BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASEAN ECONOMIC
C. ASEAN Tourism Agreement 2002 Dalam Perspektif Hukum
4. Akibat Hukum ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002
Keterikatan suatu negara terhadap perjanjian internasional merupakan konsekuensi hukum dari keinginan dan tindakan berdaulat negara untuk membuat perjanjian80
Akibat hukumnya adalah kewajiban-kewajiban tertentu dalam ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 untuk Indonesia khususnya dan negara-negara ASEAN umumnya. Kewajiban tersebut antara lain adalah kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan perjanjian termaksud seperti dikehendaki oleh pasal 18 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan bahwa “kewajiban untuk tidak merusak objek dan tujuan perjanjian pada saat berlakunya, apabila misalnya ia telah menandatangani perjanjian,
. Kesepakan yang telah dituangkan ke dalam ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 merupakan komitmen negara anggota ASEAN untuk melaksanakannya dan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut akan melahirkan pertanggungjawaban internasional kepada negara-negara yang telah menyepakati ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002.
80
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, cetakan ketiga, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003, h.235.
mempertukarkan piagam ratifikasi, sudah diakseptasi, disetujui atau apabila ia telah menyatakan setuju untuk terikat pada perjanjian”. Karena ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 sudah diratifikasi oleh Indonesia maka ketentuan-ketentuan dalam ASEAN Tourism
Agreement (ATA) 2002 berlaku bagi pihak-pihak yang disebutkan
didalamnya terkhusus dibidang pariwisata, hal-hal yang berkenaan dengan daerah wisata, pengelola wisata, transportasi untuk menuju daerah wisata tersebut serta pihak-pihak yang akan memberikan keamanan dan kenyamana di tempat wisata.
BAB IV
ASEAN TOURISM AGREEMENT (ATA) 2002 DAN ASEAN ECONOMIC
COMMUNITY 2015 DAN PENGARUHNYA TERHADAP INDONESIA
D. Hak dan Kewajiban Indonesia Pada ASEAN Tourism Agreement 2002
Konvensi Wina 1969 menegaskan bahwa suatu Negara wajib untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak obyek dan maksud dari suatu perjanjian apabila81
1) Negara tersebut telah menandatangani perjanjian atau telah saling menukar instrument perjanjian yang masih harus diratifikasi, akseptasi (penerimaan) atau persetujuan, sampai negara tersebut menyatakan kinginannya secara tegas bahwa ia tidak jadi menjadi anggota kepada perjanjian, atau
:
2) Negara tersebut telah menyatakan persetujuannya untuk terikat oleh suatu perjanjian sambil menunggu berlakunya suatu perjanjian dan asalkan bahwa berlakunya perjanjian tersebut tidak ditunda (pasal 18 konvensi).
Di dalam naskah ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 terdapat beberapa hak dan kewajiban yang didapatkan dan harus dilaksanakan oleh negara-negara yang ikut dalam perjanjian tersebut, termasuk Indonesia, hak dan kewajiban tersebut adalah82
a. Bidang transportasi :
81
Huala Adolf, Op.cit, h.234-235.
82
Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Pengesahan Asean Tourism agreement (Persetujuan Pariwisata Asean), hal 5-7.
Wisatawan yang berasal dari negara anggota ASEAN berhak mendapatkan kemudahan fasilitas transportasi untuk menuju daerah wisata, sehingga memberikan kemudahan wisatawan untuk berkunjung ke daerah wisata di Negara-negara ASEAN.
Negara Anggota wajib memberikan fasilitas perjalanan ke dan di dalam ASEAN dengan:
1) Pengaturan pemberian bebas Visa bagi warga negara anggota ASEAN yang bepergian di wilayah ASEAN berdasarkan persetujuan bilateral antara negara anggota ASEAN yang telah siap melaksanakannya;
2) Menyelaraskan prosedur penerbitan visa bagi wisatawan internasional;
3) Secara bertahap meniadakan pungutan-pungutan perjalanan dan pajak-pajak perjalanan bagi warga negara anggota ASEAN yang melakukan perjalanan ke negara anggota ASEAN lainnya;
4) Mendorong penggunaan smart cards untuk pengusaha dan wisatawan ASEAN yang sering melakukan perjalanan ke negara anggota ASEAN lainnya, bila memungkinkan untuk wisatawan lintas-batas berdasarkan perjanjian bilateral bagi negara anggota ASEAN yang telah siap melaksanakannya;
5) Memperbaiki komunikasi dengan wisatawan internasional melalui pemakaian simbol-simbol universal dan tanda-tanda dan format dalam berbagai bahasa;
6) Mempermudah proses penerbitan dokumen-dokumen perjalanan dan secara progresif mengurangi semua hambatan perjalanan; 7) Melakukan kerjasama dalam meningkatkan aksesibilitas melalui
udara ke dan antar negara anggota melalui liberalisasi jasa penerbangan secara progresif;
8) Meningkatkan efisiensi pengelolaan bandara dan jasa-jasa terkait lainnya;
9) Membuat kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mendorong pengembangan wisata kapal pesiar, perjalanan menggunakan feri, dan perahu pesiar dengan menyediakan prasarana yang memadai dan memfasilitasi perjalanan tanpa batas;
10)Meningkatkan kerjasama dalam mengembangkan langkah-langkah untuk mendukung perjalanan wisata yang efisien dan aman yang berkaitan dengan angkutan darat dan asuransi perjalanan; dan
11)Mendorong kerjasama dan pengaturan komersial antar perusahaan-perusahaan penerbangan ASEAN.
Negara anggota wajib melakukan perundingan secara berkesinambungan di bidang perdagangan jasa pariwisata sesuai Kerangka Kerja Persetujuan ASEAN di bidang Jasa.
c. Pariwisata berkualitas
Wisatawan yang berasal dari negara-negara ASEAN berhak mendapatkan pariwisata yang berkualitas, karena setiap daerah wisata yang ada di negara-negara ASEAN telah di sesuaikan dengan kenyamanan wisatawan sesuai dengan karakteristik daerah wisatanya.
Negara anggota wajib menjamin terwujudnya pariwisata yang berkualitas melalui83
1) Mendorong pemerintah dan masyarakat setempat di semua lapisan untuk menjalankan program-program yang menjamin pelestarian, konservasi dan promosi warisan alam, budaya dan sejarah negara-negara anggota;
:
2) Mendorong para pengunjung untuk memahami, menghargai dan membantu pelestarian warisan alam, budaya dan sejarah negara-negara anggota;
3) Mendorong jika mungkin penerapan standar-standar pengelolaan lingkungan dan program-program sertifikasi bagi pariwisata yang berkelanjutan dan untuk menilai serta memantau dampak pariwisata terhadap masyarakat, budaya dan
83
alam setempat, khususnya di wilayah-wilayah yang lingkungan dan budayanya sensitif;
4) Mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk melestarikan dan memelihara warisan alam, ekosistem dan keanekaragaman hayati, dan untuk melindungi flora dan fauna, serta mikro organisme yang terancam punah;
5) Memperkuat langkah-langkah untuk mencegah berbagai ancaman yang terkait dengan pariwisata dan eksploitasi terhadap warisan budaya dan sumber daya alam; dan
6) Mengambil langkah-langkah tegas untuk mencegah
penyimpangan yang terkait dengan pariwisata dan eksploitasi terhadap manusia, khususnya wanita dan anak-anak.
d. Keamanan dan kenyamanan pariwisata
Wisatawan yang berasal dari negara-negara ASEAN berhak mendapatkan perlindungan dan keamanan di setiap daerah wisata yang ada di negara-negara ASEAN, jika ada wisatawan yang merasa dirugikan maka aparat penegak hukum yang ada di daerah wisata tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Negara anggota wajib menjamin keselamatan dan keamanan wisatawan dengan:
1) Meningkatkan kerjasama antar institusi penegak hukum yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan wisatawan;
2) Mengintensifkan pertukaran informasi mengenai hal-hal keimigrasian antar institusi penegak hukum; dan
3) Mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menjamin sistem komunikasi dan bantuan yang memenuhi kebutuhan pengunjung.
e. Pemasaran dan promosi bersama
Wisatawan yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN berhak mendapatkan promosi terkini dan diprioritaskan mengenai pariwisata yang ada di negara-negara ASEAN, melalui jasa-jasa pariwisata yang sudah bekerja sama dengan daerah wisata terkait maupun pemerintahan setempat yang memberikan informasi terkait hal tersebut.
Negara anggota wajib mengintensifkan kegiatan bersama untuk memasarkan dan mempromosikan perjalanan wisata ke dan di dalam wilayah ASEAN dengan84
1) Mendukung kampanye kunjungan ASEAN, dengan
menampilkan paket-paket wisata dan atraksi tematik untuk mendorong pengunjung pada wisata minat khusus;
:
84
2) Mempromosikan kekayaan alam dan keanekaragaman budaya dan seni ASEAN;
3) Membantu kerjasama antar organisasi pariwisata nasional dan industri pariwisata ASEAN, terutama perusahaan penerbangan, hotel dan resor, agen perjalanan dan tur operator/biro perjalanan, dalam memasarkan dan mempromosikan paket-paket wisata antar negara, termasuk kawasan pertumbuhan sub-regional; 4) Meminta perusahaan-perusahaan penerbangan negara anggota
untuk memperluas program promosi pariwisata mereka;
5) Menyelenggarakan peristiwa-peristiwa promosi pariwisata negara ASEAN secara keseluruhan di dalam dan di luar ASEAN;
6) Memperluas dan memperkuat kerjasama ASEAN di pasar-pasar luar ASEAN dan pada pameran-pameran dagang pariwisata internasional utama;
7) Mempromosikan ASEAN sebagai suatu label di pasar internasional;
8) Memperkuat dukungan terhadap Forum Pariwisata ASEAN; 9) Mempromosikan peluang investasi di kalangan industri
pariwisata ASEAN;
10) Melakukan kerjasama dalam penggunaan teknologi informasi di kalangan industri pariwisata ASEAN; dan
11) Membantu kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam bidang pemasaran dan promosi pariwisata, bekerja sama dengan organisasi-organisasi internasional dan regional serta badan-badan terkait lainnya
f. Pengembangan sumber daya manusia
Masyarakat dari negara-negara ASEAN berhak mendapatkan pelatihan dan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah setempat maupu pihak swasta di bidang pariwisata untuk pengembangan pariwisata ASEAN.
Negara anggota wajib bekerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang industri pariwisata dengan85
1) Merumuskan pengaturan tanpa hambatan untuk memudahkan negara anggota ASEAN menggunakan tenaga ahli pariwisata profesional dan tenaga kerja terampil yang ada di kawasan berdasarkan pengaturan bilateral;
:
2) Mengintensifkan upaya berbagi sumber daya dan sarana untuk program pendidikan dan pelatihan pariwisata;
3) Meningkatkan kurikulum pendidikan dan keterampilan pariwisata dan merumuskan standar kompetensi dan prosedur sertifikasi, yang mengarah pada saling pengakuan atas keterampilan dan kualifikasi di kawasan ASEAN;
85
4) Memperkuat kemitraan pemerintah dan swasta dalam pengembangan sumber daya manusia; dan
5) Melakukan kerjasama dengan negara-negara lain, kelompok negara dan lembaga-lembaga internasional dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang pariwisata.
E. Hak dan Kewajiban Indonesia Pada ASEAN Economic Community 2015
Pelaksanaan masyarakat ekonomi ASEAN telah diatur dalam ASEAN
Economic Community 2015 Blueprint yang disahkan pada KTT ASEAN
2007 di Singapura, dalam cetak biru ini terdapat memuat empat pilar, yaitu: 1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan
elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan modal yang lebih bebas;
2. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan dan e-commerse; 3. ASEAN sebagai kawasan pembangunan ekonomi yang merata dengan
elemen pengembangan usaha kecil dan menengah dan prakarsa integrase ASEAN untuk Negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos dan Vietnam;
4. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam jejaring produksi global.
Prioritas sektor86
1. ASEAN single window
pada ASEAN Economic Community 2015meliputi tujuh sektor barang, yaitu produk berbasis agro, otomotif, elektronika, produk karpet, tekstil dan produk tekstil, perikanan dan barang dari kayu serta lima sektor jasa, yaitu, penerbangan, jasa online, pariwisata, kesehatan dan logistik.
