• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

2) Ajak si Kecil berlatih menuliskan namanya sendiri

3) Tunjukkan padanya bagaimana mengikat tali sepatu dan minta Ia untuk meniru contoh dari Ibu.

4) Minta Ia untuk menaruh bola di atas sendok kemudian memegang sendok tersebut sambil berjalan di garis atau pola, Ia harus menjaga keseimbangan agar tidak menjatuhkan bola.

5) Berikan selembar kertas kosong dan pensil warna yang berbeda dan mintalah Ia untuk menggambar keluarganya secara rinci.

2. Kemampuan Gerak Lokomotor

a. Pengertian Kemampuan Gerak Lokomotor

Kemampuan merupakan hal telah ada dalam diri kita sejak lahir. Kemampuan yang ada pada diri manusia juga bisa disebut dengan potensi. Dalam hal ini banyak para ahli mengartikan kemampuan secara bervariasi akan tetapi pada dasarnya masih memiliki konteks yang sama.

Salah satunya ialah Zain (2010: 16), ia berpendapat bahwa kemampuan merupakan potensi yang ada berupa kesanggupan, kecakapan, kakuatan kita berusaha dengan diri sendiri.

Sedangkan Anggiat dan Hadiati (2008: 43) lebih mendefinisikan kemampuan lebih pada keefektifan orang tersebut dalam melakukan segala macam pekerjaan.

Seorang guru harus mampu mengembangkan kemampuan anak dalam bergerak agar anak memiliki kemampuan gerak lokomotor secara optimal. Kemampuan gerak lokomotor pada anak usia dini dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan seperti berlari, berjalan cepat, berjingjit, bermain bola dan sebagainya.

Hariwijaya (2009:27) mengemukakan bahwa motorik berasal dari kata ”motor” yang merupakan suatu dasar biologis atau mekanika yang menyebabkan terjadinya suatu gerak (Gallahue). Dengan kata lain, gerak (movement) adalah kulminasi dari suatu tindakan yang didasari oleh proses gerak motorik.

Hari Yuliarto (2010:5) mengatakan yang dimaksud gerak lokomotor ialah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh. Ada tiga unsur dalam perkembangan motorik pada manusia, yaitu :

Diagram 2.1 Unsur Motorik

OTOT SARAF OTAK Sumber : Hari Yuliarto (2010:5)

Unsur motorik mengacu pada gerakan-gerakan yang dinamakan alih getaran elektorik dari pusat otot besar ke saraf untuk kemudian ke dalam otak manusia.

Berdasarkan tiga unsur diatas bentuk perilaku gerak yang dimunculkan terbagi menjadi dua bentuk yaitu : gerak lokomotor (melibatkan otot-otot besar, saraf dan otak) dan motorik halus

(melibatkan otot-otot kecil, saraf dan otak). Ketiga unsur di atas melaksanakan masing-masing perannya secara interaksi positif, artinya unsur yang satu saling berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi dengan unsur lainnya untuk mencapai kondisi motorik yang lebih sempurna keadaannya.

Kemampuan gerak dasar pada perkembangan motorik menurut Depdiknas (2007 : 3 ) antara lain :

1) Kemampuan gerak lokomotor

Kemampuan gerak lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke temapt yang lain atau mengangkat tubuh ke atas seperti, lompat dan loncat. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, skipping, melompat, meluncur, dan lari.

2) Kemampuan gerak non-lokomotor

Kemampuan non-lokomotor dilakukan di tempat, tanpa ada ruang yang memadai. Kemampuan non-lokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat dan memutar, mengocok, melingkar, melambungkan.

3) Kemampuan gerak manipulatif

Kemampuan manipulatif dikembangkan ketika anak tengah menguasai macam-macam objek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Manipulasi objek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata kaki dan mata tangan, yang mana koordinasi ini cukup penting untuk proses berjalan dalam ruang gerak. Bentuk-bentuk kemampuan manipulatif terdiri dari ; gerakan menerima (menangkap) objek adalah kemampuan penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola karena dalam menangkap bola membutuhkan konsentrasi.

b. Perkembangan Motorik Gerak Lokomotor

Gerak Lokomotor adalah gerakan berpindah tempat, dimana

bagian tubuh tertentu bergerak atau berpindah tempat. Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain dari gerak dasar fundamental (fundamental basic movement). Keterampilan lokomotor didefinisikan sebagai keterampilan berpindahnya individu dari satu tempat ke tempat lain. Sebagian besar keterampilan lokomotor berkembang dari hasil dari tingkat kematangan tertentu, namun latihan dan pengalaman juga penting untuk mencapai kecakapan yang matang.

Keterampilan lokomotor misalnya berlari cepat, mencongklang, meluncur, dan melompat lebih sulit dilakukan karena merupakan kombinasi dari pola-pola gerak dasar yang lain. Keterampilan lokomotor membentuk dasar atau landasan koordinasi gerak kasar (gross skill) dan melibatkan gerak otot besar.

Gerakan-gerakan lokomotor adalah gerakan-gerakan yang pergi ke mana saja. Para ahli mendefinisikan gerakan lokomotor sebagai gerakan-gerakan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat atau mengembara dalam berbagai ruang, sehingga dalam bahasa Inggris disebut juga Traveling. Ini tentunya merupakan kebalikan dari gerakan non-lokomotor, yang tidak menyebabkan tubuh berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Gerakan lokomotor merupakan dasar bagi perkembangan koordinasi gerakan yang melibatkan otot-otot besar (gross-muscles), pertumbuhan otot, daya tahan dan stamina.

Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Musfiroh (2009:19) mengunkapkan teori yang menjelaskan tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen &

whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak.

Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak

mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya.

Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.

Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak. Keterampilan motorik berkembang sejalan dengan kematangan syaraf dan otot. Oleh sebab itu, setiap gerakan yang dilakukan anak sesederhana apapun, sebenarnya merupakan hasil pola interaksi yang kompleksi berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol otak.

Aktivitas anak terjadi dibawah control otak. Secara simultan dan berkesinambungan, otak terus mengolah informasi yang ia terima.

Bersamaan dengan itu, otak bersama jaringan syaraf yang membenntuk system syaraf pusat yang mencakup lima pusat control, akan mendiktekan setiap gerak anak. Dalam kaitannya dengan perkembangsn motorik anak, perkembangan motorik berhubungan dengan perkembangan kemampuan gerak anak. Gerak merupakan unsur utama dalam perkembangan motorik anak.

Hurlock (1996) menyatakan dalam Gunarti mengungkapkan lima alasan perlunya memberikan stimulasi untuk perkembangan motorik anak sejak dini, yaitu sebagai berikut.

1) Tubuh anak lebih lentur dibandingkan tubuh remaja atau orang dewasa sehingga anak lebih mudah menerima semua pelajaran.

2) Anak belum banyak memiliki keterampilan yang akan berbenturan dengan keterampilan yang baru dipelajarinya sehingga anak mempelajari keterampilan lebih mudah.

3) Secara keseluruhan anak lebih berani pada waktu kecil daripada ketika mereka telah dewasa. Oleh karena itu, mereka lebih berani mencoba sesuatu yang baru.

4) Apabila remaja dan orang dewasa merasa bosan dengan pengulangan, anak-anak justru bersikap sebaliknya. Mereka

menyenangi sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang.

Oleh sebab itu, mereka bersedia mengulangi suatu tindakan hingga pola otot terlatih untuk melakukannya secara efektif.

5) Pada usia ini anak memiliki tanggung jawab yang lebih kecil dibandingkan ketika mereka bertambah besar. Oleh karenanya mereka lebih cepat menguasai suatu keterampilan karena mereka melakukannya dengan sedikit beban tanggung jawab.

c. Indikator Kemampuan Gerak Lokomotor

Kemampuan inti dari gerak lokomotor bertumpu pada kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan yang tinggi untuk menangani benda.

Musfiroh (2009: 89) mengungkapkan, komponen inti dari kecerdasan gerak lokomotor adalah kemampuan-kemampuan motorik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsang (proprioceptive) dan hal yang berkaitan dengan sentuhan(tactile dan haptic).

Sebagian dari anak yang berkembang dalam Gerak lokomotor terlihat menonjol dalam aktivitas motorik halus, seperti mengetik, menggambar, memperbaiki, menjahit (menjelujur), meniru tulisan/menulis, menggunting, mewarnai, dan keterampilan motorik lain. Koordinasi tangan dan mata mereka sangat baik dibanding anak-anak sebayanya.

Menurut Musfiroh (2008: 6.7), dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Kecerdasan Majemuk menyatakan bahwa pada anak usia dini (sampai 0-6 tahun) kecerdasan gerak lokomotor terdeteksi melalui indikator berikut.

1) Anak terlihat aktif, terus bergerak, jarang tampak diam sekalipun sedang tidak enak badan, berjalan jalan di kelas pada saat mengerjakan tugas di meja, sebentar-sebentar keluar lalu masuk ke kelas lagi, sebentarsebentar berdiri, berjalan, lalu duduk lagi.

2) Anak memiliki kekuatan yang tampak menonjol dari anak sebayanya, berani berayun, memanjat bola dunia, papan panjatan, melompat dengan kuat & mendarat dengan tepat.

3) Anak suka menyentuh-nyentuh benda yang baru dilihatnya, memegang-megang krayon yang baru dibelikan, menyentuh tombol televisi, bermain dengan tuts pianika, memegang cat basah, sangat peka terhadap tekstur. Anak terlibat dalam kegiatan motorik sepak bola, berenang, dan bersepeda.

Ditemukan anak perempuan TK A yang memiliki kegemaran sepak bola, memiliki tendangan yang kuat dan akurat, serta kemampuan berlari yang sangat baik.

4) Anak unggul dalam kompetisi aktivitas motorik atau olahraga di lingkungan lembaga PAUD seperti lomba lompat kodok, menendang bola, berlari, merebut bola.

5) Anak pandai menirukan gerakan-gerakan orang lain, membungkuk seperti orang tua, merangkak, seperti adik bayi, mengayun-ayunkan, tangan, seperti orang kampanye, menirukan gerakan teman yang menangis, hantu Cina yang melompat, dan menirukan gaya mengajar bu guru di depan kelas (usia 3-6 tahun).

6) Anak menikmati kegiatan bermain tanah atau 'pasir (usia 2 -4 tahun), melukis dengan jari, kegiatan menanam, mengecat (usia 4-6 tahun).

7) Anak relatif luwes saat berbicara karena menggunakan gerakan tubuh sebagai pendukung, menggerakkan tangan saat berbicara, serta terlihat luwes saat menari (3-6 tahun).

8) Anak memiliki keseimbangan yang bagus dari teman sebaya, tidak jatuh saat meniti titian, memiliki pijakan kaki yang lebih mantap, menggerakkan tangan seperti terbang tanpa jatuh, dan menikmati kegiatan motorik yang menantang (3-6 tahun) 9) Anak memiliki ketahanan motorik yang baik, kuat berdiri satu

kaki lebih lama dibandingkan teman sebaya, lebih lama bertahan

dalam kegiatan motorik).

Menurut Aqib dkk. (2009: 41) beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk menilai kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran untuk mengembangkan gerak lokomotor adalah sebagai berikut:

1) Aspek Minat

a) Senang mengikuti pembelajaran b) Konsentrasi terhadap pembelajaran c) Menyiapkan diri dalam pembelajaran

d) Memiliki keinginan mengikuti kegiatan pembelajaran 2) Aspek Perhatian

a) Memperhatikan penjelasan guru b) Memperhatikan pendapat teman c) Tidak mengganggu teman saat belajar d) Tidak membuat keributan

3) Aspek Kedisiplinan

a) Datang ke sekolah tepat waktu b) Memiliki rasa tanggungjawab c) Mengerjakan tugas dengan baik d) Mengikuti kegiatan sesuai waktu 4) Aspek keaktifan

a) Menjawab pertanyaan b) Mengajukan pertanyaan c) Menyampaikan gagasan

d) Tidak bosan mengikuti kegiatan 5) Aspek Keberanian

a) Memiliki rasa percaya diri

b) Berani tampil di hadapan teman-teman c) Memiliki sikap mandiri

d) Tidak malu dalam belajar

Sedangkan beberapa indikator kemampuan gerak lokomotor dalam kegiatan bermain bola basket mini yang terdapat dalam pedoman struktur kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

1) Stimulasi memantulkan bola

Dalam permainan bola basket mini, anak dikenalkan pada bentuk bola basket yang dapat dijaukau oleh anak yaitu ukuran bola basket kecil sehingga dapat memudahkan anak saat belajar untuk memantulkan bola tersebut. Ajarkan anak cara memantulkan bola dengan dua tangan dan juga satu tangan.

2) Stimulasi menangkap bola

Dalam permainan bola, anak akan mengenal istilah menangkap bola. Ajarkan anak agar mampu menangkap bola secara tepat hingga bola tersebut tidak terjatuh.

3) Stimulasi melempar bola

Dalam permainan bola basket, anak akan belajar melemparkan dan memasukkan bola ke dalam kerangjang atau ring bola basket. Ajarkan anak cara memasukkan bola dengan benar agar anak mampu melemparkan bola secara terarah.

Untuk indikator kemampuan anak dalam permainan bola basket mini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Lingkup

Perkembangan Kompetensi Dasar Indikator Motorik

- Melempar bola secara terarah (memasukan bola ke dalam keranjang) - Menangkap bola secara

tepat

- Melakukan koordinasi gerakan mata-kaki-tangan-kepala dalam memantulkan bola

d. Fase Perkembangan Gerak lokomotor

Montolalu (2008:1.10) menjelaskan tentang fase perkembangan gerak lokomotor pada anak mulai usia 0 sampai 6 tahun.

1) Anak usia 0-2 tahun

Secara umum pada masa bayi anak usia 0-2 tahun, anak mengalami perubahan yang pesat bila dibandingkan dengan yang akan dialami pada fase-fase berikutnya. Anak sudah memiliki kemampuan dan keterampilan dasar yang berupa: keterampilan lokomotor (berguling, duduk, berdiri, merangkak dan berjalan), keterampilan memegang benda, penginderaan (melihat, mencium, mendengar dan merasakan sentuhan), maupun kemampuan untuk mereaksi secara emosional dan sosial terhadap orang-orang sekelilingnya. Segala bentuk stimulus (verbal maupun nonverbal) dari orang lain akan mendorong anak untuk belajar tentang pengalaman-pengalaman sensori dan ekspresi perasaan meskipun anak belum mampu memahami kata-kata.

Menurut Monks (1992:74-75) menyatakan bahwa stimulasi verbal ternyata sangat penting untuk perkembangan bahasa. Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas vokalisasi seorang anak dapat bertambah dengan pemberian reinforsement verbal. Stimulasi verbal yang terus menerus juga akan memudahkan anak untuk belajar melafalkan suara-suara dan Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan motorik dan psikis yang sangat pesat. gerakan-gerakan yang mengkomunikasikan suasana emosinya, seperti marah, cemas, tidak setuju dan lain-lain.

2) Anak usia 2-3 tahun

Pada fase ini anak sudah memiliki kemampuan untuk berjalan dan berlari. Anak juga mulai senang memanjat, meloncat, menaiki sesuatu dan lain sebagainya.

Solehuddin (1997: 38) berpendapat bahwa pada anak usia 2-3 tahun lazimnya sangat aktif mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya. Anak memiliki kekuatan observasi yang tajam. Anak juga menyerap dan membuat perbendaharaan bahasa baru, mulai belajar tentang jumlah, membedakan antara konsep satu dengan banyak dan senang mendengarkan cerita-cerita sederhana, yang kesemuanya diwujudkan anak dalam aktivitas bermain maupun komunikasi dengan orang lain. Kemampuan anak menguasi beberapa patah kata juga mulai berkembang. Anak mulai senang dengan perckapan walaupun dalam bentuk dan kalimat yang sederhana. Selain itu juga, sikap egosentrik anak sangat menonjol. Anak belum bisa memahami persoalan-persoalan yang dihadapinya dari sudut pemikiran orang lain. Anak cenderung melakukan sesuatu menurut kemauannya sendiri tanpa memperdulikan kemauan dan kepentingan orang lain. Sebagai contoh, anak sering merebut mainan dari orang lain jika anak menginginkannya.

3) Anak usia 3-4 tahun

Secara umum, anak pada fase ini masih mengalami peningkatan dalam berperilaku motorik, sosial, berfikir fantasi maupun kemampuan mengatasi frustasi. Untuk kemampuan motorik, anak sudah menguasai semua jenis gerakan-gerakan tangan, seperti memegang benda atau boneka. Akan tetapi sifat egosentriknya masih melekat. Tingkat frustasi anak juga cenderung menurun. Hal ini disebabkan adanya peningkatan kemampuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya secara lebih aktif atau sudah ada sifat kemandirian anak. Pada usia ini anak memiliki kehidupan fantasi yang kaya dan menuntut lebih banyak kemandirian. Dengan kehidupan

fantasi yang dimilikinya ini, anak akan memperlihatkan kesiapannya untuk mendengarkan cerita-cerita secara lebih lama, bahkan anak juga sudah dapat mengingatnya. Selanjutnya dengan sifat kemandirian yang dimilikinya mulai membuat anak tidak mau banyak diatur dalam kegiatankegiatannya. Pada aspek kognitif anak juga sudah mulai mengenal konsep jumlah, warna, ukuran dan lain-lain.

4) Anak usia 4-6 tahun

Ciri yang menonjol anak pada usia ini adalah anak mempunyai sifat berpetualang (adventuroussness) yang kuat.

Anak banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang apa sempat ia lihat atau didengarnya. Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan benda-benda di sekitarnya membuat anak senang bepergian sendiri untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkugan disekitarnya sendiri. Pada perkembangan motorik, anak masih perlu aktif melakukan berbagai aktivitas. Sejalan dengan perkembangan motoriknya, anak usia ini makin berminat terhadap teman sebayanya. Anak sudah menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerjasama dengan teman lain terutama yang memiliki kesenangan dan aktivitas yang sama.

Berdasarkan tahap perkembangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan motorik dan psikis yang sangat pesat.

3. Bermain dan Permainan Anak Usia Dini

Dokumen terkait