HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian
5.1.4 Aktifitas saat dijumpai
Aktivitas diam merupakan aktivitas yang paling banyak dijumpai pada amfibi yang ditemukan. Pada saat ditangkap sebagian besar amfibi dalam keadaan diam diatas batu, daun, dan serasah. Aktivitas loncat juga ditemukan pada amfibi hal ini dibuktikan bahwa ada sebagian jenis amfibi yang ditemukan meloncat pada saat hendak ditangkap. Pada lokasi pengamatan juga ditemukan jenis amfibi yang sedang bertelur yaitu jenis Leptophryne borbonica yang pada saat pengamatan sedang bertelur.
Untuk jenis-jenis yang ditemukan di habitat sungai yaitu Ansonia longidigita, Ansonia leptopus, Bufo asper, Limnonectes ibanorum dan Pedostibes hosii, umumnya ditemukan dalam keadaan diam menandakan jenis ini kurang sensitif terhadap gerakan. Beberapa jenis yang ditemukan lebih sering loncat dari pada diam yaitu Limnonectes kuhlii, Rana chalconota dan Rana picturata, menandakan jenis ini termasuk jenis yang sensitif terhadap gerakan bahkan sering sekali tidak tertangkap dan atau lepas kembali.
Beberapa jenis yang jika terganggu lebih memilih loncat kedalam air yaitu jenis Bufo asper, Limnonectes kuhlii, Limnonectes ibanorum dan Rana picturata, beberapa jenis yang jika terganggu lebih memilih loncat dari batu ke batu atau substrat keras (kayu) yaitu Limnonectes paramacrodon, Meristogenys phaeomerus dan Staurois natator yang jika terganggu akan meloncat dari batu ke batu, serta beberapa jenis yang jika terganggu memilih loncat ke ranting-ranting tumbuhan yaitu Rana picturata, Polypedates macrotis dan Rhacophorus pardalis.
5.2 Pembahasan
Jumlah jenis amfibi yang ditemukan pada semua plot pengamatan di lokasi penelitian di kawasan lindung Sungai Lesan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Mediyansyah (2008) yang menemukan 25 jenis Anura di Gunung Palung Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat ataupun Utama (2003) yang menemukan 27 jenis Anura di PT. Intracawood Manufacturing Kalimantan Timur dan Himakova (2008) yang menemukan 29 jenis amfibi di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat. Kawasan Lindung Sungai Lesan sebelumnya tercatat terdapat 12 jenis amfibi dari 4 Famili yang ditemukan pada survei keanekaragaman hayati yang dilakukan TNC tetapi hanya 5 jenis saja yang berhasil diidentifikasi. Dibandingkan dengan hasil penelitian di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), total jenis hasil penelitian ini relatif lebih rendah dan komposisi jenis yang berbeda. Komposisi spesies amfibi dapat berubah sangat cepat dalam kaitannya dengan kondisi ekologi (Iskandar 2001). Sebagian besar jenis yang ditemukan pada penelitian ini terdapat di TNBK tetapi ada lima jenis yang tidak ditemukan di TNBK seperti: Ansonia longidigita, Staurois natator, Kalophrynus pleurostigma, Polypedates colletti dan Rhacophorus gauni. Hal ini
dikarenakan perbedaan dalam usaha pencarian dan metode yang digunakan. Hasil penelitian di Taman Nasional Betung Kerihun menggunakan modifikasi dari metode Heyer et al. (1994) dengan melakukan analisis kuantitatif dengan menggunakan petak (30 m x lebar sungai) sehingga memungkinkan untuk mendapatkan jenis amfibi yang tinggi. Menurut Iskandar, et al (1998) di TNBK telah tercatat 55 jenis amfibi yang termasuk ke dalam enam famili (termasuk Ichtyophis sp.) yang sangat jarang ditemukan. Perbandingan jumlah jenis anura dapat disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Perbandingan jumlah jenis anura (Terestrial dan Akuatik) yang ditemukan di Pulau Borneo No Lokasi Metode/panjang transek Waktu penelitian ∑ Sp./ ∑ Fam Sumber
1 Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat - Tidak Tercantum 55 sp 6 fam Iskandar, et al. (1998) 2 Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat Akuatik: Transek 200 m Terestrial: Transek 800 m Januari-Februari 2008 25 sp 5 fam Mediyansyah (2008) 3 PT. Cipta Usaha Sejati
dan PT. Jalin Vaneo
Transek 1-2 km 6 lokasi April-Juni 2010 30 sp 5 fam Mediyansyah & Rachmansyah (2010) 4 Taman Nasional Bukit
Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat
Time search 2 jam 4 lokasi Agustus 2008 29 sp 6 fam HIMAKOVA (2008) 5 Areal HPH PT Intracawood Manufacturing (S. Pensiangan, S. Akad, S. Mangkuasar), Kalimantan Timur Transek (3 lokasi), 500 m, selama 3-4 jam Juni-Juli 2002 27 sp 5 Fam Utama (2003)
6 Kawasan hutan lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur Transek (3 lokasi) 400 m, selama 2-3 jam Juli-Agustus 2010 31 sp 5 Fam Hasil Penelitian
Dibandingkan dengan hasil penelitian di seluruh pulau Kalimantan termasuk bagian Sarawak dan Sabah, Malaysia (Tabel 6), total jenis yang ditemukan pada transek sungai (akuatik) relatif sama. Namun dibandingkan dengan hasil peneltian di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), total jenis hasil penelitian ini relatif lebih rendah dan komposisi jenis yang berbeda.
Tabel 6 Perbandingan jumlah jenis anura (Terestrial dan Akuatik) yang ditemukan di Pulau Kalimantan No Lokasi Metode/Panjang transek Waktu penelitian ∑ Sp./ ∑ Fam Sumber 1 Nanga Terkait (Ensurai, Sekentut, Serbong) Transek (3 lokasi) 250-600 m Tahun 1962, 1970 & 1984 15 sp 4 fam Voris dan Inger (1996) 2 Danum Valley (Pallum
Tambun, W68S), Sabah, Malaysia Transek (2 lokasi) 250-600 m Tahun 1986, 1989 & 1990 15 sp 4 fam Voris dan Inger (1996) 3 Bario, Kelabit Highlands, Sarawak Penyisiran, selama 2 jam Tidak tercantum 18 sp 5 fam Zainuddin (1999) 4 Crocker Range
National Park (Park Headquarters, Keningau, Mahua Waterfalls) Sabah Taransek (3 lokasi), 600 m, selama 2-3 jam Tidak tercantum 18 sp 5 fam Zainuddin, et al.(2002) 5 Areal HPH PT Intracawood Manufacturing (S. Pensiangan, S. Akad, S. Mangkuasar), Kalimantan Timur Transek (3 lokasi), 500 m, selama 3-4 jam Juni-Juli 2002 20 sp 4 fam Utama (2003) 6 Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur Transek (3 lokasi) 400 m, selama 2-3 jam Juli-Agustus 2010 22 sp 5 fam Hasil penelitian
Perbedaan ini antara lain disebabkan perbedaan usaha dalam pencariaan dan cakupan wilayah penelitian yang memiliki perbedaan ketinggian serta perbedaan kondisi habitat. Perbedaan variasi jenis anura di setiap lokasi berbeda karena adanya perbedaan topografi atau vegetasi, curah hujan ataupun karakteristik fisik sungai (Inger & Vorris 1993).
Bila dilihat dari topografi, Kawasan Lindung Sungai Lesan masuk dalam kategori dataran rendah (<500 mdpl) dengan fluktuasi suhu udara antara siang dan malam hari yang tidak jauh berbeda. Kawasan lindung Sungai Lesan memiliki ketinggian 200 sampai 350 mdpl berbeda dengan lokasi penelitian Mediyansyah (2008) yang terletak pada ketinggian 100 sampai 200 mdpl dan lokasi penelitian Utama (2003) yang terletak pada ketinggian 200 sampai 250 mdpl. Karakteristik fisik suhu udara, suhu air dan kelembapan di lokasi penelitian menunjukkan nilai yang sesuai bagi kehidupan amfibi secara umum. Suhu udara yang diperoleh di lokasi peneltian berkisar 220C sampai 250C. Mediyansyah(2008) mendapatkan suhu udara di Gunung Palung Kalimantan Barat 250C sampai 270C. Sementara dari hasil penelitian Utama (2008) yang dilakukan di PT. Intracawood
Manufacturing Kalimantan Timur mendapatkan suhu udara 240C sampai 270C. Menurut Goin & Goin (1971) katak memiliki toleransi suhu antara 3 sampai 410C, sehingga kisaran suhu udara yang diperoleh di lokasi penelitian dapat mendukung kehidupan amfibi.
Menurut Wong (2003) dalam Meijard et al. (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi katak adalah pH air sungai, suhu dan kelembaban serta struktur hutan. Selain itu, ketersediaan sumber makanan berkorelasi positif dengan kekayaan spesies katak. Amfibi selalu berasosiasi dengan air (Iskandar 1998). Amfibi memerlukan air untuk bertelur dan berkembang. Susanto (1999) mengatakan bahwa telur pada katak biasanya akan menetas pada air yang suhunya 240 sampai 270C. Berdasarkan kisaran suhu air yang diperoleh di lokasi penelitian yaitu berkisar 230 sampai 250C. Lokasi penelitian ini dapat mendukung perkembangbiakan amfibi. Hal ini terbukti bahwa adanya jenis Leptophryne borbonica dan Nyctixalus pictus yang sedang bertelur di plot pengamatan Sungai Lesan.
Kelembaban yang diperoleh di lokasi penelitian berkisar 73% sampai 91%. Sementara Mediyansyah (2008) memperoleh kisaran kelembaban antara 86% sampai 89% dan Utama (2008) memperoleh kisaran kelembaban antara 72% sampai 89%. Kelembaban di hutan relatif tinggi, hal ini disebabkan oleh adanya penutupan tajuk pohon yang menghalangi sinar matahari dan angin (Inger 1966). Kebanyakan jenis amfibi hidup di kawasan berhutan, karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan (Iskandar 1998).
Selain kelembaban amfibi juga memerlukan derajat keasaman atau pH yang cukup. Perubahan komposisi gizi, tingkat pH dan suhu dapat menyebabkan kematian pada larva anura (Meijard et al. 2005). Menurut Meijard et al. (2005) efek sedimentasi dapat merugikan reproduksi katak dan mencegah kelangsungan hidup berudu. Menurut Payne (1986) menyatakan bahwa kisaran pH air yang berada di tropis adalah antara 4,3 sampai 7,5. Derajat keasaman atau pH yang didapatkan di habitat akuatik pada lokasi penelitian berkisar antara 5 sampai 8. Kawasan Lindung Sungai Lesan memiliki sungai yang lebar dan tutupan kanopi yang lebih terbuka sehingga lebih banyak cahaya matahari yang masuk, intensitas cahaya matahari yang masuk dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban habitat
serta keberadaan amfibi. Pada ketiga plot pengamatan banyak terdapat pohon yang tumbang dan lapuk sehingga memungkinkan menjadi mikrohabitat bagi jenis tertentu.
Bisa dikatakan bahwa tidak ada perbedaan ketinggian, suhu dan kelembaban antara lokasi penelitian ini dengan lokasi lain yang telah disajikan sebelumnya, sehingga hal ini tidak menjadi faktor yang mempengaruhi perolehan jenis. Akan tetapi adanya faktor lain seperti keanekaragaman habitat, mikrohabitat dan struktur vegetasi yang diduga mempengaruhi komposisi jenis yang ditemukan di setiap lokasi. Kawasan Lindung Sungai Lesan memiliki komposisi mikrohabitat yang cukup beragam seperti serasah, semak, pohon tumbang dan bebatuan namun cenderung memiliki struktur vegetasi yang seragam dengan tegakan yang tidak terlalu rapat.
