• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akar Historis Fragmentasi Salafi

Dalam dokumen Islam Indonesia 2020 (Halaman 191-196)

Pada proses evolusi yang berjalan hampir 2,5 abad sejak didirikan oleh Ibn ‘Abd al-Wahhāb, Salafisme telah trefragmentasi menjadi beberapa varian sebagai akibat dari geopolitik Arab Saudi dalam merespon situasi politik global yang berkembang di Timur-Tengah terutama pada 1970-1980-an. Tentu saja, ini berpengaruh secara pararel dengan pembentukan karakter kontemporernya pada masing-masing varian di level domestik, termasuk Indonesia (Krismono, 2018b: 154). Sebagai negara yang memproduksi gagasan-gagasan Salafi, Arab Saudi merupakan kekuatan baru dalam kancah kontestasi keagamaan global antara Sunni dan Syiah. Resistensinya sebagai perwakilan Sunni yang paling vokal dalam membendung sepak terjang Syiah dan ideologi sosialis-sekuler memiliki sejumlah implikasi teologis, yakni berupa pergerseran pola gerakan dari sebagian pengikut Salafi dari yang semula apolitis kepada gerakan

politis-ideologis (Islamisme). Menariknya, varian-varian Salafi baru ini tentu tidak saja menggunakan pendekatan terhadap doktrin agama untuk mewujudkan tuntutan cita-cita mereka, melainkan juga ideologi negara.

Dalam konteks percaturan politik hubungan internasional, asal-mula munculnya varian-varian Salafi ini bisa ditelusuri dari sikap pemerintah Arab Saudi dalam memberikan suaka dan keistimewaan secara penuh kepada para bekas pelarian aktivis Ikhwanul Muslimin (IM). Mereka berbondong-bondong keluar dari negara asalnya karena mendapat perlakuan represif dari rezim-rezim berkuasa yang mengambil bentuk hibrida (sosialisme dan pan-Arabisme) atau kecenderungan pada nasionalisme sekuler Arab sayap kiri, terutama rezim Gamal Abdul Nasser di Mesir dan Ba’ats di Syria. Keberadaan rezim-rezim tersebut bagi Arab Saudi merupakan ancaman serius dalam memenuhi ambisi kuasanya untuk memosisikan dirinya sebagai pemain dominan di kawasan Timur-Tengah, dimana pada saat bersamaan negara yang sering disebut ‘Petro-dollar’ tersebut juga sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Wahabisme atau Salafisme ke seluruh dunia.

Para aktivis IM yang mendapat suaka dan selanjutnya berdomisili tetap di Arab Saudi ini umumnya berasal dari kalangan intelektual dan profesional muda. Melalui dasar hubungan simbiotis ini kemudian dijadikan pertimbangan pragmatis pemerintah Arab Saudi untuk mempekerjakan mereka pada posisi strategis terutama di bagian media, birokrasi, dan pendidikan. Didukung oleh penguasaannya terhadap konsep-konsep pemerintahan rasional, mereka juga diproyeksikan sebagai tenaga ahli dan terlatih dalam waktu cepat untuk mengupayakan modernisasi di Saudi dengan harapan akan membantu kepentingan Saudi dalam menandingi pengaruh nasionalis Arab dan

sekuler, baik itu dari kubu Nasser maupun Ba’ats (Commins, 2006: 152). Salah satunya, mereka dipercaya untuk memperbaiki mutu sistem pendidikan dan sebagai penentu arah kebijakan kurikulum modern Arab Saudi. Dengan posisinya tersebut, mereka selanjutnya menjadi aktor utama dalam panggung pemerintahan Arab Saudi (Lacroix, 2011: 40).

Saat hubungan ini berkembang pada awal 1960-an tak ada yang bisa meramalkan bahwa campuran gagasan-gagasan Salafi dan IM akan berubah berbalik melawan monarki Saudi, baik dari dalam maupun luar kerajaan. Salah satu tokoh paling utama memerkenalkan campuran dua gagasan ideologi tersebut adalah Muḥammad Quṭb, adik dari Sayyid Quṭb, seorang ideolog dan penggerak IM paling ekstrim yang berakhir hidupnya di tiang gantungan, setelah 12 tahun berada di balik jeruji besi karena imbas kekejaman rezim Nasser. Muḥammad Quṭb merupakan pelarian yang selamat dari kejaran Nasser. Ia mendapat suaka dan diberi keistimewaan oleh Raja Faisal untuk dipercaya sebagai tenaga pengajar pada jurusan akidah di Universitas Ummul Qura’. Dengan memanfaatkan jaringan kampus, ia selanjutnya memainkan peran penting sebagai agen utama dalam mempromosikan dan memopulerkan pemikiran-pemikiran saudaranya, Sayyid Quṭb (Lav, 2012: 87). Ia berhasil menghubungkan pilar sentral Salafi dan IM, yakni tauḥīd dan hākimiyah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah), kemudian menariknya pada eksklusivisme Salafi dengan oposisi IM terhadap rezim-rezim sekuler, dan sekaligus pada saat yang sama juga menolak ideologi Muslim non-ortodoks seperti Syiah, Sufi, dan sejenisnya (Lacroix, 2008).

Selain itu, Muḥammad Quṭb juga turut berperan dalam menginisiasi berdirinya gerakan al-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah (Kebangkitan Islam) di kalangan mahasiswa di kampus-kampus

seluruh Saudi. Bahkan, ia menjadi penasihat spritual yang menonjol dalam gerakan ini. Ideologi gerakan Ṣaḥwah sendiri merupakan representasi campuran antara pandangan tradisi Salafi terutama yang menyangkut isu-isu teologi abstrak dan IM terkait isu-isu politik dan kontemporer (ICG, 2004a: 2). Awalnya, gerakan ini hanya melakukan serangkaian aktivitas kritik terhadap pemerintah dan berupaya untuk mereformasi kebijakan negara meski tanpa pernah lugas memersoalkan legitimasi negara. Namun pada perkembangan selanjutnya, murid-murid Muḥammad Quṭb, seperti Safar al-Hawālī dan Aiman Zawāhirī, yang di kemudian hari menjadi mentor bagi Osama bin Laden, mulai terang-terangan menunjukkan aktivitas Islamismenya di Saudi. Safar al-Hawālī dan rekannya, Salmān al-Audah misalnya, keduanya sudah berani menegur dan mengritik kebijakan Raja Saudi ketika berupaya mengizinkan pasukan non-Muslim Amerika Serikat membuka pangkalan militer di wilayah teritorial mereka. Dengan dasar pembenaran dan penguatan fatwa dari para ulama Saudi yang tergabung dalam perkumpulan ulama besar Saudi (Haiah Kibār

al-‘Ulamā) yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abd al-‘Azīz ibn Bāz atas

kebijakan tersebut, mereka juga memertanyakan loyalitas para ulama besar ini yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan Arab Saudi dibanding Islam, sehingga mereka menyindir para ulama tersebut dengan panggilan ‘ulamanya pemerintah’ (‘Ulamā al-Ṣulṭān). Bahkan, tokoh lainnya seperti Muḥammad Surūr ibn Nayef Zain al-‘Ābidīn lebih lantang lagi mengutuk para ulama yang duduk di Hai’ah Kibār

al-‘Ulamā tersebut dan menuduh mereka sebagai budak Amerika

Serikat. Surūr merupakan seorang aktivis Islamis yang juga berusaha memerkenalkan dakwah Salafi melalui versi yang dipolitisir, yakni dengan mengawinkan antara ideologi Salafi dengan ideologi ekstrim Qutb. Keberadaannya setidaknya cukup mengindikasikan bahwa gerakan Ṣaḥwah yang tumbuh subur di kalangan mahasiswa Saudi

tersebut tidaklah kohesif. Secara garis besar, ada dua sayap dalam tubuh Ṣaḥwah, pertama berorientasi revolusioner yang sebagian besar terpengaruh oleh ajaran Sayyid Quṭb, dan yang kedua berorientasi non-revolusioner yang cenderung mengikuti ajaran Hasan al-Bannā.

Baik Muḥammad Quṭb maupun Surūr, pemikiran keduanya kemudian diadopsi dan dimodifikasi oleh Abū Muḥammad al-Maqdisī, dengan mencampurkan elemen hākimiyah Quṭb dalam konteks al-walā’ wa’l barā’, yang merupakan komponen inti ajaran Salafi. Melalui kedua bukunya yang cukup provokatif, Millah Ibrāhīm dan al-Kawāsif al-Jaliyah, pada persoalan terkait dengan kebijakan luar negri misalnya, al-Maqdisī menghukumi murtad terhadap setiap rezim pemerintah yang loyal terhadap Amerika Serikat, termasuk Arab Saudi. Begitu juga dalam persoalan domestik, ia menghukumi murtad terhadap pemerintah yang menggunakan sistem hukum dan politik buatan manusia, serta mereka yang mendukungnya. Oleh karenanya Wagemakers (2012) menggolongkan al-Maqdisī sebagai kelompok quietist-jihad yang mengkonotasikan dua komitmen pada dakwah yang menyebarkan gagasan-gagasan Salafi pada satu sisi dan mendukung kekerasan atas nama jihad di sisi lain. Di samping dikenal sebagai ideolog yang bekerja di balik layar, al-Maqdisī merupakan salah satu konseptor jihadis paling sukses dalam mengubah konsep-konsep Salafi sebagai referensi untuk melakukan rekonfigurasi gagasan-gagasan pentingnya yang kemudian untuk diubahnya konsep-konsep tersebut dengan mendorong para audiennya melancarkan aktivisme jihad terhadap pemerintah yang dianggap sebagai tiran (ṭāġūt) (London, 2013). Tidak bisa dimungkiri, pemikiran al-Maqdisī ini selanjutnya memberikan pengaruh yang meluas dan menginsiprasi banyak kaum militan Islamis di seluruh dunia untuk melegitimasi aksi-aksi berdarah mereka sebagai jihad dalam melawan rezim-rezim

pemerintah sekuler.

Dalam dokumen Islam Indonesia 2020 (Halaman 191-196)