ISTILAH Ahlul Hadits adalah sebutan yang diberikan untuk kelompok yang sering-- secara berlebihan-- disebut dengan Ahlus Sunnah, Salafiah atau Hasywiyyah, sebab Ahlul Hadits adalah satu trend yang berpegang pada teks-teks agama dan riwayat-riwayat dari para sahabat sebagai satu-satunya referensi --atau hampir dapat dikatakan hanya satu-satunya-- rujukan Agama, dengan menolak memasukkan penalaran akal (ra’y), qiyas, ta'wil, dan metodologi akal lainnya ke dalam kerangka referensi Agama. Bahkan dapat dikatakan menolak penalaran akal dalam memahami nash-nash, cukup dengan mengambil lahiriah nash-nash itu.
Dengan sendirinya, nash-nash Agama yang merupakan rujukan dalam persoalan-persoalan Agama adalah Kitab dan Sunnah. Akan tetapi dikarenakan kesibukan para imam kelompok ini dalam tugas pengumpulan hadits Nabi dan penyusunannya ke dalam Kitab Shahih, Musnad, dan Jami'; kesibukan mereka dalam pengecekan Ilmu Musthalahul Hadits dirayah dan riwayah secara quantitatif maupun qualitatif serta begitu penting kedudukannya dalam poros ilmu-ilmu Islam baik yang berkaitan dengan syari'ah maupun mu'amalah, maka para imam kelompok aliran pemikiran ini muncul sebagai pakar-pakar profesional di bidang kompilasi, kritik, penyusunan, dan pensyarahan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh sebab itulah mereka dikenal dengan sebutan Ahlul Hadits.
Masa kejayaan mereka ini mencapai puncaknya pada era pemerintahan Dinasti Abbasiah, sebab pengaruh yang ditimbulkan oleh aliran rasionalisme, filsafat dan pemikiran rasional Yunani serta paham iluminisme serta esoterisme Persia telah menimbulkan sentakan besar terhadap mayoritas umat Islam. Untuk menghadapi gelombang pemikiran asing ini mereka menyambut dengan penuh antusiasme seruan kembali kepada teks-teks Agama sebagai benteng yang diwakili oleh Ahlul Hadits, dipelopori oleh Imam Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal (780-885 M), penulis kitab al-Musnad yang terkenal itu. Dalam aliran pemikiran Ahlul Hadits ini terdapat sejumlah tokoh yang menekuni bidang hadits baik kompilasi, kritik maupun penyusunan secara tematik, serta penyusunan ilmu-ilmu hadits. Di antara tokohtokoh ini ialah: Ibnu Rahawaih (wafat 852 M), seorang imam dan pakar ilmu Ta'dil dan Jarh; Imam Bukhari (wafat 870 M); Abu Dawud (wafat 888 M); ad-Darami (wafat 893 M); at-Thabrani (wafat 971 M); al-Baihaqi (wafat 1066 M), dan imam-imam lainnya penyusun hadits dalam bentuk Kitab Musnad, Jami', dan Shahih. Begitu pula terdapat dalam aliran ini sejumlah fuqaha (ulama fiqh), mujtahidin (ulama ahli ijtihad), dan mujaddidin (ulama pembaharu) yang di antaranya Ibnu Taimiyah (1263-1328 M), Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah (1292-1350 M), dan tokoh-tokoh lainnya.
Imamah aliran ini telah terbentuk tanpa saingan pada Imam Ahmad bin Hanbal, sebenarnya bukanlah disebabkan karena jasanya mengkompilasi Kitab al-Musnad, melainkan disebabkan adanya beberapa faktor penting lainnya, di antaranya bahwa dia adalah peletak metodologi tekstual yang menjadi karakter pokok aliran ini, yaitu metodologi yang membatasi referensi Agama hanya pada nash-nash Agama: teks-teks al-Qur'an dan Sunnah, tanpa perangkat penalaran akal, disertai dengan sikap sangat hati-hati untuk menghindari penggunaan penalaran akal ini dalam seluk beluk teks-teks ini.
188
Komitmen Imam Ahmad pada metodologi tekstual ini yang dipakai sebagai satu-satunya jalan untuk memahami Agama telah mencapai tingkat yang tidak memungkinkan baginya menggunakan pendapat atau penalaran akal, atau qiyas, melainkan lebih memilih riwayat yang ma'tsur meskipun terdapat beberapa riwayat yang berbeda atau bertentangan dalam satu masalah, sehingga ia kadang-kadang memberi dua fatwa hukum yang berbeda dikarenakan adanya riwayat ma'tsur yang berbeda dalam satu masalah itu, yang dengan ungkapan Ibnu al-Qayyim, dikatakan: "Apabila para sahabat berselisih paham dengan dua pendapat maka Ibnu Hanbal mengemukakan dua riwayat tentang masalah tersebut."
Ini adalah suatu manhaj yang membuat agama menjadi mudah dan memberi kelapangan kepada umat dalam masalah furu'iah (masalah sekunder) dan persoalan-persoalan yang tidak prinsipil, berbeda dengan yang sering dianggap oleh lawan-lawan aliran ini. Rukun-rukun manhaj tekstual ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ada lima, yang disebut oleh Ibnu Qayyim secara beruntun sebagai berikut:
• Prinsip pertama adalah nash. Apabila terdapat nash, maka nash inilah yang dipakai tanpa melihat kepada sesuatu yang bertentangan dengannya dan tidak memperlakukan hadits shahih dengan mendahulukan qiyas, atau penalaran akal atau kata-kata sahabat. • Prinsip kedua adalah fatwa sahabat. Jika terdapat fatwa sebagian sahabat dan tidak ada
sahabat yang menentang fatwa itu, maka fatwa ini tidak dapat dikalahkan oleh qiyas, atau penalaran akal.
• Prinsip ketiga adalah bahwa apabila terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat, maka dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Kitab atau Sunnah dan tidak keluar dari pendapat mereka meskipun seandainya tidak tampak mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat sahabat.
• Prinsip keempat adalah mengambil hadits mursal dan hadits dha'if, jika tidak ada nash
lain yang mendukung. Hadits mursal dan hadits dha'if lebih kuat baginya daripada pendapat akal.
• Prinsip kelima adalah qiyas dalam keadaan darurat. Jika tidak ditemukan nash, tidak ada ucapan sahabat, atau pendapat salah seorang sahabat, atau atsar mursal atau dha'if, maka qiyas lalu dipakai dalam hal ini semata karena terpaksa.
Inilah prinsip-prinsip metodologi tekstual yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Nash pada tingkat apapun adalah rujukan halal dan haram, bukan pendapat akal, atau qiyas atau ta'wil, atau citarasa sufistik, atau qaidah sebab musabab.
189
Syu'ubiyah
ISTILAH ini berasal dari akar kata jamak syu'ub yang bentuk tunggalnya adalah sya'b. Salah satu arti sya'b adalah kelompok manusia yang tunduk pada sebuah sistem sosial, atau berbicara dengan satu bahasa. Dalam al-Qur'an disebutkan:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal." (al-Hujuraat: 13)
Kelompok manusia yang membentuk satu bangsa (sya'b) adalah yang menempuh jalan pembauran dan persatuan setahap lebih besar daripada yang masih ada pada ikatan suku. Maka suku-suku dengan proses pembauran dan pengembangan membentuk format baru menjadi satu bangsa. Sedangkan kebangsaan (syu'ubiyyah), dalam pemikiran dan sejarah Arab Islam, merupakan terminologi yang menunjukkan karakter dan gerakan yang dibedakan dalam kerangkanya oleh dua aliran:
Pertama: syu'ubiyyah dalam pengertian persamaan antara bangsa-bangsa dan suku-suku, yakni antara unsur Arab yang didominasi oleh sistem kesukuan dan golongan Mawali (penduduk negeri yang dikuasai oleh bangsa Arab), yang mana mereka itu berbangsa-bangsa --khususnya bangsa Persia. Pengertian syu'ubiyyah ini mulai dipakai, yakni untuk memperoleh persamaan, untuk menghadapi kecenderungan Bani Umayyah yang lebih mengutamakan unsur Arab baik karena fanatisme atau karena faktor keamanan Negara ketika terdapat keraguan terhadap loyalitas kaum Mawali --penduduk asli negeri yang dikuasai oleh penguasa yang berdarah Arab-- di kalangan Dinasti Umayyah. Maka syu'ubiyyah dengan pengertian ini merupakan suatu orientasi yang dapat diterima menurut Islam yang tidak membedakan antara Arab dan non-Arab ('Ajami) selain karena ketaqwaan.
Kedua: adalah syu'ubiyyah yang penganutnya melampaui tuntutan persamaan antara bangsa-bangsa dan suku-suku, hingga mengklaim superioritas bangsa Persia atas suku-suku Arab dan mereka menyebarluaskan pemikiran dan teori-teori filsafat yang merendahkan ras Arab sebagai bangsa; merendahkan tradisi, adat istiadat, pakaian, kualitas makanan, perlengkapan hidup, model kehidupan serta kebudayaan mereka dengan menggeneralisasikan mereka secara mutlak.
