• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Identifikasi Peran yang Dibutuhkan

4.4.1 Akademisi

Akademisi dalam hal ini adalah para pegiat pendidikan khususnya para dosen dan guru. Menurut UU no.14 tahun 2005 definisi dari guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan

60

menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan fungsi pendidikannya, kedua profesi ini berperan sentral dan memang seyogyanya mengemban peran penyebaran isu-isu tentang MEA 2015, AFTA dan FTA. Penyebaran ini secara kongkrit dilaksanakan oleh satuan pendidikan seperti sekolah dan kampus melalui kegiatan belajar mengajar, diskusi panel, dan seminar umum tentang topik tersebut di atas. Akademisi beserta peserta didiknya, harus membiasakan membahas isu-isu hangat terkait pengejawantahan konsep MEA 2015, AFTA, dan FTA di kelas-kelas rombongan belajar. Hal ini merupakan alternatif tindakan paling efektif dalam pencapaian tujuan penyebaran isu- isu penting. Setelah akademisi menggugah rasa ingin tahu peserta didiknya, selanjutnya mereka dibiarkan/dimintai pendapat tentang sumbangsih apa yang bisa diberkan bagi kemajuan Banten, dari sudut pandang dunia pendidikan.

4.4.2 Pemerintah Provinsi

Merujuk kepada peran koordinasi lintas sektor, sesuai tugas pokok fungsi dan kewenangan yang dimilikinya, pemerintah daerah harus menjadi regulator segala kegiatan yang berada di bawah kewenangannya. Pemerintah provinsi perlu mendirikan sebuah sekretariat bersama yang mengoordinasi semua SKPD terkait isu MEA 2015, AFTA, dan FTA.

61

Lebih jauh lagi, sekretariat ini juga perlu dibentuk dengan tujuan utama adalah melaksanakan fungsi sinergitas kekuatan Banten melalui SKPD- SKPDnya.

Kendatipun proses pembuatannya lama, Perda terkait perlindungan dunia usaha, khususnya UMKM Banten perlu segera dibuat dan disetujui. Perda ini nantinya akan menjadi payung hukum bagi semua pemangku kepentingan, khususnya SKPD-SKPD baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Bagaimanapun juga, pemerintah provinsi memiliki kewenangan regulatif terhadap berjalannya persaingan di Banten. Pemerintah Provinsi Banten harus menginisiasi kesadaran dan antisipasi dampak negatif pemberlakuan MEA 2015, AFTA, dan FTA di Banten. 4.4.3 SKPD Terkait

SKPD-SKPD yang berperan meningkatkan daya saing UMKM Banten, antara lain: Disperindag, Dinas Koperasi dan UMKM, BPTSI. Secara lebih rinci peran dari SKPD-SKPD ini dipaparkan sebagai berikut: 1. Dinas Perindustrian dan Perdagangan berperan dalam peningkatan kualitas UMKM dari sisi produksi dan proses pengolahan produk. Selain itu, SKPD ini juga berperan dalam proses pemasaran produk UMKM. Peningkatan daya saing UMKM dari aspek produksi dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, melalui pemberian pelatihan yang

62

berhubungan dengan produksi seperti fasilitasi GMP, HACCP, Dinkes PIRT, bantuan alat dan mesin. Selain itu, peningkatan daya saing UMKM dari aspek perdagangan dilakukan dengan pelatihan desain produk, desain kemasan, pelatihan marketing promosional, pelatihan pemilihan merek, dan fasilitasi promosional seperti penyertaan dalam event promosi provinsi, pameran-pameran, pembuatan jejaring distribusi hotel, dll. 2. BPTSI sebagai bagian dari Dinas Perindustrian dan

Perdagangan, berperan dalam peningkatan standardisasi UMKM Banten, melalui fasilitasi kemasan yang standar, fasilitasi sertifikasi produk, proses, manajemen, dan person UMKM. BPOM Banten berperan memberi dan/atau memfasilitasi sertifikasi halal yang harus dipenuhi produk di Banten.

