• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat Hukum Yang Ditimbulkan Dari PermohonanPoligami

BAB III KEABSAHAN POLIGAMI DAN AKIBAT HUKUM YANG DITIMBULKAN

3.2. Akibat Hukum Yang Ditimbulkan Dari PermohonanPoligami

Perkawinan ibarat pisau bermata dua. Jika dipegang orang yang benar, maka akan bermanfaat. Sebaliknnya, jika dipegang orang yang salah, maka akan menimbulkan bahaya, bukan hanya bagi diri pelakunya, melainkan juga bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam perkawinan, selain terdapat manfaat juga terdapat mudarat. Atas dasar manfaat inilah, syariat memberlakukan perkawinan.

Izin poligami yang dikabulkan oleh pengadilan agama dapat dijadikan sebagai alat bukti otentik yang dapat dipergunakan untuk melakukan perkawinan kedua dengan calon istri kedua di Kantor Urusan Agama (KUA). Pegawai Pencatat Nikah (PPN) yang akan menikahkan perkawinan poligami hendaknya harus dapat memastikan telah adanya ijin dari pengadilan agama, karena izin dari pengadilan agama merupakan syarat utama dilakukannya perkawinan poligami. Apabila tidak adanya izin poligami dari pengadilan agama, maka perkawinan poligami tidak dapat dilakukan dengan alasan apapun.

50

Pada saat Pemohon akan melangsungkan perkawinan dengan calon istri kedua selain harus adanya surat izin poligami yang dikabulkan oleh pengadilan agama, perkawinan yang dilakukan harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan melaksanakan perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dan 7 Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 dan Bab IV KHI. Maka perkawinan yang dilakukan oleh Pemohon dengan calon istri kedua Pemohon menjadi sah dan mengikat serta berkekuatan hukum.

Rukun dan syarat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam setiap akad (transaksi) apa pun, termasuk untuk tidak mengatakan terutama akad kawin. Bedanya rukun berada di dalam sesuatu (akad kawin) itu sendiri, sedangkan syarat berada di luarnya. Dikatakan, ruknus-syar‟i ma-yatimmu bihi, rukun sesuatu adalah sesuatu yang dengannya (sesuatu itu) akan menjadi sempurna (eksis), yang mana rukun itu sendiri merupakan bagian yang ada di dalamnya, berbeda dengan syarat yang ada di luar dari pada sesuatu itu sendiri. Dalam Ensiklopedia Hukum Islam, syarat dirumuskan dengan, sesuatu yang tergantung padanya keberadaan hukum syar‟i, dan dia berada di luar hukum itu sendiri.

Perbedaan antara rukun dan syarat, khususnya rukun dan syarat dalam akad kawin, tampak begitu tipis. Atas dasar ini maka tidaklah mengherankan jika berkenaan dalam ihwal rukun dan syarat kawin, ada hal-hal tertentu yang oleh sebagian ulama dimasukkan ke dalam rukun kawin, sementara oleh sebagian ulama yang lain dikategorikan sebagai syarat kawin. Sebagai ilustrasi, ulama Malikiah misalnya menyebutkan lima

51 macam arkan kawin yaitu:

1) wali perempuan.

2) Maskawin.

3) Suami.

4) Istri.

5) Sighat akad.

Kebanyakan ulama Syafi‟iah juga menyebutkan lima arkan kawin, tetapi dengan unsur tertentu yang berbeda dari mahzab Maliki. Kelima arkan kawin yang dikemukakan ulama Syafi‟iah ialah: 28

1) Suami.

2) Istri.

3) Wali.

4) Dua orang saksi.

5) Sighat akad.

Syarat-syarat perkawinan diatur didalam Pasal 6 dan Pasal 7 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 jo. PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang pada pokoknya adalah sebagai berikut:

1) Perkawinan harus didasarkan atas perjanjian kedua calon

28Muhammad Amin Suma, 2004, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, PT Raja Grafindo,Jakarta, hal, 95-96.

52

mempelai.
Menurut pendapat Soemiyati yang dimaksud dengan perjanjian atau persetujuan yaitu bahwa perkawinan itu harus dilaksanakan berdasarkan kehendak bebas calon mempelai pria ataupun calon mempelai wanita untuk melaksanakan perkawinan tanpa persetujuannya. Untuk menimbulkan kesepakatan kedua belah pihak, maka dalam islam sebelum perkawinan perlu diadakan peminangan dan masa “khitbah” terlebih dahulu, supaya keduanya dapat mengadakan saling pendekatan dan untuk saling mengenal watak masing-masing.29Perjanjian mana dibuat oleh calon suami dan calon istri dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan pihak manapun, jika perjanjian antara calon suami dan calon istri dibuat dalam keadaan terpaksa atau tertekan maka dikhawatirkan bahwa perkawinan yang dilaksanakan tidak akan mencapai tujuan perkawinan sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 1 Undang- Undang No. 1 Tahun 1974. Oleh karena itu, pada saat akan diadakannya perjanjian antara calon suami dengan calon istri, hendaknya harus mengenal watak masing-masing dan sifat serta kebiasaan baik dan buruk pasangan.

Pengenalan yang baik antara calon suami dengan calon istri diharapkan perkawinan yang dilakukan dapat berlangsung seumur hidup (monogami).

2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai

29Soemiyati, 1982, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Liberty,Yogyakarta, hal 67-68.

53

umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin dari kedua orangtua.

Menurut pendapat Yahya Harahap mengenai perlunya izin ini adalah erat sekali hubungannya dengan pertanggung jawaban orang tua dalam pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua secara susah payah dalam membesarkan anak-anaknya. Sehingga kebebasan yang ada pada si anak untuk menentukan pilihan calon suami/istri jangan sampai menghilangkan tanggung jawab orang tua.30

Pada saat calon suami/istri yang akan menikah belum mencapai umur 21 tahun harus mendapatkan izin orang tua, hal tersebut dikarenakan pada saat seseorang belum mencapai umur 21 masih dianggap belum dewasa dan pikirannya belum matang, maka peran orang tua selain untuk memberikan izin perkawinan kepada anaknya yang belum berumur 21 tahun juga dapat memberikan saran mengenai pasangan yang dipilih oleh anaknya, dan mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan pada saat perkawinan tersebut berjalan. Karena setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya.

3) Apabila kedua orang tua meninggal dunia, maka yang berhak memberi ijin sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat (3), (4), dan (5) adalah berturut-turut sebagai berikut:

Jika kedua orang tua masih hidup maka yang berhak memberi ijin adalah kedua-duanya. Sedangkan apabila salah satu meninggal dunia maka

30Loc, cit

54

yang berhak memberikan izin adalah salah satu dari keduanya yang masih hidup. Jika yang meninggal dunia adalah orang tua wanita maka izin perkawinan ada pada orang tua laki-laki, demikian sebaliknya. Dalam hal izin ada pada pihak orang tua perempuan, maka orang tua perempuanlah yang bertindak sebagai wali.31

Mengenai pemberian izin perkawinan jika salah satu atau kedua orang tua meninggal dunia, disesuaikan dengan ajaran dan kepercayaannya. Bagi mereka yang beragama islam oleh karena hukum islam telah mengatur mengenai susunan perwalian dalam perkawinan maka ketentuan-ketentuan dalam undang-undang perkawinan tidak berlaku bagi mereka, sepanjang ketentuan-ketentuan itu tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan perwalian menurut hukum islam.

4) Apabila salah seorang dari kedua orang tua dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya karena disebabkan:

a) Karena di bawah kuratele b) Atau sakit ingatan

c) Tempat tinggalnya tidak diketahui, maka izin cukup diberikan oleh salah satu pihak saja yang mampu

31Loc, cit 


55

menyatakan kehendaknya (Pasal 6 ayat (3)).

Pernyataan kehendak merupakan perbuatan perdata, jika seseorang tidak dapat menyatakan kehendak maka pernyataan kehendak seseorang tersebut dapat diwakilkan oleh orang lain. Sebagai contoh, apabila salah satu orang tua calon suami/istri di bawah kuratele karena ketidakmampuannya, maka dapat diwakili oleh kurator sebagai wali kawin.

5) Apabila kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya.


Pada saat calon suami/istri akan melaksanakan perkawinan, apabila kedua orang tua telah meninggal, maka dapat diwakilkan oleh wali. Wali disini adalah orang yang mengurus dan memelihara sampai seseorang mandiri, wali dimaksud dapat berasal dari pihak keluarga, saudara, atau orang yang telah dipercaya untuk mengurus keperluan mereka. Peran wali adalah sama dengan orang tua. 


6) Jika ada perbedaan pendapat antara mereka yang disebut dalam ayat 2,3,dan4 pasal ini, atau salah seorang atau lebih di antara mereka tidak ada menyatakan pendapatnya, pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang hendak melaksanakan

56

perkawinan yang berhak memberi izin. Izin dari pengadilan ini atas permintaan: 


1. Pihak yang hendak melaksanakan perkawinan.

2. Setelah lebih dahulu mendengar sendiri orang yang disebut oleh ayat 2,3, dan 4 Pasal 6 tersebut.


Bagi yang beragama islam ketentuan-ketentuan perijinan dalam sub d, e, dan f tersebut diatas, hanya berlaku bagi mereka sepanjang ketentuan- ketentuan itu tidak bertentangan dengan ketentuan perwalian menurut hukum islam. Apabila ketentuan-ketentuan itu tidak sesuai atau bertentangan dengan ketentuan perwalian dalam hukum islam maka yang berlaku bagi mereka adalah hukum islam.32

7) Batas umur untuk melaksanakan perkawinan adalah sekurang-kurangnya 19 tahun bagi calon suami dan 16 tahun bagi calon istri.

Menurut pendapat Soemiyati penentuan batas umur untuk melangsungkan perkawinan sangatlah penting sebab perkawinan sebagai suatu perjanjian perikatan antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri, haruslah dilakukan oleh mereka yang sudah cukup matang baik dilihat dari segi biologis maupun psikologis. Hal ini adalah penting sekali untuk mewujudkan tujuan perkawinan itu sendiri, juga

32Ibid, hal. 70 .

57

mencegah terjadinya perkawinan pada usia muda atau perkawinan anak-anak, sebab perkawinan yang dilaksanakan pada umur muda banyak mengakibatkan perceraian dan keturunan yang diperolehnya bukan keturunan yang sehat.

Perkawinan pada usia muda cenderung masih mengedepankan emosional masing-masing sehingga sangat rentan dengan perceraian.

Seseorang yang belum mencapai umur 20 tahun, tingkat emosionalnya masih sangat labil dan sangat mudah dipengaruhi sehingga dikhawatirkan akan mengikuti hal-hal negative yang ada di masyarakat. Penundaan perkawinan pada usia muda diharapkan agar keluarga yang tercipta diharapkan mampu memenuhi tujuan dari Pasal 1 undang-undang perkawinan dan mencegah terjadinya perceraian pada usia muda.

Kewajiban suami yang beristri lebih dari seorang (poligami) diatur dalam Pasal 82 KHI yang berbunyi sebagai berikut:

1. Suami yang mempunyai istri lebih dari seorang berkewajiban memberi tempat tinggal dan biaya hidup kepada masing-masing istri secara berimbang menurut besar kecilnya keluarga yang ditanggaung masing- masing istri, kecuali jika ada perjanjian perkawinan.

2. Dalam hal para istri rela dan ikhlas, suami dapat menempatkan istrinya dalam satu tempat kediaman. 


Apabila perkawinan yang dilakukan oleh Pemohon dengan calon

58

istri kedua Pemohon telah dilakukan di KUA secara sah, maka anak yang dikandung oleh calon istri kedua Pemohon hasil hubungan zina dengan Pemohon dapat dikatakan sebagai anak sah karena lahir di dalam perkawinan yang sah, hal tersebut sebagaimana yang diatur dalam Pasal 42 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 99 KHI.

Pemohon dalam melakukan praktek poligami, diharuskan berbuat adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya, jangan sampai perkawinan ke-2 Pemohon menjadi perkawinan yang haram karena Pemohon tidak dapat bebuat adil dalam kehidupan rumah tangganya dan mendiskriminasikan salah satu istri serta mengistimewakan salah satu istrinya. Apabila hal tersebut terjadi, maka salah satu istri yang merasa didiskriminasikan dapat mengajukan tuntutan ke pengadilan agama. Apabila yang merasa didiskriminasikan adalah Termohon, maka Termohon dapat meminta pembatalan perkawinan antara Pemohon dengan calon istri kedua Pemohon di pengadilan dengan mengemukakan alasan-alasan dan bukti-bukti yang kuat guna meneguhkan dalil gugatannya.

Berdasarkan hasil penelitian kasus diatas, sebelum dilakukannya izin poligami oleh Pemohon ke Pengadilan Agama Denpasar telah adanya melakukan pernikahan siridan hubungan zina antara Pemohon dengan calon istri keduaPemohon yang menyebabkan calon istri kedua Pemohon ingin dinikahi secara sah. Pemohon bertanggung jawab dengan mengajukan permohonan izin poligami ke Pengadilan Agama Denpasar.

59

Permohonan izin poligami yang diajukan oleh Pemohon ke Pengadilan Agama Denpasar dikabulkan dan putusan Pengadilan Agama Denpasar tersebut menjadi dasar dilakukannya perkawinan antara Pemohon dengan calon istri kedua, dan bila terjadi kehamilan antara pemohon dengan calon istri kedua maka anak yang dikandungnya akan menjadi sah karena dilahirkan dalam perkawinan yang sah. Dengan demikian akibat yang ditimbulkan dari adanya permohonan izin yang dikabulkan oleh pengadilan yaitu sebagai dasar dilakukannya perkawinan antara Pemohon dengan calon istri kedua dan sahnya anak yang akan dilahirkan oleh calon istri kedua.

3.3 Analisis Keputusan Pengadilan Agama Denpasar Nomor

Dokumen terkait