• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT GT Investama Kapital Tbk dan Anak Perusahaan (dahulu PT BDNI Capital Corporation Tbk)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT GT Investama Kapital Tbk dan Anak Perusahaan (dahulu PT BDNI Capital Corporation Tbk)"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

PT GT Investama Kapital Tbk dan Anak Perusahaan

(dahulu PT BDNI Capital Corporation Tbk)

Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999

(Mata Uang Indonesia)

(2)

Laporan Auditor Independen

Laporan No. 35863S

Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi

PT GT Investama Kapital Tbk

(dahulu PT BDNI Capital Corporation Tbk)

Kami telah mengaudit neraca konsolidasi PT GT Investama Kapital Tbk (Perusahaan) dan anak

perusahaan tanggal 31 Desember 2000 dan 1999, serta laporan laba rugi konsolidasi, laporan perubahan

defisiensi modal konsolidasi dan laporan arus kas konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada

tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen Perusahaan. Tanggung jawab

kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami tidak

mengaudit laporan keuangan PT Bank Ganesha (BG), perusahaan asosiasi, dimana penyertaan saham

pada perusahaan asosiasi tersebut disajikan dengan menggunakan metode ekuitas (equity method) dengan

nilai tercatat sejumlah lebih kurang Rp 23,4 miliar dan Rp 22,8 miliar, masing-masing pada tanggal

31 Desember 2000 dan 1999, dan bagian atas laba bersih sejumlah lebih kurang Rp 570,2 juta dan

Rp 55,8 juta untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan tersebut diaudit

oleh auditor independen lain yang laporannya menyajikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan

paragraf penjelasan mengenai kemampuan BG mempertahankan kelangsungan hidupnya, yang

laporannya telah diserahkan kepada kami, dan pendapat kami, sejauh yang berkaitan dengan

jumlah-jumlah yang dilaporkan untuk perusahaan asosiasi tersebut di atas, semata-mata hanya berdasarkan atas

laporan auditor independen lain tersebut.

Kecuali seperti yang dijelaskan dalam paragraf ketiga, kami melaksanakan audit berdasarkan standar

auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan

dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari

salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung

jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip

akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap

penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar

memadai untuk menyatakan pendapat.

Kami tidak dapat menerapkan prosedur audit terhadap laporan keuangan konsolidasi PT Bank Dagang

Nasional Indonesia Tbk (BDNI-BBO) dan anak perusahaan tanggal 31 Desember 2000 dan 1999 dan

untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut karena BDNI-BBO tidak dapat menyediakan

informasi keuangan yang dibutuhkan. Operasi BDNI-BBO telah diambil alih oleh pemerintah Indonesia

melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada bulan April 1998, sehingga laporan

keuangan BDNI-BBO tidak dikonsolidasi ke dalam laporan keuangan konsolidasi Perusahaan dan

selanjutnya nilai tercatat penyertaan saham pada BDNI-BBO, disajikan di dalam neraca konsolidasi

(3)

- 1a -

dengan menggunakan metode biaya perolehan (cost method). Selanjutnya, BDNI-BBO menjadi tidak

aktif setelah operasinya dibekukan pada bulan Agustus 1998 dan pada bulan Mei 1999, telah dilakukan

penandatanganan perjanjian penyelesaian kewajiban BDNI-BBO kepada pemerintah (Master Settlement

and Acquisition Agreement) antara pemegang saham utama Perusahaan dengan BPPN. Kami juga tidak

menerapkan prosedur audit untuk laporan keuangan BDNI Capital International B.V. (anak perusahaan

dengan kepemilikan sebesar 100%) tanggal 31 Desember 2000 dan 1999 serta untuk tahun yang berakhir

pada tanggal-tanggal tersebut. Jumlah aktiva, kewajiban dan rugi (laba) bersih dari anak perusahaan

tersebut lebih kurang sebesar 0,17%, 0,06% dan 0,03% pada tahun 2000 serta 0,13%, 0,05% dan (0,01)%

pada tahun 1999, masing-masing dari jumlah konsolidasi yang bersangkutan.

Sehubungan dengan penyertaan saham pada BDNI-BBO tersebut, sebagaimana dijelaskan pada

Catatan 12 atas laporan keuangan konsolidasi, pada tahun 1999 manajemen Perusahaan telah

membukukan penyisihan penurunan nilai penyertaan saham sejumlah Rp 1,002 triliun, sehingga nila i

tercatat penyertaan saham tersebut berkurang menjadi Rp 382 miliar pada tanggal 31 Desember 1999.

Namun demikian, berdasarkan audit kami, Perusahaan belum membentuk penyisihan yang memadai

untuk penurunan nilai penyertaan saham pada BDNI-BBO pada tanggal 31 Desember 1999. Pada tahun

2000, manajemen Perusahaan telah menambah penyisihan penurunan nilai sejumlah Rp 382 miliar,

sehingga Perusahaan telah membukukan 100% penyisihan penurunan nilai penyertaan saham BDNI-BBO

tersebut.

Pada tanggal 31 Desember 2000 dan 1999, anak perusahaan tertentu masih memiliki sisa piutang

sejumlah Rp 38 miliar kepada BPPN yang berasal dari transaksi sewa guna usaha dan pembiayaan

konsumen kepada BDNI-BBO, dimana aktiva yang dibiayai berada di bawah pengelolaan BPPN.

Manajemen anak perusahaan tersebut berkeyakinan bahwa seluruh piutang tersebut dapat ditagih,

sehingga pada tanggal 31 Desember 2000 dan 1999, anak perusahaan tersebut tidak membentuk

penyisihan kerugian yang mungkin timbul atas tidak tertagihnya piutang tersebut. Namun demikian,

berdasarkan audit kami, pada tanggal 31 Desember 2000 mungkin diperlukan adanya penyisihan untuk

menutup kerugian tidak tertagihnya piutang tersebut.

Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak dari hal-hal yang diuraikan dalam paragraf ketiga,

keempat dan kelima di atas, berdasarkan audit kami dan laporan auditor independen lain, laporan

keuangan konsolidasi yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,

posisi keuangan dari PT GT Investama Kapital Tbk dan anak perusahaan tanggal 31 Desember 2000 dan

1999, dan hasil usaha, perubahan defisiensi modal serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada

tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Sebagaimana diungkapkan pada Catatan 30 atas laporan keuangan konsolidasi, sejak pertengahan tahun

1997, memburuknya kondisi ekonomi di Indonesia yang ditandai dengan tidak stabilnya nilai tukar mata

uang asing, langkanya likuiditas dan krisis kepercayaan para investor, telah mempengaruhi secara

signifikan industri jasa keuangan, termasuk operasi Perusahaan dan anak perusahaan. Perusahaan dan

anak perusahaan membukukan rugi bersih sejumlah Rp 301 miliar dan Rp 598 miliar (disajikan

kembali-lihat Catatan 3), masing-masing pada tahun 2000 dan 1999, serta mengalami defisiensi modal sejumlah

Rp

385 miliar dan Rp

81 miliar (disajikan kembali-lihat Catatan 3), masing-masing pada tanggal

31 Desember 2000 dan 1999, yang terutama disebabkan oleh penyisihan atas penurunan nilai penyertaan

saham Perusahaan pada BDNI-BBO, rugi selisih kurs yang timbul dari pinjaman dalam mata uang asing

yang diterima Perusahaan dan anak perusahaan tertentu, beban bunga dan beban keuangan lainnya pada

tahun 2000, sedangkan pada tahun 1999, terutama disebabkan oleh penyisihan yang signifikan atas

penurunan nilai penyertaan saham Perusahaan pada BDNI-BBO. Selanjutnya, memburuknya kondisi

(4)

- 1b -

ekonomi di Indonesia telah menyebabkan kenaikan yang substansial pada biaya dana dan saldo kewajiban

mata uang asing, yang menyebabkan Perusahaan dan anak perusahaan tertentu tidak dapat melunasi

pinjamannya pada saat jatuh tempo sehingga pelunasan seluruh pinjaman tersebut dapat diminta

sewaktu-waktu oleh para kreditur. Sehubungan dengan kewajiban BDNI-BBO, Perusahaan telah diinformasikan

oleh PT Gajah Tunggal Mulia (Induk Perusahaan) bahwa penyelesaian kewajiban BDNI-BBO telah

dilakukan secara langsung oleh Induk Perusahaan melalui penyerahan aktiva milik Grup Gajah Tunggal

kepada BPPN pada bulan Mei 1999.

