BAB III METODE PENELITIAN
3.9 Teknik Analisis
4.1.3 Aktivitas Pemasaran Perusahaan
Gambar 4.3 Skema Aktivitas Pemasaran Sumber : ptpn5.com
4.1.3.1 PROSEDUR TENDER CPO LOKAL
1. Volume yang akan ditender disusun berdasarkan kondisi penyerahan C&F atau FOB (FOB Pelabuhan Muat)/Franco pabrik pembeli/penjual dengan mutu sesuai standar mutu yang berlaku serta bulan penyerahan/pengapalannya ditetapkan didalam formulir tender.
2. Pembeli peserta tender menyampaikan penawaran melalui fax/surat yang dimasukkan kedalam kotak yang telah disediakan di Kantor Pemasaran Bersama PTPN selambat-lambatnya pada jam 14.00 atau 15.00 WIB (sesuai undangan) pada hari dan tanggal tender (penawaran melalui fax ditangani oleh petugas khusus).
3. Harga penawaran diajukan dalam Rp/Kg termasuk PPN (dalam bulatan Rupiah).
4. Pembeli peserta tender menyampaikan harga penawaran dengan jumlah per lot sesuai yang ditawarkan dan berdasarkan kondisi penyerahan.
5. Penawaran dengan harga tertinggi yang mencapai atau melebihi price ideadinyatakan sebagai pemenang tender.
6. Bila terdapat dua pembeli atau lebih dengan harga penawaran yang sama untuk volume dan lot serta kondisi penyerahan yang sama, maka volume tersebut dibagi secara proporsional.
Bila harga penawaran dari peserta tender tidak mencapai price idea, maka ditawarkan kembali kepada penawar tertinggi pertama, apabila penawar tertinggi pertama tidak bersedia atau tidak hadir, maka ditawarkan kepada penawar tertinggi kedua. Apabila penawar tertinggi kedua juga tidak bersedia atau tidak
hadir, maka barang ditawarkan kepada peserta tender lainnya pada saat pelaksanaan tender, dan apabila peserta tender lainnya tidak bersedia maka barang ditarik dari tender.
4.1.3.2. PROSEDUR TENDER CPO EKSPOR
1. Bagian Jasa Penjualan Minyak Sawit menawarkan minyak sawit kepada Calon Pembeli.
2. Calon Pembeli menerima penawaran dan mengirimkan tawaran melalui faksimili atau dimasukkan kedalam kotak tertutup.
3. Panitia Tender CPO Ekspor membuka penawaran, penawaran sesuai denganprice idea atau harga tertinggi yang terjadi ?
4. Penitia Tender CPO Ekspor melakukan counter kepada Calon Pembeli tertinggi.
5. Calon Pembeli revisi tawaran sesuai price idea atau harga tertinggi yang terjadi.
6. Panitia Tender CPO Ekspor withdrawn.
Namun dewasa ini PT. Perkebunan Nusantara V Kota pekanbaru dalam aktivitas melakukan penjualan, baik ekspor maupun penjualan dalam negri berkiblat pada Malaysia Derivative Exchange (MDEx). Yaitu lemabaga atau instansi yang bertugas memberikan informasi tentang harga minyak sawit dan inti sawit dunia. Sedangkan untuk tender CPO penjualan dalam negri perusahaan memiliki sebuah lembaga yang bernama PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT. KPB Nusantara). Dimana perusahaan tersebut adalah tempat
melakukan pelelangan minyak CPO dalam negri, khusus pelanggan-pelanggan PT. Perkebunan Nusantara (Persero). Berikut pelanggan-pelanggan PT. Perkebunan Nusangtara V Kota Pekanbaru yang terdaftar pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT. KPB Nusantara) :
Tabel 4.1 Data Detail Pelelangan CPO Lokal
PT. KHARISMA PEMASARAN BERSAMA NUSANTaRA
( PT. KPB N U S AN TARA)
T E N D E R C P O L O K A L
Periode ke : 24 Tanggal 07 Februari 2012
PT. PERKEBUNAN NUSANTARA
I III IV IV V VI VII VII XIII XIII XIII
500 500 1000 1000 1000 750 2000 1000 1000 1000 1000
No. Nama Pembeli Franco Franco Franco Fr P P Fob Loco Fob Fob Fob Tyn/ FOB FOB
PP PT SAN PT SAN Sktr Mdn/ PKS B.Baru Panjang Pgn/Prb Tnh Mrh Trisakti
Medan Blwn Blwn Blwn/KT Siak Ophir Plmbng Lpng (Kalbar) (Kaltim) (Kalsel)
Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp
1 Musim Mas 8,518 8,518 8,518 8,518 8,428 8,318
2 Wira Inno Mas 8,218
3 Indokarya Internusa 8,318
4
Nagamas Palmoil
Lestari 8,403
5 Victorindo Alam Lestari 8,461 8,461 8,461
6 Bina Karya Prima 7,425 7,250 7,250
7 Berlian E. S. T. 8,498 8,498 8,498 8 Hidreen Palm International 8,209 8,260 9 SMART Tbk 8,488 8,488 8,488 8,488 10 Sinar Laut 8,350 11 Multimas Nabati Asahan 8,510 8,535 8,530 8,535 7,635
12 Sinar Alam Permai 8,285 8,335
13
Wilmar
Nabati Indonesia 8,435 8,285 7,575 7,575
Penawaran tertinggi
Perusahaan MM MNA MNA MNA WINA SAP SAP SL MNA WINA WINA
Harga Incl.PPN. 8,518 8,535 8,530 8,535 8,435 8,285 8,335 8,350 7,635 7,575 7,575
Penawaran terendah
Perusahaan SMART VAL VAL VAL NPO HPI IKIN HPI BKP BKP BKP
Harga Incl.PPN. 8,488 8,461 8,461 8,461 8,403 8,209 8,318 8,260 7,425 7,250 7,250
Pemenang
Perusahaan MM MNA MNA MNA WD HPI WD SL WD WD WD
Harga Incl.PPN. 8,535 8,535 8,535 8,535 8,480 8,315 8,385 8,385 8,270 8,210 8,210
Note :
4.1.3.3. Program Kegiatan Pemasaran
Dimasa yang penuh dengan persaingan sempurna. PT. Perkebunan V Kota Pekanbaru memliliki misi yang jelas. Agar nakhoda perusahaan mengetahui kemana arah perusahaan. Berikut misi PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru.
“Mengelola agroindustri kelapa sawit dan karet secara efisien bersama mitra, untuk kepentingan stakeholder, berwawasan lingkungan, unggul dalam pengembangan sumber daya manusia dan teknologi.”
Adapun program PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru demi terwujudnya misi tersebut :
a. Mendapatkan harga jual produk utama sawit dan karet yang lebih baik antara lain dengan cara meningkatkan komunikasi dengan KPB Jakarta, khususnya Bagian Penjualan dan Bagian Analisa Pasar
b. Monitoring produksi, stok dan arus barang dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan sarana telekomunikasi yang ada dan koordinasi yang baik dengan unit kebun/PKS/Tangki Timbun/Gudang Pasir Putih
c. Merancang Sistem Operasi Komputer terintegrasi untuk monitoring produksi, stok dan arus barang agar lebih up to date dan informatif
d. Pengujian penerapan hasil rancangan Sistem Operasi Komputer terintegrasi
f. Memperbaiki pengarsipan semua laporan internal kurun waktu 5 tahun terakhir
g. Mempercepat penyelesaian administrasi penjualan maksimal 1 x 24 jam
h. Monitoring penimbangan barang, peneraan alat timbang dan mutu barang sesuai standar,guna mencegah terjadinya klaim selisih timbangan dan klaim mutu, minimal 3 bulan sekali
i. Meningkatkan koordinasi dengan para pembeli dan transportir sawit dan karet untuk kelancaran arus barang, minimal 2 bulan sekali
j. Menerapkan sistem FIFO (First In First Out) untuk produk jadi karet secara konsisten
k. Melakukan koordinasi intensif dengan KPB Jakarta untuk meminimalisasi outstanding contract
l. Mengikutsertakan karyawan-karyawan di Bagian Pemasaran dalam pelatihan, seminar, workshop, dan pertemuan lain sesuai dengan kompetensi karyawan
m. Mengikutsertakan karyawan-karyawan di Bagian Pemasaran dalam pelatihan, seminar, workshop, atau pertemuan lain yang membahas materi manajerial dasar
n.Mengevaluasi Sistem Informasi Pemasaran yang ada
p. Mengevaluasi penerapan rancangan Sistem Pencatatan Internal Pemasaran
q. Menyususun kerangka Sistem Intelijen Pemasaran
r. Pengujian penerapan rancangan Sistem Intelijen Pemasaran
s. Mengevaluasi penerapan rancangan Sistem Intelijen Pemasaran
4.2. Hasil Analisis
Telah dilakukan observasi di PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru, Strategi Bussines Unit Sei Galuh (SBU Sei Galuh), Pabrik Kelapa Sawit Sei Galuh (PKS Sei Galuh), Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS Sei Pagar) pada Januari – Februari 2012. Dan wawancara dengan 20 narasumber, dengan rincian dua orang staf manejer (Ms. Nunu dan Ms Arif), 9 orang karyawan dan buruh Strategi Bussines Unit Sei Galuh (SBU Sei Galuh), Pabrik Kelapa Sawit Sei Galuh (PKS Sei Galuh), dan 9 Orang Karyawan dan Buruh Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS Sei Pagar).
Laporan penelitian akan diawali dengan menyajikan data karakteristik responden. Laporan ini akan dilanjutkan dengan pembahasan data-data yang berkaitan dengan penerapan strategi pemasaran PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru dalam menghadapi perubahan pasar, kompetisi, politik dan teknologi yang timbul dewasa ini.
Penelitiam ini melibatkan 20 karyawan dan buruh tetap sebagai respinden. Penentuan jumlah responden ini adalah berdasarkan batas jumlah minimal dan batas jumlah maksimal responden dalam penelitian kualitatif, sesuai dengan teori- teori berikut. Menurut De ruyter dan Scholl (1998) “ The figure of 10 respondense is within the acceptable range of respondense in a qualitative research project”. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan mengambil responden sekurang-kurangnya sebanyak 10 orang. Frey et al (1992) menyatakan bahwa dalam metode depth interview tidak ada kriteria baku mengenai berapa jumlah responden yang harus diwawancarai. Sebagai aturan umum, peneliti berhenti melakukan wawancara sampai data menjadi jenuh. Artinya, peneliti tidak menemukan aspek baru dalam fenomena yang diteliti. Dalam penelitian ini, setelah mencapai 20 responden, peneliti tidak lagi menemukan hal-hal baru dalam jawaban karyawan hingga buruh tetap. Dalam kata lain, secara keseluruhan hal-hal baru dalam jawaban pelanggan. Dalam kata lain, secara keseluruhan hal-hal yang disampaikan oleh responden-responden terakir telah disampaikan oleh responden-responden terdahulu. Identitas responden (karyawan dan buruh tetap) dalam penelitian ini di deskripsikan sebagai berikut :
Table 4.2
KARAKTERISTIK RESPONDEN (KARYAWAN DAN BURUH TETAP) BERDASARKAN JENIS KELAMIN, UMUR, PEKERJAAN/JABATAN,
DAN TAHUN BERGABUNG
Sumber: Data Primer
No Kategori Data Demografi Jumlah Presentase 1 Jenis Kelamin a. Laki – Laki 19 95% b. Wanita 1 5% 2 Umur a. < 26 Tahun b. 26 - 35 tahun 10 50% c. 36 - 45 tahun 8 40% d. > 45 tahun 2 10% 3 Tingkat Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA 7 35% d. Diploma e. Sarjana (S1) 10 50% f. Pasca Sarjana (S2-S3) 3 15% 4 Jenis Jabatan Pekerjaan
a. Buruh/pekerja tetap 8 40% b. Karyawan 7 35% c. Staf Manejer 3 15% d.Manejer bagian 2 10% 5 Tahun Bergabung 1980 – 1985 1 5% 1986 – 1990 1991 – 1995 6 30% 1996 -2000 3 15% 2001 – 2005 3 15% 2006 – 2010 7 35%
Tabel 4.2. Menunjukkan bahwa dari 22 pekerja PT.Perkebunan Nasional V Kota Pekanbaru yang menjadi responden penelitian ini, sebanyak 19 orang atau 95 % adalah laki – laki, dan 1 orang 5 % adalah wanita.
Berdasarkan usia 10 orang atau 50 % responden adalah 26 – 35 tahun, 8 orang atau 40 % adalah 36 – 34 tahun, 2 orang atau 10 % adalah lebih dari 45 tahun.
Dalam hal tingkat pendidikan, 7 orang atau 35 % responden berpendidikan SMA, 10 orang atau 50 % responden berpendidikan sarjana, dan 3 orang atau 15 % responden berpendidikan pasca sarjana.
Berdasarkan jenis jabatan pekerjaan, sebanyak 8 orang atau 50 % responden sebagai buruh tetap, 7 orang atau 35 % responden sebagai karyawan tetap, 3 orang atau 20 % responden sebagai staff manajer, dan 2 orang atau 15 % responden sebagai manejer bagian.
Berdasarkan tahun masuknya pekerja, sebanyak 1 orang atau 15 % responden masuk bekerja pada tahun 1980 – 1985, sebanyak 6 orang atau 15 % responden masuk bekerja pada tahun 1991 – 1995, sebanyak 3 orang atau 15 % responden masuk bekerja pada tahun 1996 – 2000, sebanyak 3 orang atau 15 % responden masuk pada tahun 2001 – 2005, dan sebanyak 7 orang atau 35 % responden masuk pada tahun 2006 – 2007.
4.2.1. Analisis Elemen Strategi Pemasaran (Product, Place, Promotion, dan Price) dalam Menghadapi Perubahan Pasar, Kompetisi, Teknologi dan Politik
Elemen Strategi pemasaran dalam menghadapi perubahan teknologi, politik, kompetisi dan pasar dapat dijabarkan menjadi :
Gambar 4.4 Elemen Strategi Pemasaran dan Perubahan Teknologi, Politik, Kompetisi dan Pasar
Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai elemen-elemen strategi pemasaran dalam menghadapi perubahan pasar, kompetisi, teknologi dan politik pada PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. Berdasarkan in-depth interview dengan staf manager beserta pekerja karyawan tetap (PKT) atau yang disebut dengan buruh, pada PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. Maka
penerapan elemen strategi pemasaran PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru dapat dijabarkan sebagai berikut.
4.2.1.1.Product (Produk)
4.2.1.1.1 Akibat perubahan teknologi
Hal-hal yang dilakukan perusahaan terhadap teknologi dalam melakukan inovasi-inovasi dan ide untuk mengimprovisasi produk tidak banyak, perusahaan lebih berfokus pada pemeliharaan dan perbaikan terhadap mesin-mesin yang ada saat ini. Perusahaan lebih berfokus pada maximalisasi tandan buah segar (TBS) agar memiliki rendemen (mutu) yang baik dengan kualifikasi berat TBS diatas 5kg/tandan dan tidak melakukan proses produksi terhadap buah yang sudah berondolan.
Hal tersebut dikarenakan mampu mempengaruhi kualitas atau rendemen CPO baik dari sisi kadar air, kadar kotoran dan lemak nabati (LB). Dalam skema proses produksi perusahaan membutuhkan waktu 7 hingga 8 jam agar menghasilkan 8 ton CPO dengan pengorbanan 30 ton tandan buah segar (TBS). Oleh karna itu sejak tahun 1994 disaat PT. Perkebunan Nusantara V dikonsolidasi tidak ada perubahan proses produksi dalam hal ini teknologi yang berubah. Perusahaan hanya melakukan reparasi atau service terhadap mesin-mesin tersebut.
Hal senada di ungkapkan bapak nugroho selaku staf maneger pemasaran urusan CPO PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. yang mengatakan “ Bahkan sejak bapak saya kerja disini sebagai salah satu pendiri PTP. Nusantara
mesin-mesin produksi itu tidak pernah diganti-ganti”. Bahkan dia bertanya “adek tau PT. Astra? Perusahaan tersebut adalah perusahaan yang memiliki teknologi proses produksi tercanggih di Indonesia. Namun, sebenarnya teknologi proses produksi tidak mempengaruhi rendemen CPO namun bahan bakulah yang mempengaruhi rendemen CPO. Hal senada diungkapkan bapak suparman yang mengatakan “teknologi kita nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang tapi itu tidak mempengaruhi rendemen CPO dan satu-satunya yang mampu mempengaruhi rendemen CPO hanyalah bahan baku (TBS) dan jadwal pemupukan”.
A .Peta Pemupukan
Peta pemupukan sangat penting untuk melihat perkembangan dari kegiatan pemupukan. Dengan peta pemupukan akan terlihat di blok mana saja yang sudah terpupuk dan diblok mana yang belum terpupuk. Peta pemupukan berasal dari peta divisi dimana bila selesai pemupukan maka peta tersebut diisi dengan menggunakan stabilo sesuai blok yang dipupuk pada hari itu. Dari peta pemupukan maka asisten bisa merencanakan kapan kegiatan ini selesai dilakukan.
B. Persiapan Pemupukan
Sebelum melakukan pemupukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti kebersihan piringan dan pasar pikul, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan pupuk, ketersediaan alat dan transportasi.
C. Waktu Pemupukan
Waktu pemupukan ditentukan oleh iklim terutama curah hujan. Selain itu juga ditentukan oleh sifat fisik tanah, pengadaan pupuk, serta sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara. Pemupukan semester pertama dilakukan pada bulan Februari/Maret untuk pupuk Urea, KCl, dan RP serta bulan April/Mei untuk pupuk Kieserit dan HGF-Borat, sedangkan semester kedua dilakukan pada bulan Agustus/September. Pemupukan semester kedua khusus untuk pemupukan sisa pupuk Urea dan KCl pada semester pertama.
D. Hubungan Pemupukan dan Produktivitas Tanaman
Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman sehingga produktivitas yang dihasilkan optimal. Pemupukan yang baik mampu meningkatkan produksi hingga mencapai produktivitas standar sesuai dengan kelas kesesuaian lahan. Untuk mencapai produktivitas yang optimal maka harus memperhatikan konsep 4 T yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat.
Menurut Suwandi et al. (2000), pemupukan dilakukan dengan penyebaran secara merata pada lingkaran batang yaitu antara 1 – 3 m dari batang pokok. Radius tersebut diperhitungkan dari kenyataan bahwa sebaran akar yang optimal mendominasi lingkar batang dengan radius 1–3 m dari pokok. Selain itu, penurunan produktivitas juga disebabkan oleh kondisi tanaman yang mengalami defisisensi hara. Bila tanaman terkena defisiensi hara maka daun tidak bisa
melakukan fotosintesis secara optimal sehingga produktivitas tanaman menjadi rendah.
Gambar 4.2 Skema Proses Produksi
4.2.1.1.2 Akibat Perubahan Kompetisi
Perubahan-perubahan kompetisi yang semakin dinamis dan kompetitif semakin terlihat ketika dari segi kualitas, harga, dan bahan bakunya yang baik, dapat mempegaruhi pasar dan perilaku pelanggan terhadap perusahaan. Sejak era 1999 perusahaan membangun program Coporate Social Responsibilitynya (CSR) dengan menggunakan program transmigrasi dari masyarakat Prov. Sumatera Utara dan Pulau Jawa untuk bekerja di wilayah Prov. Riau dan sekitarnya, dengan memberikan kredit perkebunan kelapa sawit seluas 2 Ha. Dengan syarat, menjual TBS mereka pada PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru, hingga Perkebunan tersebut ingin dijual kembali oleh pemiliknya.
Namun kenyataannya, setelah kredit terlunasi pihak ke 3 (rakyat sekitar) tidak menjual TBS mereka pada PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. Hingga saat ini Perusahaan sedang melakukakan upaya untuk melakukan pendekatan kepada pihak ke 3 dalam bentuk pemenuhan kebutuhan perlatan perkebunan dan aktivitas-aktivitas pertanian seperti replanting, penanaman, pembibitan maupun pemeliharaan dalam bentuk kemitraan.
Hal serupa dinyatakan oleh bapak joko selaku kepala pembukuan Strategi Unit Bussines (SBU) Sei Galuh “bahwa kita sudah berusaha membantu ekonomi mereka, namun mereka berbuat tidak sebaliknya. Mereka menjual TBS-TBS tersebut kepada pihak swasta untuk diproses menjadi CPO. Tentu ini akan menjadi boomerang bagi kita, kita tidak mendapatkan bahan baku yg memiliki kuantitas yang banyak serta qualitas yang baik. Karenakan lahan-lahan mereka
yang kita berikan itu struktur tanahnya, bibit-bibitnya juga bagus, tapi buahnya tidak dijual kepada kita. Itu menjadi sebuah kerugian agi kita sendiri.”
4.2.1.1.3 Akibat Perubahan Pasar
Hasil dari pembahasan bersama bapak nugroho selaku staf manejer urusan CPO PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. Mengungkapkan bahwa “produk perusahaan sangat mendukung perubahan pasar yang terjadi walupun tidak signifikan, Karna sebenarnya yang mempengaruhi adalah bahan bakunya dan bahan baku mengacu pada pasar, cuaca dan pemupukan”. Sementara ini prospek minyak sawit dunia triwulan IV/2011 diprakirakan melemah dengan tren pergerakan harga berfluktuatif menurun. Hal ini dipengaruhi karna adanya peningkatan produksi mengingat, para pekerja (buruh) kembali bekerja seperti biasa setelah libur panjang selama bulan puasa, disamping faktor cuaca yang membaik setelah sebelumnya dilanda kemarau panjang.
Disisi lain permintaan minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan konsumsi menjelang liburan natal dan tahun baru mengalami peningkatan. Menurut bapak rimra warman selaku asisten pengendalian mutu pada Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS Sei Pagar) “Dalam proses produksi, dari dulu sampai sekarang emang nggak ada melakukan inovasi, karna yang kita kelola inikan buah dari pohon kelapa sawit. Hasil pengelolaannya kalo tidak minyak sawit ya inti sawit yang menjadi palm kernel oil (PKO) dan palm kernel mill (PKM). Kalo mau berkembang ya kita musti melakukan perubahan ke industri
hulu, baru kita bisa maju. Nah yang penting penjadwalan pemupukannya, bibitnya, dan cuaca tentunya. Makanya kita musti tau dulu product knowledge.”.
Sumber : ptpn5.com
4.2.1.1.4 Akibat Perubahan Politik
Kadar ALB dari CPO yang diterima dipasaran yakni antara 2,45%-3,5 persen, kadar air dan kotoran adalah antara 0,1% 0,4% dengan rendemen antara 20% -25%, sehingga perusahaan PT. Perkebunan Nusantara V mempunyai target ALB sebesar 2,6 %, kadar air dan kotoran sebesar 0,1% dan rendemen 21% agar produknya mempunyai daya saing yang tinggi dipasaran dan mendapatkan harga yang baik sehingga mendapat keuntungan yang besar bagi perusahaan. Pengembangan perkebunan kelapa sawit memberikan pengaruh positif maupun negative terhadap lingkungan social dan ekologi, seperti meningkatkan perekonomian masyarakat dan menambah devisa Negara dari ekspor CPO (Crude Palm Oil) ke Negara China, Uni Erofa, Amerika, India. Ekspor CPO Indonesia tahun 2011 volumenya 16.5 juta ton,untuk tahun 2012 prediksi naik 8% menjadi 17.5 hingga 18 juta ton.
Pemerintah menetapkan pajak ekspor minyak sawit mentah untuk bulan Mei 2011 sebesar 17,5 persen. Angka itu turun sekitar 22 persen dibandingkan pajak ekspor minyak sawit mentah bulan April 2011, yakni 22,5 persen. Penurunan pajak mengikuti penurunan harga minyak mentah sawit. Contoh Harga referensi CPO bulan Mei 2011 sebesar 1.145,05 dollar AS per metrik ton, sementara pada bulan April tercatat 1.207,53 dollar AS per metrik ton.(cifRoterdam-Belanda). Sepanjang bulan Maret, pajak ekspor CPO masih tinggi, yakni 25 persen. Diperkirakan tren penurunan harga masih akan terus berlanjut.
Untuk ketahui Crude palm oil (CPO), minyak sawit mentah dan turunannya dari Indonesia tidak boleh diperdagangkan di negaranya Paman Sam Per 28 Januari 2012, Amerika mengeluarkan keputusan melalui notifikasinya bahwa crude dinilai tidak ramah lingkungan.terutama Pengolahan CPO oleh Pabrik kelapa Sawit (PKS) masih di temukanya Pabrik PKS tidak peduli pembuangan limbah,cerobong apa mengeluarkan asap menghitam. faktor tumpah tindih lahan perkebunan rakyat dengan perusahaan swasta bisa menimbulkan konflik antar masyarakat tempatan. ekspansi pembukaan lahan perkebunan oleh perusahaan raksasa kelapa sawit telah menghancurkan eksosistem ,deforestasi hutan,juga kehilangan keanekaragaman hayati dan fauna serta plasma nutfah.
Pembersihan lahan hutan (land clearing) untuk perkebunan kelapa sawit dengan cara membakar menghabiskan biaya ekonomi,social,ekologi,juga berdampak terhadap kesehatan manusia asap kabut dari pembakaran lahan itu.menimbulkan ispa (penyakit saluran Pernapasan) akibat asap kabut. Perkebunan kelapa sawit mengakibatkan hilang sumber air sehingga memicu kekeringan,peningkatan suhu dan gas rumah kaca mendorong terjadinya bencana alam.
4.2.1.2 Price (Harga)
4.2.1.2.1 Akibat perubahan Teknologi
Ditemukan di Pabrik Kelapa Sawit Sei galuh (PKS Sei Galuh) dan Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS Sei Pagar), bahwa tidak ada perbahan teknologi yang signifigan sejak dilakukannnya konsolidasi antara PTP. Nusantara II, PTP. Nusantara IV dan PTP. Nusantara V. Namun menurut bapak Suparman selaku kepala bagian manejemen pengendalian mutu di Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS Sei Pagar) dengan nada rendah iya menceritakan “saya rasa dalam perubahan teknologi antara yang dulu dengan yang sekarang ini tidak mempengaruhi harga, sebaliknya yang mampu mengendalikan harga ini justru pasar seperti permintaan, penawaran, tingkat konsumsi dan persediaan,sambung pak nugroho ditempat yang berbeda.
4.2.1.2.2 Akibat Perubahan Kompetisi
Ternyata pelayanan mempengaruhi harga dalam mempengaruhi penjualan CPO dan pembelian tandan buah segar ( TBS). Bapak jarwo selaku kepala urusan CPO (kantor pusat) menceritakan “Sejak terlunasinya kredit rakyat atas perkebunan yang diberikan, seluas 2 Ha. Rakyat sekitar (Pihak ke 3) tidak lagi mau menjual TBS nya kepada PT. Perkebunan Nusantara V. Karna PT. Perkebunan Nusantara V hanya mampu membeli TBS rakyat dengan harga yang rendah di bandingkan perusahaan-perusahaan swasta. Jelas hal tersebut dikarenakan jumlah karyawan kita terlalu banyak, ya alokasinya jadi lebih kecil.
Sementara itu jika kita perhatikan perusahaan swasta, jumlah karyawan mereka sedikit tentu mereka mampu membeli TBS dengan harga mahal”.
Diwaktu yang berbeda bapak saragih selaku kepala pembukuan di Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar menceritakan dengan nada yang tinggi dan tegas “karena itu kita sekarang sedang melakukan pendekatan terhadap pihak ke-3. Agar mereka mau mejual TBS nya kepada kita dengan memberikan “fasilitas” peralatan- peralatan perkebunan. Apa lagi kebun mereka itukan membutuhkan replanting jika usianya sudah tua, jadi mereka masih membutuhkan kita !”.
Dari produk turunan TBS kita akan mengenal minyak sawit yang disebut dengan Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Mill (PKM). Ditemukan bahwa perusahaan memiliki lembaga instansi yang dipercaya untuk menjadi salah satu faktor dalam menentukan strategi harga untuk melakukan expor yaitu Malaysia Derivative Exchange (MDEx) dan CPO CIF Rotterdam yang merupakan pasar modal dan investasi dengan tiga segmen yang berbeda yaitu ekuitas, keuangan dan komoditas dan yang terakir PT. Kharisma Pemasaran Bersama (PT. KPB