BAB IX INSTITUSI / KELEMBAGAAN
9.1 Air Bersih
9.1.1 Kondisi eksisting Kelembagaan dan Analisa Permasalahan PDAM Tirta Agara Kutacane
a. Organisasi Pengelola
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Agara Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No.14 Tahun 1982 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Aceh Tenggara, yang kemudian untuk memperlancar pelaksaan tugas PDAM ditetapkan dengan Keputusan Bupati Aceh Tenggara No14 Tahun 1994 tentang Susunan Organisasi dan tata Kerja Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Tenggara.
Tugas pokok PDAM secara garis besar dibagi menjadi fungsi Teknis dan fungsi Umum (administrasi dan keuangan). PDAM dipimpin oleh seorang Direktur dengan dibantu oleh dua orang Kepala Bagian yakni Kabag. Administrasi & Keuangan dan Kabag Teknik di tingkat kantor Pusat kedua Kepala Bagian ini membawahi Kepala Seksi. Wilayah pelayanan PDAM dibagi menjadi wilayah kota Kutacane dan IKK Badar, Bulan, Simpang Semadam, Babul Makmur, Lawe Sigala, dan IKK Bambel. Struktur Organisasi PDAM dapat dilihat pada diagram berikut ini.
Institusi PDAM telah mengacu kepada Surat Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pekerjaan Umum No.5 Tahun 1984 , No.28/KPTS/1984 tentang Pedoman Organisasi Kelembagaan.
Melihat dari status PDAM sebagai perusahaan daerah maka PDAM sangat berperan dalam pelayanan dan pengembangan air minum dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara mulai dari tahap Perencanaan, Pelaksanaan Pembangunan, Operasi dan Pemeliharaan serta Pengembangannya.
FINAL REPORT IX-1
Gambar 9.1 Struktur Organisasi PDAM TIRTA AGARA
FINAL REPORT IX-2
b. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sebagai tindak lanjut dari berdirinya PDAM Tirta Agara Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara adalah pengisian jabatan struktural yang meliputi Direktur, para Kapala Bagian, Kepala Seksi, Kepala Subseksi dan staf pelaksana.Jumlah personil PDAM sebanyak 51 orang dengan perincian 44 pegawai perusahaan dan 7 orang berstatus pegawai harian perusahaan. Sedangkan dari segi pendidikan sebagian besar berpendidikan SLTA sebanyak 30 orang, SMP sebanyak 8 orang, D3 sebanyak 7 orang, sedangkan yang berpendidikan S1 sebanyak 6 orang.
Pelanggan PDAM berjumlah 5.618 SR sedangkan jumlah pegawai 51 Orang, artinya setiap 1 orang pegawai PDAM melayani 110 SR. Standar umum rasio pelayanan antara personnil dengan jumlah sambungan rumah (SR) adalah 1 : 100, dengan menggunakan standar ini menunjukkan keseimbangan antara jumlah pegawai dan pelayanan cukup baik.
c. Sistem dan Prosedur
Sistem dan prosedur baku yang berlaku masih mengacu pada sistem dan prosedur umum yang digunakan oleh PDAM, seperti sistem dan prosedur akutansi, pecatatan akutansi, sistem pelaporan (harian, bulanan,laporan triwulan dan laporan tahunan), sistem penganggaran, operasi & pemeliharaan dll. Namun dalam pelaksanaannya tidak semua prosedur yang ada dijalankan dan dipedomani salah satu penyebabnya adalah terbatasnya kemampuan SDM yang ada dan terbatasnya biaya operasi dan pemeliharaan yang tersedia.
d. Peralatan Kantor dan Alat Mobilitas Kerja
Peralatan kantor dan alat mobilitas kerja merupakan fasilitas yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja organisasi pengelolaan. Saat ini PDAM sudah memiliki gedung kantor sendiri, namun kondisinya perlu ditingkatkan sehingga dapat memberikan kenyamanan dan meningkatkan produktifitas kerja karyawan, demikian pula halnya dengan fasilitas kantor terdiri dari komputer, printer dll,serta alat mobilitas kerja seperti sepeda motor, dan mobil Pick up namun kesemuanya perlu ditingkatkan kualitasnya.
FINAL REPORT IX-3
e. Operasi dan Pemeliharaan Operasi
Dalam operasinya ditemukan indikasi lemahnya sistem managemen yang digunakan. Indikator yang dijadikan tolak ukur berupa tidak berfungsinya unit pengawasan kualitas hasil produksi (hanya berdasarkan tinjauan fisik), frekwensi distribusi kurang dari 24 jam, dan tidak tersedianya meter induk, 50 % sambungan rumah tidak memiliki meter air sehingga tingkat kebocoran tidak terdeteksi dengan akurat baik teknis maupun non teknis yang disebabkan oleh berbagai faktor kesengajaan atau kealpaan.