Habitat akuatik plot pengamatan Sungai Lejak memiliki jenis yang paling banyak ditemukan karena habitat ini masih alami karena terletak pada lokasi yang sulit untuk dijangkau. Sepuluh jenis yang ditemukan pada habitat akuatik Sungai Lejak, yaitu Rhacophorus pardalis, Rhacophorus gauni, Rhacophorus cyianopunctatus, Bufo asper, Pedostibes hosii, Rana picturata, Rana chalconota, Limnonectes paramacrodon, Limnonectes kuhli dan Limnonectes malesianus. Jenis yang paling sedikit ditemukan di lokasi penelitian seperti Ansonia leptopus, Ansonia longidigita, Leptophryne borbonica, Leptobrachella mjobergi, Leptobrachium hendricksoni, Chaperina fusca, Kalophrynus pleurostigma, Microhyla borneensis, Limnonectes leporinus, Meristogenis whiteheadi, Staurois natator, Nyctixalus pictus, Rhacophorus gauni dan Rhacophorus harrisoni adalah jenis-jenis yang memiliki sebaran yang sempit dan hanya ditemukan di satu tipe habitat saja. Jenis-jenis tersebut lebih membutuhkan habitat yang relatif tidak terganggu, vegetasi yang lebih bervariasi dan lebih suka hidup di sungai yang jernih dan mengalir.
Nilai indeks keanekaragaman (H’) tertinggi untuk habitat akuatik terdapat pada plot pengamatan Sungai Lejak dengan nilai 2,00 sedangkan untuk habitat terestrial terdapat pada plot pengamatan Sungai Lesan dengan nilai 1,87. Plot pengamatan anak Sungai Lejak memiliki nilai keanekaragaman (H’) terendah pada habitat akuatik maupun terestrial dengan nilai 1,53 dan 0,75. Nilai
keanekaragaman di habitat akuatik pada plot pengamatan Sungai Lejak dan nilai keanekaragaman habitat terestrial pada plot pengamatan Sungai Lesan tergolong sedang. Nilai keanekaragaman (H’) pada habitat akuatik dan terestrial pada plot pengamatan anak Sungai Lejak tergolong rendah sampai sedang karena menurut Margalef (1972) dalam Magurran (1988) menyatakan bahwa tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi ditunjukkan dengan nilai Indeks Shannon-wiener lebih dari 3,5; digolongkan sedang dengan nilai indeks 1,5-3,5 dan tergolong rendah dengan nilai indeks kurang dari 1,5. Nilai keanekaragaman habitat terestrial pada plot pengamatan anak Sungai Lejak tergolong rendah, hal ini dikarenakan tegakan yang lebih seragam dan tidak terlalu rapat serta hanya sedikit ditemukan habitat berupa lokasi yang berair seperti genangan atau aliran sungai, selain itu mikrohabitat seperti pohon tumbang dan semak yang tersedia relatif lebih sedikit dibandingkan kedua lokasi lainnya. Pada lokasi penelitian nilai keanekaragaman (H’) berkisar antara 0,75 sampai 2,00. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan Mediyansyah (2008) yang memperoleh nilai keanekaragaman 0,77 sampai 2,45 dan Utama (2003) yang memperoleh nilai keanekaragaman 1,04 sampai 2,56. Berdasarkan habitat, nilai H’ habitat sungai (1,77) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai H’ habitat darat (1,29). Hal ini dikarenakan jumlah jenis maupun individu yang ditemukan di habitat sungai relatif lebih tinggi dari pada habitat darat. Menurut Inger (1980) amfibi lebih cenderung berkonsentrasi di daerah tepi sungai pada malam hari. Selain itu, metode penelitian yang hanya mensurvei satu habitat saja yaitu aliran sungai, relatif mendapatkan jumlah jenis yang sedikit karena jenis-jenis yang hidup jauh dari sungai dan menempati sebagian besar lantai hutan maupun lubang-lubang pohon tidak ditemukan (Zainuddin, et al. 2002).
Plot pengamatan Sungai Lejak memiliki nilai kemerataan (E) tertinggi pada habitat akuatik dengan nilai 0,87 sedangkan nilai kemerataan (E) tertinggi pada habitat terestrial terdapat pada plot pengamatan Sungai Lesan dengan nilai 0,90. Nilai kemerataan (E) terendah pada habitat akuatik terdapat pada plot pengamatan Sungai Lesan dengan nilai 0,84 sedangkan untuk habitat terestrial terdapat pada plot pengamatan anak Sungai Lejak dengan nilai 0,54. Nilai E dikatakan semakin merata jika mendekati 1 dan dikatakan tidak merata jika mendekati 0. Habitat
akuatik pada plot pengamatan Sungai Lejak dan habitat terestrial pada plot pengamatan Sungai Lesan memiliki kemerataan yang tinggi karena memiliki jumlah individu perjenis yang relatif sama, sedangkan pada habitat terestrial plot pengamatan anak Sungai Lejak memiliki jumlah individu yang dominan. Berdasarkan habitat, nilai E dimana habitat sungai (0,85) lebih tinggi dibandingkan darat (0,69). Hal ini dikarenakan jumlah individu yang ditemukan pada habitat sungai relatif merata untuk setiap jenis dibandingkan dengan habitat darat yang pada beberapa jenis jumlah individu sangat melimpah seperti jenis Polypedates colletti dan Rhacophorus appendiculatus namun jenis lainnya ditemukan hanya satu individu saja seperti Kalophrynus pleurostigma, Microhyla borneensis, Chaperina fusca dan Nyctixalus pictus.
Survei-survei amfibi di Pulau Kalimantan belum menyeluruh kecuali bagian Sabah dan Sarawak yang sudah banyak dilakukan survei amfibi sehingga informasi beberapa jenis amfibi masih belum mencakup seluruh Kalimantan. Jenis-jenis Bufo asper, Kalophrynus pleurostigma, Limnonectes kuhlii, Rana chalconota, Rana nicobariensis dan Polypedates macrotis merupakan jenis-jenis yang memiliki penyebaran luas dan dijumpai di pulau Kalimantan bahkan juga di pulau-pulau lain (IUCN 2011).
Anura yang ditemukan dapat dikelompokkan berdasarkan sebaran ekologis dan ukuran tubuh sesuai dengan literatur Inger & Stuebing (1997) yang mengelompokkan anura menjadi; (i) katak pohon (tree frog), yaitu jenis-jenis katak yang hidupnya di bagian kanopi dan sub-kanopi, jarang berada di permukaan tanah, (ii) Katak terestrial, yaitu jenis-jenis yang hidup dibawah tumpukan kayu yang lapuk dan serasah untuk menghindari suhu yang tinggi. Kelompok terakhir yaitu (iii) Katak akuatik, yaitu jenis-jenis katak yang hidup didalam atau dekat dengan badan air sehingga memungkinkan jenis-jenis tersebut untuk bertahan. Dari Tabel 7 pengelompokan anura dibagi kedalam tiga kelompok besar yaitu katak terestrial, katak arboreal dan katak akuatik.
Tabel 7 Pembagian anura yang ditemukan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan Inger dan Stuebing (1997)
Katak Terestrial Katak Arboreal Katak Akuatik
Chaperina fusca Polypedates macrotis Staurois natator Leptolalax gracilis Polypedates colletti Limnonectes malesianus Kalophrynus pleurostigma Rhacophorus pardalis Limnonectes leporinus Microhyla borneensis Rhacophorus appendiculatus Rana picturata Ansonia longidigita Rhacophorus harrisoni Limnonectes kuhlii Ansonia leptopus Rhacophorus cyianopunctatus Leptobrachella mjobergi
Rhacophorus gauni Leptobrachium hendricksoni
Nyctixalus pictus Bufo asper
Rana chalconota Leptobrachium abbotti Pedostibes hosii Leptophryne borbonica
Meristogenys whiteheadi Meristogenys phaeomerus Rana nicobariensis Limnonectes ibanorum Limnonectes paramacrodon Ciri lain yang dapat digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis anura yaitu selaput pada jari kakinya yang penuh dan tidak penuh (Inger 1966). Umumya jenis-jenis yang bersifat akuatik dicirikan dengan selaput jari kaki yang penuh seperti: Rana chalconota, Rana picturata, Limnonectes ibanorum, Limnonectes kuhlii, Limnonectes leporinus, Staurois natator dan Pedostibes hosii. Sedangkan jenis-jenis yang bersifat darat dicirikan dengan selaput jari kaki yang tidak penuh seperti: Chaperina fusca, Kalophrynus pleurostigma,dan Microhyla borneensis.
Sebaran ekologis jenis Anura yang ditemukan saat pengamatan bervariasi dan penyebarannya menunjukkan kesukaan pada kondisi habitat. Pada habitat sungai misalnya Rana chalconota yang ditemukan ditepian sungai yang tertutup semak atau tumbuhan bawah, Rana picturata yang lebih sering ditemukan diatas pohon pinggiran sungai, Rhacophorus pardalis yang ditemukan di atas pohon dengan ketinggian 2 meter di pinggiran sungai serta Rhacophorus appendiculatus yang hanya ditemukan di atas pohon di sebuah kubangan. Jenis-jenis yang lebih sering ditemukan di habitat akuatik seperti Bufo asper, Pedostibes hosii, Leptobrachium abbotti, Limnonectes ibanorum dan Limnonectes paramacrodon. Hasil tersebut didukung oleh Steventon et al. (1996) yang menyatakan bahwa
fungsi tepian sungai yang utuh merupakan tempat yang disukai katak untuk berlindung. Berbeda dengan habitat akuatik, habitat terestrial memiliki komposisi jenis yang lebih sedikit namun ada beberapa jenis yang ditemukan dalam jumlah banyak dan mengelompok seperti Polypedates colletti dan Rhacophorus appendiculatus yang hanya ditemukan di sebuah kubangan kering di plot pengamatan Sungai Lesan dan Rana chalconota yang ditemukan mengelompok pada habitat terestrial di plot pengamatanSungai Lejak.
Jenis-jenis yang umum ditemukan di habitat sungai seperti jenis Limnonectes ibanorum, Rana chalconota dan Limnonectes paramacrodon (Iskandar, et al 1998) ditemukan dengan kelimpahan yang tinggi berturut-turut 45 (20,73%), 40 (18,43%) dan 39 (17,97%). Tingginya jumlah individu ketiga jenis ini pada habitat sungai diduga karena perkembangbiakan yang tinggi hampir sepanjang tahun (Inger & Bacon 1968). Sedangkan jenis-jenis umum di sungai menurut Inger (1966) yaitu Rana picturata, Pedostibes hosii, Limnonectes kuhlii dan Bufo asper ditemukan dalam kelimpahan yang sedang, berturut-turut yaitu 25 (11,52%), 7 (3,22%), 7 (3,22%) dan 5 (2,30%). Staurois natator yang merupakan jenis katak yang habitatnya terbatas hanya di sungai jernih, berbatu dan jarang ditemukan (Inger & Stuebing 1997) hanya ditemukan satu individu saja (0,46%).
Sedangkan jenis katak arboreal yang paling banyak ditemukan adalah jenis Rhacophorus appendiculatus dan polypedates colletti yaitu 8 (3,68%) dan 9 (4,14%). Rhacophorus pardalis dan Rhacophorus cyanopunctatus ditemukan sebanyak 4 (1,84%) dan 2 (0,92%). Sedangkan Nyctixalus pictus, Polypedates macrotis, Rhacophorus gauni dan Rhacophorus harrisonii hanya ditemukan satu individu saja (0,46%).
Ansonia leptopus ditemukan di plot pengamatan anak Sungai Lejak di kubangan pada saat pengamatan terestrial dengan metode time search. Sedangkan Ansonia longidigita di temukan pada plot pengamatan Sungai Lejak dengan metode time search. Kedua jenis ini berbeda dengan jenis baru dari genus Ansonia yang ditemukan di Sabah, Utara Borneo yang tidak memiliki tympanum (Inger, et al 2001). Bufo asper ditemukan di plot pengamatan Sungai Lejak dan Sungai Lesan. Jenis ini di temukan pada saat pengamatan terestrial tepatnya di temukan di kubangan dan pengamatan akuatik yang di temukan di sekitar sisi sungai.
Menurut Inger (2003) Bufo asper diketahui di jumpai dari Kalimantan, Sumatera dan bagian Asia Tenggara setidaknya sampai ke Thailand. Hal ini menunjukan bahwa Bufo asper lebih bersifat akuatik daripada terestrial. Leptophryne borbonica di temukan di kayu roboh di sisi Sungai Lesan . Jenis ini di temukan pada siang hari saat keberangkatan menuju lokasi. Jenis ini dapat ditemukan dalam jumlah yang banyak di air yang jernih (Iskandar 1998). Pedostibes hosii hanya ditemukan pada saat pengamtan akuatik saja dan di temukan pada plot pengamatan Sungai Lejak dan Sungai Lesan.
Microhyla borneensis dan Kalophrynus pleurostigma merupakan jenis terestrial jika dilihat dari selaputnya (Das dan Haas 2003). Pernyataan tersebut dibuktikan pada hasil penelitian di Kawasan Lindung Sungai Lesan yang hanya menemukan kedua jenis tersebut pada habitat terestrial tanpa ditemukan pada habitat akuatik, jenis ini biasanya dijumpai pada lantai hutan yang berupa serasah dan kayu lapuk. Katak ini ditemukan pada plot pengamatan Sungai Lejak pada saat pengamatan terestrial. Chaperina fusca di temukan di plot pengamatan anak Sungai Lejak pada siang hari pada saat pembuatan jalur. Kedua jenis ini tinggal di lantai hutan dan bertelur di genangan air di dalam hutan (Inger & Stuebing 1997).
Leptolalax gracilis ditemukan pada pengamatan terestrial di serasah hutan dan akuatik di plot pengamatan anak Sungai Lejak dan Sungai Lesan. Jenis ini berbeda dengan Leptolalax dringi yang memiliki kaki lebih lebar dan perut yang berbeda dari L. gracilis (Inger et al. 1995). Leptobrachella mjobergi dan Leptobrachium hendricksoni ditemukan di plot pengamatan anak Sungai Lejak pada saat pengamtan akuatik. Kedua jenis ini di temukan pada serasah hutan di pinggir sungai. Leptobrachium abbotti ditemukan pada plot pengamatan anak Sungai Lejak dan Sungai Lesan dan hanya ditemukan pada saat pengamatan akuatik saja. Jenis ini ditemukan di serasah hutan di pinggir sungai.
Rana chalconota merupakan jenis yang ditemukan pada plot pengamatan Sungai Lejak dan Sungai Lesan pada saat pengamatan akuatik dan terestrial. Pada saat pengamatan terestrial jenis ini banyak di temukan di kubangan diatas daun dan pada pengamatan akuatik jenis ini ditemukan diatas daun di pinggir sungai. Rana picturata ditemukan pada plot pengamatan anak Sungai Lejak dan Sungai Lejak dan hanya di temukan pada saat pengamatan akuatik saja. Jenis ini biasa
bertengger di ranting-ranting sisi sungai ± 20 sampai 50 cm dari permukaan air. Limnonectes kuhlii sering ditemukan di atas permukaan tanah di sisi sungai. Jenis ini ditemukan diketiga plot pengamatan pada saat pengamatan akuatik dan terestrial. Jenis ini memiliki selaput yang penuh yang menandakan jenis tersebut lebih menyukai habitat akuatik. Rana nicobariensis biasa berasosiasi dengan Rana chalconota di habitat akuatik danau (Iskandar 1998). Jenis ini ditemukan pada plot pengamatan Sungai Lejak pada pengamatan akuatik. Limnonectes malesianus saat berukuran kecil lebih sering di temukan di serasah hutan. Namun, setelah dewasa katak ini selalu di temukan di perairan seperti diam di atas kayu atau tanah. Jenis ini ditemukan pada plot pengamatan Sungai Lejak pada pengamatan akuatik. Limnonectes Paramacrodon ditemukan pada saat pengamatan akuatik dan terestrial di ketiga plot pengamatan. Kebanyakan jenis ini ditemukan dengan ukuran tubuh yang besar. Limnonectes leporinus ditemukan di plot pengamatan Sungai Lejak pada pengamatan akuatik. Jenis ini hanya ditemukan satu individu saja dan hanya dikenal di Kalimantan saja (Inger 2003). Limnonectes ibanorum di