• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN

E. Akibat Dari Suatu Perceraian

Perceraian adalah peristiwa hukum yang akibatnya diatur oleh hukum, atau peristiwa hukum yang diberi akibat hukum. Perceraian menimbulkan akibat hukum putusnya perkawinan. Selain itu, ada beberapa akibat hukum lebih lanjut dari perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 41 UU No. 1 tahun 1974, sebagai berikut.

1. Baik bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak- anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak,pengadilan memberi keputusannya.

2. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

28

3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.29

Karena terjadi perceraian, ada tiga akibat yang perlu diperhatikan,yaitu akibat terhadap anak dan istri, terhadap harta perkawinan, dan terhadap status. Ketiga macam akibat perkawinan putus karena perceraian tersebut dibahas dalam uraian berikut ini.

Akibat terhadap anak dan istri

Menurut ketentuan Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan, ada tiga hal yang perlu dipatuhi sebagai akibat perkawinan putus karena perceraian.Tiga hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pertama

Bapak dan ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya mereka semata-mata untuk kepentingan anak. Apabila ada perselisihan tentang penguasaan anak,pengadilan putusannya.

b. Kedua

Bapak bertanggung jawab atas smua biaya pemeliharaan dan pendidikn yang diperlukan anak.Apabila bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menetapkan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

29

c. Ketiga

Pengadilan dapat mewajibkan kepada mantan suami untuk memberikan biaya penghidupan kepada mantan istri dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi mantan istri.30

Untuk harta bawaan dan harta perolehan tidak menimbulkan masalah karena harta tersebut tetap dikuasai dan adalah hak masing-masing pihak.Apabila terjadi penyatuan harta karena perjanjian, penyelesaiannya juga disesuaikan dengan ketentuan perjanjian dan kepatutan.

Akan tetapi, mengenai harta bersama, mungkin akan timbul

persoalan.Menurut ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan, apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut ”hukumnya” masing-masing.Yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing adalah hukum agama, hukum adat, dan hukum-hukum lain, seperti KUH Perdata.Dengan demikian, penyelesaian harta bersama adalah bagi mereka yang kawin menurut hukum Islam,hukum Islam tidak mengenal harta bersama karena istri diberi nafkah oleh suami. Yang ada harta milik masing-masing suami dan istri.Harta ini adalah hak mereka masing-masing.

Masalah yang timbul adalah bagaimana cara menyelesaikan harta bersama yang diperoleh selama perkawinan bagi mereka yang tidak tunduk pada hukum adat dan KUH Perdata, sedangkan hukum agama tidak mengenal harta bersama?hal ini belum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

30

Jika terjadi sengketa tentang penyelesaian harta bersama,sengketa tersebut dapat diajukan kepada pengadilan yang berwanang walaupun bagi mereka yang beragama Islam.

Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 berbunyi: Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Ketentuan ini sama bunyinya dengan penjelasan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.31

Ternyata, Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan belum memberikan penyelesaian tuntas megenai harta bersama dalam hal terjadi perceraian, malahan masih menghidupkan dualisme hukum. Padahal, hukum adat sudah dan separuh lagi bagi mantan istri. Demikian juga KUH Perdata memberikan penyelesaian bahwa harta bersama dibagi dua antara suami dan istri.

Sebaikya Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan dirumuskan:

”Apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama dibagi dua, separuh bagi mantansuami separuh bagi mantan istri.Rumusan ini sesuai dengan asas hak dan kedudukan seimbang antara suami istri.”

Memperhatikan substansi Pasal 41 UU No. 1 Tahun 1974 tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa perceraian mempunyai akibat hukum terhadap anak, dan mantan suami/istri.Selain itu, perceraian juga mempunyai akibat hukum terhadap harta bersama sebagaimana diatur dalam Pasal 37 UU No. 1 Tahun 1974 yang memuat ketentuan bahwa akibat hukum terhadap harta bersama diatur menurut

31

hukum agama, hukum adat atau hukum yang lain. Jika dicermati esensi dari akibat- akibat hukum perceraian yang diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 adalah mengakui dan melindungi hak-hak anak dan hak-hak mantan suami/istri sebagai hak-hak asasi manusia.

Pasal 8 PP No. 10 tahun 1983 menyatakan:

1) Apabila percerian terjadi atas kehendak Pegawai Negeri Sipil pria maka ia wajib menyerahkan sebagian gajinya untuk menghidupkan bekas istri dan anak-anaknya.

2) Pembagian gaji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ialah sepertiga untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan sepertiga untuk anak atau anak- anaknya.

3) Apabila dari perkawinan tersebut tidak ada anak, maka bagian gaji yang wajib diserahkan oleh Pegawai Negeri Sipil pria kepada bekas istrinya ialah setengah dari gajinya.

4) Apabila perceraian terjadi atas kehendak istri , maka ia tidak berhak atas bagian penghasilan dari bekas suaminya.

5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) tidak berlaku, apabila istri meminta cerai karena dimadu.

6) Apabila bekas istri Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan kawin lagi, maka haknya atas bagian gaji dari bekas suaminya menjadi hapus terhitung mulai ia kawin lagi.32

32

Riduan Syahrani , Op.cit, hal. 71

Ketentuan Pasal 8 PP No. 10 Tahun 1983 ini dalam surat Edaran Kepala BAKN No. 08/SE/1983 dijabarkan pada bagian III (PERCERAIAN) angka 19 s/d 28 sebagai berikut:

Apabila perceraian terjadi atas kehendak Pegawai Negeri Sipil pria, maka ia wajib menyerahkan sebagian gajinya untuk penghidupan bekas istri dan anak- anaknya, dengan ketentuan sebagai berikut:

a) Apabila anak mengikuti bekas istri, maka pembagian gaji ditetapkan sebagai berikut:

(1) Sepertiga gaji untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan (2) Sepertiga gaji untuk bekas istrinya

(3) Sepertiga untuk anaknya yang diterimakan kepada Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan.

b) Apabila perkawinan tidak menghasilkan anak, maka gaji dibagi dua, yaitu setengah untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan dan setengah untuk bekas istrinya.

c) Apabila anak mengikuti Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan, maka pembagian gaji ditetapkan sebagai berikut:

(1) Sepertiga gaji untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan. (2) Sepertiga gaji untuk bekas istrinya.

(3) Sepertiga gaji untuk anaknya yang diterimakan kepada Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan.

d) Apabila sebagian anak mengikuti Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dan sebagian lagi mengikuti bekas istri, maka 1/3 (sepertiga) gaji yang menjadi hak anak itu dibagi menurut jumlah anak.

Umpamanya: Seorang Pegawai Negeri Sipil bercerai dengan istrinya. Pada waktu perceraian terjadi mereka mempunyai 3 (tiga) orang anak, yang seorang mengikuti Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dan yang 2 (dua) orang mengikuti bekas istri. Dalam hal yang demikian, maka bagian gaji yang menjadi hak anak itu dibagi sebagai berikut:

(1) 1/3 (sepertiga) dari 1/3 (sepertiga) gaji = 1/9 (sepersembilan) gaji diterimakan kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.

(2) 2/3 (duapertiga) dari 1/3 (sepertiga) gaji = 2/9 (sepersembilan) gaji diterimakan bekas istrinya.33

Perceraian mempunyai akibat hukum yang luas,baik dalam lapangan hukum keluarga maupun dalam hukum kebendaan serta hukum perjanjian.Akibat pokok dari perceraian adalah bahwa bekas suami dan bekas isteri,kemudian hidup sendiri-sendiri secara terpisah.

1) Janda dan Duda

Janda (bekas isteri) tidak dapat segera kawin kembali dengan pria lain,kecuali bekas suaminya, sebelum habis masa tunggu selama 3 (tiga) bulan suci (iddah), yaitu sekurang-kurangya setelah 90 hari setelah bercerai.Apabila janda itu sedang dalam keadaan hamil, maka waktu tunggu itu ditetapkan sampai ia melahirkan anaknya.

33

Sedangkan seorang duda (bekas suami) tidak ada waktu tunggu. Apabila ada perceraian, maka bapak atau ibu adalah wali dari anak-anak di bawah umur 18 tahun tersebut.Siapa yang menjadi wali dari masing-masing anak ditetapkan oleh hakim.

2) Pemeliharaan Anak

Kewajiban memelihara dan mendidik anak tidak sama dengan kewajiban menjadi seorang wali dari anak-anak34

Baik bekas suami maupun bekas isteri berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya berdasarkan kepentingan anak.Suami dan isteri bersama bertanggung jawab atas segala biaya pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya.

Apabila suami tidak mampu, maka pengadila dapat menetapkan bahwa ibu yang memikul biaya anak-anaknya.

Sedangkan terhadap perwalian anak-anak, apakah wali itu jatuh pada suami atau isteri tersebut ditetapkan oleh hakim. Perwalian tidak bersifat abadi. Jika pihak yang menerima perwalian dalam pengasuhan anaknya, atau melalaikan kewajiban sebagai wali, maka perwalian dapat dicabut oleh hakim dan digantikan kepada pihak lainnya.

Perwalian atau voogdy ialah pengawasan terhadap pribadi dan pengurusan harta benda anak yang belum dewasa,jika anak tersebut tidak berada di bawah kekuasaan orang tuanya.

34

3) Harta Benda Bersama

Harta benda bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung disebut gono-gini, harus dibagi dua antara suami dan isteri,apabila mereka bercerai.

Harta bawaan atau harta asal dari suami atau isteri tetap berada di tangan pihak masing-masing. Apabila bekas suami atau bekas isteri tidak melaksanakan hal di atas, maka mereka dapat digugat melalui pengadilan negeri ditempat kediaman tergugat, agar hal tersebut dapat dilaksanakan.35

35

Dokumen terkait