• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

PENDAPATAN, ESTIMASI KLAIM DAN KEWAJIBAN KEPADA PEMEGANG UNIT LINK

28. AKTIVA DAN KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING

Pada tanggal 31 Desember 2000, Perusahaan dan anak perusahaan memiliki aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing terutama sebagai berikut:

28 Mei 2001

Mata Uang 31 Desember 2000 (Tanggal Laporan

Asing (Tanggal Neraca) Auditor Independen)

Rp Rp

Aktiva

Dalam Dolar A.S.

Kas dan setara kas 4.000 38.384.933 46.405.964

Deposito 4.866 46.685.432 56.440.960

Investasi dalam unit penyertaan

reksa dana 252 2.416.798 2.921.820

Surat berharga yang dimiliki dan

investasi dalam obligasi 929 8.910.820 10.772.852

Piutang premi dan reasuransi 4.591 44.052.794 53.258.198

Penanaman bersih sewa guna usaha 17.558 168.471.303 203.675.572

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

28 Mei 2001

Mata Uang 31 Desember 2000 (Tanggal Laporan

Asing (Tanggal Neraca) Auditor Independen)

Rp Rp

Piutang pembiayaan konsumen 7.637 73.280.584 88.593.515

Tagihan anjak piutang 129 1.239.232 1.498.186

Aktiva lain-lain 11.326 108.669.654 131.377.589

Dalam mata uang asing lainnya 1.047.513 1.172.785

Jumlah Aktiva 493.159.063 596.117.441

Kewajiban

Dalam Dolar A.S.

Pinjaman yang diterima 166.720 1.599.674.934 1.933.947.809

Hutang premi reasuransi dan komisi 3.593 34.478.951 41.683.776

Kewajiban manfaat polis masa depan, premi yang belum

merupakan pendapatan,

estimasi klaim dan kewajiban

kepada pemegang unit link 3.659 35.103.551 42.438.895

Biaya yang masih harus dibayar dan

kewajiban jangka pendek lainnya 12.180 116.867.291 141.288.231

Hutang pajak 23 223.384 270.063

Dalam m ata uang asing lainnya 17.511 19.582

Jumlah Kewajiban 1.786.365.622 2.159.648.356 Kewajiban Bersih 1.293.206.559 1.563.530.915

Sebagaimana disajikan pada tabel di bawah ini, nilai mata uang Rupiah telah melemah berdasarkan kurs tengah transaksi wesel ekspor yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia:

Mata Uang Asing 28 Mei 2001 31 Desember 2000

Dolar A.S. (US$ 1) Rp 11.600,00 Rp 9.595,00

Dolar Singapura (Sin$ 1) 6.407,08 5.539,05

Gulden Belanda (NLG 1) 4.520,36 4.044,04

Mark Jerman (DEM 1) 5.093,32 4.556,63

Euro Eropa (EUR 1) 9.961,52 8.911,85

Apabila nilai tukar pada tanggal 28 Mei 2001, tanggal laporan auditor independen, tersebut di atas digunakan pada tanggal 31 Desember 2000, proforma kewajiban bersih akan meningkat sejumlah Rp 270.324.356.

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

29. INFORMASI SEGMEN USAHA

Ikhtisar operasi Perusahaan dan anak perusahaan berdasarkan segmen usaha adalah sebagai berikut:

Pendapatan Laba (Rugi) Bersih Jumlah Aktiva

1999 1999

(Disajikan kembali- (Disajikan kembali-

Segmen Usaha 2000 lihat Catatan 3) 2000 lihat Catatan 3) 2000 1999

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Pembiayaan 102.325.082 134.042.469 ( 66.342.142 ) 11.839.629 1.300.005.454 1.007.812.810

Penyertaan saham 136.849.217 149.942.094 ( 301.322.994 ) ( 597.947.159 ) 879.403.401 1.058.697.580

Asuransi 138.511.422 83.470.732 14.145.809 15.378.070 297.365.594 234.098.558 Jasa administrasi efek 14.344.335 36.772.798 2.456.798 20.842.642 49.301.118 56.425.010 Sekuritas 12.619.960 16.782.293 ( 1.001.423 ) 3.922.537 30.484.459 54.530.592 Modal ventura 2.398.672 3.946.715 113.949 140.861 19.024.789 16.094.748 Jumlah 407.048.688 424.957.101 ( 351.950.003 ) ( 545.823.420 ) 2.575.584.815 2.427.659.298 Eliminasi 4.006.808 ( 83.946.183 ) 50.627.009 ( 52.123.739 ) ( 995.485.379 ) ( 884.627.387 ) Konsolidasi 411.055.496 341.010.918 ( 301.322.994 ) ( 597.947.159 ) 1.580.099.436 1.543.031.911 30. KONDISI EKONOMI

Sejak pertengahan tahun 1997, Indonesia dan negara Asia Pasifik mengalami dampak memburuknya kondisi ekonomi terutama karena depresiasi mata uang negara-negara tersebut, yang ditandai dengan langkanya likuiditas dan tingginya kurs mata uang asing dan tingkat bunga. Kondisi ekonomi tersebut juga menyebabkan antara lain pengetatan penyediaan kredit, kenaikan harga komoditas dan jasa, serta penurunan aktivitas ekonomi. Tidak stabilnya kurs nilai tukar dan tingkat bunga telah berdampak buruk terhadap biaya pendanaan Perusahaan dan anak perusahaan dan kemampuannya untuk memenuhi pembayaran kewajibannya. Memburuknya kondisi ekonomi juga mempengaruhi aktivitas pembiayaan, kelangkaan dan kenaikan harga atas aktiva yang dibiayai serta peningkatan risiko kredit pada portofolio transaksi pembiayaan Perusahaan dan anak perusahaan yang mempengaruhi operasi Perusahaan dan anak perusahaan. Lebih lanjut, memburuknya kondisi ekonomi Indonesia mengakibatkan ketidakpastian kemampuan pelanggan anak perusahaan tertentu untuk menyelesaikan kewajibannya pada anak perusahaan pada saat jatuh tempo, sehingga mengakibatkan risiko bawaan dalam portofolio piutang pembiayaan anak perusahaan tersebut.

Perusahaan dan anak perusahaan membukukan rugi bersih sejumlah Rp 301.322.994 dan

Rp 597.947.159, masing-masing pada tahun 2000 dan 1999, serta mengalami defisit sejumlah

Rp 1.469.158.701 dan Rp 1.167.835.707, masing-masing pada tanggal 31 Desember 2000 dan 1999, yang terutama disebabkan oleh penyisihan atas penurunan nilai penyertaan saham Perusahaan pada BDNI-BBO, rugi selisih kurs yang timbul dari pinjaman yang diterima Perusahaan dan anak perusahaan tertentu, beban bunga dan beban keuangan lainnya pada tahun 2000, sedangkan pada tahun 1999, hal ini terutama disebabkan oleh penyisihan yang signifikan atas penurunan nilai penyertaan saham Perusahaan pada BDNI-BBO.

Memburuknya kondisi ekonomi di Indonesia berdampak sangat signifikan terhadap operasi BDNI-BBO. Sebagai akibatnya, pada tahun 1998, operasi BDNI-BBO dibekukan oleh pemerintah Indonesia. Sehubungan dengan kewajiban BDNI-BBO, Perusahaan telah diinformasikan oleh Induk Perusahaan bahwa penyelesaian kewajiban BDNI-BBO kepada pemerintah telah dilakukan secara langsung oleh Induk Perusahaan melalui penyerahan aktiva milik Grup Gajah Tunggal kepada BPPN pada bulan Mei 1998. Berkaitan dengan hal tersebut, Perusahaan merencanakan untuk melepaskan penyertaan saham pada BDNI-BBO pada saat yang dianggap tepat.

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Pada saat ini, perekonomian Indonesia masih menghadapi ketidakpastian yang disebabkan oleh ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri. Walaupun secara makro, hasil positif yang dicapai sejak pertengahan tahun 1999 atas beberapa indikator ekonomi yang membaik dan cenderung meningkat, serta penurunan suku bunga, dapat dipertahankan. Namun, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing lainnya kembali tidak stabil dan peka terhadap keadaan sosial dan politik dalam negeri serta faktor-faktor regional lainnya. Pada tahun 2000, pinjaman yang diberikan kepada Perusahaan dan anak perusahaan tertentu dalam mata uang Dolar Amerika Serikat meningkat secara signifikan terhadap satuan Rupiah, sehingga Perusahaan dan anak perusahaan membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar Rp 318.848.141.

Sejak tahun 1999, Perusahaan dan GSF telah memulai negosiasi dengan para krediturnya untuk merestrukturisasi pinjaman mereka. Seperti diuraikan pada Catatan 16, manajemen Perusahaan telah menyerahkan kembali usulan formal restrukturisasi pinjaman kepada para krediturnya pada tanggal 13 Desember 2000, yang sudah pernah diajukan Perusahaan pada tanggal 3 Mei 2000. Kemudian pada tanggal 12 Januari 2001, Perusahaan telah menerima konfirmasi dari salah satu kreditur peserta sindikasi yang mewakili 93% dari saldo pinjaman sindikasi, mengenai persetujuannya atas usulan formal restrukturisasi pinjaman yang diajukan Perusahaan. Selain itu GSF telah gagal memenuhi kewajiban rasio keuangan seperti yang dipersyaratkan dalam perjanjian, dan sejak bulan September 2000, GSF tidak melakukan pembayaran atas beban pinjaman yang telah jatuh tempo kepada kreditur, namun demikian, sampai dengan 28 Mei 2001, tanggal laporan auditor independen, GSF belum menerima pemberitahuan secara resmi dari krediturnya mengenai kegagalan tersebut. Berdasarkan perjanjian, kegagalan tersebut mengakibatkan pinjaman dapat ditarik sewaktu-waktu.

Berkaitan dengan kewajiban yang timbul dari transaksi “equity option” yang diungkapkan pada Catatan 20, pihak kreditur telah menyetujui usulan penyelesaian kewajiban yang diajukan oleh Induk Perusahaan kepada kreditur tersebut. Berdasarkan usulan penyelesaian tersebut sebagaimana dikonfirmasikan oleh Induk Perusahaan, hak penagihan atas kewajiban tersebut akan diambil alih oleh pihak lain yang dapat diterima oleh Induk Perusahaan. Di samping itu, Induk Perusahaan juga telah memberikan komitmennya untuk memberikan dukungan kepada Perusahaan dan jika diperlukan dalam bentuk dukungan keuangan untuk menjamin penyelesaian kewajiban-kewajiban dan kelangsungan hidup Perusahaan. Sampai dengan tanggal laporan auditor independen, proses negosiasi dengan pihak kreditur masih terus berlanjut.

Dalam memberikan respon terhadap kondisi ekonomi tersebut, manajemen Perusahaan telah dan akan melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

- Bertindak hati-hati dalam pengelolaan usaha dan lebih menekankan pada usaha-usaha konsolidasi ke dalam dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja;

- Mengupayakan percepatan realisasi restukturisasi kewajiban-kewajiban dalam valuta asing dalam upaya mengurangi beban yang timbul dan meminimalkan potensi kerugian selisih kurs dari kewajiban-kewajiban dalam valuta asing tersebut;

- Melaksanakan tindakan-tindakan strategis yang diperlukan sehubungan dengan rencana restrukturisasi permodalan Perusahaan dalam kaitannya dengan restrukturisasi pinjaman;

- Anak perusahaan tertentu telah melakukan negosiasi untuk merestrukturisasi pinjaman dan telah membentuk rekening escrow untuk pembayaran awal pokok pinjaman;

- Melakukan analisis dan pengembangan produk jasa keuangan sesuai dengan kecenderungan dan permintaan pasar;

- Memperluas pangsa pasar dengan menggarap sumber-sumber bisnis baru, mengembangkan produk jasa keuangan unggulan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, mengembangkan saluran distribusi baru untuk produk asuransi, mengembangkan infrastruktur teknologi informasi dan lebih memfokuskan pada intensifikasi penagihan kepada nasabah;

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

- Berpartisipasi lebih aktif dalam transaksi penawaran umum saham dan obligasi serta melakukan strategi tertentu untuk menambah jumlah nasabah melalui kantor perwakilan;

- Diversifikasi usaha oleh anak perusahaan yang diharapkan akan mampu menggantikan pendapatan registrasi saham setelah proses konversi saham tanpa warkat selesai, yaitu melakukan “Investor Relation” yang meliputi jasa distribusi informasi dan emiten kepada investor serta memberikan jasa bantuan bagi emiten berupa penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, Paparan Publik, Analist meeting dan hubungan dengan media; dan

- Melanjutkan upaya-upaya penghematan biaya dalam rangka meningkatkan efisiensi operasi.

Penyelesaian memburuknya kondisi ekonomi dan/atau pemulihan ekonomi Indonesia tergantung pada kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan lain yang telah dan akan diambil oleh pemerintah Indonesia tergantung pada kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan lain yang telah dan akan diambil oleh pemerintah Indonesia, suatu tindakan yang berada di luar kendali Perusahaan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin untuk menentukan dampak kondisi ekonomi di masa yang akan datang terhadap penghasilan dan realisasi piutang Perusahaan dan anak perusahaan, termasuk dampak yang berasal dari kreditur, nasabah dan pemegang saham.

Dokumen terkait