• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertama dari Pemohon, isu klasik C-6 sekurang-kurangnya di pilkada serentak ini karena saya memantau terus persidangan ini hampir tiap hari dari dismissal, itu menjadi isu yang hangat, dan bahkan dari lima tahun yang lalu saya kira C-6. Jadi, suasana potensi politisasi C-6 saya harus mengatakan karena saya ada di lapangan terus menjadi konsultan pasangan calon itu terjadi. Nah, itu terjadi.

Bahwa kemudian ada di beberapa titik karena problem teknis terlambat percetakan, terlambat pengisian juga ya, maka saya ingin mengatakan khusus kasus Solok Selatan forum inilah yang membuktikan, apa dia problem teknis apa problem politik. Masif terjadi di hampir sejumlah daerah. Apakah kalau tidak dibagikan C-6 akan berpengaruh terhadap perolehan suara calon atau tidak? Dalam konteks seperti kasus Solok Selatan yang selisihnya relatif angka ratusan, maka akan dijawab, bisa dijawab dengan pertanyaan begitu, apakah kemudian problem C-6 itu sangat signifikan atau tidak? Akan dijawab lagi dengan pertanyaan berapa pemilihnya? Termohon berapa? Kemudian gagal membagikan C-6 kalau jumlahnya sampai signifikan, katakanlah 20%, 25% ditelusuri lagi, oh ternyata di berbagai tempat ada nuansa kesengajaan untuk tidak membagikan dari saksi-saksi segala macam, maka ia bisa memengaruhi suara calon. Tetapi kalau kemudian jumlahnya tidak signifikan, dan motifnya sangat teknis, ia tidak akan mempengaruhi suara calon apalagi selisihnya jauh.

Itu yang ingin saya katakan. Pertanyaannya, kalau kemudian demikian halnya ada satu tempat signifikan C-6 nya besar, apa bisa diulang? Kalau merujuk pada undang-undang Pasal 112 soal pembagian C-6 tidak bisa diulang memang, sekali lagi, merujuk teks hukum, tidak bisa diulang, lebih.

Tapi saya ingin memberikan substansi hukumnya seperti ini, ada sat … lebih dari satu pemilih yang kemudian tidak punya hak di situ menggunakan haknya, maka itu diulang, maka dalam kasus hukum kemudian kalau bisa dibuktikan di peradilan ini di satu tempat, satu TPS, dua TPS, ada kesengajaan, Pak. Apa … ada kesengajaan dari penyelenggara cukup signifikan tidak bisa membagikan C-6, maka kualitas konstitusionalitas kasus ini justru jauh lebih besar daripada sekadar dua orang tidak menggunakan hak pilih di situ kemudian masuk, lalu kemudian pemilu ulang.

Ini yang jauh lebih … lebih … lebih rawan dan lebih tinggi nilai konstitusionalitas hak orang kemudian untuk dipotong menggunakan hak pilih.

Jadi, dalam konteks kebenaran substantif, ia melebihi dari pasal itu, sehingga saya harus mengatakan dengan nurani yang paling dalam ketika itu bisa dibuktikan di persidangan ada cukup besar, tempat-tempat yang sampai kemudian orang tidak bisa datang ke tempat itu gara-gara tidak dibagikan C-6. Dan ia berpengaruh kemudian terhadap hasil akhir, rekomendasi saya jelas bisa dilakukan pemungutan suara ulang. Betapa

pun teks hukum di situ di 112 tidak memberi ruang untuk itu. Tetapi kalau cuma di satu TPS ada 10, 12, 15, kemudian jumlah DPT-nya 500 dan tidak relevan dengan … dengan ... dengan suara dan karena bisa dibuktikan teknis, saya kira tidak. Tidak bisa dilakukan pemungutan suara ulang. Jadi tergantung kasusnya per TPS yang terjadi di tempat itu.

Berkaitan dengan partisipasi soal ... apa namanya ... soal kelalaian, betul, justru itu yang saya heran. Anehnya begini, ketika bicara soal DPT, DPT itu kan sampai tiga kali dimutakhirkan, padahal dengan KTP. Tapi kenapa juga, kemudian sampai orang banyak membawa KTP. Artinya apa? Sebetulnya kontrol dari penyelenggara, yang saya sebut penyelenggara ya KPU dan panwasnya, untuk memastikan orang di situ, kemudian menggunakan hak pilih, itu gagal, sebagai orang yang punya tanggung jawab, tapi saya juga ingin mengatakan bahwa selama ini semua pasangan calon juga tidak memberikan kontribusi positif untuk pemutakhiran DPT itu, itu klir.

Karena itu, dalam konteks persidangan apa pun, saya selalu mengatakan kalau orang membuat dalil soal DPT, tidak lagi tempatnya di sini karena Anda juga bersalah. Tetapi persoalannya kalau kemudian yang lebih seksi, menurut saya adalah justru soal DPTb2 itu, bukan soal DPT karena semua orang punya peran di situ.

