BAB III DERAJAT KESEHATAN
IV.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
1. Jaminan Kesehatan Pra Bayar
A. Jaminan Kesehatan Nasional
Kesehatan adalah hak dasar setiap orang, dan semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. UUD 1945 mengamanatkan bahwa jaminan kesehatan bagi masyarakat, khususnya yang miskin dan tidak mampu, adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Pada UUD 1945 Perubahan, Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pemerintah menjalankan UUD 1945 tersebut dengan
mengeluarkan UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) untuk memberikan jaminan sosial menyeluruh bagi setiap orang dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil,
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 71 dan makmur. Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004, SJSN diselenggarakan dengan mekanisme Asuransi Sosial dimana setiap peserta wajib membayar iuran guna memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau anggota keluarganya. Dalam SJSN, terdapat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan bentuk komitmen pemerintah terhadap pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Sebelum JKN, pemerintah telah berupaya merintis beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, antara lain Askes Sosial bagi pegawai negeri sipil (PNS), penerima pensiun dan veteran, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek bagi pegawai BUMN dan swasta, serta Jaminan Kesehatan bagi TNI dan Polri. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, sejak tahun 2005 Kementerian Kesehatan telah melaksanakan program jaminan kesehatan sosial, yang awalnya dikenal dengan nama program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (JPKMM), atau lebih populer dengan nama program Askeskin (Asuransi Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin). Kemudian sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2013, program ini berubah nama menjadi program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Seiring dengan dimulainya JKN per 1 Januari 2014, semua program jaminan kesehatan yang telah dilaksanakan pemerintah tersebut (Askes PNS, JPK Jamsostek, TNI, Polri, dan Jamkesmas), diintegrasikan ke dalam satu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Sama halnya dengan program Jamkesmas, pemerintah bertanggungjawab untuk membayarkan iuran JKN bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Kepesertaan program JKN terdiri dari PBI APBN, PBI APBD, Pekerja Penerima upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)/Mandiri
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 72 dan Bukan Pekerja (BP). Di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 kepesertaan Program JKN terdiri dari PBI APBN sebanyak 552.697 orang, PBI APBD tidak ada, Pekerja Penerima Upah (PPU) sebanyak 27.969 orang, Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)/mandiri sebanyak 26.219 orang dan Bukan Pekerja (BP) sebanyak 22.833 orang, lebih jelas dapat dilihat pada diagram dibawah ini :
B. Jaminan Kesehatan Daerah
Lahirnya SJSN melalui penetapan UU No. 40 tahun 2004, memberi peluang bagi pemerintah mempunyai dasar menolong masyarakat miskin di bidang kesehatan melalui asuransi. Atas dasar itu lahirlah Jaminan Kesehatan Masyarakat dan sesuai Kepmenkes No. 125/Menkes/SK/II/2008 diterbitkannya Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat. Selanjutnya lahirlah Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) berdasarkan persetujuan judicial review atas UU No. 40 tahun 2004 pasal 5 dari Mahkamah Konstitusi atau MK. Disetujuinya judicial review oleh MK, menjadikan seluruh pemerintah daerah di Indonesia menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
PBI APBN 552.697 88% PPU 27.969 4% PBPU / Mandiri 26.219 4% BP 22.833 4%
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 73 Program Jamkesda adalah program jaminan kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk menjamin masyarakat miskin yang belum menjadi peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jamkesda di Provinsi Jawa Timur dilaksanakan berdasarkan Peraturan Gubernur No. 4 tahun 2009 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Daerah dan Peraturan Gubernur Nomor 45 tahun 2011 tentang Pejabat Pengelola Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Daerah (BPJKD) Provinsi Jawa Timur.
Mulai Tahun 2012 Jamkesda menjadi program unggulan Gubernur Jawa Timur, sehingga menjadi kewajiban bagi kabupaten/kota untuk melaksanakan. Dana Jamkesda dianggarkan secara sharing antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang merupakan pelayanan kesehatan yang dijamin untuk masyarakat miskin non kuota meliputi rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas dan jaringannya. Dasar penganggaran secara sharing tersebut tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama antara Gubernur Jawa Timur dengan Bupati se Propinsi Jawa Timur tentang Pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang selalu diperbaharui setiap tahunnya.
Penerapan Jamkesda di Kabupaten Banyuwangi berlandaskan pada Perjanjian Kerja Sama antara Gubernur Jawa Timur dengan Bupati Banyuwangi Nomor : 120.1/10/012/2012 dan Nomor :
440/01/429.114/2012 tentang Pembiayaan Program Jaminan
Kesehatan Daerah (Jamkesda) serta Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Daerah dan Pelayanan Kesehatan Melalui Mekanisme Surat Pernyataan Miskin (SPM) beserta perubahannya. Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 38 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jamkesda dan Pelayanan Kesehatan Melalui
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 74 Mekanisme Surat Pernyataan Miskin (SPM) tersebut bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayaanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin non kuota Jamkesmas dan Jamkesda sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien.
Pada tahun 2014, pelaksanaan program Jamkesda di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan pada Perjanjian Kerja Sama antara Gubernur Jawa Timur dengan Bupati Banyuwangi Nomor : 120.1/80/012/2014 dan Nomor : 188/175/429.012/2014 tentang Pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), dengan jumlah kepesertaan Jamkesda di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 30.601 orang dengan perincian sebagaimana bisa dilihat pada diagram dibawah ini :
2. Upaya Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan dasar yang ada di Kabupaten Banyuwangi meliputi pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap. Pelayanan kesehatan tersebut bisa dididapatkan di puskesmas, BP (Balai Pengobatan), RB (Rumah Bersalin), klinik dan BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak). Untuk masyarakat yang mengalami gangguan jiwa dilayani di puskesmas Licin (yang telah menglami penggabungan dengan Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik Ketergantungan Obat pada Juli 2014) .
LAKI - LAKI 15.239 49,80 % PEREMPUAN 15.362 50,20 %
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 75 Tabel 54 menunjukkan jumlah kunjungan rawat jalan di puskesmas pada tahun 2014 adalah laki-laki 521.265 dan perempuan 775.272. Jumlah kunjungan Rawat Inap di puskesmas pada tahun 2014 adalah laki-laki 6.635 dan perempuan 7.271. Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 13 RS, sedangkan yang aktif memberikan ada 12 RS dengan jumlah kunjungan Rawat Jalan pada tahun 2014 adalah laki-laki 150.879 dan perempuan 194.175 dan kunjungan Rawat Inap tahun 2014 adalah laki-laki 22.821 dan perempuan 27.897. Jumlah kunjungan Rawat Jalan BP, RB, klinik dan BKIA tahun 2014 adalah laki-laki 10.482 dan perempuan 25.065. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas pada tahun 2014 adalah laki-laki 8.675 dan perempuan 7.885.
3. Pelayanan Kesehatan Rujukan (RS)
Bila masyarakat mengalami gangguan kesehatan berat dan penanganan penyakit tersebut di luar kemampuan puskesmas, maka dilakukan rujukan ke Rumah Sakit. Rumah Sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan kegiatan kuratif, rehabilitatif dan sekaligus berfungsi sebagai pelayanan kesehatan rujukan.
Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di Kabupaten Banyuwangi tahun 2014 sebanyak 13 Rumah Sakit dengan rincian Rumah Sakit umum pemerintah 2 buah, Rumah Sakit umum swasta 7 buah, Rumah Sakit Khusus 4 (tabel 70). Adapun rasio Rumah Sakit terhadap penduduk 1:121.581 artinya satu fasilitas pelayanan kesehatan rujukan melayani 121.581 jiwa penduduk.
IV.3. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT
PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan.
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 76 Jumlah PHBS yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pun sangat banyak, bahkan bisa mencapai ratusan. Misalnya tentang mengkonsumsi multi vitamin, istirahat yang cukup, membuang sampah pada tempatnya, hingga mampu mengendalikan emosi diri. Sedangkan yang akan dibahas disini adalah PHBS dalam lingkungan rumah tangga. PHBS rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga, agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
Terdapat 10 indikator PHBS di dalam rumah tangga, yakni :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi bayi ASI Eksklusif
3. Menimbang Balita setiap bulan
4. Menggunakan Air Bersih
5. Mencuci tangan pakai.
6. Gunakan Jamban Sehat
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10.Tidak merokok di dalam rumah
Berdasarkan hasil survei PHBS dengan menggunakan kartu kesehatan keluarga dari sampel keluarga yang disurvei sejumlah 141.557 KK didapatkan keluarga yang ber-PHBS sejumlah 60.021 ((42,4 %). Sedangkan Target keluarga ber-PHBS pada tahun 2014 adalah 70 % dari keluarga yang di survei. Permasalahan yang muncul antara lain masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak merokok di dalam rumah, asi ekslusif dan tidak menggunakan jamban sehat.
Profil Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014 77