KEJADIAN BENCANA
4. Aliran Lava, bersuhu 700 – 1200 O C
1.5.4.4 Air Tanah
- - - - - - - - - - -Rata-rata 28.75 31.70 32.80 33.94 25.57 19.66 15.08 14.87 17.31 26.98 40.34 47.67 334.67 Q80 32.02 25.70 28.64 29.73 31.78 7.30 10.28 10.22 11.11 18.02 31.00 14.64 250.44 Q50 22.00 18.20 17.20 0.22 0.80 14.20 20.81 14.59 33.09 38.08 68.72 57.50 305.42 STASIUN : TEGALDATAR SATUAN : m3/dt
Tahun Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Ket.
1993 36.87 29.93 27.77 28.13 24.45 23.40 18.29 22.10 14.04 22.88 26.67 29.35 303.88 1994 29.94 28.82 32.10 22.80 22.84 21.27 18.52 19.26 23.43 23.90 24.87 24.52 292.25 1995 31.26 30.39 31.97 19.10 18.50 14.90 16.89 6.98 6.01 11.36 53.43 42.16 282.95 1998 25.32 14.36 11.68 15.40 14.16 9.31 8.16 5.82 6.09 10.28 38.72 31.58 190.89 Q50 1999 40.05 37.06 25.73 25.88 18.24 8.83 4.89 4.26 1.74 8.22 15.53 18.47 208.89 2000 31.00 29.32 20.02 25.58 14.20 7.30 4.93 2.80 2.93 5.43 16.88 8.96 169.34 2001 27.01 45.83 15.90 15.19 12.88 11.37 7.66 4.98 10.85 17.57 27.97 12.87 210.07 2002 19.80 14.73 17.66 73.44 41.30 37.02 35.09 13.37 8.91 10.41 12.85 3.90 288.49 2003 11.25 14.43 14.87 11.01 10.43 5.69 4.74 5.01 4.88 11.51 7.83 14.73 116.38 2004 14.15 10.42 13.82 14.52 14.32 12.05 8.29 4.71 7.11 7.42 10.97 15.67 133.44 Q80 2005 13.36 18.87 18.41 15.61 13.05 13.89 9.93 6.00 5.12 7.93 11.07 15.98 149.22 2006 20.93 16.62 13.31 18.81 14.48 5.83 4.11 2.82 1.95 1.88 4.97 20.02 125.71 2007 12.76 20.06 26.85 37.69 17.25 11.58 6.27 4.28 2.95 6.10 10.26 24.84 180.87 Rata-rata 24.13 23.91 20.77 24.86 18.16 14.03 11.37 7.87 7.39 11.15 20.15 20.23 204.03 Q80 14.15 10.42 13.82 14.52 14.32 12.05 8.29 4.71 7.11 7.42 10.97 15.67 133.44 Q50 25.32 14.36 11.68 15.40 14.16 9.31 8.16 5.82 6.09 10.28 38.72 31.58 190.89 Tabel I.14
Potensi Air Sungai Cidadap 1993-2007
Tabel I.15
Potensi Air Sungai Cimandiri 1993-2007
1.5.4.4 Air Tanah
Air tanah merupakan salah satu sumber air di alam yang terdapat dalam tanah atau batuan. Sebagai salah satu komponen daur hidrologi, maka pembentukan dan pergerakan airtanah akan dikontrol oleh komponen daur hidrologi lainnya seperti curah hujan, evapotranspirasi dan air permukaan. Sebagian air hujan yang jatuh kepermukaan tanah akan meresap ke dalam tanah dan kemudian akan bergerak melalui rongga-rongga yang ada menuju ke tempat yang letaknya lebih rendah seperti lembah, sungai dan akhirnya ke laut.
Di Kabupaten Sukabumi terdapat 2 Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu CAT Sukabumi dan CAT Jampangkulon. CAT Sukabumi (lintas Kabupaten/Kota) memiliki potensi air tanah bebas (Q1) sebesar 759 juta m3/tahun dan potensi air tanah dalam
Jumlah Debit Air Rata-rata Mata air (lt/detik)
(1) (2) (3) (4) 1 Jampangkulon 3 420.00 2 Sagaranten 1 90.00 3 Lengkong 1 12.00 4 Palabuhanratu 1 150.00 5 Nyalindung 2 516.00 6 Sukaraja 3 678.00 7 Sukabumi 6 347.50 8 Cisaat 2 448.07 9 Cibadak 1 159.00 10 Nagrak 1 67.50 11 Cicurug 4 57.68 12 Parungkuda 4 315.00 13 Cisolok 2 4.00 14 Kabandungan 3 105.00 15 Total 34
Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan DPU, 1988
Kecamatan No.
(Q2) sebesar 34 juta m3/tahun. Sementara CAT Jampangkulon memiliki potensi air tanah bebas sebesar 276 juta m3/tahun.
Pemanfaatan air tanah (terutama air tanah dalam) untuk tujuan komersial (baik secara langsung atau tidak langsung) terkonsentrasi di wilayah Cicurug, Cidahu dan Parungkuda, sedangkan sebagian kecil di wilayah Nagrak, Cibadak Cikembar, Sukabumi dan Sukalarang.
Di Kabupaten Sukabumi juga memiliki banyak mata air, baik yang mempunyai luas besar maupun kecil. Mata air umumnya terdapat di bagian kaki bukit atau lekuk-lekuk di bagian lereng. Keberadaan mata air sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah ini. Penyebaran mata air cukup merata antara lain di Kecamatan Sukabumi, Cisaat, Sukaraja, Cibadak, Parungkuda, Kabandungan, Cicurug, Nagrak, Palabuhanratu, Jampangkulon, Sagaranten, Lengkong. Debit mata air tersebut berkisar antara 5-100 lt/dt. Pada beberapa tempat dijumpai pula adanya mata air panas. Data mata air di Kabupaten Sukabumi adalah sebagai berikut :
Tabel I.16
Potensi Mataair yang Terdapat di Kabupaten Sukabumi
Gambar 1.9
Peta Cekungan Air Tanah (CAT) Sukabumi
Pemanfaatan air di Kabupaten Sukabumi banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi, air baku penduduk dan industri, dan ditambang. Pemenuhan kebutuhan air irigasi mengandalkan air permukaan, dan untuk memenuhi kebutuhan air air baku penduduk dan industri, dan ditambang banyak menggunakan air tanah. Data penggunaan air tanah yang tercacat di Balai KSDA Kabupaten Sukabumi adalah sebanyak 2.039.526,00 m3/bln atau 786,85 lt/dt. Data mengenai pemanfaatan air tanah yang tercatat pada Balai KSDA dapat dilihat pada tabel berikut ini. Sedangkan pemanfaatan debit air permukaan di Kabupaten Sukabumi tidak tercatat.
Tabel I.17
Data Pemanfaatan Air Tanah yang Tercatat pada Balai BKSDA di Kabupaten Sukabumi
NO Kota/ kabupaten
Jumlah
Pengusaha Volume Berdasarkan SIPPA Dalam m3 /Bulan Ter-
daftar Pasif PDAM Industri
Non
PDAM Pertanian Niaga Jumlah 1 Kab Sukabumi 65 65 763.344 369.288 3.888 221.652 124.074 1482.246
2 Kota. Sukabumi 3 3 518.400 36.288 2.592 557.280
Tahun 1980-an merupakan awal masuknya perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) mengeksploitasi sumber-sumber air di Kecamatan Cidahu dan Kabupaten Sukabumi pada umumnya. Eksploitasi ini dilatarbelakangi keberadaan Kecamatan Cidahu dan sekitarnya termasuk lingkup kawasan Gunung Salak yang kaya sumber air, baik air bawah tanah maupun air permukaan. Keberadaan lokasi sumber-sumber air di Sukabumi tergolong strategis karena relatif dekat dengan kawasan Jabotabek sebagai pangsa pasar yang sangat besar serta adanya dukungan infrastruktur (jalan, telekomunikasi, dan lain-lain.) yang memadai. Saat itu, jumlah perusahaan AMDK yang beroperasi masih bisa dihitung dengan jari (sedikit). Sehingga, dampak yang ditimbulkan perusahaan AMDK terhadap masyarakat dan lingkungan, relatif belum terasa.
Memasuki era tahun 1990-an, ekspansi perusahaan AMDK ke kawasan ini meningkat pesat seiring dengan tertutupnya kawasan Jabotabek untuk kawasan industri. Jumlah perusahaan AMDK yang masuk ke kawasan Gunung Salak di Sukabumi semakin banyak. Saat ini, diperkirakan sudah ada sekitar 35 perusahaan AMDK yang beroperasi di kawasan Gunung Salak yang termasuk wilayah Kabupaten Sukabumi. Selain perusahaan AMDK, perusahaan lain yang ikut mengeksploitasi air adalah perusahaan makanan dan minuman (diantaranya : Yakult, Indolakto, Indomeiji (es krim), Kratingdaeng, Pocari Sweat), perusahaan garmen, peternakan (ayam, sapi, dan lain-lain.) dan perusahaan lainnya. Diperkirakan, jumlah perusahaan yang ikut mengeksploitasi air di Sukabumi sudah mencapai lebih dari 53 perusahaan (semua jenis perusahaan). Adapun areal operasinya meliputi 6 kecamatan yakni: Cidahu, Cicurug, Parakan Salak, Parungkuda, Kalapanunggal dan Bojonggenteng. Hingga saat ini diperkirakan jumlah volume air yang telah dieksploitasi tidak kurang dari 10 milyar liter. Besarnya volume air yang dieksploitasi oleh berbagai perusahaan – setidaknya dalam kurun 26 tahun – telah membawa dampak pada ketersediaan air di kawasan ini. Dampak negatif akibat eksploitasi air tersebut – menurut informasi aktivis LSM di Sukabumi – sudah dirasakan masyarakat setempat sejak dekade 1990-an. Hal ini ditandai kecenderungan umum keringnya air sumur warga pada awal musim kemarau.