Kemudian, menyangkut masalah … apa ... soal motif orang kemudian datang menyoblos diberikan uang atau tidak, saya kira konteksnya bukan pada ... pada ... pada persoalan psikososial, persoalan kultural segala macam, tidak, tetapi lebih pada (suara tidak terdengar jelas)-nya adalah apakah penyelenggara di situ dalam konteks kemudian memberikan … apa … formulir C-6 itu ada niat sengaja dan bisa dibuktikan kemudian, sangat masif terjadi. Betapa pun itu hak, begitu pun kultur, maka ia bisa dikolerasikan ada persoalan-persoalan politik di situ untuk kemudian membuat orang kehilangan haknya.

Jadi bahwa orang kemudian datang mencoblos karena dapat uang karena ingin mendapat calon, itu saya kira, tidak ... tidak ... tidak menjadi concern saya untuk mendikusikan di forum ini, tetapi lebih pada persoalan bagaimana proses distribusi itu terjadi, yang sudah pasti adalah kalau sampai H-3 tidak diberikan dan jumlah signifikan, maka itu kelalaian penyelenggara.

Pertanyaannya, kan peserta bisa ikut membagikan? Tidak. Karena itu hak penyelenggara, KPPS yang bisa. Karena di situ kenapa orang kemudian butuh C-6 sampai saat ini? Karena di situ ada identitas, ada petunjuk, saya Putu Artha, pemilihan di Denpasar ke mana saya harus coblos? TPS mana? Jadi kalau itu tidak dibagikan, dia juga tidak tahu harus ke mana coblos itu, itu jelas. Karena bisa saja bolak-balik, saya harusnya coblos (suara tidak terdengar jelas) bisa sampai dusun lain ditaruh. Jadi C-6 itu memang kunci karena ada petunjuk di situ, coblos di mana.

Kemudian, untuk Bung Refly, apakah kemudian persidangan ini bisa … apa ... punya nilai ketika bicara soal mapping politic, kebutuhan (suara tidak terdengar jelas), dan seterusnya.

Saya sependapat dengan Anda bahwa itu tidak bisa punya nilai, ketika kemudian ... ketika kemudian persoalan-persoalan itu tidak signifikan, tapi ia menjadi persoalan serius karena saya lihat kasus di sini kan angkanya pada level ratusan. Saya tidak tahu case kasus ini sepenuhnya seperti apa secara menyeluruh karena mungkin Termohon yang bisa menjelaskan. Tapi kalau selisih 500, ternyata dari 110.000 misalnya ada sampai 20.000, 30.000 C-6 tidak dibagikan, menurut saya, itu serius untuk ditelusuri. Kenapa dari angka 500 dan C-6, 30.000, 20.000 misalnya atau apa? Terserahlah Majelis nanti signifikansi itu sampai pada kuantitas berapa begitu.

Saya kira, itu serius untuk ditelurusi. Tapi kemudian kalau case by case tidak … apa … kasus per kasus di tempat itu kemudian tidak signifikan, ya, tidak punya nilai apa pun untuk proses pembuktian di persidangan ini, termasuk soal mapping itu, saya sependapat dengan Anda.

Penyelenggara tingkat bawah sudah punya apa yang disebut dengan mekanisme komplain, penyelesaian komplain di level bawah, betul, itu yang saya sebut tadi beberapa kasus yang terjadi di TPS, kok orang ada mencoblos dua kali, bisa dikomplain. Tapi khusus untuk kasus C-6 dan DPTb2, itu tidak bisa dibuktikan tanggal 9, rekap di kabupaten baru bisa terbukti itu. Karena siapa pun pasangan calon tidak punya datanya, kecuali kalau calon itu cerdas, dia foto itu semua DPTb2 ... DPTb2 itu baru dia punya rekapannya, per TPS, “Oh ini banyak sekali KTP-nya.” Karena peraturan KPU tidak memberi hak kepada semua pasangan calon kepada Saksi untuk mendapat salinan itu, beda dengan C-1 Plano, tidak ada persalinan, boleh difoto, di peraturan KPU jelas, boleh difoto itu oleh para Saksi, oleh para pemantau, sehingga kita tahu kalau selisih suara di C-1 ada masalah, lihat saja C-1 Planonya dengan foto-foto itu kita tahu. Tapi ketika DPTB dan C-6, tidak ada akses untuk pasangan calon mana pun, baik Termohon, Pihak Terkait, maupun Pemohon untuk bisa memperoleh informasi itu kecuali ada di KPU dan itu baru kita tahu pada saat rekapitulasi.

Ada kelalaian dari penyelenggara, saya kira ini konteksnya sama soal tanggung jawab itu, ya, Bung Refly tadi sudah terjawab dengan sendirinya. Bisa tidak ada klaim dapat ... mohon diulangi, barangkali yang terakhir ini saya agak lupa, tulisan saya kayak dokter juga, malah saya tidak bisa baca ini.

Dokumen terkait