• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Aktivitas Antibakteri

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak

tanaman Peperomia pellucida L. terhadap bakteri Escherichia coli dan

Bacillus cereus. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman Peperomia pellucida L. memiliki daya hambat yang baik atau cukup efektif yang ditandai dengan besarnya daerah hambat pada masing-masing perlakuan dan

konsentrasi yang terlihat seperti lingkaran pembatas antara bakteri dan

ekstrak. Bakteri tidak dapat berkembang pada daerah penghambat tersebut.

Hasil pengukuran daerah hambat ekstrak antibakteri terhadap pertumbuhan

bakteri Escherichia coli dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Diameter Daerah Hambat Ekstrak Antibakteri terhadap Pertumbuhan Escherichia coli

No Jenis Ekstrak Konsentrasi Ekstrak R (mm) D (mm) Kriteria Hambat 1 Rebus A (35%) 0,91 1,82 Lemah B (40%) 3,69 7,38 Sedang C (45%) 5,26 10,52* Kuat 2 Tumbuk A (35%) 2,71 5,42 Sedang B (40%) 4,89 9,78 Sedang C (45%) 7,87 15,74* Kuat

3 Kontrol + 15,62 31,24 Sangat Kuat

4 Kontrol - 0 0 Tidak ada

Keterangan: Simbol (*) menyatakan daerah hambat paling besar dari masing-masing perlakuan antibakteri yang diujikan terhadap E. Coli

R : Jari-jari daerah hambat D : Diameter daerah hambat

Pada tabel 4.3, dapat dilihat bahwa pengujian aktivitas antibakteri

terhadap pertumbuhan Escherichia coli menunjukkan hasil diameter daerah hambat paling besar pada perlakuan ekstrak tumbuk dengan konsentrasi 45%

yang memiliki rerata diameter daerah hambat sebesar 15,74 mm sedangkan

yang diberi perlakuan ekstrak rebus dengan konsentrasi 45% memiliki rerata

diameter daerah hambat sebesar 10,52 mm. Perbandingan daerah hambat

yang dihasilkan antara ekstrak tumbuk dan ekstrak rebus terhadap

Gambar 4.1. Diameter Daerah Hambat pada Perlakuan Ekstrak Rebus dan Ekstrak Tumbuk terhadap Escherichia coli

Dalam uji statistik didapatkan hasil bahwa data diameter daerah

hambat terhadap Escherichia coli memiliki distribusi yang normal karena memiliki nilai signifikansi 0,998 (>0,05). Dari hasil uji homogenitas

menunjukkan bahwa data memiliki signifikansi sebesar 0,732 (>0,05)

sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok data mempunyai varian

sama. Setelah memenuhi persyaratan, maka dilakukan Analisis Varian Dua

Arah (Two ways Annova) yang hasilnya adalah pengaruh semua variabel independen (ekstrak, konsentrasi, dan interaksi ekstrak dengan konsentrasi)

secara bersama-sama terhadap variabel dependen (diameter daerah hambat E. coli) memiliki nilai signifikansi 0,000 (< 0,05) berarti model valid. Pengaruh ekstrak terhadap diameter daerah hambat E. coli berpengaruh signifikan karena memiliki nilai 0,001 (< 0,05). Pengaruh konsentrasi terhadap diameter

daerah hambat E. coli memiliki nilai 0,000 sehingga dapat dikatakan signifikan (< 0,05). Sedangkan pengaruh interaksi ekstrak dan konsentrasi

terhadap diameter daerah hambat E. coli memiliki nilai 0,408 sehingga 0 5 10 15 20 35% 40% 45% Konsentrasi Ekstrak D iam et er H am b at ( m m ) Ekstrak Rebus Ekstrak Tumbuk

interaksi ekstrak dan konsentrasi tidak berpengaruh signifikan. R kuadrat

menunjukkan nilai 0,900 dimana mendekati 1 maka korelasi kuat.

Selanjutnya dilakukan pengujian untuk menilai kategori dari variabel

konsentrasi yang memiliki perbedaan signifikan dengan Tukey Post Hoc. Hasilnya variabel konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.

Output data uji statistik aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli

dilakukan menggunakan SPSS versi 16 dapat dilihat pada Lampiran 2.

Hasil pengukuran daerah hambat ekstrak antibakteri terhadap

pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Diameter Daerah Hambat Ekstrak Antibakteri terhadap

Pertumbuhan Bacillus cereus

Keterangan: Simbol (*) menyatakan daerah hambat paling besar dari masing-masing perlakuan antibakteri yang diujikan terhadap B. Cereus

R : Jari-jari daerah hambat D : Diameter daerah hambat

Pada tabel 4.4 dapat dilihat pengujian antibakteri dari ekstrak rebus

dan ekstrak tumbuk tanaman suruhan (Peperomia pellucida L.) menunjukkan hasil yang memiliki beda nyata terhadap pertumbuhan Bacillus cereus. Pada

-Bacillus cereus yang diberi perlakuan ekstrak tumbuk dengan konsentrasi 45% memiliki rerata diameter daerah hambat terbesar yaitu 19,5 mm dan

No Jenis Ekstrak Konsentrasi Ekstrak R (mm) D (mm) Kriteria Hambat 1 Rebus A (35%) 0 0 Tidak ada B (40%) 4,65 9,30 Sedang C (45%) 8,45 16,9* Kuat 2 Tumbuk A (35%) 3,98 7,96 Sedang B (40%) 8,25 16,50 Kuat C (45%) 9,75 19,50* Kuat

3 Kontrol + 28,76 57,52 Sangat Kuat

yang diberi perlakuan ekstrak rebus dengan konsentrasi 45% memiliki rerata

diameter daerah hambat sebesar 16,9 mm. Perbandingan daerah hambat yang

dihasilkan antara ekstrak tumbuk dengan ekstrak rebus terhadap Bacillus cereus dapat dilihat dalam Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Diameter Daerah Hambat pada Perlakuan Ekstrak Rebus dan Ekstrak Tumbuk terhadap Bacillus cereus

Analisis statistik diawali dengan uji normalitas dan didapatkan hasil

bahwa data diameter daerah hambat terhadap Bacillus cereus memiliki distribusi yang normal karena memiliki nilai signifikansi sebesar 0,971 (>

0,05). Uji homogenitas menunjukkan bahwa data memiliki signifikansi

sebesar 0,316 (> 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok data

mempunyai varian yang sama. Setelah memenuhi persyaratan, maka

dilakukan Analisis Varian Dua Arah (Two ways Annova) yang hasilnya adalah pengaruh semua variabel independen (ekstrak, konsentrasi, dan

interaksi ekstrak dengan konsentrasi) secara bersama-sama terhadap variabel

dependen (diameter daerah hambat B. cereus) memiliki nilai signifikansi 0,000 (< 0,05) berarti model valid. Pengaruh ekstrak terhadap diameter

0 5 10 15 20 25 35% 40% 45% Konsentrasi Ekstrak D iam et er H am b at ( m m ) Ekstrak Rebus Ekstrak Tumbuk

daerah hambat B. cereus berpengaruh signifikan karena memiliki nilai 0,000 (< 0,05). Pengaruh konsentrasi terhadap diameter daerah hambat B. cereus

memiliki nilai 0,000 sehingga dapat dikatakan signifikan (< 0,05). Sedangkan

pengaruh interaksi ekstrak dan konsentrasi terhadap diameter daerah hambat

B. cereus memiliki nilai 0,165 sehingga interaksi ekstrak dan konsentrasi tidak berpengaruh signifikan. R kuadrat menunjukkan nilai 0,917 dimana

mendekati 1 maka korelasi kuat. Selanjutnya dilakukan pengujian untuk

menilai kategori dari variabel konsentrasi yang memiliki perbedaan signifikan

dengan Tukey Post Hoc. Hasilnya variabel konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Output data uji statistik aktivitas antibakteri terhadap

Bacillus cereus dilakukan menggunakan SPSS versi 16 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Daerah bening yang terbentuk di sekitar cakram kertas pada media

kultur dalam uji aktivitas antibakteri membuktikan bahwa ekstrak rebus dan

ekstrak tumbuk tanaman suruhan (Peperomia pellucida L.) memiliki sifat antibakteri terhadap pertumbuhan awal Escherichia coli dan Bacillus cereus. Daerah bening adalah daerah yang tidak ditumbuhi bakteri serta terlihat lebih

jernih dibandingkan dengan area di sekitarnya. Kemampuan ekstrak tanaman

suruhan (Peperomia pellucida L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri karena adanya senyawa aktif metabolit sekunder dalam tanaman. Dalimartha

(2006) mengungkapkan bahwa seluruh bagian tanaman suruhan mengandung

saponin, tannin, alkaloid, kalsium oksalat, lemak dan minyak atsiri. Hal ini

tumbuhan ini mengandung steroid, flavonoid, triterpenoid, dan karbohidrat.

Mekanisme kerja dari flavonoid sebagai zat antibakteri adalah mengganggu

aktivitas transpeptidase peptidoglikan sehingga pembentukan dinding sel

terganggu dan sel mengalami lisis (Cowan, 1999). Maryani (2013)

menyatakan bahwa tanin menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara

menghambat metabolisme sel, mengganggu sintesa dinding sel, dan merusak

membran sel. Kerusakan pada membran sel dapat mencegah masuknya

bahan-bahan makanan atau nutrisi yang diperlukan bakteri untuk

menghasilkan energi. Akibatnya bakteri akan terhambat pertumbuhannya dan

bahkan mati.

Hasil pengukuran diameter daerah hambat menunjukkan bahwa

ekstrak tumbuk dan ekstrak rebus memiliki perbedaan yang nyata terhadap

pertumbuhan Escherichia coli dan Bacillus cereus. Ekstrak tumbuk memiliki aktivitas hambat yang lebih besar daripada ekstrak rebus, baik terhadap

Escherichia coli maupun Bacillus cereus. Ekstrak tumbuk merupakan ekstrak murni tanpa penambahan pelarut, sehingga metabolit sekunder yang terdapat

dalam tanaman akan tersari seluruhnya. Sedangkan ekstrak rebus

menggunakan pelarut air. Dewi (2010) menyatakan bahwa pelarut air

merupakan pelarut universal yang dapat melarutkan hampir sebagian besar

komponen senyawa yang terkandung dalam tanaman. Selain itu, Harbone

(1987) berpendapat bahwa flavonoid merupakan senyawa yang polar atau

larut dalam air. Alasan tersebut dapat menunjukkan bahwa senyawa flavonoid

ini menyebabkan aktivitas antibakteri senyawa flavonoid kurang maksimal

bekerja.

Hasil rerata diameter daerah hambat dari pada ekstrak rebus dan

ekstrak tumbuk dengan konsentrasi 35%, 40%, dan 45% menunjukkan hasil

yang berbeda nyata. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak tumbuk dan ekstrak

rebus Peperomia pellucida L. maka semakin kuat aktivitas antibakterinya dilihat dari besarnya daerah hambat yang dihasilkan. Hasil yang didapatkan

sesuai dengan penelitian yang dilakukan Natarini (2007) bahwa peningkatan

konsentrasi berpengaruh terhadap daya kerja antibakteri. Semakin tinggi

konsentrasi maka akan semakin tinggi pula kemampuan antibakteri dalam

menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini disebabkan karena peningkatan

konsentrasi menyebabkan semakin besar kadar metabolit sekunder yang

terkandung dalam ekstrak. Dahlman (2007) menyebutkan bahwa efektivitas

suatu bahan bergantung pada banyak faktor seperti konsentrasi, suhu dan

waktu.

Ekstrak rebus tanaman suruhan memiliki daya hambat lemah hingga

kuat terhadap Escherichia coli dan Bacillus cereus. Ekstrak tumbuk memiliki daya hambat sedang hingga kuat terhadap Escherichia coli dan Bacillus cereus. Penentuan kriteria ini berdasarkan Davis dan Stout (1971) yang melaporkan bahwa ketentuan kekuatan daya antibakteri sebagai berikut:

daerah hambatan di atas 20 mm termasuk sangat kuat, daerah hambatan 10-20

mm kategori kuat, daerah hambatan 5-10 mm kategori sedang dan daerah

Dilihat dari besarnya daerah hambat, secara umum antibakteri

memiliki daya hambat lebih besar terhadap bakteri gram positif Bacillus cereus daripada bakteri gram negatif Escherichia coli. Pada tabel 4.3 dan tabel 4.4 menunjukkan bahwa zat antibakteri dari ekstrak rebus dan ekstrak

tumbuk tanaman suruhan lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan

bakteri gram positif dibandingkan dengan penghambatan pertumbuhan

bakteri gram negatif. Kontrol positif juga menunjukkan efektivitas yang sama

dengan ekstrak tanaman suruhan yaitu lebih efektif dalam menghambat

bakteri gram positif dibandingkan penghambatan bakteri gram negatif. Hal ini

menunjukkan bahwa bakteri gram positif lebih rentan oleh senyawa

antibakteri ekstrak tanaman suruhan daripada bakteri gram negatif. Perbedaan

sensitivitas bakteri terhadap aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh struktur

dinding sel bakteri. Bakteri gram positif cenderung lebih sensitif terhadap

antibakteri karena struktur dinding sel bakteri gram positif lebih sederhana

dibandingkan struktur dinding sel bakteri gram negatif sehingga memudahkan

senyawa antibakteri untuk masuk ke dalam sel bakteri gram positif (Brooks

dkk, 2004).

Perbedaan struktur dinding sel menentukan penetrasi, ikatan dan

aktivitas senyawa antibakteri (Brooks dkk, 2004). Bakteri gram positif

memiliki struktur dinding sel dengan lebih banyak peptidoglikan, sedikit lipid

dan dinding sel mengandung polisakarida (asam teikoat). Asam teikoat

merupakan polimer yang larut dalam air, yang berfungsi sebagai transport ion

bakteri gram positif bersifat lebih polar. Sedangkan senyawa flavonoid dalam

tanaman suruhan merupakan bagian yang bersifat polar sehingga lebih mudah

menembus lapisan peptidoglikan yang bersifat polar daripada lapisan lipid

yang nonpolar. Rusaknya dinding sel bakteri oleh zat antibakteri dapat

menyebabkan sel bakteri lisis.

Kerusakan dinding sel akan berakibat terjadinya perubahan-perubahan

yang mengarah pada kematian sel karena dinding sel berfungsi sebagai

pengatur zat-zat dari luar ke dalam (Brooks dkk, 2004). Hal tersebut

menyebabkan aktivitas penghambatan pada bakteri gram positif lebih besar

daripada bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif lebih banyak

mengandung lipid, sedikit peptidoglikan, membran luar berupa bilayer yang

berfungsi sebagai pertahanan selektif senyawa-senyawa yang keluar atau

masuk sel dan menyebabkan efek toksik. Membran luar bakteri gram negatif

terdiri dari fosfolipid (lapisan dalam) dan lipopolisakarida (lapisan luar) yang

tersusun atas lipid A dan bersifat nonpolar. Hal ini yang menyebabkan

senyawa antibakteri pada ekstrak tanaman suruhan lebih sulit untuk masuk ke

dalam sel sehingga aktivitas antibakterinya lebih lemah dibandingkan pada

bakteri gram positif.

Kontrol negatif yang berupa aquades steril tidak menunjukkan adanya

zona hambat. Hal ini mengindikasikan bahwa kontrol negatif yang digunakan

tidak berpengaruh pada uji antibakteri. Sedangkan kontrol positif yang berupa

formaldehid berpengaruh terhadap kedua jenis bakteri baik Escherichia coli

yang terbesar pada aktivitas pertumbuhan Bacillus cereus, yaitu sebesar 57,52 mm sedangkan pada aktivitas pertumbuhan Escherichia coli diameter penghambatannya sebesar 31,24. Aktifitas penghambatan yang dilakukan

oleh kontrol positif tergolong kategori sangat kuat. Formaldehid membunuh

bakteri dengan cara membuat jaringan dalam bakteri mengalami dehidrasi

(kekurangan air) (Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2004).

Dokumen terkait