1. Proses Terbentuknya Dewan Banteng
Perasaan kecewa masyarakat semakin meningkat pada tahun 1950 ketika pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan tentang calon Gubernur Sumatra Tengah. Empat orang calon Gubernur yang dikirim oleh DPRST kepada pusat yang terdiri dari Iljas Jakoeb, dr. M. Jamil, dr. A. Rahim Usman dan Mr. St. Mohammad Rasjid, dari empat calon Gubernur yang direkomendasikan DPRST tersebut tidak satupun yang diterima pusat.266
Pemerintah pusat memilih jalan mereka sendiri dengan mengirim Ruslan Mulyohardjo sebagai Gubernur Sumatra Tengah. DPRST menolak pengangkatan tersebut dengan mengembalikan keputusan Menteri Dalam Negeri. Babak baru perseteruan antara DPRST dengan Kemendagri telah dimulai dengan adanya penolakan tersebut. Pemerintah menganggap langkah DPRST sebagai sebuah pembangkangan. Melalui Peraturan Pemerintah No. 1 Tanggal 15 Januari 1951 secara resmi DPRST dibekukan. Pembekuan tersebut dilakukan agar kehendak Kementrian Dalam Negeri untuk meletakkan Ruslan Mulyohardjo dapat dengan mudah dilaksanakan. Hingga setelah Pemilu 1955 rakyat Sumatra Tengah berada dalam ketidakpastian di jajaran militer dan kepemimpinan sipil.267
Kebijakan pemerintah pusat melalui Kemendagri
menghapuskan keberadaan DPRST berakibat kepada hilangnya
265
Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang. Biografi
Kolonel Ahmad Hussein. (Jakarta: Sinar Harapan, 2001), hlm. 25.
266
Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalsime: Sumatera Tahun 1950-an. (Jakarta: KITLV, NIOD, Yayasan Obor, 2007), hlm. 30.
267
Propinsi Sumatera Tengah. (Djakarta: Kementerian Penerangan R.I, 1953),
183
alat perlengkapan demokrasi. Kebijakan ini sangat bertolak belakang dengan budaya Minang yang merupakan kebudayaan penganut demokrasi. Persoalan yang berkaitan erat dengan ketidakpuasan dan kekecewaan umum yang dimulai dari persoalan lokal, ketidakpuasan di kalangan perwira, sampai kemacetan sistem politik sesudah revolusi membawa daerah semakin tidak sabar untuk mengambil inisiatif sendiri.
Ketidakpuasan daerah di Sumatra Tengah berhulu dari reuni mantan anggota Divisi Banteng. Meski latar belakang reuni ini adalah untuk membantu rekan-rekan sesama pejuang yang terkena imbas dari kebijakan RERA, dalam pelaksanaan reuni masalah yang ada di tingkat pusat justru menjadi pembicaraan serius. Dari banyak makalah, pidato spontan, dan komentar dari para peserta reuni yang disampaikan dengan rasa gusar dan kurang puas, lahirlah keputusan yang sangat berani dan diantaranya menyangkut persoalan ditingkat pusat yaitu perbaikan-perbaikan dalam pimpinan angkatan darat dan seterusnya dalam pimpinan negara.
Reuni tersebut dilaksanakan pada selama tiga hari yaitu dari tanggal 21-24 November 1956 di Balai Prajurit Padang. Sebanyak 612 anggota bekas Divisi Banteng berdatangan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Aceh, Medan, Palembang, Bandung dan dari Sumatra Tengah sendiri. KSAD menyambut baik rencana reuni tersebut karena acara tersebut beritikad baik untuk membicarakan nasib para pejuang dan keluarga mereka yang belum tertampung di masyarakat. Sekalipun tidak hadir, KSAD Nasution memperlihatkan dukungannya dengan memberi kemudahan kepada semua prajurit aktif untuk memperoleh Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) bagi mantan anggota Divisi Banteng yang berada di luar Sumatra Tengah.268
268
Reuni tersebut menghasilkan ketetapan sebagai berikut. Pertama, penyelesaian persoalan-persoalan dalam negara (nasional), menuntut dilaksanakannya segera perbaikan yang progesif dan radikal di segala lapangan, terutama dalam pimpinan Angkatan Darat, seterusnya di dalam pimpinan Negara dengan jaminan-jaminan demi keutuhan Negara Republik Indonesia. Penyelesaian Persoalan-persoalan dalam daerah. Kedua, Pemerintah Daerah Sumatera Tengah menginginkan segera pengisian pejabat-pejabat penting dalam pemerintahan di
184
Dari keputusan yang dihasilkan reuni, perlahan memperlihatkan persoalan-persoalan yang ada didaerah yang merupakan sinergi dari persoalan-persoalan yang ada ditingkat pusat. Dengan kata lain, kondisi pusat dilihat oleh para peserta reuni sebagai panyebab persoalan-persoalan yang ada di daerah. Untuk menindaklanjuti semua keputusan reuni mantan anggota Divisi Banteng, maka dibentuk Dewan Banteng.
Dewan Banteng memiliki tugas melaksanakan segala sesuatu yang telah menjadi keputusan reuni dan memberikan laporan pertanggungjawaban kepada reuni II. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya ternyata Reuni II mantan Divisi Banteng tidak pernah dilaksanakan sehingga tidak ada laporan pertanggungjawaban dari Dewan Banteng. Untuk merealisasikan pembentukan Dewan Banteng, semua golongan masyarakat Sumatra Tengah didekati oleh Ketua Reuni Letkol. Ahmad Husein.
Melalui bermacam pendekatan, Ahmad Husein akhirnya bisa mengajak banyak unsur sipil dalam kepengurusan Dewan Banteng. Di luar dugaan banyak orang karena Ahmad Husein sendiri adalah orang militer. Para peserta reuni sangat menyadari bahwa keputusan yang dibuat tidak akan berarti apa-apa tanpa disertai pelembagaan keputusan tersebut.269
daerah Sumatra Tengah dengan tenaga-tenaga yang mampu, jujur, kreatif dan revolusioner konsekuen yang sedapatnya berasal dari daerah itu sendiri. Pemerintah menuntut segera diselenggarakannya pemberi otonomi luas dalam bentuk dan isi kepada daerah Sumatra Tengah, seseuai dengan perkembangan-perkembangan yang ada. Ketiga, pertahanan daerah. Menuntut suatu Komando Pertahanan Daerah dalam arti teritorial, operatif dan administratif yang sesuai dengan pembagian administrative dari Negara Republik Indonesia dewasa ini (Provinsi Sumatera Tengah), dan yang merupakan komando utama dalam Angkatan Darat. Selain itu menuntut ditetapkannya eks Divisi Banteng Sumatra Tengah sebagai kesatuan pelaksana proklamasi yang tradisional jadi satu korps dalam Angkatan Darat.
Keempat, Aspek Sosial dan Ekonomi Daerah. Menuntut dihapuskannya segera
system sentralisme yang dalam kenyataannya mengakibatkan birokrasi yang tidak sehat dan juga menjadi pokok pangkal korupsi, stagnasi pembangunan daerah, hilangnya inisiatif dan kegiatan serta kontrol. Lebih lanjut baca Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang. Biografi Kolonel Ahmad Hussein..., hlm. 156-159.
269
Unsur-unsur di luar militer dilibatkan dalam kepengurusan seperti dari kalangan ninik mamak yang diwakili oleh Datuak Simarajo, mewakili kelompok
185
Dewan Banteng berupaya merealisasikan rencana yang telah mereka buat, rencana itu diteruskan kepada Gubernur Roeslan Muljohardjo. Usulan itu ditanggapi secara dingin oleh pemerintah pusat termasuk soal usulan pembangunan. Tanggapan pemerintah pusat seperti itu menimbulkan anggapan daerah bahwa pemerintah pusat tidak memperhatikan upaya perbaikan nasib rakyat di daerah. Dalam situasi yang tidak kondusif tersebut maka pada tanggal 20 Desember 1956 Gubernur Ruslan Muljohardjo dikudeta oleh Ketua Dewan Banteng di Bukittinggi.
Faktor-faktor di atas meninggalkan pengalaman pahit dan menimbulkan perasaan dendam terhadap pusat yang diidentikkan dengan Jawa. Beberapa ikhtiar untuk mendamaikan konflik pusat dan daerah telah dilakukan, baik lewat lobi-lobi pribadi maupun lewat forum terbuka nasional seperti Munas kemudian Munap bulan September 1957, Piagam Palembang dan lain-lain. Namun niat baik itu menjadi mentah ketika terjadi “Peristiwa Cikini” di akhir November 1957, sehingga segala sesuatu yang diupayakan sebelumnya menjadi buyar dan pada saat yang sama teror, intimidasi dan fitnah makin tak terkendali.
Sejumlah pemimpin terpaksa menyelamatkan diri keluar Jakarta dan bergabung dengan dewan-dewan perjuanagan di daerah yang dipelopori oleh kelompok militer Sumatera Tengah (Kol. Ahmad Husein) dengan mendirikan Dewan Banteng, kemudian disusul oleh Dewan Garuda di Sumatera Selatan (Kol. Burlian), Dewan Gajah di Sumatera Utara (Kol. Simbolon), Dewan
agama adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, dari unsure pemerintahan ada A. Abdul Manaf (Bupati Kabupaten Merangin Jambi), Saidina Ali (Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar Riau), Darwis Taram Dt. Tumanggung (Bupati 50 Kota) dan Ali Luis.
Sebanyak 12 orang anggota Dewan Banteng lainnya berasal dari kalangan militer baik yang masih aktif maupun sudah pensiun. Delapan orang berstatus sebagai militer aktif yaitu Letkol. Ahmad Husein, Komisaris Besar Polisi Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa, Komisaris Polisi Soetan Soeis, Mayor Anwar Umar, Kapten Nurmathias, Letnan Sebastian, Kapten Jusuf Nurdan Mayor Sjoeib. Tiga orang lagi yang duduk menjadi anggota Dewan Banteng merupakan pensiunan militer yaitu, Kol. (Purn) Ismael Lengah, Letkol. (Purn) Hasan Basri, dan Mayor (Purn) Soelaiman. Lebih lanjut baca Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang.
186
Lambung Mangkurat dan Permesta di Sulawesi (Kol. Ventje Samual).270 Dengan pelembagaan gerakan protes menentang Jakarta ini, polarisasi pertentangan pusat dan daerah dan sebaliknya semakin mendekatkan daerah ke jurang perpecahan.
2. Akivitas Dewan Banteng Jelang Meletusnya PRRI di Sumpur Kudus
Dewan Banteng setelah menjadi operator pemerintahan
langsung menangani masalah-masalah pembangunan
kabupaten/kota di Sumatera Barat. Jalan-jalan yang banyak mengalami kerusakan parah segera diperbaiki terutama jalan arteri yang menghubungkan daerah pedalaman dengan pusat pemerintahan dan pelabuhan. Selain itu dibuka pula jalan baru
untuk membuka keterisoliran sebuah daerah dan
menghubungkannya satu sama lain.
Tingginya tingkat swadaya masyarakat, banyak daerah berhasil dihubungkan. Membaiknya kondisi jalan-jalan yang ada
berdampak kepada membaiknya pemasaran hasil-hasil
produksi. Perbedaan skala pembangunan antara pusat dengan daerah menjadi isu yang sangat ampuh untuk membangkitkan semangat rakyat dalam upaya membangun daerahnya. Perasaan kurang puas terhadap pembangunan melahirkan bermacam istilah untuk sekedar melihat perbedaan itu. Sebagian masyarakat
memberikan perbandingan dengan mengatakan bahwa
perbedaan itu dapat dilihat dari kondisi misalnya jalan Sumpur Kudus yang masih banyak belum ditempuh roda kendaraan bermotor jenis apapun, apa yang dikatakan sebagai jalan raya tidak lebih dari jalan kerbau pulang dari sawah, berbeda dengan di Jawa sampai ke dapur jalan telah diaspal.271
270
Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang. Biografi
Kolonel Ahmad Hussein..., hlm. 158-159.
271
Contoh ungkapan perbandingan lain, menurut Mansur Dt. Pengulu Mudo adalah aie gadang di nagari awak, tapi urang subarang nan basah dek mandi (air besar di negeri kita, tapi orang di seberang yang basah karena dapat mandi). Meski perbandingan seperti di atas tidak merupakan sebuah data statistik, namun setidaknya dapat dilihat bahwa di daerah, masyarakat telah memiliki pandangan demikian sinis terhadap perbedaan pembangunan di Pulau Jawa dengan Sumatra
187
Di Sumpur Kudus, Dewan Banteng langsung mendapat respon positif masyarakat. Dukungan itu semenjak adanya reuni telah mereka berikan. Hanya sebagian kecil masyarakat yang tidak mendukung kehadiran Dewan Banteng yaitu PKI yang berada di nagari Unggan dan Kumanis, namun jumlah mereka yang sedikit tidak merusak bentuk dukungan yang banyak diberikan oleh masyarakat Sumpur Kudus.
Secara garis besar dominasi politik di Sumpur Kudus dikuasai oleh dua kekuatan besar, yakni PERTI dan Masyumi yang menjadi pemenang Pemilihan Umum pada tahun 1955.272 Menurut Mansur Dt. Penghulu Mudo, bahwa di Sumpur Kudus dari tahun 1955 hingga berakhirnya G.30.S 1965 tidak satupun ditemukan penduduknya menganut paham komunis. Pada hari-hari menjelang Pemilu 1955 tokoh-tokoh politik yang sering datang ke Sumpur Kudus adalah Zulkifli Mahmud yang berasal dari Partai Masyumi.
Sumpur Kudus pun tidak luput dari usaha-usaha penggalangan dukungan terhadap Dewan Banteng. Selain berusaha menarik simpati masyarakat melalui penyebarluasan dukungan-dukungan yang ada seperti diatas, Dewan Banteng
banyak melakukan usaha-usaha pembangunan dengan
melibatkan masyarakat. Dewan Banteng memiliki program pembangunan daerah di seluruh Sumatra Tengah. Setiap kabupaten diberi bantuan dana Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah). Dengan dana tersebut usaha-usaha pembangunan dilaksanakan,
Barat. Mansur Dt. Penghulu Mudo, wawancara, tanggal 13 Februari 2014 di Calau Sumpur Kudus.
272
Sementara itu pada tingkat propinsi, pimpinan Partai Masyumi Sumatra Tengah Buya Duski Samad menyuarakan dukungannya terhadap Dewan Banteng lewat media massa. Begitu pula halnya dengan partai-partai lain seperti PSI Sumatra Tengah, Partai Adat Rakyat atau PAR di bawah pimpinan Dt. Bagindo Basa Nan Kuniang. Partai lain yang turut memberikan dukungannya terhadap Dewan Banteng adalah IPKI. Secara garis komando, apabila pimpinan propinsi sebuah partai politik telah mengeluarkan pernyataan dukungan, maka pengurus partai yang lebih rendah seperti pimpinan kabupaten turut memberikan dukungan.
188
di antara usaha pembangunan yang dilakukan Dewan Banteng bersama penduduk di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung.273
Dari banyak upaya pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, sektor pendidikan menjadi perhatian serius bagi Dewan Banteng khususnya pendidikan dasar. Perhatian itu diperlihatkan dengan mendirikan banyak Sekolah Rakyat. Salah satu sekolah Dewan Banteng berada di nagari Sumpur Kudus. Pada masa darurat itulah, Dewan Banteng mengucurkan dana untuk sebuah kegiatan pembangunan sekolah darurat. Dalam pelaksanaan gotong royong tersebut, masyarakat bekerja dengan hati gembira tidak seperti suasana di bawah tekanan pihak militer dan penguasa. Disamping usaha-usaha pendirian sekolah baru, di Sumpur Kudus Dewan Banteng juga banyak mengupayakan pembukaan jalan baru serta peningkatan kualitas bagi jalan yang telah ada.274 Demikan pula halnya dengan jembatan yang menghubungkan nagari Sumpur Kudus dengan nagari tetangganya.