3. Dinas Koperasi dan UMKM adalah SKPD yang paling spesifik tugas pokok, fungsi, dan kewenangannya terkait peningkatan daya saing UMKM. Oleh karena itu anggaran untuk tujuan peningkatan daya saing ini perlu dialokasikan secara proporsional agal berhasil efektif. Dinak Koperasi dan UMKM berperan meningkatkan daya saing UMKM melalui fasilitasi pembiayaan seperti pemberian akses pembiayaan kredit untuk

63

UMKM, penyediaan informasi pembiayaan yang transparan bagi semua UMKM di Banten; fasilitasi kelembagaan seperti sertifikasi pengurus koperasi dan layanan konsultansi kelembagaan bagi UMKM. Lebih jauh lagi, SKPD ini juga perlu melaksanakan pelatihan-pelatihan terkait kelembagaan UMKM seperti pelatihan manajemen koperasi, menajemen aset koperasi, manajemen SDM koperasi dan aktivitas bisnis UMKM.

4. Berkaitan dengan aspek fasilitasi pembiayaan, perusahaan penanggung jaminan seperti Jamkrida Banten juga perlu dilibatkan untuk peningkatan daya saing UMKM Banten. Hal yang harus dilakukan PT. Jamkrida adalah berkoordinasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM dalam kaitannya dengan upaya perluasan atau permudahan akses ke pembiayaan UMKM. Merujuk kepada persaingan usaha pada aspek SDM Banten, hasil kajian ini menunjukkan bahwa SDM Banten perlu ditingkatkan daya saingnya dengan pelibatan SKPD-SKPD yang terkait. Perlu adanya penyesuaian lulusan dengan kebutuhan industri, yang dalam hal ini, peran penyesuaian dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Banten melalui pendirian dan/atau membantu pendirian sekolah-sekolah kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

64

Peningkatan daya saing SDM Banten juga perlu dilakukan melalui peningkatan keterampilan teknis. Peran ini dijalankan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui pendirian BLKI di WKP I, II dan III dan BLKN Provinsi Banten. Merujuk kepada persaingan usaha pada aspek UMKM, terdapat sejumlah peran penting yang harus dijalankan oleh SKPD-SKPD di Banten. Daya Saing UMKM Banten yang kurang baik dari sisi produk, produksi, SDM, dan pendanaan, perlu diatasi dengan sinergitas pelaksanaan peran-peran dari SKPD terkait. Sinergitas ini dapat dilakukan dengan berkoordinasi melalui sekretariat MEA Provinsi Banten atau sinergitas antar-SKPD secara langsung. Segala hal yang diperlukan untuk membuat sinergitas ini berjalan harus dilaksanakan, misalnya pembuatan kebijakan dari Pemerintah Provinsi tentang keharusan sinergi antar-SKPD terkait peningkatan daya saing UMKM Banten.

SKPD yang berperan dalam menjaga kelestarian budaya positif Banten adalah Dinas Budaya dan Pariwisata, melalui kegiatan formal pelestarian Budaya Banten. Setidaknya, pelestarian ini bisa berupa fasilitasi kegiatan pertunjukan budaya di event-event tingkat provinsi dan

nasional.

4.4.4 UMKM

Pada bagian ini, secara khusus dianalisis peran yang diemban UMKM terkait dengan FTA, menggunakan modifikasi dari teori Five

65

Forces Porter. Modifikasi dilakukan dengan mengurangi jumlah indikator yang dianalisis dan menambah 2 faktor kekuatan yaitu kekuatan regulasi nasional dan regional. Analisis dilakukan secara kualitatif dan normatif.

Gambar 4-5 Diagram Persaingan UMKM Provinsi Banten3

Dari diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa kekuatan tingkat persaingan dipengaruhi oleh kekuatan 4 faktor lainnya. Bagi UMKM Provinsi Banten, penjabarannya adalah sebagai berikut:

1. Daya Tawar Pemasok

Daya tawar pemasok di sini yaitu bargaining position dari pemasok

kebutuhan produksi UMKM. Dimana bargaining position ini

66

berlawanan arah antara pemasok dengan UMKM. Pemasok tentu menginginkan kontinuitas permintaan dari UMKM, dengan margin yang menguntungkan. Jika UMKM Banten hanya memiliki pemasok tunggal untuk suatu komoditi smber daya produksinya, maka tidak banyak yang bisa dituntut UMKM Banten terhadap pemasoknya. Maka dari itu, untuk meningkatkan daya saing UMKM Provinsi Banten, maka mereka harus meningkatkan

bargaining positionnya terhadap pemasok dengan cara: tidak

menggantungkan pemenuhan kebutuhan dari satu pemasok saja, berkolaborasi dengan sesama UMKM pengguna pasokan dalam hal berbisnis dengan pemasok. Untuk situasi MEA 2015 nanti, pemasok dari ASEAN bisa jadi memberi penawaran yang lebih baik.

