• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEJADIAN BENCANA

4. Aliran Lava, bersuhu 700 – 1200 O C

1.5.7.4 Perumahan dan Permukiman

Berdasarkan pola penggunaan lahan di Kabupaten Sukabumi, saat ini pertanian masih merupakan kegiatan yang dominan, sementara penggunaan lahan untuk permukiman hanya berkisar 6,20 % dari luas kabupaten. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel I.45.

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2008 adalah sebesar 661.861 KK. Jumlah rumah di Kabupaten Sukabumi tercatat sebanyak 502.497 unit. Dari jumlah rumah tersebut 41,65 % (209.277 unit) merupakan rumah permanen dan sisanya 58,35 % (293.220 unit) rumah tidak permanen. Berdasarkan jumlah rumah tangga, rumah tangga yang belum memiliki rumah hingga tahun 2008 (blacklog) adalah sebanyak 6.116 unit.

Permasalahan pembangunan permukiman di Kabupaten Sukabumi, selain masih kurangnya penyediaan pemenuhan kebutuhan rumah adalah :

Permukiman kumuh dan Ilegal (slum dan squatter)

• Rumah di bantaran sungai, dan

• rumah di daerah bencana.

Kawasan permukiman kumuh di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2008 tercatat sebanyak 160 lokasi dengan luas 7.739 ha. Lokasi permukiman kumuh tersebut terdapat di beberapa kecamatan yaitu Sagaranten, Palabuhanratu, Simpenan, Warungkiara, Bantargadung, Cikembar, Cisaat, Kalapanunggal, dan Cisolok.

Tabel I.45

Penggunaan Lahan Permukiman Di Kabupaten Sukabumi Tahun 2006

NO KECAMATAN LUAS TOTAL LUAS

PERMUKIMAN % LUAS PERMUKIMAN 1 Ciemas 17,835 1,369 7.68 2 Ciracap 10,899 592 5.43 3 Waluran 5,643 166 2.94 4 Surade 13,394 915 6.83 5 Cibitung 3,549 401 11.3 6 Jampang Kulon 12,654 323 2.55 7 Kalibunder 7,063 162 2.29 8 Tegal Buleud 11,064 278 2.51 9 Cidolog 6,980 182 2.61 10 Sagaranten 9,725 257 2.64 11 Cidadap 7,053 185 2.62 12 Curugkembar 5,407 253 4.68 13 Pabuaran 8,768 396 4.52 14 Lengkong 10,182 210 2.06 15 Palabuhan Ratu 9,084 911 10.03 16 Simpenan 16,933 118 0.7 17 Warungkiara 10,927 911 8.34 18 Bantargadung 6,619 395 5.97 19 Jampang Tengah 21,506 1,694 7.88 20 Purabaya 7,512 317 4.22 21 Cikembar 8,653 930 10.75 22 Nyalindung 8,617 591 6.86 23 Gegerbitung 5,526 397 7.18 24 Sukaraja 3,592 440 12.25 25 Kebonpedes 1,060 209 19.72 26 Cireunghas 2,828 194 6.86 27 Sukalarang 2,151 549 25.52 28 Sukabumi 1,450 229 15.79 29 Kadudampit 3,114 462 14.84 30 Cisaat 2,163 571 26.4 31 Gunungguruh 2,410 379 15.73 32 Cibadak 6,416 723 11.27 33 Cicantayan 3,458 245 7.09 34 Caringin 3,260 258 7.91 35 Nagrak 9,600 900 9.38 36 Cicurug 4,200 699 16.64 37 Cidahu 2,131 341 16 38 Parakansalak 1,798 165 9.18 39 Parungkuda 2,299 335 14.57 40 Bojong Genteng 2,138 491 22.97 41 Kalapanunggal 3,127 143 4.57 42 Cikidang 15,748 622 3.95 43 Cisolok 16,989 408 2.4 44 Cikakak 12,605 213 1.69 45 Kabandungan 5,340 127 2.38 Total 333,467 20,656 6.19 Sumber : Podes 2003

Adapun untuk rumah di bantaran sungai, tercatat masih ada 1.828 keluarga yang bertempat tinggal di bantaran sungai atau sebanyak 1.269 bangunan. Masalah perumahan permukiman lainnya di Kabupaten Sukabumi adalah keluarga yang

bertempat tinggal di bawah jaringan listrik tegangan tinggi yaitu sebanyak 4.848 keluarga atau sejumlah 1.542 bangunan. Dilihat dari aspek keselamatan, terdapat 7.314 keluarga yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana, meliputi 4.164 keluarga pada daerah rawan longsor, 2.209 keluarga pada daerah rawan banjir dan 941 keluarga pada daerah rawan bencana lainnya.

