BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ASEAN ECONOMIC
C. ASEAN Tourism Agreement 2002 Dalam Perspektif Hukum
3. Ratifikasi ASEAN Tourism Agreement (ATA) 2002
Dengan menentukan isinya perjanjian belum berarti bahwa perjanjian itu sudah mengikat. Untuk ini dibutuhkan suatu penegasan oleh pemerintah yang bersangkutan setelah mereka ini mempunyai kesempatan untuk mempelajari dan setelah diajukan pada parlemen bila perlu. Penegasan tersebut dinamakan pengesahan atau ratifikasi. Kecuali bila ditentukan lain dalam perjanjian67
Ratifikasi di sini merupakan tindakan suatu Negara yang dipertegas oleh pemberian persetujuan untuk diikat dengan suatu perjanjian
.
68
. Sehingga pada dasarnya Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian menekankan pada persetujuan yang akan meningkatkan rencana perjanjian menjadi perjanjian yang berlaku mengikat bagi Negara-negara peserta69
Ratifikasi biasanya dibuat oleh kepala-kepala negara yang berkepentingan, yang selanjutnya diteruskan dengan pertukaran nota ratifikasi pula, terkecuali kalau ditentukan lain dengan istimewa, misalnya perjanjian akan berlaku sejak ditandatangani. Hal tersebut telah ditekankan oleh bapak Budi Harsono M.I.L. bahwa pada
.
67
Edy Suryono, Praktik ratifikasi perjanjian internasional di Indonesia, Remadja Karya, Bandung, 1956, h. 24.
68
Konvensi wina 1969 tentang Hukum Perjanjian.
69
prinsipnya ratifikasi merupakan pernyataan yang bersifat penetapan atau pengesahan resmi dari kepala negara. Ditambahkan pula oleh beliau bahwa bila perjanjian tidak memuat ketentuan tanggal berlakunya, maka perjanjian tersebut harus diratifikasi70
1) Pembentukan kehendak negara melalui hukum konstitusi atau hukum internasional
.
Dalam proses sebelum ratifikasi treaty, sebenarnya terdapat dua kegiatan, yaitu:
2) Pernyataan kehendak negara dalam rangka hubungan internasional sesuai dengan praktik diplomasi yang berlaku71 Dari dua kategori diatas, maka dapat dikatakan ratifikasi mempunyai dua arti, yaitu ratifikasi dalam arti internasional dan ratifikasi dalam arti konstitusional.
.
Ratifikasi dalam arti internasional disebut pula ratifikasi yang sebenarnya (ratification proper). Ratifikasi demikian diselenggarakan oleh organ eksekutif sebagai suatu badan yang mewakili suatu negara berhadapan dengan negara lain. Pernyataan kehendak suatu negara pada umumnya tercantum dalam dokumen ratifikasi (instrument of
ratification) yang ditandatangani oleh kepala negara atau menteri luar
negeri. Kemudian dokumen tadi dipertukarkan antar negara yang satu dengan yang lainnya, dan disimpan (dideposit) pada suatu negara untuk perjanjian bilateral atau disekretariat suatu organisasi
70
Ibid, h. 26.
71
internasional untuk perjanjian multilateral. Sebagai akibat dari pertukaran dokumen itu maka negara yang telah meratifikasi telah terikat pada treaty itu. Jadi, yang dimaksud dengan ratifikasi dalam arti internasional di sini adalah kegiatan yang berupa pertukaran atau penyimpanan dokumen ratifikasi, karena sejak tanggal pertukaran itulah lahirnya kewajiban-kewajiban internasional sebagai efek ratifikasi tersebut72
Adapun ratifikasi dalam arti konstitusional merupakan “The
International Constitutional Act”. Dalam hal ini biasanya organ
legislatif biasanya menyetujui dan mengesahkan suatu treaty dari segi hukum konstitusi dalam negeri sendiri. maksudnya ratifikasi dalam arti ini ialah persetujuan parlemen sebelum ratifikasi oleh eksekutif berdasarkan konstitusi negara masing-masing yang seharusnya dicantumkan dalam konstitusi seperti dikebanyakan negara, misalnya Amerika Serikat, Perancis, dan Belanda. Disamping itu diperhatikan pula proses pembentukan perundang-undangan (legislation)
.
73
Tujuan ratifikasi adalah memberikan kesempatan kepada negara-negara guna mengadakan peninjauan serta pengamatan yang seksama apakah negaranya dapat diikat oleh perjanjian tersebut
.
