• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Aktivitas Antikonvulsi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda

Pada penelitian ini, parameter yang diamati ada tiga, yaitu onset konvulsi, durasi proteksi terhadap kematian selama 2 jam dan jumlah kematian selama 2 jam. Masing-masing hewan uji setelah diberikan bahan uji (ekstrak etanol bunga pagoda) pada kelompok yang telah ditentukan, diberikan penginduksi konvulsi yaitu isoniazid.

Isoniazid dapat menimbulkan konvulsi dengan cara menghambat sintesis GABA (gamma amino butirat acid). GABA merupakan neurotransmiter derivat asam amino yang bersifat inhibitori yang dapat menghiperpolarisasikan neuron

sistem saraf pusat (Harahap dan Hadisahputra, 1999), sehingga apabila jumlah GABA menurun, akan terjadi efek konvulsi. Lebih lengkapnya, enzim dekarboksilase asam glutamat dihambat oleh pyridoxal 5 posphat yang merupakan kofaktor bagi enzim tersebut, akibatnya terjadi penurunan jumlah GABA (Vasu dan Saluja, 2005).

Konvulsi yang ditimbulkan oleh berkurangnya GABA di sistem saraf pusat ditandai dengan aktivitas yang berlebihan, gerakan-gerakan yang abnormal yang berlangsung singkat tetapi cenderung untuk berulang (Mycek, 2001).

Hasil dari penelitian aktivitas antikonvulsi dengan metode induksi konvulsi oleh isoniazid 250 mg/kgbb dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan grafik pada Gambar 4.2.

Tabel 4.2 Aktivitas antikonvulsi ekstrak etanol bunga pagoda

keterangan: p : nilai signifikansi, baris pertama dibandingkan terhadap kontrol (Na-CMC), baris kedua dibandingkan terhadap pembanding (diazepam).

* : berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05) # : berbeda bermakna terhadap pembanding (p < 0,05)

Gambar 4.2 Onset konvulsi dari hewan uji yang diberi sediaan uji ekstrak etanol

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan onset konvulsi antara kelompok kontrol dengan kelompok pembanding dan kelompok uji yang diberikan ekstrak etanol bunga pagoda (EEBP). Pada kelompok kontrol timbulnya konvulsi lebih cepat dibandingkan kelompok lain. Perbedaan antar kelompok dianalisis dengan melihat perbedaan bermakna antara kelompok uji terhadap kontrol dan pembanding (Jones, 2010).

Kelompok uji EEBP dosis 200 mg/kg bb, memiliki onset konvulsi sebesar 36,70 ± 1,36 menit, hal ini lebih lama 6,85 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 21,22 menit. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 400 mg/kg bb, memiliki onset konvulsi sebesar 38,28 ± 1,80 menit, hal ini lebih lama

0

8,43 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p <

0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 19,54 menit. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 800 mg/kg bb, onset konvusi sebesar 37,23 ± 1,79 menit, hal ini lebih lama 7,3 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 20,59 menit. Apabila dibandingkan dengan diazepam, semua kelompok dosis tidak menunjukkan potensi penghambatan onset konvulsi sebesar diazepam.

Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan secara bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok dosis yang diberikan ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200, 400 dan 800 mg/kg bb, dan berbeda nyata antara kelompok kontrol terhadap kelompok pembanding dosis 10 mg/kg bb.

Gambar 4.3 Durasi proteksi terhadap kematian dari ekstrak etanol bunga pagoda

Keterangan: Kontrol (Na CMC 1%)

Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 200 mg/kg bb Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 400 mg/kg bb Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 800 mg/kg bb Pembanding (Diazepam 10 mg/kg bb)

(*) : Berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05)

Selanjutnya, parameter yang diamati adalah durasi proteksi terhadap kematian dalam 2 jam, dimulai pada saat hewan uji mulai terjadi konvulsi hingga hewan uji tersebut mati dan diamati selama 2 jam.

Dari hasil analisis statistik terlihat adanya perbedaan durasi proteksi (memperlama kematian) antara kelompok kontrol dengan kelompok uji. Pada kelompok kontrol, kematian dalam 2 jam lebih cepat terjadi dibanding kelompok uji dan pembanding.

Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 36,38 ± 1,44 menit, hal ini lebih lama 8,27 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 24,25 menit terhadap diazepam. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 400 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 42,36 ± 2,10 menit, hal ini lebih lama 14,25 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 18,27 menit.

Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 800 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 38,49 ± 1,41 menit, hal ini lebih lama 10,38 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 22,14 menit.

Antar kelompok dosis, terlihat dosis 400 mg/kg bb menunjukkan aktivitas antikonvulsi yang relatif lebih baik dibandingkan kelompok lain. Namun setelah dianalisis secara statistik, perbedaan aktivitas ini tidak berbeda bermakna. Artinya mulai dosis 200 sampai 800 mg/kg bb efek antikonvulsi yang ditimbulkan relatif sama. Peningkatan dosis obat seharusnya akan meningkatkan respon yang sebanding dengan dosis yang ditingkatkan, namun dengan meningkatnya dosis

peningkatan respon pada akhirnya akan menurun, karena sudah tercapai dosis yang sudah tidak dapat meningkatkan respon lagi. Hal ini sering terjadi pada obat bahan alam, karena komponen senyawa yang dikandungnya tidaklah tunggal melainkan terdiri dari berbagai macam senyawa kimia, dimana komponen–

komponen tersebut saling bekerja sama untuk menimbulkan efek. Namun dengan peningkatan dosis, jumlah senyawa kimia yang dikandung semakin banyak, sehingga terjadi interaksi merugikan yang menyebabkan menurunnya efek.

Jumlah reseptor yang terbatas juga membatasi efek yang ditimbulkan, sehingga walaupun dosis ditingkatkan, respon tidak bertambah (Bourne dan Zastrow, 2001).

Pada jumlah kematian, EEBP dosis 200 dan 400 mg/kg bb dapat menghambat kematian sebesar 16,67% atau menyebabkan kematian sebesar 83,33% dibandingkan kelompok kontrol yang tidak terproteksi seluruhnya, yaitu terjadi kematian sebesar 100%. Pada EEBP dosis 800 mg/kg bb terjadi kematian sebesar 100%, artinya dosis ini tidak dapat menghambat kematian akibat konvulsi yang terjadi. Diazepam pada kelompok pembanding mampu mencegah 100 % kematian pada hewan uji, dan terbukti mampu menenangkan serangan konvulsi yang diakibatkan oleh isoniazid (Harahap dan Hadisahputra, 1999).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa:

a. kandungan senyawa kimia dari ekstrak etanol bunga pagoda yang terdeteksi dengan alat GC-MS sebagian besar adalah golongan terpenoid.

b. ekstrak etanol bunga pagoda memiliki aktivitas antikonvulsi yang diinduksi oleh isoniazid.

c. ekstrak etanol bunga pagoda dapat memperlambat onset konvulsi pada semua kelompok dosis.

d. ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200, 400, 800 mg/kg bb memberikan proteksi terhadap kematian dengan memperlama waktu kematian.

e. ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200 dan 400 mg/kg bb dapat menghambat kematian sebesar 16,67%.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menguji ekstrak n-heksan bunga pagoda (Clerodendrum japonicum (Thunb) Sweet) sebagai antikonvulsi.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta, A. (2000). Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung : Penerbit ITB. Hal. 29-34.

Alagpulinsa, A. D. (2010). Anticonvulsant and Neurobehavioural Effects of the Aqueous Leaf Extract of Leea Guineensis G. Don. Department of Pharmacology.(1).8

Benson, L. (2006). Plant Clasification. California: D.C. Heath and Company. Hal 227.

Bourne dan Zastrow. (2001). Reseptor dan Farmakodinamika Obat. Dalam : Farmakologi Dasar dan Klinik. Editor: Bertham, Katzung. Penerjemah:

Dripa Sjabana. Buku ke-I. Edisi ke-8. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Hal. 23.

Dalimartha, S. (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya. Hal. 38-40.

Depkes R.I. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI.Hal. 10, 17, 31-32.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 33.

Gritter, R. N., Bobbit, J. M., dan Schwattingn. (1991). Introduction of Chromatography. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. Pengantar Kromatografi. Edisi ke-3. Bandung: Penerbit ITB. Hal .36-39.

Guessan, K. N., Zirihi, G. N., dan Mea, A. (2010). Hypotensive Effect of Aqueous Extract of Clerodendrum Inerme Leaves on the Arterial Pressure of Rabbits. International Journal of Pharmaceutical and Biomedical Research. 1(2): 73-77.

Gyawali, R., dan Kim, K. S. (2009). Volatile Organic Compounds of Medicinal Values from Nepalese Acorus calamus L. Kathmandu University Journal of Science. 5(2): 58.

Hafiz, I. (2013). Uji Efek Sedatif-Hipnotik Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Clerodendrum Japonicum (Thunb) Sweet. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Harahap, U., dan Hadisahputra, S. (1999). Telaah Penggunaan Benzodiazepin (BD) Versus Strikhnin (STN) pada Percobaan Stimulansia SSP

Berdasarkan Tapak Tindak BD pada Neurotransmitter Inhibitori γ- aminobutyric acid (GABA) dan STN pada Neurotransmitter Inhibitori Glisin di SSP. Media Farmasi An Indonesian Pharmaceutical Journal.

7(1): 18-19.

Hariana, A. (2008). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 60-62.

Iptek. (2005). Bunga Pagoda. Sentra informasi ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

http://www.iptek.net.id. Diakses tanggal 30 januari 2012.

Ismail, M. (2006). Central Properties and Chemical Composition of Ocimum basilicum Esential Oil. Pharmaceutical Biology. 44(8): 619-626.

Istiantoro, Y. H., dan Setiabudi, R. (2007). Tuberkulostatik dan Leprostatik.

Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Editor: Sulistia Gunawan Ganiswara.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal 613-615.

Johnston, G. (2005). GABAA Receptor Channel Pharmacology. Current Pharmaceutical Design. 1(11): 1878-1879.

Jones, D.S. (2010). Statistik Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hal. 318, 330-332.

Joseph, J., dan Bidhu, A. R. (2011). Antimicrobial Activity Clerodendrum panicilatum Linn. Leaves. International Journal of Research in Aturveda and Pharmacy. 2(3): 1003-1004.

Leandro, L.M., Vargas, S.F., dan Barbosa, Paula, C.S.B. (2012). Chemistry and Biological Activities of Terpenoids from Copaiba (Copaifera Spp.) Oleoresin. Molekules Journal 1(2): 3873-3877.

Mycek, J.M. (2001). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi kedua. Jakarta:

Widia Medika. Hal. 144.

Narusuye, K., Kawai, F., Matsuzaki K, dan Miyachi, E. (2005). Linalool Suppresses voltage-gate currents in sensory neurons and cerebelar Purkinje Cells. Neural Transm. 1(1): 193-203.

Parmar, N. S., dan Prakash, S. (2006). Screening Methods in Pharmacology.

Oxford: Alpha Science International Ltd. Hal 93.

Purba, J. (2008). Epilepsi: Permasalahan di Reseptor atau Neurotransmitter.

Medicinus Scientific Journal of Pharmaceutical Development and Medical Aplication. 2(4): 99.

Rohman, A., dan Gandjar, I.G. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:

Penerbit Pustaka Pelajar. Hal. 419-441.

Sastrohamidjojo, H. (2004). Dasar-dasar Spektroskopi. Edisi ke-I. Yogyakarta:

Liberty. Hal 161.

Shrivastava, N., dan Patel, T. (2007). Clerodendrum Heathcare: An Overview.

Medicinal and Aromatic Plant Science and Biotechnology 1(1): 142-150.

Silva, L. (2001). Effect of Linalool on Glutamate Release and Uptake in Mouse Cortical Synaptosomes. Neuro Chem Res. 1(4): 191-194.

Sinta, M dan Wiria, S. (2007). Hipnotik-Sedatif dan Alkohol. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Editor: Sulistia Gunawan Ganiswara. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal. 139-160.

Suhatri dan Rasyid, R. (2010). Aktivitas Jamu Penenang Sebagai Antikonvulsi Pada Mencit Putih Jantan. Skripsi. Padang: Universitas Andalas.

Tan, T. H., dan Rahardja, K. (2007). Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke-5. Cetakan Kedua. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Hal 191-195.

Trevor, A.J., dan Way, W.L. (2006). Sedative-Hipnotive Drug. Basic and Clinical Pharmacology. Edisi ke-10. Editor: Bertram G. katzung. San Francisco:

Mc Graw Hill. Hal 347-360.

Utama. H., dan Gan. V. H. (2007). Antiepilepsi dan Antikonvulsi. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Editor: Sulistia Gunawan Ganiswara. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI. Hal 180-190.

Vasu, T., dan Saluja, J. (2005). INH Induced Status Epilepticus: Response to Pyridoxin. Department of Medicine. 1(1): 205-206.

Verma, A., dan Bahar, A. (2009). Anti-hepatotoxic Activity of Clerodendrum phlomidis. International Journal of PharmTech Research. 1(4): 1028-1031.

Vogel, H.G. (2008). Drug Discovery and Evaluation Pharmacological Assay.

Second Edition. New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Hal. 576 dan 710.

Lampir an 1. Hasil identifikasi tanaman

Lampiran 2. Gambar bunga pagoda

Lampiran 3. Laporan hasil analisa sampel

Lampiran 4. Contoh perhitungan dosis

Contoh perhitungan dosis untuk mencit dengan berat badan 28 g dengan dosis ekstrak etanol bunga pagoda 200 mg/kg BB

200 mg

1000 g × 28g = 5,6mg

Konsentrasi suspensi ekstrak yang dibuat 4 % = 4 g/100 ml = 4000 mg/100 ml = 40 mg/ ml

Jumlah obat yang di suntikkan:

5,6 mg

40 mg/ml = 0,18 ml

Digunakan syringe 1 ml dengan skala 80, maka 1 skala = 0,0125 ml Maka suspensi yang diberikan:

0,18

0,0125 = 14,4 skala

Lampiran 5. Alat-alat a. Oral sonde + spuit 1 ml

Lampiran 6. Hewan percobaan

Hewan saat terjadinya konvulsi

Dokumen terkait