IV. HASIL DAN PEMBASAHAN
4.1.1 Aktivitas Petani Akar Wangi
Usaha budidaya akar wangi di Kabupaten Garut dimulai pada tahun 1918. Umumnya kegiatan budidaya akar wangi merupakan kegiatan turun temurun. Petani akar wangi di Kabupaten Garut tersebar di Kecamatan Samarang (40 persen), Bayongbong (28 persen), Cilawu (28 persen) dan Leles (4 persen). Karakteristik petani akar wangi dibedakan menjadi tiga yaitu petani individu, petani kelompok dan petani penyuling. Sebesar 72 persen petani tergabung dalam kelompok tani. Kelompok tani diketuai oleh seorang penyuling yang berperan sebagai pemberi modal dan pembina teknik budidaya bagi anggotanya. Kesepakatan umum antara petani dan penyuling adalah petani harus menjual hasil panennya kepada ketua kelompok tani (penyuling pemberi modal). Namun, beberapa penyuling membebaskan anggota kelompok taninya menjual hasil panen kepada pengumpul atau penyuling lain dengan ketentuan petani dapat membayar modal pinjamannya. Kelompok tani akar wangi terdiri dari kelompok tani tidak berbadan hukum (40 persen) dan 32 persen lainnya berbentuk CV. Kelompok tani terbesar adalah Kelompok Tani Sinar Wangi jumlah anggota tani sebanyak 200 anggota.
Luas lahan budidaya akar wangi milik petani bervariasi antara lain kurang dari 5 Ha (40 persen), 5-10 Ha (36 persen) dan lebih dari 10 Ha (24 persen). Hal tersebut mengindikasikan bahwa petani akar wangi di Kabupaten Garut merupakan petani kecil. Rata-rata hasil produksi akar wangi mencapai
38
10-21 ton per hektar. Usaha budidaya akar wangi umumnya merupakan usaha turun temurun. Lama usaha budidaya yang telah dijalankan oleh petani antara lain kurang dari 10 tahun (12 persen), 10-20 tahun (40 persen), 20-30 tahun (32 persen), 30-40 tahun (12 persen) dan lebih dari 40 tahun (4 persen).
Budidaya akar wangi dapat dilakukan dengan sistem monokultur dan tumpang sari. Petani yang melakukan budidaya akar wangi dengan sistem tumpang sari sebanyak 84 persen. Tahapan budidaya akar wangi yaitu pembibitan, pencangkulan, penanaman, pemangkasan daun, penyiangan, pemupukan dan pemanenan. Pembibitan akar wangi dilakukan dengan cara memisahkan daun dan akar kemudian diambil bonggol akarnya untuk ditanam. Bibit yang diperlukan untuk satu hektar lahan ± 10.000 rumpun. Setelah penyiapan bibit, proses budidaya dilanjutkan dengan pencangkulan secara manual kemudian dilakukan proses penanaman.
Saat akar wangi berusia lima bulan sebaiknya dilakukan pemangkasan daun agar meningkatkan pertumbuhan akar. Proses penyiangan dilakukan sebanyak tiga kali selama musim tanam. Masa penyiangan pertama dilakukan pada saat akar berusia antara satu sampai dua bulan. Masa penyiangan kedua dilakukan antara usia tiga sampai empat bulan dan masa penyiangan ketiga dilakukan antara usia empat sampai enam bulan. Proses penyiangan dimaksudkan untuk menghilangkan tanaman-tanaman penganggu yang dapat mengurangi nutrisi bagi akar. Selain itu penyiangan juga berpengaruh pada jumlah rendemen minyak akar wangi.
Pemupukan dilakukan saat akar berusia dua sampai empat bulan. Tidak semua petani melakukan proses pemupukan karena tidak sesuainya harga beli pupuk yang dikeluarkan dengan harga jual akar wangi yang dihasilkan. Selain alasan tersebut, sebagian petani menyatakan bahwa tanaman akar wangi dapat tetap tumbuh dengan baik walaupun tidak diberi pupuk. Pemberian pupuk biasanya dilakukan oleh petani akar wangi yang menerapkan sistem tumpang sari. Jenis pupuk anorganik yang digunakan antara lain ZA, TSP, NPK dan KCL sedangkan pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang.
Saat tanaman akar wangi berusia 12 bulan maka tanaman siap dipanen. Sebagian besar petani memanfaatkan tenaga kerja borongan untuk proses
pemupukan, penyiangan dan pemanenan. Upah tenaga kerja borongan sebesar Rp 15.000 – Rp 20.000 per hari untuk wanita dan Rp 25.000 – Rp 35.000 per hari untuk laki-laki. Permasalahan yang ditemui dalam budidaya akar wangi antara lain ketersediaan bibit yang tidak konsisten, mutu bibit tidak sesuai dengan yang diharapkan dan cuaca yang tidak menentu.
Petani menjual hasil panen akar wangi kepada pengumpul atau penyuling. Petani individu menjual hasil panennya kepada pengumpul atau penyuling yang membeli dengan harga paling tinggi. Petani kelompok menjual hasil panennya kepada penyuling yang memberi pinjaman modal sedangkan petani penyuling langsung menyuling hasil panen tersebut sendiri. Harga jual akar wangi berkisar antara Rp 1.200-Rp 3.000 per kg berat basah. Harga jual akar wangi cenderung turun pada harga Rp 1.200 saat musim hujan. Namun kebanyakan petani menjual pada harga Rp 2.000 per kg. Tidak ada kendala yang signifikan dalam penjualan akar wangi karena seluruh hasil panen pasti dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling akar wangi.
Modal petani umumnya adalah modal sendiri atau modal pinjaman dari saudara. Modal yang dibutuhkan petani dalam satu masa tanam kurang dari Rp 25.000.000. Kendala modal sering dihadapi oleh petani karena lamanya masa tanam. Hal tersebut menyebabkan petani menjual akar wangi dengan sistem ijon saat tanaman berumur delapan bulan dan siap dipanen setelah berumur 12 bulan. Sebagian besar petani tidak memanfaatkan fasilitas kredit dari lembaga keuangan karena persyaratan yang terlalu memberatkan dan berbelit-belit. Petani sangat mengharapkan peran pemerintah dalam memberi bantuan permodalan atau meringankan persyaratan pinjaman di lembaga keuangan.
Petani akar wangi yang melakukan kemitraan sebesar 76 persen. Mitra petani antara lain adalah kelompok tani, penyuling, pengumpul bahan baku, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Garut. Bentuk kemitraan yang dilakukan antara lain pembelian bibit, pelatihan budidaya akar wangi, pemberian modal dan pemasaran akar wangi. Manfaat yang diperoleh selama bermitra antara lain meningkatkan
40
pendapatan dan meningkatkan hasil budidaya karena adanya pembinaan budidaya.
Harapan petani untuk bisnis akar wangi antara lain meluasnya pangsa pasar akar wangi Indonesia di dunia dengan peningkatan kualitas dan kuantitas akar wangi, tingginya harga akar wangi sehingga dapat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani akar wangi. Selain itu bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan bisnis akar wangi juga sangat diharapkan.