Pasar perumahan yang ada tidak dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah backlog stok rumah masih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan tambahan rumah per tahun disamping itu rumah yang ada, kualitasnya tidak layak huni. Pengembangan perumahan swadaya masih terkendala terbatasnya kemampuan ekonomi masyarakat, ketersediaan tanah dan pembiayaan; disamping itu bantuan bahan bangunan bergulir untuk perumahan swadaya belum sepenuhnya dimanfaatkan, perlu dukungan pemberian kredit mikro dari Bank/Lembaga Keuangan, serta dukungan prasarana dan sarana, fasos dan fasum seperti listrik dsb.

Pembangunan prasarana dan sarana permukiman yang meliputi air bersih dan penyehatan lingkungan (air limbah, persampahan dan drainase) banyak kemajuan yang telah dicapai, namun demikian cakupan pelayanan air bersih dan penyehatan lingkungan di Kabupaten Sukabumi masih jauh dari memadai dimana kondisinya adalah sebagai berikut :

a. Air Bersih

Sistem air bersih terbangun baru melayani 30.545 jaringan air minum (Skala Ibukota Kecamatan) atau 40% penduduk perkotaan, 85.475 jaringan air minum (Skala Perkotaan) dan yang sudah terlayani jaringan air minum (Skala Perdesaan) adalah sebanyak 172 Desa/Kelurahan dari 367 Desa/Kelurahan di Kabupaten Sukabumi. Untuk Skala Ibukota Kecamatan dan Skala Perkotaan sebagian besar dilayani oleh PDAM (90%) dimana permasalahannya adalah Dari tahun 2007-2009 jumlah penduduk yang terlayani air bersih meningkat tetapi cakupan layanan menurun karena keterbatasan sumber air baku. (Sumber: Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Sukabumi), sedangkan jaringan air minum (Skala Perdesaan) masih disubsidi oleh pemerintah karena masyarakat miskin di kawasan rawan air terutama di perdesaan dan daerah terpencil masih harus berjuang untuk mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau dibanding kelompok yang lebih mampu di perkotaan.

Secara garis besar, pelayanan air bersih di Kabupaten Sukabumi meliputi sistem perpipaan dan non perpipaan. Sistem perpipaan yang dikelola oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) direncanakan dalam jangka panjang akan melayani hingga 70 % kebutuhan penduduk yakni dengan mengoptimalkan pelayanan cabang-cabang yang ada di tiap kecamatan. Sementara rencana sistem perpipaan

baru diarahkan untuk melayani kawasan pusat pertumbuhan (termasuk pusat pemerintahan DOB) dan kawasan lain yang berpotensi besar untuk dikembangkan seperti kawasan wisata, kawasan industry dan kawasan perumahan baru di Kabupaten Sukabumi. Sejauh ini, sistem pelayanan air bersih melalui perpipaan yang dikelola oleh PDAM masih terbatas pelayanannya di beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Cisaat, Cibadak, Warungkiara, dan Palabuhanratu. Cakupan pelayanan PDAM pada tahun 2007 mencakup 15.874 konsumen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel I.46, sedangkan sumber dan kapasitas air bersih dapat dilihat pada Tabel I.47.

Sedangkan untuk rencana sistem pelayanan air bersih non perpipaan, penduduk Kabupaten Sukabumi diarahkan untuk memanfaatkan seoptimal mungkin air tanah dangkal dengan membuat sumur gali atau bor, dan air tanah untuk industri. Sejalan dengan upaya membatasi eksploitasi air tanah, maka dalam jangka panjang direncanakan pelayanan air bersih non perpipaan untuk kebutuhan perumahan/ permukiman mencapai 80 %, sementara untuk industri diarahkan pada pengembangan industri baru yang tidak lapar air. Pada dasarnya, kondisi, kuantitas, dan kontinuitas sumber yang digunakan cukup tersedia sepanjang tahun walaupun semakin berkurang ketersediaannya seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah perkotaan dan permukiman perdesaan.

Tabel I.30

Jumlah Distribusi Air Minum Menurut Jenis Konsumen dan Pendapatan Kabupaten Sukabumi Tahun 2007

No Jenis Konsumen

Pendapatan Banyak

Konsumen Pendapatan

1 Rumah Tempat Tinggal 14.903 7.493.230.000

2 Niaga Kecil 378 375.296.000 3 Niaga Besar 40 211.637.800 4 Sosial 381 208.954.000 5 Instansi 65 52.535.480 6 Keran Umum 68 93.446.760 7 Industri 15 646.579.200 8 FKJM/ Tangki - - 9 Khusus 3 206.678.500 10 TNI/POLRI 21 1.519.923.360 Jumlah 2007 15.874 10.808.281.100 Jumlah 2006 18.957 750.343.040 Jumlah 2005 13.516 5.855.472

Tabel I.47

Sumber dan Kapasitas Air Minum di Kabupaten Sukabumi

No Cabang/ Unit Nama

Sumber Jenis Sumber

Kapasitas (liter/ detik) Terpasang Operasi

1 Palabuhanratu Citepus Sungai

(air permukaan)

140 60

2 Cisolok Cikahuripan Mata air 5 3

3 Cikembar/Warungkiara PLTA Ubrug Sungai (air permukaan)

40 37

4 Sagaranten Cipongpok Mata air 5 0,5

5 Jampangtengah Panumbangan Mata air 0 0

Suninggar Mata air 5 0

Bojonglopang Sumur dalam (deep well)

2 2

6 Cibadak Cipanas Mata air 35 35

Cirosa Mata air 5 4

7 Nagrak Citangkalak Sumur dalam

(deep well)

10 6

8 Parungkuda Tapping

Cipanas

Mata air 10 10

Cimacan Mata air 5 2

9 Kalapanunggal Kiararugrug Mata air 10 10

10 Cicurug Cikombo II Mata air 35 35

11 Tenjolaut Sukawayana Sungai (air permukaan) 10 4 12 Parakansalak Sungai Cipamatulan Sungai (air permukaan) 10 5

13 Sukamaju Sukamaju Sumur dalam

(deep well)

4 3

14 Bojonggenteng Bojonggenteng Sumur dalam (deep well)

2 1

Jumlah 333 217,7

Sumber : Kabupaten Sukabumi Dalam Angka Tahun 2006

Untuk memperkirakan kebutuhan air bersih hingga tahun 2030, dilakukan dengan pendekatan standard pelayanan minimal sebagai berikut :

• Kebutuhan non domestic 20 % dari total kebutuhan domestic

• Tingkat pelayanan 55 – 75 % (sesuai SK Menkes No. 416/MEN/KES/Per/ IX/1990)

• Kebutuhan domestic diharapkan dapat melayani 80 % total penduduk dengan kebutuhan per orang sebesar 120 liter/ detik.

b. Sanitasi (PLP)

Secara umum Kabupaten Sukabumi belum dilengkapi dengan sistem pengelolaan air limbah yang baik dan memadai. Limbah manusia sebagian dibuang melalui saluran pembuangan air limbah (SPAL), jamban keluarga MCK/MKU. Hanya sekitar 60 % penduduk Kabupaten Sukabumi menggunakan jamban Keluarga atau MCK. Sedangkan sebagian lagi (40 %) dibuang ke alam, sungai dan sebagainya. Pelayanan sistem pengolahan air limbah di kabupaten Sukabumi masih terbatas dan pelayanannya terpusat di daerah perkotaan. Tingkat pelayanan sanitasi (jamban) di perkotaan mencapai 50% penduduk, sementara di perdesaan 23 % penduduk. Berdasarkan sebarannya, sebagian besar penggunaan fasilitas jamban keluarga

atau MCK berada di pusat kota kecamatan. Sedangkan penduduk yang belum memiliki fasilitas tersebut tersebar di pelosok pedesaan. Pembangunan jamban keluarga atau MCK juga sebagian besar belum memenuhi syarat. Kebanyakan dari sistem tersebut tidak menggunakan septik tank yang memenuhi kaidah teknis, hal ini karena kotoran manusia dari jamban/WC dibuang ke sungai atau kanal. Permasalahan lain yang cukup menonjol adalah belum adanya instalasi pengolahan akhir untuk lumpur tinja penduduk. Permasalahan air limbah ini juga diperparah oleh karena belum adanya peraturan daerah yang berkaitan dengan penanganan air limbah. Akibatnya banyak diantara penduduk yang membuang air limbahnya ke tempat yang tidak sesuai, seperti ke tanah kosong sehingga menimbulkan lingkungan di sekitarnya menjadi tercemar.

c. Saluran drainase di perkotaan

Perbaikan / pembangunan saluran drainase di perkotaan dilakukan untuk menurunkan lamanya waktu genangan di daerah perkotaan belum optimal. Hal ini karena alokasi anggaran pembangunan belum optimal disesuaikan dengan kebutuhan penanganan genangan air di ruas jalan perkotaan yang merupakan kewenangan provinsi dan pusat karena kurangnya koordinasi penanganan sehingga pembebanan anggaran pembangunan dan pemeliharaannya ditanggung oleh daerah yang seharusnya beban pemerintah provinsi dan pusat.

d. Persampahan.

Pengelolaan persampahan di Kabupten Sukabumi baru bisa melayani 19 Kecamatan dengan jumalah desa/kelurahan terlayani sejumlah 58 desa/kelurahan. Kondisi pengelolaan persampahan di Kabupaten Sukabumi terbagi menjadi 5 korwil. Masing-masing korwil mempunyai cakupan pelayanan yang berbeda-beda, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel I.48

Wilayah Pelayanan dan Jumlah Sarana dan Prasarana Persampahan Di Kabupaten Sukabumi Tahun 2007

No Wilayah Cakupan

Pelayanan (Jiwa)

Truk

Sampah TPS Kontainer TPA

1 Sukabumi 80.509 5 84 4 0 2 Cibadak 35.325 2 48 6 1 3 Cicurug 37.565 3 45 4 1 4 Palabuanratu 39.285 8 54 18 1 5 Jampangkulon 21.202 2 19 0 1 Jumlah 213.886 20 250 32 4

Data Volume Sampah yang ditangani oleh Kantor Kebersihan berdasarkan tempat asal sampah dari Tahun 2005 – 2007 adalah sebagai berikut :

Tabel I.49

Data Volume Sampah (m3) yang Terkumpul di TPS dan Non TPS Menurut Asa Sampah Di Kabupaten Sukabumi Tahun 2005-2007

Asal Sampah Tahun

2005 2006 2007 Permukiman 100.087 101.892 104.892 Tempat Komersil 219.848 220.947 225.362 Kawasan Industri 26.088 26.226 26.352 Fasilitas Lain 6.552 8.971 9.216 Jumlah 352.575 358.036 365.822

Sumber : Kantor Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kab. Sukabumi

Permasalahan yang dihadapi adalah banyaknya timbunan sampah yang terkumpul belum optimal penanganannya (diangkut/ditanam) sehingga pada saat sampah tersebut menjadi terdekomposisi dan menimbulkan bau yang menganggu pernafasan dan mengundang lalat yang merupakan pembawa dari berbagai jenis penyakit dikarenakan masih kurangnya penyediaan tempat sampah yang memadai, dan masih banyaknya perilaku masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat terutama ke sungai khususnya masyarakat perkotaan.

Kabupaten Sukabumi memiliki tempat pembuangan sampah terdiri atas 2 TPA, 24 TPS berupa container, 197 TPS terbuka dengan tembokan, dan 19 TPS Piramid. Permasalahan tempat pembuangan sampah terutama menyangkut kondisi 2 (dua) TPA yaitu :

• TPA Cimenteng di Kecamatan Cikembar, dengan jarak 37 km dari pusat Kota Palabuhanratu, saat ini dengan kapasitas lahan seluas + 4 ha akan habis masa pelayanannya pada tahun 2011. Padahal rata-rata sampah tertampung per hari di TPA ini sebesar 103 m3 dengan daerah pelayanan meliputi Wilayah Sukabumi (Kecamatan Sukabumi, Sukaraja, Cisaat, Kadudampit, Gunungguruh, dan Citayam), Wilayah Cibadak (Kecamatan Cibadak, Cicantayan, Nagrak, dan Cikembar), dan Wilayah Palabuhanratu (Kecamatan Palabuhanratu, Cikakak, dan Simpenan);

• TPA Pasirjeding di Desa Purwasari Kecamatan Jampangkulon dengan jarak 3 km dari pusat Kota Palabuhanratu, saat ini dengan kapasitas lahan seluas + 0,9 ha berlokasi dekat dengan kawasan permukiman penduduk. Rata-rata sampah tertampung per hari sebesar 28 m3 dengan daerah pelayanan meliputi Wilayah Cicurug (Kecamatan Cicurug, Cidahu, dan Parungkuda), dan Wilayah Jampangkulon (Kecamatan Jampangkulon, Surade, dan Ciracap).

Berdasarkan kondisi kedua TPA tersebut, TPA Cimenteng yang hampir habis umur pakainya dan TPA Pasirjeding yang lokasinya saat ini berdekatan dengan permukiman penduduk, maka menuntut upaya pencarian lokasi TPA lain untuk melayani permasalahan persampahan di Kabupaten Sukabumi yang semakin berat dari tahun ke tahun.

Untuk mengoptimalkan pengelolaan persampahan di masa datang, diperlukan penanganan secara terintegrasi yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan swasta agar bisa dicapai pelayanan secara optimal.

Mengingat sifatnya sebagai kebutuhan dasar manusia yang pada umumnya tidak cost-recovery maka keterlibatan badan usaha milik swasta dan masyarakat dalam penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana dasar permukiman sangat diperlukan karena keterlibatannya sampai saat ini masih terbatas.