahsin Tartil Al-Qur‟an: Metode Maisura, Bogor: CV Duta Grafika, 2017, cet. 10, hal. 306. Lihat juga Otong Surasman, BBM Al-Qur‟an Metode As-Surasmaniyyah, Jakarta: Gema Insan, 2013, cet. 1, hal. 207.
56 Ahmad Fathoni, Petunjuk Tahsin Tartil Al-Qur‟an: Metode Maisura, Bogor: CV Duta Grafika, 2017, cet. 10, hal. 308.
Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟I, cet. 3, hal. 8. Lihat juga Sa‟id bin Sa‟d bin Nabhan al- Hadhrami, Terjemahan Hidayah ash-Shibyan, Jakarta: Munash Press, 2017, cet. 1, hal. 16.
Lihat juga Otong Surasman, BBM Al-Qur‟an Metode As-Surasmaniyyah, Jakarta: Gema Insan, 2013, cet. 1, hal. 217. Lihat juga Ahmad Fathoni, Petunjuk Tahsin Tartil Al-Qur‟an:
Contohnya di surah An-Nisa/4 ayat 114:
4) Ikhfa Haqiqi, yaitu dibaca samar antara Idgham dan izhar disertai gunnah ketika bertemu selain huruf. Huruf Ikhfa ada 15, yaitu:
ك ق ف ظ ط ض ص ش س ش ذ د ج ث ت
Salah satu contoh Ikhfa Haqiqi nya di surah Al-Hajj/22
ayat 38:
ً
Adapun cara membaca hukum mim mati ada tiga cara:
1) Ikhfa' Syafawi, yaitu dibaca samar disertai guna ketika mim berikutnya dan disertai gunnah ketika bertemu huruf Mim. Contohnya, di surah Yasiin/36 ayat 37:
و
hijaiyyah yang 28. Contohnya, di surah Al-Baqarah/2 ayat 9:c. Hukum Mim dan Nun yang Bertasydid
Huruf-huruf bertasydid merupakan pengibaran dari 2 huruf yang sama. Yang pertama sukun dan yang kedua
Metode Maisura, Bogor: CV Duta Grafika, 2017, cet. 10, hal. 310. Dan lihat juga Muhammad al-Mahmud, Hidayatul Mustafid: Ilmu Tajwid Lengkap dan Praktis, t.p: Sarana Ilmiah, t.th.hal. 18
58 Sa‟id bin Sa‟d bin Nabhan al-Hadhrami, Terjemahan Hidayah ash-Shibyan, Jakarta: Munash Press, 2017, cet. 1, hal. 21.
berharakat, lantas keduanya ditulis dengan satu huruf dan diucapkan dengan 2 huruf.59
Dimana saja di dalam Al-Qur‟an kalau ada huruf Mim dan Nun yang bertasydid maka dinamakan dengan bacaan Ghunnah dan harus dibaca dengung 2 harakat. Ghunnah ialah terjadi pada kalimat langsung, yaitu huruf Mim dan Nunnya bertasydid dan ada juga yang tidak langsung, huruf Mim dan Nun yang bertasydid tersebut didahului huruf Lam Ta‟rif.
Maka cara membaca Ghunnah baik yang langsung maupun tidak langsung, harus dibaca dengan dengung 2 harakat.
Karena hukumnya memang wajibul Ghunnah, yakni wajib dibaca dengung.60
Contohnya ada di dalam surah Al-Baqarah/2 ayat 222:
َ و
menyebabkan qari‟ atau pembaca Al-Qur‟an jatuh pada kesalahan membaca, yaitu memendekkan huruf yang seharusnya dibaca panjang atau sebaliknya. Sebelum penulis menguraikan lebih lanjut tentang hukum mad dan qashr, maka ada baiknya diuraikan asal usul kejadiannya.Dari sahabat Ibnu Mas‟ud r.a. yang diriwayatkan oleh at- Tabrani dalam Mu‟jam al-Kabir diriwayatkan bahwa “ketika Ibnu Mas‟ud membacakan (mengajarkan) pada seorang laki-laki surah al-Taubah/9: 60, lalu laki-laki itu membacanya dengan lurus tanpa mad. Maka Ibnu Mas‟ud berkata, “Tidak begitu yang diajarkan Rasulullah saw. padaku”. Laki-laki itu bertanya:
“Memangnya bagaimana Beliau membacakannya kepadamu wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas‟ud berkata: “Beliau membacakannya kepadaku dengan memanjangkan huruf-
59 Sulaiman al-Jamzury, Syarah Tuhfathul Athfal: Pedoman Tajwid Untuk Pemula, Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟I, cet. 3, hal. 13.