• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

6. Ajaran-ajaran LDII

Sehingga dalam pengajian ini dibina agar para lansia bisa menjaga najis, semangat dalam bangun malam sholat sunah untuk menambah pahala disisi alloh, supaya tidak lagi begitu memikirkan perkara dunia agar selalu fokus pada perkara agama sehingga bisa mati dalam keadaan mati yang baik. Karena walaupun semasa mudanya beribadah sungguh sungguh namun dimasa tuanya tidak lagi beribadah maka akan mengakibatkan masuk kedalam neraka. Sabda Nabi SAW

"Sesungguhnya pengamalan itu dilihat dari akhirnya". Sehingga masa lansia adalah masa yang perlu perhatian khusus.

6) Pengajian Umum

Pengajian umum merupakan forum gabungan antara beberapa jama‟ah PAC dan PC LDII. Pengajian ini juga merupakan wadah silaturahim antar jama‟ah LDII untuk membina kerukunan dan kekompakan antar jama‟ah. Agar saling kenal mengenal antar warga LDII sesuai dengan firman alloh dalam surat al-Hujraat yang isinya supaya saling kenal mengenal.41Semua pengajian LDII bersifat terbuka untuk umum, siapapun boleh datang mengikuti setiap pengajian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

6. Ajaran-Ajaran LDII

39

sambil ditulis baik makna atau keterangannya. Sebelumnya mengajar mereka bersama-sama mempelajari ataupun bermusyawaroh beberapa waktu terlebih dahulu sebelum menyampaikan pelajaran dari al-Quran dan Hadis kepada para jama‟ah pengajian rutin atau kepada para santriwan dan santriwati di pondok-pondok LDII, untuk menjaga supaya tidak terjadi kekeliruan dalam memberikan penjelasan tentang pemahaman al-Quran dan Hadis. Kemudian guru mengajar murid secara langsung atau manqu l baik bacaan, makna (diterjemahkan secara harfiyah), dan keterangan, dan untuk bacaan al-Qur‟an memakai ketentuan tajwid.42

Manqu l berasal dari bahasa Arab, yaitu Naqola-Yanqulu, yang artinya “pindah”. Maka ilmu yang manqu l adalah ilmu yang dipindahkan atau transfer dari guru kepada murid. Dengan kata lain, Manqul artinya berguru, yaitu terjadinya pemindahan ilmu dari guru kepada murid.

Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad dalam Hadis Abu Daud, yang berbunyi: Yang artinya: “Kamu sekalian mendengarkan dan didengarkan dari kamu sekalian dan didengar dari orang yang mendengarkan dari kamu sekalian”.

Dalam pelajaran tafsir, “Tafsir Manqu l” berarti mentafsirkan suatu ayat Qur‟an dengan ayat Qur‟an lainnya, menafsirkan ayat al-Quran dengan Hadis, atau mentafsirkan al-Qur‟an dengan fatwa sahabat.

Dalam ilmu Hadis, “manqu l” berarti belajar Hadis dari guru yang

42 DPP LDII, Direktori LDII, 12.

mempunyai isnad (sandaran guru) sampai kepada Nabi Muhammad.

Dasarnya adalah ucapan Abdulloh bin Mubarok dalam Muqaddimah Hadis Muslim, yang berbunyi: Yang artinya: “Isnad itu termasuk agama, seandainya tidak ada isnad niscaya orang akan berkata menurut sekehendaknya sendiri”.

Dengan mengaji yang benar yakni dengan cara manqu l, musnad dan muttashil (persambungan dari guru ke guru berikutnya sampai kepada shohabat dan sampai kepada Nabi Muhammad), maka secepatnya kita dapat menguasai ilmu al-Quran dan h adis dengan mudah dan benar. Dengan demikian, kita segera dapat mengamalkan apa yang terkandung di dalam al-Quran dan h adis sebagai pedoman ibadah kita.

Dan sudah barang tentu penafsiran al-Quran harus mengikuti apa yang telah ditafsirkan oleh Nabi Muhammad.

2) Sumber Hukum LDII

Sumber hukum LDII adalah al-Qur‟an dan h adis. Dalam memahami al-Qur‟an dan H adis, ulama LDII juga menggunakan ilmu alat seperti ilmu nah wu, shorof, badi‟, ma‟ani, baya n, mantek, balaghoh, usul fiqih, mustholahul-h adits, dan sebagainya. Ibarat orang akan mencari ikan perlu sekali menggunakan alat untuk mempermudah menangkap ikan, seperti jala ikan. Perumpamaannya adalah seperti orang yang akan mencari jarum di dalam sumur perlu menggunakan besi semberani. Untuk memahami arti dan maksud ayat-ayat al-Qur‟an tidak cukup hanya dengan penguasaan dalam bahasa ataupun ilmu

41

shorof saja. Al-Qur‟an memang berbahasa Arab tapi tidak berarti orang yang mampu berbahasa Arab akan mampu pula memahami arti dan maksud dari ayat-ayat al-Qur‟an dengan benar. Penguasaan di bidang bahasa Arab hanyalah salah satu kemampuan yang patut dimiliki oleh seorang da‟i atau muballigh, begitupun ilmu alat (nahwu dan shorof).

Di LDII untuk memahami arti dan maksud dari ayat-ayat al-Qur‟an maka para da‟i ataupun para muballigh atau ghoh harus memiliki kemampuan-kemampuan sebagaimana berikut43:

a. Ilmu balaghoh, yaitu ilmu yang dapat membantu untuk memahami dan menentukan mana ayat-ayat yang mansukh (diganti/ralat) dan mana ayat-ayat yang nasikh (gantinya), dan mana ayat-ayat yang merupakan petunjuk larangan (pencegahan).

b. Ilmu kala m, yaitu ilmu tauhid yang membicarakan tentang keesaan Allah, sekaligus membicarakan sifat-sifat-Nya.

c. Ilmu asba bun nuzu l, yaitu ilmu yang membahas sebab-musabab turunnya ayat-ayat al-Qur‟an. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui situasi dan kondisi bagaimana dan kapan serta dimana ayat suci al-Quran diturunkan.

d. Ilmu qiro‟at, yaitu ilmu yang membahas macam-macam bacaan yang telah diterima dari Nabi Muhammad (Qiro‟atus Sab‟ah).

43 Sirojudin, wawancara, Jember, 10 maret 2016.

e. Ilmu wuju h wan-nadza ir, yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata dalam al-Qur‟an yang mempunyai arti banyak.

f. Ilmu tajwid, yaitu ilmu yang membahas cara-cara yang benar dalam membaca al-Qur‟an.

g. Ilmu gho ribil Qur‟an, yaitu ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa atau tidak juga terdapat dalam percakapan sehari-hari.

h. Ilmu ma‟rifa tul muhkam wal mutasya bih, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat hukum dan ayat-ayat yang mutasyabihah.

i. Ilmu tana subi aya til Quran, yaitu ilmu yang membahas munasabah atau persesuaian atau kaitan antara satu ayat dalam al-Qur‟an dengan ayat yang sebelum dan sesudahnya.

j. Ilmu amtsa lil Quran, yaitu ilmu yang membahas segala perumpamaan atau permisalan.

Dokumen terkait