BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Lampiran 1 Aitem-Aitem Skala Penelitian
2. Prosedur Penelitian
Kami merekrut para partisipan secara convenient di berbagai lokasi sekitar kampus USU. Para partisipan kami minta untuk mengisi angket (kuesioner) yang telah kami persiapkan. Mereka mengisi angket sampai selesai, kemudian mengumpulkannya kembali kepada kami. Para partisipan berpartisipasi secara sukarela, namun sebagai ungkapan terima kasih, kami memberikan mereka sebuah ballpoin gratis
D. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Validitas Alat Ukur
Validitas alat ukur merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menjalankan fungsi ukur. Artinya alat ukur memang mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur (Hadi, 2000). Suatu instrumen dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2009). Untuk skala SDO kami tidak melakukan uji validitas, karena alat ukur ini telah berkali-kali digunakan di dalam berbagai seting penelitian (e.g., Perkins & Bourgeois, 2006; Hess, Gray & Nunez, 2012; Capps, 2002; Sidanius, Mitchell, Haley, & Navarrette, 2006), dengan demikian alat ukur ini sudah diakui validitasnya secara internasional. Namun, mengingat skala SDO yang kami gunakan merupakan versi translasi, kami tetap menggunakan professional judgement untuk memastikan bahwa translasi yang kami lakukan sudah tepat. Profesional judgement juga kami terapkan untuk pengukuran persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan. Profesional judgement ini merupakan salah satu dari pendekatan untuk menelaah validitas isi (content validity), yaitu sejauh mana aitem-aitem dalam alat ukur mencerminkan ciri atribut yang akan diukur (Azwar, 2009).
2. Reliabilitas Alat Ukur
Konsep reliabilitas mengacu pada apakah suatu instrumen dapat diinterpretasi secara konsisten (Field, 2009). Dalam penelitian ini kami
30
menggunakanmenelaah reliabilitas dengan mengukur internal consistencyalat ukur dengan menghitung koefisien Cronbach’s alpha. Koefisien reliabilitas (α) merentang dari 0 sampai dengan 1.00. Semakin mendekati 1.00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2009). Pengujian reliabilitas pada alat ukur social dominance orientation menunjukkan alat ukur yang reliabel (15 aitem;α = .79). Pengujian reliabilitas alat ukur persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan juga menunjukkan alat ukur yang reliabel (9 aitem; α = .82)
E. TEKNIK ANALISIS
Sebelum melakukan analisis data, kami terlebih dahulu menguji asumsi- asumsi untuk melakukan analisis statistik parametrik (Field, 2009). Analisis data yang akan kami lakukan adalah dengan teknik korelasi pearson. Teknik ini mensyaratkan pengujian normalitas data pengukuran setiap variabel yang akan dikorelasikan. Dalam penelitian ini normalitas kami identifikasidengan melihat nilai skewness dan kurtosis. Suatu distribusi disebut sebagai normal jika nilai skewness dan kurtosis bernilai di antara -1 sampai +1 (Field, 2009). Analisis korelasi antara SDO dengan persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan kami lakukan setelah memeriksa normalitas.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti akan menguraikan gambaran umum partisipan penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. Pembahasan diawali dengan analisis data yang terdiri dari deskripsi partisipan penelitian, hasil uji asumsi linearitas, hasil utama penelitian, dan dilanjutkan dengan pembahasan.
A. ANALISIS DATA
1. Gambaran Umum Partisipan Penelitian
Partisipan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di perguruan tinggi negeri Universitas Sumatera Utara (USU). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, yang terdiri dari 20 mahasiswa Fakultas Teknik Sipil, 20 mahasiswa Fakultas Ekonomi, 20 mahasiswa Fakultas MIPA, 20 mahasiswa Fakultas Pertanian, dan 20 mahasiswa Fakultas Hukum.
2. Uji Asumsi
Pengujian normalitas dari data penelitian dilakukan dengan melihat skewness dan kurtosis distribusi nilai pada setiap variable penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa data terdistribusi normal, yaitu dengan nilai skewness 0.553 dan kurtosis 0.621 (Mean=30.21; SD=6.027) pada variabel SDO dan nilai skewness 0.201 dan kurtosis -0.459 (Mean=23.05; SD=8.018) pada variabel Persepsi Terhadap Ospek Sebagai Ajang Kekerasan. Untuk lebih jelasnya hasil pengujian normalitas serta linearitas dapat dilihat pada
32
3. Hasil Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Social Dominance Orientation(SDO) dengan persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan. Pengujian terhadap hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara skor SDO dengan persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan dilakukan lewat metode Pearson Product Moment dengan menggunakan program komputer SPSS for windows version 20.00.
Berdasarkan hasil olahan didapat nilai koefisien korelasi (r) yang positif sebesar 0,52 pada signifikansi p = 0,001. Nilai yang positif bermakna hubungan yang positif antara social dominance orientation dengan persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan. Ini berarti kenaikan skor SDO akan diikuti dengan kenaikan skor persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan. Secara implikatif dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi SDO seseorang, maka semakin tinggi kecenderungan orang tersebut untuk mempersepsikan Ospek sebagai suatu rangkaian kegiatan yang memang diperuntukkan bagi ajang kekerasan.
Dalam ilmu psikologi, konvensi Cohen (1988) digunakan untuk menginterpretasikan effect size suatu hasil pengolahan data. Suatu koefisien korelasi dengan nilai 0,10 menunjukkan asosiasi yang lemah, koefisien korelasi bernilai 0,30 menunjukkan asosiasi sedang, dan koefisien korelasi ≥0,50 berarti hubungan atau asosiasi yang kuat. Berdasarkan Cohen maka koefisien korelasi
(r) penelitian ini memiliki effect size yang besar. Hal ini berarti terdapat asosiasi yang kuat antara kedua variabel
4. Deskripsi Data Penelitian
Tujuan lain penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai social dominance orientation (SDO) dan persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan dari partisipan penelitian. Untuk melihat gambaran mengenai skor SDO peneliti menggunakan alat penelitian berupa skala SDO-6 yang diberikan kepada partisipan. Setelah dilakukan uji reliabilitas terhadap ke 15 item skala SDO-6, peneliti menggunakan seluruh item yang termuat di dalam skala karena uji daya beda item yang secara umum tergolong baik. Di dalam penyajian setiap item diberikan 4 rentang pilihan jawaban dengan penskalaan Likert, sehingga dihasilkan skor hipotetik minimum sebesar 15 dan skor maksimum 60. Sementara berdasarkan hasil penelitian diperoleh partisipan dengan skor minimum 18 dan skor maksimum 47.
Sedangkan pada pengukuran persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan terdapat 9 item yang digunakan dari 11 item awal yang diseleksi berdasarkan uji daya beda item. Setiap item diformulasi ke dalam 5 rentang pilihan jawaban dengan metode penskalaan semantik differensial, sehingga dihasilkan skor hipotetik minimum sebesar 9 dan skor maksimum 45. Sementara berdasarkan hasil penelitian diperoleh partisipan dengan skor minimum 9 dan skor maksimum 45
Hasil perbandingan rata-rata empirik dan rata-rata hipotetik disajikan pada Tabel 2 berikut:
34
Perbandingan mean empirik dan hipotetik SDO
Variabel Empirik Hipotetik
Social dominance orientation M in M ax M ean SD M in M ax M ean SD 1 8 4 7 3 0.21 6.0 2737 1 5 6 0 3 7.5 13.4 2262 Perbandingan mean empirik dan hipotetik Persepsi
Variabel Empirik Hipotetik
Persepsi thd Ospek sebagai ajang kekerasan M in M ax M ean SD M in M ax M ean SD 9 4 5 2 3.1 7.9 6393 9 4 5 2 7 10.8 2436 Tabel 2. Mean empirik dan mean hipotetik
Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa rata-rata empirik dari setiap variable penelitian lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata hipotetiknya. Menggunakan analisis one sampel t-tes diperoleh hasil bahwa partisipan penelitian memiliki SDO yang lebih rendah dibandingkan rata-rata pada umumnya (?? ? ? ?? ?? < ?ℎ?? ? ?? ??? ? = −1 2 .0 9 5 ? = .0 0 1). Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata partisipan memiliki derajat kecenderungan mendominasi yang cukup rendah. Begitu juga untuk variabel persepsi diperoleh hasil bahwa partisipan penelitian memiliki persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata pada umumnya (?? ? ? ?? ?? < ?
B. PEMBAHASAN
Di dalam penelitian ini kami menguji hubungan antara orientasi dominasi sosial dengan persepsi mahasiswa tentang ospek sebagai ajang kekerasan yang lumrah dan wajar. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi yang positif antara derajat orientasi dominasi sosial yang dimiliki individu dengan persepsi ospek sebagai ajang kekerasan yang wajar dan lumrah. Ini berarti bahwa semakin tinggi derajat orientasi dominasi sosial, maka semakin individu memiliki kecenderungan untuk memaklumi dan menyetujui perlakuan kekerasan di dalam ospek. Selanjutnya, pembahasan akan kami fokuskan tentang mengapa asosiasi ini dapat terjadi, kelemahan penelitian, masukan untuk penelitian lanjutan, dan bagaimana pengetahuan tentang hasil penelitian ini dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan teori social dominance individu dengan skor SDO yang tinggi akan mendukung hirarki berbasis kelompok (Pratto & Sidanius, 1999). Lebih spesifik lagi, dukungan itu diwujudkan ke dalam bentuk keyakinan yang sengaja ditanamkan dari generasi ke generasi bahwa hirarki berbasis kelompok sudah menjadi cara hidup (the way of life) di dalam suatu lingkungan sosial, yang disebut hierarchy-enhancing belief (Sidanius, Pratto, & Rabinowitz, 1994). Mengacu kepada teori tersebut, istilah senioritas dapat dilihat sebagai apa yang dimaksud oleh teori social dominance sebagai hierarchy-enhancing belief. Senioritas di kampus merupakan istilah yang biasanya dipergunakan untuk menggambarkan hubungan antara senior-junior. Senioritas umumnya dikaitkan dengan status yang selanjutnya menjadi jarak atau kesenjangan yang
36
membedakan di antara junior dengan senior dan dengan yang lebih senior atau stambuknya lebih tua lagi. Pada implikasinya senioritas ini terlihat dari bagaimana kerasnya para senior di dalam memperlakukan junior mereka, yang paling menonjol terlihat lewat cara mereka memberikan Ospek kepada juniornya di kampus. Itulah sebabnya pada umumnya kampus dengan senioritas yang kuat/ tinggi biasanya akan terkenal dengan Ospek yang lebih menyiksa atau lebih berat. Lewat metode Ospek yang keras, para senior berusaha menanamkan nilai-nilai senioritas yang tinggi dan berkesempatan untuk mempertahankannya dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan itu, persepsi senior pun akan terbentuk mengenai Ospek sebagai suatu ajang kekerasan. Dengan skor yang tinggi pada pengukuran persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan, seorang individu akan berkecenderungan untuk menganggap perlakuan-perlakuan ala Ospek sebagai suatu hal yang wajar.
Berdasarkan 3 struktur trimorfik dari teori social dominance (sistem usia, gender, dan kesewenangan), senior di kampus setidak-tidaknya dimotori oleh dua dari ketiga sistem yang ada. Yang pertama sistem usia (age system): sejalan dengan konsep senioritas yang dibahas sebelumnya, sistem yang berlaku pada proses pelaksanaan di kampus akan memberikan kekuatan sepenuhnya kepada senior atas juniornya. Yang kedua sistem kesewenangan (arbitrary set system): peraturan tak tertulis yang terkenal berlaku di dalam Ospek adalah (1) senior selalu benar, (2) senior tidak pernah salah, dan (3) jika senior salah kembali kepada poin 1 dan 2. Peraturan ini memang sifatnya tidak mengikat seperti pada peraturan tertulis yang dapat dikeluarkan oleh pihak
rektorat ataupun pemerintah. Akan tetapi di dalam dunia Ospek, apa yang terjadi memang berjalan sesuai dengan peraturan ini. Oleh karena itu setiap junior wajib mengikuti arahan dan perintah dari seniornya. Bahkan untuk hal- hal yang tidak lagi wajar hingga membahayakan diri mereka sekalipun mereka akan tetap melakukannya karena yang memerintahkannya adalah senior mereka yang tidak pernah salah.
Orientasi dominasi sosial (SDO) dalam hubungannya dengan kekerasan telah dilihat oleh beberapa penelitian terdahulu. Dalam satu penelitian yang dilakukan oleh Perkins & Bourgeois, individu-individu yang memiliki SDO tinggi ternyata berkecenderungan lebih untuk menilai penggunaan senjata oleh polisi dalam melaksanakan tugasnya sebagai hal yang lumrah dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki SDO rendah (Perkins & Bourgeois, 2006). Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut, SDO dapat dianggap sebagai suatu faktor kepribadian yang mempengaruhi persepsi mengenai penggunaan tindakan kekerasan kepada orang lain. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki SDO tinggi menilai bahwa pengambilan tindakan hukum yang keras dan kejam sebagai suatu hal yang patut dilakukan kepada tertuduh (Capps, 2002; Sidanius, Mitchell, Haley, & Navarrette, 2006). Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Hess, Gray, dan Nunez menguji hubungan antara orientasi dominasi sosial dengan persepsi individu mengenai penerapan hukuman fisik. Studi tersebut menghasilkan temuan bahwa individu dengan level SDO tinggi memiliki kecenderungan untuk mempersepsikan hukuman yang sesungguhnya sudah tergolong ke dalam penganiayaan
38
(abusement) sebagai hukuman fisik yang dianggap biasa (Hess, Gray, & Nunez, 2012).
Hasil yang didapat dari penelitian ini saling memperkuat dengan penelitian-penelitian sebelumnya seperti yang tersebut di atas. Untuk kesekian kalinya dalam setting penelitian orientasi dominasi sosial (SDO) terlihat mempunyai hubungan dengan kekerasan. Oleh karenanya, sebagai kelanjutan dari penelitian ini kami berharap agar SDO dapat dipandang sebagai suatu faktor kepribadian ataupun konstruk psikologis yang memiliki suatu keterkaitan dengan kekerasan yang terdapat di tengah-tengah lingkungan sosial. Selanjutnya sebagai implikasi dari penelitian ini, para stake holder seperti pemerintah, pihak kampus dan dekanan dapat menerapkannya ke dalam proses perekrutan keanggotaan panitia Ospek maupun komponen-komponen lain yang beresiko untuk menyalahgunakan posisinya sebagai jalan melakukan tindak kekerasan kepada maba peserta Ospek. Salah satu cara sebagai implikasi dari penelitian ini adalah dengan mengukur derajat orientasi dominasi sosial (SDO) terhadap calon panitia sebagai acuan untuk menyeleksi senior yang akan mengospek itu untuk diterima dalam kepanitiaan. Individu yang memiliki level SDO tinggi sebaiknya tidak diijinkan untuk melakukan Ospek atau ditolak menjadi panitia. Hal ini dapat menjadi suatu langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi probabilitas munculnya lagi perilaku kekerasan terhadap mahasiswa baru (maba) di dalam Ospek.
Penelitian ini menggunakan metode korelasional noneksperimen, di mana dalam penelitian ini kami tidak melakukan manipulasi terhadap variabel
bebas dan tidak memperhitungkan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi variabel tergantung seperti yang dilakukan dalam metode eksperimen, sehingga kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian tidak menggambarkan hubungan sebab-akibat di antara variabel orientasi dominasi sosial dan variabel persepsi terhadap ospek sebagai ajang kekerasan. Teknik sampling convenience yang kami gunakan dalam penelitian ini serta jumlah sampel yang sangat terbatas membuat sampel dalam penelitian ini menjadi kurang representatif terhadap keseluruhan populasi yang ada. Oleh karena itu, untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang ingin meneliti variabel yang sama ataupun yang berkaitan dengan variabel yang diteliti dalam penelitian ini sebaiknya dilakukan dalam setting eksperimen untuk dapat menarik kesimpulan berupa hubungan sebab-akibat di antara variabel-variabel yang ada. Sebagai masukan untuk penelitian mendatang, peneliti juga berharap untuk penelitian berikutnya agar menggunakan metode sampling yang lebih scientific guna menghasilkan sampel penelitian yang lebih representatif. Sehingga hasil yang diperoleh dari penelitian-penelitian mendatang menjadi lebih kredibel dan memiliki daya generalisasi yang tinggi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa individu dengan orientasi dominasi sosial (SDO) yang tinggi memiliki kecenderungan yang lebih untuk mempersepsikan Ospek sebagai ajang kekerasan. Sebaliknya, individu yang memiliki skor semakin rendah pada SDO memiliki kecenderungan yang semakin rendah pula untuk mempersepsikan Ospek sebagai ajang kekerasan. Selain itu rata-rata level dari orientasi mendominasi sosial dari keseluruhan sampel penelitian dapat dikatakan tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata level SDO pada umumnya berdasarkan perbandingan antara mean- empirik dan mean-hipotetik yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk saran secara praktis, berdasarkan hasil peneliltian disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara orientasi dominasi sosial (SDO) dengan persepsi terhadap Ospek sebagai ajang kekerasan. Sebagai implikasi dari hasil penelitian ini, peneliti menawarkan kepada para stake holder sebuah alternatif baru dalam rangka mengurangi probabilitas munculnya perilaku kekerasan yang dilakukan oleh senior maupun komponen-komponen lain
(e.g. senior non-panitia, pihak pengamanan kampus, etc.) yang biasanya memiliki peluang lebih tinggi untuk menjadi pelaku kekerasan di dalam kegiatan Ospek. Para stake holder(e.g., pemerintah, pihak kampus maupun panitia) dapat menyeleksi orang-orang yang akan terlibat di kepanitiaan serta senior-senior lain yang terlibat dalam kegiatan Ospek berdasarkan derajat orientasi dominasi sosial mereka, yaitu dengan menolak atau mengeluarkan orang-orang dengan skor SDO yang tinggi dan lebih memprioritaskan individu dengan skor SDO yang rendah untuk dapat masuk ke dalam struktur kepanitiaan. Sesuai dengan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, kami berharap hal ini dapat menjadi salah satu langkah prefentif dalam menanggulangi munculnya perilaku kekerasan yang kerap menimbulkan korban dari kalangan mahasiswa baru.
2. Berdasarkan kelemahan penelitian, yaitu bahwa penelitian ini menggunakan metode noneksperimental dengan teknik sampling nonprobability. Sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya kami menyarankan untuk melakukannya dalam setting eksperimen serta menggunakan teknik sampling probabilitas, di mana setiap orang dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel penelitian. Selain itu kami juga mengharapkan ke depannya akan dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar atau lebih representatif terhadap populasi yang ada. Hal ini dilakukan guna meningkatkan kredibilitas dan daya generalisasi penelitian.
42
3. Orientasi dominasi sosial (SDO) bukanlah satu-satunya faktor yang memiliki pengaruh ataupun keterkaitan dengan perilaku kekerasan. Masih banyak konstruk psikologis lain seperti tipologi kepribadian tertentu, budaya dan kebiasaan yang berkembang, frustasi, anxiety, bahkan faktor fisik juga dapat memiliki keterkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk memunculkan perilaku kekerasan, seperti tekanan darah, faktor keturunan/ sifat bawaan, adiksi alkohol dan obat-obatan, dan lain-lain. Untuk tujuan secara umum mengurangi terjadinya tindakan kekerasan di manapun di setiap lapisan masyarakat, perlu dikembangkan penelitian-penelitian juga mengenai faktor-faktor tersebut. Sehingga memperkaya pemahaman mengenai dinamika kekerasan itu sendiri terhadap hubungannya dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Nur, Muhammad. (2011, Oktober 10). Mahasiswa Baru MIPA UNHAS Meninggal Usai Ikut Ospek. Dipetik Oktober 15, 2012 dari DetikNews:
http://news.detik.com/read/2011/10/10/162400/1740766/10/mahasiswa- baru-mipa-unhas-meninggal-usai-ikut-ospek
Anonim. (2004). Pengenalan Kegiatan Akademik dan Kemahasiswaan, Surabaya: Universitas Airlangga
Azwar, S. (2010). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2009). Reliabiltas dan Validitas (Cetakan IX). Jakarta:Pustaka Pelajar.
Bagong, S., dkk. (2000). Tindak Kekerasan Mengintai Anak-anak Jatim. Surabaya: Lutfansah Mediatama.
Capps, J. S. (2002). Explaining punitiveness: Right-wing authoritarianism and social dominance. North American Journal of Psychology, 4, 263-278.
Chaplin,J. P. (2008). Kamus Psikologi Lengkap. Jakarta: PT Raja Grafindo
Cohen, Jacob. (1988). Statistical Power Analysis for The Behavior Sciences (2nd.ed.). Roudledge
Field, A. (2009). Discovering Statistic Using SPSS.(3th Ed.). London: Sage Publication Ltd.
44
Fraenkel J.R. and Wallen, N.E. (2008). How to Design and Evaluate Research in Education. New York: McGraw-Hill.
Gunawan, Mashar. (2004, Agustus 28). Ospek Usai Mahasiswa Baru UNHAS Trauma & Depresi. Dipetik Oktober 17, 2012 dari DetikNews: http://news.detik.com/read/2004/08/28/201939/199307/10/ospek-usai- mahasiswa-baru-unhas-trauma-depresi
Hadi, S. (2004). Metodologi Research : Jilid 2. Yogyakarta:Andi Yogyakarta.
Hanifah, Abu. (2013, November 27). Menguak Misteri Kematian Maba ITN Pada Kemah Bakti Desa Mahasiswa 2013. Dipetik November 28, 2013 dari seputarmalang.com:
http://seputarmalang.com/menguak-misteri-kematian-maba-itn-pada- kemah-bakti-desa-mahasiswa-2013.htm
Hess, C. A., Gray, J. M.., Nunez, N. L. (2012). The effect of social dominance orientation on perceptions of corporal punishment. Journal of Interpersonal Violence, 27(13), 2728-2739.
Imam. (2012, Juli 13). Mahasiswa Tewas Saat Ikuti Ospek. Dipetik Desember 10,
2012 dari PosKotaNews.com:
http://www.poskotanews.com/2012/07/13/mahasiswa-tewas-saat-ikuti- ospek/
Ikhwan, Khairul. (2009, Agustus 28). Mahasiswa ATKP Medan Tewas, Diduga Dianiaya Senior. Dipetik Juli 2013 dari detik.com: http://m.detik.com/news/read/2009/08/28/221048/1191907/10/mahasiswa- atkp-medan-tewas-diduga-dianiaya-senior
Kerlinger, F. N. (1986). Asas-asas penelitian behavioral (L. R. Simatupang, Trans.). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. (Original work published 1964)
Koppi, A. J., etc. (1998). Academic Culture, Flexibility and The National Teaching and Learning Database, University of Sydney Australia.
Kotler, Philip. (2000). Marketing Manajemen: Analysis, Planning, implementation, and Control 9th Edition, Prentice Hall International, Int, New Yersey.
Perkins, J. E., & Bourgeois, M. J. (2006). perceptions of police use of deadly force. Journal of Applied Social Psychology, 36(1), 166-177.
Pratto, F., Sidanius, J., Stallworth, L. M., Malle, B. F. (1994). Social dominance orientation: A personality variable predicting social and political attitudes. Journal of Personality and Social Psychology, 67, 741-763.
Pratto, F., Sidanius, J., Levin, S. (2006). Social dominance theory and the dynamics of intergroup relations: Taking stock and looking forward. European Review of Social Psychology, 17, 271-320.
Robbins, S.P. (2003). Perilaku Organisasi. Jilid I. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia.
Sadli, Saparinah.(1976). Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang. Jakarta: Bulan Bintang.
46
Setiadi, Bernadette N. (2000). Terjadinya Tindak Kekerasan Dalam Masyarakat: Suatu Analisis Teoritik. Jurnal Psikologi Fenomena. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945. Vol V. No.05 Februari 2000.
Sidanius, J., Pratto, F. (1999). Social dominance: An intergroup theory of social hierarchy and opression. orientation: A personality variable predicting social and political attitudes. United Kingdom: Cambridge.
Siswadi, Anwar. (2009, Februari 10). Kronologi Kematian Mahasiswa Geodesi ITB. Dipetik Oktober 15, 2012 dari Tempo.Co: http://www.tempo.co/read/news/2009/02/10/058159362/Kronologi-
Kematian-Mahasiswa-Geodesi-ITB
Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono, Prof. Dr. (2003). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Pusat Bahasa Depdiknas.
Sugiyono, Prof. Dr. (2009). Statistik untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Thalib, S. B., (2002). Dinamika Sosial Psikologis Perilaku Kekerasan Siswa. Jurnal Ilmiah Psikologi “Arkhe”. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara. Th.7/No.2/2002.
Tim penyusun. (2005). Pedoman Umum Penyelenggaraan OSPEK. Yogyakarta: UNY.
Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Yogyakarta: C.V Andi Offset.
Walgito, Bimo. (2002). Psikologi Sosial Suatu Pengantar: Edisi Ketiga. Yogyakarta: Andi.
Widiyanto, Joko. (2012). SPSS For Windows. Surakarta: Badan Penerbit-FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.
48
Lampiran 1. Aitem-aitem Skala Penelitian
Aitem Skala Social Dominance Orientation(SDO)
1. Sebagian orang memang memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi