• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ajaran KM: TRITUNGGAL itu SALAH

KATEGORI MENJAWAB MESIANIK PERBANDINGAN AJARAN PERIHAL NAMA SUCI

PERBADINGAN AJARAN LAINNYA

39. Ajaran KM: TRITUNGGAL itu SALAH

Nasrani megajarkan bahwa Tuhan (Aram: Alaha) itu SATU, Dia adalah Maryah Alaha, Sang Pencipta. Semua rasul dan para murid yang diutus dalam ladang-ladang penginjilan memahami Alaha yang satu ini dalam nuansa pengajaran semitik (Aramiak-Ibrani). Alaha yang satu ini, bisa dibedakan menjadi 3 aspek (aramaik: qnume), yaitu Sang Bapa, Sang Putra, dan Sang Bunda Roh Kudus. Ketiga aspek ini berperan dalam penciptaan. Alaha itu satu, dengan 3 aspek bukan 3 pribadi. Sebab kata ‘pribadi’ tidak bisa dilekatkan pada Tuhan, hanya kepada manusia. Ketigannya ini disebut sebagai Tlithayutha.

Sang Bapa adalah sumber segalanya, Sang Putra adalah Sang Sabda (Aram: Miltha) yang memulai penciptaan, sementara Sang Bunda Roh adalah Yang Menghidupkan. Ketiganya hanya aspek dari Keilahian (Aram: Alahota) yang bekerja bersamaan. Saat selesai penciptaan, Tuhan yang Maha Segalanya, tidak bisa hadir secara langsung ke bumi. Mengapa? Karena Dia adalah Api Yang Menghanguskan (Aramaik: Aisha dMiltha, Ibrani 12:29). Oleh karena itu, Sang Putralah yang datang ke bumi dan berkontak dengan banyak manusia dari banyak suku bangsa, salah satunya adalah Mosha, dari Israel. Dia memperkenalkan Nama-Nya YHWH (baca: Maryah). Sang Miltha bisa berwujud apa saja saat Dia berkontak dengan manusia, dari referensi Tanakh, bisa dilihat bahwa Dia sempat menjadi Imam Besar Melkisedek yang menjumpai Avraham, Sempat menjadi Semak Duri Terbakar tapi tidak hangus, sempat menjadi Tiang Awan dan Tiang Api, dan lainnya bahkan dalam wujud Teofani menjadi Malakh (Malaikat). Dialah Sang Putra. Sang Bunda Roh Kudus adalah aspek Feminim Alaha. Dalam Bahasa Ibrani, kata ‘Ruach’ dan Bahasa Aramaik kata ‘Rukha’ (Indonesia: Roh) itu bergender Feminim. Saat diterjemahkan ke dalam Yunani, gendernya berubah. Sama seperti Sang Bapa bukan berarti Tuhan itu berjenis kelamin seperti dewa pagan atau manusia, demikian juga Sang Roh, bukanlah Dewi Pagan atau wanita. Ini hanya ungkapan saja, bahwa Bapa dan Bunda beserta Putra adalah Konsep keluarga yang datang dari Sorga. Keluarga adalah sebuah lembaga yang dibentuk di sorga dan diturunkan kepada manusia. Lebih jauh, kata ‘Shakinah’ berasal dari kata ibrani ‘Shakan’ itu artinya adalah Hadirat Tuhan. Itu juga adalah Tuhan dalam gender Feminim, itulah Sang Roh Kudus yang tercatat di dalam Tanakh. Di dalam Surat Kisah Rasul Thomas tercatat jelas bahwa sosok ini disebut sebagai BUNDA ROH KUDUS.21 Frasa ‘El Shaddai’ dalam Bahasa Ibrani, arti harafiahnya adalah ‘Tuhan Payudara’. Ini adalah frasa yang bermakna bahwa Tuhan itu pemelihara seperti seorang bunda yang menyusui si anak. Frasa ini menampilkan sosok kelembutan Tuhan. Perhatikan bedanya dengan karakter Sang Bapa yang tegas, menghukum yang salah, bahkan membunuh musuh untuk menjaga anak-Nya. Itulah peran Sang Bapa yang maskulin. Sekali lagi, ketiganya bukan tiga Pribadi, hanya tiga aspek saja. Ketiganya bukan manusia yang memiliki alat kelamin, itu hanya Gambaran karakter saja. Tuhan sebenarnya ya hanya itu-itu saja. Dia tidak berubah dari dahulu, sekarang, dan selamanya. Inilah Sang Tlithayutha itu.

Di saat kitab-kitab PB diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, barulah muncul istilah ‘trinity’ (eng) atau ‘Trinitas’ (Indonesia). Saat proses penerjemahan, ada banyak kata semitik (Aramaik-Ibrani) yang tidak tepat diterjemahkan, maklum saja memang demikianlah tantangannya dalam penerjemahan. Oleh karena itu sama sekali tindakan yang kurang bijak, mencoba memahami kitab terjemahan tanpa memahami tradisi semitik Nasrani. Nasrani lahir dari Rahim Judaism, lahir di alam semitik bukan Helenis, bukan Inggris, bukan Jawa, dan lain-lain. Pahamilah kitab suci Nasrani dengan pola pikir kembali ke akar semitik (aramaik dan Ibrani).

Jika memakai pola pikir Helenis yang biasa dengan penyembahan dewa-dewi, maka akan berefek pada pemahaman Tuhan yang terdiri dari 3 (tiga) pribadi. Ini tentu saja berbeda pemahaman dengan pola pikir semitik yang dengan tegas mengajar bahwa Tuhan itu satu. Satu ya satu bukan tiga. Helenisme akan menekankan pada angka 3, sementara semitik akan menekankan 1-nya. Tuhannya sama, hanya dari mana pendekatan itu diambil, maka akan menimbulkan pengajaran yang berbeda penekanan.