Pemeliharaan
Target pemeliharaan sebagian besar hanya meliputi instalasi pengolahan air bersih dalam periode yang masih belum dapat diprediksi dengan rencana alokasi pendanaan secara tepat. Untuk pemeliharaan jaringan dan perangkat pendukung lain ke pelanggan seperti perawatan pipa distribusi dan watermeter masih sangat minim.
f. Pengembangan dan Pemasaran
Pelayanan permintaan sambungan baru akhir-akhir ini tidak lagi terlayani sebab PDAM belum mampu mendanai sendiri sehingga masih mengandalkan subsidi dari APBD, proyek APBN dan pinjaman komersial. Sedangkan untuk biaya operasional diperoleh dari hasil pendapatan penjualan air dan non air, namun jika pendapatan dari hasil penjualan air diperhitungkan dengan penyusutan, kewajiban membayar bunga & cicilan hutang-hutang serta setoran ke PAD maka kondisi keuangan PDAM masih sangat minus. Dalam hal tips dan trik pemasaran hasil produksi belum dilaksanakan sebagaimana layaknya perusahaan. Aspek komersiallitas dalam rangka peningkatan kemandirian sebagai BUMD selama ini terabaikan.
g. Keuangan
Berdasarkan nilai jual secara ideal hasil produksi PDAM mampu menopang operasionalnya sendiri bahkan mampu memberikan kontribusinya kepada Pendapatan Asli daerah (PAD). Namun demikian dalam pelaksanaannnya segala hal yang menyangkut masalah keuangan belum berjalan sebagaimana yang telah
FINAL REPORT IX-4
ditetapkan. Teknis penanggulangan tunggakan (33 %) tagihan rekening pelanggan belum tegas, kepincangan yang sangat jelas terlihat dari biaya produksi dari tahun ketahun meningkat dan selama ini pula belum ada penyesuaian tariff. Beban keuangan juga meluas berupa tagihan oleh lembaga diluar PDAM seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan jasa serta kewajiban jangka panjang berupa cicilan dan bunga pinjaman kepada Departemen Keuangan sebesar Rp.6,5 milyar. Kesemuanya ini membuktikan masih lemahnya managemen pengelolaan PDAM.
Minusnya neraca keuangan operasional lebih diakibatkan seperti tidak terdeteksinya secara tepat jumlah kebocoran/kehilangan air, rendahnya tingkat pelayanan, tingginya biaya operasional serta rendahnya tariff air minum.
h. Kebijakan Kenaikan Tarif
Tarif air minum yang diterapkan sampai saat ini sudah menggunakan struktur tarif yang terbaru tahun 2005 dengan tarif dasar Rp.300,- Dalam melakukan peninjauan dan kebijakan kenaikan tarif air minum PDAM masih harus menunggu Keputusan Bupati, dalam hal ini Bupati juga harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat terutama dari kalangan DPRD. Disisi lain PDAM dituntut mampu membiayai diri sendiri dan memberikan kontribusinya kepada pendapatan daerah (PAD), serta memberikan pelayanan kepada semua masyarakat yang membutuhkan baik masyarakat yang mampu dan kurang mampu. Kesemuanya ini sangat mempengaruhi kinerja keuangan PDAM.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.2 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum disebutkan peninjauan kenaikan tarif dilakukan setiap tahun dan paling lambat 2 tahun sampai 4 tahun. Berdasarkan peraturan ini sudah sewajarnya kebijakan kenaikan tariff air minum PDAM Tirta Arga harus ditinjau setelah 2 tahun yakni tahun 2007.
i. Partisipasi Swasta dan Masyarakat Umum
Partisipasi masyarakat sebenarnya masaih cukup tinggi, namun keterbatasan dan keseriusan menjawab dan menyelesaikan masalah yang menyangkut pelayanan konsumen dalam tubuh PDAM belum maksimal. Dilihat dari tingkat ketergantungan konsumtif, peran serta dan tingkat kepedulian swasta dan masyarakat terhadap keberadaan dan operasional PDAM selama ini respon
FINAL REPORT IX-5
masyarakat menjadi semakin berkurang. Apalagi tagihan yang dikeluarkan justru setelah menumpuk sedemikian banyak hingga tidak akan pernah terbayar lagi oleh pelanggan.
j. Program dan Kebijakan yang diterapkan
Program dan kebijakan yang telah dilaksanakan lebih mengarah pada pembinaan kedalam yaitu upaya meningkatkan kemampuan personil diantaranya dalam aspek financial, administrasi, teknis operasional dengan segala keterbatasan yang ada. Sedangkan kearah luar melakukan pendekatan dan usulan program kepada Pemerintah Pusat melalui dana APBN untuk meningkatan kapasitas pelayanan PDAM.