• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Perceraian Dalam Perkawinan Campuran

Hasil penelitian di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Gianyar Provinsi Bali memperlihatkan bahwa angka perceraian sepanjang tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, seperti ditampailkan dalam tabel berikut:23

No. Jenis Akta 2011

1. Perkawinan Campuran 16 2. Perkawinan Asing -

3. Perceraian 33

Tabel 4.1. Akta Perkawinan Campuran dan Perceraian Tahun 2011.

No. Jenis Akta 2012

1. Perkawinan Campuran 16 2. Perkawinan Asing -

3. Perceraian 64

Tabel 4.2. Akta Perkawinan Campuran dan Perceraian Tahun 2012.

23 Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, Angka Perkawinan Campuran dan Perceraian Tahun 2011-2012.

66

Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, bahwa para pelaku perkawinan campuran tidak serta merta melakukan permohonan pewarganegaraan pada saat mereka melakukan pencatatan perkawinan, para pelaku perkawinan campuran banyak memilih pewarganegaraan melalui proses keimigrasian.

Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan yang dikategorikan bersifat lebih sempit dalam menangkal persoalan -persoalan yang tidak termuat dalam pengertian perkawinan campuran, misalnya seorang laki-laki yang berkewarganegaraan Amerika melangsungkan perkawinanya di Negara Indonesia dengan seorang wanita yang berkewarganegaraan Australia, maka agar dapat diterimanya masalah atau persoalan ini kiranya dapat dilihat dalam Pasal 99 GHR (Regeling of De Gomengde Huelijken).

Ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Perkawinan yang merupakan penyempitan pengertian dari perkawinan campuran mengatur bahwa perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas Undang-Undang ini, maka ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijks Ordonantie Christen Indonesia S. 1933 No. 74 ), Peraturan Perkawina Campuran regeling of De Gomengde Huwelijken S.1898 No. 158) dan peraturan-peraturan lain yang

67

mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang -Undang ini, dinyatakan tidak berlaku.

Pasal-pasal tersebut di atas memperjelas bahwa kesan dari persoalan-persoalan yang rasanya tidak mungkin dimaksudkan dalam pengertian perkawinan campuran menjadi hilang, karena masih dimungkinkan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Perkawinan.

Pasal 66 Undang-Undang Perkawinan tersebut di atas, maka ketentuan-ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wetboek (BW) dan GHR (Regeling of De Gomengde Huelijken), masih juga dijamah peraturan lain yang dapat diduga mencakup, antara lain: 24

1. Hukum agama dan kepercayaan yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

2. Peraturan perundang-undangan

3. Peraturan-peraturan yang tidak tertulis seperti hukum adat.

4. Pelbagai konvensi

5. Hukum agama yang telah diresipir dalam hukum adat.

Proses pelaksanaan perkawinan campuran diatur dalam Pasal 60 Undang-Undang Perkawinan. Untuk pelaksanaan perkawinan campuran, Undang-Undang Perkawinan tidak menentukan secara tegas, maka atas dasar ketentuan Pasal 66

24 Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, Alumni, Bandung, 1988, hal. 9.

68

Undang-Undang Perkawinan Surat atau Akta dapat digunakan ketentuan Pasal 6 Peraturan Perkawinan Campuran GHR (Regeling op de gemengde huwelijken). Untuk mengatasi problem perkawinan campuran sesama WNI sebagai masalah HATAH intern Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1975 tentang “Kewajiban Pegawai Pencatat Nikah dan Tata Kerja Pengadilan Agama dalam Pelaksanaan Peraturan Perundang-undangan Perkawinan bagi yang Beragama Islam” dan keputusan Menteri Agama No. 4 Tahun 1975 tentang Model sebagai Sarana Proses Pencatatan dan Bukti Nikah. Ketentuan tentang pelaksanaan perkawinan campuran d an pencatatannya, berhubungan dengan kewenangan absolut badan peradilan (Pasal 63 ayat 1 UUP jo. Pasal 1 PP No. 9 Tahun 1975).

PA dan PN mempunyai kewajiban dan kewenangan sebagai ditentukan Pasal 60 ayat 3, 4, dan 5. Pasal 60 (3) UUP menghapus Pasal 8 (1) GHR.

Sanksi Pelanggaran Proses Pelaksanaan Perkawinan Campuran UUP menentukan: (1) proses pelaksanaan perkawinan campuran (Pasal 60 ayat 1); (2) pencatatan perkawinan campuran dilaksanakan oleh pegawai pencatat yang berwenang (Pasal 61 ayat 1 jo. GHR Pasal 6 ayat 1, 2, 3 ; (3) sanksi pelanggaran terhadap pejabat pencatat (PPN pada KUA dan KCS) dengan hukuman jabatan dan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan berdasarkan Pasal 61 angka (3) dan hukuman kurungan

69

selama-lamanya satu bulan bagi pengantin yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan proses pelaksanaan perkawinan campuran berdasarkan Pasal 61 angka (2).

Warga Indonesia biasanya dalam perkawinan dan perceraian biasanya memilih dua instansi yang berwenang mencatat perkawinan dan perceraian yang tugasnya ditentukan secara pasti yaitu: Catatanan sipil berdasarkan Pasal 199 angka 3e25 dan Pengadilan Negeri (Pasal 207)26. UUP memberikan sanksi yang keras terhadap pelanggaran ketentuan pencatatan perkawinan campuran. Ketentuan tentang sanksi pelanggaran proses perkawinan campuran berisi ancaman terhadap PPN pada KUA dan KCS dengan maksud agar selalu tercipta suasana saling menghormati dan koordinasi dalam melaksanakan tugas.

Sedangkan sanksi terhadap pengantin berfungsi untuk menjaga stabilitas masyarakat agar hidup dalam suasana kebersamaan yang rukun. Ketentuan tentang sanksi ini merupakan upaya untuk menciptakan ketenteraman hukum dan administrasi negara disebabkan adanya perbedaan instansi pemberi pelayanan hukum perkawinan. Di samping sanksi tersebut, Pasal 45 PP. No. 9 Tahun 1975 menentukan sanksi pula terhadap perkawinan campuran.

Ketentuan tentang sanksi ini secara keseluruhan merupakan upaya

25 BW, hal. 46.

26 BW, hal. 50.

70

untuk menciptakan ketenteraman hukum dan kerukunan kehidupan umat beragama di Indonesia.

Undang-Undang Kewarganegaraan baru telah menyempur-nakan Undang-Undang Kewarganegaraan lama tersebut, seperti yang tertuang dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang menyatakan bahwa Warga Negara Asing (WNA) yang kawin secara sah dengan Warga Negara Indonesia (WNI) dapat memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia dengan menyampaikan pernyataan menjadi warga negara di hadapan pejabat yang berwenang. Pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebut dapat dilakukan apabila yang bersangkutan (WNI dan WNA yang menikah) sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat sepuluh tahun tidak berturut-turut, kecuali dengan perolehan kewarganegaraan tersebut mengakibatkan berkewarganegaraan ganda (Pasal 19 ayat (2)).

Berdasarkan penjelasan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila seorang WNA yang menikah dengan WNI ingin mendapatkan kewarganegaraan Indonesia, maka WNA tersebut dapat menjadi WNI sepenuhnya apabila menyampaikan pernyataan di hadapan pejabat yang berwenang. WNA yang telah disahkan menjadi WNI berdasarkan

71

ketentuan yang berlaku, maka status hukum WNA yang menjadi WNI tersebut sama dengan WNI pada umumnya, artinya hak-hak dan kewajiban WNA yang menjadi WNI tersebut harus dipenuhi sebagaimana hak-hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum nasional Indonesia bagi warganegaranya. Ketentuan baru yang berlaku ini telah menjawab permasalahan yang selama ini sering terjadi mengenai sistem hukum dari tempat suami-isteri bersama-sama menjadi warganegara setelah perkawinan campuran dilangsungkan (gameenschapelijke nationaliteit/joint nationality).

Penggunaan sistem hukum dari tempat suami-isteri berkediaman tetap bersama setelah perkawinan (gamenschapelijkewoonplaats/joint residence) atau tempat suamiisteri berdomisili di Indonesia, Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang -Undang nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan baru menjelaskan bahwa laki-laki atau perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan laki-laki atau perempuan Warga Negara Asing (WNA) akan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal suami atau isterinya, mengikuti kewarganegaraan suami atau isteri sebagai akibat perkawinan tersebut. Jika laki-laki atau perempuan yang dimaksud dalam ayat (1) dan (2) tersebut ingin tetap menjadi berkewarganegaraan Indonesia dapat mengajukan surat pernyataan ke pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia yang wilayahnya

72

meliputi tempat tinggal laki-laki atau perempuan tersebut, kecuali pengajuan tersebut untuk mengabaikan kewarganegaraan ganda (Pasal 26 ayat (3)). Surat pernyataan tersebut dapat diajukan setelah tiga tahun sejak tanggal perkawinan campuran dilangsungkan (Pasal 26 ayat (4).

Perkawinan yang dilangsungkan sesuai hukum masing-masing agama atau kepercayaan tersebut, adakalanya tidak dapat dipertahankan, karena berbagai macam alasan. Mengenai suatu perceraian yang terjadi dalam suatu perkawinan campuran, maka di Indonesia, Pengadilan Negeri mempunyai wewenang untuk memberikan keputusan perceraian antara orang-orang asing yang berada di wilayah Republik Indonesia, bilamana kedua suami istri atau salah satu suami istri bertempat tinggal di wilayah Indonesia sesuai dengan makna dalam Pasal 18 UU Perkawinan yang mengandung asas locusregit tentang suatu perbuatan hukum dianggap sah apabila mengikuti semua persyaratan yang ditentukan di tempat dilakukannya perbuatan hukum tersebut.

Proses perceraian dari perkawinan campuran yang diaju kan di Pengadilan Negeri di wilayah Indonesia dapat diberikan langsung dengan syarat dapat memberikan alasan-alasan atau prosedur-prosedur yang tertuang dalam Undang-Undang Perkawinan dengan PP No. 9 Tahun 1975.

73

Perceraian berdasarkan Undang-Undang Perkawinan adalah putusnya hubungan suami istri pada saat keduanya masih hidup di depan pengadilan berdasarkan syarat-syarat sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Perkawinan.

Syarat-syarat untuk memperoleh suatu perceraian pelaksanaannya juga harus berdasarkan aturan hukum ditempat gugatan perceraian itu diajukan. Apabila gugatan perceraian itu diajukan di pengadilan yang ada di Indonesia maka syarat -syarat yang harus dipenuhi berdasarkan ketentuan Undang-Undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia.

Syarat-syarat yang merupakan bagian dari proses untuk melakukan perceraian dari Undang-Undang Perkawinan harus ada cukup alasan, bahwa suami istri itu tidak dapat hidup rukun sebagai suami istri Pasal 39 ayat (2). Adapun alasan-alasan yang dapat dipakai sebagai landasan agar dapat diterimanya perceraian diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 sebagai berikut:

1) Salah satu suami atau istri berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi yang sukar disembuhkan.

2) Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ijin pihak yang lain di luar keinginannya.

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

74

4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang dapat membahayakan bagi pihak lain.

5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.

6) Antara suami atau istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Lembaga perceraian tidak diinginkan dari suami istri, sehingga syarat-syarat berlangsungnya suatu perceraian tidak begitu mudah hal ini dapat dihayati atau dipahami bahwa ketentuan-ketentuan dari Undang-Undang Perkawinan yang menyangkut perceraian adalah bertujuan agar jangan sampai perkawinan yang mempunyai nilai serta cita-cita yang luhur dapat dengan mudah dikorbankan.

Dokumen terkait