Sejak tahun 1999, Perusahaan dan anak perusahaan tertentu telah memulai negosiasi dengan para

krediturnya untuk merestrukturisasi pinjaman mereka. Seperti diungkapkan pada Catatan 16 atas laporan

keuangan konsolidasi, pada tanggal 12 Januari 2001, Perusahaan telah menerima konfirmasi dari salah

satu kreditur peserta sindikasi, yang mewakili 93% dari saldo pinjaman sindikasi, mengenai

persetujuannya atas usulan formal restrukturisasi pinjaman yang diajukan Perusahaan. Berkaitan dengan

kewajiban yang timbul dari transaksi “equity option” yang diungkapkan pada Catatan 20 atas laporan

keuangan konsolidasi, pihak kreditur telah menyetujui usulan penyelesaian kewajiban yang diajukan oleh

Induk Perusahaan kepada kreditur tersebut. Berdasarkan usulan penyelesaian tersebut, maka hak

penagihan atas kewajiban tersebut akan diambil alih oleh pihak lain yang dapat diterima oleh Induk

Perusahaan. Di samping itu, Induk Perusahaan juga telah memberikan komitmennya untuk memberikan

dukungan kepada Perusahaan dan, jika diperlukan, dalam bentuk dukungan keuangan untuk menjamin

penyelesaian kewajiban-kewajiban dan kelangsungan hidup Perusahaan. Sampai dengan tanggal laporan

auditor independen, proses negosiasi dengan pihak kreditur masih terus berlanjut.

Meskipun telah terdapat perkembangan yang positif seperti diuraikan dalam paragraf ketujuh dan

kedelapan di atas, masih terdapat ketidakpastian atas kondisi ekonomi Indonesia, termasuk pengaruh

rekapitalisasi industri perbankan yang sedang berlangsung dan restrukturisasi hutang bermasalah dari

debitur-debitur besar.

Akibatnya, kondisi ekonomi ini tetap menimbulkan ketidakpastian terhadap

kemampuan Perusahaan dan anak perusahaan tertentu untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan

operasinya di masa yang akan datang. Selain itu, seperti yang diuraikan dalam Catatan 16 atas laporan

keuangan konsolidasi, anak perusahaan tertentu telah gagal memenuhi kewajiban rasio keuangan yang

dipersyaratkan dalam perjanjian, dan sejak bulan September 2000, anak perusahaan tersebut tidak

melakukan pembayaran atas beban bunga pinjaman yang telah jatuh tempo kepada kreditur, namun,

sampai dengan tanggal laporan auditor independen, anak perusahaan tersebut belum menerima

pemberitahuan secara resmi dari krediturnya mengenai kegagalan tersebut. Berdasarkan perjanjian,

kegagalan tersebut mengakibatkan pinjaman dapat ditarik sewaktu-waktu. Selanjutnya, hasil akhir usulan

restrukturisasi pinjaman yang diajukan Perusahaan dan anak perusahaan tersebut kepada para krediturnya

belum dapat ditentukan pada saat ini. Faktor-faktor tersebut, antara lain, bersama-sama dengan hal-hal

lain yang diuraikan dalam Catatan 30 atas laporan keuangan konsolidasi, telah menimbulkan keraguan

yang substansial terhadap kemampuan Perusahaan dan anak perusahaan tertentu untuk mempertahankan

kelangsungan hidupnya dan, apakah Perusahaan dan anak perusahaan tertentu dapat merealisasikan aktiva

dan melunasi kewajibannya dalam kegiatan usaha yang normal dan pada nilai yang dinyatakan dalam

laporan keuangan konsolidasi. Rencana manajemen sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas juga

diungkapkan pada Catatan 30 atas laporan keuangan konsolidasi.

(5)

- 1c -

Laporan keuangan konsolidasi mencakup dampak memburuknya kondisi ekonomi sepanjang hal tersebut

dapat ditentukan dan diperkirakan jumlahnya. Pemulihan kondisi ekonomi Indonesia sangat tergantung

pada kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan lainnya yang telah dan akan diambil oleh pemerintah

Indonesia, suatu hal yang berada di luar kendali Perusahaan dan anak perusahaan. Oleh karena itu,

tidaklah mungkin untuk menentukan dampak kondisi ekonomi di masa yang akan datang terhadap

likuiditas, penghasilan dan realisasi piutang Perusahaan dan anak perusahaan, termasuk dampak yang

berasal dari kreditur, nasabah dan pemegang saham.

Seperti dijelaskan pada Catatan 3 atas laporan keuangan konsolidasi, anak perusahaan tertentu telah

menyajikan kembali laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 1999, untuk

memenuhi persyaratan yang dikeluarkan Menteri Keuangan dalam menghitung premi yang belum

merupakan pendapatan, untuk tujuan pelaporan kepada Departemen Keuangan. Akibatnya laporan

keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 1999 telah disajikan kembali

untuk mencerminkan penyajian kembali la poran keuangan anak perusahaan tersebut.

PRASETIO, UTOMO & CO.

NIU-KAP 98.2.0024

Drs. Mas Sutoyo

NIAP 98.1.0066

28 Mei 2001

(6)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

NERACA KONSOLIDASI

(Dalam Ribuan) 31 Desember 2000 1999 AKTIVA

KAS DAN SETARA KAS

(Catatan 2a, 2c, 2f, 4, 5 dan 31)

Kas Rp 420.755 Rp 433.695

Bank

Pihak ketiga 12.909.824 15.642.751

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 4.960.280 8.732.290

Sub-jumlah 17.870.104 24.375.041

Setara kas - deposito berjangka

Pihak ketiga 88.825.754 148.582.469

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 8.215.579 489.695

Sub-jumlah 97.041.333 149.072.164 Jumlah 115.332.192 173.880.900 Penyisihan - ( 280.480 ) Bersih 115.332.192 173.600.420

DEPOSITO (Catatan 2f, 4, 6 dan 31)

Deposito wajib 8.308.457 6.613.750

Deposito berjangka

Pihak ketiga 92.421.477 80.675.174

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 5.201.000 5.618.645

Sub-jumlah 97.622.477 86.293.819

Deposito Lembaga Kliring dan Penjaminan

Efek Indonesia 883.765 790.832

Jumlah 106.814.699 93.698.401

SERTIFIKAT BANK INDONESIA - Bersih

(Catatan 2d) 1.997.405 -

INVESTASI DALAM UNIT PENYERTAAN

REKSA DANA - Bersih (Catatan 2a, 2d, 2f,

4 dan 7) 35.304.775 33.381.036

(7)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

NERACA KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan)

31 Desember

2000 1999

SURAT BERHARGA YANG DIMILIKI DAN INVESTASI DALAM OBLIGASI - Setelah

dikurangi rugi yang belum direalisasi dari penurunan harga pasar sejumlah Rp 261.137 pada tahun 2000 dan Rp 20.658 pada

tahun 1999 (Catatan 2a, 2d, 2f, 4 dan 8) Rp 25.401.574 Rp 6.146.483

PIUTANG PREMI DAN REASURANSI

(Catatan 2f, 2k dan 4) 59.100.734 41.042.508

PIUTANG USAHA SEKURITAS DAN JASA

ADMINISTRASI EFEK (Catatan 2f dan 4) 4.086.228 24.380.154

PENANAMAN BERSIH SEWA GUNA USAHA

(Catatan 2e, 2f, 2g, 4, 9 dan 16)

Pihak ketiga 156.888.920 139.696.066

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 59.216.633 47.103.426

Penyisihan piutang sewa guna usaha diragukan ( 28.026.403 ) ( 36.801.518 )

Bersih 188.079.150 149.997.974

PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN

(Catatan 2e, 2f, 2h, 4, 10 dan 16)

Pihak ketiga 112.779.902 94.559.210

Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 1.060.247 988.960

Penyisihan piutang pembiayaan

konsumen diragukan ( 1.178.726 ) ( 42.045.912 )

Bersih 112.661.423 53.502.258

TAGIHAN ANJAK PIUTANG - Setelah dikurangi

penyisihan tagihan anjak piutang diragukan sejumlah Rp 55.946 pada tahun 2000 dan Rp 1.138.284 pada tahun 1999

(Catatan 2e, 2f, 2i, 4, 11 dan 16) 2.181.905 56.331.852

(8)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

NERACA KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan)

31 Desember

2000 1999

PENYERTAAN MODAL VENTURA - Setelah

dikurangi penyisihan kerugian sejumlah Rp 579.535 pada tahun 2000 dan 1999

(Catatan 2e, 2j dan 31) Rp 14.042.913 Rp 6.727.295

PENYERTAAN SAHAM - Setelah dikurangi

penyisihan penurunan nilai sejumlah Rp 1.385.236.475 pada tahun 2000 dan Rp 1.002.772.684 pada tahun 1999

(Catatan 2a, 2b, 2f, 12, 16 dan 20) 24.521.627 406.454.215

AKTIVA TETAP - Setelah dikurangi akumulasi

penyusutan sejumlah Rp 27.364.601 pada tahun 2000 dan Rp 21.846.694 pada

tahun 1999 (Catatan 2f, 2l, 4 dan 13) 39.055.918 34.643.024

AKTIVA YANG DISEWAGUNAUSAHAKAN -

Setelah dikurangi akumulasi penyusutan sejumlah Rp 158.606 pada tahun 2000 dan

Rp 52.875 pada tahun 1999

(Catatan 2g) 3.176.597 1.004.632

GOODWILL - Bersih (Catatan 2b dan 14) 7.948.771 8.533.847

AKTIVA PAJAK TANGGUHAN - Bersih

(Catatan 2t dan 18) 617.283.812 332.392.026

AKTIVA LAIN-LAIN - Bersih (Catatan 2m, 2n,

4, 15 dan 31) 223.109.713 121.195.786

JUMLAH AKTIVA (Catatan 29) Rp 1.580.099.436 Rp 1.543.031.911

(9)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

NERACA KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

31 Desember 1999 (Disajikan Kembali - 2000 Lihat Catatan 3)

KEWAJIBAN DAN DEFISIENSI MODAL

KEWAJIBAN

PINJAMAN YANG DITERIMA (Catatan 9, 10, 11,

12, 15 dan 16) Rp 1.080.057.699 Rp 799.208.928

HUTANG PREMI REASURANSI DAN KOMISI

(Catatan 2k ) 47.438.839 32.540.239

KEWAJIBAN MANFAAT POLIS MASA DEPAN, PREMI YANG BELUM MERUPAKAN

PENDAPATAN, ESTIMASI KLAIM DAN

KEWAJIBAN KEPADA PEMEGANG UNIT LINK

(Catatan 2p, 2q, 3 dan 17) 109.260.908 70.528.228

HUTANG PAJAK (Catatan 2t dan 18) 22.192.978 15.421.677

BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR DAN KEWAJIBAN

JANGKA PENDEK LAINNYA (Catatan 19) 149.390.758 96.661.501

KEWAJIBAN PAJAK TANGGUHAN – Bersih

(Catatan 2t dan 18) 1.569.455 219.715

PINJAMAN SUBORDINASI (Catatan 2f dan 4) - 181.998.265

KEWAJIBAN LAIN-LAIN (Catatan 12 dan 20) 519.617.230 384.500.504

JUMLAH KEWAJIBAN (Catatan 3) 1.929.527.867 1.581.079.057

HAK MINORITAS ATAS AKTIVA BERSIH

ANAK PERUSAHAAN (Catatan 2b dan 3) 36.017.642 42.857.595

(10)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

NERACA KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

31 Desember 1999 (Disajikan Kembali - 2000 Lihat Catatan 3) DEFISIENSI MODAL

Modal saham - nilai nominal Rp 500

Modal dasar - 5.760.000.000 saham

Modal ditempatkan dan disetor -

1.441.440.000 saham (Catatan 21) Rp 720.720.000 Rp 720.720.000

Agio saham 230.588.000 230.588.000

Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan

(Catatan 2b) 131.538.844 135.179.790

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan

(Catatan 2b) 865.784 443.176

Defisit (Catatan 3) ( 1.469.158.701 ) ( 1.167.835.707 )

Defisiensi Modal – Bersih (Catatan 3) ( 385.446.073 ) ( 80.904.741 )

JUMLAH KEWAJIBAN DAN DEFISIENSI MODAL Rp 1.580.099.436 Rp 1.543.031.911

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan.

(11)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI

(Dalam Ribuan, Kecuali Data Per Saham)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada

Tanggal-tanggal 31 Desember 1999 (Disajikan Kembali - 2000 Lihat Catatan 3) PENDAPATAN

Underwriting asuransi - bersih

(Catatan 2f, 2r, 3, 4 dan 22) Rp 123.723.994 Rp 64.156.342

Bunga (Catatan 2f, 2r, 4, 5, 6 dan 23) 26.789.131 43.368.762

Provisi dan komisi - bersih (Catatan 2r) 23.889.267 33.775.317

Sewa guna usaha (Catatan 2g) 20.932.908 18.391.530

Pembiayaan konsumen (Catatan 2h) 17.479.040 14.112.081

Anjak piutang (Catatan 2i) 4.187.283 16.963.773

Modal ventura (Catatan 2j) 2.012.315 1.069.516

Bagian atas laba bersih perusahaan asosiasi

(Catatan 2b dan 12) 570.169 55.844

Laba selisih kurs - bersih (Catatan 2s) - 114.966.370

Lain-lain (Catatan 2f, 2r dan 4) 5.647.512 34.151.383

Jumlah Pendapatan (Catatan 29) 225.231.619 341.010.918

BEBAN

Penyisihan penurunan nilai penyertaan saham

(Catatan 12) 382.463.791 1.002.772.684

Rugi selisih kurs - bersih (Catatan 2s) 318.848.141 -

Bunga dan pembiayaan lainnya

(Catatan 2r, 16 dan 24) 104.178.722 74.593.539

Underwriting asuransi - bersih (Catatan 2r dan 25) 93.771.257 33.176.690

Umum dan administrasi (Catatan 2f, 2o, 2r, 4,

26 dan 27) 87.108.497 76.256.173

Penyisihan piutang ragu-ragu (Catatan 2e, 9,

10 dan 11) 2.308.781 43.305.035

Amortisasi goodwill (Catatan 2b dan 14) 585.076 585.076

Non-operasional lainnya - 2.056.663

Jumlah Beban 989.264.265 1.232.745.860

RUGI SEBELUM POS LUAR BIASA ( 764.032.646 ) ( 891.734.942 )

POS LUAR BIASA

Potongan yang diterima atas pelunasan pinjaman

subordinasi (Catatan 2f dan 4) 185.823.877 -

RUGI SEBELUM BEBAN (MANFAAT) PAJAK ( 578.208.769 ) ( 891.734.942 )

(12)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan, Kecuali Data Per Saham)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada

Tanggal-tanggal 31 Desember 1999 (Disajikan Kembali - 2000 Lihat Catatan 3)

BEBAN (MANFAAT) PAJAK (Catatan 2t dan 18)

Pajak kini Rp 2.991.551 Rp 10.287.922

Pajak tangguhan ( 283.542.045 ) ( 310.852.907 )

Beban (Manfaat) Pajak - Bersih ( 280.550.494 ) ( 300.564.985 )

RUGI SEBELUM HAK MINORITAS ATAS LABA

BERSIH ANAK PERUSAHAAN ( 297.658.275 ) ( 591.169.957 )

HAK MINORITAS ATAS LABA BERSIH

ANAK PERUSAHAAN (Catatan 2b dan 3) ( 3.664.719 ) ( 6.777.202 )

RUGI BERSIH (Catatan 3 dan 29) (Rp 301.322.994 ) (Rp 597.947.159 )

RUGI BERSIH PER SAHAM (Catatan 2u dan 3) (Rp 209 ) (Rp 415 )

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan.

(13)

- 9

-

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN (dahulu

PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

LAPORAN PERUBAHAN DEFISIENSI MODAL KONSOLIDASI (Dalam Ribuan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada

Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 dan 1999

Saldo Laba Selisih Transaksi Perubahan Selisih Kurs Sudah Belum Ekuitas Anak Karena Penjabaran D itentukan Ditentukan Modal Saha m Agio Saham Perusahaan Laporan Keuangan Penggunaannya Penggunaannya S u b -Jumlah B e rsih Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Saldo, 1 Januari 1999 720.720.000 230.588.000 - 603.435 - ( 569.888.548 ) ( 569.888.548 ) 382.022.887 Rugi bersih

Sebagaimana disajikan sebelumnya

- - - - - ( 594.846.233 ) ( 594.846.233 ) ( 594.846.233 ) Penyesuaian sehubungan dengan

Surat Keputusan Menteri Keuangan

No. 481/KMK.017/1999 (Catatan 2p dan 3) - - - - - ( 3.100.926 ) ( 3.100.926 ) ( 3.100.926 )

Setelah disajikan kembali

- - - - - ( 597.947.159 ) ( 597.947.159 ) ( 597.947.159

Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan (

Catatan 2b ) - - 135.179.790 - - - - 135.179.790

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan

(Catatan 2b) - - - ( 160.259 ) - - - ( 160.259 )

Saldo, 31 Desember 1999 (Disajikan Kembali)

720.720.000 230.588.000 135.179.790 443.176 - ( 1.167.835.707 ) ( 1.167.835.707 ) ( 80.904.741 ) Rugi bersih - - - - - ( 301.322.994 ) ( 301.322.994 ) ( 301.322.994 )

Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan (

Catatan 2b ) - - ( 3.640.946 ) - - - - ( 3.640.946 )

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan

(Catatan 2b) - - - 422.608 - - - 422.608 Saldo, 31 Desember 2000 720.720.000 230.588.000 131.538.844 865.784 - ( 1.469.158.701 ) ( 1.469.158.701 ) ( 385 .446.073 )

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi

(14)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI

(Dalam Ribuan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada

Tanggal-tanggal 31 Desember

2000 1999

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan kas dari pelanggan Rp 424.155.001 Rp 345.853.082

Pencairan (penempatan) deposito - bersih 22.127.980 ( 58.077.125 )

Pembiayaan pelanggan ( 243.347.331 ) ( 209.158.841 )

Biaya operasional ( 80.946.719 ) ( 71.498.354 )

Penjualan (pembelian) investasi dalam unit penyertaan reksa dana, surat berharga yang

dimiliki dan investasi dalam obligasi - bersih ( 32.242.963 ) ( 1.196.286 )

Penerimaan (pembayaran) bunga - bersih ( 12.616.607 ) 2.467.969

Pembayaran (penerimaan restitusi) pajak - bersih ( 12.043.033 ) ( 15.292.635 )

Penerimaan (pembayaran) aktivitas

operasi lainnya - bersih ( 20.593.688 ) 52.572.250

Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi 44.492.640 45.670.060

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Penerimaan dari penjualan investasi

dalam bentuk properti 3.663.250 -

Hasil penjualan aktiva tetap 3.529.611 2.881.367

Penerimaan dividen kas 240.315 60.075

Pembelian aktiva tetap ( 13.922.480 ) ( 11.394.276 )

Penyertaan saham ( 4.455.908 ) ( 1.519.600 )

Pembelian investasi dalam bentuk properti - ( 30.261.000 )

Penempatan Sertifikat Bank Indonesia ( 1.997.405 ) -

Penerimaan (pembayaran) aktivitas

investasi lainnya - bersih 611.375 -

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi ( 12.331.242 ) ( 40.233.434 )

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Penerimaan dari pemegang saham minoritas

anak perusahaan 75.000 5.000

Penempatan rekening escrow ( 91.637.527 ) -

Pembayaran pinjaman subordinasi ( 20.647.098 ) -

Pembayaran dividen kas kepada pemegang

saham minoritas anak perusahaan ( 3.702.458 ) ( 2.424.445 )

Pembayaran pinjaman yang diterima - ( 538.080 )

Penerimaan (pembayaran) aktivitas pendanaan

lainnya - bersih ( 300.000 ) 2.286.250

Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan ( 116.212.083 ) ( 671.275 )

(15)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI (Lanjutan)

(Dalam Ribuan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada

Tanggal-tanggal 31 Desember

2000 1999

PENGARUH BERSIH ATAS PERUBAHAN KURS PADA KAS DAN SETARA KAS YANG

DIDENOMINASI DALAM MATA UANG ASING Rp 25.501.977 ( Rp 1.818.132 )

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH

KAS DAN SETARA KAS ( 58.548.708 ) 2.947.219

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 173.880.900 170.933.681

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN Rp 115.332.192 Rp 173.880.900

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan.

(16)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

1. U M U M

PT GT Investama Kapital Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Jakarta dengan nama PT Gajah Surya Arta Leasing berdasarkan akta notaris Didi Sudjadi, S.H., No. 1 tanggal 1 November 1982, yang kemudian diubah dengan akta No. 30 tanggal 6 Maret 1985 oleh notaris yang sama. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-1698.HT.01.01.Th.85 tanggal 30 Maret 1985, dan diumumkan dalam Berita Negara No. 85 tanggal 24 Oktober 1986. Perusahaan kemudian mengubah namanya menjadi PT BDNI Capital Corporation Tbk, dan terakhir diubah lagi menjadi PT GT Investama Kapital Tbk pada tanggal 7 Februari 2001. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaris Rachmat Santoso, S.H., No. 98 tanggal 11 Juli 2000, sehubungan dengan perubahan nama Perusahaan dan penyesuaian anggaran dasar Perusahaan terhadap ketentuan Undang-Undang No. 1 tahun 1995. Perubahan ini telah diterima dan dicatat oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-1183.HT.01.04-Th.2001 tanggal 7 Februari 2001.

Berdasarkan Pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan, mencakup antara lain, jasa, perdagangan, industri dan konstruksi. Pada saat ini, Perusahaan hanya bergerak dalam kegiatan penyertaan saham. Perusahaan beralamat di Wisma Diners Club, Lantai 6, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 34, Jakarta. Kegiatan usahanya dimulai tahun 1985.

Ringkasan kebijakan Perusahaan yang dapat mempengaruhi efek yang diterbitkan (corporate action) sejak penawaran umum perdana sampai dengan tanggal 31 Desember 2000, adalah sebagai berikut:

Jumlah Saham

Tanggal Keterangan Ditempatkan

23 Oktober 1989 Penawaran Umum Perdana 2.000.000

11 Juni 1990 Penawaran Umum Terbatas I 4.000.000

17 Juni 1991 Company listing 8.000.000

8 Agustus 1991 Pembagian dividen saham 1.400.000

14 Agustus 1992 Pembagian saham bonus 24.640.000

5 Mei 1994 Penawaran Umum Terbatas II 120.120.000

7 Oktober 1996 Penawaran Umum Terbatas III 560.560.000

1 Desember 1997 Pemecahan saham (stock split) dengan mengubah

nominal saham dari Rp 1.000 menjadi Rp 500 per saham 1.441.440.000

Pada tanggal 31 Desember 2000, seluruh saham Perusahaan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.

Pada tanggal 31 Desember 2000, susunan komisaris dan direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

Komisaris Direksi

Presiden Komisaris : - Marzuki Usman Presiden Direktur : - Sujitno Siswowidagdo

Komisaris : - Kamardy Arief Direktur : - Tetty Lanawati Gozali

- Romulus Maroeli Toea - Muhammad Zulkifli Abusuki

Hariandja - Junus Kamarga

(17)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Pada tahun 2000, Perusahaan membayarkan gaji dan kesejahteraan karyawan kepada komisaris dan direksi Perusahaan sejumlah Rp 2.118.426. Pada tanggal 31 Desember 2000, Perusahaan dan anak perusahaan mempunyai karyawan tetap sekitar 1.001 orang (tidak diaudit).

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi

Laporan keuangan konsolidasi disusun berdasarkan konsep biaya historis, kecuali untuk efek tertentu yang dinyatakan berdasarkan nilai realisasi bersih (pasar), penyertaan saham tertentu yang dicatat dengan metode ekuitas, dan investasi dalam unit penyertaan reksa dana yang dinyatakan berdasarkan nilai aktiva bersih reksa dana pada tanggal neraca. Laporan keuangan konsolidasi ini disajikan dengan menggunakan dasar akrual kecuali laporan arus kas konsolidasi. Laporan arus kas konsolidasi menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang dikelompokkan menjadi aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Mulai tanggal 1 Januari 2000, arus kas yang berasal dari aktivitas operasi disajikan dengan menggunakan metode langsung sesuai dengan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) No. KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 sebagai pengganti Peraturan No. VIII.G.7 “Pedoman Penyajian Laporan Keuangan”. Sebelum tahun 2000, arus kas yang berasal dari operasi disajikan dengan menggunakan metode tidak langsung. Untuk tujuan perbandingan, laporan arus kas konsolidasi untuk tahun sebelumnya telah disajikan kembali untuk menyesuaikan dengan penyajian pada tahun 2000.

Mata uang pelaporan dan fungsional yang digunakan oleh Perusahaan dan anak perusahaan adalah Rupiah, kecuali BDNI Capital International B.V. (BCI).

b. Prinsip-prinsip Konsolidasi

Laporan keuangan konsolidasi meliputi laporan keuangan Perusahaan dan anak perusahaan di bawah ini yang dimiliki lebih dari 50%, kecuali PT Bank Dagang Nasional Indonesia Tbk (BDNI-BBO), baik secara langsung dan/atau tidak langsung:

Persentase

Mulai Pemilikan Jumlah Aktiva

Beroperasi

Anak Perusahaan Kegiatan Usaha Lokasi Komersial 2000 1999 2000 1999

% % Rp Rp

PT Gajah Surya Finance Sewa guna usaha, Jakarta 1996 99,99 99,85 726.893.048 622.066.293

(GSF) pembiayaan

konsumen dan

anjak piutang

BDNI Capital International Jasa keuangan Amsterdam, 1997 100,00 100,00 573.112.406 385.746. 517

B.V. (BCI) Belanda

PT Asuransi Dayin Asuransi kerugian Jakarta 1982 73,92 73,92 154.508.599 128.698.156 Mitra Tbk (ADM) dan reasuransi

PT Asuransi Jiwa Binadaya Asuransi jiwa Jakarta 1987 80,12 75,40 133.158.876 98.339.362 Nusaindah (AJBN)

PT Datindo Entrycom Jasa administrasi Jakarta 1991 99,69 92,00 49.301.117 56.425.010 dan anak perusahaan efek

(DE) (Berlanjut)

(18)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Persentase

Mulai Pemilikan Jumlah Aktiva

Beroperasi

Anak Perusahaan Kegiatan Usaha Lokasi Komersial 2000 1999 2000 1999

% % Rp Rp

PT Gajah Nusantara Penjamin emisi efek, Jakarta 1992 82,03 79,73 30.326.512 54.530.592 Sekuritas (dahulu perantara pedagang

PT BDNI Securities) efek, manajer

(GNS) investasi dan

penasehat investasi

PT Ventura Investasi Modal ventura Jakarta 1995 74,99 67,16 19.024.789 16.094.748 Utama dan anak

perusahaan (VIU)

PT Lumbung Sari (LS) Pialang asuransi Jakarta 1982 99,82 97,71 9.703.577 7.061.040

DE memiliki dua (2) anak perusahaan yaitu PT Lintas Dunia Travelindo (LDT) dengan persentase kepemilikan 99,686% dan 99% masing-masing pada tahun 2000 dan 1999 dan PT Aneka Komoditas Futureindo (AKF) dengan persentase kepemilikan 63,2% pada tahun 2000. LDT mulai beroperasi pada tahun 1999 sedangkan AKF sampai dengan 28 Mei 2001, tanggal laporan auditor independen, belum beroperasi.

VIU memiliki dua (2) anak perusahaan yaitu PT Ventura Investasi Prima dengan persentase kepemilikan masing-masing 50,33% dan 50,38% pada tahun 2000 dan 1999 dan PT Ventura Investasi Perdana dengan persentase kepemilikan 50,67% dan 50,75% masing-masing pada tahun 2000 dan 1999. Keduanya mulai beroperasi pada tahun 2000.

Semua saldo akun dan transaksi yang signifikan antara perusahaan yang dikonsolidasi telah dieliminasi. Bagian proporsional dari pemegang saham minoritas disajikan sebagai “Hak Minoritas atas Aktiva Bersih Anak Perusahaan” di neraca konsolidasi.

Penyertaan saham dari Perusahaan dan anak perusahaan dengan persentase pemilikan paling sedikit 20% tetapi tidak lebih dari 50% disajikan dengan metode ekuitas (equity method), dimana penyertaan saham dinyatakan sebesar biaya perolehannya ditambah/dikurangi dengan bagian atas laba (rugi) bersih perusahaan asosiasi sejak tanggal perolehan. Bagian atas laba (rugi) disesuaikan dengan amortisasi atas selisih antara biaya perolehan penyertaan saham dan proporsi pemilikan Perusahaan atau anak perusahaan atas nilai wajar aktiva bersih pada tanggal akuisisi (goodwill) dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) selama dua puluh (20) tahun. Manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa potensi pertumbuhan dan laba dari anak perusahaan relatif baik, sehingga goodwill diamortisasi selama periode maksimum dua puluh (20) tahun.

Penyertaan saham lainnya disajikan sebesar biaya perolehan (cost method).

Anak-anak perusahaan tertentu mempunyai transaksi dengan pihak yang secara langsung atau tidak langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh/atau berada di bawah pengendalian yang sama seperti yang dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 38, “Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali”. Selisih antara harga pengalihan dengan nilai buku setiap transaksi antara entitas sepengendali dibukukan dalam akun “Selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas anak perusahaan dan diakui oleh Perusahaan dan disajikan sebagai “Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan” pada bagian Defisiensi Modal dari neraca konsolidasi.

(19)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Berdasarkan PSAK No. 40, “Akuntansi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan”, selisih antara nilai tercatat investasi Perusahaan dan bagian atas nilai aktiva bersih dari anak perusahaan sebagai akibat adanya perubahan ekuitas anak perusahaan yang bukan berasal dari transaksi antara Perusahaan dan anak perusahaan tersebut dicatat dan disajikan sebagai “Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan” pada bagian Defisiensi Modal dari neraca konsolidasi.

Pada tahun 2000 dan 1999, untuk keperluan konsolidasi, akun-akun dari BCI dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan dasar sebagai berikut:

Akun-akun neraca – kurs tengah pada tanggal neraca (Rp 4.044,04 per NLG 1 pada

tahun 2000 dan Rp 3.243,56 per NLG 1 pada tahun 1999).

Akun-akun laporan laba rugi – kurs rata-rata selama tahun berjalan (Rp 3.547,46 per NLG 1

pada tahun 2000 dan Rp 3.761,82 per NLG 1 pada tahun 1999). Selisih kurs karena penjabaran neraca dan laporan laba rugi disajikan pada akun “Selisih Kurs Karena Penjabaran Laporan Keuangan” pada bagian Defisiensi Modal dari neraca konsolidasi.

c. Setara Kas

Deposito dengan jangka waktu tiga (3) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan atas pembelian dan tidak digunakan sebagai jaminan pinjaman dan hutang lainnya, diklasifikasikan sebagai “Setara Kas”.

d. Sertifikat Bank Indonesia, Investasi Dalam Unit Penyertaan Reksa Dana, Surat Berharga yang Dimiliki dan Investasi Dalam Obligasi

Sertifikat Bank Indonesia disajikan sebesar nilai nominal setelah dikurangi dengan bunga yang belum diamortisasi.

Surat berharga yang dimiliki dan investasi dalam obligasi terdiri dari efek saham dan efek hutang yang terdaftar pada bursa efek di Indonesia.

Sesuai dengan PSAK No. 50, “Akuntansi Investasi Efek Tertentu”, efek saham, efek hutang dan unit penyertaan reksa dana diklasifikasikan ke dalam salah satu (1) dari tiga (3) kelompok berikut ini:

(i) Dimiliki hingga jatuh tempo

Dinyatakan sebesar nilai perolehan setelah disesuaikan dengan amortisasi premi atau akselerasi diskonto;

(ii) Diperdagangkan

Dinyatakan sebesar harga pasar dan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan harga dicatat dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan; dan

(iii) Tersedia untuk dijual

Dinyatakan sebesar nilai realisasi bersih (nilai pasar) dan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan nilai pasar dicatat pada bagian Defisiensi Modal di neraca konsolidasi.

(20)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Selisih laba atau rugi yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan harga pasar surat berharga sebelum PSAK ini berlaku dilaporkan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan. Berdasarkan klasifikasi yang baru, selisih laba atau rugi yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan harga pasar surat berharga disajikan sebagai bagian dari Ekuitas. Namun demikian selisih perubahan harga pasar surat berharga Perusahaan pada tahun 2000 dan 1999 disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi karena pengaruhnya tidak material.

Perhitungan biaya perolehan efek yang dijual menggunakan metode rata-rata bergerak.

e. Penyisihan Piutang Tak Tertagih

Anak perusahaan melakukan penyisihan piutang tak tertagih, jika ada, berdasarkan hasil penelaahan secara berkala terhadap keadaan akun piutang masing-masing pelanggan.

f. Transaksi dengan Pihak -pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa

Perusahaan dan anak perusahaan mempunyai transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Sesuai dengan PSAK No. 7, “Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”, yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah: (i) perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan, atau

dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);

(ii) perusahaan asosiasi (associated company);

(iii) perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor);

(iv) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan

(v) perusahaan dimana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (iii) atau (iv), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.

Semua saldo dan transaksi yang signifikan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan persyaratan dan kondisi normal sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi.

(21)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

g. Akuntansi Sewa Guna Usaha

Perlakuan akuntansi untuk transaksi-transaksi sewa guna usaha mengikuti PSAK No. 30,

“Akuntansi Sewa Guna Usaha”, yang memuat kriteria akuntansi untuk sewa guna usaha. Sesuai dengan pernyataan ini, transaksi sewa guna usaha yang memenuhi semua kriteria berikut ini dibukukan dengan menggunakan metode sewa guna usaha pembiayaan (finance lease method). (i) Penyewagunausaha memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewa guna usaha pada

akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.

(ii) Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewagunausaha ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian biaya perolehan barang modal yang disewa guna usaha serta bunga yang merupakan keuntungan perusahaan sewa guna usaha (full payout lease).

(iii) Masa sewa guna usaha minimum dua (2) tahun.

Transaksi sewa guna usaha yang tidak memenuhi salah satu kriteria tersebut di atas dibukukan dengan menggunakan metode sewa menyewa biasa (operating lease method).

Dalam metode sewa menyewa biasa, seluruh pembayaran sewa yang diterima dari penyewagunausaha selama tahun berjalan diakui sebagai pendapatan. Aktiva yang disewagunausahakan terdiri dari tanah dan bangunan. Bangunan disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dengan tarif penyusutan yang sama dengan tarif penyusutan aktiva tetap.

Dalam metode sewa guna usaha pembiayaan (finance lease method), kelebihan dari seluruh jumlah sewa guna usaha dan nilai sisa atas biaya perolehan aktiva sewa guna usaha, dicatat sebagai pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui, dan akan diakui sebagai pendapatan sesuai dengan jangka waktu sewa guna usaha pada tingkat pengembalian yang tetap dari penanaman bersih dalam sewa guna usaha. Pelunasan sebelum masa sewa guna usaha berakhir dianggap sebagai suatu pembatalan kontrak sewa guna usaha, dan laba atau rugi yang timbul diakui dalam tahun berjalan.

h. Akuntansi Pembiayaan Konsumen

Pembiayaan konsumen disajikan sebesar jumlah pokok pembiayaan setelah dikurangi pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui.

Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui, yang merupakan selisih antara jumlah pembayaran angsuran yang akan diterima dari konsumen dengan jumlah pokok pembiayaan, akan diakui sebagai pendapatan selama jangka waktu perjanjian pembiayaan konsumen pada tingkat pengembalian yang tetap dari piutang bersih pembiayaan konsumen.

i. Akuntansi Anjak Piutang

Tagihan anjak piutang dicatat berdasarkan jumlah pembiayaan yang dikeluarkan oleh anak perusahaan tertentu yang bergerak dalam bidang pembiayaan yang dihitung berdasarkan persentase tertentu dari nilai piutang (faktur) yang diserahkan transferor. Pendapatan administrasi diakui pada saat transaksi dilakukan dan pendapatan anjak piutang dicatat atas dasar terjadinya.

(22)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Sesuai dengan PSAK No. 43, “Akuntansi Anjak Piutang”, yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 1998, tagihan anjak piutang dengan kewajiban untuk menanggung risiko (with recourse) dinyatakan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi dikurangi dengan retensi dan penyisihan penghapusan piutang tak tertagih. Selisih antara tagihan anjak piutang dengan jumlah pembayaran kepada transferor ditambah retensi merupakan pendapatan anjak piutang ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan selama perjanjian anjak piutang.

j. Penyertaan Modal Ventura

Kegiatan usaha penyertaan modal ventura yang dilakukan anak perusahaan tertentu terdiri atas penyertaan dengan pola bagi hasil dan penyertaan dalam obligasi konversi.

Penyertaan modal ventura disajikan sebesar saldo penyertaan pola bagi hasil dan nilai nominal obligasi konversi setelah dikurangi penyisihan kerugian penyertaan.

Penyertaan dengan pola bagi hasil merupakan penyertaan kepada Perusahaan Pasangan Usaha dengan jangka waktu pengembalian berkisar antara satu (1) sampai dengan lima (5) tahun. Hasil penyertaan diakui sesuai dengan perjanjian bagi hasil yang telah disepakati selama jangka waktu penyertaan.

Pendapatan provisi diakui pada saat perjanjian penyertaan modal ditandatangani. Pendapatan provisi disajikan sebagai “Pendapatan Lain-lain” pada laporan laba rugi konsolidasi.

k . Reasuransi

Untuk mengurangi risiko penutupan polis asuransi, anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi kerugian dan jiwa mereasuransikan sebagian risiko polis yang ditutupnya kepada reasuradur dan tidak mengakui ganti rugi atas klaim asuransi yang menjadi tanggungan reasuradur. Jika reasuradur tidak dapat memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian reasuransi, maka akan timbul kewajiban kontinjensi atas seluruh klaim tersebut. Dalam kegiatan operasi normal, anak perusahaan tertentu mempunyai perjanjian reasuransi treaty yang bersifat prospektif fakultatif maupun “excess of loss”.

l. Aktiva Tetap

Aktiva tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan, dikurangi akumulasi penyusutan. Metode dan tarif yang digunakan untuk menghitung penyusutan aktiva tetap adalah sebagai berikut:

Metode Garis Lurus Metode Saldo Menurun Ganda

Perusahaan Anak Perusahaan Perusahaan Anak Perusahaan

(Tahun) (Tahun) (%) (%)

Bangunan dan prasarana 20 4 sampai 20 - -

Pengembangan ruang kantor - 4 sampai 20 - -

Kendaraan - 4 sampai 5 - 25 dan 50

Peralatan dan perabotan

kantor - 3 sampai 5 25 dan 50 25 dan 50

Mesin - - - 12,5

(23)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Sesuai dengan PSAK No. 47, “Akuntansi Tanah”, semua biaya yang terjadi sehubungan dengan perolehan hak atas tanah ditangguhkan dan disajikan secara terpisah dari harga perolehan tanah. Beban tangguhan tersebut, yang meliputi antara lain biaya perizinan, biaya notaris, pajak dan biaya lainnya yang berhubungan dengan hal tersebut, diamortisasi selama masa manfaat hak atas tanah yang bersangkutan dengan menggunakan metode garis lurus.

Selanjutnya, PSAK No. 48, “Penurunan Nilai Aktiva”, yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 2000, mengharuskan nilai tercatat aktiva dikaji kembali atas kemungkinan penurunan nilai wajar aktiva yang disebabkan oleh peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan nilai tercatatnya mungkin tidak dapat dipulihkan. Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat dari seluruh aktiva Perusahaan dan anak perusahaan dapat dipulihkan, sehingga tidak diperlukan penurunan nilai atas aktiva tersebut.

Biaya perbaikan dan pemeliharaan rutin dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya; pemugaran dan penambahan dalam jumlah signifikan dan yang meningkatkan manfaat aktiva tetap dikapitalisasi ke akun aktiva tetap yang bersangkutan. Aktiva tetap yang sudah tidak dipergunakan lagi atau yang dijual, nilai tercatat dan akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap yang bersangkutan dan laba atau rugi yang terjadi disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun yang bersangkutan.

m. Aktiva yang Dimiliki Kembali

Aktiva yang dimiliki kembali (disajikan dalam akun “Aktiva Lain-lain”) dinyatakan sebesar saldo bersih pada saat penarikan dikurangi penurunan nilai pasar aktiva tersebut. Penyisihan penurunan nilai pasar aktiva yang dimiliki kembali ditentukan berdasarkan penelaahan terhadap nilai aktiva yang dimiliki kembali pada akhir tahun. Aktiva yang dijual dikeluarkan sebesar nilai yang tercatat pada saat aktiva tersebut dimiliki kembali beserta penyisihan penurunan nilai pasar aktiva yang bersangkutan, dan laba atau rugi yang terjadi disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun yang bersangkutan.

n. Biaya Dibayar di Muka

Biaya dibayar di muka (disajikan dalam akun “Aktiva Lain-lain”) diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya.

o. Dana Pensiun

Perusahaan dan anak perusahaan mempunyai program pensiun iuran pasti untuk seluruh karyawan yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh Perusahaan dan anak perusahaan.

p. Premi yang Belum Merupakan Pendapatan

Anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi kerugian dan jiwa menghitung premi yang belum merupakan pendapatan berdasarkan metode persentase agregrat dari premi tanggungan sendiri dengan tarif 40% sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 481/KMK.017/1999 tanggal 7 Oktober 1999. Sebelum tahun 1999, premi yang belum merupakan pendapatan dihitung secara harian, dikurangi bagian yang direasuransikan untuk setiap polis, sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 224/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993.

(24)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

q. Kewajiban Manfaat Polis Masa Depan, Estimasi Klaim dan Kewajiban Kepada Pemegang Unit Link

Kewajiban manfaat polis masa depan dibentuk oleh anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi jiwa berdasarkan perhitungan aktuaria anak perusahaan tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 481/KMK.017/1999 tanggal 7 Oktober 1999 dengan menggunakan formula sebagai berikut:

- Tabel mortalita CSO 1958 dan CSO 1980;

- Tingkat bunga maksimal 9% untuk Rupiah dan 5% untuk Dolar A.S.;

- Modifikasi Zillmer 25% untuk polis-polis yang diterbitkan sebelum Februari 1994, metode INA

dan metode prospektif yang besar cadangannya tidak kurang dari besarnya cadangan premi yang dihitung dengan metode prospektif premi neto dengan biaya tahun pertama diamortisasi 30% dari uang pertanggungan untuk polis-polis yang diterbitkan setelah Februari 1994.

Formula perhitungan ini dilakukan secara prospektif dengan interpolasi linear dan cara perhitungan tersebut telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan cq Direktorat Asuransi.

Estimasi klaim dibentuk berdasarkan jumlah kewajiban yang menjadi tanggungan sendiri sehubungan dengan adanya klaim yang masih dalam proses penyelesaian termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan. Estimasi klaim anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi kerugian setelah dikurangi klaim reasuransi kepada reasuradur. Kenaikan (penurunan) estimasi klaim retensi sendiri pada awal dan akhir tahun menambah (mengurangi) beban klaim. Sedangkan untuk anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi jiwa estimasi klaim meliputi klaim yang sudah dilaporkan dan disetujui tetapi masih dalam proses pembayaran.

Kewajiban kepada pemegang unit link diakui anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi jiwa pada saat penerimaan dana menjadi unit, setelah dikurangi biaya-biaya dan akan bertambah atau berkurang sesuai dengan nilai aktiva bersih yang berlaku.

r. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pendapatan:

(i) Pengakuan pendapatan atas sewa guna usaha, pembiayaan konsumen dan anjak piutang diuraikan masing-masing pada Catatan 2g, 2h dan 2i.

(ii) Pengakuan pendapatan atas penyertaan modal ventura diuraikan pada Catatan 2j.

(iii) Anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi mengakui pendapatan underwriting sebagai berikut:

Asuransi Kerugian

Premi bruto diakui pada saat polis diterbitkan kepada pelanggan dan premi yang bersangkutan ditagih. Premi diakui sebagai pendapatan premi tanggungan sendiri setelah dikurangi premi reasuransi dan disesuaikan dengan perubahan bersih premi yang belum merupakan pendapatan.

(25)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

Premi reasuransi diakui dalam periode yang sama dengan periode pengakuan pendapatan premi yang bersangkutan.

Premi dari polis bersama (koasuransi) diakui sebesar pangsa premi yang diterima. Asuransi Jiwa

Pendapatan premi bruto diakui pada saat premi diterima dari pemegang polis dan pemegang unit link untuk polis yang baru dan pada saat jatuh tempo untuk polis yang diperpanjang. Pendapatan premi yang telah jatuh tempo lebih dari sembilan puluh (90) hari tidak diakui, kecuali pembayaran premi tersebut diterima.

(iv) Anak perusahaan yang bergerak dalam usaha perantara pedagang efek dan jasa administrasi efek pada umumnya mengakui pendapatan pada saat penyerahan jasa selesai.

Beban:

(i) Beban diakui pada saat terjadinya.

(ii) Anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi mengakui beban underwriting sebagai berikut:

Asuransi Kerugian

Beban klaim diakui atas dasar penetapan klaim bruto setelah diteliti dan disetujui oleh anak perusahaan tersebut. Anak perusahaan menagih klaim yang menjadi bagian reasuradur dan diperlakukan sebagai pengurang klaim bruto. Kewajiban yang timbul sehubungan dengan beban klaim ini disajikan sebagai bagian dari “Estimasi Klaim” pada neraca konsolidasi, sedangkan tagihan kepada reasuradur disajikan sebagai bagian dari “Piutang Premi dan Reasuransi”.

Biaya penerbitan polis seperti komisi dan beban underwriting lainnya dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan pada saat terjadinya.

Asuransi Jiwa

Biaya klaim diakui setelah diteliti dan disetujui oleh anak perusahaan tersebut.

Beban akuisisi yang terkait dengan penutupan polis yang menimbulkan pendapatan premi dan mempunyai manfaat di kemudian hari ditangguhkan dan dialokasikan berdasarkan perhitungan aktuaria di mana “Kewajiban Manfaat Polis Masa Depan” dihitung dengan menggunakan metode tingkat premi murni (net level premium method). Beban akuisisi lainnya dibebankan langsung dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan.

s. Transaksi dan Saldo Dalam Mata Uang Asing

Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan nilai kurs yang dipublikasikan Bank Indonesia pada hari terakhir transaksi perbankan pada tahun tersebut dan laba atau rugi selisih kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun berjalan.

Pada tanggal 31 Desember 2000 dan 1999, kurs yang digunakan masing-masing adalah Rp 9.595 dan Rp 7.100 per US$ 1.

(26)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

t. Beban (Manfaat) Pajak

Perusahaan dan anak perusahaan menerapkan PSAK No. 46, “Akuntansi Pajak Penghasilan”, yang mengharuskan perhitungan pengaruh pajak atas pemulihan aktiva dan penyelesaian kewajiban sebesar nilai tercatat, dan pengakuan serta pengukuran aktiva dan kewajiban pajak tangguhan atas pengaruh pajak yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang atas kejadian-kejadian yang diakui pada laporan keuangan konsolidasi, termasuk rugi fiskal dari periode-periode sebelumnya yang dapat dikompensasikan.

u Rugi Bersih Per Saham

Rugi bersih per saham dihitung dengan membagi rugi bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan (1.441.440.000 saham).

3. PENYAJIAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

Seperti yang diungkapkan pada Catatan 2p, dalam memenuhi persyaratan yang dikeluarkan Menteri Keuangan dalam surat keputusan No. 481/KMK.017/1999 tanggal 7 Oktober 1999, anak perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi jiwa harus menghitung premi yang belum merupakan pendapatan untuk produk asuransi kesehatan, kecelakaan diri dan kematian Eka Warsa dengan menggunakan persentase agregat dari premi tanggungan sendiri sebesar 40%. Dalam laporan keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 1999, premi yang belum merupakan pendapatan dihitung secara individu. Laporan keuangan konsolidasi tahun 1999 telah disajikan kembali untuk mencerminkan perubahan tersebut.

Ringkasan laporan keuangan konsolidasi tanggal 31 Desember 1999 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sebelum dan sesudah penyajian kembali adalah sebagai berikut:

Sebagaimana Disajikan

Sebelumnya Disajikan Kembali

Jumlah kewajiban Rp 1.576.966.423 Rp 1.581.079.057

Hak minoritas atas aktiva bersih

anak perusahaan 43.869.303 42.857.595

Defisit ( 1.164.734.781 ) ( 1.167.835.707 )

Defisiensi modal ( 77.803.815 ) ( 80.904.741 )

Rugi bersih ( 594.846.233 ) ( 597.947.159 )

Rugi bersih per saham ( 413 ) ( 415 )

4. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA

a. Dalam kegiatan usaha normal, Perusahaan dan anak perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Transaksi-transaksi signifikan yang dilakukan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut:

– Perusahaan dan anak perusahaan menerima bunga dari penempatan dalam bentuk rekening

koran, tabungan dan deposito berjangka yang jatuh tempo dalam periode kurang dari tiga (3) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan (lihat Catatan 5) serta deposito berjangka (lihat

Catatan 6) pada Bank Ganesha (BG), perusahaan asosiasi, yang dilakukan dengan

(27)

PT GT INVESTAMA KAPITAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

(dahulu PT BDNI CAPITAL CORPORATION Tbk)

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Lanjutan)

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Dalam Ribuan, Kecuali Nilai Nominal Dan Data Saham)

bunga yang berasal dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut adalah sejumlah Rp 714.994 dan Rp 1.997.722 atau merupakan 2,67% dan 4,61% dari pendapatan bunga konsolidasi (lihat Catatan 23) masing-masing untuk tahun 2000 dan 1999.

– Perusahaan mempunyai perjanjian kerjasama jasa konsultasi manajemen dengan PT Gajah

Tunggal Mulia (GTM), Induk Perusahaan. Sebagai kompensasi, Perusahaan wajib untuk membayar jasa konsultasi manajemen yang ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Jasa konsultasi manajemen yang dibayarkan adalah sejumlah Rp 99.000 dan Rp 93.600 masing-masing pada tahun 2000 dan 1999.

– Pinjaman subordinasi dari GTM, yang merupakan pinjaman tanpa jaminan, tidak dibebani

bunga dan tidak memiliki jadwal pelunasan yang tetap. Pada bulan Desember 2000, GTM memberikan potongan atas pelunasan pinjaman subordinasi sebesar 90% dari total pinjaman atau sejumlah Rp 163.798.439 sedangkan sisanya dibayar tunai oleh Perusahaan, sehingga pada tanggal 31 Desember 2000 pinjaman subordinasi tersebut bersaldo nihil, sedangkan pada tanggal 31 Desember 1999 berjumlah Rp 181.998.265.

− Anak perusahaan tertentu melakukan penempatan dalam bentuk unit penyertaan reksa dana,

surat berharga dan obligasi tertentu yang dikeluarkan oleh pihak yang mempunyai hubungan

istimewa (lihat Catatan 7 dan 8).

– GSF, anak perusahaan, melakukan pembiayaan sewa guna usaha (lihat Catatan 9),

pembiayaan konsumen (lihat Catatan 10) serta tagihan anjak piutang (lihat Catatan 11) yang diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Penghasilan sehubungan dengan transaksi pembiayaan yang berasal dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut adalah sejumlah Rp 7.886.869 dan Rp 17.756.431 atau merupakan 18,51% dan 35,90% dari jumlah pendapatan pembiayaan konsolidasi, masing-masing untuk tahun 2000 dan 1999. Saldo piutang yang timbul dari transaksi ini adalah sejumlah Rp 72.401.696, Rp 1.409.512 dan nihil untuk masing-masing pembiayaan pada tanggal 31 Desember 2000

dan sejumlah Rp 58.519.370, Rp 1.416.974 dan Rp 64.046.146 untuk masing-masing

pembiayaan pada tanggal 31 Desember 1999.

– Pada tahun 2000, GSF menghapusbukukan tagihan anjak piutangnya kepada PT Diners Jaya

Indonesia Internasional sejumlah Rp 46.713.335. Selain itu, GSF telah menerima sejumlah pembayaran tagihan anjak piutang dari PT Angkasa Interland sejumlah US$ 2.024 atau setara dengan Rp. 12.144.050, sedangkan sisanya sejumlah Rp 3.010.000 dibebankan pada operasi tahun berjalan (lihat Catatan 11).

– ADM, anak perusahaan yang bergerak dalam usaha asuransi kerugian dan reasuransi,

melakukan penutupan asuransi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar 22,95% dan 31,69% dari seluruh pendapatan premi konsolidasi (lihat Catatan 22) untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2000 dan 1999 dengan rincian sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

PT ETERINDO WAHANATAMA Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2009 dan 2008. (Disajikan

Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku

400.000.000.000 yang terbagi atas 25.000.000 saham seri A dengan nilai nominal Rp. 100 per saham menjadi Rp. 100 dan peningkatan modal ditempatkan dan disetor yang semula

Bagian Laba (Rugi) Bersih Perusahaan Asosiasi dan jointly controlled entities mengalami kenaikan signifikan sebesar 80% dari Rp 283,2 miliar menjadi Rp 509,8 miliar. Kontribusi

Beban sewa dan jasa pelayanan atas transaksi diatas sejumlah Rp5,59 miliar dan Rp4,7 miliar disajikan sebagai bagian dari akun “Beban Umum dan Administrasi - Sewa”

Aktiva tetap Anak perusahaan tertentu dengan nilai buku keseluruhan sejumlah Rp 81,1 milyar dan Rp 28,6 milyar masing-masing pada tanggal 31 Desember 2001 dan 2000, digunakan sebagai

Bagian Laba (Rugi) Bersih Perusahaan Asosiasi dan Jointly Controlled Entities mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp 251,4 miliar atau 49,3% dari Rp 509,8 miliar menjadi Rp

Atas Surat Tagihan Pajak (STP) tersebut Perusahaan (PT. BNP) telah melakukan pencatatan dengan membebankan pada laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember