• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Konvulsi

2.5.6 Farmakologi Neuron GABAergik

Obat-obat yang mempengaruhi fungsi GABAergik adalah dengan cara berinteraksi dengan berbagai tapak yang berbeda baik di presinaptik dan possinaptik pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Skema yang menggambarkan petunjuk kemungkinan tapak tindakan obat pada Neuron GABAergik (sumber: www.smartnetropic.com) Keterangan :

Tapak 1: Sintesis enzimatik GAD dihambat oleh beberapa hidrazin Tapak 2: Pembebasan GABA tergantung pada Ca2+

Tapak 3: Interaksi dengan reseptor possinaptik, bikukulin dan pikrotoksin meng- hambat tindakan GABA pada reseptor possinaptik, Asam sulfonat 3-amino propan dan halusinogen derivat muscimol, efektif sebagai agonis GABA pada reseptor possinaptik

Tapak 4: Ambilan kembali. Didalam otak GABA secara aktif diambil kembali ke dalam ujung saraf presinaptik dengan mekanisme bergantung sodium.

Beberapa senyawa yang aktif menghambat mekanisme pengambilan ini ialah 4-metil GABA dan 2-hidroksi GABA

Tapak 5: Metabolisme, GABA dimetabolisme terutama dengan transaminasi oleh enzim GABA-T yang terlokalisir di mitokondria (Harahap dan Hadisahputra, 1999).

. Obat-obat yang dapat mempengaruhi peristiwa pada presinaptik dan memodifikasi jumlah GABA yang mencapai dan berinteraksi dengan reseptor possinaptik akan menghasilkan efek farmakologi baik akan meningkatkan sifat inhibisinya atau menekan sifat hambatan reseptor tersebut. Dalam banyak hal

obat-obat yang bertindak di presinaptik tidak terlibat dalam interaksi dengan reseptor GABA (Harahap dan Hadisahputra, 1999).

2.6 Reseptor GABAA

Reseptor GABAA merupakan kompleks protein heterooligomerik yang terdiri dari sebuah tempat ikatan neurotransmitter GABA (GABA binding site) yang berhubungan dengan kanal ion Cl-. Yang unik dari reseptor ini juga memiliki tempat ikatan untuk obat golongan barbiturat (barbiturate binding site), obat golongan benzodiazepin (benzodiazepine binding site), untuk obat-obat golongan steroid (steroid binding site), dan tempat untuk pikrotoksin, suatu konvulsan (gambar 2.3) (Ikawati, 2006).

Gambar 2.3 Skematik Reseptor GABAA (sumber: www.faculty.com)

Reseptor GABAA terdiri dari 5 atau lebih subunit (bentuk majemuk dari α, β, dan γ subunit) yang membentuk suatu kanal klorida kompleks (Sinta dan Wiria, 2007). Aktivasi reseptor GABAA oleh neurotransmiternya menyebabkan

terbukanya kanal Cl- dan lebih lanjut akan memicu terjadinya hiperpolarisasi yang akan menghambat penghantaran potensial aksi. Dengan cara itulah GABA melakukan aksinya sebagai neurotransmitter inhibitor. Aktivasi reseptor GABAA

tersebut menyebabkan depresi susunan saraf pusat (Ikawati, 2006).

Obat golongan benzodiazepin dan barbiturat juga memfalitasi aksi hambatan pada susunan saraf pusat. Benzodiazepin dapat mempotensiasi penghambatan transmisi sinaptik dengan berikatan pada tempat ikatannya di reseptor GABAA . Benzodiazepin berikatan langsung dengan sisi spesifik (subunit γ) reseptor GABA, sedangkan GABA berikatan pada sub unit α atau β. Hal ini dapat meningkatkan durasi terbukanya kanal ion Cl- (Sinta dan Wiria, 2007;

Trevor dan Way, 2006).

Obat Golongan barbiturat juga dapat memperpanjang terbukanya kanal ion Cl-. Namun berbeda dengan benzodiazepin, pada konsentrasi tinggi barbiturat memungkinkan untuk mengaktivasi langsung kanal ion Cl-. Dalam aksinya, golongan barbiturat kurang selektif dibandingkan benzodiazepin. Oleh karena itu benzodiazepin dikatakan lebih aman (Trevor dan Way, 2006).