Yang tampak dari permukaan dari aliran syu'ubiyyah ini bahwa Islam diterima sebagai agama dan Arab ditolak sebagai bahasa, negara, tradisi, dan model hidup. Akan tetapi terdapat berbagai indikasi yang menunjukkan bahwa kecenderungan terhadap syu'ubiyyah menyimpan sikap menolak Islam di balik penolakan terhadap Arabisme; dengan berusaha memelihara tradisi agama Persia klasik. Orientasi Aryanisme Persia laten ini dan pergerakan bawah tanah telah memberi andil besar dalam menjatuhkan Dinasti Umayyah yang bercorak Arab. Dalam tubuh pasukan yang mendukung Abu Muslim al-Khurasani (wafat 755 M) terdapat unsur-unsur yang
190
sangat menonjol memainkan peran ini. Bahkan kelompok yang mempunyai orientasi syu'ubiyyah telah berhasil mengubah sistem khilafah sebelum mereka berhasil menjatuhkan Dinasti Umayyah kemudian membersihkannya dari unsur-unsur Alawi dalam revolusi --karena mereka mempunyai orientasi Arab-- yang diwakili oleh kaum Mu'tazilah yang berhasil mengadakan bai'at khilafah kepada Nafs Zakiah Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan (712-762 M). Kaum syu'ubiyyah berhasil mengalihkan khilafah kepada kelompok Bani Abbas yang penggalakan kampanyenya dilakukan dalam iklim Persia serta mengandalkan unsur-unsur Arab, bahkan kaum syu'ubiyyah bersikap memusuhi Arab yang aspirasi mereka cenderung kepada Alawiyyah (pendukung keluarga Ali bin Abu Thalib).
Sejarah menyebutkan bahwa Imam Dinasti Abbasiah Ibrahim bin Muhammad (701-749 M) telah menulis pesan kepada salah satu orang kepercayaannya di Persia: "Jika kamu sanggup, jangan biarkan ada seorangpun yang berbicara Bahasa Arab, jika ada dan kamu anggap perlu dibunuh, maka lakukanlah! Waspadalah terhadap Bani Mudhar, sebab mereka adalah musuh yang dekat, maka binasakanlah para tokoh mereka, jangan dibiarkan mereka di muka bumi sedikitpun."
Inilah yang dilakukan Abu Muslim al-Khurasani yang mengalihkan khilafah dari kaum Alawi kepada Bani Abbas dengan memberi bai'at kepada Abu al-Abbas as-Saffah (722-754 M), hal mana menjadikan kaum syu'ubiyyah memegang kendali kekuasaan pada abad pertama pemerintahan Dinasti Abbasiah dan mendominasi berbagai bidang kehidupan.
Dalam kehidupan pemikiran dan sosial Islam telah tercipta aliran ketiga: penolakan fanatisme Arab dan fanatisme syu'ubiyyah sekaligus, yang menyerukan kepada persatuan antar bangsa-bangsa dan suku-suku atas dasar petunjuk rambu-rambu Islam dan semangat ta'aruf (saling mengenal) antar kelompok. Tentang pemahaman ini, al-Jahizh (780-869 M) mengemukakan: "Sesungguhnya kaum al-Mawali lebih mirip dengan Arab, lebih dekat dengan mereka, lebih menbutuhkan mereka, karena sunnah menjadikan mereka bagian dari Arab. Mereka itu Arab dalam perserikatan dan dalam warisan. Inilah ta'wil sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: "Maula (hamba) kaum adalah bagian dari mereka sendiri," dan sabdanya yang lain: "Wala' (loyalitas) adalah daging seperti darah daging nasab." Jika ini dipahami, maka jiwa menjadi lemah lembut, keruwetan menghilang, dan yang ada hanyalah kompetisi sehat." 120)
191
Gnostisisme
GNOSTISISME berasal dari kata Latin gnosis yang berarti pengetahuan (ma'rifah). Ia merupakan paham filsafat klasik yang berdiri di atas perpaduan antara filsafat dan agama, serta campuran dari berbagai pemikiran dan pengetahuan, yang berdasarkan pada emanasi serta pandangan-pandangan mistik serta illuminisme.
Paham gnostisime berkembang subur dalam peradaban Helenik klasik (Yunani kuno), khususnya di Persia, yang mana pemikiran pokoknya berporos pada keyakinan bahwa pengetahuan adalah jalan keselamatan, bukan kepercayaan pada agama tertentu, baik jalan kepercayaan agama itu adalah teks-teks agama maupun akal, atau sekaligus keduanya.
Gnostisisme telah mulai muncul sebagai satu aliran filsafat sinkretis dari Hellenisme Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan kabalisme Yahudi, yang merupakan agama masyarakat Yahudi klasik, serta filsafat dan agama Persia kuno: monisme. Gnostisisme merupakan jalan untuk mencapai keselamatan melalui "kesalehan" individu serta pengalaman spirituil pribadi yang mengangkat pelakunya ke alam fana (annihilation) ke dalam Dzat yang mutlak, bukan melalui aturan agama (syari'ah).
