• Tidak ada hasil yang ditemukan

AnalisisKeputusanPengadilan Agama Denpasar Nomor

BAB III KEABSAHAN POLIGAMI DAN AKIBAT HUKUM YANG DITIMBULKAN

3.3. AnalisisKeputusanPengadilan Agama Denpasar Nomor

Permohonan izin poligami merupakan perkara contentius, karena harus ada (diperlukan) persetujuan istri. Hal ini disebabkan karena:33

a. Di dalam perkara permohonan izin poligami ada dua pihak yaitu suami sebagai pihak pemohon dan istri sebagai pihak termohon.

b. Terdapat sengketa di dalamnya yaitu apakah permohonan izin

33Mukti Arto, 2000, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, Pustaka Pelajaran, Yogyakarta, hal. 241.

60

poligami beralasan atau tidak, dilihat dari keadaan istri sebagai termohon apakah istri tidak bisa menjalankan kewajibannya, istri sakit atau tidak dapat memberi keturunan.

c. Di dalam perkara izin poligami diperlukan persetujuan istri.

d. Produk Peradilan Agama harus berupa putusan bukan penetapan, dengan amar mengadili bukan menetapkan dan terhadapnya dapat diajukan upaya hukum banding dan kasasi. 


Setelah dibacakan permohonan pemohon dan ternyata permohonan dipertahankan oleh pemohon serta memenuhi syarat formil permohonan, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan pada tahap jawaban dari pihak termohon. Jawaban termohon dapat berisi eksepsi, jawaban pokok perkara dan rokonpensi. Dalam perkara yang penulis analisis, termohon hanya memberikan jawaban terhadap pokok perkara, tidak ada eksepsi maupun rekonpensi, karena jawaban Termohon pada pokoknya menyetujui permohonan Pemohon, bahwa Termohon menyatakan rela dan tidak keberatan apabila Pemohon menikah lagi dengan calon istri kedua Pemohon tersebut.

Dalam studi kasus Putusan No. 443/Pdt. G/2015/PA.Dps., Termohon telah memberikan jawaban secara lisan sebagai berikut:

a. Bahwa benar Pemohon dan Termohon menikah pada tanggal 5 Agustus 1993, dan telah dikaruniai 3 (Tiga) orang anak bernama:

Windi Ardiyanti, Andi Ico Ardiyansyah, dan Moza Arkarina.

b. Bahwa benar Pemohon akan menikah lagi dengan Tatik Nurhayati

61

binti Jemari, yang beralamat di Jalan Bungtomo Denpasar Barat Kota Denpasar.

c. Bahwa Termohon masih sanggup melayani Pemohon, namun hanya terbatas seminggu dua kali saja karena istri merasa capek.

d. Bahwa Termohon memberikan izin kepada Pemohon untuk menikah lagi (poligami) karena Termohon tidak dapat menjalankan 
kewajibannya sebagai istri.

e. Bahwa Termohon menyatakan rela dan tidak keberatan apabila 
Pemohon menikah lagi dengan calon istri kedua tersebut.


Menurut Penulis, dalam jawaban termohon menyebutkan bahwasannya Termohon masih sanggup melayani Pemohon, walaupun terbatas seminggu dua kali saja, dikarenakan istri capek. Dan di mana posisi Termohon juga membantu bekerja, sedangan Pemohon setiap hari minta dilayani untuk berhubungan badan, sehingga Termohon menyatakan rela untuk dimadu. Seperti yang penulis amati terhadap jawaban Termohon di atas, hal ini menurut penulis bisa menjadi petunjuk adanya unsur keterpaksaan dalam jawaban Termohon, akan tetapi majelis hakim tidak mengoreknya di dalam pemeriksaan perkara.

Jawaban Termohon tersebut diajukan secara lisan dan dilanjutkan dengan tanggapan dari pihak pemohon atau yang disebut replik dan selanjutnya tanggapan terakhir dari termohon yang disebut duplik. Baik jawaban, replik maupun duplik semua disampaikan secara lisan tidak secara tertulis. Pemeriksaan secara lisan mempunyai kelebihan bahwa

62

pemeriksaan perkara menjadi sederhana dan cepat, akan tetapi majelis Hakim harus cermat dan hati-hati dalam pemeriksaannya agar diperoleh fakta perkara yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya seperti dalam perkara No.443/Pdt.G/2015/PA.Dps.

Pembuktian hanya diperlukan sepanjang mengenai hal-hal yang dibantah atau hal yang masih dipersengketakan, atau hanya sepanjang yang menjadi perselisihan di antara pihak-pihak yang berperkara menurut Yahya Harahap.34Dalam putusan nomor: 443/Pdt.G/2015/PA.Dps tidak disebutkan beban pembuktian, seperti halnya penjelasan dari pasal 163 HIR, bahwa untuk meneguhkan dalil-dalil Permohonan, Pemohon telah mengajukan bukti-bukti surat berupa:

14. Fotokopi Duplikat Kutipan Akte Nikah dari KUA Kecamatan Gambiran kabupaten Banyuwangi atas nama Purwadi dan Sumilih (P.1).

15. Fotokopi Kartu Ijin Tinggal Penduduk atas nama Purwadi (P.2).

16. Fotokopi Kartu Ijin Tinggal atas nama Sumilih (P.3).

17. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atas nama Titik Nurhayati (P.4).

18. Fotokopi Akte Cerai atas nama Tatik Nurhayati dan Mamik Triono (P.5).

19. Surat keterangan penghasilan atas nama Purwadi (P.6).

34M. Yahya Harahap, 2008, Hukum Acara Perdata,Cet. ke-7, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 511.

63

20. Surat pernyataan jaminan berlaku adil terhadap istri yang dibuat oleh Purwadi (P.7)

21. Surat pernyataan bersedia dimadu yang dibuat oleh Sumilih (P.8) 22. Surat pernyataan bersedia menjadi istri kedua yang dibuat oleh

Tatik Nurhayati (P.9)

23. Fotokopi SPTT Pajak Bumi dan Bangunan Tanah atas Purwadi (P.10)

24. Fotokopi STNK Mobil Suzuki Minibus atas nama Ni Jero Samiarsa (P.11)

25. Fotokopi STNK Sepeda Motor Suzuki atas nama Sutaji (P.12) 26. Fotokopi STNK Sepeda Motor Honda atas nama Suryati (P.13)

Disamping itu untuk meneguhkan dalil-dalil permohonan,bahwa Pemohon juga telah mengajukan dua orang saksi yang memberikan keterangan sebagai penguat dalam pembuktian Pemohon di depan persidangan. Menurut Penulis kedudukan seorang saksi benar-benar mengetahui secara pasti mengenai alasan yang di ajukan oleh Pemohon yaitu mengenai ketidakpuasan Pemohon dalam berhubungan biologis dengan Termohon karena seperti yang kita ketahui hal tersebut merupakan privat bagi sebagian hubungan seseorang, sedang syarat maeriil saksi ialah:


a. Menerangkan apa yang dilihat, ia dengar dan ia alami sendiri (pasal 171 HIR/308 RBg).

b. Bukan merupakan pendapat atau kesimpulan saksi sendiri (pasal

64

171 (2) HIR/pasal 308 (2) RBg). 35

Putusan Nomor: 443/Pdt.G/2015/PA.Dps. yang mana diucapkan oleh Ketua Majelis dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga dengan dihadiri Hakim anggota tersebut dan dihadiri pula oleh Pemohon dan Termohon, dan merupakan perkara contensius yang harus diselesaikan dengan putusan Pengadilan, sehingga Hakim memutuskan bahwasannnya mengabulkan Permohonan Pemohon untuk memberikan izin Poligami dengan alasan Istri tidak dapat menjalankan kewajiban (hubungan biologis), dengan dasar hukum Pasal 4 ayat (2) huruf a Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 41 huruf (a) dan (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 57 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam.

sehubungan dengan perkara izin poligami ini, bahwa hakim memberikan putusan dikabulkannya permohonan tersebut dikarenakan majelis hakim menganut asas kebebasan yaitu hakim dalam memberikan putusan terhadap para pihak yang sedang berperkara harus berdasarkan keyakinan dan tidak boleh terpengaruh oleh pihak lain,selain itu majelis hakim sudah menganggap barang bukti cukup dan adanya pernyataan dari istri pertama bahwa rela dan tidak keberatan di poligami.

35Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, op.cit hal.166.

