• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

5.1.4. Aksi Pendudukan Lahan

Serikat Petani Indonesia memiliki keyakinan bahwa walaupun bukan bentuk seutuhnya dari pembaharuan agrarian yang dicita-citakankan SPI sesuai dengan UUD 1945 dan Undang-Undang Pokok Agraria, akan tetapi cara-cara yang efektif untuk segera mewujudkan pembaruan agraria adalah dengan melakukan aksi-aksi langsung pendudukan lahan oleh petani. Dengan tidak dijalankannya UUPA dan konflik agraria yang beralarut-larut, menjadi alasan mendasar bahwa perjuangan yang tepat bagi petani adalah melaksanakan land reform by laverage. Kemenangan petani atas penguasaan lahan hanya dapat dilakukan melalui aksi-aksi langsung pendudukan lahan. Dalam Garis-Garis Besar Organisasi (GBHO) SPI yang ditetapkan pada Kongres III, dinyatakan bahwa perjuangan pembaruan agraria harus diarahkan pada : (Dokumen Kongres III Serikat Petani Indonesia, 2007: 108)

“Memfokuskan pada redistribusi sumber agraria—terutama tanah, air dan benih—kepada petani tak bertanah, petani kecil, komunitas adat lokal dan kaum perempuan disertai dengan kepastian haknya. Perjuangan pembaruan agraria dalam hal ini organisasi secara aktif merebut kekayaan alam tersebut, menguasai, mengolah, memiliki, dan memanfaatkan hasilnya bagi kemaslahatan rakyat sebagai bentuk pelaksanaan fungsi sosial sumber-sumber agraria. Untuk itu pada

periode ini diharapkan program nasional perjuangan agraria diharapkan telah berhasil menguasai minimal 200.000 ha tanah.”

Perjuangan pembaruan agraria dengan memilih cara land reform by laverage, yaitu pelaksanaan land reform atas prakarsa dan kekuatan rakyat sendiri, tidak menunggu belas kasihan dari pemerintah, yang bermakna bahwa perjuangan agraria yang dilakukan didasarkan atas kekuatan massa petani, bukan menunggu datangnya proses Top Down dan kebijakan pemerintah yang berkuasa. Land reform by laverage dilakukan dengan cara mempraktikkan langsung perjuangan agraria di lapangan. Petani-petani anggota SPI memobilisasi diri untuk menduduki lahan dan mengklaim kembali tanah yang selama ini dirampas pihak lawan. Melalui aksi-aksi langsung pendudukan tanah, yang dikenal dengan aksi ‘reclaiming’, memaksa pemerintah untuk merespon tuntutan petani atau bernegosiasi dengan pihak lawan untuk mengembalikan tanah yang menjadi hak-hak petani. Meski kerap mengalami kriminalisasi dan penangkapan atas aksi-aksi reclaiming lahan yang dijalankan, SPI menyatakan bahwa tindakan tersebut legal dan memiliki payung hukum. Sebelum melakukan reclaiming dengan menduduki lahan, SPI mengumpulkan bukti-bukti bahwa lahan tersebut telah dirampas dari petani. Bukti yang dikumpulkan tidak sebatas bukti formal, karena dalam banyak kasus bukti-bukti formal surat kepemilikan tanah turut dirampas dan dimusnahkan. Bukti sejarah dan pengumpulan fakta-fakta di lapangan, dianggap cukup untuk menjadi dasar pendudukan lahan. Secara hukum, aksi reclaiming yang dilakukan SPI didasarkan pada Hak Konstitusi UUD 1945, UU Pokok Agraria, serta PP Nomor 224 tahun 1961.