2. Daya tawar konsumen

Sama seperti bargaining position pemasok, bargaining position

konsumen terhadap UMKM berbanding terbalik. Peningkatan daya tawar konsumen berarti menurunnya bargaining position UMKM. Konsumen meningkat daya tawarnya jika produk UMKM sifatnya komoditi (tidak unik) yang menyebabkan ketersediaan produk sejenis sangat tinggi. Peningkatan daya tawar konsumen juga terjadi jika hanya ada sedikit permintaan untuk banyaknya produk yang ditawarkan. Untuk situasi MEA 2015 nanti, jika fokus UMKM

67

Banten masih melayani permintaan konsumen lokalnya maka dengan dihilangkannya hambatan perdagangan, secara serta merta diikuti oleh meningkatnya daya tawar konsumen. Solusinya, UMKM Banten harus meningkatkan daya saingnya dengan standardisasi produk, proses produksi, dan personnya. Hal ini pada gilirannya akan menghasilkan keluaran yang baik seperti produk yang unik dan kapasitas produksi yang meningkat. Dampaknya adalah penjualan meningkat.

3. Ancaman pendatang baru

Pendatang baru di sini adalah semua perusahaan yang berpotensi untuk ikut meramaikan persaingan yang sudah ada. Tinggi rendahnya ancaman dari pendatang baru dilihat dari ukuran asetnya dan akses terhadap jalur distribusi. Bertambahnya pemain dalam persaingan usaha menyebabkan diperlukannya kesetimbangan baru dalam persaingan. Untuk mengurangi dampak negatif dari hal ini, UMKM Banten harus membuat yang baru dan/atau memertahankan jejaring bisnis khususnya penguasaan jalur distribusi.

4. Ancaman produk pengganti

Produk pengganti di sini adalah produk yang menyelesaikan masalah kebutuhan yang sama. Artinya pesaing produk dari UMKM Banten bukan pesaing merek, tetapi pesaing penyedia

68

solusi masalah. Dengan demikian, bukan hanya UMKM atau perusahaan besar dengan produk sejenis saja yang harus diwaspadai UMKM Banten, melainkan juga produk dari siapapun yang fungsinya mampu mengganti fungsi dari produk UMKM Banten. Kuat tidaknya ancaman produk pengganti ini, ditentukan dengan perbedaan harga dan manfaat yang ditawarkan produk pengganti, dibandingkan dengan yang ditawarkan produk UMKM. UMKM Banten harus mampu mengidentifikasi produk apa saja yang mampu mengganti fungsi produknya. Selain itu, juga harus meningkatkan efisiensi produksinya agar harga dan manfaat yang ditawarkan ke konsumen lebih baik dari produk pengganti.

5. Persaingan Industri UMKM

Persaingan industri UMKM di sini adalah tingkat/intensitas persaingan antarpelaku yang berada pada lahan bisnis yang sama. Tingkat persaingan industri UMKM dipengaruhi oleh seberapa banyak jumlah pemain dalam persaingan dan juga bagaimana tingkat pertumbuhan industri. UMKM Banten harus memahami bahwa daya saing mereka harus ditingkatkan untuk bisa bertahan dalam persaingan intensitas tinggi.

69

6. Kekuatan Regulasi Nasional

Kesemua faktor dalam teori 5 Forces Porter, untuk kasus UMKM Banten, dipengaruhi oleh kekuatan regulasi yang berlaku berdasarkan teritorial. Di Indonesia, KPPU memegang peranan penting dalam mengatur bagaimana jalannya persaingan usaha yang bebas dari monopoli, namun juga menghargai HaKI. Menindaklanjuti pernyataan Kuncoro (2015) tentang pentingnya revisi UU persaingan usaha agar KPPU bisa menindak selain para pelaku usaha nasional, juga para pelaku usaha asing (ASEAN),. Wilayah yurisdiksi peraturan tentang persaingan usaha yang diemban oleh KPPU adalah nasional. Oleh karena itu, UMKM Banten harus memahami bagaimana regulasi persaingan yang ada di Indonesia dijalankan karena semua faktor yang sudah dibahas berada di dalam yurisdiksi KPPU.

7. Kekuatan Regulasi Regional

Selain kekuatan regulasi nasional juga ada kekuatan regulasi regional. Sebagai bagian dari komunitas masyarakat ekonomi di ASEAN, UMKM Banten harus memahami bagaimana mekanisme pelaksanaan MEA 2015 yang berpengaruh terhadap aktivitas bisnisnya. Bagaimanapun juga MEA 2015 adalah kesepakatan yang mengatur bagaimana aktivitas ekonomi khususnya persaingan

70

usaha dijalankan karena kesepakatan ini memengaruhi kesemua faktor dan kekuatan yang berdampak terhadap jalannya persaingan usaha yang dihadapi UMKM Banten.

4.4.5 Tokoh Masyarakat

Tokoh masyarakat yang dimaksud di sini adalah orang yang dijadikan rujukan oleh masyarakat dalam menyikapi suatu fenomena sosial maupun alam. Dengan demikian, tokoh masyarakat dapat mengarahkan, mendorong, melarang, dan mengendalikan perilaku masyarakat. Tokoh masyarakat bisa berarti patron masyarakat seperti kasepuhan, kiyai, haji, atau orang yang menjadi tempat bertanya masyarakat. Terkait dampak sosial dan budaya akibat pelaksanaan AFTA dan FTA, sebagaimana dicontohkan pada tinjauan pustaka adalah kasus berdatangannya ribuan buruh Cina di Bayah Pandeglang.

Untuk kasus buruh Cina di Bayah Pandeglang, tokoh masyarakat setempat perlu memberi pengertian kepada masyarakat untuk mewujudkan ketertiban masyarakat secara santun kepada para pendatang. Jika memang para pendatang tidak bisa/mau beradaptasi dengan adat-istiadat setempat, maka cara-cara anarkis harus dihindari. Di sinilah peran penting tokoh masyarakat dalam mengendalikan gerak sosial masyarakat yang secara budaya dan ekonomi tertekan oleh kedatangan para buruh Cina. Tokoh masyarakat perlu mengarahkan masyarakat untuk meningkatkan

71

kompetensi pribadinya agar dalam persaingan mencari kerja, memiliki daya saing yang cukup.

72

BAB V

PENUTUP

6.1Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat disusun sejumlah kesimpulan sebagai berikut

1. MEA 2015 merupakan sebuah kesepakatan negara-negara anggota ASEAN dalam hal ekonomi. MEA 2015 ditunjang oleh adanya kesepakatan perdagangan bebas antaranggota ASEAN yang disebut AFTA. Terakhir, FTA merupakan kesepakatan antara negara ASEAN yang diwadahi oleh MEA dengan negara lain. Negara- negara yang menjadi partner FTA, yaitu: Cina, Jepang, Korea, India

dan Australia plus Selandia.

2. Pengaruh FTA bagi persaingan usaha di Provinsi Banten dapat dilihat dari dua sisi, peluang dan ancaman. Peluang karena potensi pasar dengan adanya kesepakatan FTA menjadi lebih besar. Ancaman karena daya saing SDM, UMKM di Banten masih perlu dibenahi. Dampaknya secara ekonomi, sosial dan budaya, mendorong munculnya kebutuhan peningkatan daya saing SDM dan UMKM Banten.

73

3. Peran yang diperlukan untuk mengantisipasi dampak negatif adanya FTA agreement serta siapa yang menjalankannya, dijabarkan langsung berbarengan dengan rekomendasi kajian ini.

6.2Rekomendasi

Berikut ini adalah rekomendasi atas hasil kesimpulan kajian. Rekomendasi diperuntukan bagi para pemangku kepentingan yang ada di Provinsi Banten, khususnya SKPD di lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Di bawah ini adalah rekomendasi yang dimaksud:

1. Perlu ada kesamaan pandangan dan pemahaman terhadap AFTA dan FTA yang diberlakukan di kawasan ASEAN di mana Banten terdampak karena berada di dalam teritori Indonesia. Kesamaan pandangan dan pemahaman ini perlu dimiliki oleh semua pemangku kepentingan di Banten, khususnya SKPD sebagai eksekutor dari kebijakan-kebijakan pemerintah.

2. Untuk mencapai tujuan rekomendasi pada poin pertama di atas, dipandang perlu adanya ikatan struktural atau setidaknya kultural yang menyatukan gerak dari SKPD-SKPD di Provinsi Banten dalam rangka menghadapi MEA 2015 beserta semua konsekuensinya. Langkah kongkrit yang bisa dilakukan adalah melakukan sinergi kekuatan antarpemangku kepentingan utama

74

yaitu akademisi, bisnis, tokoh masyarakat dan pemerintah melalui Sekretariat MEA Provinsi Banten sebagai koordinatornya.

3. Terkait rekomendasi pada poin kedua di atas, secara lebih spesifik, penjabaran peran bagi para pemangku kepentingan utama sinergitas kekuatan Banten, antara lain:

a) Akademisi berperan sebagai penyumbang ide dan penyebar isu dampak FTA terhadap persaingan usaha di Banten.

b) Bisnis/pengusaha berperan sebagai pelaku utama dari persaingan usaha yang harus berkoordinasi dengan sekretariat MEA Banten agar langkah antisipasi mereka sesuai dengan kebutuhan persaingan.

c) Tokoh masyarakat berperan membariskan orang-orang di belakangnya untuk turut serta menyukseskan upaya pemerintah daerah mengantisipasi dampak negatif FTA terhadap persaingan usaha dan sosial di Banten.

d) Pemerintah berperan membuat regulasi, dalam pelaksanaannya mengontrol yang bekerja sama dengan para penegak hukum. Pemerintah juga berperan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Secara lebih rinci, pelaksanaan sesuai tugas pokok dan fungsi pemerintah, dijabarkan pada rekomendasi selanjutnya.

75

4. Merujuk kepada persaingan usaha pada aspek SDM Banten, hasil kajian ini menunjukkan bahwa SDM Banten perlu ditingkatkan daya saingnya dengan melibatkan SKPD-SKPD yang terkait. Perlu adanya kesesuaian antara lulusan dengan kebutuhan industri, yang dalam hal ini, peran penyesuaian kompetensi dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Banten melalui pendirian dan/atau membantu pendirian sekolah-sekolah kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Peningkatan daya saing SDM Banten juga perlu dilakukan melalui peningkatan keterampilan teknis. Peran ini dijalankan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui pendirian BLKI di WKP I, II dan III dan BLKN Provinsi Banten.

5. Merujuk kepada persaingan usaha pada aspek UMKM, terdapat sejumlah peran penting yang harus dijalankan oleh SKPD-SKPD di Banten. Daya Saing UMKM Banten yang kurang baik dari sisi produk, proses produksi, SDM, dan pendanaan, perlu diatasi dengan sinergitas pelaksanaan peran-peran dari SKPD terkait. Sinergitas ini dapat dilakukan dengan berkoordinasi melalui sekretariat MEA Provinsi Banten atau sinergitas antar-SKPD secara langsung. Segala hal yang diperlukan untuk membuat sinergitas ini berjalan harus dilaksanakan, misalnya pembuatan kebijakan dari Pemerintah

76

Provinsi tentang keharusan perlunya membangun sinergi antar- SKPD terkait dalam upaya peningkatan daya saing UMKM Banten. 6. Terkait rekomendasi pada poin kelima di atas, SKPD-SKPD yang

berperan meningkatkan daya saing UMKM Banten, antara lain: a) Disperindag sehubungan dengan proses produksi dan

pemasaran produk UMKM, melalui pemberian pelatihan produksi dan pemasaran, bantuan alat produksi dan promosi. b) Dinas Koperasi dan UMKM dengan berperan memajukan

