BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Akibat Hukum Perceraian Dalam Perkawinan
74
4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang dapat membahayakan bagi pihak lain.
5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
6) Antara suami atau istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Lembaga perceraian tidak diinginkan dari suami istri, sehingga syarat-syarat berlangsungnya suatu perceraian tidak begitu mudah hal ini dapat dihayati atau dipahami bahwa ketentuan-ketentuan dari Undang-Undang Perkawinan yang menyangkut perceraian adalah bertujuan agar jangan sampai perkawinan yang mempunyai nilai serta cita-cita yang luhur dapat dengan mudah dikorbankan.
75
maka status hukum WNA yang menjadi WNI tersebut sama dengan WNI pada umumnya, artinya hak-hak dan kewajiban WNA yang menjadi WNI tersebut harus dipenuhi sebagaimana hak-hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum nasional Indonesia bagi warganegaranya.
Ketentuan baru yang berlaku ini telah menjawab permasalahan yang selama ini sering terjadi mengenai sistem hukum dari tempat suami-isteri bersama-sama menjadi warganegara setelah perkawinan campuran dilangsungkan (gameenschapelijke nationaliteit/joint nationality). Dalam hal penggunaan sistem hukum dari tempat suami-isteri berkediaman tetap bersama setelah perkawinan (gamenschapelijkewoonplaats/joint residence) atau tempat suami-isteri berdomisili di Indonesia, Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang-Undang nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan baru.
Sesuai dengan UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan , dalam perkawinan tanpa perjanjian kawin semua harta benda yang diperoleh dalam perkawinan menjadi harta bersama kecuali ditentukan lain. Dalam perkawinan campuran ada baiknya juga membuat perjanjian kawin yang memberi perlindungan pada kedua pihak agar tidak ada orientasi negatif terhadap keinginan terhadap harta benda.
Mereka yang melakukan usaha di Indonesia memiliki property dengan nama suami atau istrinya yang warga negara Indonesia untuk mempermudah penguasaan sarana dan prasarana usaha. Sepanjang mengenai benda bergerak setelah dipergunakan dapat bebas dibeli dan
76
dimiliki oleh orang asing utamanya yang memiliki Kartu Ijin Tinggal Terbatas; membeli mobil, sepeda motor, kapal layar, kapal motor sampai dengan ukuran sedang, dengan syarat KTP WNA (bila disyaratkan penjual), fotokopi kartu keluarga (yang single biasanya ikut dengan pemiik rumah), Kartu Ijin Tinggal Terbatas (KITAS), fotokopi bukti kepemilikan rumah/kontrak, fotokopi surat ijin kerja dari Depnaker (bila bekerja).
Di mana sepanjang digunakan untuk kepentingan pribadi dan usaha di Indonesia bebas dibeli dan dimiliki oleh warga negara asing.
Namun karena prosedur yang panjang dan kurangnya atau terbatasnya pengetahuan pejabat di bidang tersebut membuat warga negara asing lebih memilih pinjam nama suami atau istri, atau teman yang warga negara Indonesia. Apabila pengaturan tentang kepemilikan benda bergerak tersosialisasi dengan baik maka dapat memudahkan pemasukan pajak atau retribusi daerah akan didapat. Penetapan tentang jumlah pajak atau retribusi tidak perlu dibedakan atau dilebihkan. Tentang perolehan hak milik atas tanah telah di atur dalam UU nomor 5 tahun 1960 Tentang Pokok pokok Agraria Pasal 21 bahwa :
(1) Hanya warga Negara Indonesia dapat mempunyai hak milik.
(2) Oleh Pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya.
(3) Orang asing yang sesudah berlakunya Undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga-negara
77
Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya Undang-undang ini kehilangan Kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.
(4) Selama seseorang di samping Kewarganegaraan Indonesianya mempunyai Kewarganegaraan asing maka ia tidak dapat mempunyai tanah dengan hak milik dan baginya berlaku ketentuan dalam ayat (3) pasal ini.
Di dalam perceraian antara Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing dimana dalam hal ini masing-masing pihak (suami/isteri) tetap mempertahankan kewarganegaraan, tentu akan menimbulkan akibat hukum diantaranya yaitu terhadap status kewarganegaraan anak dari perceraian tersebut. Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Pasal 1 angka (1) tentang Perlindungan Anak, berisi definisi anak adalah :
“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
78
Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup. Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum.
Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain. Berdasarkan Pasal 1330 KUHP, mereka yang digolongkan tidak cakap adalah mereka yang belum dewasa, wanita bersuami, dan mereka yang dibawah pengampuan. Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum.
Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.
79
Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.
Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal. Negara-negara common law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan negara-negara civil law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis). Umumnya yang dipakai ialah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan, demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya. Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di negara-negara lain, seperti misalnya Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok negara-negara sosialis. 27
Dalam sistem hukum Indonesia, Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke
27 Undang-Undang No.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, hal. 27.
80
macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No.62 tahun 1958.
Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih di bawah umur.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, yang selanjutnya akan disebut dengan Undang-undang Kewarganegaraan. Status Kewarganegaraan Anak dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 Memuat asas-asas kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas-asas-asas yang dianut dalam Undang-undang ini sebagai berikut : 28
1. Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
2. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
28 Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, hal. 27-28.
81
3. Asas Kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu Kewarganegaraan bagi setiap orang.
4. Asas Kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan Kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
5. Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal Kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride).
Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam Undang-Undang ini merupakan suatu pengecualian.
Mengenai hilangnya kewarganegaraan orang tua, maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang. Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, sama-sama diakui sebagai Warga Negara Indonesia.
Hal tersebut di atur berdasarkan Pasal 25 angka (1) dan angka (3) UU No. 12 Tahun 2006 yakni :
1. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia bagi seorang ayah tidak dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya yang mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya sampai dengan anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
82
2. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia bagi seorang ibu tidak dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya yang tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya sampai dengan anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
3. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia karena memperoleh kewarganegaraan lain bagi seorang ibu yang putus perkawinannya, tidak dengan sendirinya berlaku terhadap anaknya sampai dengan anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
Status kewarganegaraan anak berdasarkan aturan dalam Undang-undang Kewarganegaraan tersebut akan berkewarganegaraan ganda, dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin. Hal tersebut diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Kewarganegaraan, bahwa : “Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan dalam waktu paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.”
Untuk anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing; anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia; anak yang lahir di luar perkawinan yang sah
83
dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin; anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya; dan anak yang diakui atau diangkat secara sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin akan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia berdasarkan Undang-undang Kewarganegaraan dengan mendaftarkan diri kepada Menteri melalui Pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia paling lambat 4 (empat) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan yakni pada tahun 2010 (Pasal 41 Undang-undang Kewarganegaraan).
Namun jika sampai tanggal 1 Agustus 2010 anak-anak hasil perkawinan campuran ini tidak didaftarkan ke Depkumham, maka mereka akan kehilangan hak menjadi WNI. Mereka akan diperlakukan sebagai WNA yang izin tinggalnya memakai KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara) dan masuk ke Indonesia memakai Visa. Selama anak tersebut berstatus WNA, ia tidak masuk yurisdiksi Indonesia. Jadi kalau anak tersebut berada di luar negeri ia tidak bisa masuk KBRI untuk minta perlindungan.
Pemberian kewarganegaraan ganda dalam Undang-undang Kewarganegaraan bagi anak hasil perkawinan campuran ini merupakan
84
terobosan baru yang positif bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran.
Anak adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas (sampai usai 18 tahun atau sudah menikah) untuk anak hasil perkawinan campuran.
Kendala Kewarganegaraan Ganda bagi anak Indonesia memiliki sistem hukum perdata internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal Indonesia menganut asas konkordasi yang antaranya tercantum dalam Pasal 16 A.B. (mengikuti Pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari Pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan Pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini berarti warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya, tetapi berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional Indonesia, sebaliknya, menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Republik Indonesia dipergunakan juga hukum nasional mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka.
85
Dalam jurisprudensi Indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, soal status anak-anak yang di bawah umur. Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya.
Apabila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana apabila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara yang lain. Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah maka harus memenuhi kedua syarat tersebut.
Syarat materil (syarat yang menyangkut pribadi calon mempelai dan larangan-larangan menikah) harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil (syarat yang menyangkut formalitas yang harus dipenuhi sebelum perkawinan dilangsungkan, biasanya terkait dengan
86
urusan administrasi perkawinan) mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan.
Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (Pasal 8 Undang-undang Perkawinan), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya. Hal tersebut yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji oleh para ahli hukum perdata internasional sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini.
Penulis berpendapat karena Undang-undang Kewarganegaraan ini masih baru maka potensi masalah yang bisa timbul dari masalah kewarganegaraan ganda ini belum menjadi kajian para ahli hukum perdata internasional. Pasal 6 Undang-undang Kewarganegaraan, dimana anak diizinkan memilih kewarganegaraan setelah berusia 18 tahun atau sudah menikah.
Bagaimana bila anak tersebut perlu sekali melakukan pemilihan kewarganegaraan sebelum menikah, karena sangat erat dengan penentuan hukum untuk status personalnya, karena pengaturan perkawinan menurut ketentuan negara yang satu ternyata bertentangan dengan ketentuan negara yang lain. Seharusnya bila memang pernikahan itu membutuhkan suatu penentuan status personal yang jelas, maka anak diperbolehkan untuk memilih kewarganegaraannya sebelum pernikahan
87
itu dilangsungkan. Hal ini penting untuk mengindari penyelundupan hukum, dan menghindari terjadinya pelanggaran ketertiban umum yang berlaku di suatu negara.
Pasal 62 ayat (2) huruf g Undang-undang Keimigrasian No. 6 Tahun 2011, mengatur bahwa putusnya hubungan perkawinan orang asing yang kawin secara sah dengan warga negara Indonesia karena perceraian dan/atau atas putusan pengadilan dapat menyebabkan batalnya ijin tinggal tetap pemegang ijin tinggal tetap, kecuali perkawinan yang telah berusia sepuluh tahun atau lebih.
- Perlindungan Hukum Terhadap Perkawinan Campuran Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006
Dunia kewarganegaraan di tanah air telah memasuki babak baru dengan telah disahkannya Rancangan Undang-undang Kewarganegaraan oleh Pemerintah dan DPR pada tanggal 11 Juli 2006. Penjelasan Undang-undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan menyatakan bahwa, Undang-undang Nomor 62 tahun 1958 dirasakan secara filosofis, yuridis dan sosiologis sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat dan ketatanegaraan Republik Indonesia.
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang baru ini di dalamnya tidak dikenal kewarganegaraan ganda (bipartide) ataupun tanpa kewarganegaraan (apartide). Kewarganegaraan yang diberikan
88
kepada anak dalam undang-undang ini merupakan pengecualian.
Undang-undang ini juga mengatur bahwa anak yang lahir di luar perkawinan yang sah hanya untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang status kewarganegaraannya saja. Undang -undang kewarganegaraan yang baru ini disambut baik oleh semua pihak, terlebih lagi oleh kaum minoritas etnik tertentu, dan para pelaku perkawinan campuran, khususnya perempuan warga negara Indonesia yang menikah dengan laki-laki warga negara asing.
Khawatir akan nasib anak dari hasil perkawinan campuran diberikan kewarganegaraan ganda sampai dengan umur 18 tahun atau menikah, dan diberi waktu sampai dengan 3 tahun kemudian atau umur 21 tahun, anak tersebut harus sudah memilih akan menjadi kewarganegaraan ayah atau ibu. Diharapkan undang-undang ini dapat disosialisasikan secara menyeluruh agar bisa diketahui oleh masyarakat dan petugas/pejabat yang berkaitan dengan proses pengurusan kewarganegaraan, agar tidak terjadi lagi proses kewarganegaraan yang memakan waktu lama dan biaya yang besar.
Dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan ini diharapkan bagi mereka etnis minoritas seperti Tionghoa, India, Arab dan sebagainya segera untuk mendaftarkan diri di kantor catatan sipil setempat karena sistem pendataan di catatan sipil belum otomatis, sehingga
89
keluarga sebaiknya mendaftar sendiri. Dengan demikian data anak-anak yang punya kewarganegaraan ganda bisa tercatat. Warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara (Pasal 2 Undang-undang Nomor 12 tahun 2006), yang dimaksud bangsa Indonesia asli yaitu orang Indonesia yang menjadi warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri.
Pasal ini mengutip dari Pasal 26 Undang-undang Dasar tahun 1945 yang berbunyi: "Yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara".
Etnis Tionghoa, Arab, India serta etnis lainnya yang sudah ada sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain merupakan bangsa Indonesia asli sama/sejajar dengan etnis jawa, madura, sumatera dan lain-lain. Dan dengan begitu mereka tidak memerlukan lagi Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI), yang dulu selalu menjadi persyaratan dalam mengurus ijin yang berkaitan dengan usaha ataupun keperluan lainnya, guna menujukkan yang bersangkutan sudah menjadi warganegara Republik Indonesia.
Status kewarganegaraan anak yang berakibat kewarganegaraan ganda, setelah usia 18 tahun atau sudah kawin
90
anak harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya (Pasal 6 ayat 1 Undang-undang Kewarganegaraan). Pernyataan untuk memilih kewarganegaraannya tersebut dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada pejabat dengan melampirkan dokumen sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundangan (Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Kewarganegaraan). Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan tersebut disampaikan dalam waktu paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau telah kawin (Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 12 tahun 2006).
Berdasarkan Pasal 5 angka (1) Undang-undang Kewarganegaraan, Anak warga negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai warga negara Indonesia. Anak Warga Negara Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara sah sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan tetap diakui sebagai warga negara Indonesia berdasarkan Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Kewarganegaraan.
Warga negara asing yang kawin secara sah dengan warga negara Indonesia, dapat memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia dengan menyampaikan pernyataan menjadi warga negara
91
di hadapan pejabat, berdasarkan (Pasal 19 ayat (1) Undang-undang Kewarganegaraan).
Orang asing yang telah berjasa kepada Republik Indonesia atau dengan alasan kepentingan negara, dapat diberi kewarganegaraan Republik Indonesia oleh Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda berdasarakan Pasal 20 Undang-undang Kewarganegaraan.
Orang asing yang berjasa kepada Republik Indonesia yaitu orang asing yang karena prestasinya yang luar biasa di bidang kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, lingkungan hidup, serta keolahragaan telah memberikan kemajuan dan keharuman nama bangsa Indonesia.
Yang dimaksud dengan orang asing yang diberikan kewarganegaraan karena alasan kepentingan kewarganegaraan adalah orang asing yang dinilai oleh negara telah dan dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk kepentingan memantapkan kedaulatan negara dan untuk meningkatkan kemajuan, khususnya di bidang perekonomian Indonesia.
Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia, dari ayah atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia dapat
92
memperoleh Kewarganegaraan RI dengan sendirinya menjadi WNI berdasarkan Pasal 21 ayat (1) Undang-undang Kewarganegaraan.
Anak warga negara asing yang belum berusia 5 tahun yang diangkat secara sah, yang telah mendapatkan penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara Indonesia memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia Pasal 21 ayat (2) Undang-undang Kewarganegaraan. Seseorang dapat memperoleh kewarganegaraan melalui permohonan pewarganegaraan yang diajukan dengan mengikuti persyaratan yang ditentukan dalam Pasal 9 Undang-undang Kewarganegaraan, yaitu:
1. Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin;
2. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut;
3. Sehat jasmani dan rohani;
4. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945;
5. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih;
6. Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda;
93
7. Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap.
8. Membayar utang kewarganegaraan ke kas negara.
Permohonan diajukan di Indonesia oleh Pemohon secara tertulis dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermaterai cukup kepada Presiden melalui Menteri. Berkas tersebut disampaikan kepada pejabat yang berwenang. Menteri meneruskan permohonan sebagaimana dimaksud disertai dengan pertimbangan kepada Presiden dalam waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal permohonan diterima. Pemohon kewarganegaraan dikenakan biaya yang telah ditetapkan pemerintah. Pemberian atau penolakan permohonan kewarganegaraan merupakan keputusan Presiden yang akan ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan dari tanggal permohonan. Keputusan presiden akan diterima oleh menteri yang akan dilanjutkan atau pemberitahuan kepada pemohon paling lambat 14 hari terhitung sejak keputusan Presiden ditetapkan.
Penolakan permohonan kewarganegaraan harus disertai dengan alasan dan diberitahukan oleh menteri kepada yang bersangkutan paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal permohonan diterima oleh Menteri berdasarkan Pasal 13 ayat (4) Undang-undang Nomor 12 tahun 2006. Keputusan Presiden tentang pengabulan permohonan kewarganegaraan berlaku efektif terhitung sejak tanggal pemohon mengucapkan sumpah atau menyatakan
94
janji setia berdasarkan Pasal 14 ayat (1). Paling lambat 3 bulan terhitung sejak keputusan Presiden dikirim kepada pemohon, pejabat memanggil pemohon untuk mengucapkan sumpah dan menyatakan janji setia berdasarkan Pasal 14 ayat (2) Undang -undang Nomor 12 tahun 2006. Pemohon tidak hadir tanpa alasan yang sah setelah dipanggil secara tertulis oleh pejabat untuk mengucapkan sumpah atau janji setia pada waktu yang telah ditentukan, maka Keputusan presiden tersebut batal demi hukum.
Bila pemohon tidak mengucapkan sumpah dan janji setia sebagai akibat kelalaian Pejabat, Pemohon dapat mengucapkan sumpah dan janji setia dihadapan pejabat lainnya yang ditunjuk oleh menteri berdasarkan Pasal 14 ayat (4) Undang-undang Kewarganegaraan.
Pengucapan sumpah atau janji setia dilakukan dihadapan pejabat, Pejabat dimaksud membuat berita acara pelaksanaan pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia berdasarkan Pasal 15 a yat (2) Undang-undang Kewarganegaraan. Paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia, pejabat dimaksud menyampaikan berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia kepada Menteri berdasarkan Pasal 16 ayat (3) Undang-undang Kewarganegaraan. Setelah mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia, pemohon wajib menyerahkan dokumen atau surat-surat keimigrasian atas namanya kepada
95
kantor imigrasi dalam waktu 14 hari kerja sesuai dengan Pasal 17 Undang-undang Nomor 12 tahun 2006.
Salinan Keputusan Presiden tentang kewarganegaraan dan berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia dari pejabat sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat 2, menjadi bukti sah Kewarganegaraan seseorang berdasarkan pasal 18 ayat 1. Menteri mengumumkan nama orang yang telah memperoleh kewarganegaraan dalam Berita negara Republik Indonesia (Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 12 tahun 2006).
Beberapa asas khusus juga menjadi dasar penyusunan Undang-undang tentang kewarganegaraan Republik Indonesia:
1. Asas kepentingan nasional adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia yang bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai negara kesatuan yang memiliki cita -cita dan tujuannya sendiri.
2. Asas perlindungan maximum adalah asas yang menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap warga negara Indonesia dalam keadaan apapun baik di dalam maupun di luar negeri.
3. Asas persamaan di dalam hukum dan pemerintahan adalah asas yang menentukan bahwa setiap warga negara Indonesia