• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2.6.2 RLPP dan LP

Menurut WHO terdapat variasi dari nilai RLPP dan Lingkar pinggang berdasarkan perbedaan etnis. Rata-rata nilai cut-off untuk etnis di Asia adalah 85-90 cm dan 80-85 cm untuk LP, dan 0,85-90 dan 0,80 untuk RLPP pada laki-laki dan perempuan secara berturut-turut. Pengklasifikasian RLPP lebih banyak mengacu kepada penilaian risiko terkena penyakit kardiovaskular, sedangkan pada LP diklasifikasikan menjadi obesitas abdominal apabila bernilai >90 cm dan >80 cm untuk laki-laki dan perempuan secara berturut-turut. (WHO, 2008; Ahmad et al., 2016).

2.2.6.3 Lila

Lingkar lengan atas dapat digunakan untuk menilai malnutrisi pada wanita dan juga ibu hamil, selain dari anak-anak. Nilai normalnya ≥ 22 cm, jika kurang dari nilai tersebut maka diklasifikasikan sebagai malnutrisi berat ataupun sedang.

Nilai lila untuk malnutrisi sedang, yaitu 17-21 cm atau 18-21 cm dengan penurunan berat badan baru-baru ini. Nilai lila untuk malnutrisi berat, yaitu <17 cm atau <18 cm dengan penurunan berat badan baru-baru ini (Tang et al., 2017).

2.3 AKTIVITAS FISIK 2.3.1 Definisi

Aktivitas Fisik merupakan setiap gerakan yang dilakukan oleh otot rangka tubuh yang membutuhkan pengeluaran energi. Segala gerakan termasuk selama

waktu senggang, bepergian, dan bekerja termasuk juga dalam aktivitas fisik.

Aktivitas fisik dengan intensitas sedang dan berat dapat meningkatkan kesehatan.

Aktivitas fisik secara teratur telah terbukti dapat membantu dan mengendalikan penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan beberapa jenis kanker. Aktivitas fisik juga dapat mencegah terjadinya hipertensi, menjaga berat badan yang ideal, meningkatkan kesehatan mental, kualitas hidup, dan kesejahteraan (WHO, 2020).

2.3.2 Rekomendasi Aktivitas Fisik Harian dan Manfaatnya 2.3.2.1 Rekomendasi Aktivitas Fisik Harian

Pedoman dan rekomendasi WHO memberikan perincian mengenai seberapa banyak aktivitas fisik yang diperlukan dalam menunjang kesehatan berdasarkan berbagai kelompok usia,dan populasi tertentu. Berdasarkan rekomendasi tersebut, WHO merekomendasikan aktivitas fisik yang perlu dilakukan oleh seorang dewasa berusia 18-64 tahun dalam 24 jam, sebagai berikut

1. Melakukan setidaknya 150-300 menit aktivitas fisik aerobic intensitas sedang atau setidaknya 75-150 menit aktivitas fisik aerobik intensitas tinggi; atau kombinasi setara aktivitas intensitas sedang dan kuat sepanjang minggu

2. Melakukan aktivitas penguatan otot dengan intensitas sedang atau lebih besar yang melibatkan semua kelompok otot utama pada 2 hari atau lebih dalam seminggu, hal ini memberikan manfaat kesehatan tambahan.

3. Dapat meningkatkan aktivitas fisik aerobic intensitas sedang hingga lebih dari 300 menit, atau melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas tinggi selama lebih dari 150 menit, atau kombinasi setara aktivitas intensitas sedang dan kuat sepanjang minggu untuk manfaat kesehatan tambahan.

4. Membatasi jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidak bergerak.

Melakukan aktivitas fisik dengan intensitas apapun (termasuk intensitas ringan) untuk mengganti kebiasaan tidak bergerak dapat memberikan manfaat kesehatan

5. Untuk membantu mengurangi efek merugikan dari kebiasaan tidak bergerak tingkat tinggi pada kesehatan, semua orang dewasa dan orang dewasa yang lebih tua harus berupaya melakukan tingkat aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat lebih dari yang direkomendasikan (WHO, 2020)

2.3.2.2 Manfaat Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang teratur dengan berbagai cara dapat meningkatkan manfaat yang signifikan bagi kesehatan seseorang. Seseorang yang sudah berusaha melakukan aktivitas fisik apapun sudah menjadi suatu kebiasaan yang lebih baik daripada tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Dengan menjadi lebih aktif sepanjang hari dengan cara yang relatif sederhana, orang dapat dengan mudah mencapai tingkat aktivitas yang direkomendasikan.

Kebiasaan hidup dengan aktivitas fisik yang kurang merupakan faktor risiko terjadinya kematian karena berbagai penyakit tidak menular. Aktivitas yang teratur dapat meningkatkan kebugaran otot dan kardiorespirasi, kesehatan tulang dan fungsional. Aktivitas fisik juga dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, berbagai jenis kanker, dan depresi.

Selain itu aktivitas fisik juga dapat mengurangi risiko terjatuh serta patah tulang pinggul atau tulang belakang, dan juga dapat membantu menjaga berat badan yang sehat.

Dengan perkembangan zaman, gaya hidup menetap (sedentary lifestyle) menjadi semakin marak terutama karena kemajuan di berbagai bidang (transportasi dan teknologi) yang dapat memberikan kemudahan, namun mengurangi tingkat aktivitas fisik. Bukti menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dari perilaku menetap dikaitkan dengan hasil kesehatan yang buruk. Berdasarkan data dari WHO, Lebih dari seperempat populasi orang dewasa dunia (1,4 miliar orang dewasa) tidak cukup aktif, kemudian juga didapati sekitar 1 dari 3 wanita dan 1 dari 4 pria tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup untuk tetap sehat di seluruh dunia. Menurut data tersebut dikatakan juga bahwa tingkat ketidakaktifan dua kali lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan tinggi dibandingkan dengan negara-negara

berpenghasilan rendah. Sejak 2001 tidak terjadi peningkatan aktivitas fisik, namun terjadi peningkatan aktivitas fisik yang tidak mencukupi sebesar 5% (dari 31,6%

menjadi 36,8%) di negara-negara berpenghasilan tinggi antara tahun 2001 dan 2016 (WHO, 2020).

2.3.3 Aktivitas Fisik pada Perempuan

Aktivitas fisik secara umum bermanfaat bagi kesehatan seseorang. Pada perempuan, aktivitas fisik dapat dikaitkan dengan penurunan risiko terjadinya kanker payudara. Aktivitas fisik pada perempuan juga dapat membantu menjaga kesehatan berat badan atau mencegah obesitas yang dapat juga menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit (Ahrens et al.,2014).

Di lain hal, bukti dari penelitian sebelumnya membuktikan bahwa tingkat aktivitas fisik yang berlebih dapat dikaitkan dengan disfungsi menstruasi dan subfertilitas di antara atlet wanita berkinerja tinggi. Di dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa aktivitas intensitas tinggi dikaitkan dengan amenore, oligomenore, defisiensi fase luteal, dan anovulasi, kemungkinan melalui gangguan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal. Dihipotesiskan bahwa supresi GnRH akibat disfungsi hipotalamus yang berhubungan dengan olahraga dapat membatasi produksi LH dan FSH yang berakibat terjadinya ketidakteraturan siklus menstruasi.

(Waren et al., 2001).

2.4. HUBUNGAN IMT DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN POLA

Dokumen terkait