UMKM melalui fasilitasi pembiayaan, pelatihan-pelatihan terkait kelembagaan dan aktivitas bisnis UMKM. Lebih khusus lagi, UMKM sebaiknya diberi wawasan tentang bagaimana mekanisme FTA, AFTA, dan juga status mereka dalam kancah MEA 2015. Oleh karenanya, perlu dilakukan seminar yang khusus menyasar UMKM Banten dengan tema penyebaran isu regional seperti MEA 2015, AFTA, dan FTA. Untuk tujuan percepatan peningkatan daya saing UMKM, diperlukan kajian khusus yang menganalisis tingkat urgensi Dinas Koperasi dan UMKM sebagai lembaga pelayanan terintegrasi dengan lembaga lain (satu pintu) bagi UMKM.

77

c) BPTSI berperan dalam peningkatan standardisasi UMKM Banten, melalui fasilitasi kemasan yang standar, fasilitasi sertifikasi produk, proses, manajemen, dan person UMKM. d) BPOM MUI Banten berperan memberi dan/atau memfasilitasi

sertifikasi halal yang harus dipenuhi produk UMKM di Banten. 7. Terkait dampak sosia l dan budaya akibat pelaksanaan AFTA dan FTA, SKPD yang berperan dalam menjaga kelestarian budaya positif Banten adalah Dinas Budaya dan Pariwisata, melalui kegiatan formal pelestarian Budaya Banten. Setidaknya, pelestarian ini bisa berupa fasilitasi kegiatan pertunjukan budaya di event-event

tingkat provinsi dan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

ASEAN. 2015. AEC Blueprint. Diambil dari alamat www.asean.org. [diakses 19 Oktober 2015].

BPS Provinsi Banten. 2015. Indeks Pembangunan Manusia. Diambil dari www.banten.bps.go.id [diakses 19 Oktober 2015].

Badan Standardisasi Nasional. 2015. Hadapi ASEAN Economic Community 2015, Kedeputian IPS BSN Bahas Strategi Promosi

Standardisasi. Artikel diakses dari

http://bsn.go.id/main/berita/berita_det/4492#.VjLmWzYVjDc [diakses 19 Oktober 2015].

Bank Indonesia. 2015. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Banten Triwulan II-2015.

Chandra, A.C dan Lontoh, L.A. 2011. Indonesia-China Trade Relations: The deepening of economic integration amid uncertainty? Trade Knowledge Network.

Damuri, Y.R. 2006. An Evaluation of the Need for Selected Trade Facilitation Measures in Indonesia: Implication for the WTO Negotiations in Trade Facilitation.

Damuri, Y.R. 2006. Fasilitasi Perdagangan dalam WTO dan Relevansinya bagi Indonesia. Analisis CSIS, 35: 250.

2

Dwisaputra, R. dan Aryaji, 2007. Kerjasama Perdagangan Internasional: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Kuncoro, Mudrajad. 2015. Perlunya Revisi UU Persaingan Wawancara wartawan Banten Ekspose.

http://www.bantenekspose.com/2015/03/revisi-uu-persaingan- usaha-perlu.html [diakses 19 Oktober 2015].

Nurhemi, 2007. Kerjasama Perdagangan Internasional: Peluang dan Tantangan dalam Kerjasama Perdagangan Internasional. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo.

Pangestu, M.E. 2007. AEC Blueprint: Tantangan bagi Indonesia. Presentasi, 2 November.

Soewandi, R.M.S. 2004. Plus Minus Perdagangan Kita. BEI News, Januari Februari.

Toemion, T.F., 2003. Indonesia Paling Siap. Bisnis Indonesia, 7 Oktober. Wawancara dan Presentasi

Wibowo, H.A., 2015. Aplikasi dan Modifikasi 5 Forces Porter untuk UMKM Banten di masa MEA 2015. Artikel internet diambil dari

http://penbaihat.blogspot.co.id/2015/10/aplikasi-dan-modifikasi-5-

3

Wilson, J. et al, 2006. Trade Facilitation and Economic Development: Measuring the Impact. World Bank Policy Research 2988

Dalam dokumen Makalah Lengkap Dampak FTA terhadap Pers (Halaman 65-86)

Dokumen terkait