Aksi pendudukan lahan untuk merebut kembali tanah yang menjadi hak petani anggota SPI, dilakukan dengan aturan-aturan yang ketat. Terdapat tiga tahapan dalam melakukan aksi perjuangan pembaruan agraria di tingkat basis. Pertama, persiapan pra-reklaiming yang terdiri atas pendidikan massa, penguatan organisasi, pembentukan dan penguatan jaringan, pelatihan ketrampilan serta pengumpulan data. Kedua, aksi reklaiming, yang meliputi aktivitas pendudukan lahan, menggalang opini dan dukungan publik, serta menyampaikan pemberitahuan kepada pemerintah lokal sebelum melakukan aksi pendudukan beserta argumentasi yuridis dan historis (legal opinion). Ketiga, pengelolaan pasca reklaiming, yang mencakup penataan produksi, membangun model alternatif distribusi, melanjutkan perjuangan untuk memperoleh kepastian hukum. (Prinsip Kerja Umum Perjuangan Pembaruan Agraria, Jakarta : SPI, 2008)

Henry Saragih juga menejelaskan bagaimana SPI dalam praktik pendudukan lahan, yaitu:

“Dalam melakukan praktik perjuangan agraria di tingkat lokal tersebut, perjuangan SPI dilakukan dengan prinsip ‘anti kekerasan’. Meskipun pada kenyataannya aksi-aksi reklaiming anggota SPI dihadapkan pada tindakan kekerasan dari pihak lawan, maupun penangkapan dan penahanan oleh kepolisian. Ancaman tersebut merupakan konsekuensi yang sudah diperhitungkan sejak awal, sehingga sudah disiapkan antisipasi untuk menghindari atau menghadapi ancaman-ancaman tersebut. Kemampuan kader dalam hal keterampilan merancang strategi dan bernegosiasi dengan pihak lawan, pihak aparat keamanan maupun pihak pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini.”

Permasalahan utama yang dihadapi oleh SPI Mekar Jaya sejak awal adalah permasalahan lahan yang merupakan alat produksi utama didalam pertanian. Permasalahan lahan yang mereka hadapi, akan membawa focus gerakan SPI Mekar Jaya pada penguasaan kembali lahan yang dianggap sebagai hak masyarakat ataupun petani Mekar Jaya. Seperti bagaimana juga yang disampaikan oleh Jean Ari:

“permasalahan yang paling mendasar bagi mereka adalah permaslahan lahan, karena lahan tanah adalah sumber utama atau alat produksi utama dalam sistem pertanian, ketika itu sudah tidak ada, apa lagi sandaran ekonomi mereka yang lain ketika mereka tidak biasa bekerja, berusaha, dan macam-macam lainnya dan hanya memiliki keahlian bertani. Mau tak mau setelah lahan mereka dikuasai perkebunan, maka proses peralihan ini memang harus mereka hadapi dengan menjadi buruh tani. itulah situasi lokal yang terjadi, jadi dengan kondisi mereka yang gamang karena struktur ekonomi, mau tak mau mereka berbondong-bondong untuk menjadi buruh tani dan menjadi buruh harian lepas dengan dibayar seadanya, dan sebenarnya itu cuma dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja dan itu bisa dikatakan hanya untuk makan saja. Apabila ada permasalahan kesehatan atau biaya pendidikan anak, maka itu akan lebih sulit lagi bagi perekonomian mereka. Nah ini sebenarnya sudah menjadi permasalahan sosial, tidak hanya permasalahan individu-perindividu atau keluarga-perkeluarga, maka hal tersebut akan menjadi permasalahan sosial di wilayah itu.”

Dalam hal pendudukan lahan yang dilakukan oleh anggota SPI di Mekar Jaya tidak lain dari suatu bentuk land reform by laverage, dengan berprinsip bahwa lahan yang seharusnya menjadi hak mereka akan kembali atas prakarsa dan

kekuatan mereka sendiri dan tidak menunggu belas kasihan dari pemerintah. Usaha-usaha reclaiming oleh para anggota SPI Mekar Jaya dijalankan sejak tahun 2003 juga sebagai bentuk proses pengorganisasian masyarakat di SPI Mekar Jaya untuk dapat mengambil alih kembali lahan yang menjadi hak para petani Mekar Jaya agar dapat menjadi alat produksi utama pertanian yang dikelola petani Mekar Jaya. Walaupun dalam prosesnya, masih seringnya terjadi benturan fisik maupun non-fisik antara anggota SPI Mekar Jaya dengan pihak PTPN II, akan tetapi hal ini telah diminimalisir oleh pihak SPI Mekar Jaya karena kebijakan organisasi yang menghimbau setiap anggotanya agar menghindari tindak kekerasan dalam proses reclaiming dan lebih memilih untuk bernegosiasi. Seperti juga apa yang disampaikan oleh Suriono:

“Dengan kesadaran yang kami miliki bahwa tanah kami tidak akan kembali jika hanya menunggu belas kasih pemerintah, ya kami harus berjuang untuk merebutnya kembali karena itu hak kami, karena orang tua kami yang dulu buka lahan disini... karena kami rata-rata disini hanya pandai bertani, ya apa pun ceritanya kami harus dapat menanam ditanah kami sendiri. Ya Alhamdulillah dari tahun 2003 sampai sekarang kami telah berhasil menanam di lahan itu walaupun belum diakui secara hukum... Walaupun memang beberapa kali kami sering terjadi benturan dengan pihak PTPN, tetapi kami tidak akan memulai diluan sebelum mereka yang pancing, ya karena SPI mintanya agar menghindari jalur kekerasan dan lebih memilih untuk bernegosiasi... ya walaupun sampai saat ini masih sering adanya negosiasi seperti kemarin belum lama difasilitasi oleh kecamatan, tapi kalau hampir benturan fisik ya sering juga terjadi.”

Proses pengorganisasian masyarakat SPI Mekar Jaya yang termasuk juga proses pendudukan lahan yang dijalankan oleh SPI mekar Jaya memiliki berbagai tahapan didalamnya. Sesuai dengan prinsip pembaharuan agrarian SPI, dimana aksi pendudukan lahan untuk merebut kembali tanah yang menjadi hak petani anggota SPI, dilakukan dengan aturan-aturan yang ketat. Terdapat tiga tahapan dalam melakukan aksi perjuangan pembaruan agraria di tingkat basis. Pertama, persiapan pra-reklaiming yang terdiri atas pendidikan massa, penguatan organisasi, pembentukan dan penguatan jaringan, pelatihan ketrampilan serta pengumpulan data. Kedua, aksi reklaiming, yang meliputi aktivitas pendudukan lahan, menggalang opini dan dukungan publik, serta menyampaikan pemberitahuan kepada pemerintah lokal sebelum melakukan aksi pendudukan beserta argumentasi yuridis dan historis (legal opinion). Ketiga, pengelolaan pasca reklaiming, yang mencakup penataan produksi, membangun model alternatif distribusi, melanjutkan perjuangan untuk memperoleh kepastian hukum. (Prinsip Kerja Umum Perjuangan Pembaruan Agraria, Jakarta : SPI, 2008)

Suriono menjelaskan bahwa sangat berartinya pendidikan dan pelatihan di tubuh SPI hingga terorganisirnya proses reclaiming yang dilakukan SPI mekar Jaya. Dimana proses reclaiming yang dilakukan SPI mekar Jaya sesuai dengan tahapan aksi perjuangan pembaharuan agrarian sesuai dengan tertib organisasi. Walaupun pada tahap penataan produksi dan membangun model alternatif distribusi masih jauh dari harapan karena konflik yang masih berkelanjutan diantara SPI Mekar Jaya dengan PTPN II dan juga masih dalam perjuangan untuk memperoleh kepastian hukum. Seperti apa yang Suriono jelaskan sebagai berikut:

“Itulah sangat berartinya pendidikan dan pelatihan di tubuh SPI... dengan itu proses reclaiming yang kami lakukan dapat dikatakan terorganisir lah... Dimana proses reclaiming yang kami lakukan hampir dapat dikatakan sesuai dengan tahapan aksi perjuangan pembaharuan agrarian dan tertib organisasi. Walaupun kelemahan kami pada tahap produksi dan distribusi masih jauh dari apa yang kami harapkan... ya karena konflik yang masih berkelanjutan diantara kami dengan PTPN... juga kami yang masih memperjuangkan kepastian hukum.”

Dokumen terkait