• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

5.5 Perbandingan Penyerapan Gaya Geser Dinding Core Wall Untuk Setiap Type Bangunan

5.5.9 Akibat COMBO 3A Arah V3

5.5.9 Akibat COMBO 3A Arah V3

V-45 5.5.10 Akibat COMBO 3B Arah V3

VI - 1 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Dalam penelitian dan kajian kasus ini, untuk bangunan bertapak asimetris dinding geser ternyata tidak selalu membantu menyerap gaya geser dan mengurangi gaya geser yang masuk ke kolom. Pada beberapa kombinasi pembebanan, dinding geser malah menambah beban gaya geser pada rangka. 2. Konfigurasi dinding geser lebih efektif dalam menyerap gaya geser dalam arah

V2 (memanjang), sedangkan pada arah V3 (melintang) dinding geser malah menambah beban pada rangka.

3. Makin tinggi dinding geser yang digunakan, maka makin besar gaya geser yang

diserap oleh dinding geser dibandingkan oleh rangka1), terutama dalam arah V2,

sedangkan dalam arah V3 justru menambah beban pada kolom atau rangka. 4. Dalam studi kasus bangunan ini, ternyata penggunaan dinding geser yang lebih

rendah dari gedung lebih efektif dibandingkan dengan tipe yang lainnya, karena selain perbedaan besar gaya geser yang kecil penggunaan dinding geser juga lebih ekonomis dari hasil penelitia akibat COMBO 2A, 2B, 3A dan 3B untuk arah V2.

5. Efektifitas dinding geser pada setiap lantai untuk semua type baik type I, II maupun III terdapat antara lantai 6 s.d lantai 10, namun lebih banyak pada lantai 8.

VI - 2 struktur, karena mengurangi besarnya perpindahan (displacement) hingga lebih dari 70%. Hal ini berarti dinding geser sangat efektif dalam menambah kekakuan struktur.

7. Dengan menggunakan dinding geser perilaku struktur mengikuti perilaku dari struktur corewall, karena tidak mengalami/mempunyai titik belok pada lantai atas strukturnya.

6.2 Saran

1. Dalam merencanakan suatu bangunan yang bertapak asimetris penggunaan dinding geser perlu diperhatikan interaksi antara rangka dengan dinding geser, baik bentuk dan ukuran dinding core wall tersebut sehingga dapat diperoleh bentuk bangunan yang efektif dalam menyerap gaya geser dan efesien dalam biaya.

2. Untuk merencanakan suatu bangunan yang menggunakan dinding geser, penggunaan dinding geser cukup lebih rendah dari tinggi bangunan (sekitar 80% dari tinggi bangunan), karena selain lebih ekonomis prosentase penyerapan

gaya geser pada ketiga tipe tinggi dinding geser tidak terlalu berbeda2, seperti

hasil kajian sdr. Frans Harapan.

3. Karena dalam Tugas Akhir ini hanya membahas bangunan asimetris dua arah berbentuk L dan sebagai perbandingannya bangunan asimetris berbentul T, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan pada bangunan yang berbentuk Z dan U sebagai bahan perpandingan.

DAFTAR PUSTAKA

Afnal. 1996. Tinjauan Efektifitas Pemakaian Dinding Geser pada Gedung Berlantai Banyak. Jakarta : Jurusan Teknik Sipil, Universitas Mercu Buana.

Frans Harapan. 2008. Kajian Efektifitas Penggunaan Corewall Pada Gedung Beton Bertulang Berlantai Banyak Dengan Tapak Yang Asimetris. Jakarta : Jurusan Teknik Sipil, Universitas Mercu Buana.

Kusuma, Gideon dan Andriono, Takim. 1994. Desain Struktur Rangka Beton Bertulang di Daerah Rawan Gempa Berdasarkan SKSNI T-15-2002-03. Bandung (Beta Version).

MacGregor, James. 1992. Reinforced Concrete Mechanics and Design. New Jersey : Prentice Hall.

Paulay, T dan Priestley. 1991. Seismic Design of Reinforced Concrete and Masonry Buildings. New York : John Willey & Sons.

Toritorial ETABS. By. Bobby Benniardi Hadi, ST Alumi Universitas Udayana Fakultas Teknik Sipil

Vis, W.C dan Kusuma, Gideon. 1993. Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang Berdasarkan SKSNI T-15-1991-03. Jakarta : Erlangga.