Gnostisisme memberi andil besar dalam menyelewengkan agama Kristen dari prinsip tauhid. Di antara tokoh Kristen penganut gnostisisme pada abad kedua Masehi ialah Valentinus dari Mesir dan Pasilidus dari Suriah.
Ketika Islam datang, paham ini memberi pengaruh pada perkembangan selanjutnya terhadap para penganut sufisme, terutama dalam bentuk yang diistilahkan dengan konsep wihdatul wujud dan 'irfaniyyah isyraqiyyah (illuminisme gnostik), yang tidak lain adalah bentuk gnostisisme klasik yang muncul kembali, akan tetapi paham ini hanya diikuti oleh segelintir tokoh teosofi tertentu, bukan penganut tasawuf sunni.
Ma'rifat gnostik meskipun berjaya sebagai pengalaman pribadi dan suatu jalan untuk keselamatan perorangan akan tetapi menghancurkan komunitas manusia serta merusak keyakian masyarakat yang mengambil jalan syari'ah sebagai jalan keselamatan umum, bukan ma'rifat gnostik.121)
192
Bathiniyah
DALAM aliran kalam (teologi), yang dimaksud dengan Bathiniyyah adalah setiap paham yang berlebihan dalam melakukan ta'wil. Mereka memandang di balik setiap yang bersifat lahiriah mempunyai makna yang terselubung: setiap yang eksplisit mengandung makna yang implisit, mereka tidak hanya sampai pada qaidah ta'wil terhadap rambu-rambu bahasa Arab serta agama Islam.
Terdapat ta'wil yang pelakunya mengikat diri pada qaidah-qaidah yang benar. Ta'wil seperti ini tidak ada yang mempersoalkan di kalangan aliran pemikiran Islam. Sedangkan ta'wil bathini melanggar qaidah serta menyeleweng dari syari'ah sehingga nash yang nyata disalahpahami secara nyata.
Di antara paham-paham bathiniyah (kebatinan) yang muncul di kalangan Islam di antaranya: Ismailiah. Mereka ialah golongan syi'ah imamiah yang menganggap bahwa imam yang berhak memperoleh kedudukan imamah setelah Imam Ja'far Shadiq (699-748 M) ialah putranya, Ismail (wafat 760 M). Aliran ini mencampuraduk antara ajaran Islam dengan gnostisisme Persia dan dengan paham Neo-Platonisme serta tradisi-tradisi Israiliat. Dari paham Ismailiah muncul berbagai cabang aliran Bathiniyah di antaranya:
• Qaramithah, yang dinisbahkan kepada tokoh kenamaannya yaitu Hamdan Qirmith. Aliran ini sering juga disebut dengan as-Sab'iyyah dikarenakan keyakinan mereka bahwa peringkat para Imam mereka ada tujuh (sab’) dan alam ini perjalanannya mengikuti tujuh bintang.
• Druz, yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Muhammad Ismail ad-Durzi (wafat 1020 M). Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa al-Hakim Biamrillah al-Fathimi (985-1021 M) ialah nasut (unsur manusia) yang dimasuki lahut (unsur Tuhan). Mereka menamakan diri dengan sebutan al-Muwahhidin (yang meyakini penyatuan manusia dengan Tuhan).
• Nushairiyyah, yang dinisbahkan kepada pendirinya, Muhammad bin Nushair (wafat 873 M). Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa Imam Ali bin Abu Thalib adalah penjelmaan lahut (unsur Tuhan) yang menyatu pada dirinya.
• Babiyah dan Baha'iyah, yang didirikan oleh Sayyid Ali Muhammad asy-Syirazi (1821-1850) yang mengaku bahwa dirinya adalah pintu (bab) ilmu tentang hakekat ilahiah. Kemudian berkembang dari aliran Babiyah ini satu aliran yang disebut Baha'iyah, didirikan oleh Mirza Husain Ali Nuri (1818-1893) yang menamakan dirinya Baha'ullah. Aliran-aliran kebathinan dalam masyarakat Islam ini telah mengeluarkan Islam dari hakekat yang sebenarnya dengan penta'wilan mereka yang bersifat gnostik subjektif tanpa landasan metodologi Islam. Begitu pula aliran-aliran ini telah memainkan peranan yang sangat merugikan umat Islam dalam sejarah dikarenakan sikap mereka membantu pasukan Tatar dan pasukan Salib memerangi kaum Muslimin di masa lalu, serta membantu kaum penjajah dan Israel di masa modern.122)
193