I. PENDAHULUAN
2.8. Akses Masyarakat terhadap Sumber-Sumber Ekonomi
Menurut Hernando de Soto, kunci keberhasilan dalam proses pemberdayaan masyarakat adalah akses terhadap sumber-sumber ekonomi.
Ketika ekonomi Peru porak-poranda pada tahun 1993, de Soto mendesak pemerintah Peru untuk mengubah konsepsi pemberdayaan ekonomi
masyarakat dengan membuka akses yang lebih besar pada kelompok ekonomi
Krisis global yang terjadi tahun 1997 telah membuktikan, bahwa sektor
usaha formal (konglomerasi) yang ketika itu menyumbangkan 80 persen
Pendapatan Domestik Bruto (PDB), ternyata mati-suri, padahal jumlah
mereka hanya 0.2 persen dari total pelaku ekonomi. Tetapi sebaliknya, aktivitas
ekonomi skala mikro (sektor informal) relatif tetap berjalan. Ternyata, sektor
informal merupakan katup penyelamat bagi kekuatan ekonomi Indonesia
(Darusman, 2001). Menurut Sujiro Urata (JICA), pada tahun 2000 sektor informal mampu menyerap 99.6 persen tenaga kerja RI. Namun disayangkan,
bahwa sektor ini kurang mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari
Pemerintah, karena Pemerintah lebih kuat berpihak kepada sektor usaha besar.
Kekurangan di sektor informal adalah : kegiatan masih dikelola dengan
manajemen tradisional, kurang dukungan aspek legalitas, dan tidak
menerapkan pembukuan yang rapi dan akurat. Padahal ekonomi rakyat tetap
selamat meskipun krisis multi-dimensional merubuhkan sendi-sendi ekonomi
moderen (Mubyarto, 2005).
Realitas di atas bertolakbelakang dengan teori penyelamatan ekonomi
negara yang ditawarkan oleh Hernando de Soto dan peraih Nobel asal India, Amartya Sen. Menurut keduanya, ekonomi negara akan kokoh apabila dibuka akses yang luas terhadap sumber-sumber ekonomi nasional. Seperti halnya
Negara Berkembang lain, aset-aset tanah misalnya, belum secara optimal
didayagunakan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Aset-aset tersebut masih
menjadi ”aset tidur”.
Menurut Winoto (Tempo, 27 Agustus 2006), tesis Hernando de Soto dan Amartya Sen masih sangat relevan dengan upaya pemberdayaan ekonomi
masyarakat di Indonesia. Asumsi dasar yang dikemukakan oleh kedua
ekonom tersebut relatif sama dengan fakta yang ada di Indonesia. Fakta
mengenai status pemanfaatan tanah yang ada di Indonesia, dari 80 juta hektar
bidang tanah yang ada di Indonesia, baru 30 persen-nya yang memiliki
status hak atas tanah. Menurut UUPA, hak menguasai tanah oleh negara
dipegang oleh pemerintah pusat (bersifat sentralistis), tetapi setelah amandemen
UUD 1945, berubah menjadi desentralistis (Bakri, 2007).
Selanjutnya dikatakan, bahwa dari 30 persen yang ada haknya, baru 10
persen yang terpetakan. Karena itu 30 persen tanah yang terpetakan status
haknya ditambah 70 persen yang memiliki status haknya merupakan peluang
atau modal untuk pemberdayaan masyarakat, seperti yang dimaksud oleh
Hernando de Soto dan Amartya Sen. Masalah mendasar dalam upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya petani dan pengusaha sektor informal,
adalah penetapan hak-hak atas tanah. Apabila hal ini telah terjadi, maka upaya-
upaya untuk membangkitkan aset tidur untuk pemberdayaan ekonomi rakyat
tentu telah lama dilakukan. Seiring dengan upaya pemenuhan hak-hak dasar
berupa status hak atas tanah tersebut, maka peningkatan kapasitas masyarakat
pun akan terjadi.
Pemerintah telah menetapkan agenda Reforma Agraria yang akan
mengatur masalah pendistribusian tanah, sekaligus dibarengi dengan
pemberdayaan masyarakat yang memiliki hak-hak atas tanah tersebut. Proses
distribusi seperti ini tidak hanya dilakukan kepada para petani yang ada di
Reforma Agraria bukan sekedar redistribusi tanah, tetapi merupakan upaya
menata kembali struktur agraria secara menyeluruh ke arah yang lebih
memastikan terwujudnya keadaan agraria bagi petani atau pengusaha skala kecil.
Program ini bertujuan memberdayakan petani dengan mewujudkan akses
terhadap lapangan kerja, yang dijamin dengan akses terhadap modal dan pasar
produksi (Sumardjono, 2006 dan Silalahi, 2006).
Selanjutnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan
meningkatkan produktivitas masyarakat melalui terbukanya peluang kerja dan
peluang usaha.Program pembukaan peluang usaha masyarakat di bidang
kehutanan (access-reform) sudah banyak dilakukan yang disebut sebagai bentuk kegiatan ”pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan”. Bentuk-bentuk kegiatan tersebut diantaranya adalah :
a. Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PMDH), yaitu kegiatan pembinaan masyarakat desa hutan yang dilakukan oleh Pemegang HPH atau
HPHTI sebagai kewajiban pembinaan sosial.
b. Pemanfaatan Lahan melalui Tumpangsari, yaitu memberikan peluang usaha kepada masyarakat (pesanggem) untuk memanfaatkan lahan diantara tanaman-pokok dengan menanam tanaman semusim yang
bermanfaat bagi masyarakat.
c. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Perum Perhutani, yaitu suatu ”Sistem pengelolaan hutan yang dilakukan bersama oleh Perum Perhutani dan Masyarakat Desa atau Perum Perhutani dan Masyarakat Desa Hutan dengan Pihak lain yang berkepentingan, dilandasi jiwa-berbagi,
sehingga kepentingan bersama untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat hutan dapat diwujudkan secara optimal dan proporsional”.
d. Hutan Kemasyarakatan (HKM), yaitu pengelolaan Hutan Produksi maupun Hutan Lindung yang sedang tidak dikonsesikan kepada
Pemegang HPH atau HTI.
e. Hutan Tanaman Rakyat (HTR), yaitu hutan tanaman oleh rakyat di dalam kawasan hutan (Hutan Produksi) sebagai bagian dari program
revitalisasi sektor kehutanan.
f. Hutan Desa, yaitu hutan di luar kawasan hutan yang dikelola secara komunal oleh masyarakat desa sebagai aset desa.
g. Hutan Adat, yaitu hutan yang keberadaannya diakui sebagai hutan milik masyarakat adat.
h. Hutan Rakyat, yaitu hutan yang dibangun di atas hutan tanah milik, bisa dikelola oleh kelompok (Koperasi) atau individu.
Apabila digambarkan secara skematik, maka bentuk-bentuk
”pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan” dalam konteks hak dan akses masyarakat dalam pengelolaan hutan dapat
digambarkan sebagaimana yang dijelaskan pada Gambar 9.
Revitalisasi sektor kehutanan perlu dipercepat untuk : (1) meningkatkan
kontribusi kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, (2) mengurangi
pengangguran dan kemiskinan masyarakat sekitar hutan (pro-growth, pro-job, pro-poor).
Kebijakan pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) misalnya,
Gambar 9. Skema Hak dan Akses Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat (Sumber : Departemen Kehutanan, 2006)
a. Membuka akses legal, yaitu memberikan ijin (use-right) kepada masyarakat (perorangan maupun koperasi) untuk mengelola Hutan Tanaman Rakyat di
dalam kawasan hutan, paling lama seratus tahun.
b. Membuka akses ke lembaga keuangan/pembiayaan, yaitu terbentuknya lembaga pembiayaan berupa Badan Layanan Umum Badan Pembiayaan
Pembangunan Hutan (BLU-BP2H).
Masyarakat
Hutan
Optimalisasi Interelasi Hutan dan Masyarakat Akses Manfaat Perhutanan Sosial Maks. Min.
PMDH Tumpang PHBM Hutan Hutan Hutan Hutan Hutan Sari Perhutani Kemasyarakatan Tanaman Desa Adat Rakyat Rakyat
c. Membuka akses pasar, yaitu pengaturan harga berupa penetapan Dasar penjualan kayu Hutan Tanaman Rakyat dan kebijakan ekspor.