• Tidak ada hasil yang ditemukan

Air irigasi

Dalam dokumen 23 cm. 15,5 cm. 15,5 cm 1,2 cm (Halaman 68-72)

II. Filosofi Air dan Pencemaran

1. Air irigasi

Air dalam pengairan sangat penting sebab air merupakan sumber kehidupan makhluk hidup. Air sumber pengairan juga bisa memanfa-atkan air tanah. Keberadaan air di dalam tanah tergantung pada curah hujan dan lapisan perembesan pada tanah.

Perlu mengetahui: (a) lapisan ditembus air (permeable layer). Umum-nya lapisan pasir dan kerikil dalam tanah, biasaUmum-nya jenuh dengan air tanah. Lapisan ini disebut aquifer/lapisan pengandung air tanah; dan (b) dan lapisan tidak tembus air (impermeable layer). Umumnya lapisan liat/lempung, aquiclude (kedap air). Ada pula lapisan kebal air (aquifuge) umumnya lapisan batuan/padas. Air yang terdapat pada retakan batuan disebut fissure water (air celah).

Manfaat air tanah yang kurang menguntungkan karakternya: (1) hanya terdapat pada celah sekunder/zona retakan; (2) khusus pemben-tukan akuifer tidak berlangsung dan distribusikanya tidak teratur, pengisian utama dari zona retakan; (3) jenis akuifernya zona retakan dalam batuan dasar/lapisan sebelum tertier/batuan fragmen gunung api; (4) daerah tempat terjadinya fissure water (air celah), yaitu daerah kaki gunung berapi dan pegunungan; dan (5) cara pengambilan pem-boran horizontal dan terowongan yang perlu banyak uang dan kehati-hatian.

Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian, meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.

Tujuan irigasi, yakni: (1) secara langsung: a) menambah air pada areal pertanian, untuk mencukupi kebutuhan air terutama pada saat

ti-55

dak turun hujan; dan b) memupuk areal pertanian, karena air yang di-alirkan dari sumber air sampai ke areal pertanian banyak mengandung unsur-unsur hara yang banyak dibutuhkan untuk kehidupan tanaman; dan (2) secara tidak langsung. Pemberian air dapat menunjang usaha pertanian melalui berbagai cara, antara lain: a) sebagai transportasi; b) mengatur suhu tanah; c) pencucian tanah; d) pemberantasan hama; e) meningkatkan kualitas air; f) memperbaiki permukaan air tanah; g) menetralisir air yang kotor; dan h) kolmatasi.

Selain itu, irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pa-ngan nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi yang dilakukan de-ngan pengembade-ngan dan pengelolaan sistem irigasi serta ditentukan oleh keandalan air irigasi, keandalan prasarana irigasi, dan peningkatan pendapatan masyarakat petani dari usaha tani.

Air merupakan salah satu input pertanian yang sangat penting. Sumber air permukaan sampai saat ini menjadi andalan untuk penye-diaan air irigasi. Namun tidak semua daerah yang memiliki lahan tanian dapat dilayani dengan irigasi teknis yang bersumber dari air per-mukaan tersebut. Beberapa wilayah di Indonesia masih mengandalkan air hujan untuk usaha pertanian, seperti pada sawah tadah hujan. Pro-duktivitas sektor tersebut bergantung pada keberadaan air hujan seba-gai input pertanian. Sawah tadah hujan mampu memiliki potensi untuk menggantikan sawah beririgasi teknis yang berubah fungsi tata guna lahannya seiring dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Potensi tersebut harus dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan na-sional.

Perkembangan wilayah pada suatu daerah akan menyebabkan ke-butuhan air terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan pendu-duk. Pemenuhan kebutuhan pangan dan aktivitas penduduk selalu erat kaitannya dengan kebutuhan akan air. Tuntutan tersebut tidak dapat dihindari, tetapi haruslah diprediksi dan direncanakan pemanfaatan se-baik mungkin. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya keti-dakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. Untuk menca-pai keseimbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan air di masa

56

mendatang, diperlukan upaya pengkajian komponen-komponen kebu-tuhan air, serta efisiensi penggunaan air.

