• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Akad Jual Beli dalam Fiqh Islam

2. Macam-macam Akad

Akad secara harfiah berarti ikatan, yakni mengadakan ikatan persetujuan atau ikatan untuk memberi dan menerima bersama-sama dalam satu waktu.12 Artinya, ikatan itu menimbulkan sesuatu yang harus dipenuhi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 1 yang berbunyi:

أ

غ ع ٰ َ ع ْا أ ۚ قع ا ف أ ا آ ا ”

“ َ ۗ أ ا

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tiddak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”

Akad (ikatan, keputusan, penguatan) atau perjanjian atau kesepakatan atau transaksi dapat diartikan sebagai komitmen yang terbingkai dengan nilai-nilai syariah. Dalam istilah Fiqih, secara umum akad berarti sesuatu yang menjadi tekad seseorang untuk melaksanakan baik yang muncul dari satu pihak seperti wakaf, talak, dan sumpah, maupun yang muncul dari dua pihak seperti jual beli, sewa, wakalah, dan gadai.13

2. Macam-Macam Akad

Akad Tijarah adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction. Akad-akad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena itu

12

Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, cet.3, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada,2004), h.65.

13

bersifat komersil. Contoh akad tijarah adalah akad-akad investasi, jual beli, dan sewa menyewa. Yang termasuk kedalam akad tijari yaitu murabahah, salam istishna,

ijarah, dan musyarakah.14 a. Murabahah

Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu. Dalam akad Murabahah, penjual menjual barangnya dengan meminta kelebihan atas harga beli dengan harga jual. Perbedaan antara harga beli dan harga jual barang disebut dengan margin keuntungan.15

Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu.16

1) Dasar Hukum Murabahah

a) Al-Qur’an

“ ا ع ا َ أ ”

"..dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS. Al-Baqarah:275).

14

Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, h.70.

15

Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), h.138.

16

25

b) Al-Hadits

Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda,“Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah,

bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah).

c) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No.04/DSNMUI/IV/2000, tentang MURABAHAH.

2) Syarat dan Rukun Murabahah

a) Syarat Murabahah

(1) Penjual memberi tahu biaya modal kepada nasabah.

(2) Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan. (3) Kontrak harus bebas dari riba.

(4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.

(5) Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

b) Rukun Murabahah

Rukun dari akad Murabahah yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu:

barang untuk dijual, dan musytari (pembeli) adalah pihak yang memerlukan dan akan membeli barang;

(2) Objek akad, yaitu mabi’ (barang dagangan) dan tsaman (harga); (3) Shight, yaitu Ijab dan Qabul.

b. Bai’As-Salam (In-front Payment Sale) 1) Pengertian Bai’as-Salam

Dalam pengertian yang sederhana, bai’ as-salam berarti pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari, sedangkan pembayarannya dilakukan di muka.Salam dalam istilah fiqih disebut juga salaf. Secara etimologi, kedua kata tersebut memiliki makna yang sama, yaitu mendahulukna pembayaran dan mengakhirkan barang. Penggunaan kata salam biasanya digunakan oleh orang-orang Hijaz, sedangkan penggunaan kata salaf biasanya digunakan oleh orang-orang Irak.17

Dalam menggunakan akad salam, hendaknya menyebutkan sifat-sifat dari objek jual beli salam yang mungkin bisa dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang ditakar, ditimbang maupun diukur. Disebutkan juga jenisnya dan semua identitas yang melekat pada barang yamg dipertukarkan yang menyangkut kualitas barang tersebut. jual beli salam juga dapat berlaku untuk mengimport barang dari luar negeri dengan menyebutkan sifat-sifatnya, kualitasnya dan kuantitasnya. Penyerahan

17

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), h.143.

27

uang muka dan penyerahan barangnya dapat dibicarakan bersama dan biasanya dibuat dalam suatu perjanjian.18

Dalam dunia bisnis modern, bentuk jual beli salam dikenal dengan pembelian dengan cara pesan (indent).19 Tujuan utama dari jual beli salam adalah untuk saling membantu dan menguntungkan antara konsumen dan produsen.

2) Dasar Hukum Jual Beli Salam

a) al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 282 :

“ۚ ك ف س جأ ٰ ا ا ا آ ا أ ”

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis diantara kamu

menuliskannya dengan benar.”20

b) al-Hadits

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw datang ke Madinah dimana penduduknya melakukan salaf (salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu,dua, dan tiga tahun. Beliau berkata,

“ ع جأ ع ع ك فف ء ش ف ف سأ ”

18

M. Alis Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, h.144.

19

Mustafa Kemal, Fikih Islam, (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003), h.356.

20

“Barang siapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan

dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka

waktu yang diketahui.”

Berdasarkan hadis tersebut, jual beli salam ini hukumnya dibolehkan, selama ada kejelasan ukuran, timbangan dan waktunya ditentukan. Dasar hukum jual beli ini telah sesuai dengan tuntutan syariat dan kaidah-kaidahnya. Bahkan dalam prakteknya, jual beli salam juga tidak meyalahi qiyas yang membolehkan penangguhan penyerahan barang seperti halnya dibolehkannya penangguhan pembayaran.21

3) Rukun dan Syarat Bai’ as-Salam

Adapun rukun jual beli salam menurut jumhur ulama, terdiri atas: a) Muslam (Pembeli)

b) Muslam ilaih (Penjual) c) Muslam fiihi (Objek Barang) d) Sighat (Ijab dan Qabul)

Syarat, terdiri atas: a) Syarat orang yang berakad

Ulama Malikiyah dan Hanafiyah mensyaratkan aqid (muslam dan muslam ilaih) harus berakal, yakni sudah mumayyiz, anak yang agak besar yang pembicaraan dan jawabannya dapat dipahami, serta berumur minimal 17 tahun. Oleh karena itu

21

29

anak kecil, orang gila dan orang bodoh tidak boleh menjual harta sekalipun itu miliknya.22

b) Syarat yang terkait dengan pembayaran atau harga, diantaranya:

Alat bayar harus diketahui dengan jelas jumlah dan jenisnya oleh pihak yang terlibat dalam transaksi.

(1) Pembayaran harus dilakukan seluruhnya ketika akad telah disepakati. (2) Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.23

c) Syarat yang terkait dengan barang, diantaranya:

(1) Barangnya menjadi utang atau tanggungan bagi penjual. Dengan demikian barang pesanan yang telah menjadi tanggungan pihak penjual, keberadaannya tidak boleh diserahkan kepada pihak lain. (2) Komoditinya harus dengan sifat-sifat yang jelas, misalnya dengan

disebutkan jenis, warna, ciri-ciri, macam dan ukurannya.24

(3) Barang yang dipesan harus tersedia dipasaran sejak akad berlangsung sampai tiba waktu penyerahan.

(4) Barang yang dipesan dalam akad salam harus barang yang banyak pandanannya di pasaran yang kuantitasnya dapat dinyatakan melalui hitungan, takaran atau timbangan.

(5) Penyerahan barang dilakukan dikemudian hari.25

22

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, h.74.

23

Muhammad, Model-model Akad Pembiayaan di Bank Syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2009), h.79.

24

Abdul Fatah Idris dan Abu Ahmadi, Terjemahan Ringkas Fiqih Islam Lengkap, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h.141.

d) Syarat tentang waktu dan penyerahan barang

(1) Mengenai tenggang waktu penyerahan barang dapat saja ditentukan tanggal dan harinya, tetapi tidak semua jenis barang dapat ditentukan demikian.26

(2) Syarat tentang penyerahan barang

Pihak-pihak yang bertransaksi harus menunjuk tempat untuk penyerahan barang yang dipesan, ketentuan ini ditetapkan apabila untuk membawa barang pesanan diperlukan biaya pengiriman atau tempat terjadinya transaksi tidak layak dijadikan tempat penyerahan barang seperti ditengah gurun.

Jika kedua belah pihak tidak mencamtukan penentuan tempat serah terima, jual beli salam tetap dinyatakan sah, dan tempat penyerahan bisa ditentukan kemudian. Hal ini dikarenakan tidak ada hadis yang menjelaskannya.27

c. Istishna

1) Pegertian Istishna

Akad Istishna adalah transaksi terhadap barang dagangan dalam tanggungan yang diisyaratkan untuk mengerjakannya.28 Objek transaksinya adalah barang yang harus dikerjakan dan pekerjaannya pembuatan barang itu.

25

Ahmad Mujahidin, Kewenangan dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, cet.1, (Bogor: Penerbit Ghalian Indonesia, 2010), h.177.

26

Adiwarman A. Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h.93.

27

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2003) h.146.

28

Abdullah bin Muhamad Ath-Thayyar, “Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Mahzab,’’ Maktabah Al-Hanif, No.190 (2004): h.143, review buku Al- Khaisani, Bada’I Ash-Shana’I Juz VI , hal.2677

31

Istishna ialah kontrak atau transaksi yang ditandatangani bersama antara pemesan dengan produsen untuk pembuatan suatu jenis barang tertentu atau suatu perjanjian jual beli dimana barang yang akan diperjualbelikan belum ada29

2) Dasar Hukum Istishna

a)

al-Qur’an, Surat al-Baqarah ayat 282 :

“ۚ ك ف س جأ ٰ ا ا ا آ ا أ ”

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua’amalah tidak

secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan

benar.”

b)

Hadits Nabi riwayat Tirmizi:

ع س ا ا أ أ َا ص َ س ا ئ ج ا”

“ف ع ع ع ا ا ا أ أ َا ش َ ش

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali

perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. Tirmizi dari „Amr bin „Auf).

29

c) Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Tentang Istishna

Fatwa Dewan Syari’ah No: 06/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 4 April 2000 M / 29 Dzulhijjah 1420 H di Jakarta.

Transaksi istishna adalah transaksi yang bergerak dalam bidang pekerjaan dan barang dalam tanggungan sehingga mempunyai hokum menikat bagi kedua belah pihak jika memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.30

3) Rukun dan Syarat Istishna

a) Rukun Istishna

(1) Penjual/penerima pesanan/pembuat (Shani) (2) Pembeli/pemesan (Mustashni)

(3) Barang (Mashnu) (4) Harga (Tsaman) (5) Sighat (Ijab Qabul) b) Syarat Istishna31

(1) Syarat istishna pada barang

(a) Barang yang dibuat dijelaskan jenisnya, bentuknya, sifatnya, dan kadarnya sehingga tak lagi terdapat jahalah dan perselisihan pendapat dapat terhindari.

30 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syari’ah: Wacana Ulama & Cendikiawan, (Jakarta: Tazkia Institute, 1999), h. 147.

31

Sofyan Syafri Harapan dkk, Akuntansi Perbankan Syariah, cet.1, (Jakarta: Penerbit LPEE Usakti, 2005), h.183.

33

(b) Hendaklah istishna merupakan sesuatu yang biasanya dilakukan diantara manusia seperti perabot barang rumah tangga, sepatu, keperluan binatang, dan sebagainya.

(2) Syarat Harga/Tsaman

(a) Harus diketahui semua pihak.

(b) Bisa dibayarkan pada waktu akad, secara cicilan, atau ditangguhkan pada waktu tertentu pada masa yang akan datang.

d. Ijarah

1) Pengertian Ijarah

Secara etimologi ijarah bermakna menjual manfaat. Secara terminologi ijarah

adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian. Sedangkan dalam peraturan bank Indonesia dengan transaksi sewa menyewa atas suatu barang dan upah mengupah suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa.32

2) Landasan Hukum Ijarah

a)

al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 233

آ س ا ع ج اف ك َ أ ا ع س أ أ

ف ع ”

ا ق ا “ ع َ أ ا عا

“…Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

32

Bertaqwalah kepada Allah; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

b)

al-Hadits

َ س ف ، ء عس ع ا قا س ا ع ْا ك

“ ف أ أ أ َ ع س آ ع َ ص

“Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya;

maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.”

3) Syarat dan Rukun Ijarah

Ijarah atau sewa menyewa dalam Islam dianggap sah apabila memenuhi rukun dan syaratnya. Menurut ulama Mahzab Hanifiyah, bahwa rukun ijarah hanya satu, yaitu ijab dan qabul saja (ungkapan menyerahkan dan persetujuan sewa menyewa.33

Sedangkan syarat sah nya ijarah adalah34

a) Subjek Akad (pihak yang menyewakan dan pihak yang menyewa barang) Pihak yang menyewakan haruslah cakap untuk bertindak melakukan perbuatan hukum dalam akad. Dia haruslah pemilik barang, wakilnya atau pengampunya.

33

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalat), h.227.

34

Irma Devita Purnamasari & Siswarno, Panduan Lengkap Hukum Praktis Populer Akad Syariah, h.110.

35

b) Objek Akad (barang yang disewakan)

Tujuan penggunaan barang yang disewakan harus dicantumkan dalam akad ijarah. Apabila penggunaan barang yang disewakan tidak dinyatakan secara pasti, barang yang disewakan tersebut digunakan berdasarkan aturan umum atau kebiasaan.

c) Akad

Dalam ijarah dibuat suatu ketentuan bahwa akad bisa dilakukan secara lisan, tulisan ataupun isyarat. Namun, harus ada kata sepakat dengan kalimat yang jelas.

e. Musyarakah

1) Pengertian Musyarakah/Syirkah

Musyarakah atau syirkah adalah suatu perjanjian antara dua atau beberapa pemilik modal atau menyertakan modalnya pada suatu proyek, dimana masing-masing pihak mempunyai hak untuk ikut serta, mewakilkan atau menggugurkan haknya dalam manajemen proyek. Keuntungan dari hasil usaha bersama ini dapat dibagikan baik menurut proporsi penyertaan modal masing-masing maupun sesuai dengan kesepakatan bersama. Manakala merugikan kewajiban hanya sebatas modal masing-masing.35

Musyarakah/syirkah berarti percampuran, yakni mencampurkan satu harta dengan harta lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam bahasa

35 Karmen A. Perwaatmadja dan Muhammad Syafi’I Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam, (Yogyakarta: Pt Dana inakti Primayasa, 1999), h.22.

Indonesia kata syirkah dapat diterjemahkan dengan istilah kemitraan, persekutuan atau perkongsian.36

2) Landasan Hukum Musyarakah

a)

Al-Qur’an surat as-Shaad ayat 24

ا ا ع ا آ ا َ ، ع ع ع غ ء ط ا ا ثك

ق ”

“…Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian lain, kecuali orang yang

beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…”.

b) Rukun dan Syarat Musyarakah

(1) Rukun Musyarakah

Menurut jumhur ulama, ruun perserikatan, baik syirkah amlak, maupun

syirkah amlak, maupun syirkah„uqud ada tiga: (a) Shigat (Ijab dan Qabul)

Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak/akad. Akad ini dianggap sah jika diucapkan secara lisan atau tulisan dan dengan disaksikan oleh para saksi.

36

Karnaen A. Perwataatmadja dan Hendri Tanjung, Bank Syariah: Teori,Praktik dan Peranannya, cet.1, (Jakarta: Celestial Publishing, 2007), h.77.

37

(b) Pihak-pihak yang berkontrak

Objek akad harus jelas, yaitu terdiri dari modal kerja, keuntungan dan kerugian.37

(2) Syarat Musyarakah

Berkaitan dengan akad:

(a) Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad)

(b) Penerimaan dan penawaran dilakukan saat kontrak.

(c) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespendensi atau dengan cara-cara komunikasi modern, seperti melalui media telepon atau internet.

Berkaitan dengan pihak-pihak yang berkontrak

(a) Mitra haruslah orang yang berkopenten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan.

(b) Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan melaksanakan kerja sebagai wakil.

(c) Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola asseSetiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola asset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan aktivitas musyarakah dengan

37

Abdul Ghofur Ansshari, Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2009), h.128.

memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

(d) Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestikan dan untuk kepentingan sendiri.

Berkaitan dengan modal

(a) Modal yang diberikan harus berupa uang tunai, emas , perak atau yang nilainya sama. Modal dapat terdiri dari asset perdagangan, seperti barang –barang properti dan sebagainya. Jika modal terbentuk asset harus dinilai terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra.

(b) Para pihak tidak boleh meminjamkan, menyumbangkan , menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan.

(c) Pada prinsipnya dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan suatu LKS dapat meminta jamninan.

Sedangkan akad kad tabarru’ (gratuitous) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut non profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Akad tabarru’

39

berasal dari kata birr dalam bahasa Arab, yang artinya kebaikan)38. Dalam akad

tabarru’, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. Imbalan dari akad tabarru’ adalah dari Allah Swt, bukan dari manusia. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counterpartnya (rekan transaksinya) untuk sekedar menutupi biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabarru’ tersebut. Namun ia tidak boleh sedikit pun mengambil laba dari akad tabarru’ itu. Bentuk akad tabarru’ dapat berupa memberikan sesuatu atau meminjamkan sesuatu baik uang maupun jasa. Salah satu contoh dari akad tabarru’ adalah wakalah.

f. Wakalah

1) Pengertian Wakalah

Secara bahasa al-Wakalah berarti al-Tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat). Wakalah adalah sebuah transaksi dimanan seseorang menunjuk orang lain untuk menggantikan dalam mengerjakan pekerjaannya/perkaranya ketika masih hidup.39

2) Landasan Hukum Wakalah

a)

al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 283:

“... َ ق ، أ ا ا ف ع ع أ ف...”

38

Burhanuddin Susanto, Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 2008), h.259.

39

Abdul Rahman Ghazaly, dkk. Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 187.

“…Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah

yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa

kepada Allah Tuhannya…”.

b) al-Hadist:

َ س

، ْا اج عفا أ ع س آ ع َ ص ”

( ا ف َ ا (“ ا ج ف

“Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) Maimunah r.a.”

(HR. Malik dalam al-Muwaththa)”

c) Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang

Wakalah

C. Electronic Commerce (E-commerce)

Dokumen terkait