Berdasarkan ASEAN Economic Community 2015 Blueprint, terdapat beberapa hak dan kewajiban yang dimiliki dan harus dilaksanakan oleh negara anggota. Adapaun hak yang tertuang dalam ASEAN Economic Community 2015 Blueprint yaitu:
Negara anggota berhak untuk menerapkan kebijakan pemulihan perdagangan antara lain, anti dumping, bea imbalan (terkait dengan subsidi), dan safe guard, selain itu Negara anggota juga dapat menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa yaitu protocol on
enhanced disputed settlement mechanism87
2. Arus modal yang lebih bebas
.
Dalam upaya memfasilitasi pergerakan modal yang lebih besar, negara anggota berhak memberlakukan kebijakan yang dirasa perlu untuk stabilitas makroekonomi88
86
ASEAN Framework Agreement for the Integration of Priority Sectors 2004.
87
Buku Menuju ASEAN Economic Community 2015, h. 29, diakses melaui
http://www.ditjenkpi.kemendag.go.id%2Fwebsite_kpi%2FUmum%2FSetditjen%2FBuku%2520 Menuju%2520ASEAN%2520ECONOMIC%2520COMMUNITY%25202015.pdf pada tanggal 28-11-2014.
88
Mengenai kewajiban masing-masing negara berkewajiban untuk melaksanakan komitmen dalam ASEAN Economic Community 2015 Blueprint, terutama dalam empat kerangka utama, selain itu kewajiban-kewajiban lainnya di ASEAN
Economic Community 2015 Blueprint yaitu:
1. Bidang perdagangan barang89
a. Negara-Negara Anggota wajib menghapus seluruh Tarif Preferensial Efektif Bersama (CEPT-AFTA) pada seluruh produk yang sudah diidentifikasi yang dicakup oleh masing-masing Protokol Integrasi Sektoral ASEAN, kecuali yang tercantum dalam daftar negatif (daftar sensitif, daftar sangat sensitif, dan daftar pengecualian umum) pada Protokol-Protokol tersebut, yang jumlah keseluruhan untuk masing-masing negara anggota wajib tidak melebihi 15% dari daftar total produk pada 1 Januari 2007 untuk ASEAN-6; dan 1 Januari 2012 untuk CLMV;
b. Negara-negara anggota wajib melaksanakan tindakan-tindakan berikut ini terkait dengan kebijakan-kebijakan non tarif (selanjutnya disebut sebagai ”NTMs”) dan hambatan non tarif (selanjutnya disebut sebagai ”NTBs”), untuk memastikan transparansi, sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan.
2. Bidang Perdagangan Jasa90
Negara-negara anggota wajib mempercepat liberalisasi perdagangan di sektor-sektor jasa prioritas sampai tahun 2010.
89
Ibid, h. 42-43.
90
3. Bidang Ketentuan Asal Barang91
Negara-negara anggota, pada tanggal 31 Desember 2006, wajib memperbaiki Ketentuan Asal Barang CEPT dengan:
a. Membuat ketentuan asal barang menjadi lebih transparan, dapat diprediksi, terstandarisasi dan memfasilitasi perdagangan, dengan memperhatikan kebutuhan untuk meningkatkan sumber regional dan kebiasaan-kebiasaan terbaik dari Perjanjian-perjanjian Perdagangan Regional lainnya, termasuk ketentuan asal barang WTO;
b. Menerima transformasi substansial sebagai kriteria alternatif untuk menentukan status asal barang.
4. Perpindahan Pelaku Usaha, Tenaga Ahli, Profesional, Tenaga Terampil dan Orang Berbakat92
Dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dalam negeri, masing-masing negara anggota wajib:
.
a. Mengembangkan suatu Persetujuan ASEAN untuk memfasilitasi perpindahan para pelaku usaha, termasuk pemberlakuan suatu Kartu Perjalanan ASEAN;
b. Menetapkan dan mengembangkan mekanisme lain yang akan melengkapi prakarsa-prakarsa ASEAN yang telah ada untuk memfasilitasi lebih lanjut perpindahan para tenaga ahli, profesional, tenaga terampil dan orang berbakat pada tanggal 31 Desember 2007; dan 91 Ibid, h.45. 92 Ibid, h.46-47.
c. Mempercepat penyelesaian mras untuk memfasilitasi perpindahan bebas dari para tenaga ahli, profesional, tenaga terampil dan orang berbakat di ASEAN, pada tanggal 31 Desember 2008.
5. Statistik Perdagangan dan Penanaman Modal Intra ASEAN.
Negara-negara anggota wajib mengembangkan suatu sistem yang efektif untuk memantau perdagangan dan penanaman modal intra ASEAN melalui:
a. Penyusunan suatu basis data perdagangan dan penanaman modal yang efisien, pada tanggal 31 Desember 2009;
b. Penyediaan perkembangan terakhir pada Sekretariat ASEAN mengenai statistik terakhir perdagangan (barang dan jasa) dan penanaman modal; dan
c. Penyiapan gabungan profil-profil industri oleh masing-masing asosiasi yang antara lain, mencakup informasi seperti kemampuan produksi dan cakupan produk.
6. Hak Kekayaan Intelektual93
Negara-negara anggota wajib memperluas lingkup kerja sama hak kekayaan intelektual ASEAN, selain merek dagang dan paten, termasuk kerjasama pertukaran informasi dan penegakan hak cipta.
.
7. Penggunaan Tenaga Kerja Kontrak dan Industri Pelengkap94
Negara-negara anggota wajib meningkatkan kelengkapan diantara para pengusaha fabrikasi ASEAN, apabila dapat diberlakukan, melalui:
. 93 Ibid, h.47. 94 Ibid, h.48.
a. Identifikasi dan pengembangan kawasan-kawasan spesialisasi proses-proses produksi, penelitian dan pengembangan (R&D), serta fasilitas-fasilitas pengujian berdasarkan keuntungan komparatif dari masing-masing negara anggota; dan
b. Pengembangan pedoman mengenai pengenalan pengaturan-pengaturan penggunaan tenaga kerja kontrak diantara negara-negara anggota, apabila dapat diberlakukan, pada tanggal 31 Desember 2008.
F. Pemberlakuan ASEAN Tourism Agreement 2002 Dalam Hubungannya Terhadap ASEAN Economic Community 2015 dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia
Mulai berlakunya suatu perjanjian, baik bilateral maupun multilateral, pada umumnya ditentukan oleh klausula penutup dari perjanjian itu sendiri. dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa para pihak dari perjanjian itulah yang menentukan bila perjanjian tersebut mulai berlaku secara efektif95
ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 mulai berlaku sejak penyerahan instrumen pengesahan atau dokumen penerimaan oleh semua negara anggota kepada sekertaris jenderal ASEAN
.
96
95
Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian, Peranan, dan Fungsi Dalam Era
Dinamika Global, Edisi Kedua cetakan keempat, Alumni, Jakarta, 2011, h. 124.
96
Pasal 12 ASEAN Tourism Agreement Tahun 2002.
, dan semenjak dokumen tersebut diterima oleh Republik Indonesia maka Agreement tersebut menjadi bagian dari peraturan-perundang-undangan nasional yang memiliki kekuatan
hukum. Sedangkan untuk ASEAN Economic Community diberlakukan mulai dari Desember 2015.
Pemberlakuan ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 merupakan salah satu bentuk dukungan untuk mewujudkan ASEAN Community 2015yang lebih difokuskan terhadap ASEAN Community 2015, sejak diberlakukannya ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002 banyak perubahan-perubahan positif di Republik Indonesia, khususnya perkembangan Pariwisata.
Meningkatnya jumlah wisatawan dari tahun ke tahun yang datang ke Indonesia juga ikut menambah devisa yang diterima oleh Indonesia, berdasarkan tabel 2 dari tahun 2008-2013 jumlah wisatawan mancanegara meningkat yang diikuti juga dengan meningkatnya jumlah devisa yang diterima, hal ini menunjukan bahwa Indonesia telah menjadi salah satu tujuan wisata dunia, dengan berbagai jenis wisata yang ada di Indonesia.
Tabel 2. Jumlah wisatawan asing dan devisa wisatawan mancanegara Tahun
Tahun Jumlah Wisman Devisa Wisman (Juta US$)
2008 6234497 7347.60 2009 6323730 6297.99 2010 7002944 7603.45 2011 7649731 8554.39 2012 8044462 9120.89 2013 8802129 10054.15
2007-2013
Sumber: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
Selain itu negara-negara ASEAN juga menerima dampak terhadap perkembangan pariwisata, pada data kunjungan wisatawan ASEAN tahun 2012-2013 berdasarkan input anggota ASEAN kepada masyarakat ASEAN per Januari 2014, pertumbuhan wisatawan secara umum mencapai 18.99%97
Tabel3. Kedatangan wisatawan Internasional ke negara-negara ASEAN , terlihat pada tabel 3, setiap Negara-negara ASEAN mengalami pertumbuhan di atas 3%, dan Thailand merupakan Negara yang paling tinggi jumlah wisatawannya, namun Myanmar menempati posisi tertinggi dalam pertumbuhan dan perkembangan pariwisata.
Sumber: ASEAN Secretariat 2014
97
Seminar Kesiapan Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Cmmunity 2015 di Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif oleh Mari Elka Pangestu, disampaikan pada MUNAS HILDIKTIPARI, di Bandung, tanggal 13 Mei 2014.
No Member Country Month 2012 2013 Growth (%)
1 Brunei Darussalam Jan-Oct 213.026 224.057 5.18
2 Cambodia Jan-Dec 3.584.307 4.200.000 17.18 3 Indonesia Jan-Dec 8.044.462 8.800.000 9.39 4 Lao DPR Jan-Dec 3.330.089 3.795.045 13.96 5 Malaysia Jan-Sep 18.153.643 18.756.476 3.32 6 Myanmar Jan-Dec 1.058.995 2.044.307 93.04 7 Philipines Jan-Nov 3.830.723 4.228.657 10.39 8 Singapore Jan-Nov 13.135.300 14.082.000 7.21 9 Thailand Jan-Dec 22.353.903 26.735.583 19.60
10 Viet Nam Jan-Dec 6.847.678 7.572.352 10.58
Berdasarkan gambar 3, kontribusi pariwisata berada diperingkat 4-5 dari tahun 2009-2013 yang terus meningkat dan mempunyai peran besar dalam jumlah devisa yang dihasilkan, dengan kata lain, pariwisata budaya dan pariwisata bisa menjadi kekuatan besar Indonesia di dunia dan ASEANCommunity 2015 khususnya.
Gambar 3. Kontribusi kepariwisataan Indonesia terhadap devisa 2009-2013
Sumber: Kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif
Peringkat Indonesia dibidang pariwisata terus meningkat, berdasarkan tabel 4, Singapura merupakan Negara dengan peringkat paling tinggi dibandingkan 7 negara-negara ASEAN lainnya, baik dari dunia, Asia Pasifik, maupun ASEAN, sedangkan Indonesia sendiri masih di bawah Thailand dan Malaysia.
Tabel 4. Posisi kepariwisataan Indonesia (The Travel and Tourism
Competitiveness Index)
No Negara 2009 2011 2013
Dunia ASPAC ASEAN Dunia ASPAC ASEAN Dunia ASPAC ASEAN
1 Brunei Darussalam 69 12 4 67 11 4 72 13 5 2 Cambodia 108 21 8 109 21 8 106 20 8 3 Indonesia 81 15 5 74 13 5 70 12 4 4 Malaysia 32 7 2 35 7 2 34 8 2 5 Philippines 86 16 6 94 18 7 82 17 7 6 Singapore 10 2 1 10 1 1 10 1 1 7 Thailand 39 8 3 41 10 3 34 9 3 8 Viet Nam 89 17 7 80 14 6 80 16 6 Jumlah Negara yang di survey 133 25 8 139 26 8 140 25 8
Sumber: Seminar Kesiapan Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Cmmunity 2015 di Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif oleh Mari Elka Pangestu,
Pariwisata merupakan sektor yang memiliki ketahanan tinggi (resilience) terhadap krisis. Dalam situasi ketidakpastian dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global, sektor pariwisata di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) termasuk
Indonesia mampu tumbuh tinggi. Untuk wilayah Asia Tenggara tahun 2013 tumbuh sebesar 12% atau tertinggi di dunia berdasarkan wilayah, sementara wilayah Asia Pasifik 6%, Amerika 3,6%, Eropa 5,4%, Afrika 5,6%, dan Timur Tengah 0,3%98
Kinerja pariwisata Indonesia 2013 cukup memuaskan, dengan perolehan devisa US$ 10,05 miliar meningkat 10,23% dibandingkan tahun 2012. Sedangkan dari wisatawan nusantara (wisnus) tahun 2013 terjadi pergerakan 248 juta wisnus dengan uang yang dbelanjakan mencapai Rp 154,7 triliun atau dua kali lipat lebih besar dari wisman. Tahun 2013 kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB sebesar Rp 347,35triliun atau sekitar 3,8% dari total PDB Nasional, Dampak terbesar sektor kepariwisataan 2013, terjadi pada penyerapan tenaga kerja mencapai 10,18 juta orang atau 8,89% dari total tenaga kerja nasional
. Hasil kajian UN-WTO menyebutkan prospek pariwisata ASEAN ke depan semakin cerah dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 10,3% pada 2030. Hal serupa juga disampaikan World Travel and Tourism Council (WTTC) yang memperkirakan adanya kebijakan kemudahaan visa dapat menambah kunjungan wisatawan sebesar 6-10 juta orang ke ASEAN pada 2016 dan akan terjadi peningkatan pendapatan sebesar US$ 7-10 juta.
99
Pertumbuhan ekonomi Negara ASEAN setelah penerapan ASEAN
Economic Community, pada produk domestik bruto di kawasan ASEAN akan
menjadi 5% lebih tinggi dari baseline pada tahun 2015, 6.3% lebih tinggi pada .
98
Mari Elka Pangestu, September 2014.
99
tahun 2020, dan 7,1% lebih tinggi pada 2025100. Meskipun demikian, Keuntungan berbeda secara substansial oleh Kamboja misalnya, pada tahun 2025 (19,9 persen) dan Indonesia dan ASEAN lain yang Setidaknya (2,5 persen)101
Sumber: International Labour Organisation (ILO): ASEAN Community 2015: Managing integration for better jobs and shared prosperity
. Manfaat ASEAN
Economic Community terhadap pertumbuhan ekonomi lebih besar didapatkan oleh
Negara-negara berkembang seperti kamboja, laos, Vietnam. Sementara Indonesia menikmati lebih sedikit (gambar 4).
Gambar 4. Perubahan PDB di bawah skenario relatif AEC untuk baseline, 2015, 2020 dan 2025 (persen)
Perubahan ekspor, impor, investasi, dan konsumsi setelah penerapan ASEAN Economic Community, Pertumbuhan ekspor yang kuat mendasari
100
Mengukur perubahan kesejahteraan ekonomi menggunakan setara teknik variasi, yang mengukur setara pendapatan peningkatan utilitas karena perubahan harga, menghasilkan sejenis hasil seperti yang dari PDB.
101
Karena keterbatasan data, Brunei dan Myanmar dikelompokkan dalam "ASEAN lainnya". Selain itu, GDP simulasi menurun di beberapa negara anggota non-ASEAN.
ekspansi output relatif terhadap baseline. Pada tingkat ASEAN, ekspor akan 15,7% di atas baseline sementara impor naik 15,5%102
Gambar 5. Perubahan konsumsi, investasi, ekspor dan impor di bawah skenario relatif AEC ke baseline, 2025 (persen)
(gambar 5). Investasi di kawasan ASEAN di bawah skenario ASEAN Economic Community pada tahun 2025 adalah 8% lebih tinggi dari baseline, sementara konsumsi swasta adalah 7,4% di atas baselinemeskipun lagi dengan perbedaan yang signifikan antara negara-negara. Pada dasarnya, perdagangan internasional memungkinkan untuk spesialisasi berdasarkan keunggulan komparatif, yang menyebabkan konsumsi dan investasi kemungkinan yang lebih tinggi. Di antara langkah-langkah kebijakan perdagangan simulasi, penghapusan hambatan non-tarif kontribusi