L - 1

Tabel 2.1. Berat sendiri bahan bangunan dan komponen gedung

BAHAN BANGUNAN

Baja Batu alam

Batu belah, batu bulat, batu gunung (berat tumpuk) Batu karang (berat tumpuk)

Batu pecah Besi tuang Beton(1)

Beton bertulang (2) Kayu (Kelas I)(3)

Kerikil, koral (kering udara sampai lembab, tanpa diayak) Pasangan bata merah

Pasangan batu belah, batu bulat, batu gunung Pasangan batu cetak

Pasangan batu karang

Pasir (kering udara sampai lembab) Pasir (jenuh air)

Pasir kerikil, koral (kering udara sampai lembab)

Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai lembab) Tanah, lempung dan lanau (basah)

Timah hitam (timbel)

KOMPONEN GEDUNG

Adukan, per cm tebal : - dari semen

- dari kapur, semen merah atau tras

Aspal, termasuk bahan-bahan mineral penambah, per cm tebal Dinding pasangan bata merah :

- satu batu - setengah batu

Dinding pasangan batako: Berlubang : - tebal dinding 20 cm (HB 20) - tebal dinding 10 cm (HB 10) Tanpa lubang - tebal dinding 15 cm - tebal dinding 10 cm

Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau pengaku), terdiri dari :

semen asbes (eternity dan bahan lain sejenis), dengan tebal maksimum 4 mm.

- kaca, dengan tebal 3-4 mm

Lantai kayu sederhana dengan balok kayu, tanpa langit-langit dengan bentang maksimum 5 m dan untuk beban hidup maksimum 200 kg/m2 Penggantung langit-langit (dari kayu), dengan bentang maksimum 5 m dan jarak s.k.s. minimum 0,80 m

7.850 kg/m3 2.600 kg/m3 1.500 kg/m3 700 kg/m3 1.450 kg/m3 7.250 kg/m3 2.200 kg/m3 2.400 kg/m3 1.000 kg/m3 1.650 kg/m3 1.700 kg/m3 2.200 kg/m3 2.200 kg/m3 1.450 kg/m3 1.600 kg/m3 1.800 kg/m3 1.850 kg/m3 1.700 kg/m3 2.000 kg/m3 11.400 kg/m3 21 kg/m2 17 kg/m2 14 kg/m2 450 kg/m2 250 kg/m2 200 kg/m2 120 kg/m2 300 kg/m2 200 kg/m2 11 kg/m2 10 kg/m2 40 kg/m2

L - 2 Penutup atap sirap dengan reng dan usuk.kaso, per m bidang atap.

Penutup atap seng gelombang (BWG 24) tanpa gordeng

Penutup lantai dari ubin semen Portland, teraso dan beton, tanpa adukan, per cm tebal.

Semen asbes gelombang (tebal 5 mm)

50 kg/m2 40 kg/m2 10 kg/m2 24 kg/m2 11 kg/m2 Catatan :

(1) Nilai ini tidak berlaku untuk beton pengisi

(2) Untuk beton getar, beton kejut, beton mampat dan beton padat lain sejenis, berat sendirinya harus ditentukan tersendiri

(3) Nilai ini adalah nilai rata-rata; untuk jenis-jenis kayu tertentu lihat NI 5 Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia

Tabel 2.2. Beban hidup pada lantai gedung

Lantai dan tangga rumah tinggal, kecuali yang disebut dalam b Lantai dan tangga rumah tinggal sederhana dan gudang-gudang tidak penting yang bukan untuk took, pabrik atau bengkel

Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, took, toserba, restoran, hotel, asrama dan rumah sakit.

Lantai ruang olah raga Lantai ruang dansa

Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain daripada yang disebut dalam a s/d e, seperti mesjid, gereja, ruang pagelaran, ruang rapat, bioskop dan panggung penonton dengan tempat duduk tetap.

Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton berdiri.

Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam c

200 kg/m2 125 kg/m2 250 kg/m2 400 kg/m2 500 kg/m2 400 kg/m2 500 kg/m2 300 kg/m2

L - 3 Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c,d,e,f dan g

Lantai untuk : pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat-alat dan ruang mesin, harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri dengan minimum.

Lantai gedung parker beringkat : - Untuk lantai bawah

- Untuk lantai tingkat lainnya

m. Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan, dengan minimum 250 kg/m2 400 kg/m2 800 kg/m2 400 kg/m2 300 kg/m2

Tabel 2.3. Koefisien reduksi beban hidup

Penggunaan Gedung

Koefisien reduksi beban hidup Untuk perencanaan balok induk dan portal Untuk peninjauan gempa PERUMAHAN/PENGHUNIAN :

 Rumah tinggal, asrama, hotel, rumah sakit PENDIDIKAN :

 Sekolah, ruang kuliah PERTEMUAN UMUM :

 Mesjid, gereja, bioskop, restoran, ruang dansa, ruang pagelaran KANTOR : 0,75 0,90 0,90 0,60 0,30 0,50 0,50 0,30

L - 4 PERDAGANGAN :

 Toko, toserba, pasar PENYIMPANAN :

 Gudang, perpustakaan, ruang arsip INDUSTRI :

 Pabrik, bengkel

TEMPAT KENDARAAN :  Garasi, gedung parkir GANG DAN TANGGA :  Perumahan/penghunian  Pendidikan, kantor

 Pertemuan umum, perdagangan, penyimpanan, industri, 0,80 0,80 1,00 0,90 0,75 0,75 0,90 0,80 0,80 0,90 0,50 0,30 0,50 0,50

Dokumen terkait