• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Tipe – Tipe Strategi Pemasaran

2.1.2.3 Experiential Marketing

Experience secara harfiah diartikan sebagai pengalaman. Tiga puluh tahun lalu, Al rise dan Jack Trout dalam artikel mereka yang dimuat dalam Advertising Age yang berjudul The Positioning Era Cometh, menyatakan bahwa “perang pemasaran bukanlah dipasar melainkan di benak pelanggan lewat produk dan jasa (service) atau yang lazimnya disebut service excellence” (Ries and Ries, 2003). Tapi ketika itu tidak banyak orang perduli pada custumer service. Saat ini, hampir semua penyedia produk dan jasa melakukan apa yang disebut service exelence telah menjadi sebuah konsep dasar yang harus dilakukan seorang pemasar. Saat

ini pelanggan mempunyai kekuatan untuk memilih (Winarko : 2003). Pine and Gilmore (1999) mengidentifikasi bahwa

penawaran yang diberikan oleh perusahaan kepada pelanggannya dapat berupa komoditi (commodities) , barang (goods), layanan (services), dan pengalaman (experiences”). Dahulu, saat era servive economy dan service exelence, barang dan layanan yang bagus sudah cukup memuaskan pelanggan. Karena itulah kepuasa pelanggan kemudian menjadi ukuran kesuksesan sebuah merek. Namun kini , kita memasuki era experiential economy.

Untuk itulah, produk harus mampu membangkitkan sensasi dan pengalaman yang akan menjadi basis loyalitas pelanggan. Karena pergeseran ini, maka kosep kepuasan pelanggan kini menjadi kurang relevan.

Experiential marketing sangat berguna untuk sebuah perusahaan yang ingin meningkatkan merek yang berada pada tahap penurunan, membedakan produk mereka dari produk pesaing, menciptakan sebuah image dan identitas untuk sebuah perusahaan, meningkatkan inovasi dan membujuk pelanggan untuk mencoba dan membeli produk. Hal yang terpenting adalah menciptakan pelanggan yang loyal (New York Group Advertising, 2001 ; 2).

Pelanggan mencari perusahaan – perusahaan dan merek – merek tertentu untuk dijadikan bagian dari hidup mereka. Pelanggan juga ingin perusahaan – perusahaan dan merek – merek tersebut dapat berhubungan dengan hidup mereka, mengerti mereka, menyesuaikan dengan kebutuhan mereka dan membuat hidup

mereka jauh lebih terpenuhi. Dalam era informasi, teknologi, perubahan dan pilihan, setiap perusahaan perlu lebih selaras dengan para pelanggan dan pengalaman yang produk atau jasa mereka berikan.

Tahap awal dari sebuah experiential marketing terfokus pada tiga kunci pokok :

1. Pengalaman pelanggan

Pengalaman pelanggan melibatkan panca indera, hati, pikiran yang dapat menempatkan pembelian produk atau jasa diantara konteks yang lebih besar dalam kehidupan.

2. Pola konsumsi

Analisis pola konsumsi dapat menimbulkan hubungan untuk menciptakan sinergi yang lebih besar. Produk dan jasa tidak lagi dievaluasi secara terpisah, tetapi dapat dievaluasi sebagai bagian dari keseluruhan pola penggunaan yang sesuai dengan kehidupan konsumen. Hal yang terpenting, pengalaman setelah pembelian diukur melalui kepuasan dan loyalitas.

3. Keputusan rasional dan emosional

“Pengalaman dalam hidup sering digunakan untuk memenuhi fantasi, perasaan dan kesenangan. Banyak keputusan dibuat dengan menuruti kata hati dan tidak rasional. Experential marketing membuat

pelanggan merasa senang dengan keputusan pembelian yang telah dibuat” ( New York Group Advertising, 2001 ; 4).

Schmitt (1998) memberikan suatu framework alternative yang terdiri dari dua elemen, yaitu :

1. Strategic experience modules (SEMs), yang terdiri dari beberapa tipe experience ini.

2. Experience producers (Expros), yaitu agen – agen yang dapat menghantarkan experience ini.

Strategic experience modules terdiri dari lima tipe, yaitu sense, feel, think, act, relate.

Terdapat tiga prinsip pemasaran menurut Keegen (1989 : 4) yaitu :

1. Penciptaan nilai pelanggan

2. Mencapai keunggulan kompetitif dan diferensial

3. Fokus dan konsentrasi tujuan, sumberdaya dan upaya

Menurut pendapat Rangkuti (2004 : 6), strategi dapat dikelompokkan berdasarkan 3 (tiga) tipe strategi, yaitu:

1). Strategi Manajemen

Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro

misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga, strategi pengembangan produk, strategi akuisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan dan sebagainya.

2). Strategi Investasi

Strategi investasi merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi, misalnya, apakah perusahaan ini melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi diiventasi, dan sebagainya.

3). Strategi Bisnis

Strategi bisnis ini juga disebut strategi bisnis secara fungsional karena bisnis ini berorientasi kepada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan.

a. Harga (Price)

Menurut stanton (1982:254) mendefinisikan harga adalah “Price is amount of money (plus possible some goods) that is needed to acquire some combination of product and it’s accompying services.” (Alma, 1992 : 230) menegaskan bahwa harga berjalan sejajar dengan mutu produk.

Apabila mutu produk baik, maka calon pelanggan berani untuk membeli lebih tinggi.“Price also gives a perception of quality” (Payne, 1993 : 150).

b. Produk (product)

Menurut Stanton (1984 : 161), “a product is a set of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price, manufacturer’s prestige, retailer’s prestige, and manufacturer’s and retailer’s services, which the buyer may accept as offering want satisfaction”. Jadi produk bukan hanya berbentuk sesuatu yang berwujud saja, tetapi juga sesuatu yang tidak berwujud seperti pelayanan jasa yang dapat dijual, dibeli, dan dapat dimiliki, semuanya digunakan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan dari konsumen.

c. Tempat (place)

Lokasi merupakan keputusan organisasi mengenai tempat untuk beroperasinya semua kegiatankegiatan organisasi. Lokasi sangat berpengaruh terhadap penyampaian produk dan ketepatan pada pasar sasaran. Produk tidak akan mempunyai guna yang lebih bagi konsumen apabila tidak tersedia pada saat dan tempat yang dinginkan.

d. Promosi (promotion)

“Promosi adalah kegiatan mengkomunikasikan informasi dari penjual kepada konsumen atau pihak lain dalam saluran penjualan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku” (Baker, 2000 : 7). Melalui periklanan

suatu perusahaan mengarahkan komunikasi persuasif pada pembeli sasaran dan masyarakat melalui media-media yang disebut dengan media massa seperti koran, majalah, tabloid, radio, televisi dan direct mail (Tenaga Kerja

Gambar 2.1. Bauran Pemasaran

Sumber : allaffiliatemarketing.info

2.1.3. Pengertian Teknologi, Pasar, Politik dan kompetisi 2.1.3.1 Pengertian Teknologi

Memahami teknologi tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan alam dan rekayasa (engineering). Ilmu pengetahuan alam adalah input bagi proses ilmu rekayasa sedangkan teknologi adalah hasil proses rekayasa. Besarnya pengaruh dari kemajuan teknologi terhadap perubahan kehidupan manusia di dunia yang mendorong proses globalisasi ekonomi semakin pesat sebenarnya sudah diduga sebelumnya oleh sejumlah orang, diantaranya adalah Alvin Toffler (1980). Menurutnya (Alvin Toffler : 1980) bahwa

“akibat progres teknologi akan terjadi kejutan-kejutan masa depan yang melahirkan revolusi baru. Kehidupan manusia atau kegiatan ekonomi dunia tidak lagi dipimpin oleh industri, namun informasi akan muncul sebagai penggerak pendahulu. Revolusi informasi yang sarat dengan teknologi akan membawa perubahan-perubahan di dalam kehidupan manusia sehari-hari yang jauh lebih radikal daripada revolusi industri yang memerlukan waktu, biaya, lahan, dan pasar yang besar”.

