4 HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Kec Kei Besar Utara Timur:
3.2 Aktivitas pendukung
Bagian dari struktur value chain system pada aktifitas penunjang yang telah ditelaah antara lain diijelaskan sebagai berikut:
a. Infrastruktur
Pada lokasi penelitian, sarana infrastruktur seperti akses jalan yang dilalui cukup memadai sehingga proses pengangkutan cukup hasil budidaya rumput laut tidak mengalami hambatan, namun yang menjadi masalah adalah sarana transportasi baik dari pedagang pengumpul kecil ke pedagang pengumpul besar, dan pedagang pengumpul besar ke eksportir dimana mobil yang digunakan masih disewa dengan harga yang cukup tinggi mengakibatkan pengeluaran ekstra setiap kali pengiriman.
Pemerintah dalam mendukung budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara dalam hal pembangunan pabrik pengolahan rumput laut serta infrastruktur, telah menjalankan program pengembangan sarana unit pengolahan dan pemasaran dengan peningkatan kualitas, nilai jual dan diversifikasi produk rumput laut dengan kegiatan : pengadaan alat pengering rumput laut, pembangunan depo penyimpanan, lantai penjemuran, dan pengembangan kawasan minapolitan rumput laut. Pengembangan budidaya rumput laut melalui pemberian paket sarana budidaya rumput laut kepada kelompok masyarakat pembudidaya.
Pembangunan pabrik yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan pengolahan produksi budidaya rumput laut sedang dalam penyelesaian pembangunan fisik yang disertakan dengan pengadaan dan pemasangan alat-alat pabrik (Gambar 9).
Gambar 10Pabrik rumahan dan pembangunan pabrik yang terdapat di Desa Letvuan
Ada 3 Zona pengembangan rumput laut di Maluku Tenggara :
1. Pengembangan kebun benih/bibit
Untuk menjamin tersedianya benih / bibit yang bekualitas yang dapat dijangkau dengan mudah dan murah maka pemerintah daerah akan mengembangkan kebun benih di (Zona I).
2. Pengembangan produksi budidaya
Penggunaan teknologi modern melalui metode budidaya tepat guna dapat meningkatkan produksi budidaya rumput laut. Zona pengemban produksi di Maluku Tenggara (Zona II).
3. Pengembangan industri pengolahan rumput laut
Kedepan perlu dibangun industri pengolahan rumput laut untuk menghasilkan produk seperti chip dan tepung rumput laut melalui pengembangan industri pengolahan rumput laut pada (Zona III).
Pola alur rantai nilai komoditas rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara
Gambar 11 Pola alur rantai nilai Keterangan:
I : Nelayan
II.k : Pedagang Pengumpul Kecil II.b : Pedagang Pengumpul Besar
Tabel 18 Kondisi pembudidaya dan kelompok budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara
Sumber : DKP Kabupaten Maluku Tenggara (2011)
Pada Tabel 18 terlihat kondisi pembudidaya per orang dan per kelompok pada jumlah kelompok di tahun 2009 ada yang sudah mendapat bantuan sebanyak 45% sedangkan yang belum mendapat bantuan sebesar 37.71% dari jumlah kelompok sebesar 40.55%. Gambar 12 menyajikan peta pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara:
Tahun Jumlah Pembudidaya (orang) Jumlah (Klmpk) Jumlah Yang Sudah Menerima Bantuan (Klmpk) Jumlah Yang Belum Menerima Bantuan (Klmpk) 2009 2.773 589 253 336 2010 3.558 864 309 555 II.k II.b I AKTIFITAS UTAMA
Sathean
Luas Lahan : 343,5 Ha
Pemanfaatan: 118,21 Ha
Rata-rata Produksi : 50,99 Ton/45 Hari Letvuan
Luas Lahan : 165 Ha
Pemanfaatan : 48,14 Ha
Rata-rata Produksi : 25,67 Ton/45 hari
Kelanit
Luas Lahan : 66 Ha
Pemanfaatan : 18,78 Ha
Rata-rata Produksi : 5,22 Ton/45 hari
Warbal
Luas Lahan : 725,25 Ha
Pemanfaatan : 28 Ha
Rata-rata Produksi : 14 Ton/45 hari
Ibra
Luas Lahan : 52,3 Ha
Pemanfaatan : 21,83 Ha
Rata-rata Produksi: 14 Ton/45 hari
Elat
Luas Lahan : 28 Ha
Pemanfaatan : 15,25 Ha
Rata-rata Produksi : 14 Ton/45 hari
Sungai Ngafan Luas Lahan : 58,4 Ha
Pemanfaatan : 1,6 Ha
Rata-rata Produksi : 0,81 Ton/45 hari PETA CLASTER PENGEMBANGAN RUMPUT LAUT
DI KAB. MALUKU TENGGARA
Gambar 12 Peta pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara
Terlihat pada Gambar 12 rata-rata produksi sangat berbeda secara signifikan pada tiap-tiap daerah di sebabkan karena luas lahan dan pemanfaatan dari tiap-tiap daerah yang berbeda sehingga rata-rata produksi masing-masing daerah berbeda-beda.
b. Manajemen sumber daya manusia
Peran serta masyarakat dan pemerintah maupun lembaga-lembaga terkait demi mendukung pengembangan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara sangat penting. Realitas SDM suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari realitas pendidikan sebagai system fundamental pengelolaan dan penghasil pengetahuan itu sendiri. Pada dasarnya, konsep SDM, setidak-tidaknya mengandung 3 pengertian yang maknanya tercemin pada kata awal yang mendahului istilah SDM tersebut (Tamin, 1998), yaitu : Pertama, Peningkatan SDM yaitu upaya menambah kemampuan SDM yang ada, agar lebih produktif hal ini terkait dalam dunia tenaga kerja; Kedua, Pengembangan SDM, yaitu upaya membina dan mengembangkan kemampuan dasar SDM agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal; Ketiga, Pembangunan SDM, yaitu menciptakan SDM secara berkesinambungan, yang meliputi seluruh aspek hidup manusia untuk dapat memenuhi ciri-ciri hidup manusia seutuhnya.
Dalam keterkaitan dengan penjelasan tersebut maka pemerintah daerah Kabupaten Maluku Tenggara telah memberikan perhatiannya terhadap apa yang menjadi kebutuhan nelayan pembudidaya rumput laut dengan adanya program peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan melalui pelatihan dan magang pembudidaya yang telah dilaksanakan saat ini bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Perindustrian dan Perdagangan dengan melakukan ekstensifikasi areal budidaya, yang telah dilaksanakan dalam bentuk training / pelatihan kelompok-kelompok. Berikut ini adalah Tabel 19 pemanfaatan lahan untuk budidaya rumput laut dan peningkatan jumlah pembudidaya Tahun 2007- 2010.
PETA PENGEMBANGAN RUMPUT LAUT DI KAB.MALUKU TENGGARA
Tabel 19 Pemanfaatan lahan untuk budidaya rumput laut dan peningkatan jumlah pembudidaya
No. Tahun Luas Lahan yang Dimanfaatkan (Ha) Persentase (%) Jumlah Pembudidaya (Orang) 1. 2007 3.68 88.5 257 2. 2008 32 95.92 735 3. 2009 785.66 66.90 2.773 4. 2010 2,373.62 - 3.558
Sumber : DKP Kabupaten Maluku Tenggara (2011)
Berdasarkan Tabel dapat dilihat perkembangan yang sangat pesat pada jumlah pembudidaya sehingga lahan yang dibutuhkan semakin besar. Hal ini menunjukan bahwa keinginan serta minat yang ditunjukkan oleh masyarakat di Kabupaten Maluku Tenggara sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan pendampingan serta dukungan dari Pemerintah dalam mengarahkan tujuan pengembangan budidaya rumput laut di daerah ini.
c. Pengembangan teknologi
Dalam penelitian ini dan berdasarkan observasi lapangan, selain pembangunan pabrik, bentuk dari pengembangan teknologi belum begitu terlihat untuk proses budidaya rumput laut secara keseluruhan, sehingga pengolahan budidaya rumput laut masih lebih cenderung menggunakan sistem tradisonal, sehingga belum mampu untuk bersaing dalam pasar global yang secara keseluruhan telah menggunakan sistem kerja yang modern dengan menggunakan teknologi yang setiap saat mengalami perkembangan pesat. Dibandingkan dengan wilayah yang telah menggunakan pengembangan teknologi yang sudah bisa mengekspor langsung hasil olahan rumput laut langsung ke Negara-negara konsumen.
d.Pembelian
Hasil penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa sistem tata niaga yang belum terkoordinir dengan baik yang mengacu pada norma-norma industrialitas mempengaruhi laba yang dihasilkan dari penjualan. Koefisienan pasar yang belum maksimal sehingga pelaku rantai nilai belum menikmati prinsip win-win solution yang seharusnya ada dalam setiap kegiatan pasar. Dalam hal keefisienan pasar, diperlukan perhatian khusus dari pemerintah guna melakukan promosi investasi sampai kepada memfasilitasi kemitraan antara pembudidaya dengan investor terhadap akses teknologi, pasar dan modal usaha sehingga pemerataan fluktuasi harga dapat teratasi.
Bagian dari struktur value chain system pada aktifitas pendukung yang telah ditelaah antara lain dijelaskan dalam Tabel 20.
Tabel 20 Aktivitas pendukung AK T IF IT AS P E NU D UK UN G
INFRASTRUKTUR a. Sarana transportasi yang cukup memadai untuk mengoptimalkan proses pengangkutan hasil budidaya rumput laut antar pedagang pengumpul.
b. Ketersediaan sarana jalan yang cukup memadai karena sebagian jalan yang ada telah di hotmix
c. Pembagunan fisik pabrik pengolahan rumput laut yang sudah mencapai 90%. SUMBERDAYA
MANUSIA
a. Adanya program peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan melalui pelatihan dan magang pembudidaya yang bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
b. Pembimbingan oleh tenaga professional untuk pekerjaan dalam pabrik pengolahan rumput laut yang didatangkan dari kementerian perindustrian dan perdagangan.
PENGEMBANGAN