FAKULTAS HUKUM
EKSISTENSI
MAHKAMAH
PARTAI
DALAM
PENYELESAIAN
SENGKETA
INTERNAL
PARTAI
POLITIK
DI
INDONESIA
DITINJAU
DARI
UNDANG-
UNDANG
NOMOR
2
TAHUN
2011
SKRIPSI
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
SAPRIZAL HADI ANDRIAN B10012182
ii
dapat mengetahui eksistensi mahkamah partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di Indonesia; 2) Untuk dapat mengetahui akibat hukum dari sifat putusan Mahkamah Partai. Permasalahan yang diangkat adalah, adanya konflik norma diantara muatan Pasal 32 dan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, yang mengakibatkan multi tafsir dan ambiguitas, mengenai tumpang tindih kewenangan mengadili antara Mahkamah Partai dan Pengadilan Negeri dalam penyelesaian sengketa internal partai. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan perundang-undangan (statute approach), dan pendekatan kasus hukum (case law approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa internal partai melalui Mahkamah Partai yang berdasarkan dari ketentuan Pasal 32 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, ternyata turut diakui dengan perkembangan kaidah yurisprudensi hakim yaitu pada putusan kasasi Mahkamah Agung No. 269 Parpol/2012 dan putusan kasasi Mahkamah Agung No. 101 K/Pdt.Sus-Parpol/2014. Kemudian sebaliknya, adanya larangan kepada Pengadilan Negeri untuk menyelesaikan sengketa internal partai, yang dilandaskan dari SEMA No. 04 Tahun 2003 dan SEMA No. 11 Tahun 2008, yang isinya malah terkandung makna, lebih menegaskan eksistensi Mahkamah Partai dalam menjalankan kewenangannya. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan untuk memberikan kepercayaan terhadap masyarakat untuk menjadi anggota Mahkamah Partai, yang di wakilkan oleh para ahli hukum, akademisi, serta tokoh masyarakat. Agar eksistensi Mahkamah Partai kembali sesuai dengan semangat awal pendiriannya, yakni dalam bentuk perwujudan kedewasaan partai politik yang merupakan pilar demokrasi negara. Perlunya dilakukan revisi kembali Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, agar ada penegasan yang jelas mengenai kedudukan, peranan, dan mekanisme Mahkamah Partai dalam menjalankan kewenangannya. Sehingga Mahkamah Partai memiliki akibat hukum yang berkekuatan putusan dengan bersifat final dan mengikat secara hukum, melainkan tidak secara internal saja, maka sudah tentu putusan Mahkamah Partai akan dapat diakui keberadaannya oleh prinsip negara hukum.
iii
LEMBARAN PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama : Saprizal Hadi Andrian
Nomor Induk Mahasiswa : B10012182
Program Kekhususan : Hukum Tata Negara
Judul Skripsi : Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal Partai Politik di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011
Telah disetujui oleh Pembimbing pada tanggal seperti tertera di bawah ini untuk
dipertahankan di hadapan Tim Penguji Fakultas Hukum Universitas Jambi
Jambi, 17 Februari 2016
Mengetahui,
PembimbingUtama Pembimbing Pembantu
A. Zarkasi, S.H., M.H. Iswandi, S.H., M.H.
iv
PENGESAHAN SKRIPSI
Nama : Saprizal Hadi Andrian
Nomor Induk Mahasiswa : B10012182
Program Kekhususan : Hukum Tata Negara
Judul Skripsi : Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal Partai Politik di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Fakultas Hukum Universitas Jambi, pada Tanggal 25 Februari 2016
dan dinyatakan LULUS TIM PENGUJI
NAMA JABATAN TANDA TANGAN
H. Irwandi, S.H.,M.H. Ketua Tim Penguji
Arfa’i, S.H.,M.H. Sekretaris
Dimar Simarmata, S.H.,M.H. Penguji Utama
A. Zarkasi, S.H., M.H. Anggota
Iswandi, S.H., M.H. Anggota
Mengetahui Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jambi
v
1. Karya tulis saya, Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik Sarjana, baik di Universitas Jambi maupun di perguruan tinggi lainnya.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Pembimbing Skripsi
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan tinggi ini.
Jambi, 17 Februari 2016 Yang Membuat Pernyataan
vi
Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita bahwa segala yang ada permulaannya tentu akan ada penghabisannya, setiap yang punya
awal mesti akan punya akhir, tidak ada keabadian dalam kehidupan dunia ini, semuanya datang dan pergi silih
berganti, hanya masalah pergeseran massa dan pertukaran waktu.
(K.H. Zainudin MZ)
Keadilan yang mutlak dapat membuat manusia menjadi seseorang yang gila.
(Echiro Oda)
Gunakanlah ideologimu dengan hati yang mampu melihat dengan perasaan, melainkan bukan dengan mata yang hanya melihat keadaan sesaat.
vii
karena atas rahmat dan karuni-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
judul “Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Sengketa Internal Partai
Politik di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011”.
Skripsi ini disusun adalah untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jambi.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini masih
banyak terdapat kekurangan-kekurangan, karena sebagai manusia biasa, penulis
tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, untuk itu penulis mohon maaf atas
segala kesalahan dan kekurangan ini.
Terwujudnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan serta
petunjuk dan arahan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan kali ini
sudah selayaknya penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya
dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada, Bapak A. Zarkasi, S.H., M.H.,
selaku pembimbing pertama, dan untuk Bapak Iswandi, S.H., M.H., selaku
pembimbing kedua, yang telah banyak memberikan bimbingan, nasihat, petunjuk,
semangat, motivasi dan arahan kepada penulis serta yang selalu terbuka menerima
usulan dan ide dari penulis dalam penyusunan skripsi ini. Kemudian, secara
viii
2. Bapak Taufik Yahya, S.H., M.H., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Jambi, yang telah memberikan kemudahan serta bekal ilmu pengetahuan untuk
mempelajari dan mendalami ilmu hukum selama penulis mengikuti pendidikan.
3. Bapak Dr. Helmi, S.H., M.H., selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Kerja
Sama dan Sistem Informasi Fakultas Hukum Universitas Jambi, yang turut
membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak H. Irwandi, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Tata Negara
Fakultas Hukum Universitas Jambi yang telah memberikan kemudahan serta
arahan kepada penulis selama mempelajari dan mendalami ilmu Hukum Tata
Negara di Fakultas Hukum Universitas Jambi.
5. Bapak Arfai, S.H., M.H., selaku Sekretaris Bagian Hukum Tata Negara
Fakultas Hukum Universitas Jambi yang telah memberikan bekal ilmu berupa
informasi, inovasi, dan petunjuk kepada penulis guna memberikan dorongan
kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Haryadi, S.H., M.H., selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Jambi,
yang selama ini telah memberikan petunjuk, pedoman serta menjadi seorang
motivasi bagi penulis, untuk dapat melaksanakan hak dan kewajiban sebagai
mahasiswa Fakultas Hukum yang memiliki etika dan moral dengan berpihak
ix
8. Bapak Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Jambi yang telah mendidik dan
membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan.
9. Seluruh staf Tata Usaha Fakultas Hukum Universitas Jambi yang telah banyak
memberikan kemudahan di bidang administrasi selama penulis mengikuti
pendidikan.
10. Selain itu pada kesempatan ini, Penulis ingin juga menyampaikan rasa wujud
syukur yang sedalam-dalamnya dengan mempersembahkan skripsi ini kepada
keluarga besar, khususnya yang tercinta Ayahanda Almarhum Hasan Basri RA,
B.A., dan Ibunda Hindun, S. Pd., serta untuk Kakak penulis Zul Azmi Apriadi,
S.Pd.,
Atas segala bimbingan dan bantuan yang telah diberikan, semoga Allah
Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya. Akhirnya penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang relevan hendaknya.
Jambi, 17 Februari 2016 Penulis
x
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PARTAI POLITIK DAN MAHKAMAH PARTAI ... 30
A. Tinjauan Tentang Politik ... 30
1. Definisi Politik ... 30
2. Hubungan Politik Dan Hukum ... 32
3. Konfigurasi Politik Terhadap Produk Hukum ... 35
B. Tinjauan Tentang Partai Politik ... 38
1. Perkembangan Partai Politik ... 38
2. Definisi Partai Politik ... 44
3. Fungsi Partai Politik ... 46
C. Tinjauan Tentang Mahkamah Partai ... 59
1. Mahkamah Partai ... 59
2. Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 ... 61
3. Pendapat Para Ahli ... 64
BAB III EKSISTENSI MAHKAMAH PARTAI DI INDONESIA ... 72
A. Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian Sengketa ... Internal Partai Politik Di Indonesia ... 72
1. Kedudukan Mahkamah Partai Di Indonesia ... 73
2. Peranan Mahkamah Partai ... 75
3. Mekanisme Mahkamah Partai ... 85
xi
1 A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara hukum (rechtsstaat), sebagaimana dijelaskan
dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, “di dalamnya terkandung pengertian adanya prinsip peradilan yang bebas
dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum,
serta menjamin keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan
wewenang oleh pihak yang berkuasa.”1 Maka segala sesuatu perbuatan, tindakan
atau kebijakan harus berlandaskan oleh hukum yakni seperangkat peraturan yang
menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat, bersifat mengikat, berfungsi
mengatur dan bertujuan agar terciptanya kesejahteraan serta mentertibkan
masyarakat untuk mewujudkan keadilan. Meskipun dalam penerapannya belum
sesuai dengan yang diharapkan, begitu banyak permasalahan timbul akibat unsur
kesengajaan maupun tidak kesengajaan, sehingga terlihat menjadi polemik yang
tak kunjung usai.
Dengan kehidupan bernegara dan wawasan kebangsaan semata-mata hanya
bertujuan untuk kemaslahatan rakyat, memberikan mandat kepada pemimpin
melalui mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan guna
menjalankan fungsi kewenangannya untuk mencapai harapan tersebut. Oleh
1Jimly Asshiddiqie, Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia , Cet. 1, Sinar Grafika,
karena itu, “Negara diharuskan menjamin perlindungan dan penghormatan serta
pemajuan dalam rangka peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
yang demokratis.”2
Demokratis erat kaitannya dengan prinsip kedaulatan rakyat (democratie)
dan kedaulatan hukum (nomocratie)3, yang perwujudan gagasannya “memerlukan
instrument hukum, efektivitas dan keteladanan kepimpinan, dukungan sistem
pendidikan masyarakat, serta basis kesejahteraan sosial ekonomi yang berkembang
makin merata dan berkeadilan.”4 Oleh karena itu sebagai upaya menjunjung tinggi
prinsip kedaulatan rakyat (democratie), diamanatkan dalam Pasal 28E ayat (3)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas
menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul,
dan mengeluarkan pendapat.” Artinya tidak ada pembatasan dan pengekangan
kepada siapapun untuk mengekspresikan ide dan pandangan atau pendapat serta
upaya mewujudkan aspirasi masing-masing.
“Hukum juga salah satu diantara sekian banyak alat-alat politik (politik
instrument) dengan alat mana penguasa masyarakat dan negara dapat mewujudkan
kebijaksanaannya.”5 Perlu diingat hal demikian memang saling berkorelasi satu
sama lainnya, suatu kekuasaan tanpa hukum akan terjadi suatu tindakan
pemerintahan yang sewenang-wenang dan hukum tanpa kekuasaan akan terjadi
2Jimly Asshiddiqie, Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai P olitik Dan Mahkamah
Konsttusi, Cet. 1, Konstitusi Press, Jakarta, 2005, hal. 9.
3Jimly Asshiddiqie, Op. Cit., hal. 58. 4Ibid.
pula hambatan-hambatan. “Seperti yang sering dikemukakan oleh Mochtar
Kusumaatmadja, bahwa politik dan hukum itu interdeminan, sebab politik tanpa
hukum itu zalim, sedangkan hukum tanpa politik itu lumpuh.”6 Sebagaimana
dijelaskan secara signifikan oleh Jimly Asshiddiqie bahwa:
“Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Prinsip Negara Hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Oleh karena itu, perlu ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat yang dilakukan menurut Undang-Undang Dasar (constitutional democracy) yang diimbangi dengan penegasan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis (democratische rechtsstaat).”7
Sehubungan dengan itu, sudah seyogianya perwujudan demokrasi haruslah diatur
berdasarkan hukum, seperti tujuan dari Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia yang menganut pengertian bahwa “Negara Republik Indonesia adalah
Negara Hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) dan sekaligus adalah
Negara Demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy) yang tak
terpisahkan satu sama lain.”8
Agar dapat terlaksana paham negara hukum tatanan demokratis demikian,
partai politik mempunyai tanggung jawab sebagai peranan dan posisi strategis
yang sangat penting dalam setiap menyelenggarakan fungsi pemerintahan.
Mengingat “pakar hukum Von Kirchmann pernah mengatakan bahwa
bergudang-gudang buku tentang Undang-Undang yang ada di perpustakaan bisa dibuang
6Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, Cet. 3, Rajawali Pers, Jakarta, 2010,
hal. 5.
sebagai sampah yang tak bernilai ketika ada keputusan politik di parlemen yang
mengubah isi Undang-Undang tersebut.”9
Maka tak heran jika partai politik menjadi sorotan utama dalam
penyelenggaraan kehidupan bernegara dengan berwawasan kebangsaan, karena
dari partai politiklah dapat menghasilkan kader-kadernya yang sebagian besar
bertugas untuk menjalankan roda pemerintahan, “bertindak sebagai perantara
dalam proses-proses pengambilan keputusan bernegara, yang menghubungkan
antara warga negara dengan institusi-institusi kenegaraan.”10
Menurut Miriam Budiardjo sebagaimana dikutip Jimly Asshiddiqie, fungsi
partai politik secara komprehensif, yakni; “sarana komunikasi politik, sosialisasi
politik (political socialization), sarana rekruitmen politik (political recruitment),
dan pengatur konflik (conflict management).”11 Menyatakan fungsi partai politik
dengan jelas dan tegas bahwa saling keterkaitan satu sama lain, yaitu bagaimana
suatu partai politik tersebut berperan penting terhadap komunikasi saat di dalam
proses berpolitik, contohnya dapat mengaplikasikan tujuan-tujuan partai politik
tersebut kepada masyarakat, dengan cara melaksanakan sosialisasi politik berupa
pendidikan politik guna menumbuhkan kecerdasan serta kesadaran rakyat untuk
memahami arti penting politik dalam kehidupan bernegara, sehingga terwujud
sarana rekruitmen politik yaitu menghasilkan kader-kader partai politik yang
9Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Cet.
2, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, hal. 47.
bermutu untuk menjadi calon pemimpin dalam bidang-bidang jabatan politik
tertentu, kemudian partai politik dapat menjadi pengatur konflik seperti memiliki
strategi politik untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul berkaitan
dengan kenegaraan melalui kebijakan politik. “Karena itu, partai politik
merupakan pilar demokrasi yang sangat penting untuk diperkuat derajat
pelembagaannya (the degree of institutionalization).”12
Kesempatan untuk memperkuat partai politik tersebut akan sulit terwujud
jika pola pikir (mainstream mindset) anggota partai politik atau kader-kader dari
anggota partai politik hanya sebatas untuk memperoleh kekuasaan, “mengingat
kekuasaan sebagaimana yang diungkapkan oleh Lord Acton, bahwa kekuasaan itu
cenderung untuk menjadi korup (power tends to corrupt) dan kekuasaan mutlak
menjadi korup secara mutlak pula.”13 Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma
dalam cara memahami partai dan kegiatan berpartai, bahwa menjadi pengurus
partai politik bukanlah segalanya, yang lebih penting adalah menjadi wakil
rakyat.14
Dengan segala bentuk upaya akan ditempuh demi membaiknya fungsi
partai politik ini, sebagaimana DPR atas persetujuan Presiden menetapkan secara
sah Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, yakni suatu bentuk
12Ibid., hal. 52.
13Nuruddin Hady, Wewenang Mahkamah Konstitusi, Cet. 1, Prestasi Pustakarya, Jakarta,
2007, hal. 28.
perwujudan untuk penguatan kelembagaan dalam peningkatan fungsi dan peran
partai politik terhadap negara maupun terhadap masyarakat serta membangun
integritas partai politik di Indonesia menjadi lebih efektif dan efesien. Dalam
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik, yang menjelaskan
dan menentukan regulasi partai politik, bahwa:
Pasal 1
(1) Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(2) Anggaran Dasar Partai Politik, selanjutnya disingkat AD, adalah peraturan dasar Partai Politik.
(3) Anggaran Rumah Tangga Partai Politik, selanjutnya disingkat ART, adalah peraturan yang dibentuk sebagai penjabaran AD.
(4) Pendidikan Politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
(5) Keuangan Partai Politik adalah semua hak dan kewajiban Partai Politik yang dapat dinilai dengan uang, berupa uang, atau barang serta segala bentuk kekayaan yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab Partai Politik.
(6) Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia.
(7) Kementerian adalah Kementerian yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia.
Pasal 5
(1) AD dan ART dapat diubah sesuai dengan dinamika dan kebutuhan Partai Politik.
(2) Perubahan AD dan ART sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik. (3) Perubahan AD dan ART sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
(4) Pendaftaran perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menyertakan akta notaris mengenai perubahan AD dan ART.
Pasal 16
(1) Anggota Partai Politik diberhentikan keanggotaannya dari Partai Politik apabila:
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri secara tertulis; c. menjadi anggota Partai Politik lain; atau d. melanggar AD dan ART.
(2) Tata cara pemberhentian keanggotaan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur di dalam AD dan ART.
(3) Dalam hal anggota Partai Politik yang diberhentikan adalah anggota lembaga perwakilan rakyat, pemberhentian dari keanggotaan Partai Politik diikuti dengan pemberhentian dari keanggotaan di lembaga perwakilan rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 23
(1) Pergantian kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan sesuai dengan AD dan ART.
(2) Susunan kepengurusan hasil pergantian kepengurusan Partai Politik tingkat pusat didaftarkan ke Kementerian paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak terbentuknya kepengurusan yang baru.
(3) Susunan kepengurusan baru Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya persyaratan.
Pasal 32
(1) Perselisihan Partai Politik diselesaikan oleh internal Partai Politik sebagaimana diatur di dalam AD dan ART.
(2) Penyelesaian perselisihan internal Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu Mahkamah Partai Politik atau sebutan lain yang dibentuk oleh Partai Politik.
(3) Susunan Mahkamah Partai Politik atau sebutan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan Partai Politik kepada Kementerian. (4) Penyelesaian perselisihan internal Partai Politik sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) harus diselesaikan paling lambat 60 (enam puluh) hari.
Pasal 33
(1) Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 tidak tercapai, penyelesaian perselisihan dilakukan melalui pengadilan negeri. (2) Putusan pengadilan negeri adalah putusan tingkat pertama dan terakhir, dan
hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.
(3) Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan oleh pengadilan negeri paling lama 60 (enam puluh) hari sejak gugatan perkara terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri dan oleh Mahkamah Agung paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak memori kasasi terdaftar di kepaniteraan Mahkamah Agung.
Secara norma hukum pengertian partai politik dari fungsi, dan tugas serta
kewenangannya, telah jelas tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2011 Tentang Partai Politik. Sebagaimana “Hans Kalsen menyatakan bahwa
norma hukum adalah aturan, pola, atau standar yang perlu diikuti.”15 Maka dengan
norma hukum yang baik harus disertai juga asas hukum yang baik untuk
merumuskan norma hukum yang konkret dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan.16 Sebagaimana “A. Hamid S. Attamimi berpendapat, bahwa
asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut, khususnya
dalam ranah keindonesiaan, terdiri atas; Cita Hukum Indonesia; Asas Negara
Berdasar Hukum dan Asas-asas lainnya.”17 Namun demikian, ternyata
Undang-Undang Partai Politik tersebut masih memiliki kekurangan-kekurangan yang harus
segera diperbaiki, karena dapat menimbulkan potensi ketidakpastian hukum.
15Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yang Baik, Cet. 3, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, hal. 21.
16
Ibid., hal. 22.
Seperti halnya akhir-akhir ini terjadi permasalahan terhadap 2 (dua) partai
politik besar di Indonesia, yakni Partai Golkar dan PPP (Partai Persatuan
Pembangunan) yang menghadapi permasalahan sengketa internal partai politik,
contohnya dalam hal perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan.
Permasalahan tersebut telah berujung hingga tahap kasasi, Mahkamah Agung
secara bersamaan telah memberikan putusan kasasi untuk kasus Partai Golkar
Nomor 490K/TUN/2015 dan demikian juga putusan kasasi untuk kasus PPP
(Partai Persatuan Pembangunan) Nomor 504K/TUN/2015, yang menyatakan
secara jelas bahwa sengketa internal masing-masing partai politik tersebut telah
selesai.
Akan tetapi perlu ditegaskan kembali, bahwa permasalahan perselisihan
sengketa internal partai politik ini mesti diluruskan, agar kedepan tidak terulang
kembali demi mewujudkan amanat dari Pasal 28D ayat (1) Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan
yang sama di hadapan hukum.”
Permasalahan dimulai dari perebutan kekuasaan internal partai politik,
sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Partai Politik
bahwa apabila terjadi perselisihan sengketa internal partai politik maka
diselesaikan oleh internal partai politik yang telah diatur di dalam AD dan ART,
penjelasan pada ayat (2) nya bahwa yang berwenang menyelesaikan perselisihan
sebutan lain yang dibentuk oleh partai politik, dan ditegaskan pada ayat (5) nya
bahwa keputusan dari mahkamah partai politik itu bersifat final dan mengikat.
Artinya dikatakan secara jelas pada Pasal 32 ini, yakni yang berwenang untuk
menyelesaikan permasalahan sengketa internal partai politik adalah mahkamah
partai sebagaimana yang telah diatur dalam AD dan ART setiap masing-masing
partai politik, dan putusan dari mahkamah partai itu secara tegas dinyatakan
bersifat final dan mengikat, implikasinya adalah tidak ada lagi upaya hukum dari
putusan mahkamah partai tersebut.
Namun jika kita perhatikan secara seksama pada Pasal 33 ayat (1)
Undang-Undang Partai Politik, ada suatu penjelasan yang mana apabila penyelesaian
perselisihan sengketa internal partai politik tersebut tidak dapat tercapai
sebagaimana yang dijelaskan pada Pasal 32, maka dapat diselesaikan melalui
Pengadilan Negeri, kemudian pada Pasal 33 ayat (2) menjelaskan bahwa,
mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Sehingga pakar Hukum Tata
Negara Universitas Andalas Saldi Isra angkat bicara, bahwa:
Politik potensi berujung pada ketidakpastian hukum yang merugikan warga negara.”18
Sedangkan mahkamah partai, adalah bentuk dari perwujudan kedewasaan
partai politik yang merupakan pilar demokrasi negara. Keberadaannya pun diakui
dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik, dengan
menyatakan secara tegas yurisdiksi mahkamah partai adalah menyelesaikan
sengketa internal partai politik, sebagaimana rumusan bagian penjelasan norma
pada Pasal 32 ayat (1) menyatakan yang dimaksud dengan “perselisihan Partai
Politik” meliputi antara lain;
(1) perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan; (2) pelanggaran terhadap hak anggota Partai Politik; (3) pemecatan tanpa alasan yang jelas;
(4) penyalahgunaan kewenangan;
(5) pertanggungjawaban keuangan; dan/atau (6) keberatan terhadap keputusan Partai Politik.
Maka dengan kewenangan tersebut, seharusnya tidak ada lagi menempatkan
mekanisme penyelesaian sengketa internal partai politik melalui jalur pengadilan
dan memandang sebelah mata putusan mahkamah partai sebagai pelengkap dari
sistem penyelesaian permasalahan internal partai politik saja. Karena seyogianya,
mahkamah partai itu dibentuk untuk memperkuat semangat pelembagaan partai
politik dengan asas hukum yang demokratis dan akuntabel, sehingga dapat
mewujudkan penataan dan penyempurnaan partai politik di Indonesia sebagaimana
tujuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik itu dibentuk.
18
Mencermati hal itulah yang menimbulkan pertanyaan penulis, bagaimana
eksistensi keputusan mahkamah partai dalam menyelesaikan permasalahan
sengketa internal partai politik di Indonesia? Kemudian turut pula menanyakan apa
akibat hukum dari sifat putusan mahkamah partai tersebut? Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang menjadi latar belakang bagi penulis untuk menelaah permasalahan
lebih dalam, terkait dengan kewenangan mahkamah partai yang telah diakui oleh
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011.
Dengan pemaparan dari pemahaman penulis di atas, maka penulis
bertujuan untuk mengkajinya dalam sebuah penelitian hukum guna penulisan
skripsi yang berjudul “Eksistensi Mahkamah Partai Dalam Penyelesaian
Sengketa Internal Partai Politik Di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya,
dan agar tidak terjadi kerancuan nantinya dalam hal penulisan skripsi ini, maka
penulis akan membatasi permasalahannya dalam dua pokok perumusan masalah
untuk dapat dibahas, yakni:
1. Bagaimana eksistensi mahkamah partai dalam penyelesaian sengketa internal
partai politik di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Dalam suatu penelitian pada hakikatnya memiliki suatu tujuan yang mana
tujuan tersebut dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Berdasarkan pokok
permasalahan yang diuraikan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk dapat mengetahui eksistensi mahkamah partai dalam penyelesaian
sengketa internal partai politik di Indonesia.
2. Untuk dapat mengetahui akibat hukum dari sifat putusan mahkamah partai
tersebut.
D. Manfaat Penelitian
Harapan penulis yakni, dalam kegiatan penelitian hukum guna dalam
penulisan skripsi ini, agar kedepan dapat bermanfaat bagi siapapun, khususnya
untuk penulis sendiri. Adapun manfaat, yang dapat diperoleh dari penulisan skripsi
ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi pemikiran, serta
pemahaman yang komprehensif (menyeluruh), agar dapat berguna bagi
perkembangan disiplin ilmu hukum, khususnya pada bidang ilmu Hukum
Tata Negara, yang mengkaji khusus tentang, eksistensi mahkamah partai
b. Bertujuan untuk memperkaya referensi, dan literatur kepustakaan tentang
disiplin ilmu hukum, khususnya Hukum Tata Negara. Sehingga berguna,
untuk perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, dalam
bentuk suatu penelitian.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangkan
penalaran hukum, guna membentuk pola pikir yang strategis, sehingga
penulis pun juga dapat mengetahui kemampuan penulis dalam
menerapkan ilmu-ilmu yang diperoleh selama penulis menempuh
pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Jambi.
b. Hasil penelitian ini juga diharapkan berguna kepada pembaca, khususnya
para pihak yang pada kesempatan lain memiliki minat untuk mengkaji
permasalahan yang sama, sehingga dengan hadirnya penelitian ini, akan
dapat membantu dan memberi masukan serta tambahan pengetahuan bagi
para pihak yang terkait dengan penelitian yang sama.
E. Kerangka Konseptual
Untuk menghindari kesalahpahaman atas pengertian terhadap isi dari
skripsi ini, agar tidak bersifat ambiguitas dan multitafsir, maka penulis akan
memberikan batasan-batasan yang diuraikan, sebagai bentuk tujuan dan maksud
1. Eksistensi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan eksistensi
adalah adanya; keberadaan.19
2. Mahkamah Partai
Menurut Kamus Hukum, yang dimaksud dengan mahkamah adalah
pengadilan.20 Menurut Kamus Hukum, Partai/Partai Politik adalah:
organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum; perkumpulan yang didirikan untuk mewujudkan ideologi tertentu, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang berlaku pada waktu itu.21
Dalam Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang
Partai Politik, yang dimaksud dengan mahkamah partai adalah sebutan suatu
badan yang dibentuk oleh partai politik berwenang menyelesaikan
perselisihan sengketa internal partai politik berdasarkan AD dan ART
masing-masing partai politik.
3. Penyelesaian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan
penyelesaian adalah memutuskan atau membereskan perkara.22
19Kepustakaan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Edisi Keempat, PT Media
Pustaka Phoenix, Jakarta Barat, 2009, hal. 208.
20M. Marwan dan Jimmy P, Kamus Hukum Dictionary Of Law Complete Edition, Cet. 1,
Reality Publisher, Surabaya, 2009, hal. 417.
21Ibid., hal. 482.
4. Sengketa
Menurut Kamus Hukum, yang dimaksud dengan sengketa adalah:
pertikaian; perselisihan; sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat; sebuah konflik yang berkembang atau berubah menjadi sebuah sengketa apabila pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas atau keprihatinannya baik secara tidak langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian atau kepada pihak lain; pernyataan publik mengenai tuntutan yang tidak selaras atau inkonsisten claim terhadap sesuatu yang bernilai.23
5. Internal
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan internal adalah
menyangkut bagian dalam.24
6. Partai Politik
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai
Politik, yang dimaksud dengan partai politik adalah,
organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Berdasarkan pemenggalan definisi tersebut maka yang dimaksud dari partai
politik tersebut adalah, salah satu sumber terpenting dari proses
penyelenggaraan negara, berbentuk organisasi resmi yang anggotanya
memiliki wawasan kebangsaan, bertujuan untuk turut andil dalam
menjalankan roda pemerintahan, dengan menggunakan kedaulatan dari rakyat,
untuk menegakan kedaulatan rakyat, yang tentunya berdasarkan kedaulatan
hukum, dan/atau tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
F. Kerangka Teoritis
Istilah negara hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu rechsstaat dan
the rule of law, namun dalam kepustakaan Indonesia, istilah negara hukum
merupakan terjemahan langsung dari rechsstaat.25 Istilah rechsstaat mulai populer
di Eropa sejak abad XIX meskipun pemikiran itu sudah ada sejak lama.
“Kemudian istilah the rule of law juga mulai populer dengan terbitnya buku dari
Albert Venn Dicey tahun 1885 dengan judul Introduction to the Study of Law of
The Constitution.”26 Meskipun dalam perkembangannya saat ini tidak
dipermasalahkan lagi perbedaan antara keduanya, karena pada dasarnya kedua
konsep itu mengarahkan pada satu sasaran utama, yaitu pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.27 Hanya saja keduanya berjalan
dengan sistem sendiri yaitu sistem hukum sendiri-sendiri, seperti halnya konsep
rechtsstaat bertumpu atas sistem hukum kontinental yang disebut civil law,
sedangkan konsep the rule of law bertumpu atas sistem hukum yang disebut
common law.28
25Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia Edisi Revisi, Cet. 6. PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 2011, hal. 73.
26Ibid. 27Ibid.
Konsep negara hukum modern di Eropa Kontinental (rechtsstaat)
dikembangkan oleh Immanuel Kant, Paul Laband, Julius Stahl, dan Fichte dan
konsep negara hukum common law dikembangkan oleh A.V. Dicey.29 Adapun
ciri-ciri rechtsstaat adalah:30
a. adanya Undang-Undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat;
b. adanya pembagian kekuasaan negara;
c. diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat.
A.V Dicey mengetengahkan tiga arti dari the rule of law sebagai berikut:31
a. Supremasi absolut atau predominasi dari regular law untuk menentang pengaruh dari arbitrary power dan meniadakan kesewenang-wenangan, prerogatif atau discretionary authority yang luas dari pemerintah.
b. Persamaan di hadapan hukum atau penundukan yang sama dari semua golongan kepada ordinary law of the land yang dilaksanakan oleh
ordinary court; ini berarti bahwa tidak ada orang yang berada di atas hukum; tidak ada peradilan administrasi negara.
c. Konstitusi adalah hasil dari the ordinary law of the land, bahwa hukum konstitusi bukanlah sumber, tetapi merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.
“Selain itu, konsep negara hukum juga terkait dengan istilah nomokrasi
(nomocratie) yang berarti penentu dalam penyelenggaraan kekuasaan negara
adalah hukum.”32 Sebagaimana yang diutarakan oleh Wirjono Prodjodikoro,
negara hukum berarti suatu negara yang di dalam wilayahnya adalah:33
a. semua alat-alat perlengkapan dari negara, khususnya alat-alat perlengkapan dari pemerintah dalam tindakannya baik terhadap para warga negara maupun dalam saling berhubungan masing-masing, tidak boleh
29Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara Dan Pilar-Pilar Demokrasi, Cet. 2, Sinar
Grafika, Jakarta Timur, 2012, hal. 130.
30Ni’Matul Huda, Op. Cit. 31Ibid., hal. 75.
wenang, melainkan harus memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku;
b. semua orang (penduduk) dalam hubungan kemasyarakatan harus tunduk pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku.
Berdasarkan berbagai prinsip negara hukum yang telah dikemukakan tersebut,
maka Jimly Asshiddiqie berpendapat bahwa terdapat dua belas prinsip pokok
sebagai pilar-pilar utama yang menyangga berdirinya negara hukum, yakni:34
1. Supremasi Hukum (Supremacy of Law).
2. Persamaan dalam Hukum (Equality before the Law). 3. Asas Legalitas (Due Process of Law).
4. Pembatasan Kekuasaan.
5. Organ-Organ Penunjang yang Independen. 6. Peradilan Bebas dan Tidak Memihak. 7. Peradilan Tata Usaha Negara.
8. Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) 9. Perlindungan Hak Asasi Manusia.
10.Bersifat Demokratis (Democratishe Rechtsstaat).
11.Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Bernegara (Welfare Rechtsstaat).
12.Transparansi dan Kontrol Sosial.
Dalam negara hukum, hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam
penyelenggaraan negara. Sesungguhnya yang memimpin dalam penyelenggaraan
negara adalah hukum itu sendiri, sesuai dengan prinsip the Rule of Law, And not of
Man, yang sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang dijalankan
oleh hukum nomos.35 Dengan paham negara hukum yang demikian, sudah
semestinya dibuat jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan
menurut prinsip-prinsip demokrasi.36 Sebagaimana yang dikemukakan oleh S.W.
Couwenberg asas-asas demokratis yang melandasi rechtsstaat meliputi lima asas,
yaitu:37 (a) asas hak-hak politik (het beginsel van de politieke groundrechten); (b)
asas mayoritas; (c) asas perwakilan; (d) asas pertanggungjawaban; dan (e) asas
publik (open baarheidsbeginsel).
Pertama salah satu jaminan dari prinsip-prinsip demokrasi tersebut adalah
adanya ciri pembatasan kekuasaan dalam penyelenggaraan kekuasaan. “Oleh
karena itu, konsep negara hukum juga disebut sebagai negara konstitusional atau
constitutional state, yaitu negara yang dibatasi oleh konstitusi.”38
Menurut Montesquieu, dalam bukunya L’Espirit des Lois, yang mengikuti
jalan pikiran John Locke, membagi kekuasaan negara dalam tiga cabang, yaitu:39
i. kekuasaan legislatif sebagai pembentuk Undang-Undang;
ii. kekuasaan eksekutif yang melaksanakan; dan
iii. kekuasaan yudikatif untuk menghakimi/mengawasi Undang-Undang.
Sebagaimana sistem yang di anut oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 pasca amandemen keempat adalah sistem pemisahan
kekuasaan (separation of power) berdasarkan prinsip check and balances.40
Artinya dengan pemisahan kekuasaan ini, masing-masing organ tidak boleh turut
campur atau melakukan intervensi terhadap kegiatan organ lain. Dengan demikian,
37Ibid., hal. 268.
38Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Cet. 4, PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta, 2012, hal. 281.
indepedensi masing-masing cabang kekuasaan dapat terjamin dengan
sebaik-baiknya, seperti yang diharapkan dalam pemahaman negara hukum.41
Berikutnya yang kedua jaminan dari prinsip-prinsip demokrasi itu adalah
Partai politik yang memiliki peran penghubung sangat strategis antara proses
pemerintahan dengan warga negara. “Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa
partai politiklah yang sebetulnya menentukan demokrasi, seperti dikatakan oleh
Schattscheider Political parties created democracy.”42 Proses pelembagaan
demokrasi itu pada pokoknya sangat ditentukan oleh pelembagaan organisasi
partai politik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi itu
sendiri.43“Oleh karena itu menurut Yves Meny and Andrew Knapp, A democratic
system without political parties or with a single party is impossible or at any rate
hard to imagine.”44 Artinya sistem politik dengan hanya satu partai politik, sulit
sekali dibayangkan untuk disebut demokratis, apalagi jika tanpa partai politik
sama sekali.45 Sehingga dengan demikian praktik penyelenggaraan pemerintahan
negara dapat mencapai efektivitas kehidupan demokrasi.46
Akan tetapi pasca reformasi politik, terjadi kesalahan paradigma yang lebih
mendasar, yaitu moral politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.47
“Reformasi yang dicitakan adalah reformasi untuk menggerakkan perubahan yang
41Ibid., hal. 290. 42Ibid., hal. 401. 43Ibid., hal. 403. 44Ibid.
45Ibid., hal. 404
secara strategis mendekonstruksi format lama dalam kehidupan bernegara yang
cenderung autokratis ke wujud rekonstruktifnya yang baru, yang lebih
demokratis.”48 Artinya kesediaan dan tindakan untuk mengoreksi kesalahan dalam
rangka memformat ulang tatanan dalam struktur kehidupan bermasyarakat dan
bernegara.49 Namun kenyataannya banyak hal yang membawa kembali pandangan
rezim lama dalam penyelenggaraan berpartai, seperti halnya beragam cara demi
memperebutkan kekuasaan politik tertentu, khususnya kekuasaan internal partai
politik. Untuk itu dibentuk Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai
Politik Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 yang bertujuan
untuk mewujudkan penataan dan penguatan partai politik sebagai pilar demokrasi
negara.
Dalam perihal ini permasalahan-permasalahan yang timbul dari internal
partai politik akan dapat terselesaikan dengan merujuk dari Undang-Undang Partai
Politik tersebut, sebagaimana secara tegas dalam Pasal 32 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik, dijelaskan bahwa dengan
hadirnya mahkamah partai dari setiap masing-masing tubuh partai politik dapat
menyelesaikan konflik internal tanpa melalui pengadilan dan melibatkan
pemerintahan, dengan lebih mengusungkan sifat musyawarah untuk mufakat.
Kehadiran mahkamah partai sejalan dengan amanat dari Pasal 24 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan
48Ibid.
bahwa: Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Berdasarkan
ketentuan tersebut, penulis berpendapat hadirnya mahkamah partai adalah bentuk
wujud dari kekuasaan kehakiman itu sendiri karena bertujuan untuk menegakkan
hukum sehingga tercapainya keadilan.
Mahkamah Partai juga sebagai salah satu tekad kedewasaan partai politik
di Indonesia dalam menghadapi perkembangan wawasan kehidupan bernegara dan
wawasan kebangsaan, yang berwenang mengadili permasalahan sengketa internal
partai politik, dengan bersifat final dan mengikat secara internal. Maka dari itu,
pada pokoknya proses penyelenggaraan eksistensi mahkamah partai perlu
dipertegaskan dalam aturan hukumnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011,
sesuai dengan prinsip-prinsip kedaulatan negara hukum.
G. Metode Penelitian
Menurut Peter R. Senn dalam Bahder Johan mengatakan pendapatnya
bahwa: “Metode merupakan suatu prosedur/cara mengetahui sesuatu dengan
menggunakan langkah-langkah yang sistematis, dan penelitian adalah sebagai
suatu aktivitas mengandung prosedur tertentu, berupa serangkaian cara/langkah
yang disusun secara terarah, sistematis dan teratur.”50 Artinya kegiatan
mempelajari sesuatu mempergunakan pikiran secara aktif, untuk mengejar,
50Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Cet. 1, Mandar Maju, Bandung,
mencari dan menggali pengetahuan tertentu, bukan menunggu secara pasif sampai
suatu pengetahuan itu datang sendiri, sehingga menghasilkan pengetahuan,
memperoleh pemahaman, dan dapat menjelaskan atau meramalkan.51
Penelitian yang dimaksud dalam penulisan ini adalah penelitian hukum,
yang tentu berlandaskan dari disiplin hukum yang merupakan suatu sistem ajaran
tentang hukum sebagai norma dan kenyataan guna mencari penyelesaian masalah
(problem solving) dari isu hukum yang berkembang dan dihadapi pada masa ini.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut:
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan penulis dalam skripsi ini yakni penelitian
hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Dengan membaca dan
mempelajari buku-buku atau literatur dan peraturan perundang-undangan yang
ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. Dalam hal ini, penulis akan
melakukan penelitian terhadap asas, norma, dan prinsip hukum tentang
eksistensi mahkamah partai di Indonesia.
2. Pendekatan Penelitian
Ada berberapa pendekatan yang digunakan dalam penelitian normatif, sebagai
berikut;
a. pendekatan konseptual (conceptual approach); b. pendekatan perundang-undangan (statuta approach); c. pendekatan sejarah (historical approach);
d. pendekatan perbandingan (comparative approach); dan e. pendekatan kasus hukum (case law approach).52
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
konseptual (conceptual approach), pendekatan perundang-undangan (statuta
approach) dan pendekatan kasus hukum (case law approach). “Pendekatan
konseptual (conceptual approach) bertujuan meneliti terhadap konsep-konsep
hukum seperti; sumber hukum, fungsi hukum, lembaga hukum, dan
sebagainya.”53 Dalam penelitian ini pendekatan konseptual tertuju kepada
konsep dibentuknya mahkamah partai di Indonesia. “Pendekatan perundang
-undangan (statuta approach) bertujuan untuk penelitian tehadap
produk-produk hukum.”54 Dalam penelitian ini pendekatan perundang-undangan
tertuju kepada implikasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang
Partai Politik, yang melahirkan istilah mahkamah partai. Kemudian
pendekatan kasus hukum (case law approach) bertujuan untuk penelitian dari
aspek asas, norma, dan kaidah hukum dalam wujud penegakan hukum. Dalam
penelitian ini pendekatan kasus hukum (case law approach) tertuju kepada
akibat hukum dari sifat putusan mahkamah partai.
3. Pengumpulan Bahan Hukum
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan yang
ditujukan untuk mengumpulkan dan melengkapi bahan hukum yang dapat
52Haryadi et al, Buku Panduan Fakultas Hukum Universitas Jambi, Jambi, 2012, hal. 112. 53Bahder Johan Nasution, Op. Cit., hal. 92.
memperkaya sumber penelitian, seperti bahan hukum primer, sekunder dan
tersier. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Bahan Hukum Primer, terdiri dari peraturan perundang-undangan yang
berhubungan dengan masalah yang dibahas, yaitu:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik;
3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan;
4) Putusan Mahkamah Agung Nomor 490 K/TUN/2015 Tahun
2015 Tentang Perihal Kasasi Partai Golkar;
5) Putusan Mahkamah Agung Nomor 504 K/TUN/2015 Tahun
2015 Tentang Perihal Kasasi PPP (Partai Persatuan
Pembangunan);
6) Putusan Mahkamah Agung Nomor 269 K/Pdt.Sus-Parpol/2012
Tentang Perihal Kasasi PDK (Partai Demokrasi Kebangsaan);
7) Putusan Mahkamah Agung Nomor 101 K/Pdt. Sus-Parpol/2014
Tentang Perihal Kasasi PKNU (Partai Kebangkitan Nasional
Ulama);
8) Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 04 Tahun
2003 Tentang Perihal Perkara Perdata Yang Berkaitan Dengan
9) Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 11 Tahun
2008 Tentang Perihal Gugatan Yang Berkaitan Dengan Partai
Politik.
b. Bahan Hukum Sekunder, terdiri dari literatur baik berbentuk
buku-buku hukum, makalah, hasil penelitian hukum, surat kabar, media
internet, dan sumber lainnya yang memiliki keterkaitan dengan
penelitian ini.
c. Bahan Hukum Tersier, yang memberikan petunjuk maupun penjelasan
terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Dalam penelitian ini,
bahan hukum tersier yang digunakan adalah Kamus Hukum dan Kamus
Besar Bahasa Indonesia.
4. Analisis Bahan Hukum
Dikarenakan penelitian ini menitikberatkan perhatian pada data yang bersifat
sekunder, yaitu bahan pustaka hukum yang berupa bahan hukum primer,
sekunder dan tersier, maka alat pengumpulan data yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah studi dokumen (library search) yakni, menelaah dan
mempelajari sumber-sumber tertulis yang ada. Cara yang dapat digunakan
dalam melakukan studi dokumen terkait dengan penelitian ini adalah dengan
menganalisa dokumen dengan cara menyusun secara sistematis dan
H. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini disusun dengan sistematis, dan komprehensif
(menyeluruh), yakni bab demi bab. Setiap bab merupakan bagian yang tidak
terpisahkan satu sama lain. Skripsi ini disusun dengan terdiri dari empat bab yang
masing-masing bab memuat beberapa sub bab. Adapun sistematika penulisan yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab I merupakan bagian pendahuluan dalam penulisan skripsi ini. Dalam bab
ini akan diuraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, kerangka konseptual, kerangka teoritis, metode
penulisan, dan sistematika penulisan. Bab pendahuluan memberikan gambaran
umum mengenai penulisan skripsi ini dan merupakan pedoman atau arah
dalam melakukan penelitian.
2. BAB II TINJAUAN UMUM KEWENANGAN PARTAI POLITIK DAN
MAHKAMAH PARTAI
Bab II merupakan bagian tinjauan pustaka dalam penulisan skripsi ini. Dalam
bab ini memuat tentang konsep, teori dan landasan dasar sebagai pengantar
pada bab berikutnya terkait dengan masalah yang akan dibahas. Dalam bab ini
akan diuraikan tentang politik dalam perspektif negara hukum, kewenangan
partai politik, serta kewenangan Mahkamah Partai.
Bab III merupakan bagian pembahasan dari penulisan skripsi ini. Dalam bab
ini, akan membahas mengenai pokok permasalahan yang mendasar tentang
bentuk dari eksistensi Mahkamah Partai dalam penyelesaian sengketa internal
partai politik di Indonesia, kemudian membahas mengenai permasalahan yang
terkait tentang akibat hukum dari sifat putusan mahkamah partai.
4. BAB IV PENUTUP
Bab IV merupakan bagian penutup dalam penulisan skripsi ini. Bab ini terdiri
dari kesimpulan dari permasalahan yang telah dibahas terkait eksistensi
mahkamah partai dalam penyelesaian sengketa internal partai politik di
Indonesia, serta sumbangan pemikiran berupa saran dari penulis terhadap
30 A.Tinjauan Tentang Politik
1. Definisi Politik
Definisi politik sebagaimana diungkapkan oleh Miriam Budiardjo yakni,
“usaha menggapai kehidupan yang baik.”55 Artinya, politik bertujuan
menyangkut kepentingan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun
pada kenyataannya beragam cara penerapan politik tesebut dilakukan oleh
kebanyakan pemegang kekuasaan politik hanya untuk mewujudkan
kepentingan politik diluar dari kepentingan masyarakat. Usaha untuk
menggapai kehidupan yang baik pun menjadi suatu kegiatan usaha yang tidak
bermoral, seperti halnya dirumuskan secara tegas oleh Peter Merkl bahwa,
“politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan,
kedudukan dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri (politics at its worst is
a selfish grab for power, glory and riches).”56
Terbukti bahwa perumusan tersebut sangat sering terjadi pada atmosfir
perpolitikan di Indonesia, perkembangan politik di tanah air hingga sampai saat
ini pun masih belum dikatakan dewasa, seperti halnya dalam menghadapi
55Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik Edisi Revisi, Cet. 4, PT. Ikrar
Mandiriabadi, Jakarta, 2010, hal. 13.
permasalahan yang acap kali selalu berakhir dengan terlihatnya penegakan
hukum yang tidak tegas melainkan karena di intervensi oleh kepentingan
politik.
Singkatnya, paradigma berpolitik di Indonesia masih banyak di salah
tafsirkan, dengan melihat keadaan yang terjadi kebanyakan pemegang
kekuasaan politik hanya mencerminkan kegaduhan publik belaka, seperti dalam
hal perebutan kekuasaan politik dan/atau kedudukan politik yang tampak
terlihat bukan untuk kepentingan masyarakat tetapi untuk kepentingan diri
sendiri, dengan contoh kasus pada tahun 2015 silam yaitu perebutan kekuasaan
internal partai politik pada tubuh partai Golkar dan PPP (Partai Persatuan
Pembangunan). Hal tersebut disebabkan karena dalam politik mengenal istilah,
“winner takes all yakni, setiap pemenang dalam memperebutkan kekuasaan,
maka dia sebagai pemenang akan memiliki semua yang ada, sementara yang
kalah harus tunduk dan patuh.”57
Maka tidak dapat dipungkiri, ruang lingkup politik selalu terlibat dengan
kekuasaan politik dan/atau kedudukan politik, kegiatan politik, serta keputusan
politik dalam suatu negara. Sebagaimana kesimpulan Miriam Budiardjo yang
menyatakan secara tegas, “bahwa politik dalam suatu negara (state) berkaitan
dengan masalah kekuasaan (power) pengambilan keputusan (decision making),
57A. Zarkasih, Pengantar Ilmu Politik, Fakultas Hukum Universitas Jambi, Jambi, 2012,
kebijakan publik (public policy), dan alokasi atau distribusi (allocation or
distribution).”58
2. Hubungan Politik Dan Hukum
Kata lain dari kata hubungan disini adalah dapat diinterpretasikan dengan
istilah intervensi. Karena Mahfud MD memiliki asumsi bahwa hubungan antara
politik dan hukum yakni; hukum dipandang sebagai dependent variable
(variabel terpengaruh), sedangkan politik diletakkan sebagai independent
variable (variabel berpengaruh).59
Dengan begitu penulis berpendapat munculnya penafsiran bersifat sesat
pikir (fallacy), yang berarti bahwa hukum terpengaruh oleh keberadaan politik
dan sebaliknya keberadaan politik berpengaruh dari bentuk kekuatan hukum,
maka hukum akan terbentuk dari proses politik dan proses politik harus
berlandaskan oleh hukum.
Namun pada kenyataannya, istilah tersebut hanya menjadi istilah belaka.
Sebagaimana Mahfud MD menyatakan bahwa hukum merupakan produk
politik, hal itu disebabkan karena:
“Pada kenyataannya hukum dalam artian sebagai peraturan yang abstrak (pasal-pasal yang imperatif) merupakan kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bersaingan. Sidang parlemen bersama pemerintah untuk membuat Undang-Undang sebagai produk hukum pada hakikatnya merupakan adegan kontestasi agar kepentingan dan aspirasi semua kekuatan politik dapat terakomodasi di dalam keputusan politik dan menjadi Undang-Undang. Undang-Undang yang lahir dari kontestasi tersebut dengan mudah dipandang sebagai produk dari
adegan kontestasi politik itu. Inilah maksud pernyataan bahwa hukum merupakan produk politik.”60
Sri Soemantri Martosoewignjo pernah juga mengonstatasi hubungan antara
hukum dan politik di Indonesia ibarat perjalanan lokomotif kereta api yang
keluar dari relnya. Jika hukum diibaratkan rel dan politik diibaratkan lokomotif,
maka sering terlihat lokomotif itu keluar dari rel yang seharusnya dilalui.61
Maka tidak heran, jika produk hukum sering terlihat memiliki
kelemahan-kelemahan yang begitu signifikan dan menghasilkan ambiguitas istilah, bersifat
multitafsir sehingga dapat diinterpretasikan oleh pelbagai pihak, hal tersebut
disebabkan karena hukum terpengaruh oleh kepentingan politik. Bukan hanya
dalam proses pembentukannya, tetapi juga dalam implementasi dari penegakan
hukum tersebut.
Semestinya, politik tidak dapat terpisahkan oleh kedaulatan hukum
(nomocratie) sebagai aturan hukum yang bertujuan menjadi pedoman dan/atau
tolak ukur dari keluarnya keputusan maupun kebijakan pemegang kekuasaan
politik. Karena “semakin kental muatan hukum dengan masalah hubungan
kekuasaan, semakin kuat pula pengaruh konfigurasi politik terhadap hukum
tersebut.”62
60Ibid.
61Ibid., hal. 20.
62Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia Edisi Revisi, Cet. 4, PT RajaGrafindo
Berkenaan dengan itu, “sistem hukum adalah dasar legal dari negara,
seluruh struktur dan fungsi negara ditetapkan oleh hukum.”63 Hal tersebut
dipertegas oleh gagasan Sirajuddin, yang menyatakan bahwa:
“Konsep Indonesia sebagai negara hukum mengandung arti bahwa dalam
hubungan antara hukum dan kekuasaan, kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik dalam masyarakat. Dalam negara hukum, hukum merupakan pilar utama dalam menggerakkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”64
Kemudian, menurut R. Supomo sebagaimana dikutip oleh Sirajuddin, negara
hukum adalah:
“Negara yang tunduk pada hukum, peraturan-peraturan hukum berlaku pula bagi segala badan dan alat-alat perlengkapan negara. Negara hukum juga akan menjamin tertib hukum dalam masyarakat yang artinya memberikan perlindungan hukum, antara hukum dan kekuasaan ada hubungan timbal balik.”65
Seorang pakar ilmu politik pun Miriam Budiardjo menyatakan bahwa “cabang-
cabang ilmu hukum khususnya meneropong negara ialah hukum tata negara
(Staatsrecht, public law) dan ilmu negara (Staatslehre, general theory of the
state).”66
Sehubungan dari uraian di atas, akademisi Hukum Tata Negara Fakultas
Hukum Universitas Jambi, Iswandi menarik kesimpulan secara tegas, bahwa:
“Konsepsi negara hukum merupakan gagasan yang muncul untuk menentang
konsep absolutisme yang telah melahirkan negara kekuasaan. Pada pokoknya
63Miriam Budiardjo, Op. Cit., hal. 36.
64Iswandi, “Fungsi Komisi Yudisial Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”,
Tesis Magister Hukum Pascasarjana Universitas Jambi, Jambi, 2010, hal. 16.
65Ibid.
kekuasaan penguasa harus dibatasi agar jangan memperlakukan rakyat dengan
sewenang-wenang.”67 Dari sudut pandang demikian, penulis berpendapat sudah
seharusnya politik harus berlandaskan oleh hukum sebagai konsekuensi dari
negara hukum.
3. Konfigurasi Politik Terhadap Produk Hukum
Berdasarkan hasil penelitian dari Mahfud MD yang dikutip oleh Imam
Syaukani dan A. Ahsin Thohari yakni;
“Berkesimpulan bahwa, suatu proses dan konfigurasi politik rezim tertentu akan sangat signifikan pengaruhnya terhadap suatu produk hukum yang kemudian dilahirkannya. Dalam negara yang konfigurasi politiknya demokratis, produk hukumnya berkarakter responsif atau populistik, sedangkan di negara yang konfigurasi politiknya otoriter, produk hukumnya berkarakter ortodoks atau konservatif atau elitis.”68
Dari pemahaman di atas, Mahfud MD meletekkan politik sebagai variabel
bebas dan hukum sebagai variabel terpengaruh.69
Sehingga penulis dapat mengartikan bahwa begitu besar pengaruh negara
terhadap konfigurasi politik yang menghasilkan karakter suatu produk hukum
tertentu. Seperti contoh sejak berdirinya Indonesia secara de fakto dan de jure,
terlihat adanya perubahan konfigurasi politik yang mendasar yakni dari
demokratis ke otoriter kemudian kembali lagi ke demokratis, maka dengan
perubahan tersebut berimplikasi juga pada perubahan karakter produk
hukumnya, terbukti dengan perwujudan adanya penjaminan hak asasi manusia
67Iswandi, Loc. Cit.
68Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-Dasar Politik Hukum, Cet. 7, PT.
Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2011, hal. 5.
pada batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 pasca amandemen.
Maka secara spesifik, Mahfud MD berpandangan bahwa “konfigurasi
politik diartikan sebagai susunan atau konstelasi kekuatan politik yang secara
dikotomis dibagi atas dua konsep yang bertentangan secara diametral, yaitu
konfigurasi politik demokratis dan konfigurasi politik otoriter.”70
Dalam hal meletakkan konfigurasi politik sebagai variabel bebas, Mahfud
MD menjelaskan bahwa konfigurasi politik demokratis adalah:
“Susunan sistem politik yang membuka kesempatan (peluang) bagi partisipasi rakyat secara penuh untuk ikut aktif menentukan kebijakasanaan umum. Partisipasi ini ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjadinya kebebasan politik. Di negara yang menganut sistem demokrasi atau konfigurasinya demokratis terdapat pluralitas organisasi di mana organisasi-organisasi penting relatif otonom. Dilihat dari hubungan pemerintah dan wakil rakyat, di dalam konfigurasi politik demokratis ini terdapat kebebasan bagi rakyat melalui wakil-wakilnya untuk melancarkan kritik terhadap pemerintah.”71
Kemudian di jelaskan pula konfigurasi politik otoriter, yakni:
“Susunan sistem politik yang lebih memungkinkan negara berperan sangat aktif serta mengambil hampir seluruh inisiatif dalam pembuatan kebijaksanaan negara. Konfigurasi ini ditandai oleh dorongan elite kekuasaan untuk memaksakan persatuan, penghapusan oposisi terbuka, dominasi pimpinan negara untuk menentukan kebijaksanaan negara dan dominasi kekuasaan politik oleh elite politik yang kekal, serta di balik semua itu ada satu doktrin yang membenarkan konsentrasi kekuasaan.”72
70Ibid., hal. 30. 71Ibid.
Dari pemaparan penelitian Mahfud MD di atas, maka penulis dapat menarik
kesimpulan, bahwa konfigurasi politik demokratis pada pokoknya tidak ada
pembatasan kepada masyarakat untuk lebih mengawasi jalannya roda
pemerintahan, dengan lebih menekankan prinsip check and balance.
Sehingga dengan berlakunya konfigurasi politik demokratis maka dapat
menciptakan pula karakter produk hukum responsif/populastik. Lebih lanjutnya
Mahfud MD menjelaskan dalam penelitiannya yang dimaksud dengan produk
hukum responsif/populastik, yaitu:
“Produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu di dalam masyarakat. Hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau individu dalam masyarakat.”73
Kemudian sebaliknya, jika konfigurasi politik otoriter maka akan tercipta
karakter produk hukum konservatif/ortodoks/elitis yang di artikan oleh Mahfud
MD, yakni:
“Produk hukum yang isinya lebih mencerminkan isi sosial elite politik, lebih mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat positivis-instrumentalis, yakni menjadi alat pelaksanaan ideologi dan program negara. Berlawanan dengan hukum responsif, hukum ortodoks lebih tertutup terhadap tuntutan-tuntutan kelompok maupun individu-individu di dalam masyarakat. Dalam pembuatannya peranan dan partisipasi masyarakat relatif kecil.”74
Dalam hal ini secara spesifik, yang menentukan konfigurasi politik demokratis
atau otoriter tersebut, salah satu indikator terpenting yakni peran partai politik
73Ibid.