74
Prosedur ratifikasi suatu perjanjian internasional tergantung pada ketentuan konstitusi atau undang-undang dasar masing-masing Negara. Adapun peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar
. 72 Ibid, h. 27. 73 Ibid, h. 27-28. 74 Ibid, h. 28.
hukum bagi Negara Republik Indonesia dalam mengikatkan diri pada perjanjian-perjanjian internasional sejak memperoleh kemerdekaannya yaitu:
1) Pasal 11 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
2) Undang-Undang Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional
3) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Pemerintah suatu negara untuk sampai pada keputusan untuk menyatakan persetujuan terikat pada suatu perjanjian internasional, melibatkan peranan parlemen, atau hanya salah satu organ pemerintah saja, bahkan cukup dengan melibatkan wakilnya yang melakukan perundingan saja. Dalam hal apa saja masing-masing atau kerjasama organ-organ pemerintah negara itu berperan, sangat tergantung pada substansi dari perjanjian internasional itu sendiri75
Sejauh manakah wakil atau pemerintah negara tersebut telah menyetujui suatu perjanjian internasional, apakah perjanjian internasional sudah sesuai atau tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum nasional, sistem politik, dann konstitusi dari negara itu sendiri
.
76
75
I wayan Phartiana,Op.cit, h. 146.
76
Ibid, h. 147.
Suatu perjanjian internasional yang sudah diratifikasi oleh suatu negara berarti perjanjian internasional itu masuk menjadi bagian dari hukum nasional negara tersebut.
Secara intern negara itu akan menghadapi kesulitan mengenai ketentuan manakah yang harus diutamakan dalam penerapannya, apakah ketentuan perundang-undangan nasional ataukah ketentuan perjanjian internasional itu sendiri77
Tiga sistem ratifikasi
.
78
a. Sistem ratifikasi yang semata-mata dilakukan oleh badan eksekutif. Dalam hal ini kepala negara sebagai badan eksekutif boleh mengikat, termasuk meratifikasi, perjanjian internasional tanpa pengawasan dari badan negara yang lainnya yaitu badan legislatif.
:
b. Sistem ratifikasi yang semata-mata dilakukan oleh badan legislatif. Sistem kedua ini juga tidak banyak digunakan lagi pada waktu sekarang.
c. Sistem campuran dimana baik badan eksekutif dan maupun badan legislative memainkan peranan dalam proses ratifikasi perjanjian. Dalam golongan ini masih terdapat lagi pembagian ke dalam dua golongan yang dinamakan subsistem, yaitu: 1) Sistem campuran di mana badan legislatif lebih menonjol.
Dalam hal ini maka persetujuan parlemen diperlukan
77
Ibid, h. 147-148.
78
sebelum suatu perjanjian internasional diratifikasi oleh badan eksekutif. Menurut sistem ini persetujuan parlemen diperlukan jika bidang dari perjanjian internasional yang telah ditandatangani wakil-wakil berkuasa penuh termasuk wewenang biasa dari parlemen berkenaan dengan perundang-undangan dalam negeri, seperti perubahan perundang-undangan dan perubahan yang menyangkut batas wilayah negara.
2) Sistem campuran di mana badan eksekutif lebih menonjol. Namun walaupun dalam sistem ini resminya badan eksekutif yang melakukan ratifikasi, dalam kenyataannya nasehat dan persetujuan parlemen mempunyai peranan yang menentukan pula bagi terselenggaranya peratifikasian suatu perjanjian internasional. Sistem ini pada umumnya terdapat di negara yang berbentuk republik, dimana parlemen sebagai salah satu badan pembentuk undang-undang, dengan sendirinya juga merupakan “treaty making
power”.
Berikut adalah tahapan dalam ratifikasi perjanjian internasional79
79
Yudha Bakti Ardhiwisastra, Hukum Internasional Bunga Rampai, Alumni, Bandung, 2003, h. 149-150.
1. Sesudah naskah perjanjian subject to ratification yang telah ditandatangani oleh wakil Republik Indonesia pada akhir suatu konferensi internasional atau suatu perundingan, dimintakan pendapat politis serta persetujuan kepada Pimpinan Departemen Luar Negeri, untuk selanjutnya dimintakan pengesahan dari Presiden oleh Menteri Luar Negeri. Sebelum mengesahkannya, Presiden minta kepada DPR untuk menyetujuinya terlebih dahulu. 2. Sebelum Menteri Luar Negeri minta pengesahan kepada Presiden,
Direktorat yang bersangkutan di Departemen Luar Negeri terlebih dahulu mengadakan suatu konsultasi antar Departemen yang berkepentingan dengan materi dari pada perjanjian tersebut. Pembahasan secara teknis pada prinsipnya diserahkan kepada masing-masing Departemen tadi.
3. Didalam konsultasi antar Departemen tersebut disiapkan pula suatu Rancangan Undang-Undang beserta penjelasannya untuk disampaikan kepada Presiden, yang kemudian dengan Amanat Presiden disampaikan kepada DPR untuk disetujui.
4. Setelah memperoleh persetujuan DPR, Rancangan Undang-Undang tersebut ditandatangani dan disahkan oleh Presiden dan diundangkan oleh Sekertaris Negara. Perjanjian tersebut biasanya mulai berlaku setelah diadakan pertukaran Piagam ratifikasi. Berdasarkan penjelasan di atas, Republik Indonesia dalam meratifikasi suatu perjanjian internasional menggunakan sistem campuran dan
ASEAN Tourism Agreement (ATA) tahun 2002 di ratifikasi melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengesahan ASEAN Tourism Agreement (persetujuan pariwisata ASEAN).