• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Lingkup Kegiatan

8.4 PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

8.4.1 Air Limbah

A. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan

1. Arahan Kebijakan

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman Kab Kabupaten Kepulauan Selayaryaitu:

Kebijakan 1: Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun off site di perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat.

Strategi:

 Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air

limbah sistem setempat (on-site) di perkotaan dan perdesaan melalui sistem komunal.

 Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air

limbah sistem terpusat (off-site) di kawasan perkotaan Metropolitan dan Besar.

Kebijakan 2: Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi :

 Merubah perilaku dan meningkatkan pemahaman masyarakat

terhadap pentingnya pengelolaan air limbah permukiman.

 Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta dalam

penyelenggaraan pengembangan dan pengelolaan air limbah permukiman.

Kebijakan 3: Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi:

 Menyusun perangkat peraturan perundangan yang mendukung

penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

 Menyebarluaskan informasi peraturan perundangan terkait

penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

 Menerapkan peraturan perundangan.

Kebijakan 4: Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas personil pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi:

 Memfasilitasi pembentukan dan perkuatan kelembagaan pengelola

 Mendorong pembentukan dan perkuatan institusi pengelola air limbah permukiman di daerah.

 Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar lembaga.

 Mendorong peningkatan kemauan politik (political will) para

pemangku kepentingan untuk memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air limbah permukiman.

Kebijakan 5: Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman. Strategi :

 Mendorong berbagai alternatif sumber pembiayaan untuk

penyelenggaraan air limbah permukiman.

 Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan daerah dalam

mengembangkan sistem air limbah perkotaan dengan proporsi pembagian yang disepakati bersama.

2. Lingkup Kegiatan

Sistem jaringan limbah di Kota Selayar dapat dibedakan atas limbah cair dan limbah padat.Penanganan limbah cair erat kaitannya dengan usaha kegiatan masyarakat terutama pada kawasan perkotaan dan kegiatan- kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan dampak.Pada dasarnya potensi timbulnya limbah di Kota Selayar lebih dominan pada kegiatan- kegiatan pada kawasan perkotaan seperti rumah sakit, pasar, industri rumah tangga, dan aktivitas permukiman lainnya.

Sedangkan pada kawasan perkotaan di Kabupaten Kepulauan Selayar, penanganan limbah diarahkan pada peningkatan sistem sanitasi dan penanganan limbah rumah tangga yang sering menjadi polemik untuk dilakukan penanganan lebih dini, terutama kaitannya dengan penanganan limbah tinja. Untuk mencegah dan menghindari terjadinya dampak-dampak yang merugikan tersebut diatas, maka upaya untuk mengantisipasi sistem pembuangan air limbah dan lumpur tinja secara baik dan higienis melalui proses introduksi teknologi sanitasi yang aplikatif, baik secara sistem

setempat (on-site sanitation) maupun secara sistem terpusat (off-site sanitation).

Lingkup Kegiatan Pengelolaan Air Limbah Kota Selayar berdasarkan Kebijakan dan Strategi yang ada yaitu :

a. Menyelenggarakan Sanitasi berbasis masyarakat dengan prioritas

dikawasan kumuh perkotaan yang belum terlayani dengan system pengolaan air limbah terpusat.

b. Merehabilitasi atau merevitalisasi sistem yang ada ( IPLT )

c. Mengoptimalkan IPAL terpasang

d. Menyelenggarakan pelatihan teknis pengelolaan bidang

Sanitasi Lingkungan

e. Melaksanakan sosialisasi dan kampanye mengenai pentingnya

pengelolaan air limbah permukiman.

f. Menyiapkan undang undang dan peraturan pendukungnya dalam

pengelolaan air limbah permukiman

g. Melaksanakan bantuan teknis penyusunan peraturan daerah dalam

penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

h. Memberikan pendampingan pembentukan kelompok swadaya

masyarakat dalam pengelolaan air limbah permukiman komunal.

i. Mendorong terbentuknya Unit yang mengelola prasarana dan sarana

air limbah permukiman didaerah

j. Memberikan dana stimulan dalam penyelenggaraan pengelolaan

air limbah permukiman untuk mendorong mobilisasi dana swadaya masyarakat

k. mendorong peningkatan dan fasilitasi kerja sama pemerintah dan

swasta dalam penyelenggaraan PS air limbah.

