D. Problem Dialog Antarumat Beragama
3. Klaim Kebenaran (Truth Claim)
Klaim kebenaran (Truth claim) dalam tataran sosiologis, berubah menjadi simbol agama yang dipahami secara subjektif dan personal oleh masing-masing pemeluk agama. Armahedi Mazhar menyebutkan bahwa aksklusifisme, absolutisme, fanatisme, ekstremisme, dan agresivisme adalah “penyakit” yang biasanya menghinggapi aktivis gerakan keagamaan.29 Dalam kasus ini, diperlukan suatu reformulasi terhadap pandangan umum yang memiliki tingkat intelektualitas, ritualitas, dan spiritualitas yang
28 Hugh Goddard,… Op. Cit. Hlm. 5.
29 Lihat: Pengantar untuk Terjemahan R. Garaudi. Islam Fundamentalis dan
tinggi pula dalam beragama. Tidak selamanya orang yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah dan hanya menjalankan ritual ala kadarnya, memiliki tingkat spiritual yang rendah. Seorang tukang becak tidak mustahil lebih religius dari pada seorang ustad yang rajin melakukan aktivitas dakwah, tetapi menyimpan rasa ingin dipuji. Berangkat dari klaim-klaim demikian, sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh Frithjof Schoun yang menilai bahwa agama lebih menekankan pada iman (faith), kebajikan dan pengalaman (riyadhah) ketimbang akal (rasio).30 Memang sulit melepaskan frame subjektivitas, ketika keyakinan kita berhadapan dengan keyakinan orang lain yang berbeda. Kecenderungan ini selalu menghakimi keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan, sehingga menyalahkan keyakinan orang lain adalah senjata yang paling ampuh untuk tetap membenarkan keyakinan yang kita miliki. Dengan memaksakan inklusivisme “gaya kita” terhadap orang lain yang kita menurut kita eksklusif. Kalau hal ini terjadi, maka sebenarnya kita terjerat dalam kungkungan eksklusivisme, tapi dengan menggunakan nama inklusivisme.31
Dalam pandangan banyak ilmuan sekuler, kompleksitas hubungan antarumat beragama dengan berbagai paradigma eksklusif, standar ganda, dan klaim kebenaran (truth claim) sebagai kebenaran yang absolut yang sering digunakan dalam melihat agama lain, sering dianggap bukan sebagai tanda ketidakkritisan dari cara berpikir mereka dalam agama, melainkan merupakan penyebab konflik antarumat beragama yang telah terjadi di masa- masa silam. Untuk itu Paul F. Knitter mencoba mengembangkan “A Correlational and Global Responsible Model for Dialogue”,32 sebagai
30 Frithjof Schuon. Islam dan Filsafat Perenial. (Bandung: Mizan, 1993). Hlm. 78. 31 Dadang Kahmad. Op. Cit. Hlm. 171.
32 Paul F. Knitter. One Earth Many Religions, Multifaith Dialogue, and Global
usaha untuk menghindari klaim absolut dan superiorioritas satu agama atas agama lainnya.
Pada hakikatnya dialog antarumat beragama sebagai usaha untuk melepas klaim-klaim kebenaran dan penyelamatan tunggal yang berlebihan, dengan mengoreksi diri tentang sikap eksklusif dan segala bentuknya yang sering dipakai dalam memandang agama orang lain. Selanjutnya dialog sebagai upaya untuk memperluas pandangan-pandangan teologi yang inklusif. Sementara agama mempunyai peran yang penting di masa depan dalam membangun dasar spiritualitas dari peradaban masyarakat. Di mana semua para penganut agama akan bertemu dalam tujuan hidup (the road of life) yang sama. Kenyataan ini, menghadapkan kita pada suatu kondisi epistemologis, seperti yang dikatakan oleh Paul F. Knitter:
All religions are relative-that is, limited, partial, incomplete, one way of looking at thing. To hold that any religion is intrinsically better than another is felt to be somehow wrong, offensive, narrowminded…33
Pandangan liberal dari Paul F. Knitter di atas, jelas merupakan suatu perkembangan yang baik, yang berupaya mengubah bentuk hubungan antarumat beragama dari sikap teologis yang eksklusif kepada usaha yang saling memahami, menerima, dan menghargai keberadaan akan agama orang lain yang berbeda. Dengan memahami dan menerima keberadaan orang lain membantu kita dalam membangun dan mewujudkan pandangan teologi yang pluralis. Paradigma teologi pluralis adalah awal dari apresiasi kita terhadap keberadaan para penganut agam lain yang lebih terbuka. Selanjutnya Paul F. Knitter mengatakan:
33 Paul F. Knitter. No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes toward the
…the diversity of many religions must be recognized and maintained, and because this diversity is held up be potentially valuable and important for all persons, then the many valuable contents of the religions must be shared, communicated. The religions of the world must dialogue. If I recognize that you are really different from me, and if I also recognize that what is different can also be true and valuable, I cannot ignore you…34 Dari perspektif di atas, bahwa sesungguhnya tidak ada sekat
(hijab) bagi penganut antaragama untuk membangun sebuah
dialog. Dialog dimaksudkan sebagai media untuk mempertemukan para penganut agama dalam suatu forum, duduk berdampingan, saling berdialog, dengan tidak melihat perbedaan-perbedan yang ada. Implikasi lain dari pandangan tersebut bahwa sebetulnya kita semua berasal dari manusia yang satu dan dari Tuhan yang satu dan yang sama pula. Sehingga tidak ada perbedaan yang terlihat dari para penganut agama. Untuk melengkapi uraian ini, penulis ingin mengungkapkan pandangan seorang pemikir pluralis dan juga seorang Sufi kontemporer Frithjof Schuon35 yang mengatakan bahwa sebetulnya semua agama sama pada level esoteris (nilai- nilai universal), sementara pada level eksoteris (syari‟at, amal sehari-hari) bisa berbeda.
Kalau kita mengikuti pendapat di atas, maka pada dasarnya tidaklah penting perbedaan antaragama, justru yang ada adalah kesatuan (The unity), yang menurut Schuon merupakan “the heart of religions” (jantung dari agama-agama).36 Dengan demikian adalah penting untuk mencari titik temu dalam aspek persamaan dan mengembangkan toleransi dalam aspek-aspek perbedaan. Persepsi
34 Paul F. Knitter. One Earth Many… Op. Cit. Hlm. 31-32.
35 Frithjof Schuon. The Transcendental Unity of Religion. (London: Torchbooks Harper
and Row Publisher, 1975).
ini semacam agree and disagreemant,37 sebab pada umumnya setiap
agama mengajarkan kehidupan yang plural dan memberi petunjuk untuk menghadapi pluralitas tersebut.