• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batu Bara dan PLTU Bagi Kehidupan di Provinsi Sumatera Selatan

Dalam dokumen Tanggapan Dewan Juri (Halaman 186-192)

Sehingga pertambangan batu bara dan PLTU menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan di sekitarnya. (WALHI Provinsi SUMSEL, 2018).

Lalu apakah dampak negatif yang disebabkan oleh pertam-bangan batu bara dan PLTU di Provinsi Sumatera Selatan? Dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya Pertambangan Batu bara dan PLTU di Provinsi Sumatera Selatan yaitu dampak lingkungan dan dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Satu, dampak terhadap lingkungan. Apa saja dampak ling -kungan yang disebabkan oleh pertambangan batu bara dan PLTU di Provinsi Sumatera Selatan? Dampak negatif pertam-bangan batu bara terhadap lingkungan yaitu menurunnya kualitas air sungai dan rawa di lokasi pertambangan batu bara, pen cemaran udara atau polusi udara dan terancamnya keaneka -ragaman hayati.

dampak lingkungan pertama menurunnya kualitas air su -ngai dan rawa di lokasi pertambangan batu bara. Hal ini disebabkan akibat limbahlimbah yang dihasilkan oleh aktivitas pe -nambangan. Limbah pertambangan biasanya tercemar asam sul-fat dan senyawa besi yang dapat mengalir keluar daerah pertam-bangan. Air yang mengandung kedua senyawa ini akan menjadi asam. Limbah pertambangan yang bersifat asam bisa menyebab -kan korosi dan melarut-kan logam-logam berat sehingga air yang dicemari bersifat racun dan dapat memusnahkan kehidupan aku-atik. Hal ini juga selaras dengan penelitian Muhfid (2019).

Muhfid (2019) menyatakan bahwa hasil analisa kualitas air sungai dan rawa di lokasi studi penelitian kadar TSS, nikel (Ni), ferri (Fe) dan aluminium (Al) di Desa Mekarjadi, Kecamatan Sungai Lilin terdeteksi air kolam dan air rawa di atas ambang batas berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Re -publik Indonesia nomor 5 tahun 2014. Sedangkan kualitas air sungai dan rawa di lokasi studi penelitian Sungai Kandis dan Sungai Puntang Kecamatan Lahat, air SPAL dan air rawa Desa

membuktikan bahwa Pertambangan Batu bara dan PLTU di Provinsi Sumatera Selatan menyebabkan penurunan kualitas air sungai dan rawa.

Dampak Lingkungan kedua yaitu pencemaran udara atau polusi udara. Permasalahan dalam pencemaran udara yang pa -ling utama di industri pertambangan adalah permasalahan debu yang disebabkan oleh pembongkaran batu bara dan mobilitas pengangkutan batu bara dan peralatan dari dalam dan keluar lokasi penambangan. Debu yang berterbangan di kawasan pertambangan maupun permukiman penduduk, menyebabkan ber -bagai efek seperti terganggunya aktivitas pertambangan dan gangguan kesehatan.

Dampak lingkungan ketiga yaitu terancamnya keanekaraga-man hayati seperti ikan baung, gabus, tapah dan betok, karena dengan kondisi sungai sekarang ikanikan itu sulit untuk didapat -kan oleh masyarakat akibat aktivitas PLTU batu bara (WALHI Sumsel, 2018).

Dua, dampak terhadap kesehatan Masyarakat. Apa saja dampak kesehatan masyarakat akibat pertambangan batu bara dan PLTU di Provinsi Sumatera Selatan? Dampak kesehatan masyarakat yaitu ISPA, diare, penyakit kulit (gatal-gatal), dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Berdasarkan oenelitian yang dilakukan oleh Juniah, Restu dkk mengenai “Dampak Pertambangan Batu bara terhadap Kesehatan Masyarakat sekitar pertambangan batu bara (Kajian jasa lingkungan sebagai penyerap karbon)” pada tahun 2013 yang difokuskan pada Blok TAL yang terletak di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Gangguan

kese-hatan yang dialami oleh masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batu bara TAL PTBA berupa gatal-gatal, diare/ mencret, mual, pusing, pilek, batuk-batuk, dan susah bernafas/ sesak nafas (asma). Gangguan kesehatan yang paling banyak dialami yaitu batuk-batuk (ISPA).

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukana, Bambang dkk. Mengenai “Kajian Kasus ISPA Pada Lingkungan Pertambangan Batu Bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan” pada tahun 2013 didapatkan bahwa angka kejadian ISPA di lokasi terpapar (kawasan peruntukan) lebih tinggi dibandingkan lokasi non terpapar (bukan kawasan peruntukan) dan paparan debu akibat penambangan batu bara sudah berdampak pada penyakit ISPA. WALHI Sumsel (2018) juga mengemukakan temuannya di Desa Muara Maung dida -patkan bahwa masyarakat mengalami penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), diare, dan penyakit kulit (gatal-gatal) yang disebabkan oleh aktivitas pembakaran batu bara dan pem-buangan air sisa pembakaran batu bara.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Sugiharti dan Sondari, Ratna pada tahun 2015 mengenai “Gambaran Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Daerah Pertambangan Batu Bara, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan” di dapatkan bahwa prevalensi PPOK lebih tinggi di kawasan per -untukkan dibandingkan kawasan bukan per-untukkan.

Debu batu bara mengandung bahan kimiawi yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit paru-paru. Penyakit tersebut muncul bila masyarakat yang berada di lokasi tambang batu bara, atau di kawasan lalulintas pengangkutan batu bara, meng hirup debu batu bara secara terus menerus, dan yang paling be -risiko adalah pekerja penambangan batu bara itu sendiri (Masdjidi, 2006).

Salah satu penyebab gangguan kesehatan yang dialami responden berasal dari debu yang timbul pada saat operasi

peng-hadap masyarakat yang bermukim sekitar pertambangan batu bara.

Dapat diketahui dampak negatif dari pertambangan batu bara dan PLTU bagi kehidupan disekitarnya di Provinsi Suma -tera Selatan yaitu dampak terhadap lingkungan dan dampak ter-hadap kesehatan masyarakat. Dampak terter-hadap Lingkungan yaitu menurunnya kualitas air sungai dan rawa di lokasi pertam-bangan batu bara, pencemaran udara atau polusi udara dan ancamnya keanekaragaman hayati. Sedangkan dampak ter-hadap kesehatan masyarakat sekitar yaitu mengalami penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), diare, penyakit kulit (gatal-gatal) dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Referensi

Ahmad M. 2019. Analisis Dampak Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan dari

Pertambangan Batu bara terhadap Masyarakat (Studi Kasus: PT. Bukit Asam Tbk, Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Management. Institusi Pertanian Bogor: Bogor. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. 2005. Laporan Status

Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Provinsi Sumatera Selatan.

Muhammad M. 2017. Identifikasi Penurunan Air Sungai dan Rawa akibat

Pencemaran Limbah Cair Pertambangan Batu bara (Studi kasus Sungai dan Rawa Kabupaten Muba dan Lahat). Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadyah Palembang: Palembang.

Sugiharti. Ratna, T. 2015. Gambaran Penyakit Paru Obstruktif Kronik

(PPOK)di Daerah Pertambangan Babtubara, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Ekologi Kesehatan. Vol 14 No

2:136–44.

Sukana, Bambang dkk. 2013. Kajian Kasus ISPA Pada Lingkungan

Pertambangan Batu Bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Jurnal Ekologi Kesehatan. Vol 12 No 3

:234-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Provinsi Sumatera Selatan. 2018. Catatan Akhir Tahun 2018.

S

etiap perjalanan melewati Kabupaten Lahat, saya selalu melihat pemandangan kirikanan dengan tatapan sendu, na -pas tertahan pelan-pelan, dan di dada terasa ada sesuatu meng-ganjal bahkan menekan.

Semua bermula karena imajinasi masa kecil, saya mem-bayangkan Lahat adalah daerah indah, di desa-desanya banyak tanaman bunga, kebun-kebun subur, bukit-bukit dengan hutan rimbun, sungai-sungai hulu yang airnya jernih mengalir deras di antara batu-batu, dan suasana teduh karena cuaca yang sejuk khas daerah perbukitan dan pergunungan.

Imajinasi itu tumbuh dalam alam bawah sadar saya karena dipengaruhi penjelasan guru Sekolah Dasar (SD) dulu, khusus-nya guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), bahwa daerah pegunungan dan perbukitan di bentang Bukit Barisan, mulai dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, Ogan Komering Ulu, Musi Rawas hingga Muara Enim memiliki tanah yang subur dibanding daerah di Sumatera Selatan lainnya.

Saya kecil pun selalu tertegun ketika ditunjukkan gambar

Batu Bara Menggubur

Dalam dokumen Tanggapan Dewan Juri (Halaman 186-192)