Alvin Toffler (1980) mengatakan bahwa “revolusi informasi yang dipicuh oleh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, akan membawa wajah baru, yakni masyarakat global lantaran kaburnya batas-batas wilayah dan negara”. Peran dari kemajuan teknologi terhadap proses globalisasi juga diakui oleh (Friedman,2002) yang mendapat penghargaan atas bukunya mengenai globalisasi. yang menyatakan “era globalisasi dibangun seputar jatuhnya biaya telekomunikasi berkat adanya mikrochip, satelit, dan internet atau Teknologi informasi yang baru ini mampu merajut dunia bersama-sama bahkan menjadi lebih erat”.

Teknologi ini juga dapat memungkinkan perusahaan untuk menempatkan lokasi bagian produksi di negara yang berbeda, bagian riset dan pemasaran di negara yang berbeda, tetapi dapat mengikat mereka bersama melalui komputer dan komperensi jarak jauh seakan mereka berada disatu tempat. Demikian juga berkat kombinasi antara komputer dan telekomunikasi yang murah, masyarakat sekarang dapat menawarkan pelayanan perdagangan secara global - dari konsultasi medis sampai penulisan data perangkat lunak ke proses data –

Friedman (2002) mengatakan bahwa “globalisasi memiliki definisi teknologi sendiri: komputerisasi, miniaturisasi, digitalisasi, komunikasi satelit, serat optik dan internet”.

2.1.3.2. Pengertian Pasar

Pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli (penjualan dan pembelian) yang dilakukan oleh penjual dan pembeli yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Faktor pendorong kedua yang membuat semakin kencangnya arus perubahan pasar ekonomi adalah semakin terbukanya sistem perekonomian dari negara-negara di dunia baik dalam perdagangan, produksi maupun investasi/keuangan. Menurut Fukuyama (1999), menegaskan bahwa “dewasa ini baik negara-negara maju maupun Negara sedang berkembang cenderung mengadopsi prinsip-prinsip liberal dalam menata ekonomi dan politik domestik mereka”. Seperti yang dapat dikutip dari Friedman (2002) bahwa

Ide dibelakang perubahan pasar yang mengendalikannya adalah kapitalisme bebas – semakin Anda membiarkan kekuatan pasar berkuasa dan semakin Anda membuka perekonomian Anda bagi perdagangan bebas dan kompetisi, perekonomian Anda akan semakin efisien dan berkembang pesat. Pasar adalah tempat melakukan suatu transaksi jual maupun beli barang dan jasa disuatu tempat sedangkan perubahan pasar berarti penyebaran kapitalisme pasar bebas ke setiap negara di dunia. Karenanya globalisasi juga memiliki aturan perekonomian tersendiri – peraturan yang

bergulir seputar pembukaan, deregulasi, privatisasi perekonomian Anda, guna membuatnya lebih kompetitif dan atraktif bagi investasi luar negeri.

Menurut Stanton (2003) definisi pasar secara luas adalah “orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk membelanjakannya”. Pada umumnya suatu transaksi jual beli melibatkan produk barang atau jasa dengan uang sebagai alat transaksi pembayaran yang sah dan disetujui oleh kedua belah pihak yang bertransaksi. Kegiatan faktor produksi adalah kegiatan yang melakukan proses, pengolahan, dan mengubah faktor-faktor produksi dari yang tidak atau kurang manfaat gunanya menjadi memiliki nilai manfaat yang lebih. Faktor- Faktor produksi yang umumnya digunakan adalah tenaga kerja, tanah, modal, dan metode.

Kelangkaan pada suatu faktor produksi biasanya akan menyebabkan kenaikan harga faktor produksi tersebut. Perubahan pasar merupakan perubahan suatu permintaan pasar akibat perubahan perilaku konsumen yang mengakibatkan perubahan penawaran beserta segala sistem pasar yang ada didalamnya. Perubahan keadaan ekonomi secara global dan pada Indonesia terjadi secara cepat. Perubahan yang membawa dunia ekonomi membuat persaingan semakin ketat. Keadaan ini membuat perusahaan lebih tanggap kepada keadaan pasar yang sangat cepat dan dinamis. Faktor – Faktor yang mendorong terjadinya perubahan pasar :

1. Tingkat Penjualan

Volume penjualan dapat dijabarkan sebagai umpan balik dari kegiatan pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan. Penjualan mempunyai pengertian yang bermacam-macam tergantung pada lingkup permasalahan yang sedang dibahas. Menurut Kotler dan Amstrong (1998), penjualan dalam lingkup kegiatan, sering disalahartikan dengan pengertian pemasaran. Penjualan dalam lingkup ini lebih berarti tindakan menjual barang atau jasa. Kegiatan pemasaran adalah penjualan dalam lingkup hasil atau pendapatan berarti penilaian atas penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode. Menurut Swastha dan Irawan (2000), permintaan pasar dapat diukur dengan menggunakan volume fisik maupun volume rupiah.

Berdasarkan pendapat Swastha dan Irawan tersebut, pengukuran volume penjualan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu didasarkan jumlah unit produk yang terjual dan didasarkan pada nilai produk yang terjual (omzet penjualan). Volume penjualan yang diukur berdasarkan unit produk yang terjual, yaitu jumlah unit penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode tertentu, sedangkan nilai produk yang terjual (omzet penjualan), yaitu jumlah nilai penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam penelitian ini pengukuran volume penjualan didasarkan pada jumlah unit produk yang terjual.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi volume penjualan antara lain:

a. Kualitas barang.

Turunnya mutu barang dapat mempengaruhi volume penjualan, jika barang yang diperdagangkan mutunya menurun dapat menyebabkan pembelinya yang sudah menjadi pelanggan dapat merasakan kecewa sehingga mereka bisa berpaling kepada barang lain yang mutunya lebih baik.

b. Selera konsumen.

Selera konsumen tidaklah tetap dan dia dapat berubah setiap saat, bilamana selera konsumen terhadap barang-barang yang kita perjualkan berubah maka volume penjualan akan menurun.

c. Servis Konsumen

Servis terhadap pelanggan merupakan faktor penting dalam usaha memperlancar penjualan terhadap usaha dimana tingkat persaingan semakin tajam. Dengan adanya servis yang baik terhadap para pelanggan sehingga dapat meningkatkan volume penjualan.

2. Waktu

Petunjuk ekonomi dapat menjadi terdepan, tertinggal atau secara kebetulan yang mana mengindikasikan waktu dari perubahan relatif mereka terhadap ekonomi sebagai perubahan keseluruhan.

a. Memimpin : petunjuk ekonomi yang memimpin adalah petunjuk yang berubah sebelum perubahan ekonomi. Kembalinya pasar saham adalah sebuah petujuk yang terdepan, sebagaimana pasar saham biasanya mulai menurun dan bangkit kembali sebelum ekonomi mulai keluar dari resesi. Petunjuk ekonomi yang memimpin adalah tipe yang paling penting untuk penanam modal untuk membantu meramalkan keadaan ekonomi dimasa yang akan datang.

b. Kemunduran : Sebuah petunjuk kemunduran ekonomi adalah tidak berubahnya arah sampai beberapa kwartal dari perubahan ekonomi. Angka pengagguran adalah sebuah petunjuk kemunduran ekonomi sebagaimana pengangguran cenderung meningkat untuk jangka waktu 2 atau 3 kwartal setelah kondisi ekonomi mulai membaik.

c. Kebetulan : petunjuk ekonomi secara kebetulan adalah hanya bergerak bersamaan dengan kondisi ekonomi. Produksi kotor domestik adalah sebuah petunjuk secara kebetulan.

3. Tingkat Permintaan

Menurut samuelson (2003) “permintaan adalah sejumlah barang yg dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu”. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan antara lain:

a. Tingkat kebutuhan

Apabila kebutuhan terhadap suatu barang sangat penting, perubahan harga tidak mempengaruhi jumlah permintaan, maka permintaan terhadap

barang ini bersifat inelastic, sebaliknya bila kebutuhan terhadap suatu barang kurang penting, maka permintaan bersifat elastic.

b. Adanya barang-barang substitusi

Banyak atau sedikitnya macam barang substitusi sangat mempengaruhi jumlah permintaan. Kalau barang substitusi banyak, dengan terjadinya kenaikan harga sedikit saja, maka permintaan ini bersifat elastic. Apabila barang substitusi tidak ada maka permintaan itu akan bersifat elastis. c. Pendapatan konsumsi

Apabila pendapatan konsumen relative besar bila dibandingkan dengan harga barang maka permintaan akan bersifat inelastic sebaliknya

konsumen yang berpendapatan kecil dengan terjadinya perubahan harga sedikit saja akan mempengaruhi permintaan terhadap barang, permintaan ini bersifat inelastic.

d. Perubahan harga dan barang yang diminta

Hal ini akan mempengaruhi golongan lain untuk meminta barang tersebut, sehingga permintaan menjadi elastic.

e. Adanya barang yang serbaguna

Barang yang dapat digunakan secara multifungsi maka permintaan terhadap barang tersebut akan bersifat elastic.

f. Tradisi

Apabila pemakaian sesuatu barang sudah menjadi tradisi walaupun berapa pun naiknya harga, orang akan tetap membelinya, maka permintaan ini

bersifat inelastis, tetapi apabila tidak didasarkan tradisi permintaan akan bersifat elastis.

g. Mode

Mode juga mempengaruhi permintaan terhadap sesuatu barang, apabila barang tersebut sudah digandrungi oleh masyarakat, maka berapapun naiknya harga akan tetap dibeli. Maka permintaan akan bersifat inelastic demikian sebaliknya.

4. Kompetitor

Menurut Anik (2009) kompetitor adalah “orang atau organisasi yang menjadi saingan suatu perusahaan yang mungkin di balik itu mempunyai niat yang sama seperti perusahaan tersebut”. Dalam menghadapi kompetitor yang harus dilakukan adalah mengenali karakter mereka. Juga apa saja yang menjadi sepak terjangnya. Jangan takut menjadi tersaingi, justru jika kita melihat apa yang menjadi kelebihan dari kompetitor dan kita bisa mempelajarinya, itu satu kesempatan untuk mengetahui apa yang menjadi andalannya dan apa yang tidak ia miliki. Sehingga kita bisa membandingkan apa yang kita miliki untuk kemudian mengeksplorasi semua yang perusahaan miliki. Mungkin hal itu tidak dimiliki oleh mereka. Itu menjadikan nilai lebih bagi perusahaan.

2.1.3.3 Pengertian Kompetisi

Sacks dan Krupat (1988) mendefinisikan kompetisi adalah “usaha untuk melawan atau melebihi orang lain atau suatu organisasi”. Kompetisi mempunyai pengertian adanya persaingan antara perusahaan untuk mencapai pangsa pasar yang lebih besar. Kompetisi antara perusahaan dalam meperebutkan pelanggan akan menuju pada inovasi dan perbaikan produk yang pada akirnya pada harga yang lebi rendah sebuah perusahaan yang memimpin pasar dapat dikatakan sudah mencapai keunggulan kompetisi. Kompetisi baik bagi perusahaan karena akan terus mendorong adanya inovasi ketekunan dan membangun semangat tim, sekalipun demikian tidak selamanya kompetisi selalu baik karena kita harus memastikan bahwa para pesaing perusahaan kita tidak mencuri pelanggan kita dalam pengertian sempit kompetisi memiliki pengertian perusahaan perusahaan berusaha sekuat tenaga untuk membuat pelanggan membeli produk mereka bukan produk pesaing oleh karena itu akan terdapat pihak yang menang dan yang kalah.

Dalam pengertian luas sebagaimana sudah disebutkan diatas, kompetisi merupakan usaha organisasi bisnis dalam memperoleh pangsa pasar yang lebih

besar dan lebih sukses dibangdingkan pesaingnya.

Menurut Hair, et al, (2001 : 93) dalam pendapatnya adalah

Faktor ketiga yang mempengaruhi strategi pemasaran ialah kompetisi keberadaan pasar. Dalam era globalisasi, persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional/global. Fenomena ini semakin menyadarkan para pengusaha untuk mencari

pendekatan-pendekatan serta terobosan yang inovatif guna merebut pangsa pasar. Upaya yang dilakukan yakni mencoba untuk bersaing di pasar yang lebih luas, juga menentukan bagian pasar mana yang dapat dilayani dengan baik. Hal ini disebabkan konsumen yang bervariasi, baik dalam memenuhi kebutuhan dan kebiasaan mengkonsumsi barang dan jasa, mulai dari barang-barang kebutuhan sehari-hari, jasa perbankan, jasa transportasi hingga makanan. Disinilah para perusahaan berusaha mendistribusikan produk mereka ke berbagai wilayah belahan dunia. Dari kebutuhan tersebut, maka membuat arus perdagangan menjadi semakin ketat dan globalisasi pun terjadi. Karena adanya kemudahan akses perdagangan ke berbagai wilayah belahan dunia..

2.1.3.4. Pengertian Politik

Faktor Politik pun tidak kalah pentingnya dalam proses pemasaran. Bila

dibandingkan dengan pelaksanaan dalam negeri,

perdagangan antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor. Menurut Aristoteles politik adala negara untuk mewujudkan kebaikan bersama selain itu politik bisa juga disebut sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun

nonkonstitusional. Perdagangan

kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau kuota barang impor.

Selain itu, menurut Amir (2009) “kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, perdagangan”.

Definisi Politik adalah - Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama” (teori klasik Aristoteles). Menurut Amir M.S, berpendapat bahwa

bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdangangan di dalam negeri, perdagangan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor. Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, timbangan, da

Dalam perdagangan internasional atau perdagangan bebas, suatu kebijakan dari pihak pemerintah perlu diberlakukan untuk tercapainya suatu pertumbuhan

ekonomi dan stabilitas yang selalu berarah positif, disini ada beberapa kebijakan dari pemerintah dalam perdagangan international atau perdagangan bebas. 1. Bea Cukai

Cukai adalah pungutan ole yang menikmati/menggunakan obyek cukai.

2. Tarif Pajak Eksport/import

Yang dimaksud dengan tarif adalah pajak ekspor atau impor yang dikenakan oleh suatu negara terhadap produk ekspor atau impor dari negara lain yang dibawa ke dalam atau ke luar daerah pabean.

3. Quota

Kuota import adalah satu jenis yang menetapkan had fizkal pada jumlah barang yang bole negara dalam jangka waktu tertentu. Kuota, seperti sekatan perdagangan lain, digunakan untuk menguntungkan pengilang barangan dalam ekonomi domestik dengan mengorbankan faedah yang boleh diperolehi oleh pengguna barangan dalam negara tersebut.

4. Subtitusi Impor

Sebagai usaha suatu negara untuk melakukan subsitusi barang – barang import dengan barang – barang sejenis yang diproduksi oleh industry domestik, Berdasarkan jenis barang yang diproduksi.

2.2. Penelitian Terdahulu

Jaldi Christanto Sinaga (2011), dengan judul“Analisis Pemasaran CPO (Crude Palm Oil) PT. Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV). Studi kasus : Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN I-V) dan Karisma Pemasaran Bersama (KPB) PT. Perkebunan Nusantara I-V Cabang Medan”. Berdasarkan hasil penelitian menyimpulkan bahwa, Pemasaran CPO dipengaruhi pleh faktor internal dan eksternal, seperti mutu (asam lemak bebas, kadar lembab/kadar Air, jumlah CPO, harga CPO, tujuan perusahaan, dan promosi) dan faktor-faktor eksternal, seperti kebijakan pemerintah, (kuota penjualan, pajak ekspor, dan penjualan pemerintah), bea tarif masuk, kurs, komoditas subtitusi, dan persaingan (pesaing).

Anisa Sakinah (2011), dengan judul“Analisis Bauran Pemasaran terhadap minat konsumen dalam membeli busana muslim pada toko HJ Isma Lubis Pasar Petisah Medan”. Dengan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan pengaruh bauran pemasaran terhadap minat konsumen dalam melakukan pembelian busana muslim toko Hj Isma. Penelitian ini memiliki jumlah sample 88 orang dan alat pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan wawancara, observasi, dan membuat angket.

2.3 Kerangka Konseptual

Penelitian ini menjelaskan tentang strategi pemasaran dalam menghadapi perubahan pasar, teknologi, politik, dan kompetisi pada kantor PT. Perkebunan Nusantara V Kota Pekanbaru. Untuk memahami alur berfikir penelitian ini perlu

adanya kerangka pikir yang jelas. “Kerangka berfikir merupakan penjelasan

Dokumen terkait