65 BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis paparkan dalam bab-bab sebelumnya untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam rumusan masalah pada skripsi ini, maka penulis dapat mengambil simpulan sebagai berikut:


1. Pertimbangan hakim dalam memutus perkara permohonan izin poligami karena alasan telah melakukan nikah sirih dengan istrinya yang kedua secara hukum formal menurut KHI dan UUP belum memenuhi persyaratan normatif. Sedangkan dalam putusan permohonan izin poligami Nomor: 443/Pdt.G/2015/PA.Dps dimana Majelis Hakim mengabulkan permohonan Pemohon dengan mempertimbangkan untuk kemaslahatan umat (Kemaslahatan dalam arti hukum Islam pada dasarnya hendak mewujudkan kebaikan hidup yang hakiki bagi manusia, baik secara individual maupun sosial) dan menghindari kemudharatan ( Semua tindakan yang merugikan bagi diri sendiri atau orang lain).

2. Akibat hukum yang ditimbulkan dari permohonan izin poligami yang dikabulkan yaitu Pemohon dengan calon istri kedua dapat melakukan perkawinan di KUA dimana putusan pengadilan tentang permohonan izin poligami dikabulkan dan izin poligami sebagai bukti otentik

66

sebagai syarat perkawinan ke dua serta anak yang akan dilahirkan nanti menjadi anak yang sah.

4.2 Saran-Saran

1. Bagi para hakim hendaknya lebih memperhatikan kemaslahatan di dalam menegakkan hukum bisa dengan memperhatikan hukum atau peraturan yang hidup di masyarakat sebagai bahan ijtihad dan lebih menekankan beratnya tanggung jawab dari Pemohon terhadap istri-istri dan anak-anaknya kepada Pemohon sendiri atau orang lain yang akan mengajukan izinkan poligami.

2. Bagimasyarakat yang hendak melakukan poligami hendaknya mempelajari dahulu syarat-syarat serta akibat hukum dari poligami agar sesuai dengan tujuan dan cita-cita secara Islami dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

67

DAFTAR BACAAN

Amir Syariffuddin,2002, Hukum Perkawinan Islam Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta.

Bibit Suprapto, 1999, Liku-Liku Poligami, Cetakan 1, Pustaka al-Kautsar, Yogyakarta.

Djamaan Nur, 1993, Fikih Munakahat, Dina Utama Semarang, Bengkulu.

H.M Anshary MK, 2010, Hukum Perkawinan Di Indonesia Masalah-Masalah Krusial, Pustaka Pelajar, Cetakan I, Yogyakarta.

H.M Ridhwan Indera, 1994, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Cetakan Pertama, CV Haji Mas Agung, Jakarta.

Huzaemah Tahido Yanggo, 2010, Fikh Perempuan Kontemporer, Ghalia Indonesia.

Masyfuk Zuhdi, 1988, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, Cetakan 1, PT. Gita Karya, Jakarta.

Mohammad Daud Ali, 2002, Hukum Islam dan Peradilan Agama, PT.Raja Grafindo Persada, Cetakan 2, Jakarta.

Mohd. Idris Ramulyo, 2004, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Akasara, Jakarta.

Muhammad Amin Suma, 2004, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, PT Raja Grafindo,Jakarta.

Mukti Arto, 2000, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, Pustaka Pelajaran, Yogyakarta

Muhammad Haitsam Al-khayyath, 2007, Problematika Muslimah di Era Modern, Erlangga.

M. Quraish Shihab, 2000, Tafsir al-Misbah, Lentera Insani, Jakarta.

M. Yahya Harahap, 2008, Hukum Acara Perdata, Cet. ke-7, Sinar Grafika, Jakarta.

Rochayah Machali, 2005, Wacana Poligami di Indonesia, Mizan Pustaka, Bandung.

Soemiyati, 1982, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Liberty, Yogyakarta.

68

Trusto Subekti, 2009, Hukum Keluarga dan Perkawinan, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Triwulan Tutik, Titik, dan Trianto, 2007, Poligami Persfektif Perikatan Nikah, Prestasi Pustaka, Jakarta.

W.J.S. Poerwadarminto, 1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Yahya, Harahap, 1978, Hukum Perkawinan Indonesia, CV Tahir Trading Co, Medan.

PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

69

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : AF.MAFTUKHIN

Alamat : Jl. Cokroaminoto, Gang Katalia I Ubung No. Telepon : 085255555949

Jabatan : Hakim Pengadilan Agama Denpasar

Dokumen terkait