HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL PENELITIAN
4.1.2. Analisis Bivariat
Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, menunjukan bahwa dari 87 responden dari 14 responden dengan berat badan kurang, mayoritas memiliki lama menstruasi memanjang, sebanyak 9 orang (64,3%). Kemudian dari 52 responden yang memiliki berat badan normal, mayoritas memiliki lama menstruasi memanjang, yaitu sebanyak 28 orang (53,8%). Pada 16 orang dengan berat badan lebih, mayoritas memiliki lama menstruasi normal, yaitu sebanyak 9 orang (56,2%). Dari 4 responden dengan obesitas 1, terdapat 3 orang dengan lama
menstruasi normal (75%) dan 1 orang dengan lama menstruasi memanjang (25%).
Sedangkan pada responden dengan obesitas II, terdapat 1 orang dengan lama menstruasi normal (100%) (Tabel 4.7.).
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis tidak menunjukkan perbedaan rata-rata lama menstruasi antarkelompok status gizi yang signifikan (p = 0,469).
Tabel 4.7. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Lama Menstruasi Status Gizi
Berdasarkan tabel 4.8., menunjukan bahwa dari 14 responden dengan berat badan kurang, terdapat masing-masing 7 orang dengan volume perdarahan sedikit dan normal (50%). Kemudian dari 52 responden yang memiliki berat badan normal, mayoritas, sebanyak 27 orang memiliki volume perdarahan normal (51,9%). Pada 16 orang dengan berat badan lebih, mayoritas, sebanyak 7 orang memiliki volume perdarahan normal (43,8%). Dari 4 responden dengan obesitas I, terdapat masing-masing 2 orang dengan volume perdarahan sedikit dan banyak (50%). Sedangkan pada responden dengan obesitas II memiliki volume perdarahan banyak (100%).
Tabel 4.8. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Volume Perdarahan Status Gizi
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis menunjukkan perbedaan rata-rata volume perdarahan antarkelompok status gizi yang signifikan (p = 0,020). Analisis dilanjutkan dengan post-hoc test
menggunakan uji Mann Whitney-U untuk menilai perbedaan rata-rata antar dua kelompok. Didapatkan hasil perbedaan rata-rata volume perdarahan yang signifikan di antara kelompok berat badan kurang dengan normal (p = 0,001), dan berat badan lebih dengan obesitas II (0,012).
Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, menunjukan bahwa dari 14 responden dengan berat badan kurang, mayoritas memiliki lama siklus menstruasi normal, yaitu sebanyak 12 orang (85,7%). Kemudian dari 52 responden yang memiliki berat badan normal, mayoritas, sebanyak 50 orang memiliki lama siklus normal (96,2%). Pada 16 orang dengan berat badan lebih, mayoritas memiliki siklus normal dengan jumlah 15 orang (93,8%). Dari 4 responden dengan obesitas 1, mayoritas responden, sebanyak 3 orang memiliki lama siklus normal (75%).
Sedangkan pada responden dengan obesitas II, terdapat 1 orang dengan lama siklus menstruasi memanjang (100%) (Tabel 4.9.).
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis menunjukkan perbedaan rata-rata lama siklus menstruasi antarkelompok status gizi yang signifikan (p = 0,002). Analisis dilanjutkan dengan post-hoc test menggunakan uji Mann Whitney-U. Didapatkan hasil perbedaan rata-rata lama siklus menstruasi yang signifikan di antara kelompok berat badan kurang dengan obesitas II (p = 0,020), normal dengan obesitas II (0,000), dan berat badan lebih dengan obese II (0,004).
Tabel 4.9. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Lama Siklus Menstruasi Status Gizi
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian ini mengenai hubungan aktivitas fisik dan lama siklus menstruasi, didapatkan dari 30 orang dengan aktivitas ringan, mayoritas memiliki lama siklus normal, yaitu sebanyak 28 orang (93,3%).
Pada 51 orang dengan aktivitas fisik sedang, didapati mayoritas responden dengan
lama siklus normal, yaitu sebanyak 46 orang (90,2%). Kemudian pada 6 orang dengan aktivitas fisik berat (6,9%), secara keseluruha memiliki lama siklus normal (100%) (Tabel 4.10.).
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis tidak menunjukkan perbedaan rata-rata lama siklus menstruasi yang signifukan antarkelompok intensitas aktivitas fisik yang berbeda (p = 0,278).
Tabel 4.10. Intensitas Aktivitas Fisik dengan Lama Siklus Menstruasi Intensitas
Dari 30 orang dengan aktivitas ringan, mayoritas responden, sebanyak 18 orang memiliki lama menstruasi memanjang (60%). Pada 51 orang dengan aktivitas fisik sedang, mayoritas responden memiliki lama menstruasi normal, yaitu sebanyak 26 orang (51%). Pada 6 orang dengan aktivitas fisik berat, mayoritas, sebanyak 4 orang memiliki lama menstruasi normal (66,7%) (Tabel 4.11.).
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis tidak menunjukkan perbedaan rata-rata lama menstruasi yang signifikan antar kelompok intensitas aktivitas fisik yang berbeda (p = 0,414).
Tabel 4.11. Intensitas Aktivitas Fisik dengan Lama Menstruasi Intensitas
Aktivitas Fisik
Lama Menstruasi Mean
Rank P value
Dari 30 orang dengan aktivitas ringan, didapati mayoritas responden, yaitu sebanyak 17 orang memiliki volume perdarahan normal (56,7%). Pada 51 orang dengan aktivitas fisik sedang, mayoritas memiliki volume perdarahan normal, yaitu sebanyak 23 orang (45,1%). Kemudian pada 6 orang dengan aktivitas fisik berat,
mayoritas responden, sejumlah 4 orang memiliki volume perdarahan banyak (66,7%) (Tabel 4.12.).
Analisis dilakukan dengan uji hipotesis Kruskal Wallis. Hasil analisis tidak menunjukkan perbedaan rata-rata volume perdarahan menstruasi yang signifikan antar kelompok intensitas aktivitas fisik yang berbeda (p = 0,258).
Tabel 4.12. Intensitas Aktivitas Fisik dengan Volume Perdarahan Intensitas
Hasil penelitian ini menunjukan hasil hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan lama siklus menstruasi dan volume perdarahan selama menstruasi, dengan nilai p < 0,05. Indeks massa tubuh merupakan cara pengukuran komposisi lemak tubuh yang menandakan status gizi seseorang berdasarkan tinggi badan dan berat badan. Seseorang dengan IMT yang lebih tinggi dapat mengindikasikan lebih tingginya kadar lemak tubuh yang dimiliki seseorang tersebut.
Hasil serupa pernah didapatkan pada penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Tang et al., 2020. Dalam penelitian tersebut didapatkan perbedaan yang signifikan pada volume menstruasi berdasarkan golongan IMT, namun tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada lama siklus menstruasi dan durasi menstruasi berdasarkan kelompok IMT yang berbeda. Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Atrian et al., tahun 2018, terdapat perbedaan hasil dari penelitian ini. Pada penelitian tersebut menyatakan terdapat hubungan antara IMT dengan durasi menstruasi. Perbedaan hasil pada penelitian ini, bisa disebabkan karena kurang meratanya distribusi frekuensi responden berdasarkan status gizinya, dimana pada penelitian ini hanya sedikit didapatkannya responden dengan status gizi obesitas.
Hubungan yang terjadi antara IMT dengan pola menstruasi dapat berhubungan dengan hormon steroid ovarium yang berperan dalam keteraturan siklus menstruasi. Dalam pembentukan hormon steroid, kolesterol, salah satunya, memiliki peran dalam pembentukannya. Pada seseorang dengan berat badan berlebih atau obesitas, biasanya terjadi hiperkolesterolemia yang ditandai dengan peningkatan kadar LDL dan trigliserida (Mumford et al., 2016). Mekanisme yang mendasari proses tersebut, berada pada tingkat seluler dimana kolesterol memiliki peran sebagai prekursor dari hormon-hormon steroid, sedangkan LDL memiliki peran dalam mekanisme transport kolesterol ke dalam membran plasma. (Guyton dan Hall, 2016).
Estrogen dan progesteron juga berperan dalam pembentukan dan penebalan endometrium. Estrogen berperan dalam proliferasi seluler endometrium, sedangkan progesteron berperan dalam pembentukan jaringan vaskular dan pembentukan lipid dan glikogen (Guyton dan Hall, 2016). Estrogen yang berlebihan dibandingkan dengan kadar progesteronnya dapat menimbulkan kerapuhan pada endometrium karena kurangnya nutrisi yang disalurkan. Mekanisme tersebut dapat menimbulkan terjadinya menoragia pada individu dengan kadar estrogen berlebihan.
Pada analisis data mengenai hubungan antara aktivitas fisik dengan pola menstruasi, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dalam kelompok intensitas aktivitas fisik (p > 0,05). Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian serupa yang pernah dilakukan oleh Purwati dan Muslikhah tahun 2020, penelitian tersebut menyatakan adanya perbedaan yang bermakna dalam kelompok intensitas aktivitas fisik, begitu juga pada penelitian lainnya yang dilakukan oleh Machmudah et al., tahun 2017. Pada penelitian tersebut dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan siklus menstruasi pada remaja putri dalam grup pencak silat. Perbedaan hasil ini bisa disebabkan karena terdapat perbedaan karakteristik dari tingkat aktivitas responden.
Aktivitas fisik dan olahraga dapat merangsang aksis hipotalamus-hipofisis yang mengarah pada peningkatan kadar hormon prolaktin, adrenokortikotropik (ACTH), kortisol, growth hormone (GH), insulin-like growth factor (IGF-1), dan insulin-like growth factor binding protein (IGFBP) untuk keseimbangan
homeostasis dan peningkatan metabolisme (Melin et al., 2019). Siklus menstruasi dapat terganggu apabila terjadi defisit energi. Defisit energi akan menekan siklus ovulasi, menghambat sekresi Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) dan menyebabkan gangguan keseimbangan LH. Hal tersebut bertujuan untuk mengutamakan penggunaan energi dalam metabolisme tubuh daripada untuk bereproduksi (Machmudah et al., 2017).
Defisit energi adalah fenomena umum pada seorang atlet wanita. Pada wanita secara umum defisit energi dapat disebabkan oleh gangguan makan, pembatasan makanan yang disengaja untuk menurunkan berat badan, diet rendah energi yang salah, atau tidak sengaja karena kurangnya nafsu makan pada periode dengan intensitas latihan yang tinggi (Melin et al., 2019). Pada wanita sehat, defisit energi lebih dari 5 hari telah terbukti mengubah aksis hipotalamus-hipofisis dengan penghambatan sekresi GnRH sehingga mempengaruhi pola menstruasi (Gibbs et al., 2013).