21 Kisah Rasul Thomas 4:39 terjemahan GNI“…kami menyembah dan memuji Engkau dan Bapa yang tidak terlihat dan Bunda dari semua ciptaan.”

40. Ajaran KM: Yeshua dan para murid-Nya berbahasa Ibrani. Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Kendati nama Yeshua itu adalah nama Ibrani, bukan berarti Dia berbahasa Ibrani, demikian juga dengan murid-murid-Nya. Tidak ada tradisi Judaism, nama dan bahasa sehari-hari itu haruslah sama. Sama saja dengan tradisi orang Indonesia yang tinggal diperkotaan, banyak yang memberi nama anak mereka ke-Barat-Baratan, tapi tetap saja si anak tidak berbahasa Inggris, tetapi berbahasa Indonesia seperti ibu bapaknya. Yeshua juga demikian, Dia sesuai tradisi bernama Ibrani, namun berbahasa sehari-hari Aramaik. Setali tiga uang dengan Maran Yeshua, para murid-Nya juga demikian. Mereka semua berbahasa sehari-hari Aramaik Dielek Galilea, karena kebanyakan dari sana. Pengajaran Yeshua dan para murid berbahasa Ibrani berasal dari Messinic Jewish yang juga terpengaruh dari adanya kebangkitan negara Israel di abad 20. Pada suatu kesempatan, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa bahasa Yeshua adalah Ibrani, hal ini dibantah oleh Paus Francis yang menjelaskan bahwa bahasa-Nya saat itu adalah Aramaik. Perbedaan pendapat ini menjadi sorotan media masa saat keduanya bertemu Mei 2014 yang lalu.

Gambar PM Israel dan Paus Francis Roma Katolik. Sumber: washingtonpost.com

Sebagai gereja yang berdiri di abad 1, Gereja-gereja Rasuliah bisa memahami dengan jelas dan cukup detail apa yang terjadi pada Yeshua, karena gereja rasuliah adalah saksi matanya. Saat itu negara Israel belum ada, komunitas

Mesianic Jewish belum ada, apalagi Kristen Mesianik. Jadi, sumber referensi yang paling kuat untuk mengetahui

bahasa apa yang dipakai oleh Yeshua sehari-hari tentunya adalah gereja rasuliah sendiri yang terus eksis sampai abad 21 ini.

Selain dari sumber pengajaran Gereja Rasuliah, fakta bahwa Yeshua dan Yehudim di abad 1 berbahasa Aramaik, bisa didapatkan dari para sejarawan yang menyatakan pendapat bahwa Aramaik dialek Galilea adalah bahasa sehari-hari Yeshua dan para murid-Nya. Pada waktu itu, Aramaik adalah bahasa lingua frangka untuk yehudim.22

41. Ajaran KM: Kristen Mesianik mengaku sebagai penerus Umat Nasrani atau Jemaat Perdana. Perbandingan dengan ajaran Gereja Nasrani Indonesia:

Jemaat Nasrani sejak abad 1 selalu dipimpin oleh Uskup (Imam Tertahbis), bukan oleh pendeta. Nasrani tidak puya hubungan dengan kependetaan. Jemaat Nasrani selalu diajarkan untuk tunduk pada Uskup sebagai perwakilan

Maran Yeshua, bukan kepada pendeta atau Rabbi-Rabbi yahudi Mesianik. Kepemimpinan Nasrani bisa bertahan

karena melestarikan tradisi qadishot Semikha HaSliakhanuth (Pentahbisan), tidak hanya sekedar doa plus tumpang tangan dalam peribadatan tanpa siddur (liturgy) asing untuk mengangkat seorang pemimpin komunitas. Kepemimpinan Sanhendrin Nasrani selalu berbentuk kolegial keuskupan yang berisi uskup-uskup yang ditahbiskan dengan ritual Semikha HaSlikanuth bukan sinode kumpulan pendeta. Jemaat Nasrani diajarkan untuk tidak melakukan Torah Sinai (LAI: Hukum Taurat), bukan malah ikut-ikutan melakukannya seperti kaum Yehudim. Jemaat

22Allen C. Myers, ed, "Aramaic".The Eerdmans Bible Dictionary. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans.

Nasrani beribadah dengan siddur peribadatan kuno, misalnya Siddur Mar Yakub HaTzadiq (St James Divine Liturgi) yang dibuat th 50M, bukan siddur buatan lokal oleh pendeta lokal atau adaptasi dari peribadatan Messianic Jewish. Jemaat Nasrani adalah komunitas yang kaya akan Tradisi (Oral Torah), bukan yang menolak tradisi (Sola Scriptura) dan mengadopsi tradisi Farisi.

Seorang pendeta bukan berarti mereka adalah orang yang jahat, banyak pendeta baik dengan tulus melayani Tuhan Ini bukan masalah pribadi, ini murni masalah pengajaran saja. Banyak pendeta yang tidak memahami sejarah akibat berada dalam sistem pendidikan agama yang keliru. Mereka dididik untuk langsung membaca kitab suci tanpa memahami tradisi, tanpa memahami latar belakang sejarahnya.

Nama ‘Nasrani’ sendiri tidak pernah dipatenkan, sehingga siapapun bisa saja mencatut nama kuno ini dan mengklaim diri sebagai bagian umat kuno Yeshua. Faktanya sekarang, ada benar-benar umat Nasrani yang sekuat tenaga melestarikan ajaran kuno dan ada yang membuat ajaran anyar. Intinya adalah Kristen Mesianik itu bukanlah Nasrani kuno.