GABAA juga memiliki tempat ikatan dengan sejumlah golongan lain seperti etanol, anastetik volatil dan golongan steroid. Mekanisme aksi etanol dan volatile anastetik hampir sama dengan golongan barbiturat dan benzodiazepin yaitu memperlama pembukaan kanal ion Cl- pada reseptor GABAA (Ikawati, 2006).

Ada dua antagonis GABA klasik yang telah lama dikenal yaitu bikukulin dan pikrotoksin dengan tapak tindakan yang berbeda. Bikukulin bertindak sebagai antagonis kompetitif langsung terhadap reseptor GABA pada level reseptor.

Kemampuan bikukulin bertindak secara kompetitif pada reseptor GABA menyebabkan blokade hiperpolarisasi yang diinduksi GABA. Pikrotoksin memblok sebagian, tidak semua, respon terhadap stimulasi saraf inhibitori atau terhadap GABA yang juga diblok oleh bikukulin, tetapi tidak bisa diblok oleh pikrotoksin, dan sebagian lagi sama-sama dapat diblok oleh keduanya (Harahap dan Hadisahputra, 1999).

2.8 Isoniazid

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang sering disingkat dengan INH, efektif dan secara luas digunakan dalam pengobatan tuberkulosis. Merupakan salah satu obat penginduksi kejang. Neurotoksisitas akut dari isoniazid ditandai dengan kejang berulang, asidosis metabolik, koma dan bahkan kematian.

(Istiantoro dan Setiabudy, 2007; Vasu dan Saluja, 2005).

Isoniazid menyebabkan kejang dengan menggangggu sintesis GABA (γ-amino butyric acid). Secara spesifik, Isoniazid menghambat asam glutamat dekarboksilase dengan menhambat piridoksal 5 pospat, merupakan kofaktor (pengaktivasi) bagi enzim asam glutamat dekarboksilase. Penurunan jumlah GABA menyebabkan terjadinya kejang (Vasu dan Saluja, 2005).

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, meliputi: pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak etanol dari bunga pagoda, analisis komponen senyawa kimia dari ekstrak etanol bunga pagoda menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan pengujian aktivitas antikonvulsi ekstrak etanol bunga pagoda pada mencit jantan yang diinduksi dengan isoniazid. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan ANOVA satu arah (analisis variansi) dan dilanjutkan dengan uji Post Hock Tukey meggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

3.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas, neraca listrik (Mettler Toledo), stopwatch, mortir dan stamfer, neraca hewan (Presica Geniweigher GW-1500), spuit 1 ml (Terumo), oral sonde, rotary evaporator, Gas Mass Spectrometer Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) model Shimadzu QP 2010 ULTRA.

3.2 Bahan-bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga pagoda. Bahan kimia yang digunakan yaitu: larutan NaCl 0,9%, air suling, etanol 96% pro analisis (p.a), Na-CMC, diazepam tablet dari Kimia Farma, isoniazid dari Bratachem.

3.3 Hewan Percobaan

Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit jantan putih dengan usia 2–3 bulan dengan berat badan 20-30 gram. Hewan diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Departemen Farmakologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Sebelum pengujian hewan dikondisikan terlebih dahulu selama 1 minggu dengan kondisi lingkungan, makanan, suhu, dan minuman yang sama.

3.4 Prosedur

3.4.1 Pembuatan Simplisia

Pembuatan simplisia meliputi pengumpulan bahan, identifikasi tumbuhan dan pengolahan sampel.

3.4.1.1 Pengumpulan bahan

Pengumpulan bahan dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga pagoda yang diambil dari daerah Kelambir V Kampung Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

3.4.1.2 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan bunga pagoda dilakukan oleh Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara.

3.4.1.3 Pengolahan Sampel

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bunga pagoda yang masih segar. Bunga pagoda dipisahkan dari pengotor lain lalu dicuci hingga bersih kemudian ditiriskan dan ditimbang. Bunga pagoda tersebut dikeringkan dalam lemari pengering dengan temperatur ± 40OC sampai menjadi simplisia. Simplisia

dihaluskan menjadi serbuk kemudian ditimbang dan dimasukkan ke dalam wadah plastik bertutup dan di simpan pada suhu kamar.

3.4.2 Pembuatan Ekstrak Etanol Bunga Pagoda

Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96 %.

Maserasi dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk setelah 5 hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya dan diserkai sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian.

Dipindahkan ke dalam bejana tertutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Enap tuangkan atau saring (Ditjen POM, 1979). Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan alat penguap vakum (rotary evaporator).

Kemudian dikeringkan dengan freeze dryer pada suhu 40OC pada tekanan 2 atm selama lebih kurang 24 jam dan diperoleh ekstrak kental (ekstrak diperoleh dari Hafiz, 2013).

3.4.3 Analisis Komponen Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Bunga Pagoda (EEBP)

Penentuan komponen ekstrak etanol bunga pagoda dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas MIPA UPI Bandung dengan menggunakan seperangkat alat Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) model Shimadzu QP 2010 ULTRA.

3.4.4 Uji Aktivitas Antikonvulsi

Pengujian aktivitas antikonvulsi meliputi, pembuatan Na-CMC, suspensi diazepam, suspensi ekstrak etanol bunga pagoda, larutan isoniazid, dan pengujian aktivitas antikonvulsi ekstrak etanol bunga pagoda.

3.4.4.1 Pembuatan Na-CMC 1%

Sebanyak 1 g Na-CMC ditaburkan ke dalam lumpang yang berisi air suling panas sebanyak 20 ml. Didiamkan selama 15 menit hingga diperoleh masa yang transparan, digerus hingga berbentuk gel dan diencerkan dengan sedikit demi sedikit air, kemudian dituang ke dalam labu tentukur 100 ml, ditambah air

suling sampai batas tanda.

3.4.4.2 Pembuatan Suspensi Diazepam 0,06%

Tablet diazepam digerus sebanyak 3 tablet (masing-masing tablet mengandung diazepam 2 mg). Serbuk tablet diazepam, kemudian ditambahkan Na-CMC dan digerus hingga merata. Sediaan suspensi diazepam dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml, kemudian ditambahkan Na-CMC ke dalam labu tentukur hingga dicapai batas volume.

3.4.4.3 Pembuatan Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda (EEBP) 4%

Ditimbang 400 mg ekstrak etanol bunga pagoda, dimasukkan ke dalam lumpang dan digerus. Ditambahkan sedikit Na-CMC kemudian dihomogenkan.

Dituang ke dalam labu tentukur 10 ml, ditambah Na-CMC sampai batas tanda.

3.4.4.4 Pembuatan Larutan Isoniazid 1% sebagai Penginduksi Konvulsi Ditimbang sebanyak 100 mg isoniazid kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml, kemudian ditambahkan NaCl 0,9% sampai batas tanda.

3.4.4.5 Pengujian Aktivitas Antikonvulsi dari Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Sebelum pengujian, mencit dipuasakan selama 18 jam (tidak makan tetapi tetap di beri minum), kemudian hewan dikelompokkan ke dalam 5 kelompok, Masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor mencit. Setiap mencit ditimbang dan diberi tanda pada bagian ekor. Setiap kelompok diberikan perlakuan, yaitu:

Kelompok I : diberikan Na-CMC 1%

Kelompok II : diberikan suspensi diazepam dosis 10 mg/kg bb Kelompok III : diberikan suspensi EEBP dosis 200 mg/kg bb Kelompok IV : diberikan suspensi EEBP dosis 400 mg/kg bb Kelompok V : diberikan suspensi EEBP dosis 800 mg/kg bb

Satu jam kemudian mencit diinduksi dengan isoniazid secara sub kutan, lalu diamati onset konvulsi (awal mula kejang), durasi proteksi selama 2 jam dan jumlah kematian selama 2 jam (Parmar dan Prakash, 2006; Vogel, 2008).

3.5 Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS dan data dianalisis dengan uji ANOVA satu arah dilanjutkan uji Post Hock Tukey untuk menentukan perbedaan diantara perlakuan dengan tingkat kepercayaan 95%.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Komponen Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Bunga Pagoda

Hasil analisis komponen dari ekstrak tanaman bunga pagoda dengan GC-MS (Gas Chromatography Mass Spectrometry) diperoleh 22 puncak. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan Tabel 4.1.

Gambar 4.1 Kromatogram hasil analisis GC (Gas Chromatography) ekstrak etanol bunga pagoda

Tabel 4.1 Hasil analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry)

2 2,306 431799 465522 Pentanal,3-methyl 3 4,059 123963 165797 alpha,-pinene

4 4,607 868323 1295698 1-Octen-3-ol

5 5,685 590110 859954 2-Beta,-pinene

6 5,069 113705 157136 1-Phellandrene

7 5,706 116700 158472 Delta,3-carene

8 6,596 149179 223443 1,6-Octadien-3-ol, 3,7-dimetil

9 6,725 287863 449798 1-Octen-3-yl-asetat

10 7,469 3682625 7770627 Champora

11 7,820 820314 1421953 Bicyclo(2.2.1) heptan-2-ol,1,7,7 trimethyl

12 7,995 142432 223725 3-Cyclohexen-1-ol,4-methyl-1 (1-methylethyl)

(lanjutan)

Nama komponen Rumus bangun

13 10,866 176646 301750 ethanonaphthalene, 1,3,4,5,6,7-hexahydro-2,5,5-trimethyl

14 11,182 213289 348026 Gamma decalactone

15 11,381 83234 125031 Copaene

16 11,613 236354 433043 Beta Elemene

17 12,036 121314 198444 Thymohydroquinone

dymethyl ether

18 12,126 913707 1699868 Caryophyllene

19 12,667 950362 1850080

1,4,7,-Cycloundecatriene, 1,5,9,9-tetrametil

20 14,078 108819 197882 Cyclohexanemethanol,

4-ethenyl alpha

21 14,144 81093 123982 Heptanoic acid

anhydride

22 14,892 274816 505058 Beta saline

Dari data GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) di atas dalam eksrak etanol bunga pagoda, komponen senyawa kimia yang terkandung sebagian besar adalah golongan terpen.

Hasil analisis GC-MS komponen senyawa kimia dari ekstrak etanol bunga pagoda diperoleh puncak tertinggi sampai puncak terendah yaitu, champora dengan tinggi puncak 3682625; 1,4,7,-cycloundecatriene, 1,5,9,9-tetramethyl dengan tinggi puncak 950362; caryophyllene dengan tinggi puncak 913707; 1-octen-3-ol dengan tinggi puncak 868323; bicyclo(2.2.1) heptan-2-ol,1,1,7 trimethyl dengan tinggi puncak 820314; beta-pinene dengan tinggi puncak 590110; pentanal,3-methyl dengan tinggi puncak 431799; 1-octen-3-yl-acetate dengan tinggi puncak 287863; beta saline dengan tinggi puncak 274816; beta- elemene dengan tinggi puncak 236354; gamma decalactone dengan tinggi puncak 213289; 2H-2,4a-ethanonaphthalene,1,3,4,5,6,7-hexahydro-2,5,5trimethyl dengan tinggi puncak 176646; 1,6-octadien-3-ol,3,7-dimethyl dengan tinggi puncak 149179; 3-cyclohexen-1-ol,4-methyl-1(1-methylethyl) dengan tinggi puncak 142432; alpha-pinene dengan tinggi puncak 123963; thymohydroquinone dymethyl ether dengan tinggi puncak 121314; delta,3-carene dengan tinggi puncak 116700; 1-phellandrene dengan tinggi puncak 113705;

cyclohexanemethanol,4-ethenyl,alpha dengan tinggi puncak 108819; copaene dengan tinggi puncak 83234; heptanoic acid anhydride dengan tinggi puncak 81093; dan 2-pentanone,3 methyl dengan tinggi puncak 65239.

Hasil GC-MS di atas, alpa-pinene; beta-pinene; phellandrene; delta 3-carene; 1,6-octadien-3-ol,3,7-dimethyl (linalool); dan champora adalah golongan monoterpenoid. Caryophyllene; beta-saline; beta-elemene; copaene dan

1,4,7,-cycloundecatriene,1,5,9,9-tetramethyl (alpa-humulene) adalah golongan sesquiterpenoid (Leandro, et al., 2012; Ismail, 2006).

Dari keseluruhan senyawa kimia di atas alpha-pinene; 1,6-octadien-3-ol,3,7-dimethyl (linalool) dan 1-octen-3-ol diketahui dapat mempengaruhi aktivitas sistem saraf pusat seperti mencegah bangkitan kejang (seizure) (Gyawali, 2009; Ismail, 2006; Johnston, 2005).

Dari hasil penelitian di atas, ekstrak etanol bunga pagoda memiliki aktivitas antikonvulsi dimana komponen senyawa kimia yang diduga berperan untuk aktivitas ini adalah alpa-pinen; 1,6-oktadien-3-ol,3,7-dimetil (linalool) dan 1-Octen-3-ol yang merupakan golongan terpenoid (Gyawali, 2009; Ismail, 2006;

Johnston, 2005).

Alpha-pinene mencegah terjadinya kejang audiogenik. Aktivitas antikonvulsi pada 1,6-octadien-3-ol,3,7-dimethyl (linalool) melalui inhibisi pada transmisi glutamergik (silva, 2001) dan mempengaruhi kanal ion (Narusuye, et al., 2005). Pada 1-Octen-3-ol mempengaruhi reseptor GABAA (Johnston, 2005).

4. 2 Aktivitas Antikonvulsi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda

Pada penelitian ini, parameter yang diamati ada tiga, yaitu onset konvulsi, durasi proteksi terhadap kematian selama 2 jam dan jumlah kematian selama 2 jam. Masing-masing hewan uji setelah diberikan bahan uji (ekstrak etanol bunga pagoda) pada kelompok yang telah ditentukan, diberikan penginduksi konvulsi yaitu isoniazid.

Isoniazid dapat menimbulkan konvulsi dengan cara menghambat sintesis GABA (gamma amino butirat acid). GABA merupakan neurotransmiter derivat asam amino yang bersifat inhibitori yang dapat menghiperpolarisasikan neuron

sistem saraf pusat (Harahap dan Hadisahputra, 1999), sehingga apabila jumlah GABA menurun, akan terjadi efek konvulsi. Lebih lengkapnya, enzim dekarboksilase asam glutamat dihambat oleh pyridoxal 5 posphat yang merupakan kofaktor bagi enzim tersebut, akibatnya terjadi penurunan jumlah GABA (Vasu dan Saluja, 2005).

Konvulsi yang ditimbulkan oleh berkurangnya GABA di sistem saraf pusat ditandai dengan aktivitas yang berlebihan, gerakan-gerakan yang abnormal yang berlangsung singkat tetapi cenderung untuk berulang (Mycek, 2001).

Hasil dari penelitian aktivitas antikonvulsi dengan metode induksi konvulsi oleh isoniazid 250 mg/kgbb dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan grafik pada Gambar 4.2.

Tabel 4.2 Aktivitas antikonvulsi ekstrak etanol bunga pagoda

keterangan: p : nilai signifikansi, baris pertama dibandingkan terhadap kontrol (Na-CMC), baris kedua dibandingkan terhadap pembanding (diazepam).

* : berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05) # : berbeda bermakna terhadap pembanding (p < 0,05)

Gambar 4.2 Onset konvulsi dari hewan uji yang diberi sediaan uji ekstrak etanol

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan onset konvulsi antara kelompok kontrol dengan kelompok pembanding dan kelompok uji yang diberikan ekstrak etanol bunga pagoda (EEBP). Pada kelompok kontrol timbulnya konvulsi lebih cepat dibandingkan kelompok lain. Perbedaan antar kelompok dianalisis dengan melihat perbedaan bermakna antara kelompok uji terhadap kontrol dan pembanding (Jones, 2010).

Kelompok uji EEBP dosis 200 mg/kg bb, memiliki onset konvulsi sebesar 36,70 ± 1,36 menit, hal ini lebih lama 6,85 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 21,22 menit. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 400 mg/kg bb, memiliki onset konvulsi sebesar 38,28 ± 1,80 menit, hal ini lebih lama

0

8,43 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p <

0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 19,54 menit. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 800 mg/kg bb, onset konvusi sebesar 37,23 ± 1,79 menit, hal ini lebih lama 7,3 menit dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, onset konvulsi terjadi lebih cepat 20,59 menit. Apabila dibandingkan dengan diazepam, semua kelompok dosis tidak menunjukkan potensi penghambatan onset konvulsi sebesar diazepam.

Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan secara bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok dosis yang diberikan ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200, 400 dan 800 mg/kg bb, dan berbeda nyata antara kelompok kontrol terhadap kelompok pembanding dosis 10 mg/kg bb.

Gambar 4.3 Durasi proteksi terhadap kematian dari ekstrak etanol bunga pagoda

Keterangan: Kontrol (Na CMC 1%)

Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 200 mg/kg bb Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 400 mg/kg bb Suspensi Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Dosis 800 mg/kg bb Pembanding (Diazepam 10 mg/kg bb)

(*) : Berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05)

Selanjutnya, parameter yang diamati adalah durasi proteksi terhadap kematian dalam 2 jam, dimulai pada saat hewan uji mulai terjadi konvulsi hingga hewan uji tersebut mati dan diamati selama 2 jam.

Dari hasil analisis statistik terlihat adanya perbedaan durasi proteksi (memperlama kematian) antara kelompok kontrol dengan kelompok uji. Pada kelompok kontrol, kematian dalam 2 jam lebih cepat terjadi dibanding kelompok uji dan pembanding.

Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 36,38 ± 1,44 menit, hal ini lebih lama 8,27 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 24,25 menit terhadap diazepam. Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 400 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 42,36 ± 2,10 menit, hal ini lebih lama 14,25 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 18,27 menit.

Ekstrak etanol bunga pagoda dosis 800 mg/kg bb, memiliki durasi proteksi sebesar 38,49 ± 1,41 menit, hal ini lebih lama 10,38 menit dibandingkan kontrol, dan berbeda bermakna terhadap kontrol (p < 0,05). Terhadap diazepam, kematian terjadi lebih cepat 22,14 menit.

Antar kelompok dosis, terlihat dosis 400 mg/kg bb menunjukkan aktivitas antikonvulsi yang relatif lebih baik dibandingkan kelompok lain. Namun setelah dianalisis secara statistik, perbedaan aktivitas ini tidak berbeda bermakna. Artinya mulai dosis 200 sampai 800 mg/kg bb efek antikonvulsi yang ditimbulkan relatif sama. Peningkatan dosis obat seharusnya akan meningkatkan respon yang sebanding dengan dosis yang ditingkatkan, namun dengan meningkatnya dosis

peningkatan respon pada akhirnya akan menurun, karena sudah tercapai dosis yang sudah tidak dapat meningkatkan respon lagi. Hal ini sering terjadi pada obat bahan alam, karena komponen senyawa yang dikandungnya tidaklah tunggal melainkan terdiri dari berbagai macam senyawa kimia, dimana komponen–

komponen tersebut saling bekerja sama untuk menimbulkan efek. Namun dengan peningkatan dosis, jumlah senyawa kimia yang dikandung semakin banyak, sehingga terjadi interaksi merugikan yang menyebabkan menurunnya efek.

Jumlah reseptor yang terbatas juga membatasi efek yang ditimbulkan, sehingga walaupun dosis ditingkatkan, respon tidak bertambah (Bourne dan Zastrow, 2001).

Pada jumlah kematian, EEBP dosis 200 dan 400 mg/kg bb dapat menghambat kematian sebesar 16,67% atau menyebabkan kematian sebesar 83,33% dibandingkan kelompok kontrol yang tidak terproteksi seluruhnya, yaitu terjadi kematian sebesar 100%. Pada EEBP dosis 800 mg/kg bb terjadi kematian sebesar 100%, artinya dosis ini tidak dapat menghambat kematian akibat konvulsi yang terjadi. Diazepam pada kelompok pembanding mampu mencegah 100 % kematian pada hewan uji, dan terbukti mampu menenangkan serangan konvulsi yang diakibatkan oleh isoniazid (Harahap dan Hadisahputra, 1999).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa:

a. kandungan senyawa kimia dari ekstrak etanol bunga pagoda yang terdeteksi dengan alat GC-MS sebagian besar adalah golongan terpenoid.

b. ekstrak etanol bunga pagoda memiliki aktivitas antikonvulsi yang diinduksi oleh isoniazid.

c. ekstrak etanol bunga pagoda dapat memperlambat onset konvulsi pada semua kelompok dosis.

d. ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200, 400, 800 mg/kg bb memberikan proteksi terhadap kematian dengan memperlama waktu kematian.

e. ekstrak etanol bunga pagoda dosis 200 dan 400 mg/kg bb dapat menghambat kematian sebesar 16,67%.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menguji ekstrak n-heksan bunga pagoda (Clerodendrum japonicum (Thunb) Sweet) sebagai antikonvulsi.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta, A. (2000). Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung : Penerbit ITB. Hal. 29-34.

Alagpulinsa, A. D. (2010). Anticonvulsant and Neurobehavioural Effects of the Aqueous Leaf Extract of Leea Guineensis G. Don. Department of Pharmacology.(1).8

Benson, L. (2006). Plant Clasification. California: D.C. Heath and Company. Hal 227.

Bourne dan Zastrow. (2001). Reseptor dan Farmakodinamika Obat. Dalam : Farmakologi Dasar dan Klinik. Editor: Bertham, Katzung. Penerjemah:

Dripa Sjabana. Buku ke-I. Edisi ke-8. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Hal. 23.

Dalimartha, S. (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya. Hal. 38-40.

Depkes R.I. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI.Hal. 10, 17, 31-32.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 33.

Gritter, R. N., Bobbit, J. M., dan Schwattingn. (1991). Introduction of Chromatography. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. Pengantar Kromatografi. Edisi ke-3. Bandung: Penerbit ITB. Hal .36-39.

Guessan, K. N., Zirihi, G. N., dan Mea, A. (2010). Hypotensive Effect of Aqueous Extract of Clerodendrum Inerme Leaves on the Arterial Pressure of Rabbits. International Journal of Pharmaceutical and Biomedical Research. 1(2): 73-77.

Gyawali, R., dan Kim, K. S. (2009). Volatile Organic Compounds of Medicinal Values from Nepalese Acorus calamus L. Kathmandu University Journal of Science. 5(2): 58.

Hafiz, I. (2013). Uji Efek Sedatif-Hipnotik Ekstrak Etanol Bunga Pagoda Clerodendrum Japonicum (Thunb) Sweet. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Harahap, U., dan Hadisahputra, S. (1999). Telaah Penggunaan Benzodiazepin (BD) Versus Strikhnin (STN) pada Percobaan Stimulansia SSP

Berdasarkan Tapak Tindak BD pada Neurotransmitter Inhibitori γ- aminobutyric acid (GABA) dan STN pada Neurotransmitter Inhibitori Glisin di SSP. Media Farmasi An Indonesian Pharmaceutical Journal.

7(1): 18-19.

Hariana, A. (2008). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 60-62.

Iptek. (2005). Bunga Pagoda. Sentra informasi ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

http://www.iptek.net.id. Diakses tanggal 30 januari 2012.

Ismail, M. (2006). Central Properties and Chemical Composition of Ocimum basilicum Esential Oil. Pharmaceutical Biology. 44(8): 619-626.

Istiantoro, Y. H., dan Setiabudi, R. (2007). Tuberkulostatik dan Leprostatik.

Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Editor: Sulistia Gunawan Ganiswara.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal 613-615.

Johnston, G. (2005). GABAA Receptor Channel Pharmacology. Current Pharmaceutical Design. 1(11): 1878-1879.

Jones, D.S. (2010). Statistik Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hal. 318, 330-332.

Joseph, J., dan Bidhu, A. R. (2011). Antimicrobial Activity Clerodendrum panicilatum Linn. Leaves. International Journal of Research in Aturveda and Pharmacy. 2(3): 1003-1004.

Leandro, L.M., Vargas, S.F., dan Barbosa, Paula, C.S.B. (2012). Chemistry and Biological Activities of Terpenoids from Copaiba (Copaifera Spp.) Oleoresin. Molekules Journal 1(2): 3873-3877.

Mycek, J.M. (2001). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi kedua. Jakarta:

Widia Medika. Hal. 144.

Narusuye, K., Kawai, F., Matsuzaki K, dan Miyachi, E. (2005). Linalool Suppresses voltage-gate currents in sensory neurons and cerebelar Purkinje Cells. Neural Transm. 1(1): 193-203.

Parmar, N. S., dan Prakash, S. (2006). Screening Methods in Pharmacology.

Oxford: Alpha Science International Ltd. Hal 93.

Oxford: Alpha Science International Ltd. Hal 93.

Dokumen terkait