• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat Hukum Dari Sifat Putusan Mahkamah Partai

Dalam dokumen EKSISTENSI MAHKAMAH PARTAI DALAM PENYELE (Halaman 103-121)

BAB III EKSISTENSI MAHKAMAH PARTAI DI INDONESIA

B. Akibat Hukum Dari Sifat Putusan Mahkamah Partai

Mengenai sifat putusan Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia, memiliki kekuatan hukum bersifat final dan mengikat secara internal (in kracht van gewijsde). Hal itu ditegaskan oleh muatan norma hukum dalam Pasal 32 ayat (5) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, bahwa: Putusan Mahkamah Partai atau sebutan lain bersifat final dan mengikat secara internal dalam hal perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan.

Berarti menurut hukum, jelas terkandung makna mengenai permasalahan di dalam partai yang berkaitan dengan sengketa kepengurusan, maka patut dan wajib di selesaikan secara internal oleh Mahkamah Partai yang bersifat final dan mengikat (in kracht van gewijsde). Maka dengan demikian, semestinya putusan yang di keluarkan oleh Mahkamah Partai, menutup segala upaya hukum apa pun, dan langsung mengikat kepada semua pihak yang terlibat atas sengketa yang bersangkutan.

Akan tetapi, di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik, mengatur juga mekanisme penyelesaian sengketa internal partai melalui Pengadilan Negeri, sebagaimana tercantum pada Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, yang menyatakan bahwa: Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 tidak tercapai, penyelesaian perselisihan dilakukan melalui Pengadilan Negeri.

Kemudian turut ditegaskan pula bahwa, Pengadilan Negeri memiliki putusan yang bersifat pertama dan terakhir, dan hanya diperbolehkan mengajukan

kasasi kepada Mahkamah Agung. Hal tersebut di atur dalam butiran Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, berbunyi: Putusan pengadilan negeri adalah putusan tingkat pertama dan terakhir, dan hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

Bertitik tolak dari ketentuan yang dikemukakan di atas, norma hukum yang mengatur penyelesaian sengketa internal partai melalui Mahkamah Partai, serta penyelesaian sengketa internal partai oleh Pengadilan Negeri, ternyata memiliki kelemahan-kelemahan yang berdampak terhadap proses penegakan hukum dengan berlandaskan asas kepastian hukum. Kelemahan tersebut yakni, berupa multi tafsir dan ambiguitas, karena dapat mengakibatkan penafsiran yang tumpang tindih tentang kewenangan mengadili, antara Mahkamah Partai dan Pengadilan Negeri.

Akhirnya menimbulkan beragam pandangan yang menyatakan putusan Mahkamah Partai tidak layak menjadi pedoman penyelesaian sengketa internal partai, dan sebaliknya pandangan yang menyatakan bahwa Pengadilan Negeri tidak patut menyelesaikan sengketa internal partai yang berkenaan dengan kepengurusan.

Perlu diingat, perbedaan pendapat memang salah satu konsekuensi dari sistem demokrasi, dan dilindungi oleh konstitusi, akan tetapi apabila penafsiran yang berbeda dalam menerapkan hukum, maka dapat mengakibatkan permasalahan yang bertentangan dengan hukum. Sebagaimana dijelaskan oleh M. Yahya Harahap yang mengutip pandangan dari Marjanne Termorshuizen, bahwa:

“Salah menerapkan hukum mengandung makna onwetmatig. Sama artinya melawan atau melanggar hukum atau Undang-Undang. Atau sama dengan istilah onwettelijk. Artinya, tidak berdasarkan Undang-Undang. Bisa juga

wederrechtelijk atau strijdmet het recht. Maknanya, bertentangan dengan hukum.”143

Oleh karena itu dalam pembahasan ini, penulis ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, agar tidak mudah untuk diinterpretasikan oleh pelbagai pihak yang memiliki kepentingan. Seperti yang telah dibicarakan pada bab terdahulu, bahwa berlakunya konfigurasi politik demokratis di Indonesia, maka tentu semestinya menciptakan pula karakter produk hukum responsif/populastik. Yang mana hukum itu dibentuk bukanlah semata-mata untuk kepentingan pribadi, golongan dan/atau kepentingan politik, namun, tujuan hukum itu dibentuk adalah, untuk menertibkan keadilan guna menciptakan kesejahteraan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penafsiran dalam memahami norma hukum yang dimuat pada aturan hukum Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, mengenai eksistensi Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia. Bahwasanya, ada dua permasalahan mendasar yang menyebabkan salahnya menafsirkan norma, yang tentu berdampak pula pada penegakan hukum, yakni: 1. Konflik Norma

Melanjutkan pembicaraan yang telah disinggung dalam bab terdahulu, Mahfud MD menyajikan dua pandangan yang berbeda dalam korelasi politik

dengan hukum, khususnya pada konfigurasi politik terhadap karakter produk hukum, dengan memberikan pandangan pada sisi das sollen bahwa semestinya konfigurasi politik harus tunduk pada kedaulatan hukum (nomocratie), sebaliknya jika berpandangan dari sisi das sein yang mana hukum itu ditentukan oleh konfigurasi politik yang melahirkannya.

Lebih lanjut, dalam hal pembahasan mengenai norma, penulis turut berlandaskan dari pandangan Hans Kelsen yang menyatakan bahwa, konflik norma itu tidak dapat dikatakan benar atau pun salah, tetapi sebuah norma yang mengalami pertentangan antar norma, hanya dapat memberikan pilihan absah atau tidak absah.144

Dengan begitu, dapat dikatakan absah suatu noma hukum dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, semestinya harus dilaksanakan dengan muatan norma hukum yang berada di atasnya, yakni di Indonesia tentunya Undang-Undang harus mengacu kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam konteks ini, berdasarkan ketentuan pada Pasal 22 A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menegaskan bahwa: Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan Undang-Undang diatur dengan Undang-Undang.

Undang-Undang yang diamanatkan oleh konstitusi ialah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Berarti dengan demikian, dalam membentuk peraturan perundang-undangan

harus berlandaskan pada asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, sebagaimana telah ditegaskan dalam ketentuan Pasal 5 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011, yang meliputi:

a. kejelasan tujuan;

b. kelembagaan atau pejabat pembentukan yang tepat; c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; d. dapat dilaksanakan;

e. kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. kejelasan rumusan; dan

g. keterbukaan.

Kemudian, ditegaskan pula bahwa materi muatan peraturan perundang- undangan harus mencerminkan dari asas-asas yang dijelaskan dalam aturan berikutnya, yakni pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, yang tertulis sebagai berikut:

a. pengayoman; b. kemanusiaan; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhineka tunggal ika; g. keadilan;

h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau

j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

Dengan ketentuan tersebut, maka suatu norma hukum yang tertuang dalam aturan hukum berupa Undang-Undang, memiliki keabsahan yang mutlak.

Akan tetapi, jika dicermati dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, khususnya sebagai landasan yang memberikan kewenangan kepada Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai, menghadapi hambatan

karena adanya konflik norma yang disebabkan dengan pertentangan antara norma sesamanya. Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Pasal 32

(1) Perselisihan Partai Politik diselesaikan oleh internal Partai Politik sebagaimana diatur di dalam AD dan ART.

(2) Penyelesaian perselisihan internal Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu mahkamah Partai Politik atau sebutan lain yang dibentuk oleh Partai Politik.

(3) Susunan Mahkamah Partai Politik atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan Partai Politik kepada Kementerian.

(4) Penyelesaian perselisihan internal Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus diselesaikan paling lambat 60 (enam puluh) hari.

(5) Putusan Mahkamah Partai Politik atau sebutan lain bersifat final dan mengikat secara internal dalam hal perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan.

Pasal 33

(1) Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 tidak tercapai, penyelesaian perselisihan dilakukan melalui pengadilan negeri.

(2) Putusan pengadilan negeri adalah putusan tingkat pertama dan terakhir, dan hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

(3) Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan oleh pengadilan negeri paling lama 60 (enam puluh) hari sejak gugatan perkara terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri dan oleh Mahkamah Agung paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak memori kasasi terdaftar di kepaniteraan Mahkamah Agung.

Dengan rumusan materi norma hukum yang dipaparkan di atas, terlihat dalam Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, memiliki rumusan bahwa penyelesaian sengketa internal partai dilakukan oleh Mahkamah Partai, dan ditegaskan pada penjelasan di butir Pasal 32 ayat (5), yang menyatakan sifatnya final dan mengikat secara internal. Namun jika

dilihat norma berikutnya, tertuang pula pada Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, turut juga menyatakan, apabila tidak dapat tercapai penyelesaian sengketa internal partai oleh Mahkamah Partai, maka penyelesaian dapat dilakukan melalui Pengadilan Negeri. Dengan penegasan pada Pasal 33 ayat (2) nya bahwa, putusan Pengadilan Negeri bersifat pertama dan terakhir, dan hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

Hal ini lah yang sebenarnya menjadi hambatan Mahkamah Partai untuk menjalankan kewenangannya, dikarenakan adanya unsur ketidakpercayaan terhadap partai politik dalam menyelesaikan sengketa internalnya sendiri. Tentunya akan berdampak dengan ketidakpastian hukum, dan bertentangan dengan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, dan asas-asas materi muatan dalam membentuk peraturan perundang-undangan yang diamanatkan konstitusi melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, khususnya dalam Pasal 5 huruf (e) yang menyatakan kedayagunaan dan kehasilgunaan, huruf (f) berbunyi kejelasan rumusan, dan pada Pasal 6 huruf (h) mengenai kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, serta huruf (i) menjelaskan ketertiban dan kepastian hukum.

Dengan hal demikian penulis berpendapat, semestinya harus ada penegasan mengenai yurisdiksi antara Mahkamah Partai dan Pengadilan Negeri di dalam kaitan Pasal tersebut, karena analoginya, apabila ada keinginan untuk melakukan proses upaya hukum, seharusnya sifat Mahkamah Partai tidak mesti

final dan mengikat. Atau sebaliknya, jika ingin Mahkamah Partai bersifat final dan mengikat, tidak diharuskan menyelesaikan sengketa internal partai di Pengadilan Negeri yang memiliki sifat putusan pertama dan terakhir, yang hanya diperbolehkan kasasi kepada Mahkamah Agung.

Analogi hukum berikutnya, seperti yang telah dijelaskan penulis pada bagian sebelumnya, yakni mengenai SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) Nomor 04 Tahun 2003 Tanggal lima belas Oktober dua ribu tiga perihal perkara perdata yang berkaitan dengan pemilu, dan SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) Nomor 11 Tahun 2008 Tanggal delapan belas Desember dua ribu delapan Tentang Gugatan Yang Berkaitan Dengan Partai Politik, yang mana di dalamnya menyatakan secara tegas, bahwasanya Mahkamah Agung menghimbaukan kepada lingkup peradilan, bahwa untuk tidak menyelesaikan sengketa internal partai yang berkaitan dengan kepentingan politik. Maka sudah semestinya, SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) tersebut ditaati serta diterapkan oleh Hakim dan Pengadilan.

Kemudian, penyebab terjadinya konflik norma juga diturut karena adanya kekeliruan yang tidak dijelaskan secara tegas pada batang tubuh Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011. Sebagaimana dikemukakan oleh Aziz Syamsuddin dengan mengutip pendapat A. Hamid Attamimi dan Maria Farida Indrati, yang menjelaskan pasal-pasal dalam batang tubuh suatu Undang- Undang dirumuskan, dengan memuat tentang :

a. perintah; b. larangan; c. pengizinan; dan d. pembebasan.

2) Ketentuan tentang wewenang.

3) Ketentuan tentang penetapan yang terdiri atas: a. berwenang;

b. tidak berwenang; dan c. boleh tapi tidak harus.145

Pada kenyataannya, tidak ada penegasan dari ketentuan tentang wewenang Mahkamah Partai dan Pengadilan Negeri dalam mendefenisikan perselisihan dari partai politik yang dimaksud. Hal tersebut dapat dilihat dari bagian penjelasan Pasal 32 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, melainkan tidak diletakkan pada bagian batang tubuh. Tertulis sebagai berikut:

Pasal 32 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “perselisihan Partai Politik” meliputi antara lain:

(1) perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan; (2) pelanggaran terhadap hak anggota Partai Politik; (3) pemecatan tanpa alasan yang jelas; (4) penyalahgunaan kewenangan; (5) pertanggungjawaban keuangan; dan/atau (6) keberatan terhadap keputusan Partai Politik.

Semestinya, ketentuan pada bagian penjelasan seperti yang tertera di atas ini, di muat kedalam batang tubuh, khususnya dalam materi pokok yang mengatur kewenangan Mahkamah Partai ataupun Pengadilan Negeri. Sehingga tidak ada lagi penafsiran yang menyatakan patut atau tidak patut, berwenang atau tidak berwenang penyelesaian sengketa internal partai melalui Mahkamah Partai atau melalui Pengadilan Negeri.

145Aziz Syamsuddin, Proses Dan Teknik Penyusunan Undang-Undang, Cet. 1, Sinar

Berdasarkan dari penjelasan tersebut, penulis dapat menarik penalaran hukum bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, pada hakikatnya hanya absah menurut hierarki tatanan hukumnya, namun tidak absah dalam menguraikan norma kedalam aturan hukumnya, dikarenakan tidak efektifnya kewenangan Mahkamah Partai sebagai lembaga independent partai, yang berwujud peradilan.

Penulis turut sependapat dengan pandangan Saldi Isra, seorang ahli Hukum Tata Negara, yang mengemukakan bahwa, adanya sifat inkonsistensi pada aturan hukum dapat mengakibatkan ketidakpastian hukum. Inkonsisten tersebutlah, yang menghasilkan multi tafsir dan ambiguitas. Sehingga, dapat melemahkan eksistensi Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia.

2. Putusan Mahkamah Partai Yang Mengandung Pertentangan Atau Kontradiktif Suatu putusan yang dikeluarkan tentunya berkorelasi dari akibat hukum yang mengaturnya, akan tetapi jika putusan dikeluarkan dengan mengandung pertentangan/kontradiktif di dalamnya, maka sudah tentu putusan tersebut akan menimbulkan permasalahan baru. Sebagaimana pendapat Irfan Fachruddin dengan mengutip perspektif dari B.W.N. de Waard, memaparkan salah satu butir asas peradilan yang baik, yakni tertulis sebagai berikut:

“Beginselen van behoorlijke rechspleging adalah reasons and argumentations of decision, yaitu putusan hakim harus memuat argumen hukum yang jelas hingga dapat dimengerti dan konsisten, dengan penalaran

hukum yang runtun, dapat diikuti dan diawasi, sebagai pencerminan prinsip

accaountability (dapat diperhitungkan).”146

Selanjutnya, Irfan Fachruddin turut mengemukakan pandangan dari Sudikno Mertokusumo yang juga dianggapnya lebih komprehensif (menyeluruh), bahwa:

Hakim sebagai ujung tombak peradilan harus berusaha agar putusannya dirasakan adil oleh yang bersangkutan dan masyarakat. Disamping itu, putusan harus juga bermanfaat, baik bagi yang bersangkutan maupun masyarakat dan harus mengandung kepastian hukum. Dengan manfaat putusan menyelesaikan sengketa dengan tuntas, artinya suatu putusan tidak lagi menimbulkan perkara baru, baik pada saat itu atau dikemudian hari.147 Dalam konteks ini, dengan merujuk dari pemahaman demikian, jika mekanisme hukum acara Mahkamah Partai masih berlandaskan dari masing- masing AD dan ART partai, maka sudah tentu sifat pertimbangan putusannya tidak jelas dan tidak konkret dalam memuat argumen hukum, yang seharusnya mengandung kepastian hukum. Alhasil, putusan tersebut dapat membuka jalannya intervensi oleh kekuasaan yang memiliki otoritas penuh di internal partai. Disebabkan tidak ada pengaturan yang jelas dalam muatan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011, mengenai tata cara dan/atau mekanisme hukum acara Mahkamah Partai.

Kemudian, sebagaimana yang telah penulis paparkan pada bagian sebelumnya, yaitu dapat dilihat dari salah satu contoh putusan Mahkamah Partai PPP yang menyelesaikan sengketa internalnya, dengan mengeluarkan

146Irfan Fachruddin, Op. Cit., hal. 336. 147Ibid.

pertimbangan putusan, yang terlampau singkat, kabur dan tidak konkret menurut argument hukum. Sehingga dari pertimbangan putusan yang singkat, kabur, dan tidak konkret tersebutlah mengandung pertentangan/kontradiktif, yang akhirnya dapat diambil kesimpulan oleh antar pihak yang bersengketa, untuk melakukan proses upaya hukum melalui lingkup peradilan.

Oleh karena itu menurut hemat penulis, perlunya penegasan dalam kekuatan eksekusi putusan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Partai, berupa ketentuan-ketentuan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersengketa jika melanggar putusan tersebut. Sehingga, putusan Mahkamah Partai dapat di mengerti dan diperhitungkan keberadaannya, dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia.

104 A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan dan penganalisaan tentang eksistensi Mahkamah Partai dalam skripsi ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Eksistensi Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia, diakui dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, yang kemudian turut diperkuat dalam perkembangan yurisprudensi hakim, yakni pada putusan kasasi Mahkamah Agung No. 269 K/Pdt.Sus- Parpol/2012 dan putusan kasasi Mahkamah Agung No. 101 K/Pdt.Sus- Parpol/2014. Serta dipertegas kewenangannya melalui SEMA Nomor. 04 Tahun 2003 dan SEMA Nomor. 11 Tahun 2008.

2. Akibat hukum dari sifat putusan Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia dilaksanakan secara internal melalui Mahkamah Partai yang bersifat final dan mengikat, akan tetapi turut juga diselesaikan melalui Pengadilan Negeri dengan putusannya yang bersifat pertama dan terkahir, dan hanya dapat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Hal tersebut mengakibatkan konflik norma yang dapat melemahkan eksistensi Mahkamah Partai untuk menjalankan kewenangannya.

B. Saran

Berdasarkan kepada hasil kesimpulan dari pembahasan tentang eksistensi Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal partai, maka penulis memberikan saran, sebagai berikut:

1. Berikan kepercayaan terhadap masyarakat untuk menjadi anggota Mahkamah Partai, yang di wakilkan oleh para ahli hukum, akademisi, serta tokoh masyarakat. Agar eksistensi Mahkamah Partai kembali sesuai dengan semangat awal pendiriannya, yakni dalam bentuk perwujudan kedewasaan partai politik yang merupakan pilar demokrasi negara.

2. Perlu dilakukan revisi kembali Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, agar ada penegasan yang jelas mengenai kedudukan, peranan, dan mekanisme Mahkamah Partai dalam menjalankan kewenangannya. Sehingga Mahkamah Partai memiliki akibat hukum yang berkekuatan putusan dengan bersifat final dan mengikat secara hukum, melainkan tidak secara internal saja, maka sudah tentu putusan Mahkamah Partai akan dapat diakui keberadaannya oleh prinsip negara hukum.

Asshiddiqie, Jimly. Hukum Tata Negara Dan Pilar-Pilar Demokrasi. Cet. 2, Sinar Grafika, Jakarta Timur, 2012.

. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik Dan Mahkamah Konstitusi. Cet. 1, Konstitusi Press, Jakarta, 2005. . Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Cet. 1, Sinar

Grafika, Jakarta Timur, 2010.

. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Cet. 4, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012.

Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Cet. 4, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010.

Fachruddin, Irfan. Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan Pemerintah. Cet. 1, PT Alumni, Bandung, 2004.

Hady, Nuruddin. Wewenang Mahkamah Konstitusi. Cet. 1, Prestasi Pustakarya, Jakarta, 2007.

Harahap, M. Yahya. Kekuasaan Mahkamah Agung Pemeriksaan Kasasi Dan Peninjauan Kembali Perkara Perdata. Cet. 1, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.

Haryadi, et al. Buku Panduan Fakultas Hukum Universitas Jambi. Fakultas Hukum Universitas Jambi, Jambi, 2012.

Huda, Ni’Matul. Hukum Tata Negara Indonesia Edisi Revisi. Cet. 6, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta 2012.

Kelsen, Hans. Teori Hukum Murni. Cet. 2, Nusamedia, Bandung, 2007.

Kepustakaan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat, PT Media Pustaka Phoenix, Jakarta Barat, 2009.

MD, Moh Mahfud. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Cet. 2, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.

. Politik Hukum di Indonesia, Cet. 3, Rajawali Pers, 2010.

Nasution, Bahder Johan. Metode Penelitian Ilmu Hukum. Cet. 1, Mandar Maju, Bandung, 2008.

Salim. Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum. Cet. 2, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012.

Syamsuddin, Aziz. Proses Dan Teknik Penyusunan Undang-Undang. Cet. 1, Sinar Grafika, Jakarta Timur, 2011.

Yuliandry. Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yang Baik. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.

B. Karya Ilmiah dan Bahan Ajar

Iswandi. Fungsi Komisi Yudisial Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia. Tesis. Program Magister (S-2) Ilmu Hukum Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Jambi, 2010, Jambi. Zarkasih, A. Pengantar Ilmu Politik. Fakultas Hukum Universitas Jambi,

2012, Jambi.

C. Dokumen

Anonim, 2010, Risalah Rapat Panitia Kerja Komisi II DPR RI Dengan Dirjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Dan Dirjen Ahu Kementerian Hukum Dan Ham Pembahasan Rancangan Undang- Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik. Dokumen. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik . Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011. LNRI Tahun 2011 Nomor 2. TLNRI 4801.

Republik Indonesia. Undang-Undang Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. LNRI Tahun 2011 Nomor 82.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. 2015. Keputusan Mahkamah Agung Nomor 490/K/TUN/2015.

. 2015. Keputusan Mahkamah Agung Nomor 504/K/TUN/2015. . 2014. Keputusan Mahkamah Agung Nomor 101 K/Pdt.Sus-

Parpol/2014.

. 2012. Keputusan Mahakmah Agung Nomor 269 K/Pdt.Sus- Parpol/2012.

. 2008. SEMA Mahkamah Agung Nomor 11 Tahun 2008. . 2003. SEMA Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 2003.

E. Internet

www.hukumonline.com, Aturan Mahkamah Partai Dinilai Inkonsisten, 10 September 2015, Diakses Tanggal 9 November 2015.

www.tribunnews.com, Mahkamah Partai Jadi Hakim Parpol, 13 Desember 2010, Diakses Tanggal 21 Januari 2016.

www.setneg.go.id, Sengkarut Konflik Parpol, 24 Maret 2015, Diakses tanggal 26 Januari 2016.

www.aktual.com, Pendapat Hukum Dualisme Partai Politik, 25 April 2015, Diakses Tanggal 27 Januari 2016.

nasional.kompas.com, Ini 8 Keputusan Mahkamah Partai Atasi Konflik Internal PPP, 13 Oktober 2014, Diakses Tanggal 3 Februari 2016.

1994. Penulis merupakan anak kedua dari 2 (dua) bersaudara pasangan Ibunda Hindun, S.Pd. dan Ayahanda Alm Hasan Basri RA B.A.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Negeri 99 Kota Jambi pada Tahun 2006. Kemudian pada Tahun 2009 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 14 Kota Jambi dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada Tahun 2012 di SMA Negeri 8 Kota Jambi.

Pada Tahun 2012, penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Jambi. Pada Tahun Akademik 2014/2015 penulis melaksanakan Program Magang selama 2 (dua) bulan yang diadakan oleh Fakultas Hukum Universitas Jambi di KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Penulis mengambil judul skripsi

“Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal Partai Politik Di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011”. Penulis dinyatakan Lulus ujian skripsi oleh Tim penguji Bagian Hukum Tata Negara pada tanggal 25 Februari 2016 dengan mendapat gelar Sarjana Hukum (S.H).

Dalam dokumen EKSISTENSI MAHKAMAH PARTAI DALAM PENYELE (Halaman 103-121)

Dokumen terkait