Kebutuhan air domestik dan non-domestik sebesar 50,93 l/dt untuk saat ini, 68,34 l/dt untuk 2 tahun mendatang, 87,09 l/dt untuk 5 tahun mendatang, 111,96 l/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 160,06 l/dt untuk 20 tahun mendatang. Kebutuhan air irigasi total sebesar 37.305,7 l/dt mengairi sawah seluas 36.180 ha. Kebutuhan air industri sebesar 4,68 l/dt untuk saat ini, 4,74 l/dt untuk 2 tahun mendatang, 4,84 l/dt untuk 5 tahun mendatang, 5,04 l/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 5,54 l/dt untuk 20 tahun mendatang. Kebutuhan air per-ikanan sebesar 281,72 l/dt untuk saat ini, 296,13 l/dt untuk 2 tahun mendatang, 319,92 l/dt untuk 5 tahun mendatang, 366,52 l/dt untuk 10 tahun mendatang dan sebesar 495,48 l/dt untuk 20 tahun mendatang.

Dalam mencapai ketahanan dan kemandirian pangan melalui pe-ningkatan produksi pangan khususnya beras, pemanfaatan air tanah dapat digunakan sebagai air irigasi di daerah-daerah yang kekurangan air, di mana air permukaan tidak memadai atau tidak ada sama sekali serta daerah tersebut memiliki potensi pertanian. Pemanfaatan air tanah dalam haruslah sesuai daya dukung akuifer setempat.

Pola tata tanam memberikan gambaran tentang jenis dan luas ta-naman yang akan diusahakan dalam satu tahun. Pola tata tanam yang direncanakan untuk suatu daerah irigasi merupakan jadwal tanam yang disesuaikan dengan ketersediaan airnya. Berbagai jenis tanaman mem-punyai kebutuhan air yang bervariasi, bergantung pada jenis dan tahap pertumbuhan tanaman. Berbagai jenis tanaman untuk pertumbuhannya memerlukan kebutuhan air yang berbeda. Bila kebutuhan air tersebut dibandingkan dengan kebutuhan air untuk tanaman palawija, maka ni-lai/angka-angka tersebut dinamakan koefisien tanaman atau LPR.

Terdapat ± 50% dari air yang digunakan untuk padi di Pulau Jawa berasal dari air hujan. Pulau Jawa memiliki ± 2,781 juta hektar jaring-an irigasi teknik, semi-teknik, djaring-an non-teknik. Penggunajaring-an air diperki-rakan naik sebanyak 15 miliar m3 antara tahun 1970 dan 1985 (ke-naikan 2,1% per tahun dan 19% dari aliran mantap). Sebagian besar kenaikan terjadi pada tahun 1976, ketika padi varietas unggul diintro-duksikan secara massal.

57

Petani di beberapa daerah di Jawa, seperti Ngawi dan Ponorogo, Kediri dan Nganjuk (Jatim), Wates (Yogyakarta), Sragen, Prembun, dan Brebes (Jateng) telah lama memanfaatkan air tanah untuk keper-luan pertanian. Pengairan ini biasanya dilakukan dengan pembuatan sumur gali dan sumur bor. Di daerah Nganjuk dan Ngawi, petani telah lama memanfaatkan air tanah tertekan dengan cara membuat sumur pasak. Hal ini memungkinkan karena di daerah ini terdapat akumulasi air tanah tertekan dangkal (< 30 m), yang airnya dapat mengalir keluar sendiri tanpa bantuan pompa. Caranya dilakukan dengan pemboran se-derhana yang dilakukan oleh penduduk setempat dengan memasang pi-pa bambu atau pipi-pa besi berdiameter 1,5–2 inci. Di daerah Ngawi (Ma-diun bagian utara) tercatat > 700 buah sumur pasak yang dibangun oleh penduduk setempat untuk tujuan tersebut. Cara demikian sesung-guhnya kurang efisien, karena selama musim hujan air yang mengalir keluar terbuang sia-sia.

Pemakaian air tanah secara intensif dengan menggunakan tekno-logi baru sedang dilaksanakan dewasa ini di berbagai daerah yang me-miliki cadangan air tanah yang cukup potensial oleh pihak P2AT, De-partemen Pekerjaan Umum. Kegiatan penyelidikan untuk pengem-bangannya telah dilakukan di Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, dan Ti-mor Barat. Sebagai proyek pandu bagi pemanfaatan sumber air tanah tersebut untuk air suplai irigasi telah dilakukan di cekungan artesis Madiun, Kediri, Sragen-Klaten, dataran pantai utara Jateng, dataran pantai Probolinggo, dan dataran Lumajang-Jember (Jatim). Daerah-daerah tersebut umumnya ditutupi oleh endapan aluvium dan Daerah-daerah kaki gunung api kuarter. Selain itu, telah diupayakan untuk meman-faatkan sumber air tanah yang terdapat di daerah Gunung Kidul (Yog-yakarta), Tuban, dan Madura (Jatim).

Indonesia telah memulai untuk melaksanakan reformasi terhadap kebijakan pengelolaan irigasi sejak diterapkannya Kebijakan Operasi dan Pemeliharaan Irigasi (IOMP) pada tahun 1987. Upaya reformasi tersebut merupakan respons terhadap kurangnya pembiayaan, kapasi-tas kelembagaan dan institusi, permasalahan kinerja yang dihadapi pe-merintah dalam rangka menjaga irigasi yang keberlanjutan. Pada tahun 1999, pemerintah menerapkan kebijakan baru yang disebut Reformasi

58

Kebijakan Pengelolaan Irigasi karena pelaksanaan IOMP tahun 1987 tidak

sesuai dengan yang diharapkan dan krisis moneter yang terjadi pada ta-hun 1997 telah mendorong pemerintah untuk meninjau ulang kebijak-an pelaykebijak-ankebijak-an publik termasuk untuk pengelolakebijak-an irigasi. Kedua kebi-jakan tersebut telah membuka ruangan yang lebih besar dan menuntut peran utama petani untuk pengelolaan irigasi melalui P3A. Penerapan kedua kebijakan tersebut memberlakukan kembali komitmen pemerin-tah untuk perubahan pengelolaan irigasi dari dominasi institusi perintah menjadi bentuk baru dalam pengaturan kelembagaan yang me-ngedepankan kerja sama antara pemerintah dengan petani. Sebagai bentuk baru pengaturan kelembagaan, diperlukan penguatan P3A dan kerja sama yang berkesinambungan menjadi agenda penting dalam perubahan pengelolaan irigasi.

Pengelolaan sistem irigasi partisipatif melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan mengedepankan kepentigan dan peran serta petani. Pelaksaannnya difasilitasi oleh pemerintah tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya dan memberikan bantuan sesuasi dengan yang dibutuhkan oleh P3A de-ngan tetap memperhatikan prinsip kemandirian.

Pemberdayaan dan pendayagunaan kelembagaan pengelolaan iri-gasi perlu dilakukan untuk menjamin pengelolaan iriiri-gasi. Kelembaga-an pengelolaKelembaga-an irigasi tersebut meliputi instKelembaga-ansi pemerintah, P3A, dKelembaga-an komisi irigasi. Perkumpulan petani pemakai air dibentuk secara demo-kratis pada setiap daerah layanan/petak tersier atau desa dan dapat membentuk GP3A pada daerah layanan/blok sekunder, gabungan be-berapa blok sekunder, atau satu daerah irigasi. Selain itu, perlu diben-tuk juga IP3A pada daerah layanan/blok primer, gabungan beberapa blok primer, atau satu daerah irigasi. Sementara itu, komisi irigasi dibentuk untuk mewujudkan keterpaduan pengelolaan sistem irigasi pada setiap provinsi dan kabupaten/kota.

Dalam dokumen 23 cm. 15,5 cm. 15,5 cm 1,2 cm (Halaman 68-72)

Dokumen terkait