B. Isu strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan Air Limbah

Permukiman

Isu Isu Strategis dalam pengelolaan air limbah Kabupaten Kepulauan Selayar antara lain :

a. Akses Masyarakat terhadap pelayanan Pengelolaan Air

Limbah

b. Permukiman.

c. Akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar diperkotaan

mencapai 80,23 % dan diperdesaan mencapai 52,01 %

d. Peningkatan kapasitas pelayanan pembuangan air limbah

e. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang kesehatan lingkungan

f. Pengembangan sistem pembuangan limbah komunal pada kawasan

padat penduduk.

g. Belum seluruh hunian meniliki septick tank. b. Peran Masyarakat

h. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air

limbah permukiman.

i. Terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan

air limbah permukiman berbasis masyarakat. Peraturan Perundang-Undangan

a. Belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang

diperlukan dalam sistem pengelolaan air limbah Permukiman.

b. Belum lengkapnya Norma Standart Pedoman dan Manual (NSPM)

c. dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pelayanan Air Limbah.

d. Kelembagaan

e. Lemahnya fungsi lembaga di daerah yang melakukan pengelolaan air limbah

permukiman.

f. Kapasitas sumber daya manusia yang melaksanakan pengelolaan air limbah

permukiman masih rendah.

g. Perlu ditingkatkannya koordinasi antar instansi terkait dalam

penetapan kebijakan dibidang air limbah permukiman. Pendanaan

a. Terbatasnya sumber pendanaan pemerintah, sehinggga tidak dapat memenuhi kebutuhan tingginya biaya investasi awal pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat.

b. Kurang tertariknya sektor swasta untuk di bidang air limbah.

c. Rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan air limbah

permukiman baik ditingkat Pusat maupun daerah.

2. Kondisi Eksisting

Sistem jaringan limbah di Kota Selayar dapat dibedakan atas limbah cair dan limbah padat.Penanganan limbah cair erat kaitannya dengan usaha kegiatan masyarakat terutama pada kawasan perkotaan dan kegiatan- kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan dampak.Pada dasarnya potensi timbulnya limbah di Kota Selayar lebih dominan pada kegiatan- kegiatan pada kawasan perkotaan seperti rumah sakit, pasar, industri rumah tangga, dan aktivitas permukiman lainnya.Sedangkan pada kawasan perkotaan di Kabupaten Kepulauan Selayar, penanganan limbah diarahkan pada peningkatan sistem sanitasi dan penanganan limbah rumah tangga yang sering menjadi polemik untuk dilakukan penanganan lebih dini, terutama kaitannya dengan penanganan limbah tinja.

a. Sistem pengolahan Air Limbah di Kabupaten Kepulauan Selayar dengan

sistem on site (penanganan setempat) yang terbagi atas :

i. Pengelolaan oleh masyarakat/rumah tangga sendiri, dengan

membuat jamban keluarga dan septicktank sendiri.

ii. Pengelolaan oleh pemerintah, tetapi terbatas pada prasarana untuk

tempat umum dengan membuat MCK umum dan septikctank komunal.

b. Kabupaten Kepulauan Selayar saat ini juga sudah mempunyai sistem

pembuangan air limbah terpusat.

Pembuangan limbah rumah tangga oleh masyarakat dilakukan dengan dibuang langsung ke badan air tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu, dibuang ke badan air dengan melakukan pengelohan sederhana

berupa tangki septic, dan menggunakan system pengolahan yang memadai. Sistem pengolahan yang memadai ini diaplikasikan dalam bentuk Program Pengelolaan Air Limbah yang ada di Kota Selayar yakni Sanimas dan SLBM. Selain dua Program tersebut, Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki Program SPBM USRI untuk penanganan sanitasi masyarakat tetapi pada saat ini masih dalam tahap perencanaan pembangunan fasilitas pengolahan oleh masyarakat.

C. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Air Limbah

Program Pembangunan Prasarana Air Limbah Sistem Setempat ( on-site), Sistem Terpusat ( off-site ) dan Komunal

1. Kriteria Lokasi

 Kawasan Rawan Sanitasi ( Padat, Kumuh, dan Miskin ) di

\Kabupaten Kepulauan Selayar

 Kawasan Rumah sederhana sehat ( RSH ) yang berminat

2. Lingkup Kegiatan

 Pembangunan IPAL Komunal

 Pembangunan IPLT

 Pembangunan Prasarana Air Limbah ( Septictank Komunal, MCK

++, MCK Individual )

 Membangun tempat pengolahan limbah komunal di

kawasan pengembangan permukiman baru.

 Kajian tentang penggunaan sistem pembuangan limbah terpusat

dan komunal.

 Penyusunan Master plan pengelolaan limbah kota.

3. Kriteria Kesiapan

 Sudah memiliki RPI2JM dan SSK/Memorandum Program atau

sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

 tidak terdapat permasalahan dalam penyediaan lahan (lahan

 sudah terdapat dokumen perencanaan yang lengkap, termasuk dokumen lelang;

 sudah ada MoU antara Pengembang dan pemerintah kab./kota (IPAL

RSH);

 sudah terdapat institusi yang nantinya menerima dan mengelola

prasarana yang dibangun;

 pemerintah kota bersedia menyediakan alokasi dana untuk biaya

operasi dan pemeliharaan.

Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan Air Limbah Sistem Terpusat (off-site) dipaparkan dalam gambar 8.5.

Sumber: Direktorat Pengembangan PLP

Gambar 8.2 Skema Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat/Off Site (skala kota) 8.4.2 Persampahan

A. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan

1. Arahan Kebijakan

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan Kab Kabupaten Kepulauan Selayaryaitu:

Kebijakan 1: Pengurangan timbulan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya.

Strategi:

 Mengembangkan dan menerapkan sistem insentif dan disinsentif dalam pelaksanaan 3R.

Kebijakan 2: Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan.

Strategi:

 Meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan

persampahan sejak dini melalui pendidikan di sekolah.

 Menyebarluaskan pemahaman tentang pengelolaan

persampahan kepada masyarakat umum.

 Membina masyarakat khususnya kaum perempuan dalam

pengelolaan persampahan.

 Mendorong peningkatan pengelolaan berbasis masyarakat.

Kebijakan 3: Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan.

Strategi:

 Optimalisasi prasarana dan sarana persampahan

Kota/Kabupaten.

 Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana dan

berkeadilan.

 Meningkatkan kapasitas sarana persampahan sesuai sasaran

pelayanan.

 Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari lingkungan.

 Mengembangkan TPA ke arah Sanitary Landfill (SLF)/ Controlled

Landfill (CLF).

 Meningkatkan TPA regional.

Kebijakan 4: Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan. Strategi:

 Meningkatkan status dan kapasitas institusi pengelola.

 Memisahkan fungsi/unit regulator dan operator.

 Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar stakeholder.

 Meningkatkan kualitas SDM bidang persampahan.

 Mendorong pengelolaan kolektif atas prasarana dan sarana regional.

 Meningkatkan kelengkapan produk hukum/NPSM

o pengelolaan persampahan.

 Mendorong implementasi/penerapan hukum bidang persampahan.

Kebijakan 5: Pengembangan alternatif sumber pembiayaan. Strategi:

 Menyamakan persepsi para pengambil keputusan dalam pengelolaan

persampahan dan kebutuhan anggaran.

 Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan.

2. Lingkup Kegiatan

Sejalan dengan adanya kebijakan ini, maka di daerah dibentuk dinas-dinas daerah yang tugas dan tanggung jawabnya dapat melingkupi penyelenggaraan pengelolaan sampah atau kebersihan sebagaimana urusan yang diserahkan ke pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

Penetapan bentuk lembaga pengelola kebersihan kota merupakan bagian dari kebijakan dari Kepala Daerah dan dapat memberikan gambaran tingkat perhatian terhadap permasahalan kebersihan kota. Penempatan Sumber Daya manusia di lembaga pengelola kebersihan yang berperan sebagai Dinas Fungsional teknis Penyelenggara pengelola sampah kota, sangat jarang ditemukan yang memiliki kompetensi dibidangnya.

Beban kerja pengelolaan sampah-sampah kota semakin hari semakin bertambah banyak dan kompleks. Kompleksitas masalah tidak hanya dalam teknis, tetapi juga dalam hal sosial kemasyarakatan, ekonomi, lingkungan dan bahkan politik dan keamanan.

Kebijakan dan Strategi yang ada yaitu :

1. Instalasi Pengolahan Persampahan; 2. Pengembangan TPA Regional;

3. Bantuan Teknis Peningkatan Sistem Managemen Persampahan; 4. Fasilitasi Pengembangan Sistem Persampahan Skala Kabupaten; 5. Fasilitasi Pengolahan Sampah 3R;

6. Penyediaan Sarana Pengangkutan dan pemindahan Sampah; 7. Kampanye Penyuluhan Pemisahan Sampah dari Sumber; 8. Mendorong Penerapan Pola 3R.

B. Isu strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan

1. Isu Strategis Pengembangan Persampahan

Berikut Isu-Isu Strategis pengelolaan persampahan di Kabupaten Kepulauan Selayar antara lain :

a. Aspek Kelembagaan :

i. Organisasi belum sesuai dengan kapasitas kewenangan

pelayanan yang dibutuhkan;

ii. Dukungan peraturan belum memadai;

iii. Terbatasnya SDM yang dimiliki untuk pengoperasian

persampahan;

iv. Fungsi pengolahan masih tercampur antara pengelolaan

yang berperan sebagai operator dan regulator;

v. Manajemen pelayanan persampahan masih perlu ditingkatkan;

vi. Belum optimalnya pelaksanaan perda yang ada dan tindakan

sanksi yang tegas bagi pelanggaran;

b. Aspek Operasional/ Teknik

i. Armada alat berat di lokasi TPA belum ada ( excavator dan

wheel loader) sementara bulldozer yang ada sudah sering rusak;

iii. Sarana pengolahan sampah belum ada, untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang ke TPA;

iv. Jalan masuk kelokasi TPA masih sertu;

v. Sarana dan prasarana operasional yang dibutuhkan meliputi

garasi bulldozer/ pos jaga, jalan masuk, pagar, kolam lindi, workshop, dan talud;

c. Aspek Pembiayaan:

i. belum optimalnya potensi pendanaan masyarakat;

ii. terbatasnya dana yang di alokasikan

untukpengeloalaan persampahan;

iii. pendapatan operasi persampahan tidak dapat meliputi biaya

operasi dan pemeliharaan;

d. Aspek Peran Serta Masyarakat:

i. rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingya kebersihan;

ii. bentuk partisipasi masyarakat belum optimal, terbatasnya

pada retribusi yang rendah;

iii. pembangunan di bidang persampahan yang berbasis

masyarakat

iv. masih sangat terbatas;

v. badan usaha swasta tidak tertarik untuk investasi di

bidang persampahan;

2. Kondisi Eksisting

a. Aspek Teknis

Pengolahan persampahan di Kabupaten Kepulauan Selayar umumnya telah melalui pengolahan melalui penyediaan tempat pembuangan sementara, dan pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir sampah (TPA).

Seperti halnya kota-kota lainnya di Indonesia, penanganan persampahan di Kabupaten Kepulauan Selayar, menjadi salah satu permasalahan perkotaan yang sulit teratasi. Hal ini dipengaruhi

oleh beberapa faktor, seperti (i) tingginya tingkat urbanisasi, sehingga produksi sampah terus bertambah, (ii) perilaku masyarakat dalam menangani, (iii) penerapan regulasi yang kurang tegas dalam penanganannya, (iv) faktor pembiayaan yang relatif besar, serta beberapa kendala teknis lainnya.

b. Pendanaan

Perhatian terhadap pengelolaan persampahan masih belum memadai baik dari pihak kepala daerah maupu DPRD. Secara umum alokasi pembiayaan untuk sektor persampahan masih dibawah 5% dari total anggaran APBD, rendahnya biaya tersebut pada umumnya karena pengelolaan persampahan masih belum menjadi prioritas dan menggunakan pola penanganan sampah yang ala kadarnya tanpa memperhitungkan faktor keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Demikian juga dengan rendahnya dana penarikan retribusi (secara nasional hanya mencapai 0,41%), sehingga biaya pengelolaan sampah masih menjadi beban APBD. Rendahnya biaya pengelolaan persampahan pada umumnya karena masalah persampahan belum mendapatkan perhatian yang cukup selalu akan berdampak buruk pada kualitas pengamanan sampah trmasuk pencemaran lingkungan di TPA.

c. Kelembagaan

Lembaga atau instansi pengelola persampahan merupakan motor penggerak seluruh kegiatan pengelolaan sampah dari sumber sampai TPA. Kondisi kebersihan suatu kota atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan yang keberhasilannya juga ditentukan oleh faktor-faktor lain. Kapasitas dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam menjalankan roda pengelolaan

yang biasanya tidak sederhana bahkan cendrung cukup rumit sejalan dengan makin besanya kategori kota.

d. Peraturan Perundangan

Pemerintah daerah secepatnya member Instruksi guna mengatasi secara intensif permasalahan persampahan dengan kapasitas dan tanggung jawab yang lebih terfokus pada pengeloaan persampahan.Hal ini juga harus diimbangi dengan legitimasi Peraturan daerahyang terkait dengan pengelolaan persampahan,

misalnya evaluasi /peninjaunckembali biaya retribusi

persampahan yang applicable, sanksi hukum bagi yang melanggar peraturan kebersihan, dll.

e. Peran Serta Masyarakat

Sudah sejak lama masyarakat (individu maupun kelompok) sebenarnya telah mampu melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik untuk skala individual maupun skala lingkungan terutama dilingkungan permukimannya.

Upaya untuk menarik swasta kedalam komponen kegiatan pengelolaan sampah belum dilakukan secara memadai termasuk memberikan insentif baik berupa pengurangan pajak bea masuk bahan atau instalasi yang berkaitan dengan dengan proses pengolahan sampah.

C. Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Persampahan

1. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Kepulauan Selayar adalah:

a) Aspek Kelembagaan :

 Organisasi belum sesuai dengan kapasitas kewenangan

pelayanan yang dibutuhkan;

 Terbatasnya SDM yang dimiliki untuk pengoperasian persampahan;

 Fungsi pengolahan masih tercampur antara pengelolaan

yang berperan sebagai operator dan regulator;

 Manajemen pelayanan persampahan masih perlu ditingkatkan;

 Belum optimalnya pelaksanaan perda yang ada dan

tindakan sanksi yang tegas bagi pelanggaran;

b) Aspek Operasional/ Teknik

 Armada alat berat di lokasi TPA belum ada ( excavator dan

wheel loader) sementara bulldozer yang ada sudah sering rusak;

 Armada angkutan sampah masih kurang dibandingkan

jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari;

 Jumlah personil Subdin Kebersihan masih sangat kurang;

 Sistem operasional TPA masih open dumping;

 Sarana pengolahan sampah belum ada, untuk mengurangi

volume sampah yang akan dibuang ke TPA;

 Jalan masuk kelokasi TPA masih sertu;

 Sarana dan prasarana operasional yang dibutuhkan

meliputi garasi bulldozer/ pos jaga, jalan masuk, pagar, kolam lindi, workshop, dan talud;

c) Aspek Pembiayaan:

 belum optimalnya potensi pendanaan masyarakat;

 terbatasnya dana yang di alokasikan untukpengeloalaan

persampahan;

 pendapatan operasi persampahan tidak dapat meliputi

Skema Kebijakan Pendanaan Sistem Pengelolaan Persampahan Skema Kebijakan Pendanaan Sistem Pengelolaan Persampahan dipaparkan pada gambar 8.6 berikut.

Sumber: Direktorat Pengembangan PLP

Gambar 8.3 Skema Pendanaan Sistem Pengelolaan Sampah

d) Aspek Peran Serta Masyarakat:

 rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingya

kebersihan;

 bentuk partisipasi masyarakat belum optimal, terbatasnya

pada retribusi yang rendah;

 pembangunan di bidang persampahan yang berbasis

masyarakat masih sangat terbatas;

 badan usaha swasta tidak tertarik untuk investasi di

bidang persampahan;

2. Tantangan

Tantangan dalam penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Persampahan Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu :

a. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya

jumlah timbulan sampah.

D. Program dan Kriteria Kesiapan Pengelolaan Persampahan

1. Pembangunan Prasarana TPA

a) Lingkup Kegiatan TPA ( Tempat Pembuangan Akhir )

a) Sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan IPL;

b) Produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;

c) Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).

b) Kriteria Kesiapan

i. Memiliki RPI2JM dan SSK/Memorandum Program atau

sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

ii. Minat/permohonan dari Pemerintah Kabupaten/Kota untuk

prasarana yang direncanakan;

iii. Dokumen Master Plan Persampahan/Studi/DED

iv. Kesiapan lahan

v. Adanya kesiapan institusi pengelola.

2. Pembangunan Prasarana Persampahan 3R

a. Lingkup Kegiatan 3R

i. Penyediaan prasarana dan sarana persampahan.

ii. Penyusunan master plan pengelolaan persampahan

iii. Penerapan 3R dalam pengelolaan persampahan

iv. Program Peningkatan partisipasi masyarakat

b. Kriteria Kesiapan

i. Memiliki RPI2JM dan SSK/Memorandum Program atau

sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

ii. Minat/permohonan dari Pemerintah Kabupaten/Kota untuk

prasarana yang direncanakan;

iii. Dokumen Master Plan Persampahan/Studi/DED

iv. Kesiapan lahan

v. Adanya kesiapan institusi pengelola.

A. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan

1. Arahan Kebijakan

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Drainase Kabupaten Kepulauan Selayaryaitu :

Kebijakan 1: Pemantapan keterpaduan penanganan pengendalian banjir dan sektor/sub sektor terkait lainnya berdasarkan keseimbangan tata air

Strategi :

 Penyiapan Rencana Induk Sistem Drainase yang terpadu

antara sistem Drainase utama, lokal dengan pengaturan dan pengelolaan sungai.

 Mengembangkan sitem drainase yang berwawasan

lingkungan

Kebijakan 2: Mengoptimalkan sistem yang ada, rehabilitasi / pemeliharaan, pengembangan dan pembangunan baru.

Strategi :

 Pengembangan kapasitas operasi dan pemeliharan sarana dan

prasarana Terbangun

 Menyiapkan prioritas optimalisasi system

 Mengembangkan kampanye peningkatan peran masyarakat

Kebijakan 3: Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelola prasarana dan sarana drainase, swasta/dunia usaha dan peran serta masyarakat

Strategi :

 Peningkatan koordinasi antar instansi Terkait

 Pengembangan kapasitas SDM

Kebijakan 4: Mendorong dan memfasilitasi Pemerintah

Kabupaten/Kota dalam pengembangan sistem drainase yang efektif, efisien dan berkelanjutan

 Menyiapkan peraturan perundang Undangan.

 Perkuatan institusi

 Mengembangkan sumber pendanaan

 Mendorong swasta/masyarakat ikut berpartisipasi dalam

pengelolaan drainase

2. Lingkup Kegiatan

Lingkup Kegiatan Pengelolaan Drainase Kota Selayar berdasarkan Kebijakan dan Strategi yang ada yaitu :

a. Pembangunan saluran drainase primer (makro drain),

pembangunan kolam retensi serta bangunan pelengkap utama lainnya (pompa, saringan sampah, dsb).

b. Pembangunan saluran drainase sekunder dan tersier (mikro

drain) oleh Pemerintah Kab/Kota

c. Terlaksananya pengembangan sistem drainase yang

terdesentralisir, efisien, efektif dan terpadu.

d. Terciptanya pola pembangunan bidang drainase yang

berkelanjutan melalui kewajiban melakukan konservasi air dan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

e. Terciptanya peningkatan koordinasi antara kabupaten/kota

dalam penanganan sistem drainase.

B. Isu strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan

1. Isu Strategis Pengembangan Drainase

Berikut Isu-Isu Strategis pengelolaan Drainase di Kabupaten Kepulauan Selayar antara lain :

a. Kecendrungan perubahan iklim; adanya fenomena perubahan

iklim akibat pemanasan global yang ditandai dengan kekeringan panjang, curah hujan tinggi berpotensi mengakibatkan bencana. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan penanganan drainase yang relatif lebih sulit dan memerlukan biaya yang lebih mahal.

b. Perubahan Fungsi Lahan Basah; akibat kebutuhan lahan yang Sangat besar untuk pengembangan permukiman, industri sering kurang terkendali, tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang maupun KONSEP Pembangunan Berkelanjutan. Akibat banyaknya kawasan-kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air ( Retarding pond) lahan basah (wet land) seperti rawa-rawa, situ-situ,

embun dan lain-lain ditimbun sehingga merubah

keseimbangan pola tata air.

c. Belum adanya ketegasan Fungsi Sistem Drainase

d. Kelengkapan Perangkat Peraturan

e. Penanganan Drainase Belem Terpadu

f. Pengendalian Debit Puncak

2. Kondisi Eksisting Pengembangan Drainase

Pengelolaan sistem jaringan drainase perkotaan hingga saat ini belum seoptimal seperti yang diharapkan. Sehingga penanganan sistem drainase perkotaan kaitannya dengan penanganan banjir perkotaan akan memerlukan kajian khusus untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya banjir perkotaan dan kajian karakteristik lingkungan yang diduga berpengaruh terhadap masalah banjir perkotaan. Sebab pada dasarnya sistem drainase perkotaan selain berfungsi untuk mengalirkan air permukaan, menerima air hujan, dan mengalirkan air buangan rumah tangga, dan industri kecil.

Kebutuhan pengembangan drainase berdasarkan skenario penanganannya lebih ditekankan pada penanganan terhadap kondisi fisik sistem jaringan drainase yang ada, permasalahan terhadap banjir perkotaan dan masalah daerah-daerah genangan yang diakibatkan oleh sering meluapnya aliran air permukaan.

Fungsi jaringan drainase digunakan sebagai sarana untuk mengalirkan air hujan (run off) maupun air buangan rumah tangga. Jaringan drainase yang tersedia di kawasan perkotaan

Dokumen terkait