1.5.4.5 Udara
Penurunan daya dukung udara diakibatkan semakin meningkatnya berbagai polutan dari aktivitas manusia. Tiga kegiatan besar yang berkontribusi terhadap pencemaran udara adalah penggunaan energi-energi fosil untuk transportasi, industri, pembangkit listrik dan rumah tangga, pembakaran sampah serta konversi lahan dan kebakaran hutan. Pencemaran udara diperkirakan terjadi di beberapa kota kecamatan di sepanjang jalan Negara bagian Utara Kabupaten Sukabumi seperti Cicurug, Cibadak,
Cisaat, dan Sukaraja; serta di beberapa kecamatan di bagian Selatan Kabupaten Sukabumi terkait konversi lahan.
Transportasi dianggap sebagai penyumbang polutan tertinggi (sekitar 60% dari pencemaran total) karena semakin tingginya pengguna kendaraan pribadi terutama kendaraan bermotor roda dua. Hasil pengukuran yang dilakukan tahun 2007 bahwa 38 % kendaraan bermotor dengan bahan bensin dan lebih dari 75% kendaraan berbahan bakar solar yang diuji tidak memenuhi Bahan Mutu Emisi (BME). Kecenderungan kandungan Hidrokarbon (HC) juga meningkat di atas ambang batas hingga 4-8 kali dari konsentrasi ambang batas baku mutu udara ambien (169 mg/m3/3 jam).
Dalam upaya pengendalian pencemaran udara, Provinsi Jawa Barat telah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 2006 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Salah satu implementasi dari peraturan tersebut adalah melaksanakan pemantauan kualitas udara baik emisi maupun embien. Pengujian terutama bagi kendaraan bermotor karena sumber inilah yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap pencemaran udara.
Sumber polutan lainnya adalah kegiatan industri, sejalan dengan naiknya harga minyak bumi banyak industri yang mulai mengalihkan sumber energinya ke batu bara. Batu bara memiliki kandungan polutan yang paling tinggi dibandingkan dengan minyak bumi ataupun gas. Di sisi lain rendahnya pengaturan terhadap pengendalian pencemaran udara serta penggunaan teknologi yang tidak ramah lingkungan menyebabkan masalah pencemaran udara dari pemenuhan kebutuhan energi masih terus menjadi permasalahan utama. Batu bara menghasilkan emisi terbesar sedangkan gas menghasilkan emisi yang paling rendah, karena itu sering kali gas dianggap sebagai energi yang ramah lingkungan.
Tabel I.18
Perbandingan Emisi pada Pembangkit Listrik
Type of emission
Emission (pound/109 BTU of Energi)
Coal Crude Oil Gas
CO2 208 164 117 SOx 2.591 1,122 1 PM10 2.744 84 7 NOx 457 448 92 CO 208 33 40 Sumber: Bappenas 2006
Pencemaran udara di Kabupaten Sukabumi dan di Jawa Barat umumnya turut bertanggungjawab terhadap terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Efek pemanasan global terhadap perubahan iklim terutama karena peningkatan secara gradual temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama
CO2). Kemudian, terkait pula dengan keberadaan luasan hutan yang semakin berkurang serta meningkatnya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Perubahan iklim berimplikasi sangat luas terhadap berbagai aspek, seperti perubahan musim dan bencana. Kejadian bencana banjir tahunan di musim hujan dan kekeringan panjang di musim kemarau, memberi dampak ikutan seperti kebakaran hutan, penyebaran penyakit dan keringnya sumber air bersih, yang juga tidak luput mengancam keberadaan lahan pangan. Potensi terjadinya hujan asam juga harus dicermati, karena tingginya tingkat konsentrasi CO2 yang bercampur dengan air hujan juga akan membentuk asam karbonat yang menyebabkan tingginya tingkat keasaman. Hal tersebut menimbulkan kerugian terhadap berbagai infrastruktur pembangunan, karena mempercepat korosi dan juga sangat berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem.