KARYA IMAM ADZ-DZAHABI)
A. PROFIL KITAB SIYAR A’LAM AN -NUBALA DAN IMAM ADZ- ADZ-DZAHABI ADZ-DZAHABI
3. Akhlak Terhadap Diri Sendiri
Akhlak terhadap diri sendiri artinya menjauhkan diri dari sifat tercela. Akhlak terhadap diri sendiri meliputi:
a. Shidiq
Berikut kisah yang menunjukan bahwa Imam Syafi’i memiliki sifat shidiq
َ,َارحاََّاَيعفاشلاَﺬاكامَ:َلاقََ,َيلعّاَدبعَنبَسنوﻳَنعﺮ
َانكَام
َ,ةحاصفَلامكﺮَ,َن ذَﺬايَﺮَ,َءاكدَطرفﺮَ,َةغابَنسحﺮَ,َقطنم
ةخحَرﺮ خﺮ
.
Yunus bin Abdul A`la menceritakan:“Perkataan Syafi`i itu seperti sihir, ketika kami duduk di sekelilingnya, untaian katanya seperti gula. Ia memiliki untaian kata yang manis dan segar, retorika yang bagus dan sangat cerdas, menghasilkan pemikiran, sangat fasih, selalu mendatangkan hujjah (AlQuran dan Hadits)”. (Adz-Dzahabi, tt: 351).
Seorang muslim dituntut untuk selalu berada dalam keadaan benar yang meliputi benar hati, benar perkataan dan benar perbuatan. Benar hati artinya apabila hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT, benar perkataan apabila semua yang diucapkan adalah kebenaran bukan kebatilan, dan benar perbuatan adalah apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Sebagaiamana tercermin dari kisah diatas bahwa ketika Imam Syafi’i menyampaikan pelajaran kepada muridnya beliau senantiasa mendatangkan hujjah (Al-Qur’an dan Hadits).
َمي ارباَانثدح
َيلصاَ:َيعفاشلاَتلاََ:َلوقﻳَيطﻳوبَتعمَ,َداﻳزَنب
ارلاَفلخَلصتََّ:َلاقَ؟َيضفارلاَفلخ
ضف
ئجرلاَّﺮَ,َﺰردقلاَّﺮَ,ي
َﺬاَلاقَنمﺮَئجرمَوهفَلوقَنمّاَلاقَنمَ:لاقَانلَمهﻔصَ:تلق
َ سﻔنََاَةئيشلاَلعجَنمﺮَ,يضفارَوهفَنمَامَابَاسيلَرمعَﺮَركبَابا
َﺰردقَوهف
“Ibrahim bin ziyad menceritakan bahwasanya al-Buwaithi pernah bertanya kepada Imam Syafi’i : “apakah aku boleh sholat dibelakang orang syiah rofidhoh?Maka Imam Syafi’i menjawab: kamu tidak boleh sholat dibelakang orang syiah rofidhoh tidak pula orang qodariyah dan murji’ah”.
Al-Buwaiti mengatakan: “Sebutkanlah sifat mereka pada kami?” Imam Syafi`i menjawab: “Barangsiapa berkata bahwaiman itu hanya perkataan maka dia seorang murji`ah, barangsiapa mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan pemimpin maka dia seorang rafidhoh, dan barangsiapa yang menjadikan kehendak untuk dirinya maka dia seorang qadariyah (Adz-Dzahabi, tt: 344).
Dari kisah di atas menunjukkan bahwa Imam Syafi`i dalam berpendapat mengenai suatu masalah selalu berkata benar yaitu dengan mendatangkan hujjah yang tidak bertentangan dengan al-Quran dan hadits. Imam Syafi`i berkata “Manusia yang paling mulia setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Ali dan Utsman”, sedangkan orang syiah rafidhah, mereka mengkafirkan dan mencela sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Nabi SAW bersabda yang artinya “Janganlah kalian mencela
sahabat-sahabatku. Seandainya kalian berinfak emas sebesar gunung uhud, tidak akan menyamai satu mud infak salah sorang dari mereka
(para sahabat) dan tidak pula setengahnya”. (HR. Bukhari Muslim dan lainnya)
b. Istiqomah
Istiqamah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang ditengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung. Berikut kisah yang mencerminkan Syafi’i memiliki akhlak istiqomah adalah sebagai berikut:
َاهَنكﻳَمﺮَ,يماَرجحَيَاميتﻳَتنكَلوقﻳَيعفاشلاَتعمَﺰديمحاَلاق
يماظعلاَﺮَفاتكّاَيَبتكاَ,ملعمللَ يطعتَام
Al-Humaidi berkata, aku pernah mendengar Imam Syafi`i bercerita: aku adalah seorang yatim yang berada dalam asuhan ibuku, ia tidak mempunyai biaya untuk membayar pendidikanku, maka aku menulis diatas papan dan tulang-tulang”. (Adz-Dzahabi, tt: 338).َلﺮّاَ ثلثفَ:َليللاَء جَدقَيعفاشلاَﺬاكَ:َلاقَﺬاميلََنبَعيبرلاَ ثادح
َبتكﻳ
ََﺫانﻳَثلثلاﺮَيلصﻳَﺬاثلاﺮَ,
“Al-Rabi` ibn Sulaiman, bahwa ia pernah mengkisahkan, “Setiap malam Syafi`i membagi malamnya menjadi 3 bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur.” (Adz -Dzahabi, tt: 346).
Dari kisah tersebut dapat diketahui bahwa Imam Syafi’i adalah seorang yang miskin, tidak mempunyai biaya untuk pendidikannya, dan untuk membeli kertaspun ia tidak mampu, sehingga dia menulis diatas papan dan tulang-tulang. Tetapi, Kemiskinan tersebut tidak menghalanginya untuk terus menuntut ilmu. Terbukti ia selalu konsekuen untuk membagi malamnya menjadi tiga bagian, salah satunya ia manfaatkan untuk menulis, sehingga Imam Syafi`i termasuk ulama yang memiliki banyak karya tulis pada masanya. Hal ini menunjukkan keistiqamahan Imam Syafi`i dalam menuntul ilmu.
c. Syaja’ah
Syaja`ah artinya berani, tapi bukan berani dalam artisiap menantang siapa saja tanpa mempedulikan apakah dia berada di pihak
yang benar atau salah. Tapi berani yang berlandaskan kebenaran dan dilakukan penuh pertimbangan.
Di antara bentuk keberanian adalah keberanian dalam menyatakan kebenaran. Berikut kisah yang mencerminkan akhlak keberanian Imam Syafi’i,
َ,َفاَفاَلاقفَ؟َﺬارقلاَنعَلئَﺮَيعفاشلاَتعمَ,َعيبرلاَتعم
رﻔكَدقفَقلخَ:لاقَنمَ,َهاَﺫَاكَﺬارقلا
Ar-Rabi` pernah mendengar Syafi`i bercerita bahwa suatu hari dirinya pernah ditanya tentang al-Qur`an (apakah al-Quran itu makhluk?). maka Syafi`i menjawab dengan tegas: “Tidak! Al-Qur`an adalah kalamullah, barangsiapa mengatakan al-Qur`an itu makhluk maka dia kafir. (Adz-Dzahabi, tt: 340).Bid`ah khalqul Qur`an (berkeyakinan al-Qur`an adalah makhluk) pada dasarnya adalah bid`ah yang dicetuskan oleh orang Mu`tazilah. Imam Syafi`i sangat keras mengingkari kelompok yang meyakini kemakhlukan al-Qur`an, bahkan barangsiapa yang berkeyakinan demikian dan telah disampaikan hujjah padanya namun dia masih tetap bersikeras mempertahankan akidah kufur ini, maka orang tersebut dipandang kafir oleh Imam Syafi`i.
Kisah di atas menunjukan bahwa Syafi’i dengan tegas berani memperjuangkan sesuatu yang berlandaskan kebenaran, yaitu bahwasanya al-Qur`an adalah kalamullah bukan makhluk.
d. Tawadhu’
Tawadhu` artinya rendah hati, lawan dari sifat sombong. Orang yang rendah hati tidak memandang dirinya lebih dari orang lain, sementara orang sombong menghargai dirinya secara berlebihan. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri.
Berikut yang menunjukan akhlak tawadhu’ dari Imam Syafi’i,
َاَامفَ,َيعفاشلاَعمَانججحَلاقَ,َنميلََنبَعيبرلاَانثدح
َرت
ﻔ
َّﺮَ,َافرشَي
َاﻳداﺮَطي
.“Bahwa ar-Rabi’ bin sulaiman menceritakan: kami pernah melaksankan ibadah haji bersama Imam Syafi’i dia tidak pernah merasa lebih tinggi derajatnya dan tidak juga merendahkan diri”. (Adz-Dzahabi, tt: 355).
Imam Syafi`i adalah ulama terkenal yang memiliki kedudukan tinggi di tengah umat, tapi ketika berada bersama dengan muridnya, dia bersifat tawadhu` tidak merasa dirinya lebih tinggi dari muridnya.
..هاَمكعفرﻳَاوعضاوتﺮَ,ةعفرَّاَدبعلاَدﻳ ﻳََّ,عضاوتلا
يملﻳدلاَ اﺮر(.
)
Nabi SAW bersabda yang artinya “Tawadhu`, tidak ada yang
bertambah dari seorang hamba (yang tawadhu) kecuali ketinggian derajat. Oleh sebab itu, tawadhu`lah kamu, niscaya Allahakan meninggikan derajatmu”. (HR. Dailami) )Ilyas, 2009: 124)
e. Sabar
Sabar secara bahasa menahan dan mengekang. Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridlo dari Allah. Diantara bentuk sabar adalah pertama, sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
Kisah yang mencerminkan akhlak sabar Imam Syafi’i adalah sebagai berikut,
َنتََﺬاضمرَرهشَيَﺬارقلاَمتخَيعفاشلاَﺬاكَ:َََﺬاميلََنبَعيبرَلاق
ةمتخ
“Dari Arrabi’ bin Sulaiman :mengkisahkan bahawasanya Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an enampuluh kali dalam bulan Ramadhan”(Adz-Dzahabi, tt: 346).َﺬاكَ:َلاقَﺬاميلََنبَعيبرلاَ ثادح
َلﺮّاَ ثلثفَ:َليللاَء جَدقَيعفاشلا
ََﺫانﻳَثلثلاﺮَيلصﻳَﺬاثلاﺮَ,َبتكﻳ
“Al-Rabi` ibn Sulaiman, bahwa ia pernah mengkisahkan, “Setiap malam Syafi`i membagi malamnya menjadi 3 bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur.” (Adz-Dzahabi, tt: 346).Dari kisah tersebut dapat diketahui bahwa Imam Syafi’i adalah termasuk orang yang sabar dalam menjalankan kataatan kepada Allah dengan selalu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga enampuluh kali dalam satu bulan dan selalu membagi malamnya menjadi 3 bagian untuk beribadah kepada Allah SWT. Mengkhatamkan al-Qur`an dan
shalat malam adalah bukti kesabaran Imam Syafi`i dalam beribadah kepada Allah SWT, karena mengkhatamkan al-Qur`an dan bangun shalat malam untuk shalat bukanlah pekerjaan yang mudah.
Allah SWT berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) serta bertakwalah
kepada Allah supayakamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200).
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman yang artinya “Tuhan
langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah dia dan bersabarlah dalam beribadah kepadaNya”. (QS. Maryam: 65)
Bentuk sabar yang kedua yaitu sabar dalam pergaulan. Berikut kisah tentang kesabaran Imam Syafi`i dalam pergaulan,
َمَةلاسمَيَاموﻳَ ترظانَيعفاشلاَنمَلقعاَتﻳارَامَيدصلاَسنوﻳَلاق
َﺬوكنَﺬاَميقتسﻳَّاَيَومَاباَاﻳَلاقَمَ,ﺰديبَ خافَ, يقلَﺮَانقرفا
ةلاسمَيَقﻔتنَمَﺬاﺮَاناوخا
Yunus Ash-Shadafi berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih cerdas dari pada Imam Syafi`i. pada suatu hari, aku pernah berdebat tentang sebuah masalah, setelah beberapa lama kami berpisah, kemudian ia menemuiku dan memegang tanganku, ia berkata”Wahai Abu Musa, bukankah suatu kebaikan jika kita tetap menjalin rasa persaudaraan meskipun kita berbeda dalam suatu permasalahan?”(Adz-Dzahabi, tt: 340).Dalam pergaulan sesama manusia baik antar orang tua dan anak maupun antar teman atau dalam masyarakat yang lebih luas akan
ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Oleh karena itu, dalam pergaulan sehari-hari diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak disukai. Begitu pula yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i ketika berdebat, ia tidak pernah berkeinginan untuk mengalahkan dan mngucilkan lawan debatnya yang hal itu akan mendatangkan permusuhan, akan tetapi dia memilih bersabar dalam pergaulan, yaitudengan menjaga persaudaraan.
D. Faktor yang Mempengaruhi Imam Syafi’i Memiliki Akhlak Mulia
Demikianlah keteladanan akhlak yang mulia dari Imam Syafi`i, tentunya kemuliaan akhlak Syafi`i ini tidak bisa terbentuk dengan sendirinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruh Imam Syafi`i memiliki akhlak mulia, diantaranya:
1. Pendidikan orang tua
Faktor pertama yang mempengaruhi Imam Syafi`I memiliki akhlak mulia dimulai dengan pendidikan dari orang tua terutama ibu, karena sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Ayah Imam Syafi`I telah meninggal dunia saat Imam Syafi`I masih usia belia, ia tumbuh dalam asuhan ibunya (Adz-Dzahabi, tt: 336). Ibunya mendidiknya hingga tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Pada masa Imam Syafi`i remaja, ibunya merasa khawatir akan kehilangan nasab anaknya yang mulia. Maka ketika usianya dua tahun ibunya membawanya ke Mekkah (Adz-Dzahabi, tt: 338).
Hidup dalam kondisi sebagai yatim, Imam Syafi`I banyak mendapat pendidikan dari ibunya. Karena kondisi ekonomi yang kurang mampu, Imam Syafi`I dididik agar menjadi sosok yang hidup sederhana, dan sabar. Al-Humaidi pernah berkata, “Aku mendengar Imam Syafi`I berkata, `Aku hidup sebagai anak yatim dalam asuhan ibuku, ia tidak mampu untuk memberiku biaya pendidikan`.”(Adz -Dzahabi, tt: 338). Oleh karena itu, Saat belajar Imam Syafi`I menulis pelajarannya pada potongan-potongan tulang dan daun (Adz-Dzahabi, tt: 338).
Keluarga sebagai salah satu dari pusat atau lembaga pendidikan menunjukkan bahwa dalam keluarga ada terjadi proses pendidikan dan pengajaran menurut caranya sendiri-sendiri yang tidak persis dengan pendidikan formal. Bahkan ahli pendidikan mengakui bahwa proses pendidikan dalam keluarga memiliki peranan dan hasill yang cukup besar.
Secara kodrati maka ibu-bapak di dalam rumah tangga keluarga adalah sebagai penanggung jawab tertinggi, mau tidak mau merekalah yang menjadi tumpuan utama yang harus memenuhi segala kebutuhan bagi anak-anaknya, dari segi materi maupun rohani. Tanggung jawab ini tidak dapat dielakkan lagi oleh orang tua, harus dipikul dengan rasa penuh tanggung jawab.
2. Lingkungan
Faktor kedua yang mempengaruhi Imam Syafi`I memiliki akhlak mulia adalah lingkungan. Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan memntukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematangkan pertumbhan bakat yang dibawa oleh seseorang. Faktor lingkungan dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Pengaruh positif
Pengaruh lingkungan tak dapat disangkal mempunyai akibat terhadap siapapun juga yang ada di lingkungan itu, baik lingkungan sempit sekitar tempat tinggal sendiri, atau lebih luas lagi berupa kota, daerah. Pengaruh ini bisa macam-macam baik yang berupa benda kongkrit seperti peralatan, pakaian maupun abstrak, berupa paham-paham, ideologi, isme-isme, adat istiadat dan sebagainya.
Pengaruh positif ialah apabila memberi bantuan pada tujuan pendidikan agama Islam, umpama penduduk sekitar adalah masyarakat muslim yang hidup menurut norma, nilai Islam, yang ditandai dengan pelaksanaan ibadah. Syiar Islam, adanya langgar, masjid, tempat-tempat pengajian dan sebagainya. Keadaan yang begini meringankan tugas keluarga, karena ada persesuaiannya, umpama untuk tempat mengaji sudah ada, tempat sholat berjama’ah sudah ada, tempat meniru banyak. Keluarga hanya
tinggal membimbing, seperti supaya menyuruh anggota keluarga hanya tinggal membimbing, seperti supaya menyuruh anggota keluarga mengahdiri tempat pengajian, langgar,ceramah agama, dan sebagainya. Tugas orang tua adalah kontrol terhadap anggota keluarga dalam mengikuti itu semua.
Kendatipun pengaruh lingkungan positif yang mengartikan ini ada, kalau tidak ada bimbingan dan pengawasan, maka pengaruh yang demikian akan sia-sia belaka. Dengan melakukan demikian orang tua sudah bertindak sebagai pendidik terhadap anak-anaknya dan telah memenuhi tanggung jawab, kendatipun ia tidak mengajar sendiri. Dan ini harus lebih banyak dapat dilakukan, karena jarang orang tua yang dapat mengajar langsung anak-anaknya, baik karena faktor kemampuan atau waktu dan sebagainya.
b. Pengaruh negatif
Pengaruh negatif adalah menentang, menghambat, merusak terhadap tujuan pendidikan agama Islam. Pengaruh negatif mau tidak mau memberikan reaksi pula. Oleh sebab itu kalau ada hal yang demikian maka lingkungan yang demikian sungguh menyulitkan tugas keluarga.
Baru saja kita keluar satu meter, dari rumah bertemu apa yang menjadi larangan agama yang justru kita tentang, tetapi malah lingkungan enak saja melaksanakannya dengan tiada rikuh
sedikitpun, umpama masalah syirik, kejahatan-kejahatan,pelanggaran-pelanggaran norma akhlak dan lain sebagainya. Hal ini sungguh menyulitkan, dalam rumah kita bagini, nyatanya di luar rumah begitu.
Seperti halnya pada zaman nabi Muhammad pernh terjadi seorang Badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tetapi nabi melarangnya. Kejadian tersebut dapat menjadi contoh bahwa orang Badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku. Demikian pula Imam Syafi’I yang tumbuh di lingkungan para ulama. Saat Imam Syafi`I pindah ke Mekkah (Adz-Dzahabi, tt: 336), Imam Syafi`I mulai belajar kepada para ulama. Imam Syafi`I mempelajari ilmu fikih kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji, ulama mufti Mekkah, kemudian kepada Dawud ibn Abdirrahman al-Aththar, dan kepada pamannya Muhammad bin Ali bin Syafi`, Sufyan bin Uyainah, Fudhail bin Iyadh, Malik bin Anas dan masih banyak lainnya (Adz-Dzahabi, tt: 336-337).
3. Guru
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi Imam Syafi`i memiliki akhlak mulia adalah guru. Guru merupakan teladan bagi siswa dan mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter siswa. Guru memberikan teladan yang baik, baik itu masalah moral, etika, maupun akhlak, dimanapun ia berada. Selain itu guru juga
merupakan inspirator yaitu seseorang yang mampu membangkitkan semangat untuk maju dengan menggerakan segala potensi yang dimiliki guna meraih prestasi bagi dirinya dan masyarakat. Seorang guru tidak hanya memberikan semangat tetapi juga menjadi lokomotif yang benar-benar mendorong gerbang ke arah tujuan dengan kecepatan, kecerdasan, dan kearifan yang tinggi. Banyak guru yang mengajar Imam Syafi`i di antaranya Muslim bin Khalid Az-Zanji, Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa`d, Sa`id bin Salim al-Qaddah, ad-Darawardi, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, Ibnu Uyainah, dan masih banyak lainnya. Tetapi yang paling berpengaruh pada Imam Syafi`i adalah Malik bin Anas (Adz-Dzahabi, tt: 337). Imam Syafi`I belajar kitab al-Muwatha kepada Imam Malik bin Anas (Adz-Dzahabi, tt: 339).
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari hasil kajian yang dilakukan peneliti mengenai pendidikan akhlak melalui kisah teladan Imam Syafi`i dalam kitab Siyar A`lam an-Nubala` karya Imam adz-Dzahabi dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa
a. Teladan akhlak Imam Syafi’i meliputi : Akhlak terhadap Allah SWT, di antaranya : (1) Takwa, (2) Cinta, (3) Khauf dan Raja`,(4) Taubat ; Akhlak terhadap Rasulullah SAW ; Akhlak Terhadap diri sendiri, meliputi: (1) Shidiq , (2) Istiqomah, (3) Syaja’ah, (4) Tawadhu’, (5) Sabar
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Imam Syafi’i memiliki akhlak yang mulia di antaranya : (1) Pendidikan orang tua, (2) Lingkungan, dan (3) Guru.
2. Saran
Dari hasil penelitian dalam skripsi ini, peneliti memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi salah satu usaha dalam mengembangkan pendidikan akhlak masyarakat.
a. Hendaknya para dosen dan guru pengampu mata pelajaran sejarah khususnya sejarah peradaban Islam, ketika menyampaikan materi tidak hanya bersifat pengetahuan semata, namun harus digali nilai-nilai
pelajaran akhlak yang dapat diambil dari sejarah tersebut dan dijelaskan secara baik kepada peserta didik untuk diambil manfaat dari belajar sejarah.
b. Hendaknya para pembaca sejarah untuk lebih aktif dalam menggali nilai-nilai yang ada dalam cerita tersebut.
c. Hendaknya seluruh elemen masyarakat mempelajari sejarah, karena dengan mempelajari sejarah dapat memberi pengalaman berharga bagi kehidupan manusia pada masa sekarang dan masa mendatang.
3. Penutup
Alhamdulillah segala puji peneliti haturkankepada Allah SWT, yang telah melimpahkan nikmat kesehatan, kekuatan dan kemudahan sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam peneliti haturkan kepada Nabi Muhammad Saw yang selalu menjadi suri tauladan bagi umat Islam. Penelitian menyadari penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan disebabkan keterbatasan kemampuan yang peneliti miliki, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat peneliti harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan bagi pembaca serta dunia pendidikan pada umumnya. Selanjutnya peneliti mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini, semoga mendapatkan ganjaran yang jauh lebih baikdari Allah SWT. Amin yarabbal `alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin. 2008. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran. Jakarta: Amzah.
Adz-Dzahabi, tt. Siyar A`lam an-Nubala. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Adz-Dzahabi. 2014. Ringkasan Siyar A’lam an-Nabala’ jilid 2 penerjemah
Sholahuddin, Jakarta: Pustaka Azzam.
Aeni, Nur. 2006. “Konsep Pendidikan Akhlak dalam kitab Washoya Al-Aba Li Al-Abna karangan Muhammad Syakir Al-Iskandari.
Relevansinya dengan Pendidikan Islam”. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Al Julayyil, Abdul Aziz bin Nashir Baha „Uddin bin Fatih Uqali. 2014.Meneladani Akhlak Generasi Terbaik. Penerjemah Abu Humaira. Jakarta: Darul Haq.
Al-Rasyidin, Syamsul Nizar. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Al-Syaibani, Omar Muhammad al-Thaumi. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Terj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Cetakan ke-13. Jakarta: PT. Ardi Maha Satya.
Asmaran. 1992. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: Rajawali Pers.
Asy-Syarif, Muhammad Hasan. 2008. Ringkasan Siyar A’lam An-Nubala’. Jakarta: Pustaka Azzam.
Asy-Syarqawi, Abdurrahman. Kehidupan, Pemikiran dan Perjuangan 5 Imam Madzhab Terkemuka. Bandung: Al-Bayan.
Asy-Syinawi , Abdul Aziz. 2013. Biografi Imam Syafi`i. Solo: Aqwam. Asy-Syurbasi, Ahmad. 2011. Sejarah dan Biografi Empat Imam Madzhab.
Jakarta: Amzah
Basri, Hasan. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. Daradjat, Zakiah. 1995. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Farid, Ahmad. 2013. Biografi 60 Ulama Ahlussunnah, penerjemah Ahmad
Fauziana, Mukaromah. 2011. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Yogyakarta: UIN SUKA Press. Hadi,Sutrisno. 1995. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset.
Hajarwati, Rini. 2011. “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral”. Skripsi tidak diterbitkan.Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hamzah, Ali. 2014. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi.
Bandung: Alfabeta.
Hariyono. 2014. “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Pada Sejarah Muhammad Al-Fatih Menurut Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi”.Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ilyas, Yunahar. 2009. Kuliah Akhlak. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI).
Jalaludin, Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam, konsep dan perkembangannya. Jakarta: PT. Raja grafindo Persada.
Khon, Abdul Majid. 2012. Hadis Tarbawi.Jakarta: Kencana.
Kutha, RatnaNyoman. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Wacana Naratif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Moeliono, Anton M., et.al. 1993.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2007. Fikih Lima Madzhab. Jakarta: Lentera.
Mujib, Abdul. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Mukniah. 2011.Materi Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Muhaimin. 1993 Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya Mustofa. 1997. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos wacana Ilmu.
Nurdin, Muslim dan Ishak Abdullah. 1993. Moral dan Kognisi. Bandung: Alfabeta.
Nuruni`mah, Antika. 2013. “Konsep Pendidikan Karakter Menurut Al -Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin”. Skripsi tidak diterbitkan.Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pangarsa. 1982. Pengantar Kuliah Akhlak. Surabaya: Bina Ilmu.
Poerwadarminta.2002. Kamus Umum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Sanaky, Hujair AH. 2015. Pembaruan Pendidikan Islam. Jakarta: Kaukaba
Dipantara.
Sani, Ridwan Abdullah, Muhammad Kardi. 2016. Pendidikan Karakter Mengembangkan Karakter Anak yang Islami. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugihartono. 2007. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UNY Press.
Suryana. 2010. Metodologi Penelitian Model Praktis Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.
Suwaidan, Tariq. 2015.Biografi Imam Syafi`i. Jakarta: Zaman. Tatang. 2012. Ilmu Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan.2007. ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Tk: Imtima.
Uhbiyati, Nur. 1997. Ilmu Pendidikan Islam II. Bandung: Pustaka Setia. Utomo, Prasojo Dwi. 2013. “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Mulia dalam
Film Serdadu Kumbang”. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Vembrianto, St. 1994. Kamus pendidikan. Jakarta : Grasindo.
Wahyuni, Ari Asih. 2008. “Studi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Novel Langit-Langit Cinta Karya Najib Kailany”. Skripsi tidak diterbitkan.Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Winarsih, Setiya. 2012. “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam
Membangun Akhlaq Karimah Siswa di SMK Muhammadyiah Rongkop Gunung Kidul”.Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Zein, Muhammad. 1995. Methodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta: AK Grup.
Zuriah, Nurul. 2015. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara
NPM : 20120720212
Fakultas/Jurusan : FAI/ Pendidikan Agama Islam