• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aksi Solidaritras Lintas Agama

Dalam dokumen membumikan dialog liberatif (Halaman 108-112)

Akhir-akhir ini krisis yang dihadapi oleh manusia cukup beragam dan kompleks. Rangkaian kompleksitas masalah yang ada, membutuhkan penyelesaian mendesak agar manusia tidak larut dalam masalah tersebut. Organisasi yang terlibat dalam mewujudkan pembangunan moral masyarakat sangat signifikan keberadaanya sebagai organisasi yang dapat diharapkan mampu berbuat sesuatu untuk melakukan transformasi dan pembebasan bagi umat beragama yang menjadi korban dari struktur sosio- ekonomi yang menindas dan eksploitatif, serta krisis ekologi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi semacam BKSAUA seperti yang telah penulis uraikan pada bab terdahulu, merupakan bentuk partisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan masyarakat dan bangsa. Peran pimpinan agama dalam pembangunan bukan saja lantaran mereka merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan karena pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara kemajuan aspek lahiriah dan kepuasan batiniah. Corak pembangunan seperti ini didasarkan pada pemikiran bahwa keberadaan manusia yang akan dibangun pada dasarnya terdiri dari unsur jasmaniah dan unsur rohaniah. Kedua unsur ini harus terisi dalam proses pembangunan.

Peran pimpinan agama dalam menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat adalah penting adanya. Karena dalam kenyataannya, kegiatan berupa kerja sama pada umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan dalam bentuk kerja sama memperoleh kesejatiannya dengan cara berpijak pada landasan kebersamaan (solidaritas), etis, dan moral. Pentingnya keterlibatan pimpinan agama dalam kegiatan-kegiatan pembangunan dalam aspek pembangunan unsur rohaniah, tidak hanya bersifat suplementer, tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Di sini nilai- nilai religius yang ditanamkan oleh pimpinan agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.105

Mengamati dan menganalisis apa yang telah dilakukan oleh pimpinan agama dalam kegiatan-kegiatan pembangunan secara lintas agama merupakan bentuk aksi “solidaritas lintas agama” (interreligious solidarity) seperti yang dikemukakan oleh Farid Esack.106 Kenyataan ini patut diberikan penghargaan, karena kegiatan-kegiatan yang ada didasarkan pada pembangunan moral umat beragama dan pembinaan pentingnya kerja sama lintas agama dalam memberikan penyelesaian masalah yang dihadapi oleh umat beragama. Aksi solidaritas dalam bentuk kerja sama antarumat beragama tetap penting untuk dikembangkan di masa- masa mendatang. Hanya saja, ke depan kegiatan ini tidak hanya terbatas pada pembangunan moral umat beragama, namun juga

105 Soetjipto Wirosardjono. Agama dan pembangunan , dalam M. Masyhur Amin

(Ed.). Moralitas Pembangunan Perspektif Agama-agama di Indonesia. (Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989). Hlm. 8.

106 Farid, Esack. Qur’an, Liberation, and Pluralism: An Islamic Perspective of

dilanjutkan pada kerja sama dalam rangka memerangi kemiskinan dan ketidakadilan. Hal ini perlu, mengingat masalah kemiskinan dan ketidakdilan telah menjadi isu nasional bahkan internasional. Kemiskinan menjadi tanda zaman par excellence bagi bangsa kita. Kemiskinan memanggil kita untuk membebaskan orang-orang miskin dari penderitaan mereka. Masalahnya, kita cenderung mengabaikan, atau “pura-pura” tidak tahu bahwa kita berhadapan dengan realitas primer ini. Akibatnya, kebenaran tentang realitas orang miskin tidak menjadi kesadaran personal atau kolektif kita. Bangsa kita masih melihat realitas kemiskinan sekedar sebagai “catatan kaki” dan sesuatu yang dianggap wajar dalam masyarakat yang malas atau tidak memiliki etos kerja. Di samping itu, kemiskinan dianggap kotoran masyarakat yang sedang menderita sakit, kasus-kasus penggusuran paksa di daerah-daerah kumuh memperlihatkan secara terang bagaimana hidup orang miskin semakin digeser ke periferi dan secara sengaja ditinggalkan melalui tindakan kekerasan. Singkatnya, selama ini kita gagal mengalamatkan masalah penderitaan orang lain (problem the suffering other). Masalah kemiskinan melampaui batas-batas kemanusiaan dan agama. Sebab kemiskinan merupakan skandal humanisasi-religius. Jika menolak pengalaman ini dan menolak tantangan darinya, kita akan menjadi tidak humanis-religius. Agama bahkan dapat kehilangan relevansinya, jika bukan validitasnya. Dalam masalah kemiskinan diharapkan respon dalam bentuk protes para pimpinan agama untuk menekan realitas ini. Protes dilakukan di hadapan elit negara dan pelaku ekonomi global yang self-seeking dalam mengelola negara. Protes itu mengambil bentuk aksi solidaritas lintas agama bersama mereka yang miskin atau yang menjadi korban dari struktur yang tidak adil. Kita tidak hanya menunjuk fakta orang miskin dari luar, tapi harus

mengekspresikannya dalam diri kita, karena kita menjadi simbol riil bagi orang-orang miskin. Penyingkapan ini dilakukan atas realitas orang miskin maupun solidaritas lintas agama yang berorientasi pada praksis liberatif. Aksi solidaritas lintas agama bersama orang-orang miskin memediasikan pembebasan orang miskin. Oleh karena itu, solidaritas dengan orang miskin melahirkan suatu komunitas praksis liberatif. Kalau kenyataan ini mulai disadari oleh para pimpinan agama, maka urusan agama tidak hanya mengurus masalah-masalah batiniah (moral, etika, dan spiritual), tapi juga masalah lahiriah (kemiskinan, ketidakdilan, krisis ekologi, dan lain-lain). Di sinilah fungsi agama sebagai kekuatan pembebas.

Aksi solidaritas agama mempunyai peranan penting dalam hubungan antarumat beragama ke depan. Dengan membiasakan umat beragama bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan keagamaan akan menumbuhkan perasaan bahwa betapa pentingnya hidup dalam kebersamaan. Di mana partikularitas dalam keragaman berada di atas singularitas tanggung jawab. Di samping itu, aksi solidaritas ini merupakan upaya untuk menghilangkan sekat-sekat teologis yang dianggap mampu memghalangi terwujudnya kerja sama.

Dari perspektif ini, masalah teologis jangan menjadi bahan pembicaraan, ketika umat dari berbagai agama hendak melakukan kerja sama. Karena hal ini akan mempengaruhi hubungan dan agenda-agenda kerja sama antarumat beragama. Artinya, bahwa yang perlu ditekankan adalah pembicaraan mengenai moral, etika, kemiskinan, ketidakadilan, dan krisis ekologi. Dengan cara seperti ini akan memantapkan agenda dari aksi solidaritas lintas agama.

Dalam dokumen membumikan dialog liberatif (Halaman 108-112)