Alya Khairunnisa
CERPEN- KATEGORI SD
Bu,” kata siswa kelas 6 b.
Bu Aisyah seperti orang tua kami. Caranya yang lemah lem-but dan penuh perhatian terkadang membuat kami tidak ingin membuatnya sedih. Beliau dan Pak Mahmud selalu berkolabo-rasi di dalam mengajar kami. “Bertemu lagi dengan ibu, nah, di sini ibu akan mengajarkan IPA, ya, sekarang buka buku IPA halaman 19, ya, anak-anak,” seru Bu Aisyah.
Namun sebelumnya, entah mengapa saat pagi menuju ke kelas aku mendengar percakapan guru-guru mengenai rencana digusur paksanya sekolah kami karena akan dijadikan tempat pertambangan batu bara. Kabar ini sudah santer terdengar di -penjuru desa bahwa sekolah satu-satunya di kampung kami akan diambil dan dimanfaatkan untuk tambang. Hari ini eksekusi dilakukan oleh pihak pengadilan.
“Ahmad coba baca,” perintah Bu Aisyah kepada Ahmad. “Oh, iya bu,” jawab Ahmad. Selesai membaca tiba-tiba bel isti-rahat pun berbunyi semua anak-anak pun beristiisti-rahat. Aku dan Nabila pergi ke kantin. “Kamu mau jajan apa?” kata Nabila. ‘Aku gak punya uang nih jadi aku gak jajan aja yah” kataku ke Nabila. “Tenang aku mau traktir kamu makanan nih,” jelas Nabila. “Allhamdulilah makasih ya!” kataku.
Ibuku seorang buruh cuci harian. Sejak aku umur 3 tahun ayahku telah tiada. Ekonomi kami sangatlah sulit bahkan ka -dang uang kontrakan rumah saja kami selalu menunggak. Aku tidak punya uang dan kalaupun ada aku gunakan untuk me -nabung tetapi akhir bulan masih sering aku gunakan.
“Annisa kamu mau beli apa kok bengong,” tanya Nabila. Lamunanku buyar karena pertanyaan Nabila. “Oh iya sama sama aku mau beli popcorn jagung kamu mau beli apa?” “Aku
beli popcorn karamel aja deh,” pilihku. Setelah jajan tiba-tiba ada pengumuman “Hari ini tidak ada pelajaran ketiga, ya, jadi setelah pelajaran kedua siswa boleh pulang ya!” Setelah pengu-muman bel pun berbunyi tanda bel telah usai kring…kring…
Setelah mendengarkan pengumuman aku dan Nabila berge-gas menuju ke kelas “‘Assalamualaikum anak-anak kalian sudah tahu belum bahwa ada pembelajaran di rumah” tanya Bu Siti. Kami pun menjawab kompak “Sudah Bu!” jawab kami.
“Ada yang mau ditanyakan anak-anak tentang pembela-jaran dari rumah?” kata Bu Siti memberikan pertayaan. “Saya bu,” seruku. “Iya mau tanya apa Anisa?” “Mengapa kita tidak melawan saja bu?”
“Annsia dan anak ibu yang lain, sekolah kita kalah di pen-gadilan dikarenakan keluarga pemilik lahan sebelumnya meng-gugat di pengadilan jadi kita harus bernegoisasi dengan pihak keluarga”. Mendengarkan penjelasan bu Siti aku pun hanya berpikir berarti mingguminggu ini akan menjadi minggu ter -akhir kami di sekolah.
“Kita langsung mulai ya belajarnya!” kata Bu Siti.
“Di pelajaran matematika kali ini kita belajar bilangan bulat ya buka buku nya halaman 10 ya baca terlebih dahulu setelah itu kalau yang mau ditanyakan akan ibu ajarkan ya,” kata Bu Siti
Belajar bel pun berbunyi mereka bergegas merapikankan buku -buku setelah itu siswa kelas 6 b membaca doa pulang yang dipimpin oleh Pak Mahmud. Aku dan Nabila pulang ke rumah nya masing masing “Bye Anisa, ingat ya nanti ada PR,” kata Nabila. “Bye juga aku kan nggak mempunyai buku”
“Tenang nanti kita barengan belajarnya pakai hpku,” kata Nabila. “Oh iya aku pulang dulu ya,” jawabku. Lalu aku sampai di rumah. Aku pun berbicara kepada ibuku tentang hal tersebut. “Bu sekolah kami akan digusur dan apakah aku akan tetap seko-lah mengingat di desa kita hanya itu satu-satunya sekoseko-lah jika harus sekolah tempat lain jaraknya 20 km? Aku rencananya akan
patkan uang untuk ongkos sekolahmu. Kamu jangan naik mobil Nabila karena ibunya sangat tidak suka dengan ibu,” jelas ibu. Mendengar itu aku pun memahamai dan berjanji tidak akan ke rumah Nabila.
Anisa pun bersemangat Anisa membantu ibu membuat donat untuk dijual setiap harinya. Anisa berjualan donat sembari menunggu ibu yang lagi mencuci pakaian di rumah tetanga mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari selesai berjualan sele-sai berjualan Anisa pergi ke sekolah untuk belajar. Kelas tampak begitu sepi hanya aku dan Bu Aisyah di dalam ruangan. Biasa -nya jam seperti ini aku pasti sudah bersama Nabila. “Annisa kamu sendirian ya yang belajar di sekolah?” tanya Bu Aisyah. Aku hanya bisa menatap bisu mendengar ucapan Bu Aisyah. “Iya, bu, aku tidak memiliki uang untuk pindah sekolah dan ibuku memintaku agar aku ke sekolah”. Bu Aisyah pun tampak iba melihatku dan beliau langsung mengajarkanku mengenai materi hari ini.
Tiga minggu berlalu alhamdulilah uang hasil penjualan donat sudah cukup untuk membeli satu buah handphone. Aku pun menghitung uang penjualan yang aku gabungkan dengan hasil penjualan selama ini. Beberapa saat uang di tanganku di -ambil oleh seseorang. “Nah, ini dia uang buat kita,” kata seorang lakilaki. “Janganjangan diambil uangku,” teriak Annisa. Bebe rapa orang tampak tertawa dan mengerumuniku. Bahkan bebe -rapa orang sibuk merekam dengan HP mereka.
Uang itu seperti bola dilempar ke sana ke mari oleh para laki-laki itu. Tanpa disadari aku terjatuh. Seseorang sengaja mengganjal kakiku yang membuat bibirku berdarah. “Ayo kita cabut!” teriak para laki-laki itu. Aku hanya bisa menangis dan
menahan sakit di bibirku. Uang yang aku kumpulkan selama ini hilang begitu saja. Aku bingung apa yang akan aku jelaskan pada ibuku.
Melihat wajahku yang berlumuran darah karena luka di bibirku. “Annisa, masyaallah, kamu kenapa nak?” tanya ibuku. Aku menjelaskan kepada ibu kronologi kejadian yang aku alami. Ibuku menangis dan memelukku dengan erat. Ia menyampaikan kepadaku bahwa uang masih bisa dicari tapi nyawaku paling utama. Ibu berkata bahwa aku adalah harta satu-satunya yang dia miliki.
Beberapa hari kemudian sesampainya di sekolah. Aku meli-hat banyak orang di depan sekolahku. Bu Aisyah dan Pak Mahmud kepala sekolah kami berdebat sengit dengan petugas yang akan menghancurkan sekolah kami. “Jangan-jangan kau hancurkan sekolahku!” teriakku.
“Minggir kau anak kecil! Sekolah ini sudah kami miliki. Kami akan ratakan dengan tanah!” tegas petugas itu. Pak Mah -mud memegang pundak petugas sembari mendorongnya agar pergi dari sekolah. Beliau dipukuli petugas. Bu Aisyah berusaha melerai tetapi terdorong dan pingsan akibat kepalanya terbentur batu. “Berhenti! Apakah bapak-bapak tidak kasihan dengan kami. Demi uang kalian tega menghancurkan sekolah yang su -dah berdiri bertahun-tahun,” kataku sambil berurai air mata.
“Hei, kau masih kecil sebaikanya kau menyingkir jika tidak kendaraan penghancur ini akan melindar badanmu!” teriak sang petugas. Aku pun berontak dengan menarik tangannya yang mencoba menghancurkan keca sekolah. Dengan kasar meme -gang jilbabku, aku pun berusaha melepaskannya. Semua mata tanpak tidak bisa berbuat apa pun hanya terdiam dan menatap tak berdaya. Aku berhasil melepaskan cengkraman tangan petu-gas dan berlari menuju kendaraan yang telah meratakan pagar sekolah. Aku dengan sigap menghadang mobil. Kemudian mata -ku gelap terdengar suara-suara berteriak. “Serang! Serang!” dari
ibuku. “Siapa mereka Bu?” tanyaku.
Bu Aisyah menjelaskan bahwa beliau bersma pak wali kota. Ternyata aku viral di dunia maya. Banyak berita-berita online memberitakan mengenai diriku yang dianiaya petugas. Pak wali kota bersama bapak dan ibu lainnya mendekatiku. Lalu pak wali kota memberikan sebuah kotak. Aku pun membuka kotak yang ukurannya tidak lebih besar dari kotak bola lampu. Setelah aku buka ternyata isinya sebuah HP lengkap dengan perangkat pen-dukung. Aku pun senang melihat hadiah dari pak wali kota. Tidak hanya itu, beberapa aktivis bahkan presiden juga mengir-imkan aku berbagai macam hadiah. Ibuku berkaca-kaca melihat banyaknya perhatian orang kepadaku. Bahkan kami diberi uang oleh berbagai macam masyarkat yang bersimpati kepadaku. Air mataku mengalir karena Allah SWT begitu baik kepadaku kami. Musibah yang aku alami ternyata Allah balas dengan ini semua. Pak wali kota berpersan agar aku tetap semangat belajar. Beliau menjelaskan bahwa sekolahku tak akan dirobohkan malah be -liau diperintahkan presiden agar memperbaiki sekolah dan mem-fasilitasi anak-anak untuk sekolah.
Sekolah kami tidak akan dijadikan tempat pertambangan batu bara. Akupun senang sekali dan menitihkan air mata keba-hagiaan.
B
agaimanapun, pemilik hartalah yang bertahta. Aku diam. Bukan sebagai bentuk dukungan.Tapi mereka bilang, aku lah antagonisnya. “Kau lupa?”
“Untuk hal apa?”
“Pertanyaan bukan untuk dibalas dengan pertanyaan.”, balas nya sarkas.
Denting jarum jatuh bahkan terdengar jelas. Sudut-sudut bandara sunyi, memusatkan ketegangan pada ruang tunggu. Jarum jam masih bertahan di angka delapan, sedang langit di luar dalam keadaan gelap. Lagi, matanya menyelusur seluruh sudut. Wajahnya tak setenang lima menit lalu. Wanita berjas me -rah di pojok sana, pengacara yang berpihak padanya, menatap kosong ubin-ubin yang hitam pekat. Di sampingnya, Edward, sekretaris setianya, memberi tatapan sendu. Semua menyerah. Kurasa, sudah saatnya aku menyerah pada titik terlemah.
“Mak, nanti malam Lala pergi ke sungai bareng teman-teman ya!”
Ela namaku, lebih tepatnya Ela Sundari. Orang bilang pa -rasku manis. Hasil leburan wajah melayu sunda.
“Apa ada tugas